Rooftop Romance (Chapter 23) – Shaekiran

Rooftop Romance 2nd Cover

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | Chapter 22 | [NOW] Chapter 23 |

“Kita akhiri sampai disini saja.”

 

-Chapter 23-

 

In Author’s Eyes

Taeyong hanya sedang mengendarai mobil sport-nya dengan santai –tanpa arah– malam itu. Langit nampak berpendar cerah, namun tidak secerah hati Taeyong . Ntahlah, ia hanya merasa ada yang kosong di hatinya, dan itu semakin menyakitkan dari waktu ke waktu. Menyetir sendirian seperti inipun bukan gayanya Taeyong, tapi malam ini ntah kenapa dia hanya ingin berkendara menelusuri malam di Seoul.

Sebenarnya tak ada yang menarik malam itu di mata Taeyong. Jalanan Seoul cukup lenggang mengingat sekarang sudah pukul setengah sepuluh malam. Dan anehnya, meski kini jalan begitu lenggang, Taeyong yang jarang mematuhi peraturan lalu lintas itu lantas menghentikan mobilnya saat mendapati lampu merah kini menghiasi papan lalu lintas. Dengan sabar Taeyong menunggu, ntah kenapa, bagai ia memang ditakdirkan menunggu di lampu lalu lintas itu.

Dan sekarang benar saja, Taeyong memang ditakdirkan untuk berada di sana. Tepat di hadapan matanya, seorang gadis gadis yang baru saja turun dari bis dengan tergesa-gesa menyebrang jalan, dan Taeyong bohong kalau ia tidak tercekat karena menemukan bahwa gadis itu adalah Wendy –gadisnya– gadis yang membuatnya uring-uringan seperti ini.

Tepat setelah gadis itu sampai di seberang jalan, sekon itu juga lampu lalu lintas berubah menjadi hijau. Taeyong lantas menekan pedal gas-nya perlahan, memajukan mobilnya sambil bergerak lambat mengekori langkah Wendy yang berjalan cepat di trotoar. Taeyong tau, dia sudah seperti seorang penguntit sekarang ini, tapi ntahlah, ia hanya ingin berlaku seperti itu untuk malam ini; memuaskan dirinya dengan memandang Wendy sebanyak mungkin tanpa gadis itu tau. Dia merindukan Wendy, sangat, meski mereka selalu bertemu di sekolah dan kadang bersibobrok pandang. Hanya saja Taeyong merindukan yang lain di gadis bermarga Son itu, ia rindu Wendy-nya, yang hilang sekian tahun lalu karena ia pergi begitu saja. Satu hal yang membuat Taeyong menyesal hingga saat ini.

Ya, niatnya ia hanya ingin memandang Wendy, namun setelah melihat ekspresi gadis itu, sesuatu bagai mencubit hatinya begitu keras. Wendy menangis, ya, gadisnya menangis, dan itu menyakiti Taeyong yang sedang memperhatikannya sedari tadi. Jika bisa Taeyong ingin menghajar siapa saja yang sudah membuat pengisi hatinya itu menangis seperti sekarang. Dan jika ia tidak ingat bahwa Wendy membencinya, mungkin Taeyong sudah menghentikan laju mobilnya dan memeluk gadis itu segera. Sayangnya Taeyong terlalu takut kalau Wendy malah menjauh, makin menangis karena menemukan sosok manusia rendah yang datang memeluknya secara tiba-tiba.

Uljima, jangan menangis,” Taeyong membatin, masih mengendarai mobilnya selambat mungkin hingga sejajar dengan langkah gadis itu.

Namun pemandangan yang semakin menyakitkan itu membuat Taeyong tak tahan. Tangis Wendy makin menjadi, dan sekarang gadis itu menepuk-nepuk dadanya sendiri bagai merasakan sakit yang teramat sangat. Taeyong gundah. Dia benci perasaan ini, dia benci melihat Wendy menangis.

 

 

“Kau kenapa Son Wendy?” Wendy hanya diam saat seorang lelaki kini menahan pergelangan tangannya. Tangisnya pecah, ia meringis. Hingga kini lelaki yang menahannya itu mulai bertanya lagi, masih dengan raut yang sama; peduli.

“Kau kenapa?” tanyanya lagi, namun Wendy masih diam. Malah, sekarang tangisnya makin menjadi.

“Son Wendy, jawab aku, kau kenapa?” lagi, sosok itu bertanya pada Wendy dengan lirih, sementara si gadis hanya menggigit bibirnya sambil menjauhkan pandang dari lelaki itu –dari Taeyong yang sekarang menatapnya dengan raut terluka.

Ya, akhirnya Taeyong memilih menemui Wendy. Masa bodoh jika gadis itu makin membenci, yang Taeyong tau hanyalah fakta bahwa hatinya sakit melihat gadisnya menangis ditengah jalan pukul setengah sepuluh malam lewat 7 menit itu hingga akhirnya Taeyong memilih menepikan mobilnya, keluar dari kendaraan mewahnya itu dengan cepat lalu berlari menahan pergelangan tangan Wendy.

“Aku…aku…” Wendy terbata, tangisnya kian pecah dan itu menyulut luka yang makin mendalam bagi Taeyong meski ia sendiri tidak tau untuk apa gadis itu menangis.

Gwenchana, semua baik-baik saja. Gwenchana Wendy-ah,” ucap Taeyong akhirnya dengan lirih, lalu menarik Wendy ke dalam pelukannya dengan hati-hati –takut gadis itu melawan dan marah padanya. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Wendy menurut, lalu dengan segera membasahi kemeja yang dipakai Taeyong malam itu dengan air matanya.

Gwenchana, semua baik-baik saja,” bisik Taeyong lagi mulai menenangkan Wendy.

 

 

“Tidak mau cerita?” Wendy menggeleng, lalu mulai memainkan kuku-kukunya sendiri. Taeyong hanya menghela nafasnya pelan, lalu mengangguk pasrah.

“Terserah, yang pasti jangan menangis,” kata Taeyong akhirnya dan gadis itu mengangguk, meski dengan hati lebih dari setengahnya ragu bisa menepati anggukan iya-nya itu.

Suasana diam seketika memenuhi tempat itu lagi. Taeyong mulai kehabisan kamus, dan Wendy sendiri sepertinya enggan untuk memulai konversasi mengingat gadis itulah yang sedang dihibur Taeyong sekarang. Omong-omong, kedua mantan kekasih itu sekarang tengah berada di taman dekat rumah Wendy. Taeyong baru saja mengirimkan pesan pada sekretarisnya untuk memberi tau Tuan Son Michael –ayah Wendy– bahwa ia sedang kerja kelompok dengan putrinya dan akan pulang sangat larut malam. Kebohongan, tapi Wendy sama sekali tidak keberatan saat Taeyong mengajaknya ke taman dan memulai konversasi ringan. Mungkin Wendy hanya butuh teman bicara sekarang agar ia melupakan masalahnya dengan Chanyeol barang sejenak saja.

“Terimakasih,” akhirnya vokal Wendy terdengar memenuhi suasana yang kian sepi, dan Taeyong hanya mengangguk dengan kikuk-nya.

“Tidak mau pulang?” tanya Taeyong, dan gadis itu menggeleng dengan cepat, “sebentar lagi,” jawabnya sambil tersenyum tipis. Kembali, sunyi selama beberapa detik.

“Maaf,” Taeyong mengerjap saat Wendy mengucapkan kata itu, membuat si lelaki lantas menatap di gadis dengan cepat. “Untuk apa?” tanya Taeyong bingung.

“Maaf karena sudah memberikan rumah–mu pada orang lain,” jelas Wendy, dan seketika raut tidak percaya muncul di muka Taeyong. “Wendy masih mengingatnya?” batinnya setengah terharu karena istilah rumah yang Taeyong tau kemana arahnya itu. Dulu, saat ia dan Wendy masih menjadi sepasang kekasih atas paksaan Taeyong, hanya satu kata romantis yang pernah diucapkan Taeyong pada satu-satunya gadis Asia di kelasnya itu; filosofi rumah.

 

“Kau itu rumahku,” Taeyong berucap, membuat gadis di sebelahnya yang tengah menekuk muka segera melirik Taeyong. “Rumah apanya? Memangnya aku ini bangunan? Rumahmu itu di Blok B di perumahan yang sama denganku,” jelas Wendy bingung dengan ucapan tiba-tiba Taeyong itu.

“Maksudku kau itu sama seperti rumah, kau adalah tempatku pulang dan berkeluh-kesah. Kau itu seperti rumah yang nyaman untuk bersandar. Sadar atau tidak, aku sudah tinggal menetap di rumah baruku, di hatimu,”  

dan rumah baruku lebih indah dari rumah manapun yang ku punya,” lanjut Taeyong dalam hati.

“Dasar, kau jatuh ke parit tadi? Otakmu geser? Kenapa kau tiba-tiba jadi melankolis begini?” balas Wendy kaget, dan Taeyong hanya tertawa kecil melihat ekspresi kaget Wendy yang dimatanya sangat lucu.

“Bukannya romantis?” goda Taeyong, dan dengan cepat Wendy menggeleng dan mulai berucap lagi, “Malah menjijikkan, kau seperti orang lain,” kata Wendy jujur dan itu membuat Taeyong segera merubah ekspresinya.

“ Ya, tadi otakku geser karena tertabrak pintu. Lupakan saja ucapanku barusan.”

 

“Itu wajar, aku meninggalkan rumahku begitu saja, wajar pemiliknya kini berganti.” Taeyong tersenyum, lalu menerawang jauh. “Asal pemilik barunya tidak sama brengseknya dengan pemilik lama, aku akan lapang dada menyerahkan rumahku,” Wendy terdiam, lalu menatap mata Taeyong begitu lekat.

“Kalau kau menangis karena Chanyeol sunbae, maka kau harus meninggalkannya seperti kau meninggalkanku. Tidak boleh ada orang brengsek yang menjadi pemilik mantan rumahku. Wen-ah, aku tidak ingin rumahku tersakiti.”

Wendy sangat terpaku, lantas menemukan sinar yang masih sama berkilatnya dengan sekian tahun lalu dalam manik Taeyong. Ia tersenyum, hanya tersenyum karena kini semua kata yang ingin terucap bagai hilang ditelan bumi. Ia kehabisan frasa untuk diumbar.

“Bagaimana, apa kau bisa?”

Dan, apa yang harus dijawab Wendy sekarang?

“Son Wendy!”

Wendy tersenyum, mengucap syukur pada siapa saja yang tengah memangilnya itu sehingga perhatian Taeyong teralih. “Taeil? Ada apa?” tanya Wendy kalem saat mendapati bahwa Taeil –bodyguard-nya lah yang sedang berlari menghampirinya. Sekarang bodyguard itu sudah berdiri tepat di depan Wendy, lalu berucap dengan panik,

“Ikut aku sekarang, Chanyeol sunbae masuk kantor polisi!”
—-

 

Mobil Taeyong sampai di pelataran parkir kantor polisi Seoul. Taeil yang duduk di kursi depan langsung membukan pintu mobil cepat, sama seperti Wendy yang langsung melesat keluar dari mobil dengan tergesa-gesa.

“Kau tidak ikut?” tanya Taeil karena melihat oknum dibalik kemudi itu masih saja diam di tempat. Taeyong menggeleng lemah, “duluan saja, aku….ingin di sini saja,” tolak Taeyong, dan Taeil tampak tanpa babibu langsung mengangguk paham dan mulai berlari mengejar langkah Wendy yang sudah dengan gesitnya sampai di depan pintu masuk kantor polisi.

“Kau yakin dia ada di dalam?” tanya Wendy yang sudah berdiri di depan pintu dengan ragu, dan Taeil dengan enggan mengangguk. “Aku mendengarnya saat berjaga di depan kamar Tuan Son. Katanya, bocah itu berulah dan masuk bui, dan aku sangat yakin bocah yang Tuan maksud adalah Chanyeol,” jelas Taeil dan Wendy hanya bisa diam terpaku.

“Lalu kau kabur dan memberitahuku tentang itu? Ah, bukannya kau anjingnya appa?” ucap Wendy setengah yakin meski hatinya sedang dag dig dug tidak jelas, takut jika memang Chanyeol ada di dalam sana.

“Sekali ini saja, aku tidak ingin menjadi anjing,” 

“Sudahlah, masuk saja,” kata Taeil sewot lalu segera menarik tangan Wendy memasuki kantor polisi.

Hawa tak sedap langsung melingkupi keduanya setelah resmi selangkah masuk ke dalam ruangan. Netra Wendy langsung beredar mengelilingi tempat itu, lalu merasa hatinya tercabik ketika menemukan sosok yang tengah ia cari ada di sana, dalam posisi yang tidak seharusnya. Kerah baju Chanyeol ditarik oleh ayahnya sendiri ­–Tuan Park Chan Seol– dan Wendy menemukan beberapa bekas luka di wajah pria yang mengobrak-abrik hatinya itu.

Tak lama, seorang polisi nampak menghampiri ia dan Taeil yang hanya diam di pintu masuk, dan dengan senyum yang dibuat secara sangat terpaksa Wendy tersenyum kepada polisi itu.

“Tidak, aku hanya ingin bertemu seseorang,” ucap Wendy dengan yakin saat si polisi bertanya apa ia ingin melaporkan sebuah kasus.

“Seseorang?” bingung polisi itu, dan Wendy hanya balas tersenyum kaku.

“Bisa aku berbicara dengan orang itu?” tunjuk Wendy akhirnya pada Park Chan Seol yang tengah membelakanginya, dan itu jelas saja membuat sang polisi makin kebingungan. “Ah, maksud anda Detektif Park? Anu sebenarnya detektif punya sedikit-“

“Bukan ahjussi, tapi anaknya,” potong Wendy cepat karena merasa polisi itu salah paham. Melihat si polisi masih belum paham maksudnya, Wendy lantas berucap lagi.

“Chanyeol-ah, bisa bicara sebentar?” tanyanya, dan kali ini langsung ditujukan pada Chanyeol.

Chanyeol yang mendengar namanya disebut lantas mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk, lalu segeralah ia terkejut dengan mata membola ketika mendapati Wendy ada disana, menatapnya dengan mata berkaca-kaca tepat satu detik setelah mata mereka beradu pandang.

“YA! KENAPA KAU ADA DI SINI?” bentak Chanyeol seketika yang membuat Detektif Park –ayah Chanyeol– juga kedua polisi yang ada di dalam ruangan itu kaget bukan main. Wendy hanya tersenyum kaku, sementara Taeil sudah menundukkan kepalanya sejak tadi.

“Chanyeol-ah, bisa bicara sebentar?” ulang Wendy sekali lagi, seakan teriakan Chanyeol barusan bukanlah tertuju padanya. Wendy tersenyum lagi, masih kaku, tapi sukses membuat Chanyeol merasa lututnya serasa lemas begitu saja.

Wendy –alasan yang membuatnya kalang kabut itu kini berdiri di depannya, menatapnya dengan mata berkaca-kaca tanpa tau Chanyeol tengah menahan luka.

 

—-

 

Dorr!!!

Spontan, Chanyeol menutup matanya. Setitik rasa takut menepi di kulitnya tanpa bisa ia cegah. Lelaki itu sudah bersiap mati, namun raganya seakan enggan meninggalkan bumi terlalu cepat.  

“Dasar, kau itu takut mati bocah!” suara Donghae lantas membuat Chanyeol membuka matanya perlahan, menatap lelaki asing yang agaknya tengah menertawainya. Dilirik Chanyeol dinding belakangnya yang sudah berbekas terbakar, hasil panas peluru yang baru saja bergesekan disana.

“Bagaimana? Menyesal karena aku melewatkan peluru itu dari pelipismu?” ucap Donghae ringan sambil menarik pelatuknya lagi, bersiap melakukan aksi penembakan kedua. “Bagaimana Chanyeol-ssi? Yang tadi hanya permulaan dan kali ini adalah yang serius. Jadi kau mau mati atau tidak? Karena peluru ini akan mengikuti katamu,” kekeh Donghae sambil tersenyum miring, sementara Chanyeol hanya bisa menghela nafasnya tertahan. Ia tau Donghae sedang berucap serius dan itu membuatnya semakin takut.

“Pilih mati atau hidup?” ulang Donghae dengan sudut bibir terangkat naik, menertawai Chanyeol yang kini terlihat gusar. 

Chanyeol hanya bisa diam; bimbang.

“Pilihlah hidup,” Chanyeol mengerjap, saat kini seorang lelaki nampak muncul dari arah belakang Donghae. Son Michael tersenyum tipis di tengah pudarnya cahaya di ruang dominan gelap itu. 

“Bukankah lucu kalau kau harus mati karena perjanjian pacaran pura-pura berupahkan uang? Kau masih muda, berbakat, dan mati di usia ini membuatmu nampak menyedihkan,” terang Michael sambil duduk di sebuah kursi yang ada tepat di depan Chanyeol. Lantas Konglomerat Son itu menatap Chanyeol begitu lekat. 

“Aku tau kau menjadi kekasih putriku hanya karena uang, benar kan? Kau perlu uang karena secara tidak sengaja sudah menyebabkan kaki seorang anak bernama Do Kyungsoo lumpuh.” Michael mengangkat sebelah alisnya, lalu mendekatkan dirinya pada Chanyeol sambil setengah berbisik. “Tinggalkan putriku, lalu hiduplah secara bebas. Aku akan menanggung biaya pengobatan temanmu itu hingga bisa berjalan normal.” 

Chanyeol diam. Jujur, tawaran Son Michael adalah tawaran yang sangat menggiurkan.

“Bagaimana kalau aku pilih tidak?” tantang Chanyeol tiba-tiba. Hampir saja Donghae mengancungkan pistolnya kalau saja Michael tidak menghentikan pergerakan tangan Donghae yang super cepat itu.

“Wendy bukan gadis yang cocok untukmu.”

“Kenapa?” tantang Chanyeol lagi, dan Son Michael hanya tersenyum sinis.  

“Aku kenal ayahmu, juga aku kenal ibumu.” Michael tersenyum setipis benang, lalu tertawa renyah ketika Chanyeol nampak makin bingung dengan arah konversasi mereka. 

“Kau tau… aku curiga kalau kau bukan anak kandung ayahmu.”

“Apa maksudmu?” tanya Chanyeol makin kalut, mulai berpikir yang tidak-tidak.

“Dulu sekali saat pertama aku bertemu ibumu. Han Seul, dia gadis yang cantik,” dan Chanyeol rasa, mungkin jantungnya sudah berpindah tempat sakin kagetnya.

 

—-

 

Sunyi yang menemani kedua insan itu. Taeil memilih menunggu di dalam kantor polisi, hingga sekarang hanya ada Chanyeol juga Wendy yang berdiri berhadap-hadapan di luar sana beratapkan pendar bintang yang begitu cantik. Sayang, konversasi mereka lebih mendominasi daripada hasrat memandang bintang bersama-sama sambil bercanda ria –seperti dahulu kala di atas rumah atap.

“Ingin bicara apa?” tanya Chanyeol sinis, dan Wendy hanya menghela nafasnya perlahan.

Gwenchana? Apa lukamu sakit?” tanya Wendy peduli, bahkan hampir menyentuh sudut bibit Chanyeol yang robek kalau saja lelaki itu tidak menepis tangannya dengan cukup kasar.

Merasa itikad baiknya ditolak, Wendy akhirnya memilih langsung masuk ke pembicaraan inti saja.

“Kenapa kau masuk ke dalam sana?” tanya Wendy akhirnya, dan dengan santai Chanyeol langsung menjawab, “Aku berkelahi, hanya itu.”

“Apa itu lagi-lagi karena appa?” kali ini Wendy kembali berkonversasi, membuat Chanyeol tanpa sadar mulai makin jengah. “Tidak, ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan appa-mu,” jawab Chanyeol.

“Lalu, kenapa kau berkelahi? Kenapa kau memutuskan kontrak kita? Kenapa kau menjauh? Kenapa kau seperti orang asing?”

“Kenapa kau membuatku jatuh cinta?”

“Kenapa malah membicarakan itu, huh? Itu semua tidak ada hubungannya,” balas Chanyeol dengan mata berkilat yakin, dan itu makin menyulut emosi Wendy.

“Benarkah? Lalu apa yang dilakukan appa padamu waktu itu hingga kau absent sekolah dan pulang dengan keadaan babak belur? Appa-ku…… mengancammu ‘kan?”

Chanyeol tersenyum, lalu menggeleng lemah. “Tidak.” vokalnya jelas dan yakin.

“Benarkah? Lalu kenapa aku merasa kau sedang berbohong?” Wendy kini melipat tangannya di depan dada, lalu melangkah selangkah lebih dekat ke arah Chanyeol.

“Tanya saja pada appa-mu kalau kau penasaran,” jawab Chanyeol akhirnya menantang si gadis.

“Ah, jadi kau tidak mau menjawab, begitu ‘kan sunbae?” Wendy tersenyum tipis, sarat akan luka yang menganga.

“Kau benar-benar ingin tau alasannya?” Wendy mengangguk, lantas Chanyeol tertawa renyah.

“Itu karena kau menyukaiku.”

Wendy terdiam, merasa kakinya tidak lagi menapak di tanah setelah satu kalimat itu masuk dan diproses dengan kecepatan kilat oleh otaknya. Seketika itu pula Wendy mencelos.

“Apa kau tau? Aku tersiksa dengan semua peran pura-pura itu. Tapi bersamamu cukup menarik, dan menyenangkan mungkin? Semuanya akan tetap sama kalau kau tidak meminta lebih Son Wendy. Aku menyadari itu, tatapan memuja dan ingin memilikiku seperti tatapan gadis kebanyakan. Aku benci Son Wendy, benci karena kau memaksaku mengikat diri dalam hubungan yang sebenarnya.”

“Kau memelukku, menciumku, lalu memikirkanku selayaknya aku adalah kekasih aslimu. Lihat, kau bahkan berubah begitu berani melawan ayahmu hanya demi seorang aku. Jujur aku merasa ini semua salah. Kau tidak seharusya jatuh terlalu dalam pada manusia tidak berhati sepertiku Wen. Ini semua salah, kau, aku, dan pertemuan kita. Semua kisah kita itu seharusnya tidak pernah terjadi. Aku lelah Wen, semuanya terasa memuakkan sekarang. Sekarang hatiku memilih untuk pergi agar kau sadar aku bukan orang yang tepat, agar kau paham bahwa aku bukan lelaki yang layak kau perjuangkan di depan ayahmu yang bersifat keras dan tegas, juga ayah yang sangat menyayangimu itu. Aku ingin kau kembali kepada kenyataan Wen, bukan terjebak dalam bayang-bayang akhir bahagia yang kau ciptakan dalam imajinasi liarmu.”

“Aku tidak akan menjadi milikmu, juga kau tidak akan menjadi milikku. Kau harus tau aku bukan Raja yang sudah merebut hatimu, aku hanyalah tetangga depan rumahmu yang dalam pertemuan pertama kau lempar dengan mangkuk ramen dan layangan sendal swallow yang sukses membentur kepalaku. Aku seniormu yang memuakkan di sekolah karena sering tebar pesona, bukan kekasih tambatan hatimu. Itu kenyataannya Wen, tidak lebih tidak kurang. Maaf, tapi sepertinya hatimu berlabuh di tempat yang salah, dan aku ingin agar kau melepas jangkarmu dari pelabuhanku, lalu berlayar ke tempat lain.”

“Kau membenciku?” hanya pertanyaan itu yang terlontar bersama tangis Wendy yang pecah setelah mendengar penjelasan panjang Chanyeol. Lantas lelaki itu segera menggeleng.

“Aku tidak membencimu, hanya saja aku tidak bisa membalas perasaanmu. Sampai disini saja Wen, kita akhiri sampai disini saja.”

 

“Han Seul, dia gadis yang cantik,”

“Apa maksudmu?”

“Hm, apa kau pernah berpikir untuk melakukan tes DNA denganku? Han Seul, ibumu itu, dulu adalah kekasihku.”

 

—-

 

Chanyeol duduk dengan lesu di salah satu kursi di kantor polisi. Nampak ayahnya kini duduk tepat di hadapannya, menatap putra semata wayangnya itu dalam diam. Sudah sejam yang lalu Wendy pergi bersama Taeil, kembali ke rumah keluarganya setelah Chanyeol menolak gadis itu dengan tegas –mengakhiri hubungan mereka berdua. Sementara Chanyeol sendiri hanya bisa duduk kaku di kantor polisi tanpa mengucapkan apapun.

“Pulanglah,” pinta Detektif Park saat menemukam jam sudah menunjukkan pukul 12 tepat; tengah malam. Dia sudah menghubungi rumah tadi dan memberitahu bahwa Chanyeol bersamanya, hanya saja penampakan putranya yang seperti mayat hidup itu membuat Park Chan Seol ingin menunda interogasinya pada sang anak dan lebih ingin mengirimkan anaknya itu untuk tidur dengan nyaman di rumah.

Bohong kalau Park Chan Seol tidak dengar pertengkaran anaknya dengan gadis bernama Son Wendy itu; satu-satunya gadis yang pernah menjabat sebagai kekasih putranya meski akhirnya ia tau bahwa itu hanyalah hubungan kepura-puraan demi uang. Chan Seol menyalahkan dirinya sendiri karena menutupi fakta bahwa ia tau putranya itu sudah dengan tidak sengaja membuat seorang pemuda bernama Do Kyungsoo jatuh dari tangga dan mengalami lumpuh sementara hingga dibutuhkan beberapa biaya yang cukup besar untuk operasi dan perawatan pemuda itu hingga bisa berjalan normal.

Awalnya ia ingin membiayai pengobatan itu dengan uang tabungannya selama ini, meski sebenarnya jika dibawa kedalam kasus hukum Chanyeol tidak salah sama sekali. Hanya saja Do Kyungsoo tergelincir, dan Chanyeol yang sempat berkelahi dengan pemuda Do itu perihal Olimpiade Matematika merasa bahwa ialah penyebab Kyungsoo harus dirawat. Melihat niatan Chanyeol untuk bertanggung jawab, Chan Seol sebagai seorang ayah tentunya merasa bangga dan akhirnya memutuskan membiarkan Chanyeol menggunakan caranya sendiri untuk bertanggung jawab.

Tapi lagi-lagi kesibukan Detektif Park itu dengan berbagai macam kasus membuat Park Chan Seol tidak bisa memantau Chanyeol dengan baik, hingga putranya itu menggunakan cara yang salah untuk mendapat uang –menjadi pacar pura-pura seorang gadis konglomerat- yang berakhir dengan suatu hubungan rumit yang Chanyeol sendiri terjebak terlalu jauh di dalamnya.

“Pulanglah, kita bicara nanti.” Lagi, Park Chan Seol membujuk anaknya itu yang dihadiahi gelengan pelan dari Chanyeol.

Appa, aku ingin bertanya,” kali ini vokal Chanyeol yang terdengar.

“Tanyalah, lalu setelah itu kau harus pulang ke rumah,” Chanyeol menganguk, lalu mulai membuka suara lagi.

“Apa aku benar-benar anak appa?” akhirnya, satu pertanyaan itu lolos. Pertanyaan yang seketika membuat netra Chan Seol membulat.

“Pertanyaan bodoh macam apa itu? Tentu saja kau anaknya appa, memangnya anak siapa lagi?” jawab Chan Seol sambil tertawa renyah, lalu menepuk-nepuk bahu putranya itu.

“Apa appa membantingmu terlalu keras nak? Maafkan appa,” ucap Detektif Park akhirnya karena mengira Chanyeol bersikap demikian karena sakit hati dibanting secara kurang manusiawi oleh ayahnya sendiri. Namun gelengan pelan yang menjadi jawaban Chanyeol membuat Chan Seol akhirnya mengalah dan membuka telinganya lebar-lebar.

“Kenapa kau bertanya seperti itu, eoh?” tanyanya akhirnya.

“Ayah kenal seseorang bernama Son Michael?” Park Chan Seol akhirnya mengangguk, lalu menjawab pelan. “Dia teman ayah, juga teman kuliah ibumu di Universitas Seoul. Mereka sama-sama berasal dari Busan,”jawab Chan Seol senang, tanpa menaruh curiga sedikitpun.

“Hanya sebatas teman kuliah?” Chan Seol lantas tertawa mendengar nada bicara anaknya yang sepertinya bimbang, dan dengan cepat ia menggeleng. “Tidak, dulu dia adalah mantan kekasih ibumu sebelum akhirnya Han Seul menikah muda denganku,” tawa Chan Seol kembali memenuhi ruangan, teringat memori lama. Andai saja Detektif itu tau apa yang sudah dilakukan teman lamanya itu pada putranya, ntah apa yang mungkin dilakukan si Detektif Park. Mungkin dia tidak akan tertawa ‘kan saat nama itu disebut?

Mendengar jawaban ayahnya, Chanyeol lantas menghela nafas panjang. “Baiklah, aku pulang sekarang.”

 

“Jadi, kau ingin bilang kalau aku adalah putramu dan Wendy adalah saudara tiriku?” tanya Chanyeol setengah percaya, dan Michael nampak menganguk cepat. 

“Aku tidak percaya, dan tidak akan pernah percaya dengan bualanmu itu.”

“Kenapa?” balas Michael penasaran.

“Memangnya ada appa yang mengurung anaknya dalam ruangan gelap semacam ini lalu menodongkan pistol? Jangan bercanda!”

“Tentu saja, bukankah ada satu contohnya di depanmu?” Michael masih tertawa renyah. 

“Tinggalkan Wendy dan hiduplah sebagai dirimu sendiri mulai sekarang. Aku sedang tidak meminta pengakuan sebagai ayah biologismu, hanya memperingatkanmu saja,” 

“Tidak percaya, dan tidak akan pernah percaya,” elak Chanyeol lagi, menyembunyikan rasa frustasi yang kini menggelitik akal sehatnya.

“Kalau begitu, mau melakukan tes DNA? Kalau hasilnya negatif aku akan merestuimu dengan Wendy, tapi kalau positif kau harus meninggalkan putriku, setuju?” 

“Bodoh, makan saja tes DNA-mu itu Tuan Son.” jawab Chanyeol sarkas.

“Lalu kau ingin apa? Mati saja? Kau mati hanya demi seorang gadis?Heol, atau apa aku perlu mengancam dengan membawa-bawa nyawa keluargamu?” 

“Tidak perlu,” Chanyeol lantas berdiri, membuat Tuan Son super kaget karena Chanyeol sudah melepaskan ikatan yang melilit badannya itu dan berdiri dengan sempurna. 

“Memangnya kau pikir aku benar-benar menyukai putrimu? Lucu sekali.” Sementara Donghae menatap Chanyeol takjub karena berhasil lolos dari ikatannya, Tuan Son malah tertawa sambil menatap sinis remaja 18 tahun itu yang ia tau sedang melakukan kebohongan besar

“Aku akan meninggalkan Wendy seperti maumu. Puas? Aku akan mengakhiri hubunganku dengan putrimu secara baik-baik karena aku sudah menyakitinya terlalu banyak.” 

“Pilihan yang bijak,” puji Son Michael, dan Chanyeol hanya tersenyum tipis sembari melangkahkan kakinya ke pintu keluar. Sempat Donghae ingin menghalangi jalan Chanyeol, tapi Michael malah menahan pengawalnya itu.

“Selamat tinggal Tuan Son. Terimakasih karena sudah menyadarkanku tentang kenyataan bahwa aku tidak cocok dengan putrimu. Haha, takdir itu lucu kan Tuan Konglomerat? Sampai jumpa lain wakut kalau begitu.”

Lantas Chanyeol keluar dengan badan tegap, bagai tak ada angin yang bisa membuat tubuh jangkungnya itu goyah. Selepas itu Chanyeol menaiki motornya yang diparkir di luar ruang penyekapannya tadi yang ternyata adalah sebuah gudang di pinggir kota. Chanyeol meraih helm-nya, lalu segera memasang pelindung berwarna merah menyala itu di kepalanya. Tak lama, bunyi deru mesin motornya terdengar memenuhi jalan setapak di depan sana, lalu dengan secepat mungkin motor itu bergerak menjauh.

Chanyeol masih berusaha fokus membawa motornya agar tidak oleng dan berakhir menabrak sesuatu. Chanyeol meringis, takut bahwa kata yang diucapkan pria konglomerat nan angkuh itu memang sebuah fakta. Ia takut mencari tau, tapi hatinya juga ingin tau. Serba salah karena Chanyeol takut menghadapi kenyataan. Andai saja kaca yang menghiasi helm itu bukanlah kaca hitam buram yang menutup isi di dalamnya, mungkin orang bisa melihat bahwa sebuah cairan bening kini turun membasahi sudut mata Chanyeol. Pria itu menangis dalam diam, meratapi nasibnya dalam kesendirian.

 

 

To Be Continued

 


Author’s Note

Bukan niat eki untuk membuat cerita ini makin belibet, HAHA, suer, emang begini plot-nya dari awal. Ini ide udah dari tahun lalu, bahkan 2 tahun lalu kalau bisa dibilang. HOHO, sudah hampir mencapai klimaks lo….Jadi wahai pembaca Rooftop Romance sejak jaman ini masih menjadi cerita freelance, ingin akhir yang begimana nih?/digampar/ XD

Tenang, ini gabakal jadi cem ftv kokz, eki sudah siapkan kejutan di akhir dan semua misteri di cerita ini akan diungkap tuntas. Oh iya, kalau ada yang bingung sampai chapter ini,  kayak ‘kok ini bisa gini?’ ‘kok jadi gini?’ atau ‘kok si ini begini?’ dan segala tetek bengeknya boleh ditanyakan di kolom komentar. Nanti eki jawab kok, semendetail mungkin kalau kalian kepo/plakk/ 😀

Hoho, thankyouuuu, salam ketchupp buat kalian semuanyaa ❤

 

 

Iklan

30 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 23) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 26) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 25) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  10. Yesss kalo makin belibet tandanya makin panjang ya thor :’v
    Udahhhh akuu team Wendy Chanyeoll .. Tuan Son kejam amat :’v mtsna lu .g
    Aku berharap bat ama ff ini moga lama kelarnya tp tetep konsisten sama judulnya :’v

  11. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 24) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  12. Sukses buat penasaran asli– greget bacanya! Ga kebayang kalau mereka adek kakak, buat mereka sepasang kekasih ya min. Semangat okeyyy!

  13. pliss thor jangan di jadi.in kakak adik donk CY – Wendy nya.. jadi.in pacar ajalah ya.. biar happy ending gituu.. /peace thor/ 😀
    ceritanya makin berbelit tapi juga bikin penasaran..
    di tunggu next chaptnya ya thor..
    keep writing dan keep fighting.. 🙂

  14. Jadi itu to alasan chanyeol jauhin wendy? Tp kok kaya nggak percaya klw chanyeol wendy it satu bapak.Tp klw ingat kejdian d chapter sebelum.y yg wendy dpt kalung pasangan yg dari mama.y chanyeol kok bisa ya? Blm d ungkap kan kalau soal gimana sampe kalung.y mama.y chanyeol bisa ada sama wendy.Apa emang wendy udah kenal lama sama mama.y chanyeol? Atau gimana? Penasaran ah
    D tunggu next. Chap.y dan kejutan2.y thor fighting 😊

  15. Apaan ni?? Kok makin belibet?
    Yaudah lah ya, kasian wen-yeol.. Kasih akhir yg jelas y ki buat mereka. Jgn dijadiin transparan gajelas macem hantu gentayangan. Wkwk

  16. CHANYEOL SAMA WENDY GA SAUDARAAN BENERAN KAN THOR? AELAH THOR JANGAN GITU DONG MASA MEREKA SAUDARAAN:'((((
    Ditunggu next chapternya ya thorrrr~~~ ❤

  17. kesian chanyeol… musti nanggung sakit fisik, batin pula juga ikut sakit…
    wendy dikelilingi cowok tamvan yaa…. chanyeol… taeyong.. entar bentar lg sehun tuh bakalan suka…
    ati” lu yeol saingan lu berat….
    emang iya chanwen sodaraan???? taktik ayah wendy kah???

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s