Mea Alterum – [3] Examination – Shaekiran

ir-req-mea-alterum2

Mea Alterum

The Other

 

A Fanfiction written by Shaekiran

With OC’s Yara Lee

Supported by : EXO’s Sehun, Suho, Kai and Kyungsoo, NCT’s Taeyong, Red Velvet’s Seulgi and Wendy, Blackpink’s Jisoo and also Ayushafiraa OC’s Ahra Yoo.

A Romance, Fantasy, Friendship, Family, AU and School Life

Chaptered Fanfiction with T Rated.

Disclaimer

This fanfiction is pure mine. EXO and other grup are belong to God, their family and agency. OC is belong to author. Thanks to Ayushafiraa and other who had permission to me to borow their OC. Please enjoy this fiction! ^^

Previous Chapter

Teaser | [0] Two Moons | [1] Arestal | [2] Skrytol | Now –  [3] Examination |

Art by Kak IRISH (Thanks for an amazing poster kak <3) @ Poster Channel

Summary

“Yang gadis itu tau ia hanya sedang diusir pergi jauh, memilih hidup diantara cacian maki menggores hati atau katam mempasrahkan diri dalam mau yang kian menghampiri.”

 

[3] Examination

 

“I’m not a human.”

 

 

©2017 Shaekiran’s Art and Story All Rights Reserved

 

 

 

In Yara’s Eyes

“Matilah, atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri,” Sehun berbisik hingga tanpa sadar bulu kudukku meremang tanpa diminta. Nadanya begitu lirih, singkat, namun super menusuk.

“Kenapa? Kenapa aku harus mati?” tanyaku, berusaha berani memulai argumen kecil dengan seseorang yang katanya kakak asuh- ku ini. Mendengar ucapanku yang agak bergetar –malah sangat bergetar– Sehun malah tertawa lebar. Dia menatapku bengis, sungguh, seakan ia ingin membunuhku saat itu juga meski sedang tergelak tawa. Sinar matanya sangat berbeda dengan kali pertama kami bertemu di kereta.

“Pergilah,” perintahnya kemudian setelah habis tawanya terdengar memenuhi tempat ini. Singkat dan masih menusuk. Aku mendongakkan kepala, memberanikan diri menatap netranya yang sekarang tengah memasukkan sepasang tangan yang tadi mencekalku itu ke dalam saku celana.

“Kau tidak tau artinya pergi? Pergi sekarang atau kau akan mati detik ini juga nona Lee,” Aku terdiam, masih belum mengerti apa maksud sosok di depanku ini. Sedangkan Sehun hanya menatapku datar dan enggan menjelaskan lebih lanjut apa maksudnya.

Lantas, kakiku yang masih bergetar bergerak perlahan untuk berbalik, berjalan pelan melewati badan jangkung Sehun sebelum akhirnya kakiku berlari secepat yang aku bisa. Jantungku berdegup sangat kencang, bagaikan ada oli berlebih yang menggerakkan roda jantungku lebih cepat dari biasanya. Akhirnya, ku tepikan badan mungilku di sudut dinding koridor. Aku tidak tau jalan, jadi aku hanya bisa meringkuk disana sambil memegangi dadaku yang bergemuruh kelewatan. Semua karena Sehun, juga tatapan sinisnya itu.

Seminggu terlewati dengan cepat. Tak banyak yang berubah, juga kelasku berjalan dengan cukup membosankan karena sampai sekarang aku belum mendapat teman untuk sekedar bertegur sapa dan berbagi cerita saat kelas diberi waktu untuk beristirahat. Tidak mungkin bagiku untuk pergi ke kelas Wendy juga Seulgi yang ada di lantai 3 tiap harinya saat istirahat hanya berisi 15 menit waktu untuk bersantai. Dan akupun sadar, Seulgi juga Wendy punya kehidupan kelas mereka sendiri. Lagipula, mana sanggup aku menaiki ratusan anak tangga itu saat badanku serasa mau mati rasa karena semua pelajaran fisik yang ada di kelas Skrytol? Kadang aku berpikir, kelas ini mungkin diciptakan untuk membunuh semua muridnya.

Dan kembali ke tidak punya teman yang aku definisikan sedari tadi. Ayolah, aku ini satu-satunya vampire ber-gender wanita di kelas, dan akupun tidak cukup ramah dan suka tebar pesona untuk ukuran seorang gadis remaja. Jadi, aku hanya diam dan melihat keseluruhan murid kelasku yang asyik bercanda ria. Dan sialnya, tidak ada yang berniat mengajak untuk bicara.

Menurut rumor yang kudengar, mereka takut melihatku. Katanya, bagaimana bisa seorang gadis dari keluarga tanpa asal-usul dan sudah pasti adalah anak yang tidak terurus, bisa masuk ke dalam kelas yang dominan pria bertangan baja dan berotak brilian? Mereka bilang aku pastilah seorang gadis super kuat dan cerdas, juga pribadi yang mengerikan, kesimpulan dari rumor yang terdengar keras di kelas. Ayolah, gosipan para pria itu bagai buku yang dibuka lebar, mudah sekali terbaca. Tak seperti gosipan para gadis yang berbicara di belakang, para pria tidak punya hati ini malah membicarakanku di depan mataku. Bagaimana bisa aku tidak panas saat suara mereka memenuhi satu ruangan kelas?

Melihat gelagatku yang mulai tak suka, Taeyong yang duduk di sudut sana bersama Yuta dan seorang lagi yang bernama Hansol mulai menyunggingkan senyum kemenangan. Yah, meski katanya dari keluarga tanpa asal-usul, adikku itu ternyata bisa bergaul dengan mudah dan mulai pamer bahwa dia punya teman kepadaku. Taeyong bagaikan berkata, aku-selangkah-lebih-maju-darimu-noona- dengan senyum liciknya. Dasar sialan.

Akhirnya tak lama kemudian 15 menit menyebalkan itu berlalu karena kini Kim Jongin, guru yang seharusnya mengajar di kelas Skrytol itu sudah tiba sambil menyunggingkan senyum. “Selamat pagi.” sapanya yang dihadiahi sapaan selamat pagi balik khas pria dimana semuanya bersuara berat. Aku bagai gadis yang masuk ke sarang penyamun saja sekarang, menyebalkan.

“Ah, ini kali pertama aku masuk ‘kan? Maaf minggu kemarin aku masih berburu singa gunung di Hutan Vier,” katanya membuka pelajaran pagi menjelang siang itu. Jam masih menunjukkan pukul 11 tepat, Kim-ssaem masuk selama 3 mata pelajaran dan itu artinya dia baru akan selesai sekitar pukul setengah 1 siang nanti.

“Baiklah, perkenalkan aku Kim Jongin, bisa kalian panggil Kai-ssi saja. Embel-embel guru atau ssaem itu membuatku terlihat tua dan aku tidak suka itu. Lihat, bukankah kita seperti seumuran sekarang? Kalian bisa panggil hyung saja kalau mau,” kata Kai sambil tertawa. Cukup lucu mengingat ia adalah seorang professor tapi malah diminta dipanggil hyung oleh muridnya.

“Anu hyung, lalu dia memanggil hyung apa? Oppa begitu?” dan seketika kelas tertawa ketika mendengar celotehan seseorang yang belum ku kenal namanya itu. Aku mengerjap, dan seketika sadar bahawa akulah yang menjadi bahan tertawaan mereka sekarang. Karena aku ini perempuan, menyebalkan.

“Hm, murid wanita di kelas Skrytol, menarik,” kata Kai sambil memandangku dari ujung kepala hingga ujung kaki, membuatku cukup risih dengan cara memandangnya itu.

“Baiklah, khusus dia boleh panggil chagi saja,” Kai mengedipkan sebelah matanya, membuatku cukup muak. “Aku bisa memanggil hyung,” putusku cepat dan suara tawa di kelas itu mereda. Semua berubah senyap, lalu memandangku dalam diam.

“Ya, hyung juga boleh,” putus Kai akhirnya canggung dan mulai membuka buku pelajaran yang dia bawa. Aneh juga, seingatku dia adalah guru perang, buat apa membawa buku kalau tugasnya hanya mengajarkan cara men-summon senjata dan menggunakannya dengan baik?

“Oh, aku lupa mengatakan ini, tapi minggu depan kita adakan ulangan,” Kai mengedipkan sebelah matanya sebentar, menggoda keseluruhan muridnya yang sudah cengo di tempat.

“Ulangan?” beo salah seorang dari kami, dan guru berkulit agak tan tak seperti kebanyakan vampire itu mengangguk singkat.

“Materinya mudah, cukup membunuh rival kalian dalam duel 1 lawan 1, simple kan? Kalian boleh menggunakan kemampuan dasar kalian, dan aku tidak mau mengajar sebelum ujian itu dilaksanakan dan kalian tersisa setengah. Sederhananya ujian ini dibuat karena aku tidak mau mengajar 20 murid seperti sekarang, 10 murid Skrtytol sudah cukup. Mengerti?”

Seketika kelas menjadi sunyi, hanya tersisa kekehan ringan Kai yang ber-smirk ria setelah memutuskan ujian bertaruh nyawa itu. “Baiklah, kelas selesai,” ucapnya tak lama kemudian karena tidak ada suara protes yang muncul ke permukaan atas pengumuman ulangan diluar akal sehat itu.

Mendengar ucapan Kai, lantas aku melirik jam di dinding kelas, masih pukul 11 lewat 25 menit. Heol, dia hanya berbicara selama 25 menit dan tidak mengajar sama sekali. Satu pertanyaan, guru ini gila, atau memang malas mengajar?

“Aku bisa gila,” satu kekesalan ku umpat saat tiba di dalam kamar. Nampak Wendy yang sudah ada di kamar dan bergelut dengan buku tebal kepunyaannya memandang kepulanganku dengan heran.

“Kau kenapa?” tanyanya dengan tatapan memicing, sementara kulihat langkah Seulgi baru saja keluar dari dalam kamar mandi dengan wajah pucat.

“Kalian tau, ada guruku yang benar-benar gila. Bagaimana bisa dia memberikan ulangan pertaruhan nyawa saat dia bahkan be-“

Huwekk.”

“Kau kenapa?” selorohku tiba-tiba karena Seulgi yang nampak mual dan hampir jatuh ke lantai. Wendy nampak berdiri dari duduknya kemudian menghampiri Seulgi secepat kilat, sama seperti yang kulakukan sekarang. Lantas kami berdua memapah tubuh Seulgi yang lemas ke atas tempat tidur.

“Aku ingin tidur,” kata Seulgi pelan sambil menarik selimutnya, dan kami berdua hanya mengangguk. Lantas, setelah Seulgi mulai memejamkan mata kami berdua –aku dan Wendy- keluar dari kamar dan memutuskan berbicara di teras depan saja.

“Dia kenapa?” tanyaku langsung, dan Wendy nampak mengangkat bahu bingung sambil duduk di atas lantai teras. “Ntahlah, dia hanya bilang mereka punya ujian praktek tadi siang dan sepertinya Seulgi salah memasukkan ramuan sehingga dia mual-mual dan lemas karena aroma ramuannya. Yah, masalah kelas Healer,” jelas Wendy ringan dan aku mengangguk mengerti. Wajar, itu resiko kelas Healer. Tapi lebih baik mual ‘kan daripada mati seperti di kelas Skrytol?

“Oh, tadi kau ingin bicara apa?” tanya Wendy kemudian saat melihatku hanya manggut-manggut paham dengan penjelasannya mengenai keadaan Seulgi.

“Ah, hanya ingin bilang aku kesal setengah mati dengan guru sok muda itu,” kataku menggebu-gebu.

“Guru sok muda?” Wendy menggantung kalimatnya, ah, dia pasti tidak tau apa maksudku.

“Kim Jongin, professor materi pertarungan senjata itu,” jelasku akhirnya dan dia nampak mengangguk mengerti.

“Ah, aku tau. Pasti karena minggu depan kalian diberikan ulangan hidup atau mati kan?” potongnya kemudian yang seketika membuatku membulatkan mata. “Tau darimana?” tanyaku cukup tercengang.

“Beritanya sudah menyebar dengan cepat. Katanya guru itu memang begitu setiap tahun, hanya mau ada 10 orang di kelas Sktrytol.”

Aku hanya bisa ber-oh ria mendengar penjelasan Wendy, sepertinya gadis Niverda ini tau banyak tentang Arestal.

“Oh, dan apa kau tau? Semua kelas sudah tau ulangan itu dan akan menonton minggu depan. Semua guru sepakat untuk meliburkan kelas mereka dan mempertunjukkan ulangan kalian di muka umum,” oke, untuk penjelasan satu ini aku tidak tau kalau kematian kami akan jadi tertawaan seluruh murid dan guru Arestal.

“Kelas Thinker sangat bersemangat tadi. Katanya bagus jadi bahan tontonan karena kelas Skrytol isinya para pemuda tampan. Tapi mereka was-was juga, takut jagoan tampan mereka mati, “ aku hanya memandang Wendy sebentar. Pemuda tampan, lalu aku ini apa?

“Ah, semangatlah. Aku akan mendukungmu minggu depan. Tenang saja, arraseo? Pokoknya jangan mati Yara-ah,” aku tersenyum getir mendengar ucapan Wendy. Bagaimana bisa semangat saat aku bahkan tidak tau caranya bertarung Wen-ah?

Malam nampak menyusup dengan cepat. Bisa kulihat mentari sudah pergi dari peraduannya sejak beberapa jam lalu, dan sekarang tergantikan bulan yang berdiri angkuh di atas langit hitam sana. Anehnya, tidak ada pendar bintang malam ini, hingga rasanya malam ini begitu gelap dan kelam.

Sekarang aku hanya mendudukkan bokongku di teras luar, memandang jalan kosong berbatu di depan asrama putri ini. Harusnya sekarang aku duduk manis di ruang makan dan menyantap makan malam. Tapi aku rupanya sudah kenyang memikirkan nasibku minggu depan. Jadilah hanya Wendy yang pergi ke ruang makan sementara aku di kamar menjaga Seulgi yang sakit. Jisoo sendiri belum pulang sejak pagi. Biasanya gadis angkuh itu akan pulang tengah malam saat kami semua sudah tertidur dan pergi paling pagi saat kami semua belum bangun. Memang gadis yang aneh si Jisoo itu.

“Aku mencarimu,”

DEG

Sebuah perasaan aneh seketika menelusup batinku saat suara berat itu menyapa. Ada gemuruh yang berlomba di jantungku. Dengan cepat mataku beredar memandang sekeliling. Namun nihil, hanya aku seorang disini sementara Seulgi masih tertidur di kamar.

“Si-siapa?” tanyaku takut-takut dan suara itu mulai terdengar lagi.

“Aku di sampingmu bodoh,” ucapnya dan seketika aku bergidik. Tidak ada orang di kanan maupun kiri-ku, apa mungkin hantu? Tapi bagaimana mungkin ada hantu di sini? Vampire harusnya tidak takut hantu ‘kan? Seharusnya, tapi kenapa bulu kudukku merinding begini?

“Kenapa kau tidak ada di ruang makan?” tanya suara itu lagi, dan aku makin ketakutan saja.

“Si-siapa kau?” kataku lagi masih terbata.

“Di kananmu.”

Aku segera menoleh, kemudian mendapati sosok yang sedari tadi tidak kulihat itu sudah berdiri di sana. Sosok jangkung yang tidak kukenali karena gelap teras yang mendominasi.

“Cih, kalau begini kau pasti akan mati minggu depan,” lantang suara itu lagi, dan itu sedikit menohokku. Mati minggu depan, lucu juga.

“Siapa?” kataku sambil berdiri, kemudian berkacak pinggang di depan sosok itu.

“Tidak kenal suaraku?”

Dan ntah bagaimana bisa, sekarang lampu teras yang tadi sengaja ku matikan untuk menghindari patroli jaga malam itu menyala begitu terang, menyinari sosok misterius yang berkunjung ke teras kamarku itu tanpa diundang.

“Se-sehun?” kataku terbata saat mengenali sosok itu, dan sebuah senyum tipis tertoreh di bibirnya.

“Ya, ini aku, apa kabar adik asuh?” katanya sambil terkekeh, dan boleh ku katakan kalau rasanya ia berada di ambang antara setan dan malaikat? Disatu sisi aku merasa dia sedang bersikap hangat, sementara disisi lainnya aku merasa Sehun mungkin saja akan mencekikku beberapa menit lagi.

“Kenapa? Kenapa kau datang kemari?” tanyaku mulai bergidik ngeri sendiri membayangkan Sehun akan membunuhku di asrama dan meletakkan mayat mengenaskanku di tengah jalan. Tentu saja aku masih ingat bagaimana dia mengancam akan membunuhku kalau kami bertemu lagi. Dan sekarang dia menemuiku. Apa lagi tujuannya kalau tidak merenggut nyawaku, eoh?

“Boleh bicara sebentar? Tapi tidak disini,” katanya dan aku makin ketakutan. Jangan-jangan dia ingin membunuhku di tempat lain? Di Hutan Vier mungkin? Ku simpulkan mungkin saja dia ingin beramal pada hewan buas yang selama ini ia buru di Hutan Vier sana dengan memberikan mayatku sebagai makan malam mereka. Kalau tau begini, harusnya aku memaksa ikut dengan Wendy saja tadi.

“Nona Lee, boleh kan?” tanyanya, dan ntah sejak kapan dia sudah memegang telapak tanganku dan seketika semuanya berubah menjadi satu panorama; hitam.

Langit-langit tinggi milik aula Zwölf menjadi pemandangan pertama saat aku membuka mata. Ntahlah, yang pasti sekarang aku tengah berdiri di tengah aula yang biasa dipakai sebagai tempat berkumpul murid Arestal, seperti pada pertemuan murid baru hari pertama kemarin juga saat pembagian kelas terkutuk itu.

Sosok Sehun nampak berdiri tepat di depanku, dan dengan perlahan dia melepas genggaman jemarinya dari telapak tanganku. Ah, aku baru ingat kalau dia baru saja bersentuhan fisik denganku.

“Kenapa begitu takut, eoh? Aku hanya melakukan teleportasi dari asrama putri ke aula, hanya sekian ratus meter,” kekehnya yang membuatku makin membulatkan mata. Teleportasi? Ah, maksudnya berpindah tempat dalam hitungan detik?

“Kenapa kau membawaku kemari?” tanyaku akhirnya mengesampingkan rasa takut dan kagum atas kemampuan vampire di depanku ini. Dia tersenyum, cukup manis kalau aku tidak ingat dia sudah mencamkan akan membunuhku cepat atau lambat.

“Berlatihlah, aku akan mengajarimu.”

“Eh?” kagetku seketika. Apa dia tidak salah berbicara tadi? Mengajariku? Ah, maksudnya pasti membunuhku ‘kan?

“Datanglah ke aula ini setiap malam selepas jam makan malam selesai. Aku akan mengajarimu berperang disini,” aku terdiam, memandang Sehun yang sepertinya tidak salah ucap itu. Ah, bagaimana bisa dia berubah menjadi orang baik dalam seminggu? Atau dia hanya ingin menipuku saja?

“Jangan mempermainkanku!” pekikku akhirnya. Persetan dia mau menyebutku adik asuh yang tidak tau diuntung atau apa, toh aku memang sudah tidak sopan sejak awal bertemu dengannya ‘kan? Yang harus ditegaskan sekarang adalah sikapnya itu. Bagaimana bisa dia begitu plinplan? Minggu lalu dia bilang akan membunuhku, dan sekarang dia bilang akan mengajariku? Hei, aku tidak sebodoh itu untuk percaya begitu saja.

“Jangan mati.”

Aku terdiam. Dia menatapku lagi, dan sekarang tangannya bergerak menepuk kepalaku ringan.

“Percayalah padaku sekali ini saja. Jangan mati di ulangan minggu depan,” bisiknya lirih, membuat sebuah rasa nyaman menyelusup secara tiba-tiba. Ah, apa dia jujur kali ini? Tapi kenapa?

Tiba-tiba semuanya berubah hitam lagi, dan dinding teras kamarku menjadi pemandangan pertama saat aku membuka mata dengan wajah bingung. “Aku bisa teleportasi dengan orang lain kalau aku menyentuh mereka,” jelasnya seakan mengerti arah kebingunganku sekarang.

“Aku menunggumu besok di aula, datanglah kalau kau memang tidak mau mati minggu depan.”

Tubuh Sehun menghilang lagi setelah kalimat terakhir itu terlontar dari bibirnya. Sangat cepat hingga aku tidak sempat untuk sekedar bertanya kenapa dia mau mengajariku?

“Yara-ah?” aku menyerngit saat mendapat suara Wendy memasuki gendang telingaku, dan benar saja, kini sosok gadis ramping itu sudah ada di depan teras sambil menenteng satu paket makan malam yang kutebak untuk Seulgi mengingat yang ada di nampan itu adalah bubur dan bukannya nasi. Hei, jangan salah paham. Meskipun vampire kami bisa memakan makanan manusia, meski hanya beberapa jenis makanan. Juga kami bisa berdiri di bawah sinar matahari yang terik, tidak seperti pantangan vampire berabad-abad yang lalu. Peperangan sekian abad itu sudah merubah banyak hal dalam diri vampire, dan itu kadang menguntungkan sekaligus mengesalkan.

“Oh, perlu ku bantu?” ucapku akhirnya akhirnya karena sadar Wendy tengah memandangiku dengan bingung.

“Tidak perlu.” ucapnya sambil menaiki 2 anak tangga yang menjadi jarak rumah dengan jalan berbatu. Kini Wendy sudah berdiri di atas teras sepertiku.

“Maaf, aku sudah mengamankan absent makanmu. Hanya saja jatah makanan yang bisa ku bawa kemari hanya jatah makan Seulgi karena memang semua murid Healer tengah sakit karena kelas praktek mereka,” katanya menyesal dan aku hanya menggeleng singkat. Toh aku memang tidak lapar.

“Oh ya, siapa tadi? Apa ada yang datang berkunjung?” tanya Wendy penasaran sambil memasuki kamar, dan dengan cepat aku menggeleng. Jangan sampai Wendy tau kalau Sehun baru saja menyusup ke sini.

“Tidak, mungkin hanya perasaanmu saja,” elakku sambil menutup pintu kamar dan Wendy nampaknya menerima alasanku itu karena sekarang dia sudah sibuk menyuapi Seulgi. Syukurlah, Wendy tidak curiga sama sekali.

Omong-omong soal curiga, sikap Sehun tadi juga cukup mencurigakan. Jadi besok malam aku harus datang, atau tidak usah datang saja? Bagaimana kalau Sehun hanya mengerjaiku? Tapi, bagaimana kalau dia memang serius ingin mengajariku? Ah, lelaki itu membuatku pusing saja dengan semua sikap anehnya itu.

“Nona Lee, bisa dengarkan penjelasanku?” aku mengerjap saat kini kurasakan netra seluruh kelas bersarang padaku. Dengan cepat aku menegakkan posisi dudukku dan memandang lurus ke arah Professor Do yang sedang mengajar di depan sana.

“Ma-maaf Prof,” kataku singkat sambil menundukkan kepala, dan guru bernama lengkap Do Kyungsoo itu nampak kembali meneruskan penjelasannya tanpa berniat memperumit masalah.

Aih sial, kenapa aku malah melamun? Ingatan kemarin malam membuatku tidak fokus belajar saja. Teguran Professor bidang eksakta itu sudah yang ketiga kalinya dalam sehari ini. Sialan, padahal Professor ini adalah wali kelas Skrytol, tapi aku sudah membuat banyak masalah dengannya.

“Nona Lee?” ulangnya sekali lagi, dan aku lagi-lagi mengerjap. “Teguran ke-4,” batinku.

“Tolong fokus di dalam kelasku atau silahkan keluar,” katanya tegas, dan aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. Ah, kenapa aku tidak fokus sekali hari ini?

“Maaf Prof,” ulangku sekali lagi sebelum akhirnya dia memulai penjelasannya lagi.

Kelas eksakta Professor Do berakhir setengah jam kemudian. Nampak semua murid Skrytol sudah berhambur keluar ruangan, mungkin berniat membeli jus darah beruang yang dijual di kantin sebelum masuk materi pelajaran selanjutnya. Harusnya aku juga beli jus darah itu saja karena setauku darah Beruang bisa meningkatkan fokus, tapi aku terlalu malas untuk sekedar menggerakkan diri keluar ruangan. Jadi, aku hanya berdiam di tempat sambil membuang muka ke luar jendela.

“Nona Lee Yara?” aku mengerjap. Ntah sudah berapa kali Professor menyebut namaku hari ini. Dengan cepat aku akhirnya berdiri, kemudian menunduk pada guru eksakta yang ternyata belum keluar dari kelas Skrytol itu.

“Ya Prof?” tanyaku sambil berdiri kaku, dan dia nampak menghampiriku yang duduk di bangku paling belakang. Dia tersenyum tipis, membuatku makin canggung saja.

Professor Do memutar bangku di meja depanku, kemudian duduk disana hingga kini Professor Do duduk menghadap ke arahku. Sekon selanjutnya ia segera memrerintahkanku untuk duduk kembali di kursiku yang tentunya tidak bisa kutolak. Sekarang, mata kami beradu satu-sama lain.

“Apa kau ada masalah akhir-akhir ini?” tanyanya langsung, dan aku hanya bisa menggigit bibir. Apa aku harus menceritakan tentang Sehun pada guru yang bahkan baru ku kenal selama seminggu ini? Memang dia wali kelasku, tapi bukankah tidak sepatutnya aku percaya begitu saja pada guru ini?

“Baiklah kalau kau tidak mau bicara. Akan kuberikan konseling gratis karena kulihat kau adalah murid paling tersiksa di kelas ini. Temui aku di kantorku kalau kau ada masalah, mengerti? Dulu aku juga sepertimu, dan berbagi cerita dengan seseorang membuatku sedikit lebih baik saat duduk di bangku yang sama denganmu. Tenang saja, aku guru yang bisa dipercaya,” katanya hangat, dan itu membuatku cukup luluh. Ntahlah, mungkin hidup dengan banyak kata-kata kasar dan hinaan bahwa aku tidak berguna dan tidak diinginkan di dunia ini selama belasan tahun hidupku membuatku berkaca-kaca setiap kali ada orang yang baik padaku, seperti yang dilakukan Professor Do ini sekarang. Aku cukup terharu, bahkan sangat terharu karena ada seseorang yang peduli padaku.

“Baik Prof,” putusku akhirnya. Ya, sepertinya aku memang butuh teman berbicara, atau yang disebut professor itu dengan bimbingan konseling.

“Baiklah, jangan lupa datang Nona Lee. Pintuku terbuka lebar untukmu,” pesannya sebelum melangkahkan kaki keluar dari kelas Skrytol. Fyuh, untunglah kelas ini kosong sehingga aku bisa berbicara dengan guru itu secara leluasa. Ah, sepertinya aku bisa ke ruangannya secara rutin mulai dari sekarang.

Aku tidak datang.

Baik, sekarang sudah pukul 1 dini hari dan aku sama sekali tidak pergi ke aula Zwölf meski Sehun memerintahkanku datang ke tempat itu malam ini. Masa bodoh dia menungguku atau tidak, yang pasti aku tidak mau percaya kepadanya. Persetan dia akan menemuiku besok sambil marah-marah atau apa, yang pasti aku tidak akan pernah datang ke aula itu.

Pagi pun terasa lambat menyinsing. Sekarang sudah pukul 3 pagi, dan aku belum terlelap barang sedetikpun. Ntahlah, pikiranku kalang kabut dan mataku sulit terlelap. Sepertinya insomnia mulai menyerangku. Ah, apa perlu aku jalan-jalan keliling Arestal? Rasanya aku bosan dengan hanya memandangi langi-langit kamar yang sudah lapuk itu.

Dengan cepat aku kemudian menyambar sepatu dan sebuah jaket di atas meja, memakainya setengah tergesa lalu keluar dari kamar. Benar saja, udara yang begitu dingin menyambutku segera selepas keluarnya ragaku dari kamar. Tapi aku masih saja tidak peduli dan berniat berkeliling Arestal yang diciptakan nenek moyang Ares untuk mendidik para vampire muda ini.

Dan satu pemandangan mencengangkan kutemui di perbatasan Hutan Vier.

Aku menyerngit, berusaha mengatur nafas yang memburu dan menyakinkan diri bahwa orang itu memang sosok yang sangat kukenal. Niatnya tadi aku pergi ke perpustakaan yang ada di ujung sekolah dan hampir berbatasan dengan hutan, tapi yang kudapat malah pemandangan sosok yang sedang asyik berlatih dengan pedangnya. Tanpa perlu mengedipkan mata berulang kalipun aku sudah tau siapa sosok itu. Ntahlah, seperti ada ikatan batin yang menyakinkanku kalau sosok itu memang Taeyong, adik kembarku, yang tengah sibuk bergulat dengan pedang yang seingatku menjadi hadiah ulang tahunnya yang ke-sepuluh dari ayah.

Aku memperhatikan gerakan lihai Taeyong. Dia begitu luwes, bagai hafal mati setiap gerakan dan mantap dengan tebasan pedangnya. Sekali-kali bahkan Taeyong melompat dan menebas udara dengan begitu sempurna. Ya, kesempurnaan yang membuatku kian mencelos. Wajar gerakannya sangat mahir, Taeyong memang sudah diajar Paman Wu sejak kecil atas perintah ayah, bukti kalau memang Taeyong dipersiapkan menjadi pemenang atas peperangan dingin kami.

Dan fakta bahwa Taeyong masih berlatih dengan giat hingga dini hari saat dia sudah jauh di atasku, sadar atau tidak fakta itu membuatku sangat mencelos.

Bagaimana kalau nanti Taeyong yang menjadi lawanku saat ujian? Apa aku bisa menang? Dan jika bukan Taeyong, apa aku bisa bertahan hidup? Kalau ulangan dari Kai yang malas mengajar itu saja sudah membuatku meregang nyawa, bagaimana aku bisa menunjukkan pada ayah kalau aku anaknya yang patut diakui?

Kalau aku mati itu artinya Taeyong menang secara mutlak, dan aku tidak mau itu. Aku juga ingin hidup. Aku ingin diakui ayah. Aku ingin mendapat kasih sayang orangtua-ku yang selama ini dimonopoli Taeyong. Aku juga ingin dianggap.

Adikku mahir menggunakan pedang, juga seingatku cakap dalam menembak busur dan bermain tombak. Juga Taeyong bisa memanipulasi pikiran dan segala macam keahliannya yang masih belum aku ketahui. Taeyong ada di tingkatan yang jauh di atas kakak kembarnya ini. Wajar kalau dia menyombong bahwa dia akan menang dari seorang Lee Yara. Tapi aku dengan angkuhnya menjawab, lihat saja nanti aku pasti menang. Huh, mengingat saja aku sangat malu saat menantang orang yang jauh di atas level-ku itu. Lee Yara, kau begitu menyedihkan.

“Siapa disitu?” aku mengerjap saat vokal khas Taeyong kini masuk ke pendengaranku. Sialan, aku terlau banyak melamun. Sembunyi, ya, aku harus sembunyi sekarang. Tapi dimana?

“Siapa?” tanyanya lagi, dan ketakutan makin menghantuiku. Pasti sangat malu saat Taeyong tau aku tengah memperhatikannya berlatih. Tidak, itu tidak boleh terjadi. Mau ditaruh dimana harga diriku kalau sampai aku ketahuan?

Ah, tapi bagaimana caranya aku bersembunyi?

Ssttttt…”

Aku bergidik saat merasakan sebuah tangan menutup mulutku secara paksa. Sial, siapa lagi ini?

“Tenanglah ini aku.”

Tunggu, sepertinya aku mengenal suara ini. Suaranya seperti seseorang.

Tapi bagaimana bisa dia ada disini?

“Se-sehun?” gugupku, dan sebuah tepukan ringan di kepala menyadarkanku. Ternyata sekarang aku sudah berada di depan gerbang asrama putri, sementara Sehun menatapku begitu lekat.

“Anak pintar,” katanya sambil tersenyum lebar. Ya Tuhan, bagaimana bisa vampire ini ada dimanapun aku berada dan dengan seenakya melakukan teleportasi sesuka hatinya?

“Kau membuntutiku?” tanyaku akhirnya, sambil bernada marah. Ntahlah, meski tau dia sudah membantuku kabur dari acara ‘terpergok Taeyong’ tetap saja rasa terimakasihku menguap begitu saja, seakan kata itu tidak pantas kuucapkan untuk seorang Oh Sehun.

“Ya, aku membuntutimu,” jawabnya lantang dan tanpa beban hingga membuatku kesal sendiri.

“Kenapa?” tanyaku akhirnya, cukup marah karena kutau mungkin saja dia membuntutiku sejak pagi. Ingat, Sehun punya kemampuan menghilangkan wujud jangkungnya itu selain melakukan teleportasi. Sepertinya julukan pengguna kekuatan magis terbaik di angkatannya benar-benar gelar yang pas untuk Sehun tanpa hiperbola sedikitpun.

“Karena aku menyukaimu,”

“Eh? Jangan gila!” pekikku akhirnya, sementara kulihat Sehun masih tertawa melihat reaksiku.

“Aku menyukaimu,” ulangnya sekali lagi.

Baiklah, apa Sehun punya kepribadian ganda? Kenapa lelaki ini sangat membingungkan? Pertama dia bilang menyukaiku, lalu seminggu lalu dia bilang ingin membunuhku, kemarin dia bilang ingin mengajariku, dan sekarang dia bilang dia menyukaiku lagi setelah mengaku sudah membuntutiku. Ayolah, aku bisa gila kalau dihadapkan dengan makhluk semacam Sehun ini.

“Jangan bercanda Oh Sehun,” ancamku, dan responnya hanyalah sebuah senyum lebar, seakan menegaskan dia tidak takut sama sekali dengan ancaman yang kuberikan.

Tsk, aku tidak bercanda. Aku memang menyukaimu,” katanya seolah kata suka itu bukanlah beban. Dia benar-benar gila, dan agaknya mengajakku ikut gila juga sekarang.

“Oh, dan jatuh cinta antara adik dan kakak asuh itu tidak dilarang, jadi tenang saja,”

Oh, memangnya aku ada bertanya?

Aish, Oh Sehun, si vampire gila ini, kenapa aku harus mengenalnya?!

To Be Continued

Iklan

12 pemikiran pada “Mea Alterum – [3] Examination – Shaekiran

  1. Jongin jadi Guru 😀 tetap aja genit tebar pesona 😀
    Yaampun Sehun, kamu itu labil atau gimana sih. Kalau aku jadi Yara pasti juga dilema karena sikap kamu yang bilang suka terus akan membunuh dan kini bilang suka lagi. 😀 Oke sepertinya aku memang sudah jatuh hati pada jalan cerita ini. Ceritanya keren kak 🙂

  2. Ping balik: Mea Alterum – [4] Secret – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Kaakkk ekii, hlee aku udah baca dariawal dan ada bau2 bakal jadi suka banget sm ff ini kaa wkwk, anu eh ku gatau mo ngomong apa /speechless *-*/ pokoknya suka bat si yara kuadh kalem gitu yak, sahabatnya jg baek2 bangett tapi penasaran sama jisoo yg diem diem nnt cepirit .ga :v

    sehun lucu bangett heh T_T labil gitu kan yakk, jadikan sehun sama yara ndee /apa/ wkwk, taeyong tjogan dahal T_T tapi perannya disiini musuh Yara sih ya, jan sampe mereka berdua mati dan semoga sejarah Arestel berubah:v dan Suho jd holmis /gak/ wkwk, ini akku gasabar nunggunya jadi komen panjang lebar juga jadinya hahaha :3

    oh iye, itu si luhan gadanta bayangin mukanya yg flowerboy gt jadi sangar sunbae di Skrytol -,- keknya ngakakin aja yekan hahaa. udah ah kak nanti nyepam:v dah~

  4. WAH INI SIH GILAAAA HEEEE ITU KAI GENIT BANGET BAKAR AJA BAKAAARRRRR! SEHUNNYA ITU WEEEEHH GAK JELASSS-_- KENAPA DIA BILANG SUKA ABIS ITU DI TABOK SEPATU ABIS ITU BILANG BAKAL NGEBUNUH YARA ABIS ITU MAU NGAJARIN ABIS ITU DIA BILANG SUKA LAGIIIII?!!!! HAAA SEHUN KAMU TUH PELUKABLE TAPI BAKARABLE JUGA WEEEH
    Itu do nya baik syekali huhuhuhuhuhu aku baru baca karena baru selesai uts:( DI TUNGGU NEXT NYA YAAAH💜

  5. Tau kok rasanya jadi yara)): gaada yang ajak ngomong dikelas)):

    SEHUNN kamu labil bgt.. pertama bilang suka, trus bilang mau ngebunuh, skrg bilang suka lagiii astagaaaa aku curiga sehun punya kepribadian ganda(??)

    NEXT THORRR ❤

  6. sehun labil banget jadi vampir, cepet banget berubah ekspresi dan pikiran.. bentar2 dingin bentar2 peduli.. sumpah labil banget dia.. 😀
    yara jangan mati ya.. ntar sehun goda.in siapa donk.. /di tabok author/ 😀
    di tunggu next chapnya aja deh..
    fighting thor..

  7. Kenapa sifat sehun plin plan banget sih. Greget aku dibuat nya.
    Ulangan pertaruhan nyawa. Apa yara nanti selamat ya ? Aku berharap sih yara selamat kan kasihan. Aku kasihan sama yara yang nggak pernah disayangi orang tua nya dan mereka lebih sayang sama taeyong. Semoga sengan ada nya sehun hidup yara lebih baik san sifat sehun jangan di buat plin plan dong kak.
    Untuk next nya jangan lama-lama ya kak, nggak sabar nunggu kelanjutan nya lagi.

  8. Oemji oemjiii… Kenapa sehun bisa langsung berubah manis 😍😍😍😍
    Aaahh. Ini paling ditunggu” kak. Akhirnya update juga. 😄😄😄

  9. FIRST? NARI TORTOR DULU /DILEMPARIN BATU/

    KAK EKI YA LORD. ANE NGAKAK MASYA ALLAH, BUKAN KRN LUHAN TAPI KARENA KAI. BAYANGIN DOI JADI GURU ITU SOK KAMPRETOS NGAKAK MANA NGEDIP2 GANJEN. NGAKAK. Idih guru males ngajar malah ngorbanin muridnya, guru macam apa kau kai?

    Dan yara i know what you feel. Di kelas gak ada yg ngajak ngomong, terasingkan itu aku tau huhuhu ;; rasanya hampa kek kambing conge. Lalu lalu itu D.O huee pen meluk aku juga terharu loh kak /heh

    DAN INI SUWER SEHUN, SEHUN, SEHUN ANJEERR. KATANYA MATI, LALU MAU NGAJARIN, LALU BLG SUKA. MAUMU APA SEHUNNNN!! AKU JG BISA GILA KEK YARA /JAMBAK2 RAMBUT/MEWEK/GULING2/ TELEPORTASI KYAA KUINGIN PUNYA KEKUATAN ITU BIAR BISA KE CHINA BOBO BARENG LUHAN /MUSNAH AJA SAK/

    Tau gak kak eki, ane tadi udh senyum2 pas Yara mergokin orang main pedang dengan lihai. Ane kira itu Sehun, udh bayangin wajah ganteng Sehun yg diperhatiin gadis pujaan. Nyatanya….

    Nyatanya…

    Malah Taeyong -_- Ntahlah kalo yara ngadepin ujian nanti lalu ngelawan taeyong apa jadinya. Berharap mereka saling lawan tapi si taeyong kalah jadinya ane puas huahahah /ditabok taeyong/ ane gak mencium akan adanya Yara/taeyong yg mati, karena gak akan rame nantinya /sotoy/ tp kalo mereka saling lawan kek asik tp taeyongnya kalah /elsa ngomong opo sih/

    TAPI SUWER AKU GEREGET SM SEHUN YG PLINPLAN. KELUARKAN CEYE UNTUK YARA KAK, KELUARKANNN AKU NDAK KUAT SM ANAK LABIL CEM SEHUN TP KEKUATAN DIA BUAT NGILERR HUEE MAMAAAAAAAAA

    Btw kak eki td lagi asik2 baca nemu typo. Kukasih tau aja yaw biar bisa diedit

    “Oh, perlu ku bantu?” ucapku akhirnya akhirnya karena sadar Wendy tengah memandangiku dengan bingung. <— akhirnya ketulis dua kali

    UDAH YA KAK DI SINI JAM 00.39 NIH WKWKWK. SEPERTI BIASA KOMENNYA UNFAEDAH LOL *NGILANG*TIIING KUTUNGGU LANJUTANNYA KAK EKI 😗😗😗

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s