[EXOFFI FREELANCE] Dream (Chapter 27)

DREAM - CHAPTER 27.jpg

 

DREAM  –  CHAPTER 27

[SECOND MARRIAGE]

 
Author: Azalea
Cast : Bae Suzy (Miss A), Byun Baekhyun (EXO), Kim Sejeong (IOI), Kim Myungsoo (Infinite)
Genre : Romance, Sadness.
Rating : NC-17
Length : Chapter
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri. Kalian juga bisa baca ff ku ini di wattpad. Nama id ku mongmongngi_b, dengan judul cerita DREAM. Jangan plagiat, ataupun me re-upload ff ini tanpa sepengetahuanku.

 

Credit poster by RAVENCLAW

 

 

Cerita Sebelumnya : CHAPTER 1 ( DREAM )  ->  CHAPTER 2 (REAL?)  ->  CHAPTER 3 (DEJA VOO)  ->  CHAPTER 4 (FATE) -> CHAPTER 5 (설레다 [ SEOLLEDA – BERDEBAR ])  – > CHAPTER 6 (LOCKVOGEL – PEMIKAT) -> CHAPTER 7 (SWEET MORNING) -> CHAPTER 8 (VERWIRRT) -> CHAPTER 9 (LÜGE – KEBOHONGAN) -> CHAPTER 10 (INSTINKT – INSTING) -> CHAPTER 11 (DINNER) -> CHAPTER 12 (BAEKHYUN STORY)  -> CHAPTER 13 (JEJU DO – JEJU ISLAND) -> CHAPTER 14 (GEHEIMNIS – RAHASIA) -> CHAPTER 15 (SUNRISE) -> CHAPTER 16 (BEAUTIFUL LIAR) -> CHAPTER 17 (JEALOUS) -> CHAPTER 18 (KIM YERI) -> CHAPTER 19 (JOURNEY) -> CHAPTER 20 (MISSING YOU) -> CHAPTER 21 (SECOND WOMAN) -> CHAPTER 22 (WEDDING DAY) -> CHAPTER 23 (KIM SEJEONG) -> CHAPTER 24 (HURT) -> CHAPTER 25 (ENGAGEMENT) -> CHAPTER 26 (CONFESSION)

“Ceraikan Suzy.”

Hening seketika. Semuanya terlalu mendadak bagi Baekhyun dan Suzy. Bahkan kedua orang tua Baekhyun juga lebih memilih diam karena tidak tahu harus menjawab apa. Ini masalah rumah tangga Baekhyun dan Suzy, keduanya tidak mempunyai hak untuk ikut campur ke dalam masalah mereka.

“Maafkan saya. Menceraikan Suzy adalah satu hal yang tidak akan saya lakukan selama saya menghembuskan napas.” Jawab Baekhyun memecahkan keheningan.

“Pilihannya hanya dua, Baekhyun-ssi. Ceraikan puteri atau batalkan pernikahanmu.”

Baekhyun sangat bingung dengan pilihan yang diberikan oleh ayah mertuanya itu. Ini bahkan lebih sulit dari soal kalkulus sekalipun. Ia tidak bisa menceraikan Suzy begitu saja karena Suzy adalah wanita yang sangat dicintainya, tapi di sisi lain ia juga tidak bisa membatalkan pernikahannya dengan Sejeong. Ah, sial! Rutuk Baekhyun dalam hati.

Baekhyun mengalihkan pandangannya ke arah tempat dimana Suzy duduk. Tatapan Suzy yang seperti akan menangis membuat luka tersendiri di hati Baekhyun saat menunggu jawaban seperti apa yang akan diberikannya. Baekhyun terlihat menghembuskan napasnya dalam dan Suzy tahu arti dari gerakan tubuh Baekhyun itu apa. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya yang sudah sejak dari awal ia tahan.

“Maafkan saya.” Jawab Baekhyun sambil menundukkan kepalanya.

“Kalau begitu, silahkan kalian tinggalkan rumah kami dan jangan temui Suzy sampai kau benar-benar menceraikan salah satu dari wanitamu itu.”

Suzy langsung mebelalakkan matanya mendengar usiran ayahnya kepada keluarga Baekhyun. “Appa….”

Diskusi kita telah selesai, Suzy-ya. Sebaiknya kau masuk ke kamarmu sekarang juga.”

“Tapi appa…”  Suzy kembali mencoba untuk membantah tapi terputus saat ibunya menarik ia untuk berdiri dan meninggalkan ruang tamu. Ia mencoba mengeluarkan protesannya lewat tatapan kepada sang ibu, tapi ibunya tetap bergeming tidak terpengaruh sama sekali.

Suzy mengalihkan tatapannya pada Baekhyun, mencoba mencari bantuan lainnya. Tapi hatinya kembali mencelos saat Baekhyun tidak berani menatapnya sama sekali. Suzy tahu Baekhyun juga terluka akan hal ini, tapi tidak seharusnya ia melakukan hal ini padanya disaat pria itu sudah melukainya begitu dalam.

Dengan langkah gontai Suzy mengikuti ke mana pun sang ibu membawanya. Ia menangis dalam diam. Semuanya terlalu rumit hingga membuat kepala sakit. Tidak hanya kepalanya yang sakit, tapi hatinya jauh lebih sakit.

Tidak lama setelah Suzy memasuki kamarnya, suara deru mobil yang meninggalkan halaman rumahnya membuat Suzy berlari ke arah tempat tidurnya dan bergelung dengan selimut. Ia menyembunyikan tangisannya dengan bantal yang ia meliki hingga pada akhirnya ia jatuh tertidur dengan sendirinya.

Tidak jauh beda dengan Suzy, Baekhyun langsung mengurung dirinya sendiri di kamar penthousenya begitu ia tiba di sana. Kedua orang tuanya membiarkan ia sendirian dengan tidak merecokinya dengan berbagai macam pertanyaan setelah mereka keluar dari rumah Suzy.

Baekhyun merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya. Ia berbaring terlentang sambil menatap langit. Tekanan yang dialaminya beberapa hari terakhir ini membuat kepalanya sakit. Perlahan ia memijat pelipisnya pelan berharap semua beban yang dipikirkannya akan sedikit terangkat dengan hal itu.

Lalu ia mengangkat tangan kanannya ke depan wajahnya. Dipandanginya cincin pernikahannya dengan Suzy begitu lekat. Memori saat-saat kebersamaan mereka beberapa waktu yang lalu berputar dengan sendirinya di dalam benak Baekhyun. Tanpa sadar ia tersenyum sendiri saat memikirkan hari di mana ia menikah dengan Suzy.

Baekhyun mengangkat tangan kirinya dan ia sejajarkan dengan tangan kanannya. Disana juga tersemat sebuah cincin pasangan di jari manis. Mata Baekhyun menatap lekat cincin pertunangannya dengan Sejeong. Seperti saat memandang cincin pernikahannya, memori saat kebersamaannya dengan Sejeong dari bagaimana mereka bertemu sampai bertunangan pun berputar dengan sendirinya di dalam otaknya.

Baekhyun menghela napasnya dalam dan langsung menutup matanya dengan menggunakan tangannya saat ia tidak bisa memutuskan akan memilih siapa. Semua pilihannya memiliki risiko tersendiri dan Baekhyun tidak sanggup untuk menghadapi segala risiko tersebut. Anggaplah ia pengecut, karena memang sesungguhnya ia adalah seorang pengecut.

“Aarrgghh….” teriak Baekhyun frustasi dengan keadaannya sendiri. Ia memukul kasur yang tidak bersalah itu dengan kuat berusaha melampiaskan kekesasalannya pada dirinya sendiri.

Hari yang sungguh kacau, dan Baekhyun berharap hari ini hanya sebatas mimpi semata sehingga ia bisa bangun dan menganggap semua yang terjadi hari ini hanya ilusi. Tidak nyata.

Harapan hanya akan menjadi harapan saja karena saat Baekhyun membuka matanya lalu ia kembali menatap kedua tangannya dan di sana masih tersemat kedua cincin yang berbeda. Sama seperti terakhir kalinya Baekhyun melihatnya.

Baekhyun sedikit mengerang saat merasakan tubuhnya yang bangun dengan posisi yang tidak nyaman. Ia melirik tubuhnya dan Baekhyun kembali menghembuskan napasnya dalam kala ia melihat masih memakai baju yang sama dengan yang ia gunakan semalam. Berarti selama semalaman penuh ia tidur dengan pakaian yang tidak nyaman digunakan saat tidur. Bahkan ia masih memakai sepatu formalnya.

Baekhyun bangkit dari tidurnya, satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya ia buka dengan gerakan malas. Lalu setelah itu ia berjalan ke arah kamar mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Bersiap-siap untuk pergi ke kantor dan berusaha menyibukkan dirinya di sana sebagai tempat pelariannya yang pas.

Di saat yang sama, Suzy berjalan ke arah kamar mandi dengan malas. Ia menatap tampilannya di cermin dan detik itu juga ia berdecak kesal. Benar-benar mengerikan. Batinnya. Selama tiga puluh menit lebih ia gunakan untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai, ia berjalan ke arah lemari pakaiannya dan memilih salah satu dress tanpa lengan yang panjangnya hingga setengah pahanya berwarna putih dengan motif bunga-bunga di bagian roknya.

Dress tersebut ia padukan dengan sebuah blazer warna jingga yang senada dengan bunga-bunga di dress yang ia gunakan. Hari ini ia sengaja memakai make up yang sedikit tebal untuk menutupi bekas tangisannya semalam. Rambut panjang bergelombangnya ia biarkan terurai begitu saja.

Saat ia keluar dari kamarnya, terlihat kedua orang tuanya sudah duduk memenuhi meja makan untuk sarapan bersama. Tidak ada yang mengucapkan selamat pagi kepadanya, dan Suzy memakluminya karena ia tahu kedua orang tuanya masih kecewa padanya.

Suasana sarapan pagi itu benar-benar dingin. Suzy tidak betah jika harus berlama-lama di sana dengan suasana pagi yang seperti itu, sehingga Suzy menghabiskan sarapannya secepat yang ia mampu.

“Terima kasih atas makanannya.” Ucap Suzy setelah ia menyelesaikan sarapannya. Tepat sesaat Suzy akan melangkahkan kakinya, suara sang ayah membuat ia menghentikan gerakannya.

“Kau akan pergi ke mana?”

Suzy berbalik dan memandang sang ayah yang masih terfokus pada sarapannya. Tidak memandangnya sama sekali. “Ke kantor.”

“Untuk hari ini kau beristirahat saja di rumah.”

“Tapi aku masih memiliki proyek yang harus aku selesaikan, appa.”

Mulai hari ini kau tidak usah memikirkan proyek itu lagi. Appa sudah menggantikanmu dengan orang lain.”

“Apa? Appa tidak bisa melakukan hal ini padaku!”

Appa bisa melakukan apapun pada karyawan yang bekerja di perusahaan appa, tidak terkecuali dirimu.”

“Itu sangat tidak profesional jika appa melibatkan urusan pribadi dengan pekerjaan.”

“Apakah selama kau mengerjakan proyek ini kau juga sudah bertindak profesional?” Suzy terdiam mendengar pertanyaan ayahnya itu. Apakah sikapnya dengan Baekhyun saat mengerjakan proyek ini selalu tidak profesional? Tapi seingatnya ia selalu bertindak profesional. “Jika kau tidak bisa menjawabnya, lebih baik kau menurut saja.”

Appa jahat!”

Suzy langsung berlari menuju kamarnya menyadari kesempatannya untuk bertemu Baekhyun hilang sudah. Padahal ia sangat membutuhkan pria itu saat ini juga. Dalam hati ia terus memanggil nama Baekhyun seakan nama itu bisa menjadi mantra yang akan menguatkannya menghadapi dunia yang begitu kejam padanya.

Sebuah dering telepon menyadarkan Suzy dari lamunannya. Ia merogoh handphonenya di dalam kerjanya. Saat melihat siapa yang memanggilnya, Suzy segera menjawab panggilan tersebut.

Yeobeoseyeo…”

Baekhyun-na…”  isak Suzy membuat Baekhyun seketika terdiam di seberang sana.

Kau baik-baik saja?”

Aku tidak baik-baik saja saat kau tidak ada di sisiku.”

Maafkan aku.”

“Bisakah kau membawaku pergi?”

Suzy-a.”

“Aku bisa hidup tanpa kekayaanmu. Aku hanya membutuhkanmu.” Ucap Suzy sambil terisak dan membuat Baekhyun menghela napasnya dalam.

Kita tidak bisa hidup hanya dengan cinta, Suzy-a.”

Aku tidak peduli. Asalkan aku bersamamu, aku mau.”

Suzy-a.”

“Kenapa kau tidak menjawabku, Baekhyun-na? Tak inginkah kau menghabiskan sisa hidupmu hanya bersamaku?” Baekhyun tidak mampu berkata-kata karena sesungguhnya ia juga ingin melakukan hal itu. “Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” desak Suzy.

“Bisakah kau menungguku untuk dua tahun yang akan datang? Setelah itu aku janji, aku hanya akan bersamamu. Menghabiskan sisa hidupku bersama-sama.”

Air mata Suzy semakin mengalir deras saat mendengarnya. Entah ia harus sedih atau bahagia saat Baekhyun mengatakan hal itu padanya. Suzy mengambil napasnya dalam-dalam sebelum ia berkata. “Kenapa aku harus menunggu selama itu, suamiku?”

“Kau tahu kenapa, sayang.”

Setelah itu mereka kembali terdiam. Hanya menyisakan isak tangis Suzy dan hembusan napas Baekhyun yang terdengar di telinga masing-masing. Pembicaraan yang benar-benar menguras hati dan tenaga mereka.

“Bisakah kau berjanji satu hal padaku?” tanya Suzy memecahkan keheningan mereka.

Apapun untukmu, istriku.”

Berjanjilah tidak akan ada anak dipernikahan keduamu.” Baekhyun terdiam membuat Suzy menggigit bibir bawahnya cemas. Terlalu takut akan jawaban yang akan diberikan Baekhyun padanya. “Aku mohon.” Lanjut Suzy setengah memohon.

Jika itu bisa menenangkanmu, maka aku berjanji padamu. Tidak akan ada anak di pernikahanku nanti.” Janji Baekhyun membuat Suzy bisa sedikit tersenyum karena perasaan lega menyelimutinya.

“Terima kasih.”

“Istirahatlah. Aku akan mneghubungimu lagi nanti.”

“Hm.”

Ich vermisse, meine Frau. (Aku sangat merindukanmu, istriku.)”

Ich vermisse dich so sehr, mein Mann. (Aku juga sangat merindukanmu, suamiku.)”

Suzy meletakkan handphonenya di atas nakas. Ia membaringkan tubuhnya dan menatap kosong ke arah jendela di kamarnya. Otak Suzy sudah tidak bisa diajak untuk berpikir lagi sehingga ia memutuskan untuk memejamkan matanya.

Hari demi hari berlalu dengan sangat cepat. Sebulan setelah pertunangan Baekhyun dan Sejeong akan dilangsungkan upacara pernikahan mereka. Walaupun Suzy tidak melihatnya secara langsung, Suzy bisa membayangkan pesta pernikahan seperti apa yang akan dilaksanakan oleh mereka. Hatinya berdenyut sakit saat ia terus menghitung hari menuju pernikahan Baekhyun.

Selama sebulan ini pula Baekhyun tidak pernah berhenti untuk menghubunginya. Entah itu lewat pesan singkat, atau lewat telepon biasa. Suzy memang sudah dikeluarkan dari proyek hotel terbaru Baekhyun, tapi bukan berarti ia juga dikeluarkan dari perusahaan ayahnya.

Ia tetap bekerja seperti biasa, tapi segala hal ada hubungannya dengan perusahaan Baekhyun ayahnya jauhkan dari Suzy. Baekhyun dan Suzy tidak hilang akal. Walaupun mereka dijauhkan dan dihalang-halangi untuk bertemu oleh ayah Suzy, mereka selalu berusaha mencari celah untuk bertemu. Sekedar melepas rindu yang sudah tidak bisa dibendung lagi oleh hati mereka.

Dan selama sebulan itu pula Myungsoo berusaha mendekati Suzy lagi. Berharap Suzy dapat berubah pikiran dan kembali lagi padanya. Ribuan kali Suzy menjelaskan pada Myungsoo jika hatinya sudah berubah, tapi tetap saja Myungsoo selalu menyangkalnya, menganggap Suzy hanya memiliki perasaan sesaat pada Baekhyun dan suatu hari nanti akan kembali padanya.

Hari ini adalah hari pernikahan Baekhyun dan Sejeong. Suzy memutuskan untuk mengurung dirinya di dalam kamarnya. Langit yang mendung seakan mewakili perasaannya saat ini. Rintik hujan sedikit demi sedikit mulai membasahi bumi ini.

Suzy memperhatikan tetesan air yang jatuh mengenai jendela kamarnya. Ia sudah tidak mampu untuk menangis lagi. Air matanya seakan sudah kering karena ia terlalu banyak menangis selama sebulan ini. Suzy menulikan pendengarannya saat ibu atau pun asisten rumah tangganya memanggil Suzy untuk makan. Ia belum memasukkan sesuap makanan apapun ke dalam mulutnya sejak pagi hari, sedangkan saat ini matahari sudah hampir tenggelam.

Dirinya terlalu tegang hingga membuat perutnya tidak lapar sedikit pun. Suzy terus berdiri di depan jendela kamarnya. Hingga malam menjelang, ia masih tetap bergeming di tempatnya. Entah sudah berapa lama ia berdiri di sana. Waktu seakan tidak berjalan di sekitar Suzy.

Saat tengah malam hampir tiba, sebuah tangan melingkar sempurna di perut Suzy membuatnya sedikit tersentak akan hal itu. Tubuh Suzy seakan kembali ke dalam kenyataan kala ia mencium wangi parfum dari tubuh yang dirindukannya ini.

Perlahan Suzy menyentuh tangan itu dan ia menyandarkan kepalanya pada dada bidang yang sudah lama tidak memeluknya. Suzy membalikkan badannya untuk menghadap Baekhyun. Dirangkumnya wajah Baekhyun dengan kedua telapak tangannya.

“Apakah ini nyata?” bisik Suzy sambil menelusuri wajah Baekhyun.

Baekhyun memalingkan wajahnya untuk mengecup lembut tangan Suzy yang tengah menyentuh wajahnya. “Kau tidak sedang bermipi.”

Seketika itu juga Suzy kembali menangis. Ia memeluk erat Baekhyun dan dibalas dengan pelukan yang tidak kalah eratnya. “Aku tidak bisa membayangkan malam ini kau…”

“Ssttt….” potong Baekhyun saat tahu ke mana arah pembicaraan Suzy. “Jangan memikirkan apapun yang hanya akan membuatmu semakin sakit hati.” Baekhyun mengelus punggung Suzy dengan lembut berharap Suzy akan tenang.

“Aku takut.” Lirih Suzy sambil membenamkan wajahnya pada dada Baekhyun.

“Tenanglah. Aku ada di sini bersamamu.”

Suzy melonggarkan pelukkannya hingga ia bisa menatap Baekhyun secara langsung. Suzy dapat melihat jika Baekhyun masih menggunakan tuxedo pesta pernikahannya yang baru selesai beberapa saat lalu. Terbesit rasa bahagia di hati saat Baekhyun lebih memilih untuk menghabiskan malam dengannya dari pada dengan istri keduanya.

Suzy tidak tahu bagaimana caranya Baekhyun bisa masuk ke dalam kamarnya, karena setahunya kedua orang tuanya selalu menghalangi Baekhyun untuk bertemu dengannya. Tapi untuk saat ini, Suzy tidak ingin memikirkan apapun. Ia hanya ingin menikmati waktu kebersamaannya dengan Baekhyun sebaik mungkin. “Cium aku.” Pinta Suzy setelah mereka hanya saling tatap saja.

Baekhyun tersenyum sambil mengelus pipi Suzy sayang. “Dengan senang hati.” Lalu detik selanjutnya bibir mereka sudah saling bertautan. Kecupan-kecupan mesra mereka berikan untuk memuaskan rasa rindu mereka.

Lama kelamaan kecupan ringan itu berubah menjadi lumatan-lumatan mesra. Saling menyentuh bagian tubuh yang bisa mereka jangkau. Mereka membutuhkan ini untuk menghilangkan kegelisahan hati yang terus mereka rasakan jika mereka tidak bertemu. Malam itu Baekhyun menghabiskannya bersama istri pertamanya, Suzy, padahal malam itu adalah malam pertama pernikahannya dengan istri keduanya.

Suzy bangun lebih dulu dari pada Baekhyun. Ketika ia membuka matanya, wajah Baekhyunlah hal pertama yang dilihatnya. Wajah yang begitu dalam tidurnya membuat Suzy refleks tersenyum.

Suzy mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Baekhyun. Ia menelusuri gurat wajah Baekhyun tanpa menyentuhnya sama sekali. Suzy berusaha merekam wajah Baekhyun agar tetap diingatnya. Saat tangan Suzy berada di bibir Baekhyun, tiba-tiba ia terpekik kaget karena Baekhyun menggigit jari tangannya.

Setelahnya Baekhyun membuka matanya sambil tersenyum geli melihat wajah masam Suzy. Baekhyun melepaskan gigitannya dan beralih untuk mencium bibir Suzy. “Puas memperhatikan wajahku?”

Suzy semakin mengerucutkan bibirnya kesal. “Kau mengejutkanku.”

“Siapa suruh kau diam-diam mengamati wajahku.”

Suzy terdiam karena tidak mampu untuk menanggapi ucapan Baekhyun. Ia seperti maling yang telah tertangkap basah. Baekhyun melirik jam yang ada di atas nakas. Wajahnya mengkerut saat melihat jam sudah menunjukkan pagi hari. Ia lalu bangkit dari tidurnya.

“Sebaiknya kita mandi sekarang.” Ajaknya sambil menggendong Suzy ke dalam kamar mandi. Suzy tidak berusaha untuk melawan sama sekali, karena sesungguhnya ia juga membutuhkan mandi.

Mandi yang seharusnya selesai hanya lima belas menit saja, jika sudah ada Baekhyun maka waktu untuk mandi akan bertambah menjadi empat kali lipat hingga membuat kulit mereka mengkerut karena terlalu lama berada di dalam air.

Setelah mandi panas dengan Suzy, Baekhyun berpamitan pada istrinya itu untuk pulang ke rumahnya. Awalnya Suzy tidak mengizinkannya, tapi setelah berbagai cara dilakukan Baekhyun untuk membujuknya pada akhirnya ia mengizinkan Baekhyun untuk pulang walaupun dengan berat hati.

Saat Baekhyun berjalan melewati ruang keluarga rumah Suzy, ia sedikit terkejut karena ayah Suzy sedang duduk di sana sambil membaca koran. Tidak terpengaruh sedikitpun dengan keberadaan Baekhyun di sana. Langkah kaki Baekhyun terhenti saat ia mendengar ucapan ayah Suzy.

“Jangan besar kepala dulu. Aku mengizinkanmu datang kemari bukan karena aku sudah menerimamu tapi ini semua kulakukan karena aku tidak ingin melihat puteriku terpuruk lebih lama lagi.”

Baekhyun terdiam saat mendengarnya. Ia tahu dengan pasti maksud dari ucapan ayah mertuanya itu. “Saya mengerti. Saya permisi dulu.” Baekhyun membungkukkan badannya tanpa menunggu jawaban dari ayah Suzy.

Perjalanan dari rumah Suzy ke penthouse tidak membutuhkan waktu yang lama. Begitu ia membuka pintu penthousenya, Sejeong sedang menunggunya di sofa ruang tamu. Baekhyun menghentikan langkahnya dan memandang wanita yang baru saja menjadi istrinya itu dengan seksama.

Lingkaran hitam di sekitar matanya menandakan ia tidak tidur semalaman. Belum lagi pakaian yang digunakan Sejeong masih berupa gaun tidur transparan yang memperlihatkan indahnya badan yang dimilikinya. Sejeong terlihat menatap tajam Baekhyun.

“Dari mana saja kau semalaman ini?”

Baekhyun menghembuskan napasnya dan meneruskan langkahnya yang sempat terhenti. “Aku bertanya padamu?” jerit Sejeong sambil menahan tangan Baekhyun agar tidak meninggalkannya.

“Itu bukan urusanmu.” Jawab Baekhyun lelah.

“Sekarang itu juga menjadi urusanku karena aku sekarang juga istrimu.” Amarah yang dirasakan oleh Sejeong disalurkan dengan air mata. Ia kesal pada Baekhyun dan ia juga kesal pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya ia membiarkan Baekhyun menghabiskan malam bersama wanita lain padahal semalam adalah malam pertama mereka.

“Aku bersama istri pertamaku. Kau puas?”

Sejeong yang sudah kesal pada Baekhyun bertambah kesal saat mendengar jawaban dari Baekhyun. Tiba-tiba sebuah pikiran terbesit di otaknya. Ia menghapus dengan kasar air mata yang mengalir di pipinya. Ia tidak boleh menyerah. Menjadi istri kedua adalah pilihannya dan sudah menjadi risiko jika ia harus berbagi ranjang dengan wanita lain.

Sejeong langsung melucuti pakaian yang ia kenakan hingga saat ini ia berdiri tanpa sehelai benang pun menutupi tubuh indahnya. Baekhyun yang melihat aksi Sejeong hanya bisa membulatkan matanya. Geraman tertahan terdengar dari tenggorokannya membuat Sejeong tersenyum menggoda ke arah Baekhyun.

Sejeong merangkulkan tangannya pada leher Baekhyun dan menarik Baekhyun untuk lebih mendekat ke arahnya. Ia sedikit menarik kepala Baekhyun agar menunduk untuk mensejajarkan wajah mereka.

Hembusan napas keduanya saling terpantul di kedua wajah masing-masing. Walaupun tidak ada sentuhan, lama kelamaan hembusan napas mereka memberat seiring dengan naiknya gairah mereka.

“Jika semalam kau telah menghangatkan ranjang istri pertamamu, sekarang waktunya kau menghangatkan ranjang istri keduamu.” Ucap Sejeong tepat di depan bibir Baekhyun.

Baekhyun hanya seorang lelaki biasa yang tidak akan menolak jika goda seerotis ini oleh seorang wanita, apalagi wanita tersebut sudah menjadi istri sahnya. Ia tidak akan berdosa sedikit pun karena menggauli istrinya sendiri. Hari itu, Baekhyun dan Sejeong kembali bergulat dengan panasnya untuk yang kedua kalinya. Dan tidak ada yang tahu kapan mereka akan berhenti karena Sejeong begitu ahli dalam menggoda Baekhyun untuk tetap bersamanya.

~ tbc ~

 

aku harap kalian tidak kecewa saat membacanya.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya.

Bye-bye :-*

Regards, Azalea

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Dream (Chapter 27)

  1. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] DREAM (Extra Part) | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] DREAM (Epilog) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] dream – chapter 29 | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] DREAM (Chapter 28) | EXO FanFiction Indonesia

  5. Waduhh baekhyun ibarat “kucing dikasih ikan asin” ,,, inget perjanjian sama suzy nya baek “tidak ada anak dengan pernikahan kedua nya” …
    Huh kasian suzy harus berbagi ranjang sama cwe lain , klo gue jadi suzy mending kelar cerita nya 😀

  6. akhirnya update juga nih ff kkk,,kupikir gakan lanjut soalny lg fokus jg sm my lady:)
    gilegilee cabe koriyah “Baekhyun hanya seorang lelaki biasa yang tidak akan menolak jika goda seerotis ini oleh seorang wanita” truee banget ya bayangin aja kucing dikasih ikan asin pasti langsung diembat lah kek cowo juga,,,,btw km kuat banget ya baek udah berapa ronde noh hahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s