[EXOFFI FREELANCE] Uneeded (#2 Stupid)

the(2).jpg

UNNEEDED

written by:

Shiraayuki

main cast:

EXO’s Park Chanyeol with Red Velvet’s Son Seungwan

other casts:

AOA’s Seolhyun and Oc

genre:

School life, romance, funny, AU, etc.

length:

Multichapter

Rating:

Teen

 

DISCLAIMER

Real from author’s imagination. Hope you like this story, happy reading<3

.

.

Seungwan oh Seungwan, kenapa engkau bodoh?

Seungwan’s side

Kenapa keadaannya tidak mendukung sekali?!

Kenapa ibu-ibu sosialita ini harus datang bergerombol seperti ini?

Dengan terpaksa aku memelankan langkahku, kembali berjalan menunduk ketika jarakku sudah hampir dekat dengan gerombolan ibu-ibu ganas yang sombong ini. Dan aku yakin pria itu pasti sangat senang sekarang. Entahlah aku juga belum tahu siapa sosok yang aku dorong tadi.

“Hei, bisa kau tunjukkan pada kami dimana ruang kepala sekolahnya?”

Astaga ibu-ibu rempong ini, kenapa malah minta tolong padaku?

Tuhan, maaf kalau aku jahat tapi aku tidak bisa menuruti kemauan mereka. Aku bahkan tidak sanggup untuk mengangkat kepalaku.

“Astaga, dasar anak zaman sekarang. Orang tua berbicara malah diabaikan, lihat itu dia bahkan tidak melihat kita,” aku hanya tersenyum miris mendengar kalimat itu. Pada dasarnya kalimat itu tidaklah salah. Aku kembali sedikit mempercepat jalanku ketika aku sudah berhasil melewati kumpulan ibu-ibu narsis itu.

Omo, Chanyeol-ah, kau tidak masuk kelas, hm?”

Apa barusan nama Chanyeol disebut? Katakan padaku bahwa aku salah dengar barusan.

“Oh, eomma, kenapa kalian kemari?” suara berat khas pria menjawab pertanyaan tersebut, apakah itu suara Chanyeol? Oh… itu mungkin suara Chanyeol yang satu lagi. Eh? Hanya ada satu Chanyeol di sekolah ini.

“Ada sesuatu yang harus kami bicarakan dengan ibu kepala sekolah,”

“Ohh.. kalau begitu aku pergi dulu, eomma,” suara bass itu, aku hafal betul suara bass itu. Suara itu hanya milik Chanyeol dan akan selalu begitu.

Astaga, kau punya mulut atau tidak, huh? Minggir, ini kursiku!”

Suara yang membentakku dikelas tadi sama persis dengan suara Chanyeol. Iya, suara bass yang membuatku candu itu, suara itu adalah salah satu hal yang membuat aku semakin terpikat pada pria itu.

Apa jangan-jangan—

“Hei, gadis suram yang aneh,”

—Chanyeol adalah orang yang mengejar ku sedari tadi?

 

Author’s side

“Kau bodoh Seungwan! Kau sungguh bodoh!” Seungwan terus-terusan mengatai dirinya di dalam hatinya, meratapi nasib sial yang ternyata memiliki keuntungan ini.

Dia dan Chanyeol, hanya berdua, duduk disalah satu kursi panjang yang berada di atap sekolah. Untuk pertama kalinya, Seungwan membolos dan dia membolos dengan seorang pria yang selama ini hanya mampu dia tatap dari kejauhan.

“Jadi, apa kita akan terus diam disini sampai sinar matahari digantikan oleh sinar rembulan?”

Suara yang sangat Seungwan sukai itu membius tubuhnya seketika. Dia yang biasanya bisu semakin bisu karena keberadaan Chanyeol.

“Apa aku sedang berbicara dengan patung?” kali ini suara Chanyeol nampak meninggi, membuat jantung Seungwan memaksa untuk keluar dari tempatnya.

Seungwan menunduk, semakin dalam dan terus begitu. Tenggorokkannya terasa tercekat, dan dia lupa bagaimana caranya untuk berbicara. Stupid Seungwan!

Astaga, baru kali ini pria tampan seperti ku dikacangi,” cibir Chanyeol dengan gaya yang narsis kemudian, akhirnya Seungwan membuka mulutnya dan hendak mengucapkan sesuatu.

“Ma-ma-maaf,” sebuah kata yang terdengar gagap lolos kurang mulus dari bibir Seungwan, Chanyeol yang mendengar itu memelototkan matanya tak percaya.

“Hanya itu?” sembur Chanyeol kemudian, Seungwan terpelonjak mendengar pertanyaan Chanyeol tersebut.

Memangnya selain itu apalagi yang harus aku ucapkan, Chanyeol sayang?” batin Seungwan gemas. Kalo dia mengatakan seperti itu bisa bertambah masalahnya nantinya.

“Ya Tuhan, bisa-bisa aku berkarat menunggumu berbicara,” sungut Chanyeol kemudian, pria yang memiliki telinga peri itu lantas bangkit dari duduknya lalu hendak pergi dari atap sekolah.

Namun, langkahnya terhenti ketika jemari mungil Wendy melingkar di pergelangan tangannya.

Astaga, lihat! Apa yang aku lakukan ini? Tangan sialan!

“Apa?” tanya Chanyeol sewot, seketika Seungwan melemparkan tangan pria itu masih dengan posisi kepala menunduk. Membuat Chanyeol sempat mendelikkan matanya.

Kali ini Seungwan kembali bungkam, merutuki tangannya yang tidak bisa diajak bekerjasama. Kenapa pergerakan tubuhnya tidak sesuai dengan yang diperintahkan otaknya?

Nun ko ip pyojeongdo pal dari georeumdo, nae mareul deutji anhjyo, dumb dumb dumb dumb,” kali ini Seungwan menggeleng-gelengkan kepalanya ketika lirik lagu kesukaannya itu terputar jelas di otaknya.

“Kenapa kau geleng-geleng, huh? Kapan kau akan menjawab pertanyaanku? Kenapa ya, aku kesal sekali melihat wajahmu?” tanya Chanyeol jengkel secara beruntun.

Seungwan yang mendengar hal tersebut entah kenapa memasang senyum tipisnya. Bahagia? Jelas! Dia sungguh bahagia bisa berduaan dengan Chanyeol meski dalam keadaan awkward seperti ini.

“A-aku mi-minta ma-maaf, a-aku ka-kaget ja-jadi a-aku ta-tak se-sengaja me-mendo-dorongmu ta-tadi,” ucap Seungwan dengan susah payah, setelah itu dia menelan liurnya pelan.

“Kau gagap, ya? Sehingga kau tidak mau mengucapkan apapun dari tadi?” terka Chanyeol kemudian, lantas pria Park itu kembali duduk di samping Seungwan dan jantung Seungwan semakin bergemuruh.

Iya, aku gagap! Aku gagap karena cintaku padamu, Chanyeol!”

“Ti-tidak, a-aku ti-tidak gagap, ko-kok,” sanggah Seungwan masih dengan kepala tertunduk.

“Jadi kenapa kau berbicara seperti itu?” Chanyeol lama-lama agak risih melihat Seungwan yang terus-terusan menundukkan kepalanya, namun dia tahan tangannya agar tidak mengangkat dagu gadis itu.

Karena ada kau disini, Yeol,”

“A-aku sa-sariawa-wan,” jawab Seungwan asal, padahal hatinya menuntut untuk mengatakan yang sebenarnya.

“Ahh.. seharusnya kau katakan dari tadi. Kau anggota klub teater ‘kan?”

Seungwan menggigit bibirnya pelan, malu rasanya mengakui dirinya yang notabene senior di klub teater tapi tidak pernah bermain peran.

“I-iya,”

“Namamu siapa?” kali ini Chanyeol sedikit menundukkan wajahnya berusaha melihat wajah gadis yang sedang menjadi lawan bicaranya.

“So-Son Seungwan,” Seungwan masih tetap enggan untuk menaikkan kepalanya, dia takut kalau nantinya dia lupa caranya bernafas ketika matanya melihat wajah tampan nan rupawan Chanyeol.

“Son Seungwan? Oh, aku tahu kau!” kali ini Seungwan sedikit terlonjak, suara Chanyeol terdengar semangat.

“Kau yang berperan menjadi pohon ‘kan?”

Sialan kau, Yeol! Kenapa kau harus tahu peran bodoh yang sialan itu? CK!” batin Seungwan bersungut jengkel.

“I-iya,” balas Seungwan singkat, lagipula apa yang harus dia katakan.

“Klub teater sekolah kita memang unik, kita tidak memakai properti tapi menjadikan anggota-anggota klub sebagai pohon, bunga, dan lagipula peran itu cocok denganmu,” ujar Chanyeol dengan nada bicara yang terkesan santai.

Seungwan meremas ujung roknya. Sekalipun Chanyeol adalah pria yang disukainya, Chanyeol tidak memiliki hak untuk menghinanya. Anti sosial semacam Seungwan pun memiliki gengsi dan gengsi Seungwan cukup tinggi.

“I-iya, terima kasih,” Seungwan masih mencoba untuk mengucapkan terima kasih meski hatinya sudah mendidih dan debaran gila yang disebabkan oleh Chanyeol itu perlahan-lahan hilang.

“Kalau begitu aku pergi dulu, aku sudah memaafkanmu jadi tidak usah merasa bersalah lagi,”

“Dan satu lagi, aku yakin, dibalik kesuramanmu pasti ada sebuah cahaya yang kau sembunyikan,” Chanyeol tersenyum dan Wendy tidak melihat hal itu. Lantas Chanyeol merajut langkahnya meninggalkan atap sekolah.

Seungwan perlahan-lahan mendongakkan kepalanya. Membuat rambut panjangnya tergerai ke belakang dan wajah yang selama ini ditutupinya terlihat dengan jelas.

“Terlambat Seungwan, terlambat. Dia sudah pergi,” sesal Seungwan kemudian, namun beberapa detik kemudian senyumnya mengembang sempurna.

“Dia bilang kau punya cahaya Seungwan,” gumam Seungwan seraya menutupi pipinya yang mulai terasa panas.

 

Chanyeol’s side

Oppa, kau sudah baca kertas skenarionya?” aku menolehkan kepalaku, mendapati sosok Seolhyun dengan senyum manisnya tengah mengikat rambut panjangnya.

“Kau tidak lihat aku sedang apa?” aku balik bertanya dengan ketus, aku benci kenapa harus gadis ini yang menjadi lawan mainku di drama kali ini.

Dan sialnya, drama kali ini memiliki kiss scene, tapi mengingat aku ini adalah orang dengan tingkat profesional yang cukup tinggi aku memutuskan untuk tidak protes.

Aigoo, ini kedua kalinya kita bermain dalam drama yang sama dan kau masih ketus padaku oppa?” tanya gadis itu dengan suara yang diimut-imutkan.

Aku hanya mendesah pelan, mengabaikan kehadirannya dan memutuskan untuk fokus pada kertas skenario yang tengah aku genggam saat ini.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Aku mengedarkan pandanganku namun aku tidak menemukan sosok yang aku cari.

“Kau mencari siapa, oppa?” Seolhyun yang menyadari gerak-gerikku angkat suara, tapi karena rasa penasaranku aku memutuskan untuk merespon pertanyaan gadis itu.

“Kau kenal Son Seungwan?” tanyaku kemudian.

“Seungwan sunbae yang berperan sebagai pohon?” aku mendelik ke arah gadis itu, dia hanya menatapku dengan wajah sok polosnya.

“Memangnya kenapa kalau dia jadi pohon?” gadis itu nampak sedikit kaget karena pertanyaanku.

“Kenapa oppa mencari dia?” Seolhyun mengabaikan pertanyaanku dan beralih untuk melontarkan pertanyaan lagi padaku.

“Dia tidak datang latihan?” aku membalas pertanyaan Seolhyun dengan pertanyaan lagi.

“Ah itu, Na-ssaem tidak mengizinkan pemeran figuran untuk datang latihan. Menurut Na-ssaem peran gampang seperti itu hanya akan membuang-buang waktu jika diikutkan latihan, lebih baik mereka belajar di rumah,”

Aku terdiam. Alasan yang cukup logika. Namun, apakah Na-ssaem tidak terlalu kejam memberi Seungwan sebuah pemeran figuran padahal dia sudah mendapat gelar senior?

Dan kenapa aku jadi memikirkan gadis suram yang membuatku kesal itu?

Aku rasa aku mulai gila.

 

Seungwan’s side

Aku mengintip ruang klub teater yang hanya diisi oleh beberapa orang itu. Hanya orang-orang yang mendapat peran penting saja disana. Aku melihat sosok Chanyeol tengah berbincang-bincang dengan Seolhyun, dan aku akui mereka terlihat cocok saat bersama.

“Seungwan?” aku segera menundukkan kepalaku ketika telingaku menangkap suara panggilan itu.

“Sedang apa kau disini? Bukankah sudah kukatakan untuk tidak datang ke sini pada saat latihan?” aku semakin menundukkan kepalaku, kata-kata Na-ssaem membuat mataku berkaca-kaca.

“A-aku ha-hanya ke-kebetulan le-lewat, ssaem,” suaraku terdengar bergetar, namun guru bermarga Na itu nampak tidak perduli.

“Ya sudah, kau lebih baik pulang. Aku takut kau semakin iri pada Kim Seolhyun jika kau berlama-lama disini, ” Na-ssaem berucap sedikit sinis, lalu masuk ke ruangan itu dan menutup pintu dengan sedikit sentakan.

“Terima kasih, ssaem,” gumamku seraya mengusap pipiku yang sudah basah karena air mata.

  ❣

Aku berjalan di koridor sekolah dengan langkah malas. Koridor sekolah sudah cukup sepi karena jam pulang sekolah sudah lewat satu jam. Aku sedikit bergidik karena kesunyian disini membuatku berpikir macam-macam.

Lagipula ini salahku, kenapa aku malah asyik menangis di kelas sampai lupa waktu seperti ini. Aku yakin jemputanku sudah pulang dan aku terpaksa naik taksi.

“Hei,” langkahku terhenti, suara lembut itu membuatku cukup takut.

“Hei,”

Sekolah ini tidak ada hantunya ‘kan?

“Astaga, aku bukan hantu,” tubuhku menegang, itu suara pria yang aku tabrak tadi siang.

Meski mataku tidak melihat wajahnya, telingaku menghafal suaranya. Sudah menjadi kebiasaanku sejak dulu.

Aku menundukkan kepalaku sedikit, tapi entah kenapa tubuhku berputar sehingga aku dan pria bersuara lembut itu berhadapan.

“Apa kau bisa membantuku membawa buku-buku ini ke perpustakaan?” tanyanya dengan suara yang sangat lembut, tapi aku masih lebih suka suara Chanyeol.

Ah.. aku rindu Chanyeol~

Meski menunduk, aku bisa melihat tumpukan buku di tangan pria itu sehingga wajahnya nyaris tertutup.

Lagi-lagi, anggota tubuhku bergerak tanpa persetujuan otakku. Kakiku melangkah pelan mendekati pria itu dengan posisi kepala masih menunduk aku mengambil beberapa buku dari tangan pria itu.

Berat.

“Terimakasih,” ucap pria itu tulus, aku hanya mengangguk. Tidak berniat melihat wajah pria itu.

Lantas kakiku mengikuti langkah pria itu menuju perpustakaan. Perpustakaan sepi ketika kami sampai disana.

“Letakkan disini saja,” ucap pria itu dan aku menurut saja mengikuti perintahnya. Aku kemudian meletakkan buku-buku yang aku bawa ke atas sebuah meja panjang. Aku membalikkan tubuhku dan berniat untuk pergi. Lagipula tugasku sudah selesai.

BRUK!

Aw!” ringisku pelan saat tubuhku jatuh karena aku menginjak tali sepatuku.

“Kau baik-baik saja?” aku hanya mengangguk seraya menatap lututku yang sedikit memar.

“Kau bisa jalan?” aku kembali mengangguk seraya bangkit berdiri.

“Astaga, kakimu membiru,” aku baru sadar kalau pria itu tengah berjongkok seraya melihat lututku.

Bukannya mendongak aku malah menunduk sehingga mataku menangkap sosok berwajah sempurna yang tengah menatap wajahku.

Katakan bahwa aku ini sedang bermimpi.

Iya, ini mimpi.

Aku bermimpi bertemu pria tampan, tapi tidak lebih tampan dari Chanyeol-ku.

Dan dia adalah—

“Mau aku antar pulang?”

—pria populer nomor satu di sekolahku!

[to be continue]

 

 

Iklan

8 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Uneeded (#2 Stupid)

  1. Sehun pastiii wkwkwkw~
    Chanyeol ehh mulai perhatian dikit ke wendy hahah 😀
    guru nya itu pilih kasih banget ya, kaya benci bgt ke wendy -_-

  2. KYAAAAAAAAA! AKU MOHON INI SEHUN PLEASE, btw emang pengalamanku hampir sama kayak wendy bedanya dia diminta tolongin bawain buku akunya malah sapu dan berakhir dengan aku yang lari kabur hahhahahha -_-

  3. Siapa itu pria populer nomir 1 disekolah ? Bukannya chanyeol ya ?? Jadi kepo
    Ditunggu chapter selanjutnya kaaa 💪💪💪💪💪💪👏👏👏👏

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s