[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You [Re : Turn On] (Chapter 9)

IMG_20170305_172231

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 9

Author                       : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast                :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                        : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

“Rae Mi-yah! Cepat turun dan ikut makan malam!”

“Baik!”

Rae Mi menutup buku tebal berisi informasi mengenai ekonomi bisnis yang baru ia baca setelah menyelesaikan makalah materi manajemen miliknya, keluar dari kamar, kemudian menuruni tangga menuju lantai satu, tempat ruang makan keluarga berada. Sang ibu yang masih menata meja dibantu beberapa pelayan menyambutnya dengan senyuman hangat, begitu pula ayahnya, Lee Dae Ryeong yang sudah duduk manis di kursinya sambil mengecek laporan perusahaan.

“Ayah!, bukankah sudah kubilang untuk berhenti melakukan urusan perusahaan di meja makan?” keluh Rae Mi seraya menarik segala berkas yang ada di depan ayahnya.

Lee Dae Ryeong tersenyum, melepas kacamata bacanya lantas menuruti kemauan sang putri, membiarkan Rae Mi menyingkirkan laporan yang baru dia dapat siang tadi.

“Oke, ayah minta maaf.” Pria itu beralih menatap istrinya yang sudah selesai dan kini duduk disebelahnya, “Jadi kali ini masakan ala Jepang?”

“Ayah! Donkatsu buatan ibu adalah yang terbaik!” puji Rae Mi setelah memasukan sepotong daging ke mulutnya.

“Rae Mi!, seharusnya ayahmu dulu yang makan bukan?” ujar ibunya, mengoreksi sikap Rae Mi yang dianggap tak sopan.

“Ah maaf, aku lupa…” sesal gadis itu, namun juga sedikit kesal karena ibunya marah hanya gara-gara masalah sepele.

“Tak masalah.” Lee Dae Ryeong menengahi, “Oh iya, ayah dengar kau mendapat nilai terbaik kedua di jurusan. Apa itu benar?”

Rae Mi tersenyum lebar, “Iya, ini semua berkat doa ibu dan dukungan ayah!” serunya bahagia. “Lain kali aku akan mentraktir kalian masakan yang enak!” candanya dengan semangat.

“Oh!, kalau begitu harus yang mahal ya!” goda Presdir Lee yang disambut anggukan antusias oleh Rae Mi. Ketiga anggota keluarga itu pun tertawa, memenuhi seisi ruang makan yang luas dan megah itu dengan kekehan mereka, bahkan para pelayan yang menunggu tak jauh dari sana pun ikut terhanyut dalam suasana hangat tersebut. Sampai pertanyaan nyonya Lee, ibu dari Rae Mi, merubah keadaan.

“Apa Lee Jinhyo baik-baik saja?, kudengar dari para pelayan dia berkelahi dengan seseorang tak lama setelah pulang dari sini.”

Baik tuan Lee maupun Rae Mi diam, tak menjawab langsung pertanyaan nyonya Lee dan sama-sama berfikiran bahwa para pelayan di rumah mereka harus diajarkan untuk tidak bergosip soal anggota keluarga Lee maupun orang-orang yang ada sangkut pautnya dengan perusahaan Jaeguk. Bagaimanapun juga, wanita paruh baya yang menjadi nyonya rumah kediaman Presdir Lee itu tak semestinya tahu soal perpecahan keluarga itu. Salah, seharusnya ia memang tak boleh tahu masalah Hyojin dan adiknya itu.

“Eh? Kenapa tiba-tiba hening?. Apa yang aku katakan tadi benar?”

Rae Mi meneguk minumannya sampai tandas, “Entahlah, aku malah tidak tahu kalau Jinhyo berkunjung kemari.” Bohongnya, memberi isyarat pada ayahnya untuk membantunya mencari jawaban palsu yang tepat.

“Saat itu aku tak menjamunya dengan baik, dia juga tak ikut makan malam dengan kita. Aku khawatir, karena tubuhnya terlihat penuh luka waktu itu.”

Tuan Lee segera menyudahi obrolan itu dengan menyelesaikan acara makannya. Pria itu pamit ke ruang kerja dan meminta Rae Mi untuk datang jika dia juga sudah selesai. Gadis itu pun menyusul ayahnya, bahkan tanpa menghabiskan donkatsu buatan ibunya yang selalu dia banggakan itu.

***

“Ayah, bagaimana ibu bisa-”

“Kau harus menjauhi Hyojin. Itu perintah bukan permintaan, dan kau pasti mengerti apa perbedaannya!”

Rae Mi menelan ludah, rahangnya mengeras, tangannya terkepal karena ucapannya dipotong begitu saja oleh sang ayah. Apalagi pria itu mengalihkan topik pembicaraan dengan tiba-tiba menyuruhnya menjauhi Hyojin, sahabat perempuan pertama yang dia dapat bahkan sejak gadis itu baru menginjakkan kaki di kota Seoul. Perintah yang menyakitkan untuknya.

“Kenapa, ayah?” tanyanya tak terima, tapi masih berusaha sopan terhadap orangtuanya sendiri. “Kalau ini soal Jinhyo yang menyerangku, ayah tidak perlu khawatir, Hyojin sudah mengatasinya… a-anak itu tidak akan melakukannya lagi!” ujarnya, berusaha mengubah opini ayahnya soal adik Lee Hyojin.

“Tidak ada penolakan, Lee Rae Mi!. Hyojin dan adiknya adalah ancaman!, mereka akan menyakitimu untuk melawanku… anak-anak keparat tak tahu diuntung itu…”

Lee Dae Ryeong meremas surat ancaman yang dikirimkan padanya beberapa hari lalu dengan penuh amarah, dimana pria itu yakin bahwa pengirimnya adalah Hyojin keluarga gadis itu yang dia benci. Rae Mi tak memperhatikan surat itu, yang dia cemaskan adalah hubungan antara ayahnya dengan Hyojin yang makin memburuk.

“Ayah, Hyojin adalah temanku, sahabatku, aku melakukan banyak hal agar hubungan kami tetap baik-baik saja selama ini. Jadi mustahil bagiku untuk menjauhinya!”

“Ya, bahkan mengorbankan pria yang kau cintai untuk gadis itu!”

Perkataan ayahnya menusuk jantung Rae Mi, mencekiknya sangat kuat hingga terasa sakit dan sesak. Ia terdiam, antara tak ingin membahasnya atau tak ingin membuat dirinya berpikir bahwa Hyojin adalah teman yang jahat. Rae Mi sendiri yang memutuskan untuk merelakan Chanyeol, melepaskannya agar bisa bersama dengan Hyojin. Nyatanya, pria yang pernah menjadi kekasihnya itu memang menyukai Hyojin kan?.

“Ayah salah paham!”

“Tidak, kaulah yang salah paham. Hyojin adalah musuh ayah, gadis itu membenci ayah. Dan untuk menyakiti ayah, dia bisa menyakitimu Rae Mi-yah! Tak peduli kau adalah teman atau saudaranya… dia akan membunuhmu!”

Rae Mi terdiam, mencerna perkataan ayahnya yang mengerikan tentang Hyojin, mengelaknya namun dia tak mungkin menganggap sang ayah adalah seorang pembohong. Dia setuju untuk mempercayai Lee Dae Ryeong sejak pria itu mengaku sebagai ayahnya, walau setengah ingatan masa lalunya belum pulih benar, meski yang sebenarnya dia percaya adalah penjelasan dari sang ibu yang merawat dia sejak kecil dan tak pernah meninggalkannya sendiri seperti pria dihadapannya itu.

“Rae Mi-yah, ayah hanya ingin kau selamat… ayah tidak mau kau terluka karena kau adalah putri kandung ayah satu-satunya.” Tanpa gadis itu sadari, tuan Lee sudah menggenggam kedua lengannya, menunjukkan ekspresi cemas pada anak semata wayangnya itu. “Kau akan menuruti perkataan ayah kan?”

Rae Mi menganggukan kepalanya, namun tak dapat membalas senyuman lega ayahnya. Ia tidak bisa berpikir dengan jernih, seolah segala macam tugas kuliah dan berkas perusahaan berada diatas pundaknya.

***

“Jadi… kencan pertamamu hari ini?”

Hyojin menyemburkan jus mangga di mulutnya ke wajah Jong In. Pria itu terkejut lantas menjerit jijik. Sehun yang berdiri di samping Jong In hanya bisa tertawa sekaligus membantu pria berkulit kecoklatan itu untuk membersihkan dirinya dengan sapu tangan.

“Maaf, tidak sengaja.” Ujar Hyojin dengan santai.

“Tidak sengaja kepalamu pecah?!”

Hyojin segera memegang kepalanya, “Eoh? Tidak tuh! Kepalaku baik-baik saja…”

“Sudahlah Jong In, seharusnya dari awal kau jangan bertanya soal kencan atau semacam-”

‘Byur!’

Satu semburan lagi dari jenis yang sama (jus mangga) dan orang yang sama (Lee Hyojin). Namun kali ini sasarannya adalah Sehun. Pria itu bergeming sambil menutup mata, mencoba lari dari kenyataan kalau wajahnya dipenuhi oleh jus juga ludah Hyojin.

“Gadis ini benar-benar jorok!” keluh Jong In, mengambil foto Sehun yang dianggap langka, baru membersihkan wajah sahabatnya itu dengan sapu tangan yang Sehun pinjamkan padanya.

“Memang apa yang salah kalau kami bilang ken-” Jong In berhenti begitu Hyojin menggembungkan pipinya, bersiap untuk semburan berikutnya jika pria itu masih bicara soal kencan. “Oke!, oke!, tak akan kubahas lagi!, puas?!”

Gembungan pipi itu menyusut seiring Hyojin menelan sisa jus mangganya. Dengan wajah polos yang dia tiru dari Rae Mi gadis itu bersikap seolah tidak terjadi apapun beberapa menit yang lalu.

“Bukankah itu Park Chanyeol?”

Seperti karma, gadis itu tersedak jus mangganya sendiri. Gadis itu harus rela merasakan sakit dan sesak akibat saluran pernafasannya terganggu, belum lagi tawa meledek dari dua sahabatnya yang puas melihat Hyojin tersiksa oleh kecerobohannya sendiri.

“Eoh? Kenapa dengan Hyojin?” tanya Chanyeol seraya mematikan mesin motornya tanpa melepas helm yang mirip dengan yang dikenakan penguin lucu tokoh utama dalam kartun anak-anak ‘Pororo’ kesukaan Jong In.

Mengabaikan pertanyaan ‘dimana kau membelinya?’ dari Jong In, Hyojin buru-buru naik ke boncengan motor Chanyeol, menerima helm pinjaman dari kekasihnya itu lantas meminta Chanyeol untuk segera menghidupkan mesin dan pergi menjauh dari depan gerbang universitas.

“Kenapa buru-buru?, kita masih punya banyak waktu kok!”

Hyojin berdehem sebelum menjawab pertanyaan Chanyeol. Gadis itu terpaku pada punggung pria yang ia sukai itu, begitu lebar dan membuatnya tergoda untuk bersandar diatasnya. Belum lagi dilemma tentang apakah dia harus berpegangan pada pinggang Chanyeol atau tidak. Semua pikiran-pikiran itu membuat wajahnya memanas dan malu sendiri.

Sebelumnya dia tak pernah seperti ini, bukan kali pertama Hyojin dihadapkan pada situasi seperti ini. Sudah jelas kalau Hyojin adalah gadis tomboy yang lebih banyak bergaul dengan laki-laki. Tentu saja ia tak pernah merasa canggung bahkan bila itu berpelukan sekalipun. Tapi ini Park Chanyeol. Bukan karena dia adalah seseorang yang dia sukai, pada Yong Hwa pun ia tak pernah merasa segugup ini.

“Yak! kau tidak pegangan?. Kalau jatuh aku tidak tanggung jawab!”

Hyojin masih menggenggam tangannya sendiri, menunduk dan terus memperhatikan pinggang pria itu.

“Lee Hyojin!” panggilan Chanyeol masih tak digubrisnya. “Yak!, kau tak perlu malu! Bukankah kau yang ‘menembakku’ duluan?”

“Diam kau!”

Hyojin memukul helm yang Chanyeol kenakan dengan keras, bahkan kepalanya terasa berdenyut karena pukulan tersebut. Sebelum Chanyeol bisa melampiaskan kekesalannya, Hyojin memungkam mulutnya secara tak langsung dengan memegang ujung jaket yang dipakainya.

Tak seperti drama romantis kebanyakan memang, tapi sudah cukup untuk membuat Chanyeol tersenyum tanpa kekasihnya tahu. Dan Hyojin?, gadis itu terus menunduk, menyembunyikan wajahnya yang memerah karena malu.

***

Hyojin turun dari motor dengan mata melotot dan pandangan yang kosong, melepas helmnya ragu-ragu sambil terus menatap bangunan yang memiliki banyak kandang itu. Tentu saja banyak kandang, karena tempat yang dia datangi adalah tempat penampungan hewan.

Gadis itu menatap Chanyeol tak percaya. Kencan di tempat seperti ini?, Chanyeol pasti bercanda!. Atau ingin mengerjainya, atau ingin membully-nya bersama dengan para anjing dan kucing lalu membunuhnya diam-diam dan membuang mayatnya diatas tumpukan kotoran hewan?!… setidaknya itu yang Hyojin pikirkan.

“Kenapa? Tak menyangka ya aku membawamu kemari di hari pertama kencan kita?”

Hyojin membalas senyuman lebar Chanyeol dengan tatapan malasnya.

“Bahkan lansia yang kembali berkencan setelah sekian puluh tahun lamanya juga tak akan menyangka!”

“Kau salah, nenek usia tujuh puluh tahun yang kukenal malah sangat bahagia berada diantara kumpulan hewan-hewan lucu itu.” Tunjuk Chanyeol pada gerombolan anjing yang sedang mengerubungi pekerja sukarela lainnya yang memberikan makan untuk mereka.

“Bukan karena aku mengharapkan dinner mewah di restoran terkemuka.” Hyojin mencoba menjelaskan, “Ini pertama kalinya aku dibawa kemari oleh teman priaku.”

“Yak! teman pria apanya?!. Aku ini kekasihmu sekarang! Dan sudah berapa banyak teman pria yang kau punyai itu hah?!”

Hyojin kembali membungkam mulut Chanyeol, secara harfiah, benar-benar menutup mulutnya dengan tangan Hyojin sendiri.

“Sejak kapan kau jadi pria cerewet sih?. Daripada itu, mau apa kita kemari?”

Chanyeol menepis tangan Hyojin, sambil berwajah masam pria itu menjelaskan maksudnya mengajak Hyojin ke tempat kesukaannya yang pertama, tempat penampungan hewan.

“Menjadi sukarelawan.”

***

“Yak! Hyojin!, cegah anjing-anjing itu keluar!”

“A-aku tak bisa!”

“Kenapa tidak?!. Jangan takut!, mereka tak akan menggigitmu!”

“Omong kosong!, kau tidak lihat bekas gigi mereka di tanganku?!”

“Mereka sudah di vaksinasi, kau tak akan kena rabies!. Atau kalau tidak, bawa kucing itu masuk kembali ke kandangnya!”

Hyojin memandang kucing gemuk berbulu keemasan yang memberikannya tatapan tajam itu, seolah tak akan membiarkan Hyojin menyentuh rambut halusnya sehelai saja atau mimpi buruk siap menanti gadis bermata bulat itu.

“A-a-a-aku tak bisa!”

“KENAPA?!”

“AKU ALERGI BULU KUCING! -hatshy!”

Semua sukarelawan sekaligus petugas tetap menghentikan kegiatan mereka -mengurusi hewan- sementara untuk menatap wajah ketakutan Hyojin yang menjaga jarak lima meter dari ‘Rockie’ -nama kucing gemuk itu.

“Ka-kau apa?”

Sebelum Hyojin menjawab pertanyaan Chanyeol, suara sirine menginterupsinya. Beberapa detik setelah itu, terdengar seseorang berbicara melalui speaker yang terpasang di beberapa tempat penampungan hewan, termasuk di samping telinga kiri Hyojin.

“Wah! Kaget!” seru gadis itu yang langsung melompat mundur begitu terdengar pengumuman tentang beberapa anjing yang menggila di ruangan lain. Karena itu petugas tetap dan beberapa sukarelawan senior bergegas pergi ke tempat kejadian, meninggalkan Hyojin dan Chanyeol berdua dengan tugas memasukkan hewan yang tersisa ke dalam kandang.

“Kau benar-benar alergi? Sejak kapan? Kenapa tidak bilang dari tadi?”

Hyojin terdiam, daripada menjawab pertanyaan Chanyeol gadis itu lebih memilih berjongkok untuk membersihkan kandang Rockie.

“Hei! Kalau kau tak tahan bulu kucing lebih baik mandikan anjing disebelah sana!”

“Kata tuan Do, pemilik penampungan hewan ini, Rockie adalah kucing liar yang beliau temukan di gang kecil kawasan gangnam.” Hyojin menatap kucing berbulu keemasan itu lekat-lekat. Antara takut dan simpati padanya.

“Dia terpisah dari orangtuanya, bertahan sendirian, mencari makan sendirian, tidur sendirian… tuan Do mendapati Rockie dipukuli anak-anak penghuni apartemen mewah. Kucing ini hampir mati jika saja tuan Do tak datang dan menjadi malaikatnya.”

Dengan perlahan Hyojin mencoba menyentuh tubuh Rockie, menutupi perasaan takutnya tentang hewan itu. Tapi tentunya tak semudah yang ia bayangkan, Rockie adalah kucing yang sulit beradaptasi dengan orang baru, dan akan mencakar siapapun yang mendekatinya. Termasuk Hyojin.

“Hyojin-ah! Tanganmu berdarah!” Chanyeol berjongkok, menyamakan tingginya dengan Hyojin yang sibuk merintih kesakitan. Ia pegang tangan Hyojin yang terluka, mengeluarkan antiseptik dan mulai mengobatinya.

“Kau tahu Chanyeol, aku tak punya alergi pada bulu kucing. Aku hanya… Membenci mereka.”

“Hah?!”

“Aku tak menyukai kucing dan anjing. Saat orang lain menganggap mereka lucu, imut, aku malah berpikir kalau hewan-hewan itu menyeramkan, menyebalkan, lalu para pecinta hewan itu akan membenciku pula.”

Gadis itu melepas tautan tangannya dari Chanyeol. Sekali lagi, ia mencoba memberanikan diri untuk melawan rasa takutnya. Mendekat pada Rockie yang malah kabur setelah memberikan sebuah cakaran yang lebih parah di lengan Hyojin.

“Arrghh! Kucing sialan! Menyebalkan!” umpat Hyojin.

“Kurasa dia tahu kalau orang yang mau memegangnya adalah penjahat gila.” Ledek Chanyeol, menatap Hyojin dengan tatapan datar. “Bukannya tadi kau sedih karena masa lalu Rockie ya?” sindir pria itu seraya menarik kembali tangan Hyojin untuk diobati.

“Aku mencoba bersimpati padanya! Tapi lihat! Dia malah melukaiku dua kali!”

“Sudahlah, jangan menyimpan dendam padanya.”

“Wah! Dan sekarang kekasihku lebih memilih Rockie! Kau pacaran saja dengan dia!”

“Hooo akhirnya kau mengakuiku sebagai kekasih juga!. Cemburu pada Rockie ya? Dia kan kucing jantan!”

Blush! Pipi Hyojin memerah setelah mendengar perkataan usil Chanyeol.

“Su-sudah gila ya?! Aku cuma… cuma asal bicara tuh!”

“Orang yang asal bicara biasanya kata-katanya berasal dari hati. Ohoho!”

“Lebih baik kau hentikan itu.” Meski bicara dengan santai, wajah Hyojin masih tersipu tanpa ia ketahui alasannya.

“Kau bukan orang jahat yang membenci kucing kok.”

Hyojin langsung menoleh begitu nada bicara Chanyeol berubah serius.

“Lee Hyojin lebih baik dari anak-anak yang suka memukuli Rockie. Kalau dipikir lagi, kau punya kemiripan dengan Rockie. Alasan tuan Do memberinya nama itu karena Rockie adalah kucing yang kuat seperti ahli bela diri dari Cina yang sering main film aksi itu. Dia masih bisa bertahan walau sudah dihajar dan dicaci tanpa alasan. Seperti Hyojin yang disusahkan oleh kakeknya dan tidak terpikir untuk balas dendam, ya kan?”

Hyojin tak menjawab, hanya bergumam ‘ya’ sambil memalingkan muka. Tak ingin pria itu membaca pikirannya atau setidaknya menebak apa yang dia pikirkan.

‘Bohong kalau aku tidak menginginkan balas dendam, Chanyeol-ah’

 

***

“Tempat kedua untuk kencan pertama kita… panti asuhan!”

Hyojin mengela nafas kuat-kuat, seolah oksigen akan Segera habis untuk mendinginkan kepalanya.

“Tolong jangan katakan apapun soal kencan lagi.” Pinta gadis itu dengan suara rendah, “Aku mau pulang saja.” Ia berbalik secepat mungkin agar bisa kabur dari Park Chanyeol, mengabaikan fakta kalau pria itu punya motor untuk mengejarnya dengan mudah.

“Chanyeol oppa!”

Hyojin terdiam begitu suara imut seorang wanita meneriakan nama kekasihnya dengan embel-embel oppa. Beruntung ia tak perlu repot-repot merasa cemburu karena wanita yang memanggilnya adalah gadis kecil berkuncir kuda yang memeluk Chanyeol penuh kasih sayang.

*Hyojin POV*

Apa-apaan huh?! Jika yang memanggil ternyata wanita seksi berwajah Kim Tae Hee pun aku tak peduli haha!. Memang dia siapa? Pacar juga buk- ah sial, kami memang sepasang kekasih.

“Siapa dia? Asisten oppa?”

A-asisten dia bilang?!

“Bukan, aku pembantunya…”

Anak itu tersenyum sinis setelah menatapku dari atas kebawah.

“Pantas.”

Heol! Anak kecil zaman sekarang sudah pintar berlakon jadi ibu tiri cinderella ya!. Maaf, salah jika kalian pikir aku adalah sosok wanita lemah itu. Aku ini tokoh utama wanita yang kuat, cerdas nan cerdik di sebuah drama nyata berjudul ‘kehidupan’.

Jadi tak mudah untuk menindasku meski kau hanyalah anak kecil dasar makhluk pendek menyebalkan!.

“Sepertinya kau menyukai kurcaci yang kelebihan tinggi ini.”

“Iya, Chanyeol oppa dan Woori akan menikah setelah Woori lulus kuliah!”

Ah, jadi namanya Woori ya? Hahaha aku ada ide bagus untuk mengerjainya, sekaligus membalas perkataan sadisnya tadi.

“Benarkah? Saat kau lulus nanti dia bakalan tua loh!”

“Tak masalah! Cintaku ini tulus pada oppa!

Omong kosong! Seorang bocah berusia sekitar tujuh tahunan berbicara soal cinta dihadapanku. Dunia sudah mau kiamat ya?!.

“Hyojin-ah… tolong tahan emosimu, dia cuma anak kecil…”

Lagi-lagi pria ini membela orang lain daripada aku. Jadi setelah Rockie, sekarang dia selingkuh dengan si Woori itu hah?!

“Diam!” seruku dan bocah ini bersamaan.

Oppa! Aku bukan anak kecil!”

“Yak don’t Woori be happy! Kalau anak kecil tidak disebut anak kecil lalu mau disebut apa?!”

Tunggu! Sepertinya aku pernah dengar kata-kata itu dari serial kartun negara India… Sialan, gara-gara setiap hari disuguhi kartun oleh Jong In, kepalaku jadi terkontaminasi olehnya!.

“D-don apa?, chogi namaku Woori! Nam Woori! Eonni siapa sih? Daritadi sikapnya menyebalkan sekali!. Tidak lihat kalau Chanyeol oppa tak nyaman karena tingkah bar-bar eonni?!”

Wah! Bocah ini harus diberi pelajaran! Tak punya sopan santun!. Inilah alasan mengapa aku tak menyukai anak-anak. Kenapa si telinga lebar itu harus mengajakku kemari tanpa bertanga dulu sih?!

“Aku? Aku kekasihnya Chanyeol OPPA! Calon istrinya! Belahan jiwanya!  Masa depannya! Yang akan hidup bersama dengan dua anak yang lebih imut daripada dirimu! PUAS?!”

Aku mengatur nafas sambil tersenyum bangga. Yup! Aku menang debat darinya. Memalukan memang karena bertengkar dengan bocah. Tapi kan dia mengaku bukan anak kecil jadi ya sudah kan…

“HUWAAAAA!”

Sial, aku lupa kalau anak kecil suka menangis meskipun dia yang salah.

A-aku bilang apa tadi? c-c-calon istri Chanyeol?!

~To Be Continue~

Maaf kalau kurang sreg, author sibuk sekaleeeh minggu ini T.T chapter selanjutnya masih tentang kencan Chanjin, nantikanlah! Nantikanlah!

NB : ada yang tahu kartun india yang dimakaud Hyojin judulnya apa? Yang tahu berarti tontonannya channel A*TV yak? Wkwkwk

Okedeh, RCL Juseyooooo~~~

 

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You [Re : Turn On] (Chapter 9)

  1. FF ini lucu banget deh.. hampir setiap saat pas baca FF ini mesti ngakak sendiri.. 😀
    wah kencan pertama yaa..
    semoga kencannya lancar dan sukses deh.. dan juga makin banyak moment lucu dan romantis dari ChanJin yaa..
    Keep Fighting thorr.. di tunggu next chaptnya yaa.. 😉

  2. hahahahahaha… cengo mah kalo jadi chanyeol abis denger debat hyojin yg begitu menggelegar itu…
    lee dae ryeong jahat…. hyojin gk mungkin sampe ngebunuh.. klo balas dendam iya…
    jangan sampe rae mi ikut”an jahat… cuma nyonya Lee yg mungkin bisa menyadarkan duo ayah anak itu… yg salah ayah raemi kok..
    ehhh maap jadi aku yg emosi.. hahahahaha

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s