[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 12)

IMG_7057(1)

 

Tittle/judul fanfic                : Reason Why I Life

Author                                     : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                       : Romance, Family, Angst

Rating                                     : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

                                                  Park Sung Rin (OC)

                                                  Mingyu Seventeen

                                                  All EXO’s Members

                                                  Ect.

Summary                                 : Aku hanya bisa berusaha kuat saat bayangan penyakit itu datang. Aku juga hanya bisa meratap saat aku menyadari bahwa lambat laun aku akan meninggalkan mereka.

Disclaimer       : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

.

Disinilah mereka berdua sekarang, duduk berhadapan di meja makan. Di atas meja makan tersebut tampak panci berisi ramyun menguap. Baekhyun makan dengan lahapnya sedangkan Rin makan perlahan, perutnya terasa tidak enak. Ia tidak mau memaksakan makan, Rin tidak ingin Baekhyun melihatnya muntah-muntah hebat. Rin sudah berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan memberi tahu siapapun mengenai penyakitnya.

“Kau tidak makan lagi?” Tanya Baekhyun setelah ia sadar Rin menghentikan gerakan sumpitnya dan menaruhnya disebelah mangkuk.

“Tidak, aku sudah kenyang. Tadi aku makan begitu banyak makan malam, jadi sekarang aku tidak nafsu makan.” Jawab Rin tenang, ia berusaha keras agar Baekhyun tidak mengetahui bahwa ia sedang berbohong sekarang.

Baekhyun menatap Rin sebentar, mencari tahu apakah kekasihnya bohong atau tidak. Rin yang mengetahui sedang ditatap lekat oleh kekasihnya berusaha tersenyum dan matanya seolah bertanya ada apa. Baekhyun hanya menggeleng, ia merasa ada sesuatu yang aneh terjadi pada kekasihnya.

Selesai makan, Baekhyun dan Rin memutuskan untuk menoton film di ruang tengah mereka. Baekhyun yang bertugas menyiapkan camilan terpaksa harus keluar malam itu, sedangkan Rin bertugas untuk menyiapkan ruangan.

Rin melangkahkan kakinya ke kamar mengambil selimut dan matras, tak lupa dua buah bantal dan boneka pororo kesayangannya. Matanya tidak sengaja bertemu dengan kotak cokelat yang ada di meja sebelah tempat tidurnya. Rin tersenyum ia mengambil kotak itu dan membawanya ke ruang tengah.

“Mau nonton film apa?” Tanya Rin setelah Baekhyun pulang dari kegiatannya membeli camilan.

“Terserahmu saja.” Kata Baekhyun sambil bergerumul di balik selimut hangat milik Rin.

Rin mengambil sebuah kaset film dengan judul “You are The Apple of My Eye”, “Aku selalu ingin menonton film ini.” Kata Rin sambil ikut masuk di balik selimut putihnya.

“Film romantis?” Tanya Baekhyun sambil melirik kaset tersebut.

Rin mengangguk girang, membuat Baekhyun terkekeh sebentar melihat kekasihnya yang bertingkah seperti anak kecil. Rin kemudian memasukkan kaset itu kedalam DVD player dan merangkak menuju tempat hangat di sebelah Baekhyun. Tak lupa dengan membaw remote putih DVD playernya.

Saat film baru saja mulai, tiba-tiba Rin menekan tombol pause yang membuat Baekhyun memandangnya aneh. “Oh, ya sebelum filmnya mulai ada yang ingin aku berikan padamu.” Senyum Rin, sambil mencari barang itu di bawah bantalnya.

“Apa?” Jawab Baekhyun penasaran, ia mendekat kearah Rin.

Cha!” Teriak bahagia Rin saat menampilkan kotak cokelat itu dihadapan Baekhyun.

Baekhyun membulatkan matanya, satu detik… dua detik… tiga detik…“Waa…!” Teriak Baekhyun kegingaran. “Dari mana kau mendapat jam tangan ini?” Tanya Baekhyun sambil membuka kotak jam tersebut.

Rin tersenyum jahil, “Rahasia.” Ucapknya singkat sambil menjulurkan lidahnya.

 “Ya!” Baekhyun mengerucutkan bibirnya imut.

Cup

Rin mengecup bibir tersebut cepat, membuat Baekhyun yang baru saja berhasil menormalkan bola matanya kini kembali membulat. Ini pertama kalinya Rin mencium dirinya duluan.

“Tidak usah banyak tanya dan cepat mulai menonton. Aku sangat ingin menonton.” Kata Rin sambil tersenyum, ia berusaha menahan semua rasa sakit yang entah kenapa terasa lagi di perutnya.

“O… oke.” Kata Baekhyun terbata, kemudian merebut remote DVD yang ada di genggaman Rin. Baekhyun berusaha mentralkan detak jantungnya yang tiba-tiba saja berpesta.

“Dasar, katanya mau nonton malah tidur.” Kata Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya saat melihat Rin meringkuk disebelahnya sambil memeluk boneka pororo kesayangannya.

Baekhyun melirik sekilas jam dinding di ruang tengah Rin. Pukul tiga pagi, Baekhyun perlahan menguap, sepertinya Baekhyun sama lelahnya dengan kekasihnya itu.  Ia kemudian ikut bergerumul di balik selimutnya dan Rin. Memejamkan matanya dan mengikuti Rin kedalam alam mimpi.

Rin mengerjapkan matanya saat merasakan tangannya di genggam seseorang dengan erat. Matanya bertemu dengan wajah imut Baekhyun yang tengah tertidur di sebelahnya. Senyuman getir Rin mencuat saat bayangan kelam penyakitnya tiba-tiba datang. Bayangan kelam yang membuatnya hanya bisa meratapi fakta yang ada. Fakta bahwa ia tidak bisa hidup dengan Baekhyun untuk waktu yang lama. Rin mengelus rambut hitam itu pelan, kemudian air mata  Rin turun tanpa di perintahkan.

“Mengapa menangis?” Tanya Baekhyun setelah merasakan kepalanya di elus-elus seseorang.

Melihat Baekhyun yang bangun, Rin segera mengusap air matanya cepat. “Aku menangis karena terharu. Aku tidak menyangka kita bisa bertahan selama dua tahun.” Jawab Rin dengan suara seraknya.

“Benarkah?” Baekhyun meyakinkan, Rin. Tangannya tergerak mengusap air mata yang masih tersisa di pipi kekasihnya itu, kemudian memeluk hangat Rin.

Ne.” Kata Rin ditengah pelukan itu.

Ditengah pelukkan hangat itu tiba-tiba seseorang membuka pintu apartemen itu. Membuat Rin dan Baekhyun sedikit kaget dan menatap orang yang membuka pintu tersebut. Baekhyun kemudian menatap malas orang tersebut sedangkan Rin bersenyembunyi dibalik selimut dengan keadaan masih berada di pelukkan Baekhyun. Melihat kejadian itu sontak saja orang yang membuka pintu tadi menatap mereka dengan tatapan mengerikan.

Ya! Hyung aku tidak ada memberikanmu izin untuk memeluk adikku sembarangan di balik selimut seperti itu ya, hyung.” Teriak Mingyu.

Baekhyun yang mendengar itu hanya mendengus kemudian melepaskan pelukannya kepada Rin dengan malas. “Ya! Kim Mingyu dia kekasihku, terserahku dong mau diapakan. Kalian memang adik kakak, tapi nama Rin kan tidak masuk di kartu keluargamu. Jadi, Rin secara hukum kau juga tidak berhar mengaturku dengan Rin. week!” Ejek Baekhyun sambil menjulurkan lidahnya.

“Awas kau ya hyung. Tidak akan ku beri ampun.” Mingyu yang diejek Baekhyunpun  bertambah murka. Ia bersiap mencekik calon adik iparnya itu.

“Coba saja jika berani.” Tantang Baekhyun, namun bersembunyi dibalik punggung Rin.

Rin yang melihat dua orang yang paling disayangnya itu bertengkar hanya tertawa-tawa. Seketika dia melupakan kesedihannya tadi.

“Sudahlah, tidak usah bertengkar. Kalian berdua itu sama-sama tidak berhak secara hukum untuk mengaturku. Baekhyun oppa bukan suami resmiku sedangkan Mingyu oppa juga bukan kakakku yang sah. Kalian berhentilah aku lelah dijadikan tameng.” Kata Rin setelah dua orang laki-laki ini saling bekejar-kejaran.

Baekhyun dan Mingyu kemudian berhenti di acara pertengkaran mereka yang tidak begitu penting itu. Mereka kini malah sedang bertatap-tatapan khas anak kecil bertengkar dan belum berbaikkan. Rin yang melihat itu hanya tersenyum geli sambil beranjak kedapur untuk membuatkan kedua lelakinya ini makanan sebelum mereka merengek-rengek dan membuat Rin pusing.

Sebelum ke dapur, Rin menyempatkan diri untuk singgah dilemari penyimpanan obatnya. Meminum beberapa butir obat sebelum menyiapkan makanan. Setidaknya Rin harus makan pagi ini.

“Kau masak apa?” Tanya Baekhyun sambil duduk memangku dagunya dengan tangannya di atas meja makan.

Baekhyun sudah menyelesaikan kegiatannya saling bertatapan dengan Mingyu. Sekarang ia membiarkan patner in crime-nya membersihkan ruang tengah. Baekhyun bisa mendengar cibiran-cibiran halus yang keluar dari bibir Mingyu. jujur saja ia malas membantu calon kakak iparnya itu, toh walaupun calon kakak ipar, Baekhyun masih jauh lebih tua darinya.

“Masak omurice, biar cepat. Aku malas mendengar rengekan kalian berdua.” Sahut Rin sambil mempercepat acara memasaknya, ia tidak mau kedua laki-laki yang terlihat jantan ini merengek-rengek karena lapar seperi anak kecil. “Kau tidak membantu Mingyu oppa?” Tanya Rin sambil memasukkan nasi ke penggorengannya.

“Tidak ah, malas.” Jawab Baekhyun sambil menidurkan kepalanya di atas meja makan.

“Awas sampai Mingyu marah-marah ya. Aku tidak ikut-ikutan.” Sahut Rin lagi.

“Biarkan saja. Siapa suruh merusak momen romantis kita. Pakai mau ikut-ikutan segara lagi main ke lotte world.” Cibir Baekhyun lagi. Baekhyun benar-benar kesal dengan keputusan Mingyu beberapa saat yang lalu bahwa ia akan mengikuti kemanapun Rin dan Baekhyun.

Pagi itu sarapan hanya diisi cibiran-cibiran halus Baekhyun yang belum bisa menerima keputusan Mingyu dan Mingyu yang mengeluh membereskan semua kekacauan yang dilakukan Baekhyun di apartemen adik angkatnya. Sedangkan Rin? Ia hanya tersenyum-senyum melihat keadaan dihadapannya. Ia benar-benar berusaha menikmati apapun yang bisa ia nikmati hari ini, sebelum akhirnya dia menghilang nanti. Rin tidak ingin meninggalkan satu kenangan pun dari kedua lelaki yang mengisi hidupnya beberapa tahun belakangan ini.

Sore itu Baekhyun masih menekuk mukanya saat mengetahui Mingyu masih mengintilinya layaknya seorang bodyguard yang mengintili selebriti kemanapun ia pergi. Ia benar-benar kesal pada calon kakak iparnya itu, padahal Baekhyun sudah berpacaran dengan Rin dua tahun, tetapi Mingyu belum bisa memberikannya kepercayaan seratus persen kepadanya. Dan anehnya lagi Rin tidak protes sama sekali saat Mingyu ingin ikut.

“Kau masih kesal?” Tanya Rin melihat kekasihnya yang cemberut itu.

“Kenapa masih tanya?” Jawab Baekhyun cepat sambil mengerucutkan bibirnya, siapa tahu dia akan dikecup Rin tiba-tiba seperti saat nonton film.

“Tidak usah dikerucutkan begitu bibirnya, hyung. Ingat umur, sudah tua kok masih ngambek. Ntar aku cium nih bibirnya.” Jawab Mingyu asal-asalan.

Tok

“Aw!” Erang Mingyu sakit sambil menatap orang yang memukulnya.

“Jangan sembarangan bicara, Baekhyun oppa masih lebih tua darimu.” Rin menatap Mingyu sadis.

Melihat kejadian tersebut Baekhyun segera menjulurkan lidahnya. Dalam hati Baekhyun segera mensyukuri apa yang terjadi dihadapannya. Baekhyun tersenyum menang, ia kira Rin akan membela Mingyu sepanjang hari.

Oppa ada yang harus aku bicarakan dengan kalian berdua sekarang.” Kata Rin setelah minuman mereka datang. Mereka sedang di reason café sekarang.

“Apa?” Sahut mereka berbarengan, membuat mereka saling tatap kemudian sama-sama memalingkan wajah.

“Kenapa kalian begitu kompak?” Tanya Rin sambil tersenyum, ia sedang mengulur waktu sebentar sambil berusaha mengumpulkan semua keberaniannya.

“Mungkin karena radarku sedang konslet makanya kita kompak.” Sahut Baekhyun asal sambil menyeruput Americano-nya seakan semuanya baik-baik saja.

“Makanya punya radar itu jangan sering konslet. Jadi nyasar kemana-mana kan.” Cibir Mingyu sambil menatap Baekhyun yang duduk di hadapan Rin.

Baekhyun yang mendengarnya hanya menatap Mingyu kesal. Baekhyun mengakui bahwa dirinya salah bicara, harusnya ia mengatakan radarnya Mingyu saja yang konslet.

“Sudahlah, malas berdebat dengan anak kecil sepertimu.” Kilah Baekhyun sambil mengaduk-ngaduk minumannya. Mingyu hanya terkekeh mendengar respon Baekhyun.

Rin tersenyum sebentar melihat pemandangan di depannya itu. Rin melihat lekat wajah Baekhyun dan Mingyu. Ia benar-benar ingin mengukir wajah itu di kepalanya sebelum ia pergi.

Oppa, aku ingin pulang ke Incheon.” Kata Rin sukses membuat kedua laki-laki itu menatap Rin heran.

“Kenapa tiba-tiba mau pulang?” Tanya Mingyu cepat, karena Mingyu tahu serindu-rindunya Rin akan keluarganya Rin pasti akan pulang ke Anyang bukannya pulang ke Incheon, tempat nenek dan kakeknya yang sudah lama meninggal itu. Meskipun Mingyu tahu masih ada rumah dan pengasuh Rin waktu kecil disana.

Rin diam, ia sudah menyiapkan dirinya dari kemarin namun tetap saja ia masih belum siap jika ditatap oleh kedua orang ini seperti sekarang. Rin hanya diam, bibir bawahnya ia gigit perlahan. Dirinya benar-benar belum siap dengan jawaban selanjutnya.

TBC

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s