[EXOFFI FREELANCE] Moonlight Sonata

cover moonlight sonata.png

Moonlight Sonata

Author : jjehxi

Length : Oneshoot

Genre : Academy life, slice of life, classic musical, slight romance.

Rating : PG-15

Main cast & additional cast : OC as Sei Azura, EXO Sehun as Sehun Haynworth, etc.

Summary : “Bagaimana mungkin pemuda jalanan seperti dia menjadi guruku? Konyol.”

Disclaimer : Cerita ini terinspirasi dari salah satu mini drama korea –Page Turner dan ada beberapa kalimat yang dipetik dari beberapa cerita, tidak ada unsur kesengajaan apabila ada beberapa adegan yang sama. Dilarang keras untuk mengcopy-paste. Don’t be plagiator! Sorry for typo(s) and happpy reading^^

Start

    Bukan hal yang asing bagi para murid Royal College of Music melaksanakan ujian pertunjukan yang diadakan 2 kali dalam 1 tahun. Dan juga bukan hal yang asing jika semua para peminat musik klasik kini tengah menatap takjub akan permainan piano yang dilakukan oleh gadis blasteran Inggris-Jepang yang memiliki perawakan mungil dengan kulit putih bersih nan cerah. Sei Azura si ‘Miss Beethoven’, si pianis hebat itu.

    Awal pertunjukan, seisi ruangan tampak tegang begitu tangan mungil itu menunjukan simfoni yang terpilih untuk dimainkan. Pasalnya, Prelude Op. 23 No. 5 oleh Rachmaninoff terpilih begitu mudahnya sebagai simfoni penentu hasil akhir ujian kali ini. Ketahuilah, Rachmaninaoff terlahir dengan tangan besar kreatif dan sebagian insan menganggap karyanya ini sebagai bentuk kebanggaan dirinya akan tangan besar yang ia miliki. Tentu saja hal itu berbanding terbalik dengan tangan mungil milik gadis Azura itu.

    Dan kini pertunjukan itu dipertegang dengan sikap sukarelanya seorang Wendy Son sebagai page turner1  untuk si ‘junior’ tercintanya. Terakhir kali mereka ‘berpapasan’ adalah ketika kompetisi duet bebas yang diadakan 2 tahun yang lalu dan itu adalah perang melodi yang menakjubkan dengan Sei Azura sebagai pemenangnya.

    “Ternyata Wendy Son benar-benar bersahabat dengan gadis Azura itu.”

    “Mereka mengagumkan.”

    “Hey, lihatlah! Apa gadis Azura itu ketinggalan tempo?”

    “Wendy Son menggertaknya!”

    “Si Azura mencoba memimpin!”

    Pemandangan mengejutkan terjadi kembali, ketika dengan sengaja seorang Wendy Son menjatuhkan Piano Score2  dan membuat permainan seketika berhenti. Kedua gadis itu saling menatap dalam diam, tak lupa dengan Wendy Son yang mencoba menunjukan rasa penyesalannya. Decihan terdengar sebagai respon dari gadis Azura di depannya.

    “Aku lupa kalau kau payah dalam Allegretto3. Maaf, mari kita lanjutkan.”

    Srett!

    Dengan sengaja, Sei menjauhkan dan menginjak Piano Scorenya tepat dibawah kedua kakinya yang terbungkus flat shoes hitam kesukaannya guna menggagalkan rencana Wendy Son yang hendak mengambil kembali Piano Score  tersebut.

    “Setidaknya aku bukan seorang budak partitur. Kau bisa duduk manis  sekarang dan nikmatilah permainan menakjubkanku, Wendy Son.”

    “Mereka mencoba saling memimpin!”

    “Sehebat apapun Wendy Son, dia tetaplah budak partitur. Dia takkan bisa bermain seindah dan sebebas gadis Azura itu.”

    “Lihat! Wendy Son menyerah!”

    “Gadis Azura itu pemenangnya!”

    “Jika aku menjadi Wendy Son, dariawal aku takkan meneriman ajakan perang si gadis Azura itu.”

    “Wendy Son telah kehilangan akalnya hanya karena gertakannya yang diabaikan gadis Azura itu.”

    Seolah kehilangan kesadaran, perlahan tapi pasti kedua kaki jenjang gadis Son itu kian menjauh dan berhenti tepat dirasakannnya bangku kecil yang tadi ia tempati. Tidak, tidak ada niatan untuk duduk bersantai dan menikmati permainan ini. Rasanya konyol jika ia melakukan itu. Namun apalah daya bobot tubuhnya tak bisa ia tahan oleh raganya yang kini terasa rapuh.

    Duk!

    Ia terduduk dan permainan berlanjut dengan ‘khidmat’. Semua pasang mata tak hentinya menatap kagum terhadap punggung mungil yang tengah bermain itu, tak terkecuali Wendy Son yang notabenenya merupakan cucu pemusik klasik ternama yang sejatinya, permainan seindah ini tak mungkin ia tolak meski ia tau punggung mungil yang tengah bermain itu ialah adik kelasnya yang sangat tak ia suka.

    Tut!

    Dan selesailah permainan. Membuat semua para peminat seni musik klasik mau tak mau harus merasa puas dengan permainan yang terbilang singkat ini, itu pun berlaku bagi gadis bermarga Son yang kembali dengan 100% kesadarannya.  Perlahan tangan mungil itu terkepal memperlihatkan buku-buku jarinya tanda tengah menahan emosi. Andai dia tak datang, andai dia tak terlibat, andai dia tak melakukan kebodohan lagi, dan andai saja si Sei Azura itu tak menatap remeh padanya seperti sekarang, muungkin  dia bisa menikmati waktu liburannya, mungkin dia bisa menikmati pertunjukkan ini dengan baik, tanpa terlibatnya emosi yang lain. Emosi yang berupa kekesalan, adanya keinginan untuk balas dendam, dan yang terpenting adalah adanya keinginan untuk bermusuhan di dunianya –musik klasik.

    “Taklukkan simfoni ‘Moonlight Sonata No. 14 by Beethoven’ untukku, maka kau benar-benar telah menang dariku, Miss Beethoven.” Dan ucapan itu terlontar tanpa emosi, terkesan datar namun menantang.

    Tak! Tak! Tak!

    Dengan langkah cepat gadis Azura itu keluar dari ruang pertunjukkan menuju halaman depan yang berdekatakan dengan Albert Royal Hall4, namun sebuah tangan kekar mencekal lengan mungilnya, membuatnya sontak membalikkan tubuhnya.

    “Henry Lau!”

    “Ada apa Sei? Dari yang kudengar adalah seorang Miss Beethoven sudah menaklukan karya Rachminonaff dengan daya ingatnya. Itu jenius, sungguh.  Jadi, apa yang terjadi padamu sekarang?”

    “Oh dude, apa kau sekarang tengah memujiku? Sungguh, itu bukan kejeniusanku, tapi itu kebodohanmu yang bahkan mengingat satu not pun tidak bisa yang menyebabkan dirimu gagal mendapat nilai sempurna di ujian kelulusanmu 3 tahun yang lalu. Dan sekarang kau membalaskan dendam dengan membocorkan kelemahanku pada si sialan Son itu!”

    “Apa maksudmu? Siapa yang membalaskan dendam pada siapa? Gunakan bahasamu dengan baik, Azura.”

    “Wendy Son itu menantangku memainkan Moonlight Sonata, Henry Lau! Simfoni yang bahkan membuatku takut untuk menyentuh tuts-tuts pianoku. Aku bisa gila hanya untuk memainkan simfoni itu, kau tau itu. Simfoni itu sama sekali tidak cocok untukku!”

    “Kau…”

    “Dan hanya kau yang tau tentang itu secara rinci. Kau yang melihat penampilan terburukku dengan simfoni itu. Menurutmu siapa lagi yang bisa membocorkan informasi sepenting itu selain dirimu?!”

    “Tapi itu bukan aku. Kau pikir mungkin bagiku untuk menghianati saudara perempuanku satu-satunya?”

    “Dan kau pikir aku percaya ucapanmu? Aku tidak peduli. Yang harus kau lakukan adalah carikan guru terbaik yang bisa mengajariku simfoni sialan itu!”

    Tanpa menunggu persetujuan dari pria bernama Henry, gadis azura itu menghentakkan pergelangan tangannya yang tadi masih setia berada di genggaman pria bermarga Lau itu. Dan kemudian berbalik hendak berlalu, namun entah darimana pria jakung ini berasal dan keberanian macam apa yang pria ini miliki hingga membuat seorang Si Miss Beethoven kembali menghentikan langkahnya dan menatap kesal pria dihadapannya.

    “Hai! Kau Sei Azura? Orang-orang menjulukimu Miss Beethoven, oh ya tentu saja karena permainan menakjubkanmu bersama hampir semua simfoni-simfoni Beethoven, yang tentu saja dengan daya ingatmu. Dan aku dengar hari ini kau telah menaklukan simfoni dari Rachmaninoff tanpa seorang page turner. How great your are! Aku ingin jadi gurumu.”

    “Omong kosong. Pergilah.” Singkat disertai desisan. Sungguh hebat bukan sopan santun seorang Azura? Tapi itu tak menyulutkan pria jakung dengan rambut silver itu dan malah kembali menghalangi langkah gadis Azura itu.

    “Tapi kau payah dalam ‘Moonlight Sonata’, dan aku sangat jago dalam simfoni itu. Sungguh, aku bisa jadi guru yang baik.”

    “Berkacalah! Lihatlah bagaimana penampilanmu! Kau bukanlah seorang aristrokat5, maka musik klasik sangatlah tidak cocok untukmu.” Kali ini pria jakung itu sama sekali tidak menghalangi langkah gadsis Azura itu, namun sebuah suara menginterupsi keduanya.

    “Dia adalah gurumu, guru yang dipilih langsung oleh ayahmu sendiri, Azura.” Dan itu adalah Henry Lau.

    “Bagaimana mungkin pemuda jalanan seperti dia menjadi guruku? Konyol.”

    “Dia adalah Sehun Haynworth. Aku pikir kau pernah mendengarnya, Sei. Dia satu tingkat lebih muda dariku dan tentu saja dua tingkat diatasmu. Jadi, dia bukanlah pemuda jalanan seperti yang kau katakan. Kuperingatkan sekali lagi! Gunakan dengan baik bahasamu, Azura.”

    Sei tetaplah Sei, abaikanlah marga Azura yang menjadi kebesarannya. Gadis mungil itu hanya mendecih tak percaya dan mulai menelisik penampilan pria bernama Sehun itu dari ujung kepala hingga ujung sepatu dan berakhir di mata kecil nan tajam milik pemuda itu.

    “Cih!”

    “Ikut aku!”

    Dengan langkah lebar Sehun menarik lengan kecil gadis Azura itu menuju pinggiran jalan yang lebih ramai yang dikelilingi orang-orang yang tengah bersenda gurau, yang artinya mereka tengah berada tepat di halaman depan Albert Royal Hall. Berbanding terbalik dengan Sehun yang tampak santai dengan langkahnya, gadis Azura itu justru mati-matian menyamakan langkahnya dengan pria jakung yang menariknya secara paksa hingga sampailah keduanya didepan sebuah Grand Piano yang terlihat ‘sepi pengunjung’.

    “Duduk!”

    Dan itu adalah titah tanpa bantahan. Lihatlah! Sekarang keduanya tengah duduk berdekatan dengan Sehun yang akan mulai bermain. Satu, dua hingga sebaris not berhasil mengalun dengan indah. Membuat orang-orang datang mengerumuni kedua insan yang tengah duduk di depan Grand Piano tanpa pemilik itu. Bahkan si sombong Sei Azura mulai menikmati alunan simfoni Moonlight Sonata yang begitu lembut dan menyentuh. Kedua mata indah itu mulai terpejam menyisakan bulu-bulu lentiknya yang setia menghiasi matanya yang tengah tertutup.

    Ini begitu fantastik. Alunan melodi ini begitu menenangkan, membuatnya lupa akan sumpah serapahnya pada simfoni ini. Inilah Moonlight Sonata, si simfoni yang sukar bagi seorang Miss Beethoven taklukan. Dan si pemuda ini memainkannya penuh perasaan, jiwanya bebas saat memainkannya, ia tanpa beban. Ia begitu.. tulus. Dan mungkin itu adalah alasan mengapa seorang Miss Beethoven tak bisa memainkan simfoni ini dengan sempurna, barang untuk sekali saja.

    “Ini hanya pertunjukkan sederhanaku, Miss Beethoven.”

    Sontak Sei pun membuka matanya terkejut, dan lihatlah jarak si pemuda itu dengannya tak lebih dari 5 cm. ‘Oh God, dia tampan.’ Beonya dalam hati. Dan wajah itu semakin mengikis jarak, semakin mendekat hingga tanpa sadar membuatnya kembali memejamkan matanya kembali. Mungkin akan ada yang terjadi setelah ini, mungkin akan ada yang berubah setelah ini, karena mungkin setelah ini ciuman pertamanya akan direbut!

    “Musik klasik bukan tentang siapa atau orang seperti apa yang tertarik pada musik klasik. Semua orang boleh tertarik pada seni. Karena seni itu tidak terbatas.”

    Ting!Tong!

    Semua ekspetasinya salah. Ini duluar dugaannya. Ini membuatnya dua kali terkejut karena orang yang sama. Lantas ia pun membuka matanya dan menatap heran kearah pemuda yang tengah tersenyum manis padanya. Sangat tampan, pikirnya.

    “Dan sudahkah kau menyadari kenapa kau tidak bisa memainkan Moonlight Sonata dengan sempurna? Karena itu adalah batasanmu. Kenyataannya jiwamu tidak pernah mengikuti alur permainanmu.”

    Percayalah, seketika pikiran gadis Azura itu kosong. Dia tak bisa mencerna barang satu kata pun yang keluar dari bibir pemuda itu. Tidak, dia tidak bodoh. Ini lebih tepat disebut dengan dia sedang bingung, dia tak mengerti.

    “Nikmatilah setiap melodinya, jangan takut akan sebuah kesalahan, bebaskan jiwamu. Gelarmu akan mengikuti alur kebahagiaanmu. Aku rasa itu solusi untukmu dan menjadi ilmu pertama yang kubagi sebagai gurumu.”

    “Siapa kau sebenarnya?”

    “Seperti yang tadi kau dengar, aku Sehun Haynworth. Aku bukanlah orang jenius, aku juga bukan seorang aristrokat, dan katakanlah aku ini memang pemuda jalanan pemilik Grand Piano  ini. Tapi aku seorang seniman sejati, terutama dalam musik klasik. Kalau begitu, senang berkenalan denganmu, Miss Beethoven.” Pemuda itu pun mengajak gadis Azura itu untuk beranjak. Dan mereka berdua berjalan berdampingan.

    “Gen Azura memang tidak mengecewakan, bukankah seharusnya aku memilik satu diantara 3?”

    “A-apa maksudmu?”

    “Aku mengenal kedua kakak sepupumu, Irene Azura dan Iu Azura. Mereka adalah senior favouritku dulu, jika kau ingin tau.”

    “Lalu kenapa aku harus tau?”

    “Karena aku ingin para petinggi Azura tau, bahwa ketiga penerus Azura sudah mendapatkan pendamping hidup mereka.”

    “Kau bodoh ya? Bahkan aku tidak memilik kekasih!”

    “Kalau begitu, jadilah kekasihku 4 bulan lagi.”

    Langkah keduanya pun berhenti, dan keduanya saling membalikkan tubuh –bertatap muka.

    “Karena aku akan mengajarimu sebagai muridku selama 4 bulan kedepan dimulai dari hari ini, dan artinya kita tidak diizinkan untuk memiliki status diluar hubungan murid-guru, tentu saja.”

    “Peraturan siapa itu?”

    “Ayahmu.”

    “Dan kau menyetujuinya?”

    “Bagaimana lagi? Aku butuh uang.”

    “Kau miskin, ya? Lalu kemana keluargamu?”

    “Ck, ya aku miskin. Aku pergi dari rumah.”

    Duk!

    Aw!

    “Kau benar-benar preman, ya.” Dan setelah menendang tulang kering Sehun, Sei pun melangkah lembar mencoba menjaga jarak. Namun, ingatlah siapa pemuda bernama Sehun itu, si pantang menyerah orang-orang sering menyebutnya.

    “Aku pergi untuk belajar musik. Keluargaku adalah keluarga bisnis. Lagipula, di rumah sana masih ada kakakku. Dan jika kau ingin, sekarang aku akan pulang.”

    Namun sebelum Sehun merealisasikan ucapannya, sebuah tangan kecil mencekal lengan kekarnya tanda melarangnya pergi.

    “Rencana awalku aku memang akan pulang, Azu. Kita akan bertemu di persiapan The Proms Concert BBC. Aku akan menjadi guru yang paling kejam untukmu.”

    Chu~

    Dan sore itu, bersamaan dengan berangkatnya bus yang di tumpangi pemuda Haynworth, seorang Sei Azura tersenyum dengan tulus untuk pertama kalinya di depan umum.

    Penghujung musim dingin yang indah. Pikirnya.

END

Pleas leave comment(s)^^

Otte? Oh iya ini arti dari kata” yang diberi nomor diatas:

page turner1  : Orang yang bertugas membalikkan halaman not balok. Biasanya suka ada di semacam pertunjukkan orkestra.

Piano Score2   : Lembaran kertas/halaman yang berisi not-not yang harus dimainkan alat musik piano saja.

Allegretto3  : Tempo yang lebih cepat dari Andante tapi tidak lebih cepat dari Allegro.

Albert Royal Hall4 : Sebuah gedung konser yang terletak di ujung utara daerah South Kensington, di Kota Westminster, London, Inggris, paling dikenal karena mengadakan konser prom musim panas tahunan sejak tahun 1941.

Aristrokat5  : Orang yang berasal dari golongan bangsawan atau ningrat.

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s