[TWOSHOT] MARRIAGE: 32 WEEKS — IRISH’s Tale

 

Marriage: 32 Weeks  |

|  EXO`s Kai   x  Red Velvet`s Seulgi  |

|   Marriage  x  Slice of Life x Romance x Slight!Medical   |  Twoshot  |  Teenagers  |

2017 © Little Tale Created by IRISH

standart disclaimer applied

‘ Hidup itu kadangkala seperti panggung sandiwara yang penuh dengan elegi. Terus menerus ditaburi kesedihan padahal pemeran di atas panggung sudah enggan menangis. ’

Show List:

 Marriage: 14 weeks || [PLAYING] Marriage: 32 weeks

♫ ♪ ♫ ♪

In Author’s Eyes…

Jongin tidak pernah suka menghitung waktu. Baginya, tiap hari yang berganti adalah bagian dari kehidupan monoton yang harus ia jalani tanpa harus berpikir tentang apa yang akan terjadi di hari esok, atau esoknya lagi. Tidak pernah juga dia memikirkan kembali apa yang sudah terjadi di hari kemarin, atau kemarinnya lagi.

Tapi beberapa bulan terakhir, Jongin seperti sibuk menghitung waktu. Tiap hari dianggapnya sebagai penambahan usia lantaran ia tahu bahwa tidak lama lagi, statusnya tidak lagi hanya jadi seorang suami dari Kang Seulgi, tapi juga seorang ayah.

Demi Seulgi, Jongin sudah mengorbankan banyak hal. Baginya, menjadi seorang suami yang siaga adalah keharusan sekarang. Mengingat bahwa Seulgi selama berbulan-bulan ini enggan keluar dari rumah bahkan untuk sekedar memeriksakan kehamilannya, Jongin merasa bahwa dia lah yang paling bertanggung jawab penuh atas kesehatan Seulgi.

Heran juga, mengapa Seulgi tiba-tiba merasa enggan untuk berhadapan dengan paramedis? Seingat Jongin, Seulgi tidak pernah punya ketakutan apapun pada paramedis, atau rumah sakit.

Sekarang, melihat iklan-iklan berbau kesehatan di televisi saja Seulgi sudah bergidik ngeri. Catat, Seulgi hanya datang satu kali ke klinik kesehatan yang ada di dekat rumah mereka, saat wanita itu ingin mengetahui kepastian tentang kehamilannya beberapa bulan lalu.

Ah, jangan tanya bagaimana Jongin bisa tahu tentang itu. Sudah dikatakan kalau Jongin banyak berkorban untuk istri tercintanya itu? Sejak dia diterima masuk di fakultas teknik tempat saudaranya mengajar, Jongin hampir tidak punya waktu istirahat.

Tiap pagi dia bangun untuk memasak sarapan—hal yang diminta Seulgi di awal kehamilannya—dan kemudian berangkat ke universitas dengan menaiki bus. Jongin bahkan memutuskan untuk tidak tinggal di asrama sebab ia begitu khawatir pada Seulgi.

“Apa yang kau pikirkan, Jongin-ah?” vokal Seulgi terdengar membuyarkan lamunan Jongin. Tanpa sadar, pria itu sibuk menghitung berapa hari lagi yang harus ia lewati sampai ia bisa mendengar suara tangis seorang bayi di rumah kecil mereka, dan menjadi keluarga yang benar-benar bahagia.

“Tidak, aku hanya sedang memikirkan tentang nama bayi kita nanti.” Jongin menyahut.

Keduanya, sekarang tengah duduk di sofa ruang tengah rumah mereka. J0ngin duduk bersandar di sofa, sementara Seulgi membaringkan diri di pangkuan pria itu dengan sebuah buku tentang kehamilan ada di tangan.

“Hmm…” Seulgi menggumam, diletakkannya buku tersebut di atas dada, sementara ia menatap Jongin yang masih memandang kosong.

“Bagaimana dengan Hee-soo?” tanya Seulgi.

“Hee-soo?” Jongin mengulang, alis pria itu menyernyit saat mendengar nama yang Seulgi utarakan. Seingat Jongin, Seulgi adalah seorang konservatif yang cenderung suka menggabung-gabungkan nama.

Sempat dia berpikir kalau Seulgi mungkin akan menggabungkan nama mereka berdua, atau sejenisnya.

“Kenapa Hee-soo?” tanya Jongin karena Seulgi tidak kunjung menjawab.

“Hee-soo berarti kebahagiaan. Bagiku, kehadiran seorang bayi setelah kita hidup bersama selama bertahun-tahun rasanya seperti keajaiban yang turun dari langit. Aku sangat bahagia karenanya, sampai kupikir aku mungkin bisa mati tiba-tiba karena terlalu bahagia.

“Jadi… laki-laki atau perempuan, bagaimana kalau kita beri dia nama Hee-soo?” tanya Seulgi, dipandanginya Jongin di kedua manik mata seolah menunggu persetujuan pria itu atas keinginannya.

“Baiklah, Hee-soo adalah nama yang cantik jika dia seorang perempuan.” Jongin tersenyum, satu sisi darinya menyetujui usulan Seulgi, satu lagi tidak.

“Perempuan?” ulang Seulgi.

“Hmm, kalau dia laki-laki, aku ingin memberinya nama In-soo.” Jongin berucap, mengutarakan argumennya.

“In-soo? Mengapa? Supaya dia berumur panjang?” tanya Seulgi.

“Tentu saja. Dia harus hidup sangat lama sehingga dia bisa menikmati banyak kebahagiaan.”

Seulgi terkekeh kecil.

“Baiklah, sekarang mari bertaruh, siapa yang akan menang?” Seulgi menantang Jongin, seakan wanita itu benar-benar yakin kalau dia lah yang akan menang dengan argumennya.

“Haruskah kita ke dokter sekarang untuk memastikannya?” tanya Jongin, diam-diam berusaha menyelipkan ajakan pada Seulgi untuk memeriksakan kehamilannya karena Jongin sendiri merasa penasaran.

Selama ini diketahuinya Seulgi selalu rutin meminum suplemen kesehatan, tapi tidak pernah sekalipun dia melihat Seulgi pergi ke klinik. Lantas, dari mana Seulgi dapat semua suplemen itu?

“Tidak, aku tidak ingin keluar hari ini, Jongin-ah.” segera Seulgi menolak. Ia tarik dan hembuskan nafas panjang sebelum lagi-lagi bibirnya membuka.

“Aku sering merasa kelelahan akhir-akhir ini. Kupikir menghabiskan waktu dengan mengantri di klinik tidak akan jadi hal yang baik. Aku lebih suka beristirahat di rumah saja.” kata Seulgi.

Jongin terdiam. Sempat terbesit dalam benaknya jika Seulgi berbohong. Wanita itu mungkin pergi dan memeriksakan kehamilannya tanpa sepengetahuan Jongin. Tapi mengapa? Tidak ada alasan bagi Seulgi untuk menyembunyikan apapun dari Jongin, bukan?

“Tapi aku ingin tahu tentang keadaan bayi kita. Kau tidak penasaran?” tanya Jongin kemudian, ia letakkan telapak tangannya di atas perut Seulgi yang sudah membesar, berharap bisa merasakan pergerakan kecil dari makhluk mungil yang masih terlelap di dalam rahim istrinya.

“Hee-soo atau In-soo, aku benar-benar ingin tahu keadaannya, Seulgi-ah.” Jongin berucap.

Seulgi sendiri terdiam. Ada banyak hal yang selama hampir tujuh bulan ini sudah dia simpan rapat-rapat, sendirian. Ia tidak ingin menganggu konsentrasi Jongin dan kuliahnya.

Bagi Seulgi, Jongin haruslah fokus pada sekolahnya, sehingga pria itu bisa segera mendapat gelar sarjana dan mendapatkan pekerjaan. Seulgi sendiri lelah disebut sebagai benalu di keluarga Kim. Kalau saja Seulgi mau, dia bisa keluar dan bekerja di supermarket sebagai kasir. Dia juga tidak keberatan bekerja di toko kelontong berbau menyengat kalau memang itu berarti bisa membantu perekonomiannya dengan Jongin yang rasanya, tengah sekarat.

Tapi Jongin tidak mengizinkannya. Bagi Jongin, mencari nafkah adalah kewajiban seorang pria. Dan membiarkan Seulgi berpeluh karena bekerja di luar rumah adalah hal yang tidak ingin Jongin lihat.

Cukuplah Seulgi lelah karena pekerjaannya di rumah, wanita itu tidak perlu lagi menguras tenaganya untuk bekerja mencari uang karena semua itu adalah kewajiban Jongin.

“Bagaimana kalau kita ke klinik, Seulgi-ah?” tanya Jongin akhirnya memecah keheningan.

Seulgi sejak tadi bergeming, tampak enggan memberikan persetujuan apapun meski dia tahu Jongin sekarang mendesaknya. Akhirnya, wanita itu menyerah juga. Dia paling tidak bisa menyembunyikan sesuatu dari Jongin, berbohong pada pria itu bukanlah kebiasaannya dan tentu saja, kalau ia terus-terusan menolak untuk memeriksakan kehamilannya di klinik, Jongin akan merasa bahwa Seulgi begitu aneh.

“Baiklah, tapi jangan terkejut dengan apa yang dikatakan dokter nanti.”

 ██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

“—Kehamilan tunggal saja sudah sangat beresiko pada Nyonya Kang. Saat ini, dia mengandung sepasang bayi kembar. Meski Nyonya Kang sudah mengkonsumsi obat, tapi itu tidak banyak membantu.

“Hipokalemi1 yang dideritanya akan sangat beresiko pada kehamilan, terutama karena kehamilan ini kembar. Terminasi kehamilan2 adalah solusi yang bisa saya tawarkan, meski ada resiko yang juga menyertai.

“Dengan operasi caesar3 ada kemungkinan kemampuan fisik Nyonya Kang—kemampuan bergeraknya—akan terganggu, hal ini bisa terjadi sementara saja, atau mungkin permanen.

“Tapi jika kehamilannya dibiarkan sampai cukup bulan, Nyonya Kang mungkin tidak akan bertahan, dan justru… bisa terjadi kelumpuhan. Jadi, sebaiknya Tuan dan Nyonya diskusikan tentang tawaran terminasi kehamilan.”

Beberapa menit lalu, Jongin masih duduk dengan santai di ruang tunggu, menunggu nomor urut tiga belas dipanggil dari ruangan berlabel ‘kandungan’ yang ada di depannya. Seulgi duduk dengan tidak nyaman di sebelahnya, berharap mereka akan cepat pulang, sementara Jongin terjebak euforia.

Mereka ada di rumah sakit—keputusan Jongin, tentu saja—untuk mendapatkan sebuah USG4 empat dimensi yang Jongin dengar dari teman-temannya, bisa memungkinkannya untuk melihat wajah calon bayinya di dalam rahim.

Tapi, sekarang dunia seolah diputar secara paksa bagi Jongin. Untuk pertama kalinya, dia mendengar istilah yang tidak pernah didengarnya. Istrinya—Kang Seulgi—menderita hipokalemia, dan Seulgi tampak tenang-tenang saja seolah ia sudah tahu sebelumnya tentang keadaan mengerikan yang sekarang mengancam.

Bagaimana tidak, dari apa yang dokter jelaskan, Jongin jelas tahu kalau istrinya terancam lumpuh karena kehamilannya. Terminasi kehamilan adalah solusi yang berbahaya juga.

Usia kehamilan Seulgi baru menginjak tiga puluh dua minggu, dengan bayi kembar yang perkiraan berat janinnya bahkan belum lebih dari satu kilogram karena Seulgi sendiri tidak pernah punya nafsu makan selama hamil.

Siapa yang harus Jongin salahkan?

Istrinya yang kemungkinan besar telah berbohong, Tuhan yang telah memberikannya dua buah hati namun kehadiran dua calon bayi itu justru mematikan, atau dirinya sendiri yang telah jadi suami paling bodoh dan ceroboh?

“Aku akan membicarakannya dengan istriku,” Jongin akhirnya mengambil keputusan, lembut, digenggamnya telapak tangan Seulgi yang berkeringat dingin.

Kebohongan. Jongin tahu Seulgi telah berbohong. Dia sudah hafal benar bagaimana kelakar Seulgi, dan hal yang sekarang terjadi pada Seulgi jelas jadi satu tanda bahwa dia sedang berbohong.

Setelah sedikit memberi ucapan perpisahan pada dokter kandungan yang memberi mereka konsultasi, Jongin akhirnya membimbing langkah Seulgi untuk keluar dari ruangan konsultasi.

Keduanya mengambil duduk di sudut terjauh rumah sakit, berdua saja, dan sama-sama berdiam diri.

“Penyakit itu sudah menyerangku sejak kecil.” Seulgi akhirnya memulai konversasi. Meski terkesan kaku, tapi dia akhirnya mengakui juga kebohongan kecil yang selama ini berusaha ditutupinya.

“Kenapa tidak memberitahuku?” pertanyaan Jongin terdengar. Rahang pria itu terkatup rapat. Ia marah, sungguh marah pada Seulgi sekarang karena terungkapnya kebohongan ini adalah sebuah cambuk bagi Jongin.

Sudah berapa tahun Seulgi membohonginya?

“Kupikir penyakitku tidak akan jadi masalah jika aku hamil.” Seulgi menjawab. Tidak sepenuhnya berbohong. Karena dia sendiri adalah seorang dengan pengetahuan yang begitu minim dan tidak pernah tahu benar tentang penyakitnya.

Sampai detik ini pun, Seulgi tidak pernah menemukan orang lain yang menderita penyakit sama dengannya. Diam-diam, pemikiran itu mencekik Seulgi, membuatnya merasa seolah ia adalah satu-satunya orang menderita di dunia ini.

“Dokter katakan kau bisa saja lumpuh, Seulgi-ah.”

“Ya, aku dengar itu.” Seulgi menjawab.

Jongin, menarik dan menghembuskan nafas panjang sebelum dia sandarkan tubuhnya di kursi stainless yang jadi tempatnya juga Seulgi sekarang duduk.

“Ayo kita pulang.” ajak Jongin akhirnya.

Tanpa bicara apapun, Seulgi menjawab dengan anggukan. Keduanya kemudian beranjak pergi meninggalkan ruangan kandungan tempat tadi Seulgi memeriksakan kehamilannya.

Langkah dalam bisu mereka tempuh di sepanjang jalan menuju pintu depan rumah sakit—mengingat keduanya menaiki bus saat akan pergi ke rumah sakit—sementara satu-satunya kontak yang mereka lakukan hanyalah rangkulan Jongin di bahu Seulgi yang kini terlihat belasan kali lebih rapuh dari kelihatannya.

Seulgi jadi orang pertama yang menghentikan langkahnya. Wanita itu terus tertunduk, menahan tangis, rupanya. Sementara Jongin sendiri sudah tahu benar apa yang terjadi pada Seulgi, tengah sibuk berusaha menguatkan diri.

“Dokter katakan aku harus mengakhiri kehamilan ini, Jongin-ah… Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin aku biarkan bayi-bayi kita terlahir seperti ini? Bagaimana jika mereka tidak bisa bertahan? Bagaimana aku akan hidup jika mereka tidak sanggup bertahan?”

Serba salah. Tidak ada pilihan yang menguntungkan untuk keduanya. Jika mereka menyetujui terminasi kehamilan, maka besar kemungkinannya bayi kembar mereka tidak akan bisa bertahan meski usia kehamilan Seulgi sudah menginjak bulan ke-delapan.

Jika Seulgi memilih untuk bertahan dan menjalani operasi caesar pada akhirnya, kelumpuhan menanti di ujung sana sebagai sebuah resiko yang kemungkinan besar akan terjadi.

Kematian, atau kecacatan, itulah pilihannya.

Dan Jongin sendiri tidak bisa memilih.

“Aku tidak bisa membunuh anak kita begitu saja, Jongin-ah. Susah payah kita berusaha mendapatkan mereka, bagaimana mungkin aku tega membiarkan kehidupan mereka direnggut begitu saja?”

Melihat bagaimana Seulgi mulai kehilangan keseimbangan, Jongin segera membimbing langkah wanita itu untuk duduk di kursi pasien yang ada di dekat mereka. Lembut—masih tanpa bicara apapun—Jongin merangkul bahu istrinya yang mulai terisak, sementara satu tangannya yang lain menggenggam erat jemari Seulgi.

“Aku tahu, aku tahu Seulgi-ah. Kau pikir aku memikirkan rencana untuk membunuh anak-anak kita? Tapi bagaimana denganmu? Dokter katakan kau mungkin akan lumpuh.” Jongin berucap, mengingatkan wanita itu pada resiko yang ditantangnya jika ia berkeras ingin membesarkan si jabang bayi hingga cukup usia untuk benar-benar dilahirkan.

Seulgi hanya memasang sebuah senyum pilu.

“Asalkan mereka terlahir dengan selamat, meski harus mati pun aku tidak akan menyesal, Jongin-ah… Jadi, biarkan aku membesarkan mereka dan melakukan operasi saja.” satu keputusan Seulgi ambil, dengan sepihak, tentu saja. Karena Jongin sendiri tidak bisa berpikir dengan jernih sekarang.

Tidak ada pilihan dan resiko yang dia inginkan. Dia tidak mau memilih. Tapi harus menjalaninya. Seperti keharusan pada orang-orang tentang usia meninggi dan pernikahan, saat ini Jongin dan Seulgi tengah dihadapkan pada keadaan serupa tapi punya akhir yang lebih menyakitkan.

Bagaimana jika sesuatu terjadi pada kedua bayi mereka?

Lebih buruk lagi, bagaimana jika sesuatu yang buruk justru terjadi pada Seulgi?

Bagaimana Jongin akan hidup setelahnya?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Satu keputusan tidak wajar Jongin ambil. Dia nekat mengambil cuti di awal semester dimana seharusnya dia tidak diperkenankan untuk mengambil cuti. Well, keberadaan saudaranya di universitas tentu membuat masalah tidak menjadi hal yang begitu mengejar Jongin karena keputusannya.

Masalahnya, Jongin tidak mau meninggalkan Seulgi sendirian di rumah. Setidaknya, sampai usia kehamilan Seulgi minimal menginjak tiga puluh delapan minggu, Jongin harus ada di rumah, menemani istrinya dan mempersiapkan mental wanita itu—juga mental Jongin sendiri, tentunya.

Akhirnya, hari-hari kembali berlalu seolah mereka tengah berkencan. Seulgi mulai sibuk dengan rutinitas hariannya, memasak, membersihkan rumah, merawat Jongin dengan penuh kasih seolah mereka adalah sepasang kekasih yang tengah kasmaran.

Bagi Jongin, keadaan Seulgi seolah kembali menjadi seorang ibu hamil muda yang penuh dengan kemanjaan dan keinginan-keinginan aneh.

Berbagai hal selama beberapa pekan ini Jongin lakukan demi menyenangkan hati sang istri. Mulai dari membelikan makanan-makanan yang diinginkan Seulgi, mengantar wanita itu berjalan-jalan kemana pun dia ingin, sampai menerima omelan juga pukulan-pukulan kecil Seulgi saat wanita itu kesal.

Semua itu Jongin lakukan semata-mata untuk mengurangi tekanan yang sekarang diyakininya menghimpit batin Seulgi. Wanita itu tengah ketakutan, Jongin tahu itu. Tapi untuk pertama kalinya, Jongin merasa dirinya seolah tidak berguna. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Seulgi, mengurangi rasa sakitnya, atau ketakutannya.

Yang Jongin lakukan hanyalah berusaha menimbun ketakutan itu dengan memori kebahagiaan yang entah bagaimana, Jongin yakini akan bisa menekan ketakutan Seulgi.

“Kekanakkan sekali, Jongin-ah. Aku tidak pernah memintamu untuk menyiapkan acara menonton bersama seperti ini, apalagi di rumah.”

Aih, ingatkan Jongin tentang apa yang sekarang dilakukannya. Dia sudah mengubah ruang tengah rumahnya menjadi teater mini yang Seulgi inginkan. Mengingat wanita itu kini semakin mudah merasa lelah, akhirnya Jongin pun membatasi pergerakan wanitanya.

Pekerjaan rumah separuhnya sudah Jongin kerjakan. Dan Seulgi bisa beristirahat tiap kali dia merasa otot-ototnya tidak sanggup diajak bekerja sama dengan keinginan yang ada di dalam benak.

Sekarang, untuk keluar rumah saja Seulgi sudah tidak kuat. Padahal dia berkeinginan untuk menonton film di bioskop bersama dengan Jongin, seperti yang pernah mereka lakukan saat sama-sama duduk di bangku sekolah

Bedanya, dulu Jongin mungkin akan sibuk menertawai Seulgi yang menangis tersedu-sedu lantaran film yang dianggapnya menyedihkan, sedangkan sekarang keduanya sama-sama menonton dalam diam.

Seperti biasanya, Seulgi berbaring di pangkuan Jongin, sementara Jongin sendiri merengkuh tubuh wanitanya. Sesekali diusapnya perut Seulgi yang sudah benar-benar membesar—berkat keyakinan Seulgi bahwa dia yakin dia akan sanggup membesarkan bayinya meski harus bertarung dengan penyakit, akhirnya Jongin benar-benar bisa menganggap Seulgi tengah hamil kembar—dengan penuh sayang.

“Oh, salah seorang dari mereka bergerak, sayang.” Jongin terkekeh pelan saat telapak tangannya merasakan gerakan kecil dari balik pakaian longgar yang menutupi perut Seulgi.

“Kurasa keduanya bergerak, mungkin mereka sedang berebut tempat di dalam sana.” Seulgi menyahuti dengan sebuah tawa pelan.

Setelah beberapa lama sama-sama terdiam, lagi-lagi Jongin tersenyum samar saat telapak tangannya menangkap pergerakan kecil kedua calon bayinya. Akhirnya, film tidak lagi jadi perhatian sepasang suami istri itu.

“Kenapa dengan mereka? Akhir-akhir ini mereka sering sekali bertengkar.” Seulgi mulai mengeluarkan omelan khas miliknya.

Jongin sendiri terkekeh. Heran bagaimana Seulgi bisa mengomel pada bayi yang bahkan belum ditimangnya. Wanita itu bahkan yakin benar kalau dua bayinya di dalam sana tengah bertengkar.

Hey, memangnya Jongin ingin kedua anaknya benar-benar hobi bertengkar saat sudah lahir nanti?

“Keduanya mungkin mewarisi sifatmu yang tidak mau mengalah,” Jongin berkata.

“Apa? Memangnya kapan aku tidak mau mengalah?” Seulgi berucap dengan nada kesal. Wanita itu tentu saja merasa tersinggung lantaran Jongin yang tiba-tiba saja membahas tentang sifatnya.

“Kenapa? Kenyataannya memang begitu. Kau suka berdebat dengan orang lain, dan tidak pernah mau mengalah. Setidaknya salah satu anak kita nanti akan menurun sifat yang sama.” Jongin berkomentar tenang.

“Cih, lalu salah satunya pasti akan menurun sifatmu. Punya hobi menasehati orang lain sampai kupikir kau mungkin seorang kakek tua.” Seulgi menyahut tak mau kalah.

Jongin sendiri hanya mengangkat bahu acuh.

“Aku hanya bersikap dewasa, bukan ingin menasehati. Kau tidak ingat kalau dulu kau berkelakuan seperti anak sekolah dasar?” Jongin lagi-lagi mengingatkan Seulgi pada masa sekolah mereka yang agaknya, selama beberapa tahun ini sudah sama-sama mereka lupakan.

Merasa tidak terima, Seulgi akhirnya melepaskan diri dari rengkuhan suaminya. Dipandanginya Jongin dengan sepasang netra yang sarat akan kekesalan sementara Jongin sendiri menatap geli.

“Kenapa? Bukankah ucapanku benar?” tanya Jongin membuat Seulgi merengut kesal. Wanita itu lekas membuang pandang, enggan berdebat dengan Jongin karena tentu saja dia tahu dia akan kalah.

Sadar pada perubahan kecil lain yang sudah terjadi pada Seulgi, Jongin akhirnya menarik wanita itu ke dalam pelukannya. Disandarkannya kepala Seulgi di bahunya tanpa bicara apapun, sementara tangan Jongin mengelus perut Seulgi dengan penuh kasih.

“Bagaimanapun mereka, sifatmu atau sifatku yang mereka turun nanti, mereka akan tetap jadi kebahagiaan kita, bukankah begitu?” Jongin berucap, dengan penuh ketulusan ia sarangkan sebuah kecupan di puncak kepala Seulgi, dipejamkannya mata karena bayangan mengerikan tentang hal buruk yang mungkin akan terjadi pada Seulgi beberapa pekan yang akan datang kembali membayangi.

“Terima kasih, Seulgi-ah…”

“Terima kasih untuk apa, kali ini?” Seulgi bertanya.

Sudah berulang kali Jongin mengucapkan hal yang sama. Hingga berkali-kali pula membuat Seulgi tidak mengerti. Mengapa Jongin begitu sering mengucapkan terima kasih padanya?

Jongin sendiri, tersenyum kecil. Sekali lagi, ada puluhan alasan yang ingin ia ucapkan pada Seulgi di balik terima kasih itu. Tapi Jongin tidak mungkin mengatakan semua alasan ia berterima kasih pada wanita itu. Hingga akhirnya, hanya ada satu alasan yang bisa Jongin utarakan.

“Terima kasih karena sudah menjadi satu-satunya wanita yang kucintai.”

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

Hidup itu kadangkala seperti panggung sandiwara yang penuh dengan elegi. Terus menerus ditaburi kesedihan padahal pemeran di atas panggung sudah enggan menangis. Memohon pada sutradara—Sang Pencipta—untuk mengganti skrip kehidupan agar jadi sedikit lebih indah pun sudah percuma.

Tidak adil, manusia seringkali menyimpulkannya seperti itu. Karena mereka sendiri tidak punya kemampuan untuk menerima coretan takdir yang sudah diukir untuk mereka.

Semua akan indah pada waktunya, ungkapan itu sekarang tidak lagi jadi penyemangat bagi Kang Seulgi. Bumi yang dipijaknya seakan longsor, dan langit pun mungkin bisa jatuh menimpanya, karena sekarang, yang bisa dia lakukan hanya berbaring di recovery room dengan tangis tanpa air mata.

Keputusan yang telah diambilnya beberapa minggu lalu dengan harapan sebuah keajaiban kecil akan Tuhan bagikan di garis kehidupan sederhananya bersama seorang Kim Jongin agaknya sekarang tinggal asa belaka.

Seulgi tidak lagi punya harapan. Hidupnya telah hancur saat ia memutuskan untuk masuk ke dalam ruang operasi delapan jam yang lalu. Masih jelas terekam dalam benaknya bagaimana ciuman hangat Jongin ditinggalkan pria itu di bibirnya saat mereka tadi berpisah di ruang tunggu operasi.

Masih begitu jelas sepasang tangis lantang yang Seulgi dengar setelah beberapa menit ia harus diteror suara-suara logam beradu. Tubuhnya memang mati rasa ketika dua orang putranya dilahirkan ke dunia melalui robekan yang dokter ciptakan secara horizontal di perutnya.

Tapi sampai detik ini, mati rasa itu memburu.

Bayangan Jongin terlihat mengintip dari jendela recovery room yang didominasi warna putih. Ada dua orang wanita yang melahirkan bersama dengannya. Dua yang lain sudah didampingi suami mereka, sementara untuk mengharapkan Jongin masuk ke dalam ruangan saja Seulgi sudah merasa malu.

Dua menit berlalu, Seulgi masih memejamkan mata, berpura-pura tidur padahal batinnya tengah menangis tersedu-sedu, dan suara rendah Jongin terdengar di dalam ruangan.

Hey, sayang,” sapaan Jongin terdengar setelah Seulgi diam-diam jadi pendengar konversasi Jongin dengan perawat yang berjaga di ruangan.

Seulgi masih bergeming, tidak ingin tangisnya pecah jika pandangnya bertemu dengan Jongin. Tidak, bahkan sekarang jemari Jongin yang menggenggam erat jemarinya terasa begitu menyakitkan.

“Tidak apa-apa, Seulgi-ah… Tidak apa-apa,” lagi-lagi suara Jongin terdengar.

Rupanya, Jongin tahu wanita itu telah terjaga. Likuid bening yang dengan lancang menerobos pertahanan Seulgi agaknya jadi pertanda bagi Jongin kalau wanita itu tengah berusaha keras menahan tangisnya.

“Kedua bayi kita laki-laki…” lirih suara Seulgi terdengar.

Jongin, tersenyum kecil, merasa lega karena mendengar suara Seulgi setelah selama delapan jam pria itu tersiksa karena penantian.

“Ya, aku tahu. Aku menang dalam perdebatan kita, bukan?” Jongin sekuat tenaga berusaha menahan suaranya yang juga bergetar lantaran rasa haru, juga sedih. Berusaha ia buat sebuah candaan agar Seulgi membuka netra dan memandangnya.

Meski hanya berpisah delapan jam, tapi Jongin rasanya begitu rindu menatap netra gelap Seulgi yang selalu jadi candu baginya.

“Lalu bagaimana? Kita tidak bisa memberinya nama Hee-soo?” Seulgi akhirnya membuka mata, membiarkan Jongin melihat sepasang matanya yang kini berkaca-kaca—bahkan ia biarkan beberapa likuid beningnya terjatuh begitu saja.

“Kenapa tidak? Kita bisa memberinya nama Kim In-soo, dan Kim Hee-soo.” Jongin tersenyum, diusapnya surai gelap Seulgi yang acak-acakkan, bergiliran sebelum lengan Jongin bergerak mengusap air mata yang membasahi wajah Seulgi.

“Kenapa kau menangis? Kedua bayi kita baik-baik saja, Seulgi-ah… Itu yang kau inginkan, bukan?” perkataan Jongin kali ini berhasil menjadi pemicu ledakan emosi yang sudah sekuat tenaga Seulgi tahan.

Tanpa bisa menahan diri, wanita itu akhirnya memangis terisak. Erat, digenggamnya lengan Jongin yang masih ada di dekatnya sementara tubuhnya gemetar. Jongin sendiri tidak juga bisa menahan kesedihan. Beberapa tetes air mata dibiarkannya terjatuh, meski tanpa suara, tapi Jongin sebenarnya menangis.

“Aku tidak bisa merasakan kedua kakiku… Jongin-ah… Aku mungkin akan benar-benar lumpuh…”

Jongin memejamkan matanya, tarikan dan hembusan nafasnya kini terasa begitu berat. Jika Seulgi sekarang menangis terisak dengan menyedihkan karena tenaga yang masih belum sepenuhnya terkumpul, maka Jongin ingin sekali menangis dan meneriakkan semua ketidak adilan yang sudah terjadi pada istrinya.

Sekarang, bagaimana Jongin harus menambah cinta yang dia berikan pada seorang Kang Seulgi? Sedangkan wanita itu sudah benar-benar merenggut semua cinta yang dia miliki tanpa cacat celah sedikit pun.

Ia sudah relakan fungsi penggeraknya demi mendapatkan seorang keturunan yang ia dan Jongin inginkan. Seulgi telah melahirkan dua orang putra dimana salah satunya akan tumbuh menjadi seorang pelindung bagi Seulgi, dan Jongin sendiri. In-soo, atau Hee-soo. Jongin tak bisa memilih antara kebahagiaan, atau umur yang panjang, untuk jadi doanya bagi sang putra.

Tidak ada yang tahu apa yang Tuhan inginkan dari elegi ini. Tidak pula Jongin ingin menyalahkan Tuhan atas apa yang terjadi. Bagi Jongin, ini adalah sebuah peringatan baginya, untuk terus mencintai Seulgi bagaimanapun keadaan wanita itu.

Bahwa cinta, tidak selalu harus ditunjukkan dengan bagaimana mereka menghabiskan waktu bahagia sebagai sepasang suami istri. Jongin kini tahu, Tuhan mungkin menguji cintanya pada Seulgi. Mungkin Tuhan pikir, Jongin akan menyerah pada Seulgi jika wanita itu telah cacat secara fisik.

Tapi tidak, Jongin tidak akan menyerah. Skenario menyedihkan ini justru jadi cambuk baginya untuk mencintai Seulgi dengan lebih baik lagi. Pernikahan, bukan hanya tentang berbagi kebahagiaan tapi juga tentang bertahan dalam duka.

Jongin tahu, ada alasan yang membuat Seulgi dulu datang sebagai gadis penuh keceriaan pada Jongin yang tak pernah tahu arti kebahagiaan. Karena kini, saat Jongin tahu arti kebahagiaan, Seulgi justru harus meringkuk dalam penderitaan. Dan sudah saatnya bagi Jongin, untuk jadi kebahagiaan bagi Seulgi.

“Tidak apa-apa, Seulgi-ah. Jangan khawatir. Aku akan menjadi kakimu. Aku akan menjadi langkahmu. Akan kubawa kau kemana pun kau ingin asal kau bisa bahagia. Aku tidak akan meninggalkanmu, seperti apapun keadaanmu sekarang. Aku akan tetap ada di sisimu dan mencintaimu, apapun yang terjadi, Seulgi-ah…”

Ah, sayang, ada satu hal yang belum Seulgi tahu. Bahwa salah satu bayinya tidak sanggup bertahan di satu jam pertama kehidupannya, dan kini telah berpulang ke pangkuan Sang Penguasa.

FIN

Glossarium:

Hipokalemia: merupakan kondisi dimana kadar kalium (potassium) di dalam darah, serum, atau plasma darah menurun atau di bawah normal. Penderita hipokalemia seringkali tidak merasakan gejala apapun, terutama bila masih berada dalam tahap ringan. Keadaan hipokalemia pada ibu hamil dapat menyebabkan perubahan fungsi otot, bahkan kelumpuhan.

Terminasi Kehamilan: merupakan suatu usaha untuk mengakhiri masa kehamilan dengan perhitungan atas kondisi tertentu.

Operasi Caesar: merupakan proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu dan rahim untuk mengeluarkan bayi

USG: Ultra Sonography, merupakan penggunaan suatu alat dengan prinsip dasar menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi yang tidak dapat didengar oleh telinga kita. Denga alat USG dapat dilakukan pemeriksaan organ-organ tubuh dengan aman (tidak ada efek radiasi).

IRISH’s Fingernotes:

EH YAAMPUN YAAMPUN YAAMPUN KENAPA NGETIK DI TENGAH MALEM JUSTRU NGEBUAT ANE JADI BERJIWA MELODRAMA BEGINI…. KENAPA… KENAPA ANE BISA BIKIN ENDING SESAT MACEM INI… ANJIR ENTE RISH MASYA ALLAH.

Awalnya, kepengen ngebuat part dua ini sebagai momen-momen penuh keromantisan gitu, tapi setelah ane baca beberapa komen di part satu yang terhanyut sama adegan manis, ane kepikiran (PIKIRAN JAHAT, KAWAN) untuk menjatuhkan ekspektasi semua orang tentang cerita manisnya.

INI MELODRAMA, CIYUSLI.

Tapi bukan itu sih poin utamanya. Pada dasarnya, ane sedikit mau menyampaikan kalau kehidupan pernikahan (terutama saat hamil) di point of view ane sebagai seorang bubidan itu enggak selalu bahagia. This is really happened, guys. Kalau di luar sana ada yang berpikir seorang ibu hamil enggak bisa cacat/meninggal karena hipokalemi, maka kalian kurang pengalaman :”)

Sesungguhnya, hanya 1 dari 80 orang ibu hamil yang mengalami fluff di rumah tangganya saat hamil. Sisanya? Ada banyak cerita menyedihkan bahkan mengerikan, yang kalau telaten mau ane buat jadi fanfiksi, mungkin bisa jadi kumpulan kisah melodrama yang akan ngebuat orang-orang takut buat nikah, LOL.

Di hubungan pernikahan, gimana cara sepasang suami istri bertahan di tengah duka itu adalah cobaan terbesar. Terutama di keadaan KaiSeul di sini: yang nikah tanpa restu, yang susah hamilnya, yang Seulgi kena hipokalemia. Sesungguhnya bukan sekedar kisah hiperbola.

Ada, di luar sana pasangan yang bener-bener menghadapi keadaan kayak gini, bahkan lebih buruk lagi. Dan mereka berhasil bertahan. Padahal, bisa aja si suami kawin lagi. Tapi enggak, keyakinan Jongin buat bertahan dan terus sama Seulgi di sini entah kenapa jadi poin utama cerita ini, WKWKWK.

Pernikahan itu enggak melulu soal kekayaan, enggak melulu soal umbar cinta tanpa pembuktian, enggak melulu tentang ena-ena, enggak melulu tentang perselingkuhan, enggak melulu tentang kisah bahagia.

WHY JONGIN DAN SIFATNYA DI SINI JADI SUAMIGOALS? SYIT KAMU KIM JONGIN. KAMU TERKUTUK T////T

P.s: Al, mianek karena epep ini enggak jadi semanis yang ente idam-idamkan. Maklum, kalo ngetik tengah malem ada banyak hal aneh yang ikutan masuk di otak ane dan akhirnya ceritanya belok begini. Huhu.

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

18 pemikiran pada “[TWOSHOT] MARRIAGE: 32 WEEKS — IRISH’s Tale

  1. Akhirnya yang di tunggu” tiba.tapi aku kasian sm seulgi harus lumpuh setlh melahirkan.gimana ya perasaan nya kalo dy tau anak nya yg satu meninggal huwaaaaaa melow bat sih ni ff. 😥 😥

  2. Walau pun akhirnya harus lumpuh, tetep dijalani ya :’) salut deh. aku nyesek pas scene waktu seulgi baru ngelahirin. waktu dia udah ngga ngerasai kakinya lagi yaampun :’)
    Entah kenapa akhir-akhir ini suka banget fiksi bergenre family kaya gini. Efek tambah tua kali ya/? HAHA
    Anyway, Keep writing Karish!

    • Mbb ya sayangs :* huhuhu ~ aku abis baca ulang ini epep dan mewek juga sih XD wkwkwkwk diriku juga efek nambah tua ini bikinnya yang rated XD kan sedih ~

  3. Ping balik: [TWOSHOT] MARRIAGE 2: 39 WEEKS — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: [TWOSHOT] MARRIAGE 2: 8 WEEKS — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  5. mellow banget ff ini.. 😥
    G cuma bikin senyum – senyum sendiri, tpi juga nangis – nangis sendiri.
    ceritanya bener – bener bagus kak, ada ilmu baru yg jga ku dapat dari ff ini. suka deh.. 🙂
    di tunggu karya selanjutnya ya kak.. Fighting..

  6. Mewek saiah.. 😭
    Makin kagum sm sifat dewasa kai disini, bner2 jd suami siaga 👍 keren!
    Kirain anak mrk ga slmt 22ny, trnyt ada 1 yg bertahan, syukur deh. Moga kelak tumbuh sehat, pntr, tampan & mewarisi semua sifat baik ibu bpk’ny.
    Brhrp sih irish mau telaten bwt ff ttg mariage life yg melodrama gini 😊 bwt asupan pengetahuan yg more logic ttg khdpn pernikahan dr p.o.v bubidan, jd imagination readers/kpop fans jg lbh make sense. /halah.. 😅 ga melulu yg spt kamu dah mention above. Love this ff & skp dewasa marriage couple ni though mrk msh sngt muda 👪 semoga berbahagia selalu 😘

    • YAAMPON KAK KUSUKA ISTILAH SUAMI SIAGA ITU XD jadi inget waktu masih magang dan diriku harus jadi rekan siaga buat temen yang hamil tua XD wkwkwkwkwk amin ~ yaampun kuaminin karena bales ini komennya kakak berasa pas 40 harian anaknya KaiSeul /WOI RISH SADAR/ ini ceritanya kalo nanti2 udah enggak sibok sama lembur mungkin bisa telaten buat cerita kayak gini XD berhubung di sini ada juga program yang berbau pendampingan suami-istri XD biar greget WKWKWKWKWKWK

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s