[Ficlet] A Glass of Pray

 

A Glass of Pray

 

Presented by Honeybutter26

Yixing x Mom

Ficlet

Family, AU

G

“Pernah aku melihat wajah Ibu pada gelap kedalaman cangkir kopi. Ada yang mencekik leherku ketika aku mengingatnya; doa-doa yang purba; yang masih berkelana; yang masih menunggu pintu langit dibuka.”  – Narasi Bulan Merah

 

Pernah Yixing menangisi hal-hal bodoh. Seperti ketika usianya tujuh tahun pensil kesayangannya dipatahkan oleh seorang teman dan Yixing menangis tiga hari tiga malam. Atau saat usia sembilan tahun Yixing menangisi kucing temannya yang mati tertabrak sepeda. Atau ketika usia tiga belas saat Yixing mendapatkan mimpi basahnya untuk pertama kali dan ia menangis dengan kencang karena mengira dirinya mengompol padahal apa yang dirasa dalam mimpi membuat seluruh serabut syarafnya tegang tapi berakhir melegakan.

 

Tapi kini Yixing merasa benar-benar bodoh untuk menangis. Benar-benar merasa bodoh untuk apa yang telah terlampaui.

 

Yixing. Arti namanya adalah orang yang menarik, penuh jiwa seni dan senantiasa dalam kebahagiaan. Itu pemberian Ibunya omong-omong. Sementara Ayah hanya menyumbang kata Zhang untuk ia pikul beban kehormatannya hingga ajal menjelang.

 

Seperti artinya, ia akui bahwa dirinya adalah orang yang cukup menarik. Iya cukup, cukup dengan satu senyum dan semua gadis bergetar jiwanya, berdebar hatinya, berdesir darahnya bahkan sampai mimisan jikalau Yixing tega menebar lebih dari sekedar senyuman. Berjiwa seni, jangan acuh atau pura-pura buta dengan kelihaian Yixing menggambar hati pada setiap mata yang melihatnya meliuk tubuh diiringi harmoni yang  bersenandung selaras dengan gerakannya. Atau tentang bagaimana Yixing menorehkan tinta cinta pada lirik lagunya yang membuat gadis-gadis jadi seencer kuah kari.

 

Ya, Yixing punya segala pesona itu. Yixing dikarunia segala kemudahan untuk menarik atensi orang-orang agar tertuju padanya. Dikaruniakan padanya pula sebuah kemudahan untuk menarik seutas kenangan jadi debu di angkasa. Terlupa, terbuang.

 

Sungguh kebodohan yang luar biasa. Membuat ia menggigil kala memoar itu terputar dalam benak.

 

Kepul asap dari dalam cangkir menyentuh pori. Aroma pekat kopi menusuk hidung, tapi matanya memanas, air mata siap berlinang di balik pelupuk mata alih-alih sebuah perasaan rileks oleh senyawa heterosiklik yang menyentuh reseptor bau pada otak. Ada satu kilas bayangan yang hadir pada kedalam cangkir kopinya.

 

Tentang dia yang terlupa.

 

Tentang dia yang tak akan berhenti untuk terus mencintainya.

 

Ibu.

 

Air mata itu akhirnya luruh kala netranya menatap tubuh renta yang berbaring di atas ranjang pesakitan. Wajah yang kian menua itu terlihat pias dengan keriput yang menggaris di ujung mata. Jarum infus menembus kulit tangannya yang nyaris tak dapat lagi dillihat apakah ada selapis daging di bawahnya. Yixing merasa tercekik, ngeri sekaligus ngilu yang menyerang ulu hati kala melihat semua itu.

 

“Ibu ….” Semua rangkaian aksara yang hendak terucap tertahan di tenggorokan. Panas. Semua frasa itu seakan-akan berubah jadi bara yang membakar kerongkongannya.

 

Carcinoma mammae stadium empat.

 

Yixing ingin mengumpat, menyumpah serapahi segala ketidakadilan yang Tuhan berikan padanya. Tapi semua umpatan itu sekali lagi musnah begitu ia melihat lagi pada tubuh renta itu. Bahkan di saat nyawanya berada di ujung genggaman, tangan tua itu masih erat memegang salib sementara satu tangannya yang lain memeluk al kitab yang ia letakkan di atas perut.

 

Berdoa untuk Yixing.

 

Selalu.

 

Tanpa pernah sekalipun terlupa.

 

Tanpa pernah sekalipun mengeluh akan berapa banyak doanya yang tak mendapat jawaban pasti dari Sang Pencipta. Sosok yang akan selalu dan selamanya menempatkan Yixing pada prioritas utama dalam hidupnya tak peduli bagaimana tulang-tulangnya mengapur termakan waktu.

 

Yixing jelas merasa menyesal sekaligus berdosa. Ia merasa tak pantas untuk semua cinta itu. Ia lalai, terlena oleh gemerlap dunia fana. Lupa bahwa cinta kasih yang selama ini menopang dirinya bukanlah dari tetesan keringat dan darah dari tubuhnya, bukan dari teriakan dari gadis-gadis yang kagum padanya, melainkan sebuah perjuangan tak kenal lelah dengan pertaruhan nyawa dari tubuh yang tengah tergolek tanpa daya di atas ranjang.

 

Berbait doa yang terpanjat di sudut malam. Yixing masih mengingat dengan jelas setiap pesan yang Ibu kirimkan untuknya agar tak lupa berdoa dan meminta kepada Tuhan. Tapi Yixing terlalu lengah oleh kemegahan yang memeluk erat hidupnya. Bukan hanya pada Tuhan, bukan hanya pada pesan-pesan yang membuat ponsel pintarnya berdering, tapi juga pada Ibu.

 

Tak lagi dapat ia ingat kapan terakhir kali mereka bersua. Kini meski penyesalan mengukungnya dalam gelap, rasa berdosa menyelimuti tubuhnya, Yixing tak akan mampu membalikkan keadaan. Seingin apapun ia agar ditukar keberadaannya dengan Ibu itu semua adalah mustahil. Sekalipun Yixing menghabiskan seluruh uang dan aset keduniaan yang ia miliki.

 

Kini Yixing kembali tersadar, dunianya bukan hanya tentang mimpi. Duanianya bukan hanya sekadar teriakan kagum gadis-gadis. Dunianya yang sesungguhnya adalah Ibu, perjuangannya, kasih sayangnya, cintanya. Yang tak lekang dimakan zaman. Yang tak terputus meski diterpa kerasnya arus.

 

FIN

 

 

Iklan

21 pemikiran pada “[Ficlet] A Glass of Pray

  1. Dear Honeybutter26,

    Annyeong author ^^ Salam kenal ya.
    Aku udah baca ficlet kamu dan aku izin ya untuk memberikan komentar.

    First of all, setelah membaca cerita kamu; aku langsung inget sama ibu aku. Aku jadi merasa bersyukur banget ibuku masih hidup dan sehat walafiat jadi aku masih bisa berusaha membahagiakan ibuku. Selamat ya, kamu udah berhasil menginspirasi pembacamu 🙂

    Menurutku akan lebih sesuai dengan jalan cerita jika judulnya jadi ‘A Glass of Regret’. Karena setelah aku membaca isinya; di dalam segelas kopi itu Yixing berkontemplasi dan menyesali mengapa ia kurang peduli terhadap ibunya. Impresi utama yang aku rasakan di cerita kamu adalah rasa penyesalan seorang anak yang mengacuhkan ibunya yang selama ini selalu mendoakan sang anak dengan tulus.

    Aku suka cara kamu membangun konflik batin Yixing. Dari sisi Yixing sebagai seorang anak, kamu berhasil menggali penokohan dengan menampilkan potongan-potongan kenangan masa lalu Yixing. Meskipun dalam kalimat yang pendek, aku bisa mendapat impresi kalau Yixing sebenarnya anak yang sensitif. Kemudian, kamu juga dengan ringkas menampilkan sisi keartisan seorang Yixing yang sibuk dan memiliki banyak penggemar.

    Seperti yang sudah diungkapkan sama komentator lainnya, diksi kamu memang juara banget. Kamu mampu merangkai kata-kata indah, sehingga kesan melankolisnya bisa dapet banget di cerita kamu. Namun, menurutku lebih baik kamu jangan terlalu menggunakan kata-kata yang terlalu panjang untuk mendeksripsikan sesuatu. Aku tahu maksudmu agar terbacanya lebih indah, tapi pada beberapa kalimat ada kesan berlebihan juga. Alih-alih terlalu detail dalam mendeskripsikan sesuatu, kamu bisa menulis lebih dalam tentang interaksi antara Yixing sama ibunya.

    Untuk typo, sudah dikoreksi sama komentator lainnya ya 🙂

    Aku ingin menambahkan kalau kata ‘yang’ itu sebenarnya kata preposisi / keterangan, jadi sepertinya kurang tepat penggunaanya untuk mengawali suatu kalimat. Kata ‘yang’ biasanya menjelaskan kata / frasa sebelumnya di dalam satu kalimat yang sama.

    Misal :
    Dunianya yang sesungguhnya adalah Ibu, perjuangannya, kasih sayangnya, cintanya. Yang tak lekang dimakan zaman. Yang tak terputus meski diterpa kerasnya arus.

    Koreksi :
    Dunianya yang sesungguhnya adalah Ibu, perjuangannya, kasih sayangnya, cintanya yang tak lekang dimakan dan tak terputus meski diterpa kerasnya arus.

    Overall, aku terinspirasi dengan cerita kamu dan aku merekomendasikan FF ini untuk dibaca sama teman-teman lain.

    Rate : 4 / 5.

    Disclaimer : Semua komentarku adalah berdasarkan interpretasiku terhadap cerita yang disampaikan oleh author. Apabila ada kata-kataku yang menyinggung, aku mohon maaf. Apabila aku ada kesalahan interpretasi, mohon diluruskan ya. Terima kasih.

  2. Jujur, sebenarnya aku agak kurang suka membaca cerpen yang ‘bahasanya berat’ atau ‘bahasanya terlalu puitis’ (Bagaimana ya cara mengatakannya? Hihi) Karena butuh waktu beberapa saat bagiku untuk memahaminya dan baru lanjut ke kalimat berikutnya. Tapi demi author yang telah membuat cerpen ini dengan sepenuh hati, aku tetap membacanya sampai akhir. Apalagi cast nya adalah Yixing, biasku. Yap, author berhasil membuat aku tercekat ketika membaca cerpen ini. Karena menyangkut tentang Ibu. Siapa sih yang ngga bakal pengen nangis kalau baca cerpen tentang seorang ibu? Apalagi ketika beliau sedang sekarat.

    Dan yang aku suka lagi, disini dialognya ga terlalu banyak gitu, lebih banyak ke narasi. Aku suka. Karena meminimalisir adanya ‘dialog yang nggak penting.’

    Dan ada beberapa typo juga, seperti di dalam kalimat: “Jarum infus menembus kulit tangannya yang nyaris tak dapat lagi dillihat apakah ada selapis daging di bawahnya.”, pada kata ‘dilllihat’.
    dan didalam kalimat: “Duanianya bukan hanya sekadar teriakan kagum gadis-gadis.”. pada kata ‘duanianya’. Gapapa, typo itu manusiawi, karena manusia itu tidak ada yang sempurna^^

  3. Cerita bagus banget! 👍 mengajarkan kita untuk ga lupa sama pengorbanan ibu. Dijaman sekarang kan banyak tuh yang udah punya banyak uang dan sibuk jadi ngelupain orang tuanya. Inspiring banget min! Tulisannya juga bahasanya berbobot banget kaya yang di novel2 😂 mauu belajar nulis kaya gini dah 😍😍😍

  4. Hai author-nim tercinta. Aku disini hanya akan bilang karyamu keren sekali:)
    Dari semuanya aku paling suka diksinya yang hard to understand but antimainstream and really beautiful. Jarang-jarang aku nemu fanfic dengan diksi seindah dan sekaya ini. Dari karya ini aku bisa menemukan beberapa kata yang baru pertama kali aku lihat seperti ‘memoar’.
    Selain itu penggambaran watak Yixing juga jelas meski hanya dengan kalimat-kalimat konotasi. Dan karyamu benar-benar menyentuh hatiku yang terdalam karena aku juga pernah merasakan apa yang Yixing rasakan disini. Rasanya ibu sakit, dan kamu hanya bisa menyesali kenapa dulu kamu selalu menyianyiakan kasih sayang seorang ibu, dan berakhir ibumu itu pergi meninggalkanmu untuk selama-lamanya. Mungkin karena cerita ini hanya ficlet jadi tidak dijelaskan akhir dari ceritanya tapi bisa ditebak kalau ibunya Yixing pergi.
    At least, terimakasih author-nim karena sudah membuat cerita seindah ini:))
    – Okta 2k17

  5. Hai penulis, let me tell you something about your story…

    Title (4/5)
    Segelas doa. I love it because it just doesnt sounds like a typical story. Aku pribadi suka banget sama judul-judul cerita yang anti mainstream seperti ini. Dan setelah kubaca, antara judul dan isi cerita matching.

    Poster (2/5)
    Kalau dilihat-lihat gambar Yixing disini Cuma buat ‘menarik’ calon pembaca yang lewat di beranda. Karena dari yang aku lihat ini Cuma gambar dari photoshoot dan belum bisa menggambarkan ceritanya.

    Foreword (3/5)
    Ada kutipan dari Narasi Bulan Merah yang aku tebak, entah ini benar atau tidak, yang menginspirasi author untuk membuat ff ini. Jika bukan, berarti pemilihan quotes dan isi cerita sangat pas, karena benar-benar menggambarkan inti dari cerita ini. Dari kopi, do’a, dan ibu.

    Plot dan alur (3/5)
    Karena sudah dijelaskan dari awal bahwa ini ficlet, jadi saya tidak berharap banyak dari plot.

    Characterization (3/5)
    Disini walaupun tidak dijelaskan secara langsung bahwa Yixing seorang artis, kalimat-kalimat yang dirangkai penulis sangat menunjukkan karakterisasi dari Yixing. Misalnya tentang bakat-bakat Yixing, dan sekumpulan penggemar. Jadi walaupun cerita ini pendek, penggambaran karakternya cukup kuat dan penyesalan tokoh akan Ibunya tersampaikan dengan baik.

    Spelling, Diksi (5/5)
    Suka banget diksinya, sedikit berat, dialogless, dan rangkaian katanya menarik. Ada satu kalimat yang aku suka di sini, “ … Sementara Ayahnya hanya ‘menyumbang’ kata Zhang untuk dipikul beban kehormatannya hingga ajal menjelang.”
    Terus terang aku baru pernah menemukan penjabatan tentang ‘marga’ dengan penjelasan seperti ini, dan aku suka.
    Typo-nya juga Cuma satu dua, ada kata ‘duanianya’. Terus aku juga jadi nambah satu suku kata, ‘memoar’. Soalnya baru pernah denger.

    Overall (8/10)
    Yang paling menonjol dari cerita ini adalah diksinya menurutku, jujur kalau aku sendiri lebih suka genre love au daripada family, tapi cerita ini sudah bagus dengan penyampaian penyesalan seorang anak terhadap ibunya.
    Tapi kalau dari alurnya, jujur kalau orang yang lebih mentingin cerita daripada penulisan pasti bakal bosen baca cerita macam ini. So good penulis mau dan bisa buat cerita genre family dengan bahasa seindah ini. Good job buat authornya. Keep writing!

  6. HUAA😭 ceritanya menyentuh bgtt:” jadi ingat ibu, yg selalu jaga kita , maafin kita TT. *usapairmata* . Jarang bgt ketemu FF yang nyentuh buanget kyk gini. Huhu . Hm, penggunaan diksinya bgus banget kyk bukan FF :” serasa baca puisi :” ㅋㅋ. Abisnya bagus bgtt TT . Oia, tpi ada beberapa bahasa yg kurang dimengerti, makanya agak mendok gitu bacanya;load dulu. Tapi overall ff ini bagus bngt, alurnya bagus, bahasanya bagus, amanatnya pun bgus😭 lengkap bgtt💖 hwating thor!💞 kutunggu karya lainn💘

  7. Pertama baca ff ini di Exo fanfiction Indonesia di line dan langsung sukaa :v huahh suka sama diksinya. Jarang nemu ff yang hampir 95% nya itu narasi, biasanya pasti kebanyakan dialog. Tapi meskipun ini narasi, enggak ngebosenin, menurut aku yang masih pemula cerita ini natural, alurnya ngalir sendiri. Pengen bisa kayak gini thor coz aku kalau bikin cerita eh pas baca ulang malah kok jadi kesannya maksa -. Tolong ajarin aku thor:v Betewe aku juga suka sama peletakan narasi Bulan Merah di awal pembuka cerita, sinkron dengan jalan ceritanya yang tentang ibu. Paling untuk saran, ada typo yang harus diperbaiki kayak “melllihat” tapi gak papa thor typo itu manusiawi 😂 good job thor

  8. Cerita ini kalo diibaratin kaya duit di ATM-nya Suho, ngalir terus. Mengalir, tapi menimbulkan bekas, di sini, di hati. Bahasa yang digunakan mudah dipahami, pembaca ga harus mikir keras ini apa, hanya perlu mengikuti kemana arus cerita ini berujung dan pesan yang ada di dalam cerita juga nyampe banget ke pembaca. GOOD JOB SIH PARAH 💜 Meski begitu jangan gampang puas diri kak, masih banyak bakat dalam diri kamu yang harus digali lagi untuk ngedapetin sesuatu WOW. Fighting!!! Terus berkarya yaaa…

  9. Aku baca ini jadi ikut keinget masa kecil yg kalo salah dikit nangis, aku juga keinget dulu pas jaman tk matahin pensil temen malah aku yg nangis bukannya temenku yg pensilnya aku patahin.

    Pokoknya cerita ini wajib dibaca, kalo perlu temen temennya di rekomen buat baca cerita ini, nyentuh banget. :))

  10. Bagus ceritanya enak juga dibaca, ceritanya dalem banget dan ngena di hati pembaca , bahasanya juga mudah di pahami …. Dan di tambah authornya make yixing buat tokohnya ,,,, daebakkk kaa

  11. Hai, Honneybutter26. Sebelumnya terima kasih atas karyanya yang sangat amat cantik ini. Tapi, balik lagi … kesempurnaan hanyalah milik Tuhan, kan? Jadi siap dibantai ya? Haha *bercanda XD

    Pertama, aku pengen negesin dulu kalo komenku ini hanyalah sebatas sharing aja, yang mana bisa kamu ambil yang baik dan hilangkan yang buruk. Ngga bermaksud menggurui dan mendewakan diri sendiri. Mumpung juga lagi bosen sama tugasnya mahir (mahasiswa akhir haha).

    Dari judul nih … sebenernya selera penulis sih ya, tapi aku sebagai pembaca tetep enak berbahasa Indonesia (kalo ga salah judulnya: Segelas Do’a bukan ya?). Lagian di dalem cerita juga ngga ada sebutan yang bahasa asing kan? Sarannya disinkronkan aja sih. Keren lho, apalagi nih diperkuat dengan headline yang Narasi Bulan Merah itu. Eeuuhhh … semvurnah.

    Eum … trus ini:
    “Yixing dikarunia segala kemudahan … .”
    Ini memang sengaja dikarunia, atau emang typo yang sebenernya dikaruniai atau dikaruniakan? Soalnya agak kurang pas kalo cuma dikarunia. Oiya, ngomong2 typo, masih ada typo juga ya “dillihat” … hayooo? :v

    Lalu soal jalan cerita … menurutku agak kurang menyentuh gitu, rasa-rasanya hampa tapi berkesan. Mungkin karena cerita pendek kali ya? Tapi ada pesan di sana. Oke ngga apa-apalah, bisa diperbaiki lagi, buat cerita yang lebih hidup (lagi). Atau mungkin dari sudut pandangnya juga bisa berpengaruh kali ya? Terus mencoba. ^^

    Untuk bahasa, dan penyampaian deskripsi … ngga aku komen deh, soalnya inilah gaya kamu. Gaya menulis kamu memang seperti ini. Sudah, jangan dirubah lagi. Sudah indah. Tetep belajar, semangat, jangan sampai berhenti menulis sehari pun. :3

    Salam kasih,
    WhitePingu95

    • Bhaqs iya itu semua typohh kucinta typo sampai gapernah bisa mup on dari typohh.. buat judulnya aku emang udah bingung dari awal ini ff dibikin sampe selese ini ff dibikin 😂😂 milih judul sesusah nyari jodoh cyiiin

      Bhaqs iyahh mohon dimaklum ane udah berbulan bulan gak nulis jadi pas nulis lagi agak kaku gini apalagi mahasiswa tingkat akhir yang kebiasaan nulis skripsi sama revisi 😂😂 jadi makin kaku kek kanebo kering 😂😂

      Maunya juga nulis teros tiap hari neng.. nulis epep kamsudnya apalah daya malah tiap hari nulis revisian 😭😭😭

      Btw makasih ya sarannya.. sangat membantu syekali 😁😁😁 sini civok mesrah dulu sini 😗😗😗

    • Omegaaaddd … temen seperjuangan. Sama-sama lagi berjuang tugas akhir. Sama-sama mahir (mahasiswa akhir). Hahahaha. Semangat untuk skripsinya yah. Nulis epep-nya dirajinin, maksutku tiap bosen ama revisian, nulis epep. Bhak! 😂

      Ini juga aku balik baca karena udah bosen revisi terus. Sampe ngumpat-ngumpat like, “Maunya apa tuh Dosen?!” 😂

      Terima kasih lho atas kecupan mesranya. Terima kasih juga udah bales komenanku yang … eum panjangnya kaya rel. 😁

  12. This good fanfic 🙂 tulisan si author nih sangat bermakna dan berpesan. Memang diksinya sangat bagus, membuat para reader mendalami pemaparan tsb .. bikin baperr, ingat ibu. I love this !! ❤

    • Sejujurnya ini cuma berpesan aja.. kalo bermakna itu mungkin kurang tepat karena tata bahasa sama kalimatnya masih acak adul dan kaku banget kek kanebo kering 😂😂

      Btw makasih udah baper.. sini civok dulu 😗😗

  13. deep:”) ceritanya dalem dan nyentuh banget. aku suka pemaparannya dan diksinya cantik sekalii huhu biasanya cerita yang didominasi sama narasi dan minim dialog jatuhnya ngebosenin, tapi khusus buat fanfiksi ini aku sama sekali ga ngerasa bosen bacanya (mungkin karena pemaparannya yang enak kali yah). alur dan ide ceritanya juga tersampaikan dengan sangat sangat baik. great job kaka author!! ku suka tulisanmu♡

    • Bhaqs kalo diksinya cantik mah itu fitnah kalo akunya yang cantik itu baru bener /kemudian dibalang sendal/ 😂😂😂

      Aku gak jago bikin dialog yang banyak.. ini tulisan juga kek dipaksain banget aslinya 😂😂 dedek mah masih butuh banyak bimbingan kakak.. bimbingan skripsi terutama 😂😂

      Btw maacih yaaa.. sini civok sini 😗😗😗

  14. Keren banget !!!!! padahal intinya cuma sederhana: ingatlah ibu kita, tapi diksinya ituloh bikin merinding!!! Pas banget si author ngambil Yixing jadi tokoh utamanya! DAEBAKK BUAT INI!!!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s