Shadowed By You — Joongie

Shadowed By You

Joongie © 2016

Byun Baekhyun || OC’s Hong Sera || Oh Sehun || Irene Bae

AU, Angst, Romance

Vignette (PG15)

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

Summary :

Kata orang, hitam itu perlambang duka. Namun bagi Baekhyun… hitam itu latar hikayat hidupnya.

.

.

These wounds won’t seem to heal…

This pain is just too real…

There’s just too much that time cannot erase….

.

.

Campakkan jauh-jauh sugesti soal kerupawanan. Juga tatapan maskulin dua lensa yang mengapit batang hidung. Lantaran netranya yang bergradasi gelap terlanjur layu, kosong dan dingin menyerupai sisa-sisa arang basah. Satu-satunya yang tersisa cuma wajah yang tenang. Tidak ada vokal berat nan membius, yang muncul hanya desis rintihan. Tanpa kulit jantan yang terbakar matahari, ia tetap berusaha merangkai ekspresi dalam dominasi warna pucat.

Dari jutaan warna yang mampu dideteksi mata, yang melingkupinya—di waktu ini—cuma patron mati. Hitam. Lebam kehitaman; darah beku yang memekat jadi corak gelap; koreng-koreng nyaris kering yang menghitam; benang-benang hitam yang menjahit kulit.

Seakan hitam adalah adiksi jiwanya nan redup.

Namanya Baekhyun, pemilik dari deskripsi malang tadi. Datang ke rumah sakit dengan kondisi kritis—kasarnya ia sekarat dan nyaris mati. Juga alasan telak terbaringnya Baekhyun di ranjang biru muda berbau karbol menyengat. Regulator O2 di dinding berbuih-buih, mengantarkan oksigen setiap menitnya melalui kanula hidung untuk Baekhyun. Ia bisa kejang dan bernapas seperti kesetanan, kalau benda itu malfungsi.

“Aku bawa ayam goreng dan soda!”

Atensinya bergeser dari paras perempuan berterusan pastel kepada pria kurus berotot yang tersenyum lebar. Menenteng tinggi-tinggi kantong plastik di kedua tangan sambil menarik kursi menggunakan kaki untuk diduduki. Suara bariton serta keceriaan saudara tirinya yang dibuat-buat itu, membuat Baekhyun menghirup jatah oksigennya sedikit lebih kuat.

Irene mendelik suaminya penuh arti. Membisikkan telepati melalui gelengan kepala yang tidak kentara dan desahan napas, manakala manik obsidian mereka berserobok.

“Aku tahu sebenarnya masih belum boleh. Makanya jangan bilang-bilang dokter kalau aku belikan semua ini untuk Baekhyun,” terang Sehun tetap cuek menyalin ayam-ayam renyah beraroma lezat itu ke piring.

“Sayang….” Irene menyentuh pundak Sehun, sadar akan gelagatnya yang ganjil.

Paras Sehun menegang, ia tak mengindahkankan isyarat sang istri. “Sekali-sekali tidak masalah, kan? Memangnya kau tidak kasihan melihat Baekhyun terus-terusan disuapi bubur hambar?”

“Kau setuju denganku kan, Baek?” imbuhnya dan Baekhyun cuma tersenyum lemah dengan bibir keringnya yang mengelupas. “Biar aku naikkan ranjangmu supaya kau bisa bersandar.”

“Hun….”

“Ya?”

“Ceritakan sesuatu,” pinta Baekhyun yang suaranya nyaris seperti embusan napas. “Aku ingin dengar sesuatu… suara televisi terlalu bising kalau dinyalakan.”

“Kau pasti bosan, ya?” Sehun dan Irene berpandangan sekilas, lalu ia merapatkan diri ke telinga Baekhyun. “Sambil kusuwirkan ayam untukmu, ya? Dan Sayang, bisa tolong kupaskan apel yang juga kubeli tadi? Itu apel ranum, jadi Baekhyun tidak perlu susah-susah mengunyahnya.”

Irene menyanggupi, meraih pisin serta pisau buah ke pangkuannya dengan lesu. Kulit-kulit apel berjatuhan, bersama perasaannya yang campur aduk. Ekspresi Irene menunjukkan gestur tidak nyaman; tidak tenang; tidak percaya. Apalagi atmosfer ruangan berdinding putih itu jadi semakin tak menentu. Jadilah ia mengatupkan mulut rapat-rapat.

“Ingat tidak bagaimana kita pertama kali bertemu Irene? Waktu itu kita sedang berkumpul di restoran ayam goreng bersama Suho, Kyungsoo, Chanyeol, dan Kai.” Sehun memulai kisah, pandangannya menerawang ke kejauhan yang teramat jelas dalam memori.

Baekhyun mengangguk, maniknya menyorot gadis paling cantik se-Daegu yang kini jadi iparnya. Dibayangkannya saat Irene yang berseragam sekolah tengah duduk anggun dan dipelototi oleh para gerombolan tengil—iya, geng mereka.

“Dia sangat cantik,” Sehun melirik istrinya, “seperti dewi. Chanyeol yang menyukainya lebih dulu, lalu aku pun luluh. Dan Kai berniat menggoda gadis-gadis SMA itu.”

“Ya, dia memang sangat cantik,” kata Baekhyun membenarkan.

Irene tersipu, salah tingkah dihujani kembang-kembang nostalgia.

“Saat Kai mendekati mereka dengan sok keren, kau dan Kyungsoo langsung mencuri kulit ayam kesukaannya yang sengaja disisakan untuk dimakan terakhir. Seperti pencuri kecil yang mengincar buah kesemek Pak Jung. Tapi, Kai tahu dan buru-buru kembali, sampai dia menabrak anak kecil dan cream soup panas di nampannya tersiram ke selangkangan Kai. Lalu—”

“Kai refleks memelorotkan celananya di depan para gadis, karena takut asetnya melepuh sambil berteriak kesakitan,” sambung Baekhyun yang kontan tertawa lirih, lantaran memar di rahangnya turut berdenyut.

Sehun ikut terbahak seraya menunjuk-nunjuk wajah Baekhyun. “Bingo! Parahnya kau malah tertawa paling keras, sampai soda yang kau minum menyembur dari hidungmu.”

“Sudah, cukup tertawanya. Nanti gigi kalian copot.” Irene memandang Sehun dan Baekhyun bergantian, duo kakak beradik yang sama tidak warasnya.

Sementara itu, Baekhyun semakin tak terkendali dan seakan lupa letak tuas kontrol untuk menghentikan tawa yang terus berusaha menyembur dari mulutnya. Tubuhnya bergetar. Otot-otot abdomennya berkontraksi. Satu… dua… tiga… tawa segera berganti isak. Napasnya tersengal. Sakit yang teramat dahsyat menerjang jantungnya. Baekhyun memicingkan mata tanpa berupaya menyudahi linangan air mata.

“Ada apa? Dadamu sakit lagi?” Sehun tergopoh-gopoh bangkit mengetahui Baekhyun mulai meremas dadanya dengan tangan kurus berinfus.

Baekhyun menggeleng. Sekujur tubuhnya mulai mengejang.

“Aku akan panggil dokter!” seru Irene dan entah dari mana asalnya kekuatan itu, kelima jari Baekhyun telah mencengkeram pergelangannya, memintanya berhenti.

“Bisa… tinggalkan aku sendiri?”

“Meninggalkanmu dalam keadaan begini? Jangan konyol, biar aku pang—”

“Kami akan keluar.” Sehun menyela, menggiring wanitanya pergi meski ia bersikeras tinggal. Irene menatapnya kesal, dia cuma tidak mengerti. Walau terkadang hal-hal tidak perlu dijelaskan, tapi perlakuan ini janggal. Seolah-olah mereka telah saling tahu.

❀❀❀

Suara hujan serta gelegar gemuruh yang bertemu angin dari luar jendela kian menelangsakan keadaan. Memunculkan kembali kepungan patron hitam yang sempat tersamar keceriaan imitatif. Baekhyun meringkuk, terbatuk-batuk juga menangis bersamaan, lantaran rasa sakit betah mengendap di rusuknya.

Kegelitaan memekat. Hitam yang senyap menginvasi pandangan Baekhyun. Dingin menggenapi, merayap liar dari ujung-ujung sarafnya. Alih-alih gemang, yang muncul di wajahnya justru senyum ganjil. Pemandangan yang mungkin membuat malaikat maut meringis segan.

Di ujung irisnya nan temaram, paras ayu beraura lembut menyeruak perlahan. “Sera…,” suara paraunya mengimbau.

Kulit mulusnya berbalut gaun brokat hitam, Sera selalu cantik. Gadis berambut ikal dan berwajah teduh itu menatapnya kasihan, sebab ia bukan lagi Baekhyun yang gagah.

“Kau marah?”

Sera menyangkal, tersenyum sambil memandang Baekhyun dalam kedamaian lensa beningnya. Perasaan Baekhyun berangsur tenang. Bak analgesika paten, eksistensi Sera memudarkan sakitnya. Apalagi sewaktu jemari mungil itu meraba memar-memar cantik di wajahnya.

Terasa nyaman bagai candu.

“Jangan pergi lagi….”

Kedua lengan Sera terulur, telaten menjamah Baekhyun dalam dekapnya. Bersama kelelahan yang hebat, energi Baekhyun meredup. Segenap komponen vital dalam tubuhnya bergantian padam, termasuk mesin intinya nan kian senyap. Masih dalam pelukan Sera, senyum getir mengembang di bibir Baekhyun.

Aku takut, sekalinya mata ini terpejam… kau menghitam,

Kembali melebur bersama kegelapan dan luntur dalam ingatan.

Tetaplah di sini sampai kita temukan tempat yang lebih baik.

“Sera… aku senang… kau menepati… janjimu.” Dan kelopak matanya jatuh perlahan-lahan bersama gugurnya daun terakhir dari pohon bernama kehidupan.

Hening semakin menghening.

❀❀❀

Kening Baekhyun mengernyit, tergagau lantas tersentak bermandikan peluh. Ia seperti baru saja tersedot ke lubang hitam, kemudian dihempaskan tanpa ampun. Tapi nyatanya, tak seinci pun Baekhyun bergerak dari sandaran Sera.

Tunggu… apa aku baru saja lihat….

Baekhyun membelalak, napasnya tertahan. Tercengang oleh penglihatannya. Kemudian bak kesetanan ia mendekap gadisnya, meluruhkan segenap air mata bercampur kerinduan kental. “Aku… aku rasanya mimpi, kau meninggal lalu aku… aku kecelakaan, sekarat dan semuanya beran—”

Sera menyeka mata Baekhyun. “Baekhyun-ah, lihat aku. Aku di sini. Bersamamu. Jadi jangan pikirkan apa pun lagi,” tuturnya sehalus mungkin.

Pemuda itu trenyuh, Sera memang tidak pernah kehilangan ketenangan di wajah feminimnya. Sesulit dan seminim apa pun harapan. Entah mantra apa yang dilisankannya barusan, yang jelas Baekhyun merasa bila percaya pada Sera adalah keharusan. Jadi ia mengangguk, turut bangkit ketika Sera menggiringnya menapaki pasir.

“Aku suka kehitaman malam ini.”

Bersama debur gelombang, dersik angin dan sinar badar nan kalah anggun. Iris Baekhyun masih memantulkan refleksi gadisnya. “Karena bintangnya jadi terlihat terang dan kunang-kunang leluasa berkerlap-kerlip?”

Sera tidak langsung menjawab, malah tertawa kecil seraya memandu Baekhyun ke padang ilalang. Kala alang-alang seakan berdansa dengan pawana, mereka berdiri di antaranya, bergantian mengagumi diri.

“Langitnya hitam, jadi bintang bisa bebas berkeliaran.” Sera mendongak, menunjuk-nunjuk pijaran bintang dengan antusiasme anak kecil. “Oh, lihat! Di sana ada rasi bintang cassiopeia juga.”

Sebelah alis Baekhyun meninggi. “Bukannya itu biasa?”

“Menurutmu begitu? Tiap kali aku lihat bintang, aku selalu memikirkanmu.” Tatapan juga senyum Sera menyendu, menjadikan Baekhyun rikuh. “Di sini aku menunggumu dan berdoa untukmu. Berharap kelak kau akan menyadarinya.”

Cinta, sesuatu yang otomatis ditafsirkan hati Baekhyun. Pemuda itu menghela napas. Tersenyum dan membawa Sera dalam rengkuhan hangat. “Terima kasih untuk setiap doa dan penantianmu,” ucapnya sesaat sebelum kecupan hinggap di kening Sera.

Bersama keyakinan yang lebih kuat dari sebelumnya, kami melangkah. Mempersilakan kunang-kunang menuntun jalan dengan cahayanya yang lembut. Menembus batasan akal sehat ketika jiwa kami serasa melayang-layang. Ringan juga bebas.

Dan kami pun memudar, perlahan melebur dalam kehitaman malam.

❀❀❀

Seoul, 2046.

Tanpa perlu disuarakan, Irene tahu bila Sehun butuh dekapan erat. “Aku sudah tahu saat dokter memintaku mengabulkan segala keinginan Baekhyun. Mereka bilang dia sudah terlalu lemah, Baekhyun… dia—”

“Aku yakin Baekhyun sudah bahagia bertemu Sera di alam sana,” sela Irene sambil menepuk-nepuk punggung suaminya. “Kau tahu betapa dia mencintai dan merindukannya, bukan?”

“Aku tahu….”

Irene mengusap pipi Sehun yang berlumuran air mata dengan jari-jarinya yang keriput. “Kau harus mengikhlaskannya, Sayang. Penderitaannya telah berakhir dan Baekhyun pergi ke tempat yang lebih baik.”

Sehun memandang foto mendiang saudaranya sekali lagi. Baekhyun yang tersenyum lemah, barangkali sudah lelah dengan hidupnya sejak lama. Piguranya dihiasi bunga seruni dan disematkan pita hitam. Sehun lalu sedikit merapikan kerutan pada jas hitamnya sebelum melangkah—dengan penuh ketegaran hati—sambil menenteng setangkai seruni.

Istirahatlah dengan tenang di surga, Baek.

Matanya kembali berkaca-kaca, sewaktu Sehun meletakkan seruni putihnya dan meraih sebatang dupa. Ia menyalakan dan menancapkan dupa di kendi, memberi penghormatan terakhir dengan membungkukkan badan di hadapan foto Baekhyun.

Tinggalkan rasa sakitmu dan berbahagialah bersama cintamu.

Dari dunia ini, aku dan Irene mendoakan yang terbaik untukmu.

❀❀❀

Pulau Dongbaekseom, 2016.

Baekhyun menggendong pengantinnya, Sera, yang terlalu lemas untuk sekedar meniti langkah di jalanan berpasir. Punggung suami yang baru dinikahinya beberapa jam yang lalu itu terlampau hangat dan nyaman, alasannya. Sementara sebelah tangan Baekhyun menyeret tangki silinder hijau berisi oksigen untuk istrinya.

Kita mau ke mana?

Ke mana saja… asalkan bersamamu tidak masalah.”

Padahal kau yang minta ke sini.” Baekhyun mendesah pelan melirik Sera yang menumpukan dagu di bahunya. Mukanya pucat dan matanya sayu, yang paling menyayat hati adalah keberadaan selang transparan bercabang yang melingkari wajah mungilnya dan bersatu di lubang hidung.

Kau ini aneh. Cuma kau pengantin wanita yang menggunakan gaun hitam di hari pernikahannya. Padahal tradisi mengatakan gaun putih itu melambangkan kesakralan dan kesucian,” sambung Baekhyun seraya menilik ekor gaun Sera yang terseret-seret di pasir.

Sera menyeringai lemah dengan wajahnya yang bengkak. “Kau tahu? Hitam itu warna akhir dari kehidupan manusia. Karena hitam merupakan representasi dari tidak hadirnya semua spektrum cahaya yang ada di alam. Alias… mati.”

Jantung Baekhyun spontan mencelus. “Hidup siapa yang akan berakhir? Jangan asal bicara Hong Sera!” Ia tahu intonasinya barangkali terdengar kasar, tetapi ucapan Sera barusan sungguh membuat darahnya seakan terserap keluar dari tubuhnya.

Baekhyun….”

Hm?

Ini hari yang paling indah…,” lirih Sera sesaat sebelum kepalanya terkulai dan dekapan lengannya di leher Baekhyun jatuh terlepas.

Matanya terpejam. Tak ada pergerakan dan dingin. Bulu kuduk Baekhyun meremang dan anggota geraknya ikut menegang. “Se… Ra?

Jawab aku, Sera….

Hening. Tidak lagi terdengar jawaban. Bibir merah jambu itu selamanya terkatup rapat. Gunung emosi Baekhyun meledak, wajahnya menekuk sementara air mata bergantian turun. Lututnya melemas, namun tetap terpaku di tempat. Dadanya kembang-kempis dan napasnya tersengal-sengal.

Baekhyun luluh lantak. Separuh jiwanya pergi.

Sayang, mau janji?” Setetes air mata bergulir turun dari pelupuk Baekhyun. Ia masih berusaha bicara sewaktu kerongkongannya meneguk kesedihan. “Nanti, kalau sudah tiba waktunya… jemput aku, ya? Ajak aku ke tempat damai yang sering kauceritakan selama ini.”

—Fin—

 

Dan begitulah ceritanya berakhir, aku harap kalian bisa dapet pembolak-balikan waktu dalam cerita ini karena aku ga bakal menjelaskan wkwkwk, silakan nikmati dengan imajinasi kalian sendiri XD

Terima kasih buat kalian yang sudah membaca, sempatkan menulis komentar sebagai pelajaran buat aku di tulisan selanjutnya ❤ Psst, aku bukan author yang garang kok jadi kalau mau nulis kritik atau saran pun aku terima dengan legowo XD

 

 

XOXO,

Joongie

Iklan

11 pemikiran pada “Shadowed By You — Joongie

  1. Sedih bngt 😭😭😭😭 hiks.. Hiks…. Hiks….
    Author sukses buat aku nangis, dikirain si sehun ama irene jahat ama baekhyun eh ternyata itu permintaan baekhyun yg terakhir hiks.. Hiks… 😭😭 tpi ternyata sera nepatin janjinya ama baekhyun buat jemput dia suatu saat dan mereka akhirnya berada di alam sana
    Makasih thor ceritanya bgus bngt feelnya dpt bngt deh pokoknya 👍👍👍👍

    • Pukpuk don’t be sad :’3
      Hahaha kamu juga terkecoh ya, ngga kok sebenernya Sehun sayang sama Baekhyun tapi mau bagaimana lagi waktunya sampai :’3
      Hihi thank you 😘

  2. Awal2 kirain 세훈 jht ke 백 krn mrk step brother /kirain 백 sk ma iren or 세훈 ngrebut iren dr 백, ga ngeh ma OC sera 😅
    Pas mrk flashback jmn sklh kocak bgt! 😂 ㅋㅋㅋㅋㅋ tp udahan’ny sdih sngt 😭 & br phm sbnr’ny 백-훈 slng syng. Dpt ko pembolak blk-kan alur wkt’ny. Hmpr 6bln yll I lost my younger bro krn traffic accident & penanganan RS yg lamban 😢 pasca my loss tu bbrp x bc ff di exoffi ni yg ttg death/smcm’ny, it’s touching & hearthreaking @ d’same time 😢 /미안 curcol
    Diksi kamu ok & crita ff ni bgs 👍 짱!!

    • Hahaha terkecoh ya? Ga kok opening itu cerita masa tua mereka sebenarnya kemudian aku cuma dapet inspirasi yang katanya orang sebelum meninggal suka didatangin orang” tersayang yang sudah pergi duluan dan ngalamin yang namanya halusinasi plus flashback :’3

      Uuuuuh I know that feel mbaaa, turut berduka cita ya /sending virtual hug {}
      Aku juga kehilangan kakak laki” tahun 2014 lalu, karena silent killer aka cancer :’))
      Ga ada salahnya curcol kok toh ga dosa 😆

      Btw thank you 😘

  3. diksinya bagus banget yahh, kata-kata yang kamu rangkai itu keliatan bgt kalo kosa kata di kepalamu banyak. meskipun di beberapa tempat ada yang over, soalnya kalo kebanyakan jadinya lebih fokus mikir artinya bukan feelingnya

    • Hihi thank you, ngga juga kok sebenarnya aku masih memperbanyak diksi lagi xD
      Iya nih hihi tulisan 2016 jadi ada kesan over-nya “uhuks masih mengutamakan eksplorasi deskripsi yang berlebihan” jiakakaka xD
      Btw seneng deh ada reader kek kamu, makasih yaaaa muah 😘

  4. JJANG AUTHORNIM….
    Hah 2046 ya….Aku menangisnya terisak-isak seperti Oh Sehun…Hah seindah-indahnya warna-warni diseluruh dunia,mmng wrna hitam itu adh warna y pling menohok.

  5. JJANG AUTHORNIM….
    Hah 2046 ya….Aku menangisnya terisak-isak seperti Oh Sehun…Hah seindah-indahnya warna-warni diseluruh dunia,mmng wrna hitam itu adh warna y pling menohok.

  6. Sehitam arang, kenangan, yang dalam diam merangkak menciptakan rindu yang meremang.

    Akhirnya Baekhyun ketemu sama Sera lagi, meski dalam keadaan yg bisa disebut hitam, akhir nafas pohon kehidupan.
    Baek:’)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s