Surrounded! (Chapter 03) – Shaekiran

SURROUNDEDcoverrrr

Surrounded!

A Fanfiction By Shaekiran

Main Cast

Park Chanyeol & Son Wendy

 

Other Cast

Lee Donghae, Kim Jinwoo, Bae Irene, Kim Yeri, Kim Jongdae, Byun Baekhyun and others.

Genres

Romance? Action? Family? Frienship? AU? Dark? Mystery?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Cerita ini merupakan sebuah hasil pengembangan ide yang tercipta di neutron otak manusia ambigu (Re:Shaekiran) yang anehnya sedang bekerja waktu itu. Hanya karangan fiksi yang jauh dari kata sempurna dan sarat akan cacat baik dalam penulisan, frasa, diksi dan banyak lagi. Selamat Membaca~

 

Previous Chapter

Prolog | Chapter 1 | Chapter 2 | [NOW] Chapter 3 |

 

– 

-Terlupakan atau dilupakan?-

  

 

Chanyeol merasa badannya mungkin bisa saja remuk, atau ia akan segera berbaring di ranjang rumah sakit kalau begini caranya. Bagaimana tidak, sudah habis suaranya berteriak memekik kepada gadis di depannya itu, tapi yang ia dapat hanya sebaris kalimat tanya yang sungguh menohok hati terdalam Chanyeol.

“Apa penting buatmu?”

Ya, Chanyeol bisa gila mendengar pertanyaan Wendy itu. Ayolah, apa gadis itu memang tidak sadar atau pura-pura tidak tau kalau Chanyeol sekarang sedang menahan diri agar tidak mengumpat karena ucapan si gadis? Mungkin ini alasan banyak lelaki di muka bumi ini menyebut wanita adalah suatu hal yang patut mereka hindari karena wanita itu merepotkan dan banyak tanya.

“Itu tentu saja penting nona. Kau baru saja hampir sekarat di Unit Gawat Darurat beberapa menit yang lalu kalau saja aku tidak tanggap dan menarikmu agar tidak terkena akuarium itu, lalu kau bertanya apa itu penting?” Wendy terdiam, sedang Chanyeol masih menggebu melanjutkan kalimatnya.Toh sekarang mereka berdua sudah ada di dalam kantor polisi lagi karena Wendy yang menolak pergi ke rumah sakit, juga pupus sudah harapan Chanyeol mengejar pelaku pelemparan itu karena Wendy yang sedari tadi menahannya pergi dan dengan bodohnya ia menurut.

Sebenarnya sihir apa yang sudah dipakai gadis itu, eoh? Chanyeol biasanya lebih keras kepala daripada ini, dan benar saja, sekarang Chanyeol menyesali keputusannya berdebat dengan Wendy dan membiarkan sosok misterius itu kabur begitu saja.

“Siapa dia? Kau mengenalnya ‘kan? Cepat beritahu aku siapa orang tadi!” masih saja Chanyeol memekik, dan masih saja Wendy ogah menjawab. “Tidak tau,” jawabnya acuh lalu berdiri dari posisi duduknya karena sekarang ia harus memasuki ruang introgasi perihal kejadian setengah jam lalu.

Chanyeol memandang punggung Wendy yang perlahan menjauh dan menghilang dibalik pintu, punggung itu rupanya sudah membuatnya gila berlebihan akhir-akhir ini karena sekarang Chanyeol sudah menjambak rambutnya frustasi. “Sial!” umpatnya lagi tanpa peduli anggota se-divisinya yang memandangnya aneh.

 

 

“Apa yang mereka tanyakan?” Chanyeol akhirnya berinisiatif memulai percakapan pertama kali karena suasana di dalam mobilnya yang terkesan sangat dingin. Perlahan lelaki itu melirik Wendy yang hanya duduk sambil memangku wajah di bangku belakang –ya, lagi-lagi gadis itu memperlakukannya sebagai seorang supir.

“Tidak banyak, hanya beberapa pertanyaan sederhana,” jawab Wendy dingin, enggan memasang mimik lebih tertarik ke arah pembicaraannya dengan Chanyeol sekarang. Terbukti karena gadis itu sendiri nampaknya lebih suka memalingkan wajah ke arah jendela dibanding menatap Chanyeol yang duduk di balik kemudi.

“Kau jawab semuanya ‘kan?” tanya Chanyeol lagi, ntahlah, dia hanya merasa perlu berdamai dengan Wendy –meski tidak ada pertengkaran yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Pikirnya Wendy akan lebih terbuka kalau mereka sudah lebih akrab, yah, insting detektif-nya masih menjebaknya berpikir bahwa Wendy tau lebih dari apa yang dia ketahui tentang kasus yang tengah ia tangani itu. Dia butuh jawaban Wendy yang benar-benar jujur, hanya itu saja.

“Ntahlah, aku tidak yakin,” Chanyeol diam, enggan melirik Wendy yang menatap kosong jalanan dibalik jendela kaca mobilnya yang buram lewat kaca spion-nya lagi. Ntahlah, dia hanya sedang tidak mood beradu argumen lagi dengan gadis penulis naskah itu. Bisa-bisa ia kewalahan karena Wendy mulai bermain kata yang tentunya membuatnya malas sendiri.

Hening akhirnya kembali mendominasi suasana dalam mobil. Tak ada yang memulai konversasi baik Chanyeol maupun Wendy, yang ada hanya diam hingga akhirnya suara berat Chanyeol mulai merangkak masuk ke dalam pendengaran gadis itu lagi.

“Kita sudah sampai,” lirih Chanyeol yang sekarang sudah menginjak pendal rem mobilnya hingga otomatis mobil kesayangannya itu menepi di pinggir sebuah rumah mewah di daerah Gangnam yang menjadi lokasi syuting drama kali ini. Wendy tak ambil pusing, ia hanya mendesah pelan sebelum akhirnya membuka pintu mobil dan keluar dari Range Rover hitam kepunyaan Chanyeol yang sering kali gadis itu anggap terlalu mewah bagi seorang petugas kepolisian.

“Terimakasih?” bukannya penyataan, malah nada Wendy sekarang seperti bertanya, agaknya menyindir Chanyeol seperti haruskah ia mengucapkan terimakasih pada lelaki itu? Ya, tolong ingatkan Chanyeol menggaris bawahi sifat gadis ini yang sungguh membuatnya dongkol, dia gadis yang tidak tau berterimakasih.

 

 

“Ya, aku akan pulang minggu ini,” ucap Chanyeol pasrah akhirnya, tersenyum sedikit, lalu segera mematikan panggilan telfon paling memuakkan selama 25 tahun ia hidup di bumi. Bukan, bukannya ia tidak suka ibu-nya menghubungi dan menyuruhnya pulang ke rumah keluarga mereka di akhir pekan ini, masalah Chanyeol malas saja setelah tau alasan ibunya mengundang Chanyeol pulang ke rumah.

Chanyeol yang sudah melempar ponselnya asal ke atas dashboard mobil itu pun hanya bisa menghela nafasnya kasar, sangat kasar sebenarnya karena sekarang dia benar-benar kesal. Malas berpikir, Chanyeol akhirnya memilih merebahkan diri saja sambil bertumpu ke sandaran kursi mobilnya, sambil meletakkan lengan kanannya di atas wajah hingga menutupi mata. Jika boleh, Chanyeol ingin tidur sekarang.

Tok Tok..

Tapi dia tidak bisa tidur.

Nyatanya Chanyeol tidak bisa karena sekarang seorang gadis sudah mengetuk kaca mobilnya. Dia tau itu pasti Wendy, jadi dengan gerak malas Chanyeol akhirnya bangun lalu membuka pintu belakang. Namun bukannya masuk ke bagian belakang mobil, Wendy malah dengan seenaknya membuka pintu depan dan mendaratkan bokongnya di bangku penumpang, tepat di sebelah Chanyeol.

“Jalan,” perintah gadis itu pelan sambil memasang safety belt-nya, dan Chanyeol meski dengan mata membulat akhirnya menghidupkan mesin mobil lalu menekan pedal gasnya perlahan.

“Kau sehat ‘kan?” tanya Chanyeol sambil melirik Wendy yang duduk santai di sebelahnya. Gadis itu nampak memandang Chanyeol heran, lalu dengan segera menjawab setengah mengejek, “Menurutmu? Dasar aneh, pertanyaan macam apa itu?”

“Aneh saja kau tiba-tiba duduk di depan, biasanya ‘kan kau membuatku jadi supir gratisan,” sindir Chanyeol dan Wendy hanya mengangguk-angguk paham maksud pria di sebelahnya itu. “Hanya ingin,” jawab Wendy seadanya, lalu kembali memangku tangan dalam diam.

“Ingin apa?” tanya Chanyeol seakan menarik-ulur percakapan, dan gadis itu agaknya mulai risih sendiri.

“Ingin kau diam, boleh?” dan seperti kata Wendy, Chanyeol diam tanpa menjawab gadis itu lagi. Dan lagi-lagi, hanya hening yang menemani suasana dalam mobil.

 

 

Malam mulai merangkak menggantikan siang. Bulan juga nampaknya tak mau kalah eksistensi karena kini si pujangga malam itu sudah naik dan menyinari langit yang cukup penuh pendar bintang itu. Seorang gadis nampak berkutat dengan berkas dan laptop yang sedang ia otak-atik di depannya. Wendy tengah mengoreksi naskah drama ditemani secangkir kopi hangat yang baru 5 menit lalu tersaji di atas mejanya.

Tak berapa lama saat Wendy asyik bermain kata dan menciptakan suasana dalam naskah karya-nya, gadis itu mengerjap saat tiba-tiba menemukan sebuah lengan nampak mengalung di lehernya dengan lembut, memeluknya dari belakang. Wendy lumayan terkaget, tapi dia hanya bersikap biasa sambil mengontrol raut mukanya sedatar mungkin.

“Aku merindukanmu,” bisik sosok di belakang gadis itu ringan, sangat dekat hingga Wendy bisa merasakan nafas milik oknum di belakangnya itu membelai leher jenjangnya yang cukup terekspos karena si gadis tengah menguncir satu rambutnya.

Wendy akhirnya memilih menghentikan aktifitasnya mengetik. Sekarang gadis Son itu sudah menutup benda elektronik di depannya kemudian berbalik hingga kini matanya menatap langsung netra sosok yang tadi memeluknya hangat. ”Bisa jelaskan kenapa kau bisa ada di sini?” tanyanya akhirnya dengan mata memicing, sementara lawan bicaranya hanya tersenyum tipis.

“Merindukanmu, lalu masuk lewat pintu depan, seperti biasanya,” jawab lelaki berpakaian gelap itu santai, sambil terkekeh kecil.

Heol, bagaimana bisa? Apa kau tidak lihat ada polisi yang mengikutiku kemana-mana?” seledik Wendy bingung, dan kini jemari ramping milik lawan bicaranya itu sudah mencubit pipi Wendy dengan gemasnya.

“Polisimu itu pulang, apa kau tidak sadar?” kekehnya, dan itu cukup membuat Wendy terkejut. Jadi dengan cepat Wendy berdiri dari duduknya dan segera mengintip lewat jendela. Dan benar saja, gadis itu tidak menemukan penampakan mobil jenis Range Rover milik Chanyeol terparkir di depan rumahnya seperti biasanya.

“Bukannya sudah ku bilang kalau polisi itu tidak bisa diandalkan?” Wendy hanya tersenyum masam mendengar ucapan pria yang sekarang sudah duduk santai di sofa sambil menyesap kopi kepunyaannya. “Seperti dulu,” lanjut pria itu saat Wendy akhirnya memilih duduk di depannya sambil tersenyum kecil.

“Kau selalu mengingat masa lalu,” lolos Wendy akhirnya yang kini duduk sambil memeluk kedua lututnya sendiri.

“Bukannya kau juga?” balas sosok di depannya itu tak mau kalah.

“Aku tidak melihat masa lalu, tapi memandang yang di depan. Untuk hal ini kita berbeda, sayang sekali…” mendengar penuturan Wendy, lelaki yang sudah menghabiskan kopi milik Wendy hingga tetes terakhir itu makin memperlebar senyumnya, sesekali bahkan ia tertawa kecil, “Kau pandai berbohong,” responnya.

“Sopan sedikit,” balas Wendy acuh, dan makin dibalas acuh lelaki misterius itu lagi, “Malas.”

Wendy akhirnya terdiam, menunggu lanjutan kalimat yang ia pastikan akan muncul beberapa detik lagi dari mulut lelaki di depannya itu.

“Kebetulan, atau memang aku mengenal polisimu itu, eoh? Sepertinya dia teman SMA-mu, bukan begitu?” dan benar saja, beberapa detik kemudian lelaki itu sudah berfrasa lagi. Oh ayolah, tolong ingatkan Wendy untuk membungkam mulut orang itu karena sudah mengungkit masa lalu.

“Bukan, kau salah orang,” balas Wendy acuh,

“Tidak mungkin,” balas pria itu lagi.

“Daripada itu, kau ingin membunuhku apa? Kenapa kau melemparku dengan akuarium? Pabo!” sungut Wendy akhirnya sambil memukul bahu lelaki itu cukup kencang, berniat mengalihkan pembicaraan.

“Hanya testing saja, buktinya kau tidak kenapa-kenapa ‘kan? Sudah kuduga,” tawa lelaki itu menguar memenuhi ruangan tanpa rasa bersalah meski akibat ulahnya jantung Wendy hampir berpindah dari tempatnya tadi siang, membuat Wendy makin kesal saja.

“Jangan bertindak gegabah, aku tidak mau tanggung jawab kalau sampai identitasmu terbongkar dan kau masuk bui,” balas Wendy malas, benar-benar malas semalas-malasnya.

“Tenang saja, aku tidak akan tertangkap, yakin saja, hehe..” kekehnya yang tidak lagi di balas Wendy. Malah sekarang lelaki itu sudah menyodorkan cangkir kosong yang sedari tadi ia pegang ke pada gadis itu.

“Kopi buatanmu masih saja enak, boleh minta lagi?” pintanya dan Wendy hanya memutar bola matanya malas, “Dasar maniak kopi,” celoteh Wendy sambil bangkit dari posisi duduknya dan meraih cangkir itu dari pegangan si lelaki.

“Hanya kopi buatanmu,” Wendy tersenyum sekilas mendengar jawaban lelaki itu, lalu dengan cepat melangkahkan kakinya ke dapur yang tak disangka-sangka justru membuat tamunya itu ikut mengekor di belakang.

“Omong-omong, bagaimana kabar organisasi?” kata Wendy kemudian membuka konversasi kecil lainnya sambil menyeduh kopi, kali ini dia membuat 2 cangkir berisi cairan hitam pekat itu karena jujur kerongkongannya pun tengah meronta minta diisi sedari tadi.

“Baik, seperti biasanya,” jawab lelaki itu cepat sambil duduk di kursi pantry.

”Omong-omong organisasi membicarakanmu akhir-akhir ini. Katanya, mereka ingin kau kembali,” dan Wendy sadar sadar kalau dia sudah salah memilih topik pembicaraan.

 

 

“Aku tidak menyangka kau menyetujui ajakanku minum padahal kau sedang bertugas,” lelaki itu terkekeh sambil memandang Chanyeol yang sedang asyik menenggak segelas kecil soju-nya dalam sekali tegukan, sementara yang ditanya hanya tertawa mendengar penuturan sahabat lamanya itu.

“Aku sedang kesal dan kau malah menghubungiku karena ingin mentraktir soju, mana mau aku menolak,” jawab Chanyeol ringan sambil menepuk bahu Jongdae yang masih asyik memasak beberapa daging di atas panggangan meja mereka.

Jongdae, mantan teman SMA Chanyeol di Mokpo itu akhirnya kembali terkekeh, “Memangnya kesal kenapa?” tanyanya ringan.

“Orang yang harus ku jaga 24 jam adalah saksi paling menyebalkan sedunia, bisa mati muda aku lama-lama,” curhat Chanyeol yang kini mengunyah sepotong daging yang sudah matang dipanggang Jongdae.

“Hei..meski kesal bukannya kau harusnya tidak meninggalkannya? Kau harusnya berjaga sekarang,” kata Jongdae tanpa rasa bersalah kalau dialah yang sudah menarik Chanyeol untuk pergi minum soju di restoran langganan mereka.

“Dia tidak akan kenapa-kenapa,” yakin Chanyeol meski sedikit ragu, tapi toh, dia butuh refreshing sejenak sekarang.

“Omong-omong kenapa kau mengajakku minum? Kau ditolak lagi?” tanya Chanyeol akhirnya, dan Jongdae hanya menatap sahabatnya itu dalam diam.

“Aku putus, bukannya ditolak,” ralat Jongdae sekenanya.

“Putus? Ah, rekor baru. Kupikir kau tidak akan pernah berpacaran selamanya karena selalu ditolak gadis Dae-ah,”

Plakkk..

Chanyeol hanya memegangi kepalanya yang baru saja ditempeleng secara kurang bersahabat oleh sahabatnya sendiri, Jongdae hanya tersenyum kecil.

“Kau membicarakan diri sendiri Yeol-ah? Begini-begini aku sudah pacaran setidaknya 3 kali, tapi kau belum pernah berpacaran sekalipun padahal sudah 25 tahun!” hina Jongdae yang hanya ditanggapi tawa miris oleh Chanyeol. Toh, ucapan Jongdae tidak ada yang salah sama sekali.

Hening beberapa saat hingga sebuah kalimat tabu akhirnya terucap polos dari bibir Jongdae kemudian.

“Bukannya Baekhyun yang paling berpengalaman soal wanita diantara kita bertiga?”

Chanyeol terdiam saat mendengar sebuah nama yang lolos dari bibir Jongdae, ia hanya tertawa ringan, sadar kalau mungkin Jongdae tidak ingat kalau hubungannya dengan sahabat mereka yang satu lagi itu sedang tidak baik.

“Omong-omong, bagaimana kabar Baekhyun?” tanya Chanyeol akhirnya yang dijawab cepat oleh Jongdae.

“Dia baik, dia calon penerus tunggal warisan ayahnya dan sekarang sedang menjadi direktur di perusahaan ayahnya. Sebentar lagi mungkin dia akan diangkat menjadi CEO menggantikan ayahnya.” Chanyeol tersenyum tipis, tau kalau Baekhyun baik-baik saja sudah membuatnya cukup lega.

“Omong-omong apa kau sudah dengar? Katanya bulan depan Baekhyun akan menikah dengan gadis yang dijodohkan dengannya. Ingat? Dulu Baekhyun benci dijodohkan tapi sekarang dia malah terlanjur cinta dan sebentar lagi akan melepas masa lajang,” lanjut Jongdae lagi masih belum sadar. Malah sekarang lelaki bermarga Kim itu asyik bercerita sambil mengunyah daging panggang di mulutnya.

“Aku tidak tau dia akan menikah,” respon Chanyeol lirih, dan itu membuat Jongdae tertawa kecil.

Ya! Bagaimana bisa kau tidak tau kalau sahabatmu sendiri akan me- ASTAGA! Maaf Yeol, aku terbawa suasana,” akhirnya Jongdae tersadar kalau dia sudah membicarakan hal tabu dengan sosok jangkung di depannya. Chanyeol hanya tersenyum, tidak menyalahkan Jongdae sama sekali.

“Omong-omong bagaimana kabar kasusmu? Ada perkembangan baik?” tanya Chanyeol mengalihkan pembicaraan kali ini, dan buru-buru Jongdae segera menjawab untuk mencairkan suasana yang mendadak menjadi canggung.

“Baik, aku memenangkan kasus tadi siang dan sayangnya aku juga diputuskan tadi siang,” Chanyeol mulai sedikit tertarik, “Kenapa bisa begitu?” tanyanya penasaran.

Ekhm, sebenarnya aku berpacaran dengan seorang gadis, sudah sekitar hampir 3 bulan dan dia adalah seorang pengacara, jadi– “

“Jangan bilang kalau dia pengacara untuk kasusmu tadi siang?” tebak Chanyeol, dan Jongdae hanya mengangguk singkat.

“Yah, dia memang pengacara tersangka. Haha, lucu bukan? Kami bersitegang di ruang sidang dan kasus dimenangkan oleh jaksa penuntut umum yang adalah aku. Setelah sidang selesai dia marah-marah dan dia– “

“Memutuskan hubungan denganmu?” tebak Chanyeol lagi yang hanya dijawab dengan anggukan ringan oleh Jongdae yang segera membuat Chanyeol menuangkan soju ke gelas sahabatnya yang malang itu.

“Wanita memang aneh, mereka labil,” nasihat Chanyeol yang hanya di-iyakan saja oleh Jongdae yang sudah kepalang sedih, singkatnya ia galau karena masih menyukai mantan kekasihnya itu.

“Jongdae-ah, daripada kau sedih tak jelas seperti ini lebih baik kau membantuku saja,” kata Chanyeol akhirnya yang mulai membuat Jongdae bersemangat. “Membantu apa?” tanyanya yang hanya dihadiahi sebuah cengiran khas seorang Park Chanyeol. Melihat Chanyeol sekarang sudah mengeluarkan sebuah map dari dalam jaketnya, Jongdae akhirnya sadar kenapa temannya itu mau diajak minum.

Ya! Kau menerima ajakanku karena mau meminta informasi kasus? Aish, dasar kau maniak kriminal,” Chanyeol hanya tertawa mendengar celotehan panjang Jongdae yang menerima berkas darinya dengan ogah-ogahan. Toh Chanyeol tidak salah, hanya saja telfon Jongdae bertepatan sekali dengan dia yang ingin meminta bantuan kepada sahabatnya itu. Yah, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Puas minum, Chanyeol juga puas karena akan mendapat tambahan informasi dari sahabatnya yang bekerja di pusat Kejaksaan Nasional itu.

“Tolong cari semua kasus yang berhubungan dengan keluarga itu,” pinta Chanyeol pada Jongdae yang sekarang sedang meneliti tiap nama yang ada di berkas yang Chanyeol sodorkan. Jongdae nampak manggut-manggut paham, sebelum akhirnya menemukan sebuah nama yang membuat matanya membola kaget.

Ya! Ini Wendy yang itu kan?” tanya Jongdae histeris sambil menunjuk kata bertuliskan ‘Son Wendy’ disamping kolom bertuliskan ‘saksi’. Chanyeol sudah menduga Jongdae akan histeris seperti ini, dia hanya terkekeh sebentar.

“Ya, Wendy yang itu. Harusnya sekarang aku mengintai rumahnya kalau tidak minum soju denganmu di sini Dae-ah,” terang Chanyeol singkat, padat dan jelas.

Heol, daebak. Bagaimana bisa? Maksudku, dia Wendy yang itu kan? Gadis itu, kau….Baekhyun, ah bagaimana menjelaskan?!” putus Jongdae frustasi akhirnya. Chanyeol hanya tersenyum tipis pada Jongdae.

“Masalahnya dia tidak ingat padaku, ah, atau mungkin pura-pura tidak ingat?” Jongdae terdiam sebentar, sedikit kesulitan mencerna kalimat Chanyeol barusan. ”Maksudmu?” tanyanya akhirnya.

“Yah, Wendy tidak mengingatku, dan ku rasa, sikapnya berbeda dari terakhir kali aku bertemu dengannya di SMA,” Jongdae hanya manggut-manggut meski masih banyak pertanyaan yang berputar di otaknya. Tapi ia hanya tersenyum sembari menyimpas berkas itu ke dalam tas kerjanya.

“Tapi kau yakin dia memang Wendy yang itu kan?” tanya Jongdae untuk kesekian kalinya, dan Chanyeol hanya mengangguk. “Wajahnya sama persis, dan setauku Wendy tidak punya saudara kembar,” jawab Chanyeol yang secara tak langsung menyiratkan bahwa Wendy yang mereka bicarakan sekarang adalah Wendy yang sama dengan saksi kasus yang suka bertindak semena-mena kepada Chanyeol itu.

“Jadi, kalau memang Wendy yang sama– “ Jongdae menggantung kalimatnya, lalu memandang lekat netra hitam milik Chanyeol.

“Hatimu apa kabar?” lanjutnya yang membuat Chanyeol seketika terdiam. Tiba-tiba, ia ingin memukul Jongdae dengan sendok yang tengah ia pegang karena lagi-lagi sahabatnya itu tidak peka situasi.

 

 

Mokpo, Musim Semi 2010

Libur musim dingin ntah kenapa terasa cepat sekali berlalu. SMA Baekho di kota Mokpo nampak sudah terisi pemandangan siswa berseragam yang sedang lari mengejar waktu. Nampak beberapa siswa yang tengah merajut langkah sekencang mungkin dengan harapan gerbang belum ditutup, nampaknya mereka masih terbuai libur musim dingin hingga terlambat bangun pagi hari itu.

Chanyeol nampak menjadi satu dari sekian puluh siswa yang terlambat pagi itu. Jelas saja Chanyeol mengumpat karena ia hanya terlambat 45 detik sebelum gerbang menutup, tapi memang dasarnya SMA Baekho kelewat disiplin hingga keterlambatan tak sampai semenit itu membuat Chanyeol harus berdiri dengan satu kaki sementara tangannya kini menjewer kupingnya sendiri. Tolong ingatkan Chanyeol kalau ini adalah hari pertamanya bersekolah di SMA Baekho tapi dia sudah dihukum karena terlambat ke sekolah.

“Jewer yang benar, jangan sampai jatuh! Seimbang!” pekik Jung-ssaem sambil menepuk-nepuk rol kayunya ke aspal hingga menimbulkan bunyi ‘kretek’ yang sudah cukup horror bagi para siswa SMA itu. Ayolah, Jung-ssaem adalah guru paling tidak berbelas kasihan di SMA itu, tapi malah Jung-ssaem yang berjaga di gerbang hari ini. Sungguh pagi yang sial. 

Chanyeol yang notabene siswa baru hanya diam saja, masih sibuk menjewer telinganya sendiri hingga seorang siswi yang berlari kencang ke arah gerbang sekolah tak sengaja menubruk badannya hingga keseimbangannya hilang dan berakhir terjatuh memeluk aspal sekolah.

“Maaf ssaem, saya terlambat,” ucap siswi itu menyesal tanpa memperdulikan ulahnya yang sudah membuat Chanyeol meringis kesakitan sambil membersihkan seragam barunya yang kotor karena debu.

Jung-ssaem nampak memandang siswi itu singkat, lalu menghela nafasnya kasar, sangat kasar sambil menghentak rol kayunya keras hingga benda itu patah menjadi 2 bagian. 

“Sekali lagi kalian terlambat, jangan kira saya akan membiarkan kalian masuk satu sentipun ke dalam gerbang sekolah!” tegasnya yang hanya dijawab dengan anggukan ringan 20-an siswa yang terlambat sambil menundukkan kepala takut. Akhirnya, setelah mencatat nama seluruh siswa yang terlambat, Jung-ssaem membiarkan mereka semua masuk ke kelas masing-masing karena beliau memberikan dispensasi hukuman karena hari itu adalah hari pertama masuk sekolah.

Chanyeol yang masih agak jengkel dengan kejadian jatuh secara tidak keren sama sekali hingga memeluk aspal itu hanya menghela nafasnya kasar sambil memandang gadis yang datang paling akhir tadi dengan tatapan ingin memakannnya hidup-hidup. 

“Hei kau,” panggil Chanyeol hingga membuat gadis yang baru saja selesai menulis namanya di buku daftar keterlambatan siswa itu hanya menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuknya lengkap mata membola heran, “saya?” tanyanya formal yang dihadiahi anggukan ringan oleh Chanyeol. 

“Tidak berniat minta maaf?” kata Chanyeol to the point yang makin membuat gadis berambut sepunggung yang dikuncir kuda itu bingung. “Memangnya aku salah apa?” tanyanya polos kemudian yang seketika membuat emosi Chanyeol naik ke ubun-ubun. 

“Kau menabrakku hingga terjatuh, ingat?” jelas Chanyeol kali ini sambil mendekat ke arah si gadis yang masih berpikir apa maksud Chanyeol. Barulah saat Chanyeol sudah ada tepat di depannya dan sedikit menunduk menyejajarkan tinggi dengannya, gadis itu ingat apa maksud Chanyeol. 

“Ah, maafkan aku –akh!” Chanyeol hanya bisa memegangi kepalanya yang kesakitan, sama seperti gadis itu yang juga memegang kepalanya yang mulai berdenyut sambil meringis. Gadis itu tadi hanya meminta maaf sambil menunduk 90 derajat, namun tak ayal aksi meminta maafnya itu justru membuat kepalanya berbenturan dengan kepala Chanyeol karena ia menunduk dengan terlalu bersemangat.

“Akh, maafkan aku, maaf,” kata Wendy panik setelahnya sambil memegangi kepala Chanyeol yang akhirnya ditepis oleh lelaki bermarga Park itu. 

“Aish, menyebalkan sekali!” sunggut Chanyeol yang hanya dibalas dengan aksi gadis itu yang menundukkan kepalanya takut-takut.

“Maaf,” lirih gadis itu lagi.

“Baiklah, namamu siapa?” tanya Chanyeol akhirnya yang segera dihadiahi tatapan bingung oleh gadis yang sudah mendongakkan kepalanya dan menatap Chanyeol curiga.

“Untuk apa kau tau namaku?” balas gadis itu sedikit menolak memberi tau namanya dengan cuma-cuma, bahkan tangannya kini bergerak menutupi name-tag-nya agar Chanyeol tak melihat.

“Aish, tentu saja agar aku bisa meminta ganti rugi padamu nanti,” terang Chanyeol kesal sambil menyodorkan tangan kanannya ke arah gadis itu higga menimbulkan tanda tanya besar di kepala si gadis. 

“Namaku Park Chanyeol, kau?” tanya Chanyeol mengajak berjabat tangan, dan gadis itu mau tidak mau mengalah dan dengan enggan membalas jabat tangan Chanyeol. 

“Wendy, namaku Son Wendy.” 

 

 

-To be Continued-

 

 

Author’s Note

Eki gak tau kalian masih menunggu ff ini atau tidak. Tapi yang pasti ff ini sudah menjamur terlalu lama, HAHA/digampar/ XD

Eki bingung deh, musim UTS kok bukannya bikin lancar belajar malah lancar ngetik ff? niat belajar Eki ntah menguap kemana-mana, tergantiin sama semangat bikin fanfiksi, hoho/digampar/

Remed sudah menanti,yuhuuuu…… :’)

Iklan

14 pemikiran pada “Surrounded! (Chapter 03) – Shaekiran

  1. Ping balik: Surrounded! (Chapter 05) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Jngan” cinta segitiga antara baekhyun-wendy-chanyeol,, ckck
    jngan” cowok misterius itu baekhyun?? Ckck
    wendy cma pura” g inget sma chanyeol kn?
    Lcu jga bayangin tubuh chanyeol yg nyium aspal gegara ditubruk ama wendy hehe
    next part uda ready kn, lgsung next part aj deh, hihii fighting eki!!! :*

  3. Ping balik: Surrounded! (Chapter 04) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. ohohoho.. wendy menyimpan banyak misteri.. jangan” dia bukan saksi tapi salah satu komplotannya lg.. mencurigakan gitu, trus siapa orng yg ngobrol sma dia.. akrab tapi kok mau nyelakain wendy… patut untuk dikuak kebenarannya… kkkkkkk
    jadi chanbaek lg musuhan critanya.. salah paham gegara cewek nih pasti…

  5. ohohoho.. wendy menyimpan misteri yg amat sangat membuat penasaran… siapa orang ug ngajak ngomong itu?? organisasi apaan, pasti organisasi gak baik nih..
    ohh jadi chanbaek musuhan critanya, salah paham kah??

  6. Akhirnya dilanjut juga ff ini, udah lama nunggu nya.
    Siapa laki-laki yang ada dirumah wendy dan organisasi apa yang dimaksud mereka ?
    Chanyeol, wendy dan baekhyun apa hubungan mereka ber-3 ?
    Next nya jangan lama-lama authornim.

  7. Akhirnya di up juga. Udah nungguin bgt lanjutannya. Walaupun tadi sempet agak lupa pas diawal2. Jadi tersangkanya adalah orang yg wendy kenal. Dan masa lalu chanyeol wendy juga sedikit terungkap. Si wendy ternyata agak misterius ya. Maksudnya dia gabung organisasi tu apa semacam organisasi mafia gitu ya??

  8. Sllu diinget dong kalo ff in,oh……Jadi gitu ya masa lalunya si wendy ama abang ceye,pantes aja si ceye agak beda gitu ama wendy,eh ternyata eh ternyata si ceye dulu kyakx naksir ya sm wendy trus berebutan deh sm bacon,betul gak eki,semoga eki ga remed deh

  9. Ohh jd begitu kisah wendy dan chanyeol.Ngomong2 laki-laki yang diajak bicara ama wendy itu siapa? Dan organisasi yg mereka maksud organisasi apa? Jd penasaran
    D tunggu next chap.y ya 😃

    • itu masih sepenggal kisah mereka, hoho, kisah SMA mereka masih panjang, wkwkw 😀
      Hayooo? kalau yg itu eki nokomen yaw chingu, itu masih rahasia perff-an ini/plakk/ XD
      Ditunggu aja next chapnya yaw,semoga misterinya terungkap, wkwkw/plakk/
      thanks for reading ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s