Rooftop Romance (Chapter 22) – Shaekiran

Rooftop Romance 2nd Cover.jpg

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO) 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | Chapter 21 | [NOW] Chapter 22 |

“Nyatanya kau menyukai orang lain.”

 

 

-Chapter 22-

Author’s Side

“Irene aku-“

Chanyeol menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Irene.

“Iya Chanyeol, kenapa?” tanya gadis yang kini sudah berada tepat di depan Chanyeol, jarak kedua insan itu bahkan hanya tinggal sejengkal. Irene nampak sangat tenang, tidak menaruh curiga sama sekali dengan gelagat Chanyeol yang sedang menggaruk tengkuknya frustasi.

“Ah, tidak, anu…itu busmu sudah datang,” kata Chanyeol gugup sambil menunjuk bus tujuan Irene yang kebetulan sekali baru tiba. Irene segera membalikkan badannya, kemudian tersenyum tipis saat tau itu memang bus yang ia tunggu.

“Kau benar,” kekeh si gadis sambil merajut langkahnya menuju bus, namun Chanyeol malah mendekat dan menggenggam tangan Irene. Si gadis hanya tersenyum simpul sementara semburat merah di pipinya sudah merajarela, lantas Chanyeol membawa Irene ke dalam bus. Mereka berdua duduk di bangku yang biasanya, di sudut bus seperti kemarin-kemarin dimana Chanyeol bersisian langsung dengan kaca.

“Kau mengantuk?” tanya Chanyeol kemudian sambil menepuk-nepuk bahunya sendiri, namun kali ini Irene menggeleng.

Ani, aku tidak mengantuk malam ini, hehe,” kekehnya sambil tersenyum lebar, dan Chanyeol hanya balas tersenyum sambil memperat genggaman tangannya.

Tak lama, bus itu pun mulai melaju, membelah jalanan malam Seoul yang gemerlap seperti biasanya.

 

 

“Hatchi!”

Wendy menggosok-gosok hidungnya yang baru saja bersin, lantas makin memperat pelukan pada dirinya sendiri. Ayolah, gadis itu sekarang hanya menggunakan seragam sekolah tanpa jaket di tengah cuaca malam sedingin ini selama hampir 4 jam. Gadis mana yang tidak menggigil?

“Kemana Chanyeol? Apa ia tidak melihat suratku?” pikir gadis itu lagi sambil memperhatikan orang yang lalu-lalang, namun belum juga menemukan sosok menjulang Chanyeol diantara orang yang lewat. Sekarang ia sedang duduk di bangku taman dekat Sungai Han, tempat ia dan Chanyeol biasa ‘kencan’ sepulang sekolah dulu.

Sudah beberapa kali Wendy memikirkan untuk menyerah, lalu memilih pulang saja daripada mati kedinginan disini. Tapi gadis itu mengurungkan niatnya lagi. Dia percaya Chanyeol pasti datang meski ntah kapan itu, pemikiran yang cukup bodoh agaknya mengingat Chanyeol yang akhir-akhir ini tidak terlalu peduli padanya. Bahkan sudah hampir 2 minggu ia dan Chanyeol tidak saling menyapa atau sekedar berbicara, hanya sesekali kontak mata dan saling melempar senyum palsu karena secara tak sengaja berpapasan beberapa kali di koridor sekolah.Mereka bagai orang asing, dua insan yang saling tidak mengenal. Hanya sekedar sunbae hoobae, tak lebih.

Bahkan Wendy ragu, Chanyeol ingat tempat ini. Ya, mungkin saja Chanyeol menemukan surat itu tapi hanya membuangnya kan? Wendy tidak menulis nama, tempat juga kisaran waktu, bisa saja kan Chanyeol hanya menganggap itu surat dari salah satu fans-nya? Kemungkinan Chanyeol untuk datang sangat kecil, tapi Wendy masih saja mau menaruh harap.

“Hei,” Wendy mengerjap spontan saat beberapa detik lalu seorang asing menyentuh pundaknya. Gadis itu segera melirik orang yang beberapa detik lalu mendaratkan bokongnya di bangku sebelah Wendy. Seorang lelaki yang tidak gadis itu kenal sama sekali nampak menatapnya sambil tersenyum tipis.

“Sendirian saja cantik?” tanya lelaki itu, dan sekarang Wendy mulai merasakan firasat tidak enak. Wendy lantas hanya bungkam, lalu bergerak menggeser duduknya lebih ke pinggir, menjauh dari lelaki sok akrab itu.

“Hai, mau kemana? Duduk saja disini,” Wendy seketika mematung. Dia tidak jadi menggeser duduk, hanya bisa diam di tempat sambil mempererat pelukannya pada tas yang memang ia letakkan di pangkuannya sejak tadi. Kini, di sisi yang satunya sudah duduk satu lelaki lain yang juga tidak gadis itu kenal. Sepertinya teman lelaki yang pertama kali menyapa Wendy tadi.

“Ma-maaf, aku harus pergi,” kata Wendy akhirnya sambil berdiri dari duduknya, namun lelaki yang pertama sudah menahan pergelangan tangan gadis itu.

“Hei, jangan jual mahal begitu cantik. Sini, main dulu sama kami,” Ya Tuhan, Wendy benar-benar ketakutan sekarang.

“Maaf, tapi aku-“

BRUGH

“Kalau dia bilang tidak ya tidak, jangan memaksa!”

 

—-

 

Chanyeol POV

“Yeol, kau kenapa?” tanya Irene padaku yang sedari tadi hanya diam. Ntahlah, mungkin Irene hanya merasa janggal karena aku hanya diam, tidak seperti biasanya.

Ani, aku tidak apa-apa,” jawabku cepat, berbohong sebenarnya, namun Irene nampak hanya ber-oh ria dan lanjut membaca buku yang ada di pangkuannya. Maklum saja, minggu depan kami sudah mengikuti ujian masuk universitas, jadi Irene sangat giat belajar.

Lantas aku mengalihkan pandanganku lagi keluar jendela, ntah kenapa isi surat tadi semakin mengusik pikiranku. Raja, air yang serasa surga, menyembuhkan luka, Mingg kelabu, juga aku menunggumu, seakan makin membuat rasa penasaranku kian menjadi-jadi. Kenapa aku merasa tidak asing dengan isi surat itu?

Kali ini netraku menangkap pemandangan sungai Han yang kerlap-kerlip dari kejauhan. Tanpa sadar aku tersenyum tipis, ntah kenapa sungai itu membuatku tiba-tiba mengingat kisahku dan Wendy di pinggiran sungai itu. Ya, Wendy, apa gadis itu baik-baik saja?

Tunggu, sepertinya ada yang janggal dengan sungai.

Ah, apa mungkin aliran air itu maksudnya sungai?

 

Terdengar pula mereka ber-frasa, itu bukan kata yang bisa aku punya

Katanya kau tidak untuk dicinta rakyat jelata

 

Apa karena itu dia menyebutku ‘Raja’ ? Agar aku bisa mencinta?

Tunggu, jadi surat itu balasan isi puisi yang kemarin kubuat?

Kalau memang iya, apa mungkin Wendy?

Tapi, darimana Wendy tau puisiku?

“Anu Rene,” aku memanggil gadis yang duduk disampingku itu, lalu melepaskan genggaman tanganku di telapak tangannya. Dia nampak menyerngit, lalu memandangku heran. “Ada apa?” tanyanya dan aku hanya berusaha tersenyum se-normal mungkin.

“Anu, aku baru ingat ada janji dengan seseorang. Apa kau bisa pulang sendirian?” tanyaku dan gadis itu nampak membulatkan matanya kaget, namun hanya sedetik, karena sekon selanjutnya ia sudah tersenyum lebar.

“Bisa kok, aku sudah besar, hehe. Pergilah kalau kau memang punya janji Yeol, jangan sungkan,” katanya dan seketika aku merasa lega. Syukurlah, Irene bukan gadis tipe posesif yang manja, maaf Rene, kali ini sepertinya aku harus pergi.

“Kau tidak apa?” tanyaku memastikan dan Irene hanya menggeleng yakin.

“Sampai rumah jangan lupa makan, kunci semua pintu lalu tidur, arraseo?” pintaku kemudian dan gadis Bae itu nampak mengangguk mengiyakan. Lantas aku mengacak rambutnya pelan, lalu berdiri dari dudukku.

“Sampai jumpa di sekolah,” pamitku dan Irene hanya melambaikan tangannya. Dengan cepat, aku turun berhubung bus ini sedang berhenti di halte yang masih lumayan dekat dari Sungai Han yang tadi terlewat.

Bus itu perlahan melaju beberapa menit kemudian. Aku masih memandangi Irene yang nampak melambaikan tangan dari dalam bus, lalu akupun balik melambaikan tangan sambil tersenyum pada gadis itu. Setelah merasa bus-nya sudah pergi jauh, dengan gerak cepat aku berlari melangkahkan kaki menuju sungai Han. Ntahlah, aku hanya merasakan firasat buruk sekarang.

Lima menit kemudian setelah berlari dengan kecepatan penuh tanpa henti, aku sampai di taman pinggir sungai, tempat dimana aku dan Wendy dulu sering bermain bersama sepulang sekolah saat masih menjadi kekasih pura-pura-nya Wendy. Dan seperti dugaanku, terjadi sesuatu yang tidak baik dengan gadis itu.

“Hei, jangan jual mahal begitu cantik. Sini, main dulu sama kami,” dengan gerak cepat aku berlari ke arah Wendy yang kini sedang dikerubuni 2 orang laki-laki, dan aku yakin kedua orang itu bukan bodyguard-nya Wendy mengingat mereka baru saja mengasari gadis itu.

“Maaf, tapi aku-“

BRUGH

Dengan segera, kini aku sudah mendaratkan sebuah bogem mentah pada mereka berdua, terutama pada lelaki yang sudah berani-beraninya menyentuh lengan Wendy itu.

 

Author’s POV 

Wendy hanya bisa membulatkan matanya saat kini 2 orang lelaki yang sedang menggangunya itu jatuh tersungkur ke tanah.

“Kalau dia bilang tidak ya tidak, jangan memaksa!” pekik orang yang baru saja menolong Wendy itu marah, dan si gadis tiba-tiba terdiam. Dia mengenali suara ini, ya, ini suara berat yang sangat-teramat ia rindukan.

Sunbae?” batin Wendy masih tidak percaya, sementara lelaki yang memang adalah Chanyeol itu sudah menarik Wendy untuk berlindung di balik punggungnya.

“Siapa kau? Berani-beraninya menggangu kami!” pekik salah seorang dari 2 orang yang mengangu Wendy tadi tidak terima, namun Chanyeol sama sekali tidak merasa takut dan hanya mengeratkan pegangannya pada Wendy yang sekarang sedang berdiri di balik punggungnya.

“Aku pacarnya, mau apa, hah? Mau berkelahi?” tantang Chanyeol, dan dua orang tadi nampak terdiam seketika. Mereka berdua melihat seragam Chanyeol dan Wendy yang sama, juga saat mereka menengadah dan melirik name tag yang ada di baju Chanyeol, mereka langsung kicut.

“Ah, ani, kami tidak bermaksud. Ma-maafkan kami,” kata mereka lalu dengan segera berlari pergi; kabur. Rasanya Chanyeol ingin berlari pergi lalu mendaratkan bogem mentah lagi pada mereka berdua, namun mengingat Wendy ada di belakangnya dan menggenggamnya begitu erat, Chanyeol mengurungkan niatnya itu. Chanyeol hanya memandangi 2 orang yang tidak ia kenali itu berlari menjauh tanpa melakukan apapun.

“Kau baik-baik saja?” tanya Chanyeol kemudian pada Wendy yang ntah sejak kapan menangis, dan gadis itu menggeleng pelan.

“Aku tidak apa-apa sunbae, hiks, aku, hiks, terimakasih, hiks,” ucap Wendy terbata, lantas Chanyeol segera membuka blazer-nya dan meyampirkan benda berwarna biru dongker itu ke badan Wendy.

“Kau kedinginan, kenapa menunggu selama itu?” tanya Chanyeol kemudian. Cukup marah karena mendapati Wendy masih menunggu setelah berapa jam menggigil kedinginan disini. Dia lebih berharap gadis itu pergi saja tadi dengan alasan lelah menunggu, lebih berharap gadis itu menyerah meski ada secuil rasa bahagia karena mendapati Wendy masih setia menunggunya.

“Karena aku yakin sunbae pasti datang hiks,” jawab Wendy dan ntah kenapa itu membuat Chanyeol makin frustasi.

“Bodoh,” katanya sambil me-lap ujung mata Wendy yang berair dengan ibu jarinya. Wendy mengerjap kaget dengan perlakuan Chanyeol, dengan cepat tangisnya malah makin menjadi.

“Lihat, kau ketakutan ‘kan? Memang lebih baik kau pulang saja,” kata Chanyeol kemudian, yakin kalau Wendy sangat ketakutan tadi sehingga si gadis sampai menangis. Namun Wendy malah menggeleng.

“Aku menangis bukan karena takut, tapi karena aku bahagia sunbae. Ku pikir sunbae tidak akan tau dan ingat tempat ini, ku pikir sunbae tidak datang tapi ternyata hiks.. terimakasih sunbae hiks, sudah mau datang, aku bahagia sekali..”

Chanyeol terdiam, mulai takut sikapnya barusan mungkin membuat Wendy salah paham. Lantas Chanyeol menjauhkan badannya dari Wendy, lalu mundur selangkah dari hadapan gadis itu.

“Jadi kau ingin membicarakan apa?” tanya Chanyeol kemudian, dan ntah kenapa Wendy merasa nada bicara Chanyeol berubah. Hanya dalam hitungan detik, sunbae-nya itu berubah sangat dingin.

 

 

“Ini buatan sunbae ‘kan?” tanya Wendy sambil menyodorkan handphone-nya yang kini menunjukkan sebuah gambar yang Chanyeol yakini sebagai buku tulisnya. “Pasti Baekhyun, dasar hyung sialan itu,” batin Chanyeol mengumpat seketika.

“Iya, itu buatanku, memangnya kenapa?” tanya balik Chanyeol berusaha tenang, dan jawaban Chanyeol ntah kenapa membuat kumpulan kupu-kupu mulai beterbangan di perut Wendy. Rasanya begitu menggelitik namun terasa membahagiakan.

“Itu, puisi untuk siapa?” tanya Wendy harap-harap takut, berharap Chanyeol menggumamkan namanya atau sesuatu yang mungkin menyangkut dia. Ya, Wendy sangat berharap mengingat ucapan Baekhyun tadi padanya, ‘Chanyeol menyukaimu’

“Bukan untuk siapa-siapa. Kemarin aku hanya susah tidur dan mencoba mencoret-coret kertas saja, efek bosan,” jawab Chanyeol dingin dan seketika menceloslah Wendy. Gadis itu hanya diam, tersenyum tipis lalu menggumam ‘o’ panjang. Seketika, hening hinggap diantara mereka berdua.

“Kau hanya ingin menanyakan itu?” tanya Chanyeol akhirnya memecah keheningan, sementara gadis di depannya hanya menunduk. Ntahlah, rasanya air matanya ingin menyeruak keluar saja padahal dia baru saja berhenti menangis.

“Memang bukan untuk siapa-siapa?” ulang Wendy, dan Chanyeol hanya mengangguk singkat, meng-iyakan, yang seketika membuat Wendy merasa ada belati yang baru saja menusuk jantungnya begitu dalam. Terasa sangat menyakitkan.

“Ternyata aku hanya terlalu percaya diri, haha, Wendy, harusnya kau sadar diri, haha,” tawa Wendy getir, dan tak terasa sudut matanya mulai basah padahal gadis itu tengah tertawa lebar, atau mungkin menertawai nasib?

“Kau kenapa?” tanya Chanyeol bingung, dan Wendy hanya menggeleng.

“Ah, ani, aku hanya merasa aku ini gadis yang sangat bodoh,” jawab Wendy sekenanya, dan itu makin membuat Chanyeol khawatir. Namun tak ada yang keluar dari mulutnya secara kata ‘oh’ juga tawa yang terkesan dipaksakan.

“Oh iya sunbae, kalau memang bukan untuk siapa-siapa, apa boleh aku minta puisi-nya?” pinta Wendy kemudian, dan makin bingunglah Chanyeol. Wendy sedikit aneh baginya sekarang.

“Boleh ya? Karena aku sudah terlanjur merasa puisi itu untukku dan membuat balasannya, suratku tadi itu balasan puisi itu, lucu ‘kan? Haha, dasar bodoh kau Wen, haha..” tangis Wendy kian menjadi, dan Chanyeol hanya terdiam. Biasanya ia akan segera menyodorkan tissue atau dengan sukarela me-lap dengan ibu jarinya, namun kali ini lelaki itu hanya bisa memandang Wendy kelu.

“Memang raja itu brengsek ya sunbae, sudah seenaknya mengambil alih hati orang, main tinggal seenaknya saja dengan dalih jadi rakyat jelata, sementang dia raja jadi bisa berbuat sesukanya saja,” kata Wendy getir, dan Chanyeol masih saja diam.

“Maksudmu apa Wendy-ah? Aku tidak mengerti,” balasnya kemudian.

Sunbae brengsek ya, sudah buat orang jatuh cinta sekarang main tinggal begitu saja. Persis seperti si Raja, haha,” tawa Wendy kian menjadi, tapi sudut matanya terus berair. Dalam hitungan detik kini tangisnya pecah lagi, ntah tangis yang sudah ke-berapa puluh kali adalah tangis untuk seorang Chanyeol.

“Maksudmu apa Wen? Aku tidak mengerti,” jawab Chanyeol bingung, dan makin deraslah tangis Wendy.

“Aku mencintaimu sunbae, puas?”pekik Wendy kemudian hingga beberapa orang yang lalu lalang berhenti dan memperhatikan mereka berdua, seakan mendapatkan tontonan yang menarik di malam yang dingin itu. Lantas Wendy membuka blazer milik Chanyeol yang tersampir di badannya kemudian melempar benda itu pada Chanyeol.

“Terimakasih sudah membuatku jatuh cinta juga meninggalkanku begitu saja. Seperti namamu, kau memang playboy terbaik sejagat raya. Haha, terima kasih sunbae sudah mmbuatku patah hati. Berbahagialah dengan Irene sunbae, maaf karena aku terlanjur jatuh cinta.”

“Dan ini,” Wendy seketika membuka kalung yang melingkar di lehernya, kemudian meletakkan benda itu kasar secara paksa di atas telapak tangan Chanyeol yang kini memandangnya dengan tatapan membola kaget. “Darimana kau mendapatkannya?” tanya Chanyeol spontan.

“Tolong kembalikan dan sampaikan permintaan maafku pada ibumu, sekali lagi terimakasih sunbae-ku yang baik hati.”

Belum sempat Chanyeol bertanya lebih lanjut, namun Wendy sudah melenggang pergi secepat mungkin.

Grep!

“Jawab aku dulu Son Wendy!” pekik Chanyeol kemudian sambil menarik pergelangan Wendy yang tengah berlari itu. Yah, secepat-cepatnya seorang gadis berlari, tentunya lelaki akan lebih cepat lagi kan?

“Jawab apa? Asal kalung itu, eoh? Ah, aku tau, kau pasti bingung ‘kan aku dapat darimana pasangan kalungmu itu ‘kan?” tanya Wendy masih dengan emosi memuncak. Berulang kali ia berusaha melepas cekalan tangannya dari Chanyeol, namun hasailnya nihil. Chanyeol memeganginya terlalu kuat.

“Apa eomma yang memberikannya padamu?” tanya Chanyeol kali ini sedikit melembut, dan sejenak Wendy melupakan aksi perlawanannya. Sekarang Wendy hanya berdiri kaku, lalu menatap langsung ke mata Chanyeol yang memerah.

“Ya, eomma-mu yang memberikannya sunbae. Bukankah lucu? Ibumu terlalu berekspetasi padaku padahal nyatanya…..” tangis Wendy makin menjadi. Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya lagi yang sudah tertahan di tenggorokan. Kini hanya tangisnya yang makin menjadi terdengar memecah keheningan malam.

“Nyatanya kau menyukai orang lain.”

Lama hanya diam yang menyelimuti kedua insan itu. Tanpa perduli apapun pandangan orang yang menatap, masa bodoh dengan guncingan yang sekarang mereka dengar atau semua macam pendapat tentang mereka. Yang mereka lakukan hanya diam, juga terpaku.

Merasakan cekalan tangan Chanyeol akhirnya melemah, Wendy yang masih menangis hebat melepas tangannya dengan satu sentakan, hingga mengagetkan Chanyeol yang ternyata memandang jauh sedari tadi.

“Aku membencimu sunbae!”

Ya, setelah mengucapkan semua kalimat penuh emosi itu Wendy pergi begitu saja. Gadis itu berlari pergi dari hadapan Chanyeol sambil memangis hebat. Lalu Chanyeol? Dia hanya diam, membeku, kelu, juga enggan berkata-kata. Harusnya dia berlari mengejar Wendy, merengkuh gadis itu dan menjelaskan sesuatu atau semacamnya, namun kali ini Chanyeol bagai berubah menjadi patung hidup, dia hanya diam tanpa melakukan apa-apa. Chanyeol, si lelaki paling brengsek se-dunia.

 

 

“Eomma, kalung itu kalung couple kita kan?” tanya Chanyeol kecil pada sang ibu yang sekarang duduk di sebelahnya sambil merangkul punggung mungil Chanyeol.

“Hmm, memang cuma buat Chanyeol dan eomma,” kata wanita awal 30 tahunan itu, hingga kini senyum mengembang di bibir si lelaki kecil.

“Arti kalungnya apa eomma? Chan penasaran, hehe..” lanjut si bocah kecil sambil memegangi kalung yang melingkar di lehernya yang berbentuk lingkaran. Sang eomma lantas tersenyum, kemudian meraih kalung putranya itu dan menyatukannya dengan kalung kepunyaannya sendiri yang berbentuk bintang.

“Lihat, kalungnya menyatu ‘kan?” Chanyeol lantas mengangguk, cukup terkagum saat tau kalungnya ternyata berhubungan dengan kalung milik eomma-nya itu. “Artinya eomma?” tanyanya lagi. 

“Artinya, dimanapun Chanyeol dan juga eomma berada, baik jauh maupun dekat, kita akan tetap bersatu. Disini, eomma akan disini untuk Chanyeol.” Sang ibu menyentuh dada Chanyeol, menunjuk letak yang katanya tempatnya selalu berada –hati Chanyeol.

“Kau lihat bintang kan Chan? Ada banyak bintang di langit, tapi hanya ada satu bulan. Artinya, kalau kau melihat bulan darimanapun hasilnya akan tetap sama, bulannya masih bulan yang sama. Tapi kalau kau melihat salah satu bintang di sini, lalu eomma lihat salah satu bintang dari sana, bintang yang kita lihat belum tentu bintang yang sama.” jelas si eomma sambil menunjuk langit malam yang memang penuh pendar bintang. Lantas Chanyeol makin bingung saja.

“Kalau tidak sama untuk apa eomma? Kan itu artinya kita tidak meliha satu objek yang sama, kita tidak sehati ah,” kata Chanyeol tak setuju, tapi eomma-nya menggeleng pelan.

“Justru itu bagus. Kalau nanti eomma dan Chan melihat bintang yang sama dari milyaran, bukankah itu lebih menakjubkan? Dua orang yang sama dengan objek yang sama dari sekian milyar, itu mengagumkan sayang. Eomma ingin Chan dan eomma seperti dua orang itu, selalu sehati meski banyak bintang lain yang menggoda, hehe,” kekeh eomma-nya lagi sambil tertawa kecil, dan bocah itu kini mengangguk-angguk mengerti. 

“Jadi kalau rindu dan lihat bintang yang sama, rindu-nya tersampaikan ya eomma?” tanyanya lagi, dan sang eomma dengan cepat menganguk. “Ya, seperti eomma dan Chanyeol,” jawabnya.

“Lalu eomma, nanti kalungnya mau diwariskan untuk siapa?” tanya Chanyeol lagi, seakan masih banyak pertanyaan yang ia simpan.

“Ya buat calon menantunya eomma dong, nanti ‘kan biar calon menantunya eomma sehati sama anak eomma,” jelas eomma lagi sambil menyentil hidung putranya jahil, “Jadi, nanti kalau eomma menemukan gadis yang cocok buat anak eomma, eomma akan wariskan kalung ini, hehe, kamu setuju kan Chan?” tanya eomma-nya kemudian, dan Chanyeol hanya menganguk setuju dengan pipi bersemu merah. 

“Tapi janji, eomma harus cari gadis baik yang cantik, juga perhatian pada Chanyeol dan eomma,” lanjut Chanyeol dan si eomma langsung setuju.  

“Janji, eomma pasti akan wariskan kalung ini pada gadis terbaik, hehe,”

 

 

Jalanan Seoul masih nampak ramai, juga sinar kemerlap lampu taman masih menjadi pemandangan Chanyeol sekarang ini. Lelaki itu tengah mengelilingi taman dengan uring-uringan. Ya, dia sendiri bingung apa yang tengah ia lakukan. Rasanya ada sesuatu yang kurang, tapi dia tidak tau apa itu. Tak hanya sekali pula Chanyeol menabrak orang yang lewat di depannya. Persis seperti orang bingung, Chanyeol hanya menatap jalanan dengan kosong, juga tidak berniat meminta maaf pada orang-orang yang ia tabrak.

 

“Ya, eomma-mu yang memberikannya sunbae.”

.

“Janji, eomma pasti akan wariskan kalung ini pada gadis terbaik, hehe,”

.

“Aku mencintaimu sunbae, puas?”

 

Ah, Chanyeol tau. Ini semua gara-gara Wendy. Ya, semua karena pengakuan gadis itu beberapa jam lalu.

BRUGHH

“YA! KALAU JALAN ITU LIHAT-LIHAT!” pekik orang yang baru saja ditabrak Chanyeol. Namun bukannya meminta maaf, Chanyeol malah menatap orang itu dengan tatapan sinis dan nyalang bagai berkata –jangan-ganggu-aku-sialan-

“Ah, bukannya kau orang yang tadi? Si Park Chanyeol dari SMA Star Culture?” tanya orang yang ditabrak itu kemudian sambil meletakkan jari telunjuknya di bahu Chanyeol, lalu mendorong Chanyeol hingga lelaki Park itu spontan mundur selangkah ke belakang.

“Oh, aku Park Chanyeol,” jawabnya enteng, masih pula dengan tatapan nyalang yang seakan menantang lawan bicaranya itu. Tak lama, orang di depannya tertawa, juga beberapa orang yang mulai berdatangan mendekati mereka berdua.

“Jadi dia yang tadi menggangu aksimu Tao?” tanya salah satu dari mereka, dan lelaki yang sedari tadi tertawa itu mengangguk kecil. “Iya hyung, tadi dia mengganguku dan Zico,” jawabnya.

Perlahan, Chanyeol merasakan sesuatu yang tidak enak. Dipandanginya orang yang ia tabrak itu, dan barulah beberapa detik kemudian ia sadar kalau orang yang ia tabrak, juga lelaki bernama Zico yang berdiri di belakang orang itu adalah orang yang sama dengan laki-laki yang menggangu Wendy di taman tadi. Chanyeol lantas mendecih, lalu beralih menatap orang yang dipanggil ‘hyung’ itu berdiri angkuh dengan seantek pengikutnya yang berdiri berjejer di belakang. “Anak genk?” pikir Chanyeol dalam hati, dan ia semakin yakin saat kini segerombol orang itu mulai mengeluarkan benda di balik punggung mereka.

“Cih, jadi kalian mau main keroyokan? Baiklah, siapa takut,” tantang Chanyeol berani.

 

 

Hiks.

Tangis Wendy makin menjadi. Sekarang gadis itu sedang duduk di sudut bus dengan tangis yang kian meleleh. Rasanya, masalahnya dengan Chanyeol makin pelik saja, juga hatinya semakin remuk saat mengingat lelaki itu.

Perlahan, bus yang Wendy tumpangi berhenti di sebuah halte. Sadar kalau tujuannya sudah sampai, Wendy lantas berdiri dari duduknya lalu dengan segera turun dari bus. Segera setelah ia turun, bus pun kembali melaju. Gadis itu sempat melirik jam di pergelangan tangan kirinya; setengah sepuluh malam. Ia mendesah. Aku pasti kena marah sekali ini, pikirnya.

Jadi dengan cepat, setelah lampu pejalan kaki berubah hijau, Wendy langsung melangkahkan kaki menyebrangi jalan. Sukses menyebrang, Wendy lalu dengan langkah tergesa segera menyusuri trotoar jalan. Sekarang dia harus berjalan sekitar 100 meter lagi sebelum menemukan simpang perumahan elit tempat rumah besarnya berada.

Grep!

Wendy ingin memekik ketika tiba-tiba saja tangannya ditahan seseorang, namun ia segera mengurungkan niatnya berteriak saat ia berbalik dan mengenali siapa oknum yang baru saja menahannya itu.

“Kau kenapa Son Wendy?” tanya lelaki itu, dan Wendy hanya diam. Tangisnya yang belum reda mungkin menjadi pertanyaan bagi si lelaki, juga derai yang semakin deras itu membuatnya tak ayal makin bingung.

“Kau kenapa?” tanyanya lagi, namun Wendy masih diam. Malah, sekarang tangisnya makin menjadi.

 

 

Ruangan berukuran cukup besar itu terasa cukup sesak, setelah sekitar beberapa menit yang lalu segerombolan anak-anak nakal memasuki kantor polisi Seoul itu.

“Hah, kasus perkelahian anak genk lagi?” tanya petugas jaga malam itu, dan salah seorang dari polisi yang memang memergoki kejadian dan menangkap keseluruhan anak nakal yang berkelahi di taman dan menggangu ketertiban itu hanya mengangguk mengiyakan.

“Oh, dan kali ini kau harus lihat sesuatu yang menarik,” kata polisi patroli yang bernama Ryewook itu pada si petugas jaga.

“Apanya yang menarik dari perkelahian anak nakal Ryewook-ssi?” tanya Yesung –si petugas jaga- yang kini sudah duduk dikursinya, bersiap mengetik laporan super panjang yang tentunya akan membuatnya sangat lembur hingga tak sempat tidur malam ini.

“Hei, kau tidak lihat siapa yang berkelahi? Lihat, ada anak dari Ketua Tim Tindak Kriminal Kelas Kakap dan Menengah yang super tersohor, anak Ketua Park Chan Seol,”

Jinja?!” pekik Yesung tak percaya pada penuturan Ryewook, sementara polisi yang ditanya hanya mengangguk. Dengan segera, Yesung berdiri dari duduknya lalu memandang teliti setiap anak nakal yang sekarang berada dibalik jeruji besi.

Heol, itu benar-benar Park Chanyeol ‘kan? Gila, bagaimana bisa dia terlibat perkelahian?” tanya Yesung saat mendapati Chanyeol ada di antara salah satu anak nakal yang ditangkap. Ryewook hanya mengangkat bahunya tak tau, “Sepertinya kau perlu menghubungi Ketua Park,” saran Ryewook, dan dengan segera Yesung mengangguk mengerti sambil meraih handphone-nya di saku celana.

 

—-

 

Ruang polisi itu kian malam kian sunyi. Sudah sedari tadi beberapa wali dan orangtua dari anak nakal yang ditangkap bersamaan dengan Chanyeol berdatangan, juga membawa pulang masing-masing anak genk yang mengeroyok Chanyeol itu. Meski dengan kata ‘dikeroyok’ toh nyatanya Chanyeol masih baik-baik saja. Tidak ada luka lecet yang berarti, sangat berbeda dengan belasan lawannya yang bonyok sana-sini. Mungkin mereka tidak tau saja, kalau Chanyeol itu juara nasional sabuk hitam Taekwondo tingkat SMA 2 tahun yang lalu, jadi wajar kalau sekarang wajah dan tubuh mereka penuh lebam saat pulang ke rumah.

Namun, meski jam sudah menunjuk pukul 11 lewat 15 menit, sosok jangkung Park Chan Seol yang notabene ayah Chanyeol itu belum nampak juga. Kini Chanyeol tengah duduk di salah satu kursi, masih diinterogasi mengenai perkelahian yang dia lakukan oleh Yesung yang sedari tadi hanya ia diamkan. Tidak satupun pertanyaan Yesung yang dia jawab dengan benar, paling hanya gumamam ‘hm’ atau ‘aku tidak tau’ hingga membuat Yesung dan Ryewook jadi kalut sendiri.

“Kau lapar? Mau ramyeon tidak?” tanya Yesung kini mengakhiri sesi wawancara-nya. Baginya mustahil saja, toh tidak ada satupun yang mau Chanyeol jelaskan padanya sejak sejam yang lalu. Bukannya bahagia ditawari makanan, Chanyeol malah menggeleng, lalu mengatakan ‘tidak’ dengan nada cukup dingin.

Wangi ramyeon instan kini memenuhi ruang polisi itu, namun Chanyeol tidak tergoda. Dia hanya duduk diam di bangku yang sedari tadi memang menjadi tempat duduknya, memandang ke depan dengan tatapan kosong, juga pikiran yang ntah melayang kemana-mana.

“Ketua Park tidak datang?” tanya Ryewook sambil mengunyah mie di mulutnya, dan Yesung dengan segera menggeleng, “Ntahlah, tadi dia hanya mengatakan iya, lalu langsung menutup telfon,” jelas Yesung sambil memandangi Chanyeol yang sudah seperti mayat hidup di matanya.

Ayolah, siapa yang tidak mengenal Chanyeol? Semua divisi kepolisian terutama Kepolisian daerah Seoul tentunya mengenal lelaki itu. Di umur 15 tahun, Chanyeol pernah memecahkan kasus besar yang tengah ditangani ayahnya, juga Chanyeol-lah yang menangkap pembunuh berantai di rumah tua kosong yang berada tidak jauh dari sekolahnya dengan tangan kosong. Padahal semua polisi Seoul sudah panik mengepung rumah tersangka karena tau Chanyeol yang waktu itu masih duduk di akhir sekolah menengah pertama itu menerobos rumah sendirian. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Chanyeol keluar dari rumah itu dengan tenang, sambil menyeret si pembunuh berantai yang dalam keadaan babak belur dan pingsan.

 

“Appa, kemarin aku tidak sengaja membaca laporan kasus appa dan aku menemukan tempat ini. Bukankah ini penjahat yang sedang ayah cari? Lihat, aku menangkapnya. Tapi tadi aku tidak sengaja mematahkan tangan kirinya saat berkelahi, tidak masalah ‘kan appa?”

 

Dalam seketika Chanyeol menjadi legenda kepolisian dengan kalimat polosnya itu, juga Park Chan Seol yang hanya bisa memandang putranya antara takjub,kagum, juga marah.

 

“Kenapa kau membahayakan dirimu sendiri, eoh? Kau bisa saja mati!” pekik lelaki pertengahan 40 an itu pada putranya yang hanya berdiri kaku waktu itu. Chanyeol hanya menatap ayah-nya takut-takut.

 

“Aku hanya ingin appa pulang ke rumah. Menyelesaikan satu kasus appa, bukannya itu membuat appa jadi sempat untuk pulang dan menanyakan kabarku? Besok adalah hari kelulusanku dari SMP, aku juga ingin appa datang, bukan hanya eomma-nya Baekhyun. Kalau kasus ini selesai, besok appa boleh cuti dan melihatku berpidato kelulusan sebagai siswa dengan predikat terbaik, begitu ‘kan? Kemarin appa bilang, kalau kasus ini selesai appa bisa datang ke sekolah, hiks,”

 

Kriett.

“Maaf, aku terlambat,” secara tiba-tiba, sesosok tegap dengan pakaian serba hitam muncul dibalik pintu ruang kepolisian yang terbuka. Yesung juga Ryewook yang tengah memakan ramyeon, tentunya kaget, lalu dengan segera memuntahkan ramyeon yang mereka kunyah dan segera berdiri, sama seperti yang dilakukan seluruh polisi di kantor itu.

“Selamat malam Detektif Park!” sapa polisi-polisi di ruangan itu segera sambil memberi hormat.

Park Chan Seol hanya mengangguk sekilas, lalu mulai berjalan menghampiri putranya yang kini sudah berdiri menghadap ke arahnya sambil tertunduk.

BRUGHH!

Ryewook,Yesung, juga seluruh polisi di sana hanya bisa membulatkan mulutnya saat melihat pemandangan di ruangan itu. Park Chan Seol baru saja tanpa babibu dan aba-aba sudah membanting Chanyeol hingga Chanyeol sekarang hanya bisa menyerngit kesakitan di lantai yang dingin.

“APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PARK CHANYEOL?! BERKELAHI? KAU PIKIR AYAH MENGAJAR BELADIRI SUPAYA KAU BISA MEMUKUL ORANG? KAU MAU MEMPERMALUKAN AYAH ATAU APA?!”

Chanyeol hanya bisa diam, tidak memekik kesakitan sedikitpun. Dia tau, ayahnya sedang marah besar sekarang.

“JAWAB AKU!” teriak ayahnya lagi, tapi Chanyeol masih bungkam dan tetap membiarkan badannya jatuh terlentang di atas permukaan lantai yang dingin.

“BANGUN! APPA BELUM SELESAI!” tarik ayah Chanyeol lagi hingga kini Chanyeol sudah dalam posisi berdiri dalam keadaan terpaksa.

“Apa yang salah denganmu, eoh? Kau sudah tidak pernah begini sejak kau punya ibu lagi, tapi sekarang kenapa, eoh? Kau berbuat ulah lagi, KENAPA CHANYEOL?! ” Park Chan Seol masih berteriak, malah sekarang tangannya sudah bergerak mengcengkram kuat kerah baju putra semata wayangnya itu. Chanyeol masih diam, tepatnya ia masih bungkam.

“Anu..”

Perhatian kedua polisi jaga yang sedari tadi menatap perkelahian ayah-anak di depannya segera teralih karena sekarang sudah ada 2 orang yang memasuki kantor kepolisian. Yesung langsung berlari ke arah pintu masuk, lalu menyapa hangat kedua orang itu dengan semestinya. “Ah, selamat malam, ada perlu apa?” tanya Yesung sambil melirik Park Chan Seol yang masih memegangi kerah Chanyeol, takut kedua orang yang baru saja tiba itu salah paham.

Melihat kedua orang di depannnya hanya diam dengan mata sedikit membola, Yesung sadar, lalu segera berucap lagi, “Anu, ini tidak seperti bayangan kalian, haha..kajja, kita ke ruangan sebelah saja. Jadi, ada masalah apa sehingga kalian berdua datang ke kantor polisi tengah malam begini?”

“Tidak, aku hanya ingin bertemu seseorang,” kata si gadis yang sedari tadi berbicara, sementara pria yang bersamanya hanya diam sambil memangku tangan di belakang gadis itu.

“Seseorang?” bingung Yesung, dan gadis itu hanya tersenyum kaku.

“Bisa aku berbicara dengan orang itu?” tunjuknya pada Park Chan Seol yang tengah membelakanginya, dan itu jelas saja membuat Yesung makin kebingungan. “Ah, maksud anda Detektif Park nona? Anu sebenarnya detektif punya sedikit-“

“Bukan ahjussi, tapi anaknya,” Yesung terdiam, sementara gadis itu sudah melanjutkan kalimatnya lagi.

“Chanyeol-ah, bisa bicara sebentar?”

Chanyeol yang mendengar namanya disebut lantas mengalihkan pandangannya ke arah pintu masuk, lalu segeralah ia terkejut dengan mata membola.

“YA! KENAPA KAU ADA DI SINI?” bentaknya seketika yang membuat ayahnya kaget, juga kedua polisi yang ada di ruangan itu. Gadis tadi hanya tersenyum kaku, sementara lelaki di belakang si gadis sudah menundukkan kepalanya.

“Chanyeol-ah, bisa bicara sebentar?” ulang si gadis lagi, seakan teriakan Chanyeol barusan bukanlah tertuju padanya. Gadis itu tersenyum lagi, masih kaku, tapi sukses membuat Chanyeol merasa lututnya serasa lemas begitu saja.

 

[To Be Continued]

 

Author’s Note

Percayalah Eki lagi UTS tapi malah ngetik new chapter, Lucknut emang, Hmzzz. Kalau nanti Eki jarang update lagi minggu depan, berarti eki lagi ngerjain remed yaw :3 /digampar/ XD

 

Shaekiran’s AREA

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

Iklan

32 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 22) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 26) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 25) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 24) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 23) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  9. WENDY NASIBMU SAMA DENGANKU DIPHPin dan diombang-ambingkan oleh orang yang kita sayangi seperti aku dengan baekhyun T_T katanya suka sama aku tapi malah pacaran ama Taeyeon sekarang ngelirik-lirik Momo hahahhahhaha siapa wanita yang mau mengajak bicara Chanyeol itu? kenapa lutut Chanyeol lemas? pasti sarat otot tulang lututnya bermasalah, ayo gosok balsem otot geliga di jamin sembuh chanyeol apalagi aku yang gosok hahahhaha ^_^ ditunggu kelanjutannya Shaekiran-ssi~

  10. atit anget ya kalo prasaan cinta kita dipermainkn ky wendy 😦 😦 😦 ,abang cete kok ga peka si……Aku tau si kamu ingin wen pergi dr khidupnmu demi kbaikannya,tapi kalo ky gini?????
    siapa y harus disalahkan???
    Hah aduh…..Cinta mmng ga sesuai sama logika.
    Wah tuh cewe siapa kyakx si wendy,tpi…….Au ah trserah authornim aj,mki mah ngikut kmn authornim brjalan.

    Yang semangat buat UTS nya ya Eki semoga nilainya bagus Amin….

  11. Kim Saeron kah?? dia udah lma gak muncul, aq hrap yg ktemu ama Wendy itu si Sehun. Kayaknya miris amat si Wendy, Cinta sama oppa tirinya sndri. Pas awal2 suka Chanyeol, eh ada Saeron. Gilirn skrng Chanyeol ama Irene, trus si Sehun baik ama dkatin Wendy itu semua dmi Irene. aku hrap Sehun bnrn jtuh cinta ama Wendy, rsanya gak adil aja gitu klw Chanyeol lngsung dpt si Wendy

    • hoho, saeron kah? wkwk, udah lama gak nongol ya si doi, apa beneran dia? Tunggu next chap/plakk/XD
      Sehun? bisa iya bisa tidak/digampar/
      iya,wendy emang miris cintanya, suer deh ,cantik-cantik ngenes begitu :’)
      Gak adil ya? wkwkwk :’)
      Thanks for reading ❤

  12. Siapa gadis it gerangan? Nggak mungkin wendy kan? Atau irene? Atau cast baru? Auaahh
    Penasaran banget.D tunggu next chap.y thor.Jangan lama2 ya 😃
    Semanagt juga buat UTSnya.Aku doain moga nggak remed ya 😃
    Klw lg ujian ingat chanyeol aja eki siapa tau otak.y langsung encer hahahaha 😄😁

    • siapa hayoo?? siapa??? XD
      Tunggu next aja yaw, hoho 😀
      Doain yaw, meski eki gak yakin sih, haha,abis gadak belajar sama eki-nya/plakk/ XD
      Makasih semangatnya chingu, semoga ya ceye bikin encer ini otak :’)
      Thanks for reading ❤ ❤

    • hayoo, siapa hayooo? XD
      Galak dunks, kan pak polisi kece bapaknya, jadi anak main dibanting/plakk/ XD
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya ❤

  13. siapa yg nyariin chanyeol??? kalo wendy gk mungkin.. irene gk mungkin juga..hhahaha
    gk tau..bingung..
    mending update part selanjutnya…
    chan diem” hebat tapi kok merana gitu nasibnya yaa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s