Gotta be You – [02] The Boy – Shaekiran & Shiraayuki

chanyeolgbyreal.jpg

Gotta be You

A Collaboration Fanfiction by Shaekiran and Shiraayuki

 

Maincast

EXO’s Park Chanyeol and RV’s Bae Irene

Genre

Romance, campus-life, action, AU, dark, angst, sad, etc.

Length

Chaptered

Rating

PG-15

DISCLAIMER

Lagi-lagi dengan Shaekiran & Shiraayuki, ada yang kenal?

Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua, second project collaboration from us.Merupakan perpaduan karya sepasang neutron otak yang bersinergi merangkai kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Standard disclaimer applied. Hope you like the story. Happy reading!

.

Previous Chapter

Teaser | 00. Prolog | 01. The Girl | [NOW] 02. The Boy |

.

[ PLAY]

A boy, who tried for life.

.

.

“If this is a dream, please let me wake up.” —Stay With Me; Chanyeol ft. Punch

.

.

Author’s side

Langit aram-teramam, bukti malam kian tiba. Mentari nampak mulai menjauhi langit, merunduk, hingga kini tenggelam ditelan kelamnya malam. Bulan nampak naik, menuntut haknya menguasai nirwana kala itu, seperti biasanya.

Di waktu malam, kala pendar bintang juga menghiasi kelam.

Netra lelaki itu nampak mengerjap, terbangun karena sinar lampu kamarnya yang tiba-tiba menyala begitu terang, menyeruak matanya yang terpejam hingga membuka.

“Yeol-ah, bangunlah, ini sudah hampir pukul 7 malam,” suara lembut itu menyadarkan si lelaki yang tertidur. Ia tersenyum, sambil mengucek-ngucek matanya yang sudah 2 jam ini terlelap.

“Ah iya eomma, aku bangun,” balasnya sambil menorehkan senyum tipis. Wanita yang tadi membuka pintu kamar jua oknum yang menyalakan lampu ikut tersenyum, membelai surai hitam putranya sambil menggiring remaja 13 tahun yang baru masuk sekolah menengah pertama itu menuju kamar mandi.

“Mandilah, ibu akan siapkan makan malam,” pesannya dan si lelaki mengangguk. Tak lama bunyi shower yang berlomba berjatuhan pun terdengar, memenuhi bising telinga lelaki yang mulai membersihkan tubuhnya itu.

Sebuah meja makan ukuran sedang nampak berisi beberapa lauk pauk, juga nasi dan sayur yang nampak sangat menggiurkan. Si lelaki 13 tahun tiba pula di ruangan itu, lalu duduk di salah satu bangku.

Oppa, Sejeong kesulitan mengerjakan PR Matematika,” tak lama setelah bokongnya mendarat di kursi, sebuah konservasi kecil segera dimulai adiknya. Sejeong, lagi-lagi menanyakan tentang pekerjaan rumah dari guru matematika-nya yang masih juga belum dia mengerti.

“Hmm, memangnya tentang apa?” tanya lelaki itu akhirnya sambil mengelus surai halus adiknya. Berbeda dengan surainya yang sehitam arang, surai adiknya nampak lebih cerah, mendekati warna coklat tua seperti ibunya.

“Tentang luas bangun ruang, aku tidak paham,” jelas Sejeong yang ternyata sudah bersiap sedari tadi dengan buku matematika di pangkuannya, bahkan kini gadis yang baru berusia 10 tahun itu sudah menyodorkan bukunya pada sang kakak.

“Bagian yang ini oppa, tentang luas limas,” lagi, gadis sekolah dasar itu menunjuk sebuah nomor soal dan lelaki yang ditanya nampak mengangguk mengerti.

“Ah, yang ini. Kau harus mencari—“

“Makan dulu,” atensi keduanya harus teralih kini karena sang ibu yang sudah menarik buku anak gadisnya itu dari hadapan kedua anaknya, sambil tersenyum jahil namun dengan mata melotot agar perintahnya dilaksanakan.

Aish, eomma, PR-nya harus dikumpul besok,” rengek Sejeong tiba-tiba, dan ibunya malah semakin mengerucutkan bibir sambil memangku tangannya di pinggang.

“Selesai makan malam juga bisa, Park Sejeong,” kata ibunya tak mau kalah, dan kini giliran Sejeong yang mengerucutkan bibir.

“Tidak bisa, eomma, selesai makan ada drama yang harus aku tonton,” jelas Sejeong, secara tak langsung menyiratkan kalau baginya menonton drama itu adalah suatu kebutuhan pokok.

Mendengar jawaban putri bungsunya itu, Kwon Hye Mi tak bisa menahan uluman senyumnya lagi. Sejeong persis seperti dirinya yang semasa remaja dulu sangat mencintai drama, namun sama seperti ibunya dulu marah-marah saat dia ingin menonton drama, Hye Mi juga mulai marah pada Sejeong.

“Drama lagi? Kalau begitu kapan kau belajar?” pekik Hye Mi, dan Sejeong bukannya menunduk takut dengan amarah sang ibu malah balik menatap wanita pertengahan 30-an itu tanpa takut, malah seberkas senyum tersungging di bibirnya.

“Ayolah, eomma, hanya sebentar, jebal….” entah siapa yang mengajarkan Sejeong ber-aegyo, tapi buktinya si bocah 10 tahun itu sekarang tengah ber-aegyo agar mendapatkan ijin sang ibu. Melihat pertengkaran kekanak-kanakan ibu dan adiknya, Chanyeol tentu saja tertawa kecil. Baginya, suasana seperti ini yang paling membahagiakan hidupnya.

Hyemi nampak mengerlingkan matanya malas, lalu menutup sejenak sambil memijit pelipisnya, “Baiklah, hanya satu episode drama,” putus sang ibu dan sejeong segera memekik kegirangan. “Tapi kerjakan PR-mu dulu,” tambah ibunya dan Sejeong dengan cepat mengangguk.

Tak lama kemudian, mereka bertiga duduk di meja makan dan mulai menyantap makan malam. Suasana canda tawa kian terjadi kala itu, kadang ada guyonan juga nasihat yang diberikan Hyemi pada kedua buah hatinya itu. “Appa lembur juga hari ini?” tanya Chanyeol kemudian pada sang ibu, dan Hye Mi dengan cepat mengangguk, “Hmm, dia sibuk sekai akhir-akhir ini, Yeol-ah,” tambah sang ibu.

“Oh, bukannya kau punya latihan vocal hari ini?” tanya sang ibu kemudian seperti mengingat sesuatu saat sekilas melihat jam yang sudah hampir pukul 8 malam, kurang 15 menit lagi. “Ah, eomma benar, aku hampir lupa,” respon Chanyeol mengerjap sambil melirik jam, lalu menghembus nafasnya perlahan.

“Bisa eomma yang ajari Sejeong tentang limas-nya? Sepertinya latihanku hari ini agak malam,” lanjut Chanyeol seraya berdiri dari duduknya, dan sang ibu segera mengangguk sambil memperhatikan Sejeong yang sudah larut dengan televisi yang menampilkan drama kesayangannya itu.

“Pergilah, kau harus main yang bagus, arrasseo?” pesan ibunya, dan Chanyeol mengangguk. Dengan cepat lelaki itu berlari ke arah kamarnya, meraih gitar coklat kayu kesayangannya juga sepatu yang kemarin malam juga dia pakai ke tempat latihannya itu. Setengah menit kemudian Chanyeol selesai, lalu pamit sambil melambaikan tangan pada ibu juga adiknya yang tidak terlalu menggubris sang kakak karena larut dengan drama.

“Jadi kalian sudah siap?” tanya Chanyeol dan sekitaran 20 orang yang sebagian memegang gitar, biola, dan sebagian lagi yang memegang kertas lirik itu mengangguk. Tak lama, Chanyeol yang duduk di balik piano mulai melantunkan nada dasar, disusul bunyi merdu biola dan petikan gitar yang bersahutan saat suara vocal manusia mulai bercampur dengan merdu.

Jika kalian pikir Chanyeol melakukan latihan vocal itu berarti dia ingin les musik atau menjadi anak band, maka kalian salah besar. Latihan vocal bagi Chanyeol itu adalah memuji Tuhan, sungguh, buktinya dia sekarang sedang mengarahkan teman-teman sesama pelayan gereja untuk latihan beberapa lagu vocal grup yang akan mereka bawakan untuk mengisi acara paskah beberapa minggu lagi. Grup yang disebut ‘Elohim’ yang artinya ‘Sang Pencipta yang Maha Kuasa’ itu tengah mengumandangkan lagu Via Dolorosa yang akan mereka nyanyikan dalam Paskah nanti.

Down the Via Dolorosa in Jerusalem that day
The soldiers tried to clear the narrow street
But the crowd pressed in to see
A Man condemned to die on Calvary

He was bleeding
from a beating, there were stripes upon His back
And He wore a crown of thorns upon His head
And He bore with every step
The scorn of those who cried out for His death

Down the Via Dolorosa called the way of suffering
Like a lamb came the Messiah, Christ the King,
But He chose to walk that road out of His love
For you and me.
Down the Via Dolorosa, all the way to Calvary.

Por la Via Dolo

OPPA!”

Permainan yang baru berjalan belum setengah lagu itu seketika terhenti kala seorang gadis yang masih menggunakan piama rumahan masuk ke dalam gedung gereja dan berteriak. Chanyeol yang sudah menghentikan permainan pianonya beberapa detik lagu mengerjap, lalu berdiri dari posisinya dibalik piano.

“Sejeong-ah, ada apa?” tanyanya lembut, namun adiknya yang tadi berteriak itu malah bermuka pias. Lalu dengan takut-takut Sejeong mulai ber-frasa, “Itu..oppa itu..appaappa…hiks.”

Chanyeol seketika merasa dicampakkan begitu saja ke dasar jurang. Tiba-tiba hatinya merasa tidak tenang. Dengan cepat Chanyeol pamit pulang lebih dulu pada rekan satu pelayanan gereja dengannya itu, lalu segera menarik Sejeong yang menangis hebat pergi dari gereja.

“Sejeong-ah, sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya khawatir bercampur takut, namun bukannya menjawab adiknya malah semakin menangis hebat, membuat Chanyeol mau tidak mau mempercepat langkahnya menuju rumah.

Yang bisa Chanyeol lakukan sekarang hanyalah menatap langit-langit koridor itu dengan pandangan menerawang. Disampingnya duduk Sejeong yang menangis hebat, sementara Chanyeol yang mati-matian menahan tangisnya sebagai lelaki yang berusaha bersikap kuat dan tegar hanya menepuk-nepuk bahu adik perempuannya dalam diam, sambil tetap memandang kosong langit-langit koridor rumah sakit.

Tak lama, suara derit pintu yang terbuka terdengar lalu diikuti langkah kaki beberapa orang yang Chanyeol tahu satu diantaranya adalah langkah kaki ibunya. Chanyeol segera berdiri, lalu berbalik menatap ibunya dengan harapan ibunya akan keluar dari ruangan itu sambil tersenyum dan menggeleng, namun yang lelaki itu dapat hanya wajah pias ibunya yang mengangguk dengan mata bengkak memerah karena menangis hebat. Dan melihat itu Chanyeol tau, apa yang ia takutkan ternyata terjadi.

Mau tak mau tangis Chanyeol akhirnya menyeruak begitu saja. Dia tidak bisa bersikap sok tegar lagi, lantas ia ikut meraung seperti ibu dan adiknya yang sudah menangis seperti orang gila. Chanyeol memandang pintu bertuliskan mortuary—kamar mayat—tempat keberadaan ayahnya itu, ia beranjak berlari ke pintu, berharap bisa masuk ke dalam namun para dokter dan perawat menahannya.

APPA TIDAK MUNGKIN PERGI BEGITU SAJA!” pekik Chanyeol meraung, namun hanya tatapan turut prihatin yang para dokter dan perawat berikan.

APPA TIDAK MUNGKIN BUNUH DIRI!” pekiknya lagi masih meraung, sementara badan 13 tahunnya ditahan oleh para perawat lelaki. Tangisnya makin deras, juga suara pekikan tak terima saat mendapat kabar kematian ayahnya setengah jam yang lalu saat ia masih asyik melantunkan nada Via Dolorosa di altar gereja.

Park Han Yeol, yang orang-orang bilang bagai pinang dibelah dua dengan Chanyeol itu kini dikabarkan melompat dari atap gedung kejaksaan tempatnya bekerja lalu mati di tempat setelah jatuh dari lantai 30. Fakta yang membuat Chanyeol enggan percaya mengingat bagaimana ayahnya itu adalah orang yang berpikiran positif, ceria, juga sosok lelaki yang mengenal Tuhan dan rajin beribadah. Pekerjaan Park Han Yeol pun baik-baik saja, bahkan sosok pria yang bekerja sebagai jaksa itu adalah sosok yang berpengaruh di lingkungan kerjanya dan terkenal bekerja dengan baik tanpa masalah.

Seingat Chanyeol ayahnya itu tidak punya musuh, dan lagi ayahnya masih memilik keluarga kecil yang harmonis membuat Chanyeol makin tidak percaya ayahnya memilih bunuh diri. “Atas dasar apa?” pikir Chanyeol ditengah raungannya yang makin menjadi.

“Sudahlah nak, relakan appa-mu, dia sudah tenang dengan Bapa di Sorga,” dan kalimat sang ibu di tengah isaknya itu membuat Chanyeol benar-benar mencelos, rasanya ia ditarik kembali ke dunia nyata dan mengakui kenyataan pahit yang meski enggan memang telah terjadi. Kini, Chanyeol dan Sejeong sudah menjadi anak yatim.

Pakaian hitam menjadi dominasi warna yang memenuhi ruangan duka itu. Tak jauh di tengah ruangan, di atas sebuah altar yang dikelilingi bunga dan dupa, nampak potret senyum seorang lelaki pertengahan 30-an dibingkai dengan pita hitam, potret ayah Chanyeol yang tiada kemarin malam. Hari ini, Chanyeol yang menggunakan setelan jas dan pita putih yang ada di lengan jas hitamnya nampak menerima tamu dengan senyum dipaksakan, sama seperti sang ibu dan juga adiknya yang menggunakan hanbok hitam dan pita mungil berwarna senada; hitam, yang menghiasi surai gelap kedua wanita terpenting dalam hidup Chanyeol itu.

Banyak orang yang datang terus-menerus bagaikan tanpa henti. Maklum saja, Park Han Yeol adalah sosok orang suskes yang sudah menyelesaikan sekian ratus kasus sebagai jaksa, dan kebanyakan tamu yang datang adalah rekan kerja ayahnya atau pun para klien ayahnya yang menyayangkan kepergian pria muda yang sukses itu.

Tak jarang, teman-teman kuliah juga sahabat-sahabat ibu dan ayah Chanyeol yang sudah berpulang juga hadir, tetangga, sanak saudara juga sesama pelayan gereja dan teman sekolah Chanyeol juga Sejeong. Turut hadir juga persembahan lagu dari grup vocal Elohim yang sayangnya kali ini tanpa petikan gitar Chanyeol ataupun nada-nada indah yang lelaki itu ciptakan daribalik piano hitam putihnya.

“Kau harus sabar, jangan berlarut dalam kesedihan,”

“Kuatlah Yeol, ini pasti jalan Tuhan,”

“Sunbae pasti bisa, sunbae itu orang terceria yang kami kenal,”

Chanyeol berusaha untuk sabar, seperti kata pendeta yang tadi memimpin prosesi ibadah untuk mengantar kepergian ayahnya, Chanyeol harus menerima kenyataan dan melanjutkan hidup ‘kan? Dia masih 13 tahun, dan itu masih terlalu muda untuk menyerah, dan Chanyeol pun tidak mau menyerah seperti ajaran ayahnya yang mengatakan seorang lelaki harus kuat.

Tapi, apa boleh Chanyeol mempertanyakan keadilan Tuhan sekarang?

Disaat Chanyeol adalah sosok remaja yang sangat menghormati Bapa-nya yang di sorga, bersikap baik tanpa mengharap pamrih pada teman-temannya dan menjadi anggota pelayan gereja Tuhan yang aktif dan setia, apa harus Tuhan memberikan cobaan sebegini besar pada lelaki itu?

BRUKKK!

Chanyeol membulatkan matanya. Hari sudah sore dan acara penguburan ayahnya sudah selesai, tinggal dia dan ibu serta adiknya yang akan pergi ke Busan besok untuk menabur abu ayahnya karena ayahnya berasal dari Busan, lalu apa yang sedang terjadi dihadapannya sekarang?

Nampak dihadapan Chanyeol dari balik jendela café orang yang lalu lalang mulai mengerubungi jalan raya. Tadi, adiknya Sejeong dengan merengek meminta padanya untuk membelikan es krim di café yang ada di seberang jalan, rasa coklat dengan ukuran jumbo, pesan adiknya itu kala itu. Melihat adiknya yang sudah mulai tersenyum, dan es krim adalah permintaan pertama dari adiknya yang sedari tadi malam enggan berbicara, Chanyeol tentu saja mengiyakan permintaan adik semata wayangnya itu.

Chanyeol berlari-lari kecil menyebrang jalan, memasuki café dan memesan es krim persis seperti permintaan adiknya. Dan saat pesanan itu selesai, Chanyeol dengan segera berniat kembali kepada ibu dan adiknya yang sedang menunggunya di pinggir jalan, namun yang didapati Chanyeol hanyalah kejadiaan naas yang sepertinya menjadi mimpi buruk terbesarnya sekarang.

EOMMA!” Chanyeol berteriak, masa bodoh dengan pandangan seluruh penghuni café itu kepadanya atau masa bodoh dengan nasib es krim pesanan adiknya yang tadi terjatuh secara spontan karena Chanyeol masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada beberapa meter di depannya itu.

Chanyeol berlari secepat mungkin memasuki kerumunan, dan benar saja, dia menemukan adik dan ibunya sudah bersimpuh darah di tengah jalan, juga sebuah truk yang Chanyeol saksikan adalah oknum yang sudah menghempas kedua wanita kesayangannya itu hingga berdarah-darah seperti sekarang.

EOMMA! BANGUN EOMMA! SEJEONG-AH, BANGUN! INI OPPA SEJEONG-AH!” Chanyeol terus berteriak meski tak satupun dari dua wanita yang tergeletak itu membuka mata dan menjawabnya sambil tersenyum seperti biasanya. Kerumunan itu memandang Chanyeol yang meraung dengan prihatin juga turut kasihan melihat bagaimana lelaki yang masih belasan tahun itu menangisi ibu dan adiknya di tengah jalan raya.

Perlahan kerumunan itu makin banyak, namun tergantikan karena kini ambulance yang entah dihubungi oleh siapa itu sudah tiba. Dengan cepat, pihak rumah sakit mengangkut Kwon Hye Mi dan Park Sejeong ke dalam ambulance, juga Chanyeol yang sudah seperti orang gila karena menangis sementara tangannya berlumur darah efek mengguncang tubuh ibu dan adiknya sedari tadi.

“Kwon Hye Mi, 35 tahun, waktu kematian 10 Maret 2010 pukul 18.13 dikarenakan kecelakaan lalu lintas.”

Dan saat dokter mengucapkan kalimat itu, Chanyeol merasa dunianya direbut paksa. Bahkan ia belum mengganti pakaian dukanya, tapi besok, Chanyeol harus memakai pakaian yang sama lagi. Apa Tuhan sedang bertindak adil? Tak lama, pandangan Chanyeol pun berubah mengabur. Lalu yang terakhir ia ingat adalah semuanya berubah hitam, juga senyum ibunya yang menghilang ditelan maut.

Dua kali musim semi terlalui tanpa sadar, artinya sudah 2 tahun pula Chanyeol merelakan kepergian ayah dan ibunya yang hanya berselang sehari itu. Kini Chanyeol hidup bersama adiknya, Sejeong yang kini lumpuh dan mengalami beberapa gangguan mental efek kecelakaan 2 tahun lalu. Meski demikian Chanyeol tetap bersyukur karena adiknya masih hidup meski dalam keadaan semi-koma. Kadang bangun, kadang tertidur hingga berbulan-bulan lamanya tanpa membuka mata.

Dan sudah terhitung 2 tahun pula, Chanyeol hidup bersama bibi-nya, kakak tiri ayahnya Chanyeol.

“Kau darimana?” tanya perempuan berumur 40 tahunan itu pada Chanyeol yang baru saja pulang dari rumah sakit. Yah, sekarang Sejeong benar-benar menetap di rumah sakit karena keadaannya yang tidak memungkin dibawa pulang. Banyak selang yang harus terhubung pada gadis itu untuk bertahan hidup, dan Chanyeol meski meringis harus membiarkan adiknya tinggal di rumah sakit meski sang adik terus menolak dan selalu memaksanya pulang dengan alasan ingin sekolah seperti dulu.

“Dari rumah sakit, menjenguk Sejeong,” jawab Chanyeol singkat sambil meletakkan sepatu lusuhnya di rak sepatu.

Tidak seperti dulu saat Chanyeol masih memiliki orang tua dan dia hidup berkecukupan, sekarang Chanyeol hidup serba kekurangan. Bibinya sebenarnya mampu mengingat bibinya itu adalah seorang janda tanpa keturunan dan memiliki penghasilan tetap hasil kerja kantoran juga warisan yang ditinggalkan kedua orang tua Chanyeol, namun bibinya itu tidak pernah memperlakukannya dengan baik.

“Menjenguk gadis penyakitan itu lagi? Ayolah bocah, apa kau tidak berniat melakukan eutanasia saja pada adikmu? Itu lebih efektif, toh si Sejeong itu tidak punya harapan hidup lagi. Hidup pun dia hanya akan membuat susah karena sekarang dia cacat dan sebelah kakinya di amputasi,” sarkas sang bibi pada Chanyeol yang hanya ditanggapi diam oleh lelaki itu.

Eutanasia atau pembunuhan secara perlahan, suatu cara yang bisa menjadi pilihan pada keluarga pasien untuk mengakhiri hidup pasien yang tidak memungkinkan lagi secara damai—dalam kasus ini mengakhiri hidup Sejeong—dengan melepas semua alat bantu pernafasan dan segala selang serta infus yang membantu Se Jeong tetap bertahan hidup. Dan si bibi itu meminta Chanyeol melakukan eutanasia pada adik semata wayangnya? Wanita itu benar-benar gila!

“Sejeong tidak merepotkan,” jawab Chanyeol dingin lalu segera berlalu masuk ke kamarnya yang dengan segera dicegat bibinya itu.

“Kemana uang asuransi ayah dan ibumu?” tanyanya sambil menahan pergelangan Chanyeol yang sebentar lagi masuk SMA, dan Chanyeol tentunya tau apa maksud bibinya itu. Wanita ini butuh uang, pikirnya.

“Itu untuk biaya pengobatan Sejeong,” elak Chanyeol, dan emosi bibinya naik ke ubun-ubun.

“MAKANYA AKU BILANG KAN BUNUH SAJA ADIKMU ITU!” pekiknya kemudian yang segera membuat Chanyeol menghempas tangan bibi tirinya itu kasar. Andai saja bukan dia satu-satunya keluarga yang masih dimiliki ayah dan ibunya, Chanyeol tidak sudi bahkan untuk berbagi atap dengan kakak tiri ayahnya itu. Mereka tinggal di rumah ayah Chanyeol, rumah hak milik Chanyeol, tapi Chanyeol malah diperlakukan sebagai pembantu. Dan sekarang dia juga menyuruh Chanyeol untuk membunuh adiknya sendiri demi kesenangan dunianya.

“TIDAK AKAN PERNAH!” balas Chanyeol balik marah, dan sang bibi malah makin naik pitam ia segera meraih tasnya yang ada di atas meja.

“AKU AKAN KE RUMAH SAKIT DAN MEMINTA DOKTER MELAKUKAN EUTANASIA PADA SI LUMPUH ITU, BEGINI-BEGINI AKU ADALAH WALI SAH KALIAN BERDUA!” pekiknya sambil berlalu pergi, dan itu membuat jantung Chanyeol berpacu makin tidak karuan. Ia mengejar bibinya, memohon-mohon agar wanita itu tidak melakukan hal yang bisa saja membuat nyawa Sejeong melayang begitu saja.

“Beri aku kode asuransinya, dan aku tidak akan ke rumah sakit,” kata bibi Chanyeol sambil tersenyum miring, senang karena ia menjadi pemenang sekarang. Lalu dengan enggan Chanyeol mengangguk, lalu mulai melafalkan beberapa angka kode yang sudah ia hafal di luar kepala.

“Anak baik,” puji bibinya itu saat Chanyeol selesai dengan angka kodenya, lalu dengan langkah segera si bibi pergi ke luar rumah, menuju bank asuransi.

“Rawat saja adikmu yang lumpuh itu, dan jangan lupa bersihkan semua ruangan karena aku ingin berpesta dengan teman-temanku!” titahnya sebelum benar-benar melenggang pergi dengan mobil yang ada di garasi –mobil ayah Chanyeol.

Chanyeol hanya memandang kekacuan yang ditimbulkan bibinya di rumah. Ia sedang belajar kalkulus, pelajaran yang sebenarnya jauh dari tingkatnya, namun segera terganggu karena bunyi pesta yang disiapkan bibinya itu untuk bersenang-senang dengan teman-temannya. Merasa terganggu, Chanyeol akhirnya dengan langkah tergesa menuruni tangga menuju ruang tamu dimana bibinya melakukan pesta.

Namun yang didapati Chanyeol ternyata jauh dari bayangannya tentang pesta minuman dan lampu kerlap-kerlip sana-sini, maksudnya Chanyeol mendapati jauh yang lebih buruk dari itu.

Chanyeol segera berbalik, berlari secepat mungkin ke kamarnya lalu mengunci pintu sebelum ia melihat sesuatu yang lebih lagi. Chanyeol menutup telinganya rapat-rapat saat suara gaduh itu kembali terdengar. Sial, Chanyeol membenci ini.

Besoknya, saat pagi menyapa dengan riang namun suram di mata Chanyeol, lelaki yang sudah menggunakan seragam sekolah itu menuruni tangga, hendak berangkat sekolah. Sebelum benar-benar melangkahkan kaki keluar rumah, Chanyeol menyempatkan diri ke kamar bibinya. Ini hari pertamanya memasuki jenjang SMA, dan dia perlu biaya transport untuk pergi ke SMA yang lumayan jauh dari rumahnya itu, tidak seperti SMP-nya yang dekat dari rumah.

Yang didapati Chanyeol saat memasuki kamar bibinya yang tidak dikunci itu masih sama seperti pemandangan kemarin, baju yang berserakan dilantai juga 2 sosok yang bergelung dalam selimut di kamar yang dulunya adalah kamar orangtuanya itu membuatnya meringis. Dulu, kamar ini begitu menyenangkan bagi Chanyeol, karena orangtuanya selalu mengajarinya tentang kebajikan dan pelajaran sekolah disana semasa Chanyeol kecil. Namun sekarang Chanyeol benci kamar ini, karena bibinya sudah merubahnya menjadi tempat paling memuakkan seumur hidupnya.

Perlahan Chanyeol yang enggan berlama-lama satu ruangan dengan bibi dan lelaki bibinya yang tak berlapis sehelai benang itupun segera menuju meja disamping tempat tidur dimana dompet bibinya diletakkan begitu saja. Dengan cepat Chanyeol mengambil kartu bus juga beberapa won uang tunai yang ada di dompet bibinya, lalu segera pergi ke sekolah dengan membanting pintu kamar.

Chanyeol memasuki tahun pertamanya di SMA. Bagaikan diikuti hebatnya pubertas, Chanyeol berubah menjadi sosok yang benar-benar menawan meski Chanyeol lebih memilih bersembuyi dibalik kacamata tebalnya hingga ia dicap nerd oleh teman sekelasnya. Tak jarang Chanyeol di-bully, namun lelaki itu tidak peduli dan memilih menerima bully-an saja, apalagi teman sekelas bahkan satu sekolah tau kalau murid beasiswa itu adalah anak yatim piatu. Bagaikan bulan-bulanan, Chanyeol si nerd memang ditakdirkan untuk di tindas.

Jika di masa SMA adalah masa terindah, bagi Chanyeol tidak. Itu adalah masa yang terburuk. Chanyeol memang berhasil masuk ke SMA yang ia impikan, SMA yang terkenal akan prestasi hingga tingkat nasional itu dengan jalur beasiswa, hasil belajar Chanyeol selama ini yang tiada hari tanpa buku. Namun jangan kira hidup lelaki itu baik-baik saja disana. Sebagai anak nerd, bahan bully-an juga anak yatim piatu yang tergolong ekonomi pas-pasan karena semua asuransi dan warisan Chanyeol yang dihamburkan untuk berfoya-foya oleh bibinya, Chanyeol diperlakukan bagai babu dan semakin menjadi babu saat hari ujian tiba. Chanyeol yang ceria, selalu tersenyum juga sangat cool semasa awal SMP itu hilang entah kemana bagai ditelan bumi. Sekarang Chanyeol lebih banyak merenung.

Seperti siang ini, sekumpulan anak yang tadi mencegatnya jalannya di kantin hingga ia terjatuh dan menjadi tertawaan juga mencegatnya di gerbang sekolah. Mereka tersenyum sinis, membuat Chanyeol sadar kalau sesuatu yang tidak baik akan segera terjadi.

Hey, bocah cupu,” satu diantara mereka memanggil Chanyeol. Badannya jauh lebih pendek dari Chanyeol, tapi dia mengatai lelaki Park itu bagai memanggil bocah umur 5 tahun.

Tak lama Chanyeol berhenti, lalu ia diseret ke belakang sekolah. Banyak orang yang menyaksikan kejadian itu, namun tidak ada yang berniat untuk sekedar mengasihani Chanyeol yang nasibnya sedang diambang batas.

BRUKK!

Sekon pertama saat Chanyeol sudah menginjakkan kakinya di belakang sekolah adalah sebuah tendangan keras yang mengenai telak ulu hatinya. Lelaki itu langsung meringis, merasakan sakit yang luar biasa menjalar begitu saja di tubuhnya. Tak lama mereka yang hampir belasan orang anak pemilik saham yayasan sekolah itu mulai mengeroyok Chanyeol, membuat lelaki itu berharap ia mati saja kalau saja ia tidak ingat masih ada Sejeong yang menunggunya. Sebenarnya Chanyeol bisa melawan, namun ia hanya pasrah. Takut beasiswanya dicabut mengingat siapa orang tua dari bocah-bocah kurang kasih sayang yang melayangkan bogem mentah padanya itu.

“Wow, dia punya uang,” seloroh satu dari anak-anak itu kemudian. Chanyeol menatap tasnya yang sudah terbuka, lalu menampakkan beberapa won yang ia curi dari bibinya pagi ini. Sebenarnya bukan mencuri, toh itu memang uang yang ditinggalkan ayah dan ibunya untuknya.

“Kembalikan, itu uangku!” pekik Chanyeol tak terima. Namun mereka hanya tertawa, dan semakin memukuli lelaki itu tanpa ampun. Chanyeol hanya bisa meringis saat beberapa jam kemudian saat para orang kaya itu mulai bosan padanya dan pergi meninggalkannya yang sudah babak belur di belakang sekolah dengan membawa uangnya. “Sialan, padahal itu uang untuk menebus obat Sejeong,” ringisnya sambil mengutuk diri sendiri.

“Baru pulang?” tanya bibi Chanyeol sesampainya lelaki itu di rumah. Chanyeol tidak menjawab banyak, hanya mengangguk sebentar lalu segera pergi meninggalkan bibinya.

“Kau mencuri uangku ‘kan? Ah, kau juga mengambil kartu bus dan kartu kreditku,” lanjut bibinya sinis, membuat Chanyeol yang wajahnya sudah babak belur itu naik pitam.

“Uangmu? Sadar, itu uang orangtuaku!” pekiknya tak terima, namun hanya sebuah tamparan keras yang mendarat di pipinya.

PLAKKK!

“DASAR BOCAH KURANG AJAR. TIDAK TAU DIRI!” bentak bibinya marah, namun Chanyeol bukannya takut, malah makin menatap nyalang wali-nya itu. Dengan segera Chanyeol melemparkan kartu bus bibinya, “Ambil, aku tidak butuh kartu itu!” pekiknya lalu segera berlalu ke kamar.

Grep!

“Tunggu,” bibinya menahan pergelangan tangan Chanyeol hingga otomatis lelaki itu berbalik dan menatap bibinya,” Mana kartu kreditku?” tanya bibinya yang seketika membuat Chanyeol makin muak.

Ayolah, bibinya sedang menuduhnya mencuri apa yang tidak ia curi kah? Jelas-jelas Chanyeol hanya mengambil kartu bus dan uang, bukannya kartu kredit.

“Mana aku tahu, aku tidak mengambil―”

PLAKKK!

“KEMBALIKAN SEKARANG JUGA!” bentak bibinya yang makin membuat Chanyeol naik pitam, “BUKAN AKU!” jawabnya tak kalah berteriak.

“KALAU BUKAN KAU SIAPA, EOH? HANTU? JANGAN PIKIR AKU BODOH DASAR SIALAN!” tanya bibinya tak percaya, dan terus memojokkan Chanyeol.

“TANYA SAJA PADA GIGOLO-GIGOLO MU ITU!” putus Chanyeol akhirnya berteriak, lalu segera berlari ke kamarnya.

Chanyeol bangun lebih pagi dari biasanya, 2 jam lebih cepat. Jadi, setelah ia mengembalikan kartu bus bibinya, dia harus mengayuh sepeda lamanya agar sampai sekolah tepat waktu kalau ia masih ingin masuk dan belajar di sekolah itu.

Sesampainya Chanyeol di sekolah dengan luka masih membengkak, ia masih jadi bulan-bulanan lagi. Padahal ini baru hari keduanya bersekolah, tapi dia sudah ditarget sebagai bahan bully-an tiga angkatan, agaknya karena ia satu-satunya murid beasiswa berprestasi yang yatim piatu hingga mereka yakin Chanyeol tidak akan bisa melaporkan mereka ke pihak berwajib. Benar saja, toh Chanyeol tidak akan bisa melapor tanpa wali, dan wali-nya pun yang notabene bibinya hanya akan memanfaatkan keadaannya untuk memeras uang dari orangtua siswa yang kaya raya itu dan bukannya membelanya.

Jadi buat apa dia memperkaya bibinya yang tidak punya hati itu?

Chanyeol meringis lagi. hari ini dia pulang dengan keadaan badan penuh tepung dan telur, juga tasnya yang berlumpur karena bocah-bocah nakal tadi melempar tas yang berisi buku-buku tugasnya itu ke parit sekolah. Belum lagi penampakan sepeda satu-satunya Chanyeol yang kini sudah ompong tanpa roda sepeda. Dia menghela nafasnya kasar. “Apa besok aku bangun 2 jam lebih pagi dari hari ini agar aku jalan kaki dan tepat waktu ke sekolah?” batinnya sambil menahan tangis.

Pukul 9 malam Chanyeol akhirnya sampai di rumah, setelah dia dipandang seperti manusia dari planet lain sepanjang 2 jam perjalanannya dari sekolah ke rumah. Wajar saja, badannya yang penuh tepung dan tasnya yang berlumpur, juga aksi menenteng sepeda rusaknya ke rumah sepanjang jalan, siapa yang tidak ingin menertawainya yang sudah seperti orang gila?

Yang didapati Chanyeol hanya keadaan rumah yang sepi. Bibinya belum pulang, dan Chanyeol tidak ambil pusing kemana bibinya itu keluyuran tengah malam begini. Baginya, lebih baik bibinya itu tidak usah pulang saja sekalian. Karena meskipun pulang, bibinya itu pasti akan pulang sambil membawa satu lelaki tak dikenal dalam keadaan mabuk ke kamarnya, dan Chanyeol membenci itu. Jadi dia lebih memilih segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.

Chanyeol berlari secepat yang ia bisa ke pintu utama rumahnya. Jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, dan dia baru saja terbangun karena suara ketokan pintu yang begitu keras. Tebaknya itu adalah bibinya yang baru pulang, dan benar saja, yang datang memang bibinya dengan keadaan kacau balau. Chanyeol bahkan harus menjauh selangkah ke belakang karena bau alkohol yang menusuk begitu kuat dari bibinya yang sekarang dalam keadaan mabuk total itu. Bedanya, tidak ada lelaki murahan yang menemani bibinya kali ini, bibinya hanya pulang sendirian.

Dengan berat hati, Chanyeol akhirnya memapah bibinya yang dia yakin sudah tidak sanggup berjalan menuju kamarnya di lantai 2 itu. Namun ternyata mabuk bibinya kali ini benar-benar luar biasa sehingga Chanyeol mengharuskan dirinya menggendong bibinya itu ke kamar.

“DASAR LELAKI MURAHAN! BERANINYA DIA MENGAMBIL SEMUA UANGKU!” pekik bibinya setengah sadar sambil menjambak rambut Chanyeol yang sedang menaiki tangga. Chanyeol hanya diam saja meski sebenarnya dia berniat melempar bibinya agar jatuh ke bawah saja, dan tebaknya bibinya pasti baru saja menjadi korban penipuan dari lelaki-lelaki yang selama ini bibinya itu tiduri.

“Chanyeol-ah, turunkan aku,” kali ini nada bicara bibinya membaik, bahkan terkesan lunak hingga mau tak mau Chanyeol dengan senang hati menurunkan bibinya itu karena mereka sudah sampai di lantai 2.

“Tidurlah imo, ini sudah malam,” pesan Chanyeol lalu segera beranjak pergi, namun bibinya segera menahan pergelangan tangan lelaki itu. “Tunggu sebentar,” lirih bibinya sambil memeluk Chanyeol dari belakang dan seketika Chanyeol merasakan sinyal bahaya karena kini jemari bibinya mulai masuk dan menggerayang di dalam bajunya.

“Ah, dadamu bidang sekali,” puji bibinya, dan Chanyeol seketika mencelos. Sial, apa bibinya itu sudah gila?

Imo, tolong lepaskan aku,” pinta Chanyeol sambil menjauhkan tangan bibinya paksa dari balik kaos yang ia pakai, namun bibinya itu hanya tersenyum menyeringai.

“Chanyeol-ah, ayo tidur dengan imo.”

Chanyeol berdiri kaku di rumah duka. Hari ini dia menjadi satu-satunya penerima tamu karena memang hanya dialah keluarga bibinya yang tersisa. Ya, bibinya sudah meninggal dunia, 2 hari yang lalu karena terjatuh dari tangga lantai 2 rumahnya. Dan kalian tau siapa yang menjatuhkannya? Tentu saja, Park Chanyeol.

Chanyeol membunuh bibinya sendiri.

“Jangan main-main imo! Kau sudah gila!” pekik Chanyeol sambil mendorong paksa bibinya yang sekarang sedang menyudutkan dirinya ke dinding. Bibinya terjatuh ke lantai, namun masih belum menyerah.

“Ayolah Chanyeol, tidur dengan imo sekali saja, huh?”

BRUKKK!

Entah sadar atau tidak, Chanyeol baru saja mendorong bibinya. Namun bukannya jatuh ke lantai, karena sekarang badan bibinya mulai menggelinding di tangga dan membentur keras keramik lantai pertama rumah dengan keadaan darah yang bercucuran.

 

“Jadi Tuan Park Chanyeol, anda belum cukup umur dan kami rasa anda perlu mendapatkan wali,” seorang anggota kepolisian yang kemarin mengevakuasi jenajah bibinya nampak berucap, namun Chanyeol hanya menggeleng ringan.

“Tidak ahjussi, sepertinya saya sudah cukup dewasa tanpa wali. Saya mohon, tolong jangan ada wali lagi,” pinta Chanyeol sambil tersenyum miring. “Sebelum aku membunuh wali-ku lagi,” lanjutnya dalam hati.

Empat tahun ternyata berlalu dengan sangat cepat. Chanyeol kini sudah lulus SMA dan menjadi salah satu mahasiswa yang mendapat beasiswa penuh di Universitas Seoul dalam jurusan bisnis. Dan selama 4 tahun itu, Chanyeol mengalami banyak perubahan. Ya, banyak sekali.

“Sejeong-ah, oppa datang,” teriak Chanyeol riang sambil menenteng sebuah paket ayam spesial ke kamar rawat adiknya itu. Nampak seorang gadis dengan berperawakan kurus dan wajah pucat tersenyum senang saat mendapati satu-satunya keluarganya yang tersisa itu datang berkunjung.

Satu mujizat terakhir yang Chanyeol percayai adalah adiknya membuka matanya setelah sekian tahun mengalami semi-koma. Setelah bibinya meninggal dunia, Sejeong secara ajaib bangun dari keadaan semi-komanya dan membuat Chanyeol senang bukan main karena sejak bibinya meninggal Sejeong tidak pernah koma lagi.

Chanyeol hanya memandangi raut bahagia adiknya yang tengah menyantap paha ayam dengan begitu lahap sambil meminum soda. “Jangan banyak-banyak, penyakitmu bisa kambuh,” pesan Chanyeol dan Sejeong hanya mengiyakan meski nyatanya ia tetap makan seperti orang kelaparan.

“Ini hari terakhirku makan enak, setelah ini aku harus puasa karena harus dioperasi besok,” bela Sejeong pada dirinya sendiri, dan Chanyeol hanya tertawa mendengarnya. Ya, ini juga yang membuat Chanyeol mau membawakan makanan tak sehat itu pada adiknya, karena Sejeong bilang kalau dia tidak makan ayam sebelum masuk ruang operasi dia tidak yakin bisa selamat setelah mess membelah perutnya.

“Terserahmu saja, yang pasti kau harus semangat karena oppa sudah membelikan banyak ayam untukmu,” kata Chanyeol sambil mengacak-acak rambut adiknya, dan Sejeong hanya tersenyum sangat manis sambil mengangguk kecil.

“Ah, oppa harus pergi. Oppa harus kerja sambilan, tak apa kan Jeong-ah?” kata Chanyeol kemudian saat sebuah e-mail masuk ke smartphone-nya barusan. Mendengarnya, Sejeong sedikit tidak rela, namun demi sang kakak dia lansung mengangguk sambil tersenyum lebar. “Hwaiting oppa!” katanya semangat sambil membentuk tangan menyemangati Chanyeol, satu yang membuat Chanyeol makin menyayangi adiknya yang menggemaskan itu.

Chanyeol berlalu dari rumah sakit dengan segera. Ia memasuki atap rumah sakit yang sekiranya ada di lantai 30-an, lalu segera membuka email rahasia yang tadi masuk ke smartphone-nya.

Hallo Zen, aku Mr.X ingin meminta bantuanmu. Bayarannya besar, tertarik? Ah, aku dengar kau cinta uang jadi aku yakin kau pasti setuju saat aku menawarkan satu milyar won, kan?
Zen, tolong buntuti orang ini, lalu bunuh, sederhana bukan? Aku menunggu kabar kematiannya paling lama dini hari ini, atau satu milyarmu hangus.~

 

Chanyeol men-scroll layar smartphone-nya, lalu tersenyum saat dia mendapati sebuah foto dan identitas dari target yang harus dia bunuh kali ini. Dengan segera Chanyeol membuka tas ransel yang sedari tadi ia bawa, lalu mengeluarkan sebuah laptop dan segera menyambungkan smartphone-nya dengan laptop yang sudah ia rancang khusus ini.

Dengan segala keahliannya, Chanyeol mulai mengotak-atik data yang ia punya. Meng-hack semua cctv yang ada di Seoul juga memasuki server pemerintah secara ilegal sudah seperti makanan sehari-hari seorang Chanyeol, ah, atau pada saat ini apa perlu kita panggil ia Zen saja?

“Hmm, menarik, ternyata satu milyar won-nya tidak terlalu sulit. Ah, jadi targetku sedang berada di bar?” batinnya mengulum senyum saat apa yang ia cari akhirnya ditemukan dengan mudah.

“Sialan, aku bisa terlambat kalau begini caranya,” umpat Chanyeol karena mendapati dirinya malah terjebak kemacetan saat dalam perjalanan menuju Bar ‘Cappodecapi’ tempat mangsanya itu berada. Jadilah Chanyeol lebih memilih berlari menuju tempat tujuannya itu sebelum mangsanya melarikan diri dan satu milyar won-nya hangus begitu saja.

Tak sabaran, Chanyeol akhirnya lebih memilih memasuki jalan tikus yang ia ingat bisa membawanya ke bar terbesar di Seoul itu. Lantas ia menarik hoodie yang dia pakai hingga menutupi kepala, lalu lanjut berlari menelusuri gang-gang kecil nan sempit dan gelap. Dia tidak peduli caranya, yang penting ia harus sampai di bar dan membunuh mangsanya itu.

Bugh!

Chanyeol hanya bisa meringis karena baru saja lututnya bergesekan dengan aspal setelah ia keluar dari gang sempit karena jalan menuju bar itu sudah semakin dekat. Naasnya, tali sepatu Chanyeol lepas dan dia menginjaknya karena terlalu fokus berlari, hingga ia harus berakhir terjatuh dan memperlambat langkahnya menuju bar.

Tanpa berpikir dua kali, pria itu segera berjongkok di tengah jalan untuk mengikat tali sepatunya, meyampingkan rasa sakit yang kini menjalar di lututnya. Selesai dengan tali sepatunya, entah kenapa Chanyeol tiba-tiba tersenyum lalu mulai menepuk-nepuk sepatu dongkernya yang berdebu. Sepatu itu adalah sepatu kesayangannya, hadiah dari seseorang yang sudah menyimpan terlalu banyak kenangan dalam hidupnya.

Pikirannya seketika melayang kepada Sejeong yang super ceria, hingga bibirnya secara otomatis tertarik untuk menciptakan sebuah lengkungan tipis di rahang tegasnya. Sejeonglah satu-satunya alasannya mau melakukan pekerjaan seperti ini. Hanya demi Sejeong dia bertahan hidup.

Setelah yakin tali sepatunya terikat sempurna, Chanyeol akhirnya bangkit berdiri dan hendak melanjutkan langkahnya untuk berburu. Namun sebuah dering tiba-tiba mengalihkan atensinya yang hendak berlari itu. Ditatapnya layar ponselnya dengan senyum mengembang segera setelah maniknya menangkap nama yang terpatri di ponselnya, menarik senyumnya lagi, kemudian dengan segera menjawab panggilan telpon itu.

Yeob―”

BRUKK!

Chanyeol menyerngit ketika rasa sakit yang luar biasa kini menjalar di sekujur tubuhnya, terutama di kepala yang baru saja bertubrukan dengan aspal kasar. Dia bahkan tidak sempat mengelak karena mobil yang baru saja menghantamnya hingga terpelanting itu datang sangat tiba-tiba dengan kecepatan super tinggi, hingga ponselnya juga kini ikut terhempas kasar ke jalan.

Dengan usaha cukup keras dan dengan pandangan yang memburam, Chanyeol menengadahkan kepalanya yang memberat, melihat plat mobil sialan ini dan melafalkannya dalam hati karena hanya itu yang mampu ia lakukan. Bahkan, menggerakkan lehernya saja sudah membuatnya begitu kesakitan bagai ribuan jarum menusuknya dalam sekali serangan, begitu menyakitkan dan membuatnya ingin menyumpahi siapa saja yang mengendarai Porsche mewah itu.

Seoul-2927.

Dia hafal plat mobil sialan itu.

Setelah itu, semua menjadi gelap seketika. Chanyeol tak sadarkan diri, lalu terbaring tak berdaya dengan darah mengucurdari kepalanya di tengah gelapnya malam yang dihiasi cahaya rembulan.

Oppa!” panggil Sejeong ceria karena panggilannya baru saja dijawab oleh Chanyeol. Namun sudah dua menit menunggu, belum ada juga balasan suara dari seberang sana.

Oppa, jawab Sejeong,” katanya merengek, tapi lagi-lagi tidak ada suara. Sejeong akhirnya menyerah setelah 10 menit Chanyeol belum juga bicara, dengan sepihak Sejeong akhirnya memutusan kalau saja Chanyeol ketiduran saat mengangkat panggilan telfonnya karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam lebih.

Sejeong mematikan panggilan telfonnya, lalu meletakkan smartphone yang dibelikan Chanyeol untuknya itu di atas meja.

Oppa tidak asyik ah, padahal Sejeong kan ingin cerita kalau tadi Sejeong bertemu dokter tampan. Ah, dan dokter tampan itu juga bilang jadwal operasi Sejeong dimajukan jadi besok pagi dan bukannya besok sore. Sejeong kan ingin bilang kalau oppa harus datang kalau tidak―”

DEG

Sejeong menghentikan celotehannya saat tiba-tiba dia merasakan sakit yang luar biasa di dadanya. Gadis itu meringis sambil memegangi dadanya yang terasa begitu mencekik. “Ah, sakit,” ringisnya sambil memegangi dadanya. Dengan segera Sejeong turun dari tempat tidur meski ia harus terjatuh karena kakinya yang sudah tidak normal lagi. Mengabaikan rasa sakit yang ia rasakan, Sejeong segera menekan tombol darurat di ruangannya.

“Dokter cepatlah datang,” ringisnya dalam hati.

Chanyeol terbangun di sebuah ruangan yang tidak ia kenali. Wangi menusuk yang sangat khas juga langi-langit putih yang menyambut mataya segera membuatnya sadar dimana dia sekarang; rumah sakit.

“Ah, kau sudah bangun?” tanya suster yang kebetulan sedang memperbaiki infus Chanyeol yang habis, dan Chanyeol hanya mengangguk ringan. Kepalanya masih berdenyut, dan itu membuatnya sangat pusing. “Ah, benar juga. Aku ditabrak lari,” ingat Chanyeol ketika sekelebat bayangan kemarin malam tersampir di ingatannya.

“Tunggu sebentar, akan kupanggilkan dokter,” kata suster itu lalu segera berlalu keluar ruangan. Chanyeol tidak terlalu peduli. Yang ada dipikirannya sekarang hanyalah satu milyar won-nya yang hangus karena ia tidak berhasil membunuh mangsa-nya, juga Sejeong yang biaya perawatannya teracam karena dia tidak berhasil mendapatkan uang.

“Sejeong-ah, bagaimana kabarnya ya?” pikir Chanyeol kemudian sambil tersenyum tipis, karena sekarang dia sedang membayangkan Sejeong yang cemberut karena harus berpuasa dan kelaparan. Seingatnya, adik perempuannya itu tidak tahan kalau kelaparan dan pasti akan mondar-mandir di ruangan seperti orang gila. Pasti lucu sekali; pikirnya.

Tak lama, segerombol dokter dan para dokter koas datang memasuki ruangan Chanyeol, lalu memeriksa keadaan lelaki itu. “Kau sudah cukup membaik, hanya saja ada beberapa tulang yang patah dan sebagai dokter aku menyarankanmu agar beristirahat dan tidak terlalu banyak bergerak. Dan besok kau harus melakukan x-ray karena aku tidak yakin, mungkin saja ada beberapa bagian organ dalammu yang juga ikut terluka,” kata dokter yang sudah cukup berumur itu sebelum meninggalkan ruangan. Chanyeol hanya mengangguk sambil mengiyakan, sedikit tersenyum saat tau dia ada di rumah sakit yang sama dengan Sejeong setelah melihat jas rumah sakit dokter itu.

“Oh iya suster, aku bisa keluar sebentar ‘kan? Adikku juga dirawat disini, dan aku ingin mengunjunginya sebentar.”

Chanyeol hanya bisa terpaku saat mendapati kamar rawat adiknya dalam keadaan kosong melompong. Hanya ada tempat tidur yang sudah rapi tanpa satupun alat bantu pernafasan yang biasanya berjejer di ruangan itu. Pikiran Chanyeol mulai lain, tapi Chanyeol berusaha berpikiran positif kalau saja adiknya itu sedang bersama dokter melakukan pemeriksaan atau terapi di ruangan lain. Namun pikirannya tidak juga tenang, jadi Chanyeol dengan segera menuju ruang resepsionis.

“Suster, pasien di kamar Violet 27B dimana?” Suster jaga itu sedikit terkejut saat mendapati Chanyeol mendatanginya dengan was-was. “Maaf, anda ini siapanya pasien?” tanya suster yang sekarang sedang men-cek data pasien di komputernya.

“Saya oppa-nya, pasien atas nama Park Sejeong,” jawab Chanyeol cepat masih dengan hati berdesir tak karuan. Bahkan sekarang dia mencengkram tangkai besi penyangga infusnya begitu kuat.

“Maaf, tapi pasien atas nama Park Sejeong sudah tiada kemarin malam,” jawab suster itu dengan raut prihatin, dan itu makin membuat jantung Chanyeol berdetak tak karuan. “Maksud anda apa?” tanyanya takut-takut.

“Pasien Park Sejeong, 17 tahun, meninggal dunia kemarin malam pukul 11.47 dikarenakan serangan jantung mendadak.”

Dan seketika Chanyeol mencelos. Lagi-lagi, nyawanya seakan tertarik begitu saja keluar, juga dunianya bagai direbut paksa. Adiknya, satu-satunya kesayanganya juga alasannya untuk hidup, kini sudah tiada.

Hidup itu bagai langit, kadang cerah kadang pula mendung. Masalahnya, Tuhan menciptakan langit-ku tanpa kata ‘cerah’. Sialnya, Dia menciptakannya hanya dengan frasa ‘mendung’

Ya, kalau Chanyeol adalah langit, maka Chanyeol adalah langit tergagal yang pernah diciptakan Tuhan. Karena lelaki itu adalah langit yang diciptakan tanpa pelangi, tanpa sinar mentari yang terik dan hangat namun hanya berhiaskan mendung yang kelam dan mencekam. Chanyeol si langit mendung.

Ah, Chanyeol bahkan sudah lupa bagaimana ia mengingat Tuhan yang dulu ia puji lewat talenta-nya bermusik dan melayani gereja. Yang hanya Chanyeol ingat adalah Tuhan merebut semua orang yang ia sayang; ayahnya, ibunya, juga adiknya. Chanyeol sudah tidak percaya Tuhan, sejak ia dipaksa tinggal sendiri di dunia. Baginya Tuhan itu tidak pernah adil, karena sudah merebut semua kebahagiannya.

Chanyeol rasa ini adalah mimpi, mimpi terburuk yang pernah ia punya. Tapi nyatanya saat ia terbangun dari tidurnya, ia berada di dalam kenyataan pahit. Setidaknya, ia harus tetap mengantar kepergian adiknya untuk terakhir kalinya meski ia meringis dalam tangis yang kian menjadi. Chanyeol merapikan dasi hitamnya, lalu memandang foto adiknya yang kini sudah berbingkai pita hitam di tengah altar.

Annyeonghi kyeseyo, Sejeong-ah,”

[END]

Author’s Note

Huhu, seperti janji, Gotta Be You update new chapter tgl 10. Yehet! Ada yang kesel dan berniat berhenti baca karena cast-nya tidak sesuai harapan? Kami masih ingat betapa banyaknya yang komen hunrene, but maaf, kami ingin yang beda kali ini, dan lewat ff ini kami persembahkan kopel ChanRene/digebuk massa/ XD. Ada yang tebakannya benarkah?

Hehe, seperti biasanya, next chap-nya bakal nongol tgl 23 yay, dan tentang imo-nya Chanyeol, serem gak? WKWK. Masa ya eki ngakak denger komentar shira :v

Shira : “Anjir lo ki, bibinya masa ngajak main,”

Eki     : “Maaf neng, ane kilap, itu bibinya juga kilap punya ponakan bangsad cem cy di rumah,”

Shira : “Iya, kilap mendatangkan maut,”

Gotta be You  adalah contoh ff pembohongan rating, bhaks XD

Wokeh, intinya jangan kilap kalau nggak mau maut datang menghampiri/DIGAMPAR/ GAK JELAS WOI/ BACOD KAMU AUTHOR/

Wokeh(2) Salam ketchup muachh berlendir bau dari kami berdua,

Double S

 

Iklan

47 pemikiran pada “Gotta be You – [02] The Boy – Shaekiran & Shiraayuki

  1. Wah bukannya kecewa aku malas seneng banget main castnya CHANRENE because aki CHANRENE SHIPPER GARIS KERAS 😍 *santeelah 😂
    Pokoknya makasih bgt udah bikin cerita CHANRENE yg keren macem ini 😍 loveya ❤
    Btw kisahnya Irene sama Chanyeol di cerita ini sama sama ngenes sih jidoh kali ya 🙊😂

  2. Ping balik: Gotta Be You – [8] Kiss – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  3. chanyeol kok kesian banget siiii idupnya. udah ditinggal ortunya eh sekarang gantian ditinggal adeknya. tapi itu chanyeol kerjanya apa ya kok bisa jadi hacker tapi mau juga disuruh bunuh orang. makin penasaran wah

  4. Ping balik: Gotta Be You – [7] Revenge – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Gotta be You – [6] Kill Her – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  6. padahal ngarepinnya hunrene dan ini malah chanrene, its okay. nah loh bibi sadar woyy chanyeol keponakan sendiri masa iya ngajak main…

  7. Ping balik: Gotta Be You – [5] Let’s Play – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  8. Eh msa komenku g trkirim tdi wkwk pdhal uda nulis pnjang lebar kali tinggi jdi volume #ngmong paan sih gw# tau” hp hang, pas dcek lgi tnyta g trkirim wkwk pdhal metekol ni jempol buat ngetiknya :v
    intinya aq ska aj ada ChanRene krna bkan HunRene shipper jdi enjoy bacanya..
    Ketjup sayang buat Shae n Yuuki :* neexxtttt….

  9. Ping balik: Gotta Be You – [4] Bad Behaviour – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: Gotta Be You – [3] First Impression – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  11. Wow..wow..wow.. *lebayanjayy😂
    Keren unnie,niatnya sih mau koment di part irene tapi karna penasaran sma part selanjutnya,jdi disini deh wkwk😹
    Seruu,, couplenya jga beda dri yg diduga²,ahh gak jdi sabar nungguin kejutan² di next chapter😜
    Semangat yaa,,

  12. eh si jangkung chanyeol ternyata.. suka juga hihi kasian bgt idup chanyeol.. penasaran kelanjutan idupnya setelah ditinggal sejeong ?? dan yg makin penasaran pertemuan irene dan chanyeol !! kekekeke next author^^

  13. ah,jadi ceritanya ini tukar couple gitu,,boleh dicoba sih. Kali aja cocok ^^ *tetap jadi hunrene hardship kok* hehe. ditunggu tanggal 23 fighting kak!!!

    • eh ga cuma hunrene tapi wenyeol juga ko. ^^ *peace* tapi kalo ada tukar couple kek gini patut dicoba nih,, hehe fighting yaa kakk!!

  14. gak biasanya chanrene… kok ya merinding yaa chan berubah jadi psikopat.. wow
    abis ini dia berubah jadi apa lagi…
    ngeri yaa imonya.. kkkkk, kirain matinya gegara overdosis, eh ternyata malah didorong chan sendiri.. woaaaaaaa

  15. Wahh kalo q sih bukan bener lagi tebakannya tapi terkabul doanya hehe q salah satu yg buat saran pake chanyeol alasannya yaa karena yg beda aja dan juga kalo dibayangin dan diperhatiin Chanrene cocok jg loh gengs coba aja baca ff ini nyampe kelar pasti biasa dan suka sm couple ini *woy eling woyy!! Hahhh orang2 baik berubah jadi sadis dalam sekejap hanya karena takdir. Ughh penasaran super sm pertemuan mereka sayangnya ckp lama jg update nya aku nyampe lupa yg part irene kemarin

    • wkwk, cie tebakannya bener ciee, selamat chingu 😀 :*
      Duh, kami terhura bacanya, wkwk. akhirnya setelah sekian banyak yg ngaku kecewa karena mas cy dipairing ama mba irene, ada yg mendukung kami, rahasia bahagia beutt :’)
      yah, kami cuma pengen bawa yg baru aja kok, hehe, yg antimainstream (kami udah nge pairing chanrene dari zaman SMP lo, sekarang udah kelas 1 SMA masa .-.)
      baik jadi jahat hmzzz :”)
      duh,lama ya? maafkan kami :’)
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya ❤

  16. Ngakak waktu bibinya ngajak main duh XD Kasihan ya si Chanyeol, kaya dari hidupnya yang normal-normal aja berubah 180 derajat dan yang jelas adaptasinya ngga mudah. Baitewai aku juga suka Chanren (bacanya malah part dua dulu XD) karena menurutku mba Irene itu cocok2 saja di-pairing sama siapa aja, tergantung genre fiksinya sendiri sih 😀
    Penasaran entar pertemuan pertama mereka gimana 😀 Oh ya, pat disini, ninetynine liners, salam kenal ~
    Keep writing!

    • ngakak eui/digampar/
      iya, kalau ane pasti gak kuat kalau jadi chanyeol jujur aja, wkwk :’)
      mba Irene nya cantik, cocok sama siapapun, wkwk 😀
      Tunggu next chap kalau penasaran, hoho ❤
      salam kenal juga chingu, ini shaekiran 00 line, panggil aja eki. ada author satunya lagi shiraayuki 01 line (kami cuma beda 3 2 bulan sekian hari kokz, WKWK/gak nanyak ki/ XD)
      Thanks for reading ❤

    • kapan-kapan/digampar/ XD
      gak, eki becanda kok, diusahain yaw secepatnya. Tapi niatnya eki mau fokus satu ff dulu nih, niatnya mau namatin rooftop romance baru ngelirik ff eki yg lain, hmz. tappi eki usahain deh surroundednya cepet, soalnya ane greget sendiri juga sama itu ff gantung di chapter 2 XD
      Makasih lo masih nungguin surrounded, eki terhura ❤

  17. Wooow, finally the misteryous boy has been revealed. G nyangka bgt castnya chanyeol. Baru kali ini baca chanren. Tapi g papa sih keren kq. Dan pekerjaan chanyeol wow bgt ya…ekeke
    Btw skrg penampilan chanyeol kalo di kampus masi cupu g sih? Apa aku kurang teliti tadi bacanya??
    Ditunggu next chapnya ✌✌

    • ga nyangka kan? wkwkw, kami pengen coba kopel baru aja, dan pengen antimainstream, hehe XD
      Duh, makasih lo buat apresiasinya, kami terhura beutt 😀
      Wow donk, Chanyeol gitu lo XD
      Penasaran penampilan chanyeol di kampus? Tunggu next chap yaw, hoho, karena cerita ini memang latarnya campus life. Chinbu bukan gak teliti kok, memang belum kami ceritain aja kehidupan kampus chanyeol di chapter ini, heheh XD
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s