MR(S). PARK — Joongie

MR(S). PARK

Joongie © 2017

Park Chanyeol || Life || Ficlet || PG

This is a work of fiction. This is a fictional story about fictional representations of real people. No profit was made from this work. All cast belongs to God, their parents, and their agency. But the storyline is mine. Don’t be silent reader, please.

“Kabur ke mana kau, Sial?” Chanyeol mengumpat, matanya awas menyisir sekitaran gang sempit yang cocoknya disebut sarang penyamun. Telunjuknya bersiaga, siap menarik pelatuk kapan saja buronan itu muncul dari celah-celah gelap, kendati napasnya tersengal-sengal.

Chanyeol merapatkan diri ke dinding, mengintai selintas bayangan yang meliuk-liuk. Dia mengendap-endap dalam gelap tanpa iringan timnya yang tertinggal jauh di belakang. Begitulah dirinya, spontan dan gesit seakan-akan punya nyawa cadangan. Dalam sentakan cepat, Chanyeol menembak tong bekas solar yang kontan meledak. Dari baliknya, Jaeha—buronan kasus mutilasi dan perdagangan organ—terhempas ke luar dengan punggung merah terpanggang.

“Berhenti di sana atau peluruku akan melubangi kepalamu!” gertak Chanyeol, berderap sambil menodongkan pistol pada Jaeha yang menyeringai tanpa gentar. Alih-alih mengangkat tangan, lelaki itu malah memanfaatkan kealpaan Chanyeol untuk kembali melarikan diri. “KEMBALI KAU, SAMPAH!” Satu tembakan mengudara dalam kegelitaan malam.

Pelarian ini makin runyam, Jaeha yang diburu Chanyeol sampai ke jalan utama rupanya telah mempersiapkan mobil. Dari lalu-lalang kendaraan yang melintas, truk es balok jadi sasaran Chanyeol. Tanpa ba-bi-bu dia menghadang truk lantas memampang emblem polisi kepada sang supir, kemudian mengambil alih truk. Perundingan terhormat cuma buang-buang waktu dan situasi genting selalu bisa dimaklumi, pikirnya.

Jaeha melawan arus pun Chanyeol yang menyusul di belakang. Raungan klakson berbunyi dari kanan-kiri, protesan pada dua pengemudi gila yang saling menyalip tanpa memedulikan situasi. Adrenalin Chanyeol menggelegak, kesabarannya turut habis. Ketika pedal gas dipijak kuat-kuat, bumper truknya telak menghantam buntut mobil Jaeha sampai bunyi menyilukan dari dua besi yang beradu terdengar bising. Kaca truk Chanyeol berhamburan, keningnya berdarah-darah sementara Jaeha terimpit badan mobil setelah sempat terguling.

Chanyeol tersenyum puas, berderap menghampiri tubuh Jaeha yang menggelepar bak ayam potong. “Kalau sudah kuberi peringatan itu harusnya berhenti. Jangan buat repot begini, Brengsek,” tandasnya sembari menyeka darah yang menitik dari alisnya.

—o0o—

 

“Tugasmu menangkapnya, bukan membunuhnya!” maki Detektif Nam, berkacak pinggang membendung geram di luar UGD. Pelipisnya berkedut, gigi-giginya bergemeretak tidak tenang memikirkan alasan apa yang akan dilontarkan pada atasan akibat ulah Chanyeol. Apalagi zaman sekarang semua disangkut pautkan dengan HAM.

“Tapi dia tidak mati, Pak,” tekan Chanyeol, bahkan jidatnya yang hampir mengelupas saja diabaikan. Dia mendesah frustrasi, melirik Jaeha yang bersimbah darah sejenak lalu berkata, “Cuma… sekarat saja.”

Detektif Nam hanya berdiri kaku, sebelah tangan memijat pelipis, sementara lainnya mengisyaratkan Chanyeol enyah sebelum darahnya naik. Baekhyun yang sedari tadi cuma jadi penonton lantas bereaksi, merangkul pundak Chanyeol beranjak meninggalkan atasan mereka sebelum genderang perang ditabuh. Keras kepalanya Chanyeol bukan sesuatu yang berguna.

“Sudahlah, Chanyeol. Kita semua tahu, sampai pohon kesemek berbuah kelapa pun, Pak Nam tidak mungkin mengalah,” cuap Baekhyun sewaktu tapak sepatu mereka menyusuri aspal. “Kita ke apotek dulu, ya? Beli obat dan perban untuk jagoan Divisi Kriminal ini. Lalu singgah ke warung tenda sambil minum dan makan tteok. Yah, sekalian melepas penat.”

Sebelah alis Chanyeol terjungkit, selayang menilik kawannya dengan mimik ambigu. “Kau tahu, Baek? Sudah kemalaman untuk menjilat,” tukasnya hingga Baekhyun refleks meringis.

—o0o—

Hampir sebelas menit menenggelamkan diri dalam bathtub, Chanyeol bangkit menyesap oksigen kuat-kuat. Tubuhnya menguarkan aroma anggrek saat melangkah keluar sambil melilitkan handuk. “Sialan,” gumamnya, mengelus sudut bibir yang pecah juga memperhatikan robekan di anak rambut dalam cermin.

“Terlalu semangat sampai jadi begini,” vokalnya sembari beralih merapatkan gorden, memastikan setitik cahaya pun mustahil masuk. Kini dia menghadap cermin di meja, mengeluarkan kotak berpelitur lalu menyerakkan isinya dengan mata berkilauan.

Chanyeol merentangkan dompet kuas, memilih satu kemudian menuang krim kecokelatan ke punggung tangan. Foundation, perempuan biasa menyebutnya. Mengoreksi goresan jejas di parasnya melalui polesan-polesan halus. Dia menepuk-nepukkan spons bedak di pipi dengan telaten, mewarnai kelopak mata dengan eyeshadow lalu menarik garis melengkung menggunakan eyeliner. Pamungkasnya, Chanyeol menggores sebatang lipstik merah menyala di bibir.

Sosok beringas berpotongan keras lantas menjelma kemayu. Chanyeol meraih wig pirang dari laci, melekatkannya di kepala dan mencari-cari lingerie tutul favoritnya. Paradoksal akan citranya memang. Beberapa orang memilih hidup seperti kaktus, tajam di luar namun lunak dalamnya. Demikian pula Chanyeol.

Jadi detektif bukan sesuatu yang dicita-citakannya semasa kecil. Ini cuma kamuflase, seolah-olah dia punya peran normal dalam bermasyarakat. Ada jiwa feminim dalam relung Chanyeol yang kian tumbuh di luar batas ketika menginjak masa pubertas. Sewaktu dia sadar bahwa macam rupa kosmetik lebih menarik ketimbang gundam atau tamiya rakitan.

Chanyeol selalu merasa bahwa dia seharusnya tak terlahir sebagai Chanyeol. Pemuda berdarah dingin, berhati perempuan. Sungguh dia muak berurusan dengan pistol dan akting pura-pura jantan yang selama ini dilakoninya. Tetapi putra seorang Jenderal tak semestinya jadi aib, seberapa besar pun keinginannya dipuji cantik.

Bukankah akan lebih baik bila sejak awal dia adalah Chanie?

Chanyeol kembali usai lingerie-nya melekat, memandangi pantulan parasnya di cermin sambil memperindah jari-jarinya yang lentik. Dia mengulas senyum lalu berujar, “HelloMrs. Park. Long time no see.”

Fin

Aku ga tau harus bilang apa sebenarnya XD

By the way, terima kasih buat kalian yang sudah membaca, sempatkan menulis komentar sebagai pelajaran buat aku di tulisan selanjutnya ❤ Psst, aku bukan author yang garang kok jadi kalau mau nulis kritik atau saran pun aku terima dengan legowo XD

XOXO,

Joongie

Iklan

16 pemikiran pada “MR(S). PARK — Joongie

  1. astagfir, chanyeol ternyata begini toh sifat aslimu lebih feminim daripada aku wkwk…..#AkuKalah #Geleng-GelengKalengBiscuitEma(?)

  2. Yaampun ka, astagfirullah bias aku yaampun ampun daaaahhhh ga bisa ngomong ini. Dibilang speechles iya, dibilang ini tuh keren iya, dibilang ending nya melenceng iya aduh ampun dah kak aku terakhir bacanya tuh histeris(?) wkwkwk ih ga nyangka banget dah 😂😂
    Ini tuh lebih tjakep kalo dibikin chapter kak, jadi nanti ada yang ngubah chanyeol jadi kodrat yang sesungguhnya. Udah semangat banget baca ff chanyeol yang genre nya beginian eh ending nya bikin melongo wkwk keren dah pokonya maah👏👏

    • Buahahaha mendadak muncul lagu: mengapaaaaa aku beginiii 😂😂😂
      Hahaha kalo aku ubah ini jadi chapter bisa jadi nc ini mah sayang, mungkin lain kali lah ya soalnya aku punya chapter yang masih jalan 😆
      Thank you 😘

  3. Wkwk chanyeol XD
    knpa g baekhyun aja cba? Gakebayang chanie pake lingerie :v
    keren bgt thor, aplgi klo dbkin series nya smua member :v #dicekikSehun
    bahasa enak bgt n keren deh pokoknya, fighting!!! 😀

  4. Ini tuh….. Speechless ._.
    Baru kali ini baca ff action begini, dan karna jarang baca ff sih sebenernya, menurutku ini bahasanya enak banget, diksinya juga tjakeeepp dan ngalir aja gtu bacanya choahe choahe 😆
    Di awal udah ketar ketir bayangin chanyeol jd detektif manly yg berdarah darah, tapi akhirnya ternyata dia…….. Begitu 😂
    Kereenn 👍🏻👍🏻

    • Wkwkwkwk zonk ya? 😂😂
      Ff ini lagaknya doang action tapi berakhir melambai, aku mengakuinya 😆
      Hihi thank you kalau gitu, bersedia baca tulisanku + segala pujiannya bikin aku cengir sendiri 😙

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s