[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love – Chapter 10 (END)

philosophyoflove

 

Tittle: Philosophy of Love
by Tyar

Chapter | Romance | T

Cast: Oh Sehun – Bae Irene. Etc

Disclaimer
2016/2017 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Inspired by
Perahu Kertas
AADC2

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

[1 – 9]

10 – END-

“Apakah cinta memang membutuhkan definisi?” –Philosophy of Love, TYAR.

Kedua tangan Irene menyentuh permukaan kusen yang dingin, matanya memandangi langit sore dan matahari yang nyaris hilang. Yang tersisa dalam dirinya kini hanyalah ketakutan. Di saat Irene tau apa keputusan yang harus dia ambil, Sehun justru pergi menghilang. Melarikan diri lagi seperti waktu itu, seperti 7 tahun yang lalu. Tidak ada yang tau, apakah Sehun benar-benar akan kembali lagi atau justru berubah pikiran dan meninggalkannya sekali lagi.

“Maaf?” sebuah suara dari arah pintu mengejutkan Irene. Gadis itu lantas berbalik dan menemukan seorang pria yang jauh lebih tua darinya tengah berdiri di ambang pintu. Kedua tangannya yang berbalut sarung tangan tebal kucel menenteng 2 ember cat baru. “Ada yang mungkin bisa saya bantu?” lanjutnya, sambil melangkah masuk kemudian menyimpan 2 ember cat yang dibawanya di salah satu sudut ruangan.

“Penyewa baru atau –”

“Saya mencari penyewa kamar ini.”

Pria itu diam sejenak, menatap Irene bingung. “Laki-laki ganteng berkulit putih dan tinggi?”

Gadis itu mengangguk mantap, berharap pria paruh baya itu tau sesuatu.

“Oh, itu. Dia baru saja meninggalkan tempat ini 2 hari yang lalu. Saya baru tau kalau selama ini dia menyimpan banyak sekali lukisan di kamar ini, dan dia sudah membawa semuanya dengan mobil pick-up.”

Irene menggigit bibir. Hanya itu? Dia tau itu hal yang sudah pasti terjadi. Melihat kamar itu kosong melompong sudah menjadi bukti yang cukup bahwa Sehun memang pergi berhenti menyewa kamar itu dan membawa semua lukisannya ke tempat lain.

“Anda tidak tau kemana dia pindah?” tanya Irene akhirnya.

Pria itu menggelengkan kepala, “saya tidak tau. Saya tidak sempat bertanya apa-apa.”

xxx

Semenjak hari itu, Irene tidak pernah menyempatkan diri untuk sengaja datang ke Cosmic. Semua keperluan proses akhir buku finalnya dilakukan Irene lewat komunikasi bersama Baekhyun –seolah dia penulis yang berada di luar kota.

Selain mengisi aktivitas kebukuannya di beberapa tempat, Irene hanya berdiam diri di rumah, di dalam kamarnya. Seperti pagi ini. Dengan selimut yang masih memeluk tubuh, Irene duduk menekuk lutut di depan jendela kamarnya. Memandangi salju-salju kecil yang berguguran di luar sana. Semalaman matanya terus terjaga, menyisakan lingkaran hitam yang menghiasi kelopak mata. Penyebabnya apa lagi kalau bukan soal Sehun yang menghilang? Penyesalan dan ketakutan kini berhasil menghantuinya.

Ingatan-ingatan yang telah dilaluinya hampir satu tahun ini bersama Sehun, mulai berlompatan di dalam benaknya. Semuanya, mulai dari bagaimana mereka untuk pertama kalinya kembali dipertemukan. Lalu ketika Sehun memboncengnya dengan sepeda untuk mengelilingi taman sekitaran sungai Han, Irene sadar bahwa dia bahagia saat itu. Sampai kejadian mengejutkan di air terjun buatan Yongma beberapa waktu lalu. Semuanya benar-benar menyesaki memori Irene tanpa ampun. Membuatnya menyesal karena sudah terlambat untuk sadar.

Tangannya kembali meraih ponsel dengan ragu, entah sudah yang keberapa kalinya dia menekan lagi tombol hijau pada nomor ponsel Sehun. Nomor yang anda tuju sed. Hasilnya masih sama. Dia pun mengecek lagi Katalk dan berharap Sehun sudah menambahkan dirinya sebagai teman. Namun hasilnya tetap sama. Percuma saja, pikir Irene. Sekali Sehun lari, dia tak akan bisa menemukannya.

Tidak. Tiba-tiba saja sesuatu dalam dirinya menyentak.

Irene segera berdiri kali ini, menyibak selimutnya dengan cepat. Setelah memakai mantel, dia membawa kunci mobilnya dan segera meluncur ke suatu tempat. Tidak bisa menemukannya? Tidak untuk kali ini. Irene tidak akan diam saja seperti orang gila yang telah kehilangan segalanya. Bukankah dia bisa mencoba bertanya pada ibu Sehun langsung di restoran? Ya, dia setidaknya harus berjuang lebih keras sedikit dari sebelumnya. Tidak peduli jika saat ini dia terlihat seperti kesetanan, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi di jalanan licin yang diguguri salju.

Satu jam kemudian, sedan hitam Irene sampai di depan sebuah gedung sederhana yang pernah dikunjunginya satu kali. Mirisnya, gerbang restoran itu tertutup dan terkunci. Irene turun dari mobil, menghampiri pagar dengan bingung. Lalu segera menemukan sebuah papan info yang berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Di sana tertulis bahwa restoran akan tutup untuk beberapa hari karena sebuah urusan keluarga sang pemilik.

Sekali lagi, Irene tak dapat menemukan Sehun. Dia yakin, sesuatu pasti sudah terjadi sampai-sampai rumah makan ibu Sehun saja harus tutup untuk beberapa hari. Ini membuatnya semakin khawatir.

Irene diam di tempat, mengetuk-ngetukkan kakinya dengan gelisah sambil menggigit jari. Tengah menimbang-nimbang apakah dia harus pergi ke rumah Sehun atau tidak.

“Masa bodo,” gumam Irene tak sabaran lalu segera kembali duduk di balik setir dan melesat ke rumah Sehun yang sudah sangat lama sekali tak pernah ia datangi semenjak perpisahan itu.

Butuh waktu hampir 2 jam untuk menempuh perjalanan menuju kediaman Sehun. Dia harap, yang didapatinya kali ini tidak seperti waktu itu –terusir. Irene harap setidaknya ibu Sehun akan menerima kedatangannya dan menjelaskan sesuatu apa yang sedang terjadi hingga Sehun harus cuti dan restorannya tutup.

Namun kali ini, yang didapatkan Irene bahkan lebih miris dari sekedar terusir. Sesampainya di rumah besar itu, Irene memperhatikan aktivitas yang sedikit aneh dari luar gerbang. Beberapa orang yang tak dia kenal sedang memasukkan barang-barang dari mobil ke dalam rumah.

Sampai seorang pria mendekat ke arahnya, “ada yang bisa saya bantu?”

Irene menoleh, “S-saya hendak mengunjungi rumah Tuan Oh.”

“Tuan Oh? Itu pasti keluarga yang sebelumnya tinggal di sini.”

Irene diam, mencoba mencerna kalimat yang baru saja diengarnya, “a-apa?”

“Kaluarga Tuan Oh sudah pindah seminggu yang lalu. Rumah ini sudah terjual bulan lalu.”

Astaga. Irene menggigit bibirnya, benar-benar tidak habis pikir apa yang sebenarnya sedang terjadi? Dia tidak bisa menemukan Sehun dimanapun bahkan di rumahnya sendiri.

“Apa anda tau kemana mereka pindah?”

“Saya dengar, mereka membeli rumah baru yang tidak jauh dari restoran yang mereka punya.”

Irene diam, “terima kasih.” Dengan gontai, gadis itu melangkah kembali masuk ke dalam mobil. Dia putus asa kali ini. Daerah yang tidak terlalu jauh dari restoran itu, dimana lebih tepatnya? Ada banyak pemukiman tempat tinggal di daerah itu. Irene tidak mungkin dapat mencarinya. Dia masih bertanya-tanya apa yang terjadi? Jika rumah mereka kini sudah lebih dekat, kenapa restoran harus tutup? Kenapa Sehun harus cuti?

Sedan hitam Irene segera melesat pergi. Berhenti di pinggir jalanan yang lengang dan putih tertutup salju. Tangannya meremas setir dengan sangat kuat. Mata Irene mulai memanas, dia rasakan ujung matanya sudah mulai basah. Kali ini, bahkan setelah dia berusaha, Irene tetap tidak bisa menemukan dimana Sehun berada, tidak berhasil mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Sehun benar-benar seperti melarikan diri dari seluruh dunia. Apakah sesuatu hal yang buruk sudah terjadi atau apa? Irene sangat khawatir. Frustrasi, dan putus asa. Air mata mulai turun membasahi pipinya, Irene menyesal sudah menyia-nyiakan waktu. Dia kesal dan marah pada dirinya sendiri, merasa sudah amat egois. Yang dipikirkannya selama ini hanyalah keraguan yang telah membutakan perasaannya sendiri. Sementara dia tidak peduli sama sekali dengan apa yang Sehun rasakan. Sungguh, ketakutan itu semakin menggila, Irene takut Sehun tidak akan kembali lagi maka dia tidak akan pernah mengungkapkan semuanya pada Sehun.

xxx

Baekhyun mengabari bahwa novel The Clan seri terakhir akan terbit dan terjual di pasaran pada akhir musim dingin. Lebih tepatnya sekitar 2 minggu lagi. Irene hanya mengiyakan, tidak merespon lebih. Karena dia terlalu sibuk menunggu Sehun yang sudah berminggu-minggu tanpa kabar, bukan menunggu bukunya terbit kemudian kembali menjadi best seller. Dia tak peduli.

Irene merapatkan mantelnya dan melangkah keluar dari gedung siaran sebuah radio menuju mobilnya.

Matahari sudah nyaris tenggelam ketika Irene masih dalam perjalanan. Tahun baru telah berlalu beberapa hari yang lalu. Tidak ada yang spesial, selain mulai membuat rencana untuk tahun ini. Irene harap tahun ini ada banyak target baru yang dapat dicapainya. Termasuk, menemukan Sehun. Jika sempat, dia mungkin akan segera kembali ke restoran ibu Sehun, berharap dapat menemuinya dan mencari penjelasan atas semua ini.

xxx

Sehun menghembuskan nafas, itu kanvas terakhir yang akan dibelinya. Setelah ia menatap mobil pengantar barang itu membawa kanvas ukuran besarnya pergi, Sehun segera merogoh sesuatu dari dalam mantelnya. Dia tersenyum tipis, sebenarnya dia tidak berniat memberikan itu hari ini. Masih ada beberapa hari sampai dia benar-benar akan menemui Irene –sesuai rencananya. Namun benda yang berada di dalam genggamannya kini akan segera tersebar besok pagi. Sehun ingin Irene mengetahui itu langsung darinya.

Terhitung nyaris 3 bulan semenjak lelaki itu memutuskan untuk cuti dari pekerjaannya, demi menyelesaikan dan mengerjakan sesuatu itu dengan maksimal. Dia benar-benar tidak sabar untuk menunjukkannya pada Irene, meskipun dia merasa amat bersalah karena sudah pergi dan melarikan diri dari semua orang. Kali ini, Sehun meraih ponselnya dan membuat panggilan pada seseorang.

Halo?”

“Baekhyun? Ini Sehun. Apa kabar?” sapa Sehun dengan senyum yang mengembang, jemarinya menghitung satu sampai tiga, tau apa yang akan didengarnya dari rekan kerjanya itu.

Oh Sehun!!” Benar saja, tepat dalam hitungan ketiga, dia segera mendengar lawan bicaranya berteriak di seberang sana dengan tak sabaran. “Astaga! Kamu kemana aja, hun? Cuti, sih, cuti. Tapi nggak usah hilang kabar dan lost contact begini juga, hun. Ck. Bisa-bisanya tiba-tiba nelepon dan nanya kabar? Saya hajar kamu!”

Sehun kemudian tertawa lepas, dia tau itu pasti akan terjadi. “Maaf, Baekhyun. Sungguh, saya minta maaf.”

“Jadi selama ini kamu ganti nomor? Kenapa nggak kabarin, sih, hah?”

“Iya, tapi cuma sementara aja. Jika semua urusan sudah selesai, saya akan kembali dengan nomor yang lama.” Sehun memasukkan tangannya kedalam saku mantel, senyum masih terhias di wajahnya. “Bagaimana kabar Cosmic?”

“Halah. Sok-sokan nanya kabar Cosmic. Sebenernya kamu cuma mau nanya kabar Irene, ‘kan? Ngaku.”

Sekali lagi, Sehun tertawa terbahak-bahak mendengar itu. “Hm, hm. Cosmic tanpa saya tetap berjalan lancar. Kamu tau aja saya ingin bertanya soal Irene. Saya ingin menemuinya, makanya saya ingin minta bantuan kamu.”

“Bantuan? Sanggup bayar berapa, nih?” Terdengar sebuah kekehan dari seberang sana. “Irene kayaknya berpikir macam-macam tentang kamu yang tiba-tiba pergi dari banyak hal dan hilang tanpa kabar. Kamu harus tanggung jawab, hun. Dia jadi nggak begitu semangat dengan bukunya sendiri.” Kali ini Baekhyun menghela nafas. Membuat Sehun terdiam. Benarkah? Dia pikir justru Irene tak begitu masalah dengan kepergiannya. Namun di sisi lain, mungkin Sehun akan senang dengan ini jika Irene memang benar-benar mengkhawatirkannya.

“Mau minta bantuan apa?”

Sehun pun tersenyum penuh arti.

xxx

Sedan hitam Irene berakhir di pinggir jalan sungai Han. Sejak 15 menit yang lalu, dia hanya duduk di bagian depan mobilnya sambil memandangi sungai Han, aktivitas di sekitar sana, gemerlap gedung-gedung pencakar langit Seoul, juga gemerlap bintang yang bertabur di langit. Irene mengeratkan mentelnya ketika semilir angin malam berhembus membelai seluruh rambutnya yang tergerai.

Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia pun membukanya dan mendapati satu pesan dari Baekhyun.

“Lagi dimana?”

Irene mengangkat kedua alisnya, penasaran kenapa editornya itu tiba-tiba bertanya seperti itu malam-malam begini. Dia pun mengetik balasan.

“Di pinggir sungai Han.”

“Hahaha. Galau? Jangan bunuh diri, ya.”

Irene berdecak, terkadang candaan editornya itu sama sekali tidak lucu. “Memangnya kenapa? Saya harus ke Cosmic, kah?”

“Nggak usah. Kamu tunggu aja disitu.”

Setelah memberi balasan mengiyakan, Baekhyun tak memberi jawaban lagi. Membuat Irene semakin penasaran. Untuk apa Baekhyun ingin menemuinya tiba-tiba? Entahlah, semoga itu kabar baik, bukan kabar buruk mengenai apapun.

Satu jam dia menunggu, akhirnya sebuah deheman menyahut tidak jauh dari tempat Irene berada. Awalnya dia pikir itu pasti Baekhyun, namun ternyata bukan. Itu lebih dari sekedar kabar baik. Itu Sehun. Tengah berdiri santai dengan 2 kaleng minuman dingin di genggamannya, lelaki itu tersenyum ke arahnya. Membuat Irene membeku di tempat dan tak dapat berkata apa-apa sampai lelaki itu mendekat dan ikut duduk di sampingnya.

Masih dengan senyuman termanisnya, Sehun menyodorkan kaleng minuman itu pada Irene. Menunggu gadis itu sampai benar-benar meraihnya. Sementara Irene masih kehabisan kata-kata, matanya lagi-lagi terasa panas hanya dengan memandangi wajah dan senyum itu. Di sisi lain, Irene ingin sekali menendang laki-laki itu ke sungai Han karena sudah muncul tiba-tiba dengan senyum tanpa dosa.

“Pegel, nih.” Gumam Sehun melihat Irene yang tak kunjung bergerak. Dengan ragu, tangannya pun meraih pemberian Sehun. Lantas lelaki itu segera meneguk miliknya sedikit kemudian menghela nafas.

“Apa kabar, Penulis Irene?” sapanya ringan.

Izinkan Irene untuk mengumpulkan nafas sebentar saja dalam dadanya yang tiba-tiba sesak. Kemudian menghembuskannya dengan bebas. “Selama ini kamu dimana, Sehun?” akhirnya pertanyaan itu berhasil keluar juga dari mulutnya.

“Di rumah.” Jawab Sehun santai sambil memandangi sungai Han dan sekitarnya.

Untuk beberapa detik, Irene terdiam. Namun kemudian kali ini dia tidak tahan untuk memukul lengan Sehun dengan keras, merasa kesal dengan respon Sehun yang tampak merasa tidak bersalah.

“Aw!” Sehun meringis sambil mengusap lengannya. Beberapa saat kemudian dia terkekeh pelan, menatap Irene dengan teduh, “Miss me?”

“Saya cuma khawatir sama kamu.” Balas Irene sebal, kemudian menarik nafas, “saya sudah cari kamu ke restoran ibumu, tapi tutup. Saya bahkan pergi ke rumah kamu tapi ternyata kamu sekeluarga sudah pindah. Saya takut sesuatu terjadi lagi dengan keluarga kamu!”

Sehun tersenyum, “takut terjadi sesuatu pada keluarga saya? Atau takut saya nggak kembali lagi?” godanya dengan jahil.

“Saya serius, hun. Setidaknya kamu pamit –” kalimat Irene terputus ketika Sehun tiba-tiba menyodorkan sebuah kertas berukuran letter padanya. Gadis itu menoleh, menatap benda itu bingung. “A-apa ini?”

Sehun tak henti-hentinya tersenyum penuh arti. Tidak memberi jawaban, membiarkan Irene meraih kertas itu dan membacanya sendiri.

Itu sebuah brosur berisi pengumuman mengenai pameran besar lukisan-lukisan karya Oh Sehun dengan judul “7 Years in Room”. Membuat Irene terbelalak.

“Saya cuti untuk ini.” Sahut Sehun kemudian, “jadi begini, beberapa bulan sebelum cuti, saya iseng menitipkan salah satu lukisan saya di pusat jual-beli lukisan. Butuh satu minggu sampai akhirnya seseorang tertarik dengan karya saya. Setelah saya ditelepon untuk membuat janji pertemuan, ternyata orang itu adalah owner dari Galeri Elips yang selalu menggelar berbagai pameran seni yang besar di Korea. Dia bukan ingin membeli lukisan saya, melainkan menawarkan kerja sama untuk menggelar pameran khusus karya saya sendiri.”

Suara Sehun terdengar penuh bangga, dia menoleh lagi dan menatap Irene lekat-lekat. “Dia tau kalau saya adalah ilustrator yang menggambar untuk novel The Clan kamu, rene. Dia juga ternyata pembaca novel kamu.”

Irene menatap Sehun tak percaya. Itu sungguh mengagumkan, bukan soal owner Galeri Elips yang seorang pembaca novelnya –itu tidak penting. Melainkan soal lukisan Sehun yang mampu menarik kekaguman seorang seniman besar.

“Pada awalnya dia memberi waktu 2 sampai 3 bulan untuk saya melukis banyak hal. Dan itu akan membuat pameran ini dalam proses yang panjang. Tapi saya mengajaknya ke kamar kos-an, menunjukkan semua lukisan saya dan bertanya berapa banyak yang layak. Dan kamu tau apa yang dia katakan? Dia bilang semuanya layak, karya sesederhana apapun itu, tetaplah sebuah karya. Prinsipnya adalah setiap karya layak mendapat apresiasi. Maka semenjak itu saya mulai menyelesaikan semua lukisan terbengkalai, mengulang lukisan gagal, dan merapikan semuanya. Sambil mempersiapkan banyak hal untuk acara besar ini.”

Sehun tersenyum senang menatap Irene yang kini masih menatapnya dengan takjub. Gadis itu merasakan dadanya semakin sesak, dia mengigit bibir. Kemudian tiba-tiba kaleng yang berada di genggamannya terjatuh begitu saja. Kedua telapak tangannya dengan cepat menutup wajah. Pertama-tama tanpa suara, kemudian isak tangis Irene semakin terdengar. Dia menangis, entah bahagia, entah karena malu pada dirinya sendiri. Lelaki di sampingnya pun otomatis panik.

“Loh? Loh? Kok nangis, rene?” Sehun meraih pundak Irene, mencoba mengintip ke balik tangannya. Pelan-pelan ia melihat air mata mulai merembes lewat sela-sela jemari Irene. Gadis itu benar-benar menangis hebat, membuat Sehun merasa bersalah. “I-Irene, jangan nangis. Aduh, saya nggak tau kenapa kamu menangis.” Lelaki itu semakin panik, mencoba melepaskan kedua tangan Irene namun tak bisa.

Sampai beberapa menit suara isaknya menemani suasana malam di samping Sehun yang hanya dapat memandanginya cemas. Irene akhirnya melepaskan kedua telapak tangan dalam keadaan air mata yang masih membanjiri wajahnya, dia mencoba mengusap semuanya dengan lengan yang berbalut mantel. Dia ingin berhenti namun matanya terus saja mengeluarkan air mata. Sehun diam memperhatikan gadis di sampingnya dengan cemas, menatap mata dan hidung Irene yang memerah –untuk pertama kalinya melihat Irene menangis hebat.

Setelah menenangkan diri dan memastikan dirinya dapat kembali berbicara, Irene menatap Sehun lagi dengan wajah yang sudah sangat kusut. Dia mendengus, “saya sudah sangat berlebihan. Gagal fokus hanya karena terus memikirkan apa yang terjadi padamu. Kamu tau? Saya frustrasi, berpikir bahwa kamu nggak akan kembali lagi. Saya –” Irene menggigit bibirnya, “saya malu, Oh Sehun.”

Lelaki itu ingin tertawa, tapi dia menahannya sekeras mungkin demi menjaga perasaan Irene. Maka yang dilakukannya hanya tersenyum dan tersenyum. “Maaf, saya cuma mau kasih kamu kejutan. Saya nggak nyangka kamu sampai mencari ke restoran dan ke rumah.”

“Kejutan kok gini-gini banget, hun? Kamu ‘kan bisa memberi kabar tanpa kasih tau soal pameran ini, dan nggak harus menghilang dari semua orang.”

“Kalau nggak gitu, saya nggak akan bisa melihat kamu se-khawatir ini.” Balas Sehun dengan senyum jahilnya, membuat Irene mendelik. “Waktu kamu ke restoran, itu pasti hari saat kami sedang liburan untuk merayakan beberapa pencapaian di dalam keluarga. Seperti diangkatnya kakak saya menjadi Manager, adik saya yang lulus di Universitas favoritnya, dan saya yang akan segera memiliki pameran sendiri.”

“Saya berpikir yang aneh-aneh ketika keluarga kamu justru sedang merasakan kebahagiaan dan kemajuan yang luar biasa.” Gumam Irene dengan rasa menyesal.

Tangan Sehun naik, mengusap kepala Irene perlahan. “Tidak apa-apa. Saya merasa tersanjung karena sudah membuat kamu khawatir.” Kalimatnya pun berhasil membuat Irene lagi-lagi mendaratkan pukulan di lengan Sehun. Lelaki itu meringis kecil, kemudian tertawa.

“Terus kamu pindah? Kenapa?”

“Karena ibu capek tinggal di tempat yang jauh. Jadi kami memutuskan membeli rumah yang dekat dari restoran. Cuma butuh waktu 15 menit perjalanan.”

Irene menghela nafas lega, akhirnya semuanya jelas meski itu membuat dirinya sendiri malu –sangat malu.

“Kamu nggak ada acara, ‘kan di tanggal itu? Kamu akan menjadi tamu spesial, loh.”

Irene mendelik, “saya pikir-pikir dulu.”

Sehun tertawa, dia tau sebenarnya Irene akan sangat dengan senang hati untuk datang tanpa peduli schedule apapun yang dia punya. “Terima kasih, terima kasih.”

Keduanya pun memandangi langit dan gemerlap kota bersama angin yang berhembus membelai tubuh mereka. Tenggelam dalam pikirannya masing-masing.

“Tapi Sehun, kenapa kamu menghindari saya sebelum cuti? Membuat suasananya jadi benar-benar buruk.”

Sehun melirik Irene beberapa detik, dia tidak berpikir Irene akhirnya akan membahas soal itu juga. Lagipula, itu memang wajar menjadi sebuah pertanyaan bagi Irene. Dia pun menghela nafas lagi. “Saya cuma merasa tidak ada yang salah dengan menyerah. Bukannya tak ingin berjuang lebih keras lagi, hanya saja saya benar-benar lelah dan takut keputusanmu akan berakhir menyakitkan. Jadi saya menyiapkan diri untuk itu, apakah saya berlebihan?”

Irene diam. Ternyata benar, Sehun seperti itu karena dirinya yang tidak bisa memberi keputusan dengan cepat, dan terus meragukan Sehun tanpa kejelasan. Meskipun, perjanjiannya Irene akan memberi jawaban saat projeknya bersama Cosmic berakhir, namun seharusnya Irene menunjukkan sesuatu yang istimewa jika memang dirinya akan kembali menerima Sehun.

“Dengar, Sehun. Mungkin ini waktu yang tepat untuk saya memberi –”

“Irene.” Sela Sehun seraya menoleh dan menatap Irene dengan teduh, “Ke pantai, yuk.”

xxx

Pantai. Irene tidak ingat kapan terakhir kali dia ke pantai, yang pasti itu sudah sangat lama sekali. Satu minggu setelah pertemuannya dengan Sehun, keduanya jadi semakin dekat. Saling menghubungi lewat Kakao Talk jika ada sesuatu hal yang penting, dan bertemu untuk sekadar makan siang bersama. Beberapa kali pula Sehun menemani dan turut hadir di acara-acara talk show Irene. Dan kali ini, Sehun akan mengabari tiap kali dia harus mengurus beberapa kepentingan untuk acara pamerannya 2 minggu lagi. Orang-orang pastilah akan menganggap mereka seperti sepasang kekasih. Tapi kedekatan mereka untuk saat ini masih sebatas itu. Ada yang harus Irene dan Sehun pastikan terlebih dahulu sebelum memulai semuanya dari nol.

Dan akhirnya, siang itu Sehun membawa mobil Irene beserta pemiliknya pergi ke pantai. Meskipun ini sudah berada di akhir-akhir musim dingin, mereka yakin cuacanya akan tetap dingin. Siapa peduli, Irene ingin Sehun memegangi tangannya jika dia merasa kedinginan.

Irene segera turun dari mobil dan berlari menuju pesisir pantai sambil berteriak riang. Hembusan angin kencang segera menerbangkan seluruh rambutnya yang terikat di belakang kepala. Sehun ikut berlari menyusulnya, tersenyum memperhatikan Irene yang lincah seperti anak kecil. Gadis itu berlari mengejar ombak surut kemudian akan berlari kembali ketika ombaknya naik.

Pantai memang selalu menjadi tempat refreshing menyenangkan bagi Sehun, dan dia harap juga begitu bagi Irene.

“Baru ya, nemu pantai?” ledek Sehun seraya menghampiri Irene. Gadis itu menoleh, menjulurkan lidahnya pada Sehun. Lelaki itu hanya tertawa, meraih syal yang sempat terlepas dari leher gadis itu untuk kembali melilitkannya lebih erat lagi. “Dingin.”

Irene tersenyum, namun kemudian dia mendorong tubuh Sehun sekuat tenaga sampai lelaki itu tanpa sengaja harus masuk ke dalam ombak yang naik. Dingin, Sehun melompat seperti kucing yang ketakutan.

“Hey!”

Irene tertawa, segera berlari sebelum Sehun benar-benar mengejarnya dan menangkap dirinya untuk membalas dendam. Namun apalah daya, Sehun begitu cepat mendekat dan tau-tau saja lelaki itu sudah meraih tubuhnya. Diangkatnya tubuh mungil Irene untuk mendekat ke air. Gadis itu hanya dapat meronta sambil tertawa kegelian. Dan akhirnya dengan tega Sehun membiarkan kaki Irene basah kedinginan.

“Sehuun!” Dengusnya kemudian mendorong tubuh pria itu dengan kencang. Sehun tertawa lepas, menarik tubuh Irene untuk duduk di atas pasir.

“Dingiiin.” Pekik Irene mengusapi kedua kakinya.

“Rasain.” Ledek Sehun gemas.

Beberapa saat keduanya diam di tempat, menikmati angin yang berhembus, juga pemandangan laut yang indah.

“Saya punya sesuatu buat kamu.” Sahut Sehun, tangannya kemudian merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil.

Irene menoleh, memperhatikan apa yang akan Sehun berikan untuk dirinya kali ini. Lelaki itu membukanya, memperlihatkan sebuah gelang cantik dengan nama Irene di tengahnya.

 

Gadis itu terdiam, terpesona dengan gelang itu. Sehun pun meraih tangan Irene kemudian memakaikan gelangnya di pergelangan Irene. Kemudian tersenyum lembut padanya. “Ini bukan semacam cincin lamaran, kok. Saya cuma mau kamu menyimpannya sebagai kenang-kenangan. Atau sebagai hadiah atas trilogi fantasi kamu yang sukses.”

Irene tersenyum, “Terima kasih banyak. Tapi –”

“Tapi?”

Irene menggigit bibir, memegangi gelang yang melingkari pergelangannya itu. “Saya akan memakainya sebagai pemberian orang yang saya cintai.”

Dada Sehun tersentak, mencoba mencerna baik-baik kalimat Irene barusan. Matanya membulat, menatap Irene semakin dekat, dia meminta penjelasan.

“Sehun dengar,” Irene melipat kedua belah bibirnya, itu ternyata tidak semudah yang dibayangkan. “Novel Filosofi Cinta adalah kegagalan saya. Kenapa? Karena saya sudah salah menilai cinta. Saya sadar kalau cinta nggak butuh apa-apa, Sehun. Cinta juga tidak pernah memiliki arti. Cinta itu dirasa, bukan dijelaskan.”

Sehun masih tak bergeming, menatap Irene dengan dalam, dia ingin mendengar semuanya dengan lebih jelas.

Irene menahan nafas sebentar, “saya nggak butuh apapun. Saya cuma butuh kamu, Sehun. Saya nggak mau meminta apa-apa selain meminta agar kamu nggak pergi kemana-mana. Saya cuma mau kamu ada di samping saya sampai 10, 20, 50 tahun kedepan.” Gadis itu menarik nafas lagi, “saya mencintai kamu, dan akan selalu begitu.”

Sehun tersenyum, akhirnya penantiannya berakhir sampai di sini. Keputusannya jelas, dia akan melangkah bersama Irene dan tak akan ada lagi yang saling meninggalkan. Lelaki itu kemudian meraih kedua tangan Irene yang mendingin, menggenggamnya dengan erat kemudian mendekatkannya ke bibir. Sehun pun menghembuskan nafas dari mulutnya untuk sekadar memberi kehangatan di kedua tangan gadis itu.

“Terima kasih atas keputusannya. Maaf jika selama ini saya sudah menciptakan segala keraguan yang menghantui kamu. Saya akan pastikan, kamu tidak akan menyesal dengan keputusan ini. Seperti yang selalu kamu tau, saya mencintai kamu sejak dulu, dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun.”

Irene terkekeh pelan, menunjukkan ekspresi bahagianya yang tak tertahankan. Sementara Sehun sudah meraih kedua pipi Irene, menariknya mendekat untuk mengecup bibir gadis itu dengan lembut. Kali ini, tanpa paksaan, tanpa pengelakan, Irene membalasnya dengan senang hati.

Sore itu, Sehun mendekap Irene dalam pelukannya ditemani dengan suara-suara ombak yang mendebur teratur. Seraya menatap langit senja yang membias di atas lautan. Indah, itu adalah hari terindah.

xxx

7 years in room.

Ruangan luas yang biasa digunakan untuk pameran seni itu kali ini dihiasi dengan keindahan seratus lebih karya Sehun. Acara itu berjalan dengan lancar, mulai dari pembukaan, sambutan dan lainnya. Alasan dari judul 7 years in room tidak lain karena semua lukisan itu tercipta semenjak 7 tahun lalu di dalam kamar kos-an Sehun. Semua itu akhirnya keluar dari persembunyian dan dipamerkan pada seluruh dunia.

“Sekarang kita impas, ‘kan?” bisik Sehun pada Irene yang tengah memandangi sebuah lukisan Sehun yang paling dia sukai. Gadis itu menoleh, tersenyum lebar dengan bangga. Ya, kini keduanya impas. Bukan hanya Irene yang berhasil bangun dan mewujudkan mimpinya. Tetapi Sehun pun berhasil bangun dan tidak hanya sekadar bermimpi belaka.

“Sehun,” seseorang tiba-tiba memanggilnya, melangkah mendekati Sehun dan Irene. Itu adalah owner Galeri Elips yang telah jatuh cinta pada karya Sehun dan menjadikan pameran itu ada. Sehun dan Irene pun membungkuk memberi salam ke arah pria tegap itu.

“Selamat, banyak sekali kolektor yang tertarik dan berniat membeli lukisan-lukisanmu.” Pria itu kemudian tersenyum ke arah Irene, “Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan penulis Bae Irene. Sehun sungguh beruntung bisa mendapatkan wanita semenawan kamu.”

Irene tersipu, kemudian menggeleng pelan. “Tidak, tidak. Seharusnya saya yang berkata seperti itu. Sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan seniman hebat seperti anda, Senior Donghae.”

“Terima kasih banyak atas bantuannya, Senior. Saya sungguh beruntung bisa ditemukan oleh anda.” Ujar Sehun kemudian.

Pria bernama Donghae itu terkekeh, menepuk pundak Sehun beberapa kali dengan hangat. Kemudian dia memberi salam pamit dan bergegas meninggalkan tempat itu untuk keperluan lain.

Tanpa mempedulikan kerumunan di ruangan itu, Sehun meraih pundak Irene kedalam dekapannya. Tanpa aba-aba, mengecup bibir gadis itu dengan cepat kemudian memberinya senyum jahil.

“Ish!” Dengus Irene malu sembari menepuk dada Sehun sebal.

xxx

Irene pernah bilang, cinta tanpa definisi adalah omong kosong. Hanya 1 hal yang dapat mematahkan teori bodoh itu; cinta. Sehun meyakinkan, bahwa cinta tanpa Irene lebih buruk dari omong kosong; penderitaan.

“Kamu sudah punya apa, berniat menikahi anak saya?”

“Saya punya semua yang Irene butuhkan.”

“Yakin? Apa memangnya?”

Cinta, dan saya.”

| SELESAI |

Fiuh. Akhirnya beres juga namatin yang disini huehehehehehehh. Kalo reader liat di wattpad ada 11 chapter, tapi kenapa disini cuma 10? Karna di tengah-tengah ada 2 chapter yang aku gabungin jadi satu di wp ini. Well, tujuan tyar cuma gamau philosophy of love berhenti di tengah-tengah di library-nya exoffi. Jadi kalau reader mau komen di wattpad atau di sini silahkan, aku tunggu. Visit @/realtyar on wattpad. Thx for reading~~ ;;)

 

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love – Chapter 10 (END)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s