[EXOFFI FREELANCE] (Unneeded) – (#01 Problem)

the.jpg

UNNEEDED

written by:

Shiraayuki

main cast:

EXO’s Park Chanyeol with Red Velvet’s Son Seungwan

other casts:

AOA’s Seolhyun and Oc

genre:

School life, romance, funny, AU, etc.

length:

Multichapter

Rating:

Teen

 

DISCLAIMER

Real from author’s imagination. Hope you like this story, happy reading<3

.

.

                                 “Menurut Seungwan, manusia lebih kejam daripada iblis, betul atau tidak?”             

  

Author’s side

Pelajaran hari ini cukup membosankan, Seungwan yang biasanya paling semangat belajar kali ini nampak sering menguap cukup lebar dan berusaha menahan matanya yang berdaya 5 Watt lagi.

Seungwan memutuskan untuk mengalihkan pandangannya keluar jendela, siapa tahu rasa kantuknya berkurang. Kali ini matanya cukup terhibur melihat sosok Bae Irene disana. Bukan, Seungwan bukan lesbi. Dia hanya mengagumi gadis bermarga Bae yang kecantikannya sudah tersohor ke seluruh pelosok sekolah.

Bae Irene menempati posisi pertama untuk kategori siswi terpopuler dan tercantik di sekolah. Maka dari itu, Seungwan cukup iri dengan gadis yang notabene adalah kakak kelasnya itu. Dia tidak bisa seramah dan se-easy going Irene. Seungwan tidak bisa bersosialisasi dan itu membuatnya muak pada dirinya.

Seungwan tersenyum kecil melihat Irene tertawa dengan teman-temannya. Seungwan selalu bertanya pada dirinya sendiri kapan dia menggantikan posisi Irene, gadis yang sempat dekat dengan Chanyeol, pria pujaan hati Seungwan.

Tanpa disadari, bel pertanda istirahat berbunyi dan membuat kelas ricuh seketika. Tak mau kalah, Seungwan juga merapikan bukunya lalu merajut langkah menuju kantin.

Seungwan duduk di sebuah kursi di kantin yang letaknya sangat pojok dan hampir tidak terlihat dari sisi manapun. Tak banyak orang yang ingin duduk disini karena lokasinya terlalu terpencil. Jika orang tak sengaja melihat Seungwan mungkin orang tersebut akan berteriak histeris karena mengira Seungwan adalah sesosok hantu.

Pasalnya, rambut panjang Seungwan menutupi wajahnya dan nampaknya gadis itu ogah untuk menyibaknya ke belakang, dan lagipula sejak kapan dia peduli dengan penampilannya? Berniat untuk populer namun menata penampilan saja dia enggan.

Meski Seungwan anti-sosial, dia tidak pernah absen untuk pergi ke kantin saat jam istirahat karena dia juga punya perut yang perlu diisi.

“Maaf, ya, aku harus melakukan ini,” Seungwan tersenyum miris menatap apel berwarna merah yang dia bawa dari rumah dan nampaknya sangat nikmat itu, dia menggigit apel itu pelan lalu mengunyahnya.

“Hmmm.. enak,” komentarnya seraya menatap buah apel yang sudah ompong itu.

Beginilah keseharian Seungwan, menyendiri dan berusaha menjauh dari keramaian. Jujur, dia sangat benci dirinya yang seperti ini. Membenci dirinya yang tidak bisa berjalan dengan posisi kepala terangkat, tidak bisa berbicara dengan santai kepada siapapun, dan bahkan takut untuk menatap orang lain.

Tak terasa, gigitan terakhir telah Seungwan lancarkan. Dia tersenyum puas lalu berjalan pelan menuju pintu kantin. Menundukkan kepalanya dalam-dalam lalu memasukkan kedua tangannya ke saku jas sekolahnya.

Sempat dia melirik sekilas ke arah sebuah meja yang ditempati oleh Chanyeol dan teman-temannya, mereka nampaknya sedang bercanda, terlihat dari tawa Chanyeol yang begitu menggelegar di kantin.

Chanyeol langsung jadi pusat perhatian karena suara tawanya, lagipula pria itu selalu jadi pusat perhatian tanpa harus menimbulkan sensasi. Seungwan tersenyum sekilas lalu kembali berjalan menunduk meninggalkan kantin yang masih padat dipenuhi oleh berbagai siswa-siswi dari beragam kelas.

Oppa, kita disuruh ke ruang klub. Na-ssaem ingin membicarakan sesuatu katanya,” nampak seorang gadis dengan rambut sepunggung berwarna coklat itu menarik lengan Chanyeol cukup kuat.

Ah.. Seungwan tidak perlu melihatnya, karena dia yakin dan percaya itu adalah Kim Seolhyun, gadis populer nomor dua di sekolah mereka. Seungwan masih begitu dendam padanya, mengingat perkataan sarkatisnya semalam saja membuat Seungwan ingin menendang wajah gadis itu sekarang. Tapi apalah daya Seungwan yang hanya mampu berjalan sambil menunduk itu.

Jadi Seungwan hanya mampu memasukkan Seolhyun dalam daftar saingan dan blacklist-nya. Masuk daftar saingan karena nampaknya gadis bermarga Kim itu mengincar Chanyeol dan masuk blacklist karena sikap kejamnya terhadap Seungwan.

Seungwan pun memutuskan untuk cepat-cepat kembali ke kelas, sebelum Seolhyun melihatnya dan mulai menghinanya lagi.

BRUK!

Seungwan mematung, sial, kenapa dia harus menabrak seseorang di kantin dalam kondisi yang ramai seperti ini? Seungwan meremas roknya, tidak berani mengangkat kepalanya sedikit pun.

“Hei, kau baik-baik saja? Maaf ya, seharusnya aku melihat ke depan kalau sedang berjalan,” ucapan itu begitu lembut sehingga membuat hati Seungwan mencelos, dia tidak kenal dengan suara ini tapi hatinya berdebar.

Hatinya sungguh berkhianat, kenapa hatinya berdebar hebat bukan hanya untuk Chanyeol saja? Dan pria itu minta maaf? Padahal jelas-jelas Seungwan lah yang menabraknya.

Seungwan masih diam, tapi perlahan-lahan dia menggeser tubuhnya ke samping agar pria lembut itu dapat lewat karena sedari tadi Seungwan menghalangi jalannya. Setelah itu tanpa ba-bi-bu lagi, Seungwan segera berlari, meninggalkan kantin dan pria yang memandang punggungnya penuh keheranan.

Seungwan’s side

Aku berusaha mengatur nafas dan detak jantungku. Sungguh, berlari dari kantin ke kelasku tanpa jeda sama dengan bunuh diri, tapi aku mampu melakukannya karena sudah biasa. Lagi dan lagi, aku menabrak orang lain, dan baru kali ini orang yang aku tabrak minta maaf padaku padahal seharusnya aku yang meminta maaf. Siapa ya pria itu tadi?

Suaranya juga sangat lembut eh—dasar Seungwan bodoh! Bukankah kau bilang kau suka pada Chanyeol? Kenapa sekarang kau malah berdebar karena orang lain. Tobat Seungwan, tobat.

Baiklah lupakan.

Aku segera masuk ke dalam kelas tapi tunggu, sejak kapan dinding kelasku dihiasi oleh berbagai macam pernak-pernik warna-warni yang merusak mata seperti ini? Atau anak-anak kelasku menghias kelas tanpaku? Wah.. kalo benar, mereka benar-benar jahat padaku, eh, bukankah memang sudah begitu dari dulu?

Dengan sedikit perasaan ragu aku memasuki kelas yang kosong melompong itu dan berjalan menuju kursiku. Wah, sekarang anak-anak kelas sudah menganggap keberadaan ku ternyata, terbukti dengan mereka memindahkan tasku ke tempat lain. Sebuah kemajuan!

Aku berkeliling kelas berusaha mencari tasku yang mungkin disembunyikan atau sengaja dipindahkan. Tapi aku mendengus pelan, karena aku sama sekali tidak menemukan tasku dimana pun.

Aku tidak hafal nama teman sekelasku dan bahkan tidak mengingat wajah mereka. Aku juga tidak berani berbicara atau saling tatap dengan salah satu diantara mereka. Dan aku rasa mereka juga tidak tahu kalau aku ini teman sekelas mereka.

Jadi apa yang harus kulakukan sekarang? Tas ku itu baru dibelikan oleh eomma tiga hari yang lalu dan harganya juga cukup mahal.

Baiklah aku menyerah, kuputuskan untuk duduk di kursiku, toh, nanti mereka akan mengembalikan tasku juga. Aku memandang ke luar jendela yang letaknya berada tepat di sampingku, senyumku mengembang sempurna melihat sosok Chanyeol tengah bermain dengan teman-temannya di lapangan.

Eh, itu bukan Chanyeol. Ada-ada saja mataku ini! Lagipula Chanyeol ‘kan sedang berada di ruang klub teater, pasti membicarakan perihal drama yang akan dipentaskan pada pentas seni sekolah bulan depan.

Dan kacaunya selama setahun menunggu, aku hanya mendapatkan sebuah pemeran figuran dan itu pun menjadi pohon. Sedih sekali mengingat impianku pupus dengan begitu saja.

Sungguh aku benar-benar ingin populer, aku ingin menunjukkan diriku yang sebenarnya. Aku ingin berjalan tegak dengan dagu sedikit terangkat, dipuji disana dan disini, disapa oleh orang lain tiap kali aku lewat, dan menjadi pusat perhatian di manapun aku berada.

Namun itu hanya sebatas mimpi, garis bawahi mimpi, yang tidak akan terwujud sampai sel ovum mengejar sel sperma.

Tiba-tiba, bel pertanda istirahat berakhir berbunyi. Aku bisa mendengar derap langkah buru-buru memasuki kelas, aku lantas menundukkan kepalaku dan menatap meja yang kondisinya berantakan itu.

Eh?

Ini bukan mejaku, sejak kapan mejaku ada tulisan-tulisan aneh dan tidak jelas begini? Lagipula, aku sudah merapikan mejaku sebelum pergi ke kantin tadi.

Tunggu, jangan-jangan aku salah masuk kelas?!

Astaga, benar! Aku pasti salah masuk kelas, aduh… bagaimana ini?! Apa yang harus aku lakukan?! Aku pasti salah tujuan karena terlalu fokus untuk berlari tadi. Sial!

Mengangkat kepala saja aku tidak berani apalagi menjawab pertanyaan orang-orang yang sekarang tengah menatapku penuh kebi—

“Kau siapa?” gawat! Bagaimana ini, aku bahkan tidak bisa mengangkat kepalaku. Aku semakin bungkam, semakin menundukkan kepalaku memastikan sosok yang aku yakini pria ini tidak akan bisa melihat wajahku. Dia pasti pemilik kursi yang tengah aku duduki ini.

“Astaga, kau punya mulut atau tidak, huh? Minggir, ini kursiku!” dia menendang kursi yang tengah aku duduki cukup keras.

Sekarang aku bisa merasakan tatapan-tatapan aneh menusuk leher dan kepalaku, astaga, aku tidak mau menjadi pusat perhatian karena hal ini. Untung saja keadaan kelas ini belum terlampau ramai jadi aku masih bisa kabur tanpa takut ditertawakan.

Namun tiba-tiba, sebuah tangan besar menyibak rambutku ke belakang. Sehingga pipi kananku terekspos sempurna. Aku benar-benar merasa seperti patung sekarang, aku mulai keringat dingin dan semoga aku tidak pipis di celana! Berani sekali pria ini menyentuhku!

“Kau, kau anggota klub te—”

Aku mendorongnya hingga tubuhnya terjatuh, tanpa melihat wajah dan kondisinya aku berlari dengan kecepatan penuh menuju kelasku. Aku tidak peduli siapa yang aku dorong tadi karena kondisiku benar-benar urgent!

Tuhan, kenapa hari ini aku sial sekali?

Aku mendengus kesal karena Seolhyun dan kawan-kawan tengah berjalan bergerombol memenuhi koridor sekolah.

Astaga, apakah aku harus menerobos gerombolan itu?

Baiklah, aku tabrak saja mereka semua!

“Hei kalian, tangkap gadis itu!” aku sempat tersentak, tidak kusangka pria itu akan mengejar ku.

Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?!

“Kim Seolhyun! Tangkap gadis itu!” Aku bisa melihat—tidak mungkin aku berlari sambil menunduk kan?—Seolhyun dan gerombolannya mulai memasang kuda-kuda, bersiap menangkap ku.

Ayo, Seungwan berpikir, berpikir dengan otak jeniusmu bagaimana caranya melewati mereka. Berpikir!!

Ah, binggo!

Aku bisa meluncur dari bagian bawah salah satu dari mereka. Lihat, mereka membuka kaki mereka lebar-lebar. Jangan berpikir ambigu, kan mereka sedang memasang kuda-kuda tentu saja wajar mereka membuka kaki mereka.

Baiklah, bersiap, hitungan ketiga meluncur!

Satu

Dua

Tiga

Syut!

Yes! Aku berhasil, aku sudah melewati gerombolan itu dengan cara yang cukup tidak pantas ditiru.

Aku bisa mendengar pekikan terkejut dari mulut mereka, aku ‘kan Son Seungwan ratunya kabur! Pasti sekarang mereka semua tengah memasang wajah cengo mereka. Pasti lucu.

Tapi tunggu di depanku ada gerombolan lagi dan gerombolan itu adalah ASTAGA!

KENAPA HIDUPKU SIAL SEKALI?!

Chanyeol’s side

Aku memutuskan untuk mengejar gadis aneh yang baru saja mendorong tubuhku hingga aku tersungkur ke lantai. Enak saja dia, sudah duduk di kursiku dan mendorongku hingga jatuh tapi tidak meminta maaf.

Aku tersenyum lebar saat aku masih mampu mengejar gadis itu, dia berlari begitu cepat tidak biasa untuk ukuran seorang gadis. Dan dewi Fortuna tengah berpihak padaku, karena Seolhyun dan kawan-kawan tengah berjalan memenuhi koridor sekolah.

“Hei kalian, tangkap gadis itu!” teriakku cepat, tapi ck! Para gadis itu belum mendengarku.

“Kim Seolhyun! Tangkap gadis itu!” kali ini suaraku semakin kuat dan untunglah Kim Seolhyun mendengarnya sehingga dia dan teman-temannya lekas memasang kuda-kuda, bersiap menangkap gadis aneh itu.

Tapi gadis suram itu sama sekali tidak berhenti, dia malah mempercepat larinya. Apa dia akan menabrakkan tubuhnya dengan gerombolan itu?

Syut!

Langkahku terhenti, aku memasang ekspresi cengo yang paling cengo. Apa yang gadis itu lakukan diluar ekspetasiku.

Bayangkan dia meluncur di lantai lewat di antara kaki Kim Seolhyun. Dan dia sukses meluncur tanpa lecet. Terbukti, dia masih tetap berlari tanpa ragu. Itu adalah adegan yang lumayan tidak senonoh sebenarnya. Tapi aku akui itu taktik yang hebat, dia adalah gadis yang bisa kabur dengan cara yang hebat!

Tapi aku bisa melihat, perlahan-lahan gadis itu memelankan langkahnya karena gerombolan yang ada di depannya. Tentu saja dia tidak mungkin melakukan taktiknya tadi untuk melewati gerombolan itu. Ini adalah kesempatan untukku!

Mari kita lihat siapa yang akan menang, aku atau si gadis suram yang aneh itu!

[To be continue]

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] (Unneeded) – (#01 Problem)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s