[EXOFFI FREELANCE] BLACK ENCHANTED (Chapter 8)

enchanted-copy

 

BLACK ENCHANTED  CHAPTER 8 (CONFESSION)

.

Author                  : Rhifaery

FB                           : Rhifa Chiripa Ayunda

IG                           : @chiripachiripi

Blog                       : rhifaeryworld.wordpress.com

Main Cast            : Airin (OC), Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun and Suho

Genre                   :Fantasy, Romance

Rating                   : 17+

Author Note      : Inspired by Diabolix Lovers

Summary             : Airin yang tak pernah tahu asal-usul keluarganya, tiba-tiba dikirim pihak gereja ke sebuah rumah berisikan enam pria menawan: Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun dan Suho yang ternyata masih mempunyai hubungan darah dengannya. Namun kenyataan mengatakan bahwa mereka adalah vampir yang haus akan darah manusia. Menjadi satu-satunya seorang mortal mampukah Airin membebaskan diri tanpa pernah terikat dengan pesona mereka?

Semua orang hidup untuk sebuah alasan.

                Sehun berada di sekolah. Berjalan melewati vampir-vampir yang wajahnya sudah tidak ia ingat. Beberapa manusia lemah –slave- juga ada di lingkungan tersebut. Tanpa mereka, mana mungkin vampir-vampir itu bisa bertahan hidup.

                Pada dasarnya manusia memang selalu memandang dari posisi mana ia berasal, tanpa memerdulikan betapa pentingnya keberadaan mereka bagi sesamanya. Para manusia-manusia itu, mungkin dapat pula dikatakan penting bagi kaum vampir, sebagai penyelamat jiwa juga mengatasi rasa dahaga.

                Tapi rasanya Airin tak akan pernah memahaminya. Kebenciannya terhadap vampir terlalu kuat hingga dirinya tak bisa lagi menerima keadaan. Bukankah manusia mempunyai hati, tapi gadis itu tak menggunakannya untuk berpikir, karena hatinya terlebih dulu terpaut pada seseorang.

                “Pergilah, aku tidak suka diikuti?” Seseorang yang berjalan di belakang Sehun terkejut. Sehun sadar bahwa sedari tadi Chanyeol telah mengikutinya. Sampai dirinya berhenti di taman sekolah, memutuskan duduk sembari melihat burung yang berterbangan di udara.

                Ketahuilah, Sehun pun ingin bebas, tidak ada yang tahu bahwa dirinya terkengkang begitu lama.

                “Haruskah aku membunuhnya?” Pertanyaan selanjutnya hampir membuat Chanyeol tersendak lantas beringsut duduk di samping Sehun. Sejak Sehun menceritakan kejadian semalam, keberadaannya di markas Magvetto, juga kejadian Airin yang memberinya kekuatan lewat darahnya. Chanyeol pun hampir tak percaya, karena inilah dalam kurun waktu dekade, Klan Magvetto membiarkannya lolos. Padahal mereka sudah merencanakan penyerangan khusus.

                “Tenangkan dirimu dulu.”

                “Benar.” Sehun mendesah. Nyatanya Chanyeol tak banyak membantu. Biasanya Kai yang menemaninya dalam suasana sekalut ini, tapi nyatanya pria itu memilih untuk  jadi sumber masalah barunya.

                “Kau sedang banyak pikiran, percayalah dia pasti menerimanya. Gadis itu tak sekejam yang kau kira.”

                “Dia hanya menerima Kai. Padahal jelas-jelas dia milikku.” Nada ucapannya terdengar lemah. Dia mungkin bisa melakukan berbagai cara agar membuat Airin menjadi miliknya. Tapi bukan kepada Kai dengan menepis semua persaudaraan yang mereka buat.

                “Jika begitu kau hanya perlu meyakinkannya lagi dan lagi.”

                Mudah sekali Chanyeol berkata. Padahal jelas itu tidak mudah. Biasanya Suho lah yang bertugas sedemikian rupa. Meyakinkan gadis-gadis bahwa mereka Eve hingga berujung pada kematian mereka. Tapi untuk Airin, gadis yang memang diyakinanya, harusnya Suho bisa membantunya sedikit.

                “Berapa laa Black Moon muncul?”

                “Sekitar 2 sampai 3 hari lagi.”

                 “Sulit.” Sehun seketika menggeleng. Ada apa dengannya, ini adalah pertama kalinya pria itu kehilangan kepercayaan dirinya. Dibalik tampang rupawannya, bukankah itu membuatnya menjadi mudah. Lagi pula dirinya bukan golongan vampir lemah.

                Dalam keremangan bayang-bayang di lorong depan mereka, beberapa vampir terlihat menyudukan salah seorang wanita. Dia jelas slave. Sekitar 3-4 orang vampir pria menghalangi jalan wanita itu untuk keluar. Wanita itu memohon-mohon kepada mereka untuk memberinya jalan, namun tindakan tersebut justru memancing tawa diantara semuanya.

                “Apa semuan ini dipertontonkan untukku?” Sehun berbisik pelan. Biasanya dia tidak pernah mencampuri urusan vampir lain, tapi apa yang mereka lakukan kemudian benar-benar tindakan diluar batas. Mereka menahan tangan, menggerayangi bagian-bagian dalam Si wanita tanpa peduli dengan teriakan kesakitannya.

                “Tolong lepaskan aku, aku sangat lelah sekarang.” Pintah Si wanita. Memang benar wajahnya pucat pasi menunjukkan bahwa mereka baru kekurangan darah.

                “Melepaskanmu? nanti saja yah?” Ucapan vampir satu disambut tawa cekikikan dari vampir lainnya. Memandangnya dengan wajah rakus seolah ingin menelannya hidup-hidup.

                “Kita akan berpesta sekarang?”

                “Tidak, kumohon jangan lakukan.” Salah seorang vampir sudah menjilat menikmati bagian leher wanita itu, sementara dua lainnya memegangi kedua tangannya agar tak banyak bergerak.

                Dengan suara tertahan, Sehun bertanya, “Jika kau menjadi manusia apakah kau juga akan membenciku?” Masih tak mampu mengalihkan pandangan dari Si wanita. Ayolah, dia pun terbiasa melihat pemandangan ini, apalagi melakukannya. Tapi Sehun tak pernah memakai hati untuk melihat. Barangkali vampir memang tak dianugerahi hati, tetap saja mereka memiliki nurani. Sehun tak pernah merasakan bagaimana kesakitan wanita yang ia hisap, ia mainkan asal dia terpuaskan semua selesai. Dan barangkali inilah yang membuat Airin benci dengan vampir. Perlakuan mereka yang tidak terdidik walaupun mereka memiliki sekolah.

                “Tolong hentikan mereka dan buat Si wanita kembali ke dunianya sendiri.” Ucapan Sehun pada akhirnya membuat Chanyeol terkejut.

                “Kau mungkin menjadi gila sekarang?”

                Sehun tak perlu menunggu lama untuk melaksanakan keinginannya, segera dihampirinya vampir-vampir. Hanya dengan dengan tiga langkah mendekat, mereka pun akhirnya kabur dengan sendirinya. Meninggalkan Si wanita yang saat ini sedang menangis-nangis di kakinya sebagai ungkapan terima kasihnya.

                “Seperti bukan Sehun yang biasanya?” Komentar Chanyeol mendekat. Segera diusirnya wanita itu sehingga yang tersisa adalah mereka berdua. “Apa sekarang kau tahu, mengapa dia lebih  memilih Kai?”

                Sehun tak mengangguk juga tak menggeleng. Hanya matanya menatap sisa-sisa kejadian tadi walaupun dalam bentuk kosong. Kai mungkin dikatakan vampir yang masih memiliki nurani. Tak pernah menghisap darah manusia, kecuali jika benar-benar butuh. Itulah sebabnya jika kekuatannya tak lebih besar dari mereka yang menghisap darah manusia.“Kupikir dia akan menghabiskan waktu dengannya.”

                “Dan kau menghabiskan waktu denganku.”

                Sehun meringis. “Apa kau berpikir untuk mengelabuhiku?”

                “Tidak, aku hanya berpikir seharusnya.” Chanyeol beranjak berdiri. Luar biasa. Suasana hati Sehun sekarang sedang stabil. Dalam keadaan seburuk ini, biasanya Sehun akan melakukan hal diluar batas, membunuh atau mungkin menyiksa. Itulah sebabnya Chanyeol berinisiatif membuntutinya.

                 “Kau harus memberi dia waktu. Dia toh tidak bisa menolaknya jika sudah takdirnya.”

                “Dan Kai?”

                “Dia saudaramu. Bagaimanapun!”

***

                Airin menyusupkan kepala diantara kedua lutut, di tengah ketidakberdayaan dirinya akan hidupnya. Ia masih sedikit terisak dengan air mata yang ia tahan mati-matian. Barangkali ia sudah lelah menangis. Terkengkang dengan perbuatan yang tidak ia lakukan juga kehidupan yang tidak ia inginkan.

                Dari sisi ranjang, Kai terlihat berdiri menatapnya iba. Menepuk punggung gadis itu lembut sekedar menenangkan. Ia takkan pernah lupa bagaimana ia menemukan Airin kemarin malam. Gadis itu hancur. Lebih hancur saat menerima gigitan pertamanya dulu. Itulah sebabnya Kai tak langsung membawanya pulang melainkan ke rumah lama mereka.

                Tak seorangpun berkomentar. Airin memutuskan tenggelam dalam pikirannya sendiri sementara Kai menunggu gadis itu hingga bicara. Angin malam berhembus, mengetuk jendela kamar dengan pencahayaan yang temaram. Bagaimanapun ini masih dalam batas persembunyian. Sebisa mungkin Airin berusaha hilang, walau tak akan mudah.

                “Aku ingin hidup normal….”Airin berkeluh sekalipun Kai sama sekali tak bereaksi. “Aku tidak tahu ingin menjadi apa nantinya, tapi aku tidak ingin menjadi seperti mereka.”

                “Aku tahu.” Hanya itu komentar yang keluar dari mulut Kai. Terasa Airin melupakan bahwa Kai-pun bagian dari mereka pula.

                “Sehun bilang aku adalah Eve yang mereka cari. Sekalipun aku menggelak bahwa kenyataannya memang benar. Aku tidak mau menjadi Eve sialan itu.”

                Kai mengangguk.

                “Tapi kupikir itu memang benar, aku tidak tahu harus berbuat apa. Mereka menculikku dan satunya berusaha membunuhku bahkan dengan menyakiti Sehun.” Airin bergidik, masih mengingat peristiwa tadi dengan jelas. “Aku ketakutan, dan tidak benar-benar tahu apa yang kurasakan. Rasanya aku benar-benar ingin menghancurkan mereka semua. Ingin semua bertekuk lutut.”

                Airin bercerita pada Kai tentang apa yang selanjutnya terjadi. Saat ia memberikan daranya pada Sehun yang membuat pria itu tiba-tiba membaik. Tentang mereka semua yang berusaha membunuhnya, memberuhnya atau komentar Sehun mengenai jati dirinya sebagai Eve.

                “Sekalipun itu memang benar, aku tidak akan ingin menjadi Eve mereka. Tidak akan mau dan tidak akan sudi.” Perasaan mual tiba-tiba hadir dalam dirinya. Membayangkan hidupnya sebagai seorang slave sudah membuatnya muak apalagi dengan seorang Eve yang mengharuskan dia terjebak selamanya bersama mereka.

                Dan tangan Kai terulur ke depan. Mengangkat wajah gadis itu agar tidak selalu menunduk. Ia menatapnya lembut dan membuat mata gadis itu semakin merebak. “Apa aku menyakitimu?”

                Ucapan pelannya justru membuat Kai memasang senyum simpul. Akhirnya dia sadar. “Maafkan aku. Aku hanya tidak benar-benar tahu apa yang harus kulakukan…-

                “Husstt… tidak ada yang tersakiti disini.” Kai merangkulnya, menampah kepala Airin agar bersembunyi di dadanya. Dingin. Namun dingin itu memberi kenyamanan yang terangat sangat. Kai bisa merasakan jantung gadis itu yang berpacu cepat. Mengalirkan setiap mili darah di seluruh tubuhnya. Sangat menggoda tapi sengaja ia tahan mati-matian demi kebaikan gadis itu sendiri.

                “Aku ingin bersamamu Kai, bukan bersama mereka. Hanya kau.”

                “Kau akan tetap bersamaku.”

                “Itu bukan hal yang mustahil bukan, maksudku selama kita berbeda.”

                Kai tidak menjawab. Pria itu sudah berjanji jika dia selalu disisinya apapun yang akan terjadi. Terlepas dari kisah cinta tabu antar sepsang makhluk yang berbeda. Disisi lain, Airin sangat mempertahankan kemortalitasannya. Sedangkan yang dilakukan Kai hanyalah menyetujui apa yang dilakukan Airin. Selalu seperti itu.

                “Aku mencintaimu.” Kata itu tidak keluar, masih tersimpan di hatinya. Namun sengaja Airin mendongkakan kepalanya. Menatap seinchi wajah Kai di atasnya agar sekiranya pria itu dapat membaca pikirannya.

                “Aku juga mencintaimu.”

                Rasanya Airin ingin menangis. Benarkah apa yang barusan dengar. Walau waktunya sangat tidak tepat, tak bisa dipungkiri bahwa dia sangat gembira. Setidaknya perasaannya terbalas. “Sejak kapan?”

                “Sejak pertama kali aku mendengar suaramu.” Ucapannya tidak bisa diyakini seratus persen. Saking malunya Airin hampir memalingkan muka. Ayolah, ini bukan saatnya Kai untuk menggombal hal yang tidak penting. Masalah yang dihadapi kedepan bisa jadi semakin serius.

                 “Katakan bahwa kau akan berada dipihakku. Aku rela menyerahkan semua yang kumiliki hanya padamu, tapi tidak pada mereka.”

                “Jangan begitu.” Kai merenggangkan pelukannya. Barangkali pernyataan Airin terdengar bodoh. Dia baru saja menyerahkan hidupnya pada seorang vampir. Padahal kenyataannya dia menolak vampir. “Semua orang berhak akan kehidupan dirinya sendiri, jangan pernah menyerahkan hidupmu seolah-olah kau benar-benar bosan dengan hidup yang kau jalani.”

                Ucapan Kai ada benarnya. Walaupun sebenarnya Airin sudah dipuncak bosan dengan hidupnya. “Aku hanya tidak tahu apa yang harus kulakukan, maafkan aku.”

                “Kau minta maaf terus dari tadi.”

                Airin tidak menjawab. Ia tidak tahu apa yang dia katakan bahkan pembicaraan apa yang mereka lakukan. Rasa ketakutan dan kesedihan terlalu mendominasi dirinya hingga dia tak sadar betapa berharganya saat dia menjalaninya dengan Kai. “Bawa aku bersamamu, aku ingin bersamamu.”

                Lagi, ucapan itu yang keluar dari bibir Airin. Mungkin dapat dikatakan bahwa ini pembicaraan paling tidak bermutu antara dirinya dan Kai. Tapi toh Airin tidak peduli. Terlebih saat Kai merahi tengkuknya dan memberinya kecupan sekilas. Hanya sekilas, dan itu tak membuat Airin merasakan apapun.

                 “Tidurlah, kau pasti lelah.” Kai menyikap selimut dan menutupinya hingga leher. Tak ingin bermain-main pada gadis yang ketakutan karenanya. Namun baru saja ia beranjak pergi, tiba-tiba sebuah tangan  menahannya.

                “Tetaplah disini.” Airin menggigit bibir. Bukankah itu terlalu agresif. “Maksudku, kau mau kemana?” Seperti ungkapan bodoh. Padahal jelas-jelas Kai tidak menunjukan reaksi kemana-mana. Dia hanya berdiri sebentar, membenarkan letak tirai yang tadinya tertiup angin.

                “Aku tidak kemana-mana. Aku akan disini menemanimu sampai tertidur.” Ia menunjuk kursi di pojok ruangan. Terlaluh jauh, Airin sampai menggelengkan kepala.

                “Bisakah kau disini saja, di dekatku…?”

                “Apa kau menginginkan tidur denganku?”  Lagi-lagi Airin mengigit bibir. Rasa malunya menjadi-jadi. Memang benar, sedikit dari keinginan nakalnya, ia menginginkan Kai melanjutkan permainan yang dulu sempat tertunda. Namun tentu dia harus menunggu waktu yang tepat.

                “Yeah… tidur yang benar-benar tidur maksudku.”

                “Vampir tak pernah tidur, Airin….” Ucap Kai lembut yang membuat Airin semakin merutuki dirinya sendiri. Jantungnya berdegup tak karuan begitu Kai naik ke tempat tidur. Mengambil ancang-ancang untuk menindihinya. “Yeah… kecuali jika aku melakukan sesuatu sampai membuatmu tertidur?”

                Dan kecupan lembut mendarat di keningnya, turun ke hidungnya, kedua pipinya kemudian bibirnya dan mengulumnya lembut. Membuat gadis itu sengaja membuka mulut dan mengizinkan Kai mengeksposnya lebih.

                Airin tak pernah berpikir bahwa bercinta dengan vampir akan benar-benar ia lakukan. Namun sosok Kai yang begitu menggoda membuatnya tak bisa berpikir waras. Ia menyukai sentuhan-sentuhan yang dilakukan pria itu terhadap tubuhnya. Kecupan pria itu turun ke leher. Sedikit ke khawatiran bahwa pria itu akan menggigitnya dan menghisap darahnya namun ia salah. Kai tahu bahwa aliran darah yang melewati lehernya begitu menggoda dan ia terpaksa menahannya dengan alasan tak mau gadis itu sakit. Kecupannya justru turun ke dadanya menanggalkan pakaian gadis itu pelan juga melepaskan kaitannya.

                “Apa kau berpikir bahwa aku benar-benar Eve yang mereka cari?” Dalam keadaan ini pun pikirannya masih berkecamuk. Membuat Kai terpaksa menghentikan perbuatannya dan menatapnya ragu.

                “Dari darahmu, aku bisa merasa bahwa kau benar-benar seorang Eve.”

                Jawaban itu membuatnya ingin menangis hingga membuatnya memalingkan wajah. Sampai akhirnya Kai kembali mendudukkan tubuhnya yang sudah setenga telanjang di hadapannya. “Sekalipun begitu tak akan kubiarkan merebutmu dariku karena aku ingin memilikimu sendiri.”

                Tangan Airin yang bergelantung langsung menarik kepala Kai dan mengecupnya inten. Ciuman yang lebih bergaira dari awalnya. Yeah, anggap saja sebagai hadia karena Kai menenangkannya hari ini. Seperti yang ia harapkan, ciuman Kai turun ke bagian bawah mengecup bagian-bagian intim yang dimiliki gadis itu. Ciuman Kai selalu memabukkan.

                For now, it’s firs time she felt happines and fredom.

                                                                                                                —

                Paginya Airin merasa bahwa keduanya jarinya seakan-akan melengkung. Rasa nyeri yang timbul di kedua selangkangannya, membuatnya semakin malas untuk bangun. Kejadian semalam adalah pertama kali. Saat Kai membuatnya melayang ke udara, mendekati ujung dunia. Jika dia tahu bercinta rasanya senikmat itu, nukannya dia sudah melakukannya dari dulu. Tentunya hanya dengan Kai.

                Semua ketakutan, kedinginan, kekhawatiran seolah lenyap begitu Kai menyentuhnya.

                Gadis itu masih berusaha bangun. Bersamaan itu dia melihat tanda-tanda Kai telah kembali dari suatu tempat. “Kau kemana saja Kai?” Ungkapnya sedikit kesal. Bukankah seharusnya Kai berada di sampingnya dan memeluknya hingga pagi.

                Yang ditanya melah menunjukkan raut tak peduli. Namun tetap tersenyum melihat keadaan wanitanya yang sudah berbeda. Dia sekarang milikku.

                “Mencari mangsa.” Kai menjawabnya mudah, seolah-olah itu bukan hal tabu bagi Airin. Tapi begitu dia melihat raut risih dari kedua matanya, Kai segera membenarkan, “Di hutan ada rusa yang besar-besar.”

                “Oh…- Komentar Airin singkat. Dia memalingkan muka melihat jejak permainannya semalam. Ayolah, gadis itu bahkan belum berpakaian dengan benar. Sedangkan Kai sudah terlihat lengkap dengan balutan pakaian kasual. “Sekarang kau bisa menghisap darahku semaumu.”

                “Apa?” Padahal Kai  mendengar suaranya sejelas apa yang dia bisa. Dia hanya tidak yakin.

                “Aku milikmu, kau bisa melakukan apapun semaumu.”

                “Dan tidak akan kubiarkan orang lain meyentuhmu selain aku.” Sambungnya. Hingga kedua taring itu tiba-tiba muncul dan tertancap di leher jenjangnya.

                Airin menggigit bibir. Merasakan kesan perih menjalar ke seluruh tubuhnya. Tak bisa dipungkiri, taring Kai sangatlah tajam. Membuatnya terasa dua kali lebih sakit. It’s sure, dia akan lebih sering merasakannya dari sekarang.

                Ting Tong!

                Suara bel rumah berdenting. Sejenak menghentikan aktifitas pagi mereka. Airin mendadak panik. Itu mungkin Sehun dan yang lainnya. Tapi bukannya mereka tidak terbiasa menggunakan pintu seperti manusia lainnya.

                “Benarkan bajumu, aku akan membukanya.” Perintahnya. “Itu mungkin dari orang-orang salah alamat atau pemburu yang membutuhkan bantuan.”.

                Kai segera beranjak, sebelum pikiran gadis itu semakin membuatnya tertawa. Memang benar bahwa ‘mereka’ tidak terbiasa menggunakan pintu. Dia pun berpikir demikian bahwa itu tak mungkin dari kaum vampir.

                “Kai…”

                Dia menoleh. Padahal Airin tak benar-benar ingin memanggilnya. Dia hanya tidak ingin ditinggal. “Periksa dulu siapa yang datang.”

                Kai mengangguk. Membuat kedua pipinya tiba-tiba memanas. Kai tentu tahu apa yang diinginkan gadis itu hingga akhir. Kebersamaan, menghabiskan malam yang panjang hanya berdua sekalipun setiap malamnya berarti kejadian mencekam untuknya. Karena pada dasarnya Eve adalah seorang yang memiliki gairah tinggi.

                “Disini kau rupanya?” Suara itu hadir tiba-tiba, memperlihatkan sosok yang tak asing. Bahkan hanya mendengar saranya saja membuat Airin terkejut setengah mati.

                Sehun berjalan mendekat. Satu bibirnya terangkat miring seolah baru saja menertawakan hal yang benar-benar lucu. Kamar yang berantakan juga kondisi gadis itu half to naked membuat dia baru saja mengambil kesimpulan dengan benar. “Kau kabur dariku dan memilih tidur dengan Kai, you’re very bitch!

                “Kau… tidak seharusnya berada disini.” Ucapnya terbata. Airin menarik selimut rapat-rapat dan membenarkan letak pakaiannya dengan benar. Demi tuhan, ini kejadian paling memalukan seumur hidupnya. Seolah bahwa dia benar-benar tertangkap tangan melakukan dosa besar. Dan padahal tidak.

                “Bukankah sudah jelas bahwa ini rumahku, kau lah yang seharusnya tidak berhak berada disini.” Ucap Sehun santai. Tangannya terlipat di kedua dadanya. Memandangnya dengan ekspresi kesal sekaligus jijik. “Tapi jika kau mau, aku bisa membuatmu jadi berhak atas rumah ini.”

                “Apa maumu?”Ada ketegasan dari suaranya sekalipun Sehun tahu Airin hanya berpura-pura memberanikan diri.

                “Jadilah Eve-ku!”

                “Aku masih waras untuk menerima semua itu Sehun.”

                Sehun semakin mendekat. Pandangan seduktif ia arahkan ke leher Airin. Tentu saja ia tahu itu bekas siapa. Yang lantas diusapnya luka itu secara lembut. “Bagaimaa jika aku memintahmu sebagai bala bantuan. Kita semua akan mati jika kau tidak menerimanya. Suho, D.O, Chanyeol, Baekhyun, aku dan juga Kai-mu. Bukan hanya kita, bahkan perlahan-lahan semua makhluk di dunia ini akan mati. Seluruh eksistensi manusia, bahkan dunia ini akan kacau balau jika kau masih egois.”

                “Mengapa aku, mengapa harus aku dan bukan yang lainnya?”

                “Karena aku yakin kau adalah Eve!”

                “Aku bukan Eve, cukup hentikan!” Tetesan air mata tiba-tiba keluar dari pelupuk matanya. Apa ini, bahkan Airin tidak tahu apa yang seharusnya dia tangisi.

                “Kau tak akan bisa menggelak jika kutunjukkan ini.”

                Lalu Sehun memberi isyarat pada seseorang untuk masuk. Pemandangan yang sangat jauh dari pikiranya, karena Sehun justru melakukan hal terparah yang tidak bisa Airin percayai.

                “Kai…?” Ucapnya tertahan, begitu menyadari Kai yang berada dalam kondisi mengenaskan. Pakaian yang terkoyak juga luka tubuhnya  sana-sini.  Secepat mungkin Airin berlari ke arahnya, namun sudah tentu Sehun menghalanginya. Sebuah konspirasi antar mereka, karena detik kemudian dia melihat Chanyeol dan Baekhyun di dekat Kai. Hanya yang tidak Airin mengerti, benarkah mereka setega ini?

                “Kau tidak seharusnya melakukan ini Sehun?” Ucapnya dengan nada sedih.

                “Bukankah sudah kubilang dari awal, kita saudara bukan berarti kita saling melindungi. Aku bisa saja melakukan hal lebih parah yang sebenarnya tidak ingin aku lakukan, dan itu semua adalah kar…-”

                “Tidak,” Airin memotong kata-katanya. Ia mendorong lengan Sehun kuat tapi nyatanya usahanya sia-sia. Sungguh, melihat Kai yang sudah separah itu benar-benar mengoyak hatinya. Sehun telah menemukan kelamahannya.

                 “Kumohon biarkan aku pergi.”

                “Chanyeol, bawa dia keluar!” Ucapan Sehun mengintrupsi agar keduanya lekas membawa Kai yang sudah tidak sadar keluar.

                Namun reaksi yang diberikan Airin justru diluar dugaan. Gadis itu mengamuk. Dia berteriak, mencakar Sehun, melempar apapun yang ditemukannya di hadapan orang itu. Semua rasa sakit, kecewa, marah berkumpul menjadi satu dan inilah puncaknya. Dia membenci vampir. Membenci Sehun yang dengan mudahnya memanfaatkan kelemahannya guna menuruti keinginannya semata.

                Dan apa yang dilakukan Sehun hanyalah membiarkannya. Menerima setiap perlakuan dari Airin. Dia sudah menunggu lama untuk itu, hingga keadaan menjadi seimbang. Sekitar tiga sampai empat kali lemparan kaca mengenai kulitnya dan membuat bekas lebam baru. Merasa capek, Airin menghentikan aksi gilanya dan memilih tertunduk pada sisi lemari, yang isinya pun belum dia lempar dihadapannya.

                “Akan kubunuh kau jika sesuatu terjadi padanya.” Ucapnya pedas. Dia serius untuk ini. Tak peduli apapun, pria ini sudah bertindak terlalu jauh. Merebut kemortalitasnya dan sekarang kebahagiannya.

                Sehun menunggunya untuk itu. Sampai keadaannya stabil, dia beranjak mendekat. Mengelus pelan puncak kepalanya, menawarkan perlindungan. “Kau boleh membunuhku jika keadaan memang sudah selesai.”

                “Harusnya kau tidak mengancamku.”

                “Aku memang tidak ingin.” Sehun hampir berteriak. “Lupakan. Aku menawarkan agar kau menerima posisi ini, kau akan bertambah kuat hingga mampu mengalahkan klan Magvetto dan mengembalikan keadaan seperti semula. Hanya saat itulah, kau bisa membunuhku Airin?”

                Sebisa mungkin Airin memaksakan agar dirinya tak tertarik dengan ucapan Sehun.

                “Lihat aku?” Dan Sehun mengangkat wajahnya perlahan. Padahal jelas-jelas Airin menolak. “Kau harus menyadari bahwa dirimu berbeda. Kau hidup untuk alasan ini.”

                Apa ini hanya bualan. Disaat  semua orang hidup untuk mengejar cita-cita mereka, mimpi mereka, Airin justru terjebak pada keadaan sedemikian rupa. Kemortalitasnya terengut pasrah. Seolah bahwa dialah satu-satunya makhluk yang paling menderita di muka bumi ini. Berkali-kali dia menggeleng. Sisi keras kepalanya kembali muncul. Entahlah ia jadi lebih mirip Sehun.

                “Pergilah!” Sehun bergeming. Tidak lagi melepaskan gadis itu untuk kedua kalinya.

                “Aku akan menunggumu.”

                Mengapa Airin berpikir bahwa Sehun begitu melankonis. Seolah ada yang pria itu sembunyikan dan tidak mengizinkannya dirinya tahu. Sejak dia melihat mata itu, -tatapan Sehun yang serasa lebih lembut dari biasanya. Bahkan Airin bisa merasakan api yang berkobar di tubuhnya saat Sehun menyentuh tangannya pelan.

                “Aku sudah menunggumu selama ini, bahkan aku tidak keberatan jika menunggumu lebih lama lagi…”

***

Well, gak mau komentar banyak2 tentang ini. Terima kasih gua ucapin yang masih setia baca, like+komen. Because your appreciation like oxygen for me. Gomawo ^_^

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] BLACK ENCHANTED (Chapter 8)

  1. Thor udh sebulan nee
    Tlng di update dong aku buka ff exo indo
    Untuk bisa baca ff ini
    Penasaran bgt kelanjutan nyaaa
    Ditunggu thor
    Semangattttt :))) 😀😀😁😁

  2. Wah tambah seru…
    Apa maksudnya sehun nunggu lama buat airin?? Apa airin renkarnasi dari masa lalu sehun??? Thor cpt update ya ditunggu seru bgt…

  3. Ahh berharap y airin sama sehun
    Tapi kenapa jadi sama kai
    Thor buat airin suka sama sehun dong
    Cepat y thor ditunggu 😀😀😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s