[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 11)

IMG_7057(1)(2).JPEG

Tittle/judul fanfic                    : Reason Why I Life

Author                                                : Park Rin

Length                                     : Chaptered

Genre                                      : Romance, Family, Angst

Rating                                      : PG-13

Main Cast&Additional Cast   : Baekhyun

Park Sung Rin (OC)

Mingyu Seventeen

All EXO’s Members

Ect.

Summary                                 : Terima kasih telah menemaniku dua tahun ini. Terima kasih karena kau selalu menggengam tanganku. Terima kasih karena kau selalu bersamaku. Terima kasih karena kau selalu mepercayaiku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, ku harap kita bisa seperti ini selamanya.

Disclaimer                               : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

Saat Rin hampir mengluarkan semua isi perutnya, mata Rin menangkap sesuatu yang janggal disana. Tangan Rin mulai gemetar, dengan cepat ia menghidupkan kran wastafel-nya. Setelah itu Rin dengan cepat megambil tisu di sebelahnya, ia mengusap bibirnya pelan sembil gemetar.

Mata Rin terbuka lebar saat melihat usapan tisu bekas bibirnya itu. Tangan dan kaki Rin terasa begitu dingin dan gemtar. Rin masih berusaha mencerna hal ia lihat saat ini. “Tidak mungkin. Kenapa bisa ada darah keluar dari perutku?” Tanya Rin dalam hati.

***

Disinilah Rin sekarang, duduk tak nyaman di hadapan orang yang mengenakan jas putih lengkap dengan stetoskop yang menggantung di lehernya. Sebenarnya Rin tidak suka jika harus mengunjugi tempat seperti ini, namun kejadian semalam memaksanya untuk datang ketempat mengerikan ini.

“Nona sudah lama sering mual muntah dan terkena gangguan pencernaan?” Tanya Dokter dihadapan Rin, setelah ia

“Sudah dua tahun terakhir, dok. Gangguan tersebut juga membuat saya muntah darah.” Jawab Rin .

“Sejak kapan nona mulai muntah darah?” Tanya dokter itu lagi sambil menulis di sebuah buku dihadapannya.

“Sejak kemarin dok, ini pertama kalinya saya muntah darah.” Kata Rin lagi.

“Silahkan tidur di meja periksa.” Dokter itu memerintahkan, Rin untuk tidur di meja periksa.

Rin melangkahkan kakinya kesana, kemudian menidurkan dirinya. Tak lama seorang suster datang, suster itu memeriksa tekanan darah Rin, nadi, suhu, dan pernafasan Rin. Setelah itu, dokter itu datang lengkap dengan stetoskop dan senter. Dokter tersebut kemudian memeriksa keadaan Rin.

“Kami akan melakukan beberapa tes untuk memastikan penyakit nona, apakah nona bersedia?” Tanya dokter itu lagi setelah selesai melakukan pemeriksaan; Rin hanya mengangguk.

Berbagai pemeriksaan laboratorium, Rin jalankan. Mulai dari pemeriksaan darah, urine, CT scan di bagian perutnya, dan gastroskopi. Kemudian, setelah selesai melakukan pemeriksaan, Rin datang kembali ke ruang dokter tersebut.

“Nona, apakah nona masih mempunyai keluarga disini?” Tanya dokter tersebut setelah selesai membaca hasil pemeriksaan labnya.

Rin menggeleng bohong, “Tidak ada, dok.” Ia tahu pasti ada yang benar-benar tidak beres dengan tubuhnya.

Rin menatap dokter itu dengan tatapan kosong setelah dokter laki-laki itu mengatakan diagnosis penyakitnya. Sungguh, Rin tidak menyangka jika penyakitnya akan menjadi separah ini. Dokter itu terus menjelaskan penyakit yang diderita Rin dengan sedetail mungkin, namun Rin hanya dapat mendengar dengingan halus dari telingannya. Rin kehilangan pikirannya untuk beberapa saat.

***

Kaki Rin berjalan di trotoar itu dengan langkah sempoyongan. Dirinya masih tidak percaya penyakitnya akan bisa sampai separah ini. Selama ini Rin hanya mengira ia mengalami maag kronis karena sering lupa makan.

Drrtt

Hp Rin bergetar, Rin tidak segera membuka ponselnya. Entah kenapa otak Rin serasa beku padahal musim dingin sudah berlalu. Ia merogoh saku jaketnya setelah tiga detik terdiam.

“Kau dimana? Katanya mau belajar, tapi kenapa tidak dirumah?” Pesan dari Baekhyun rupanya.

Tangan Rin gemetar saat mengetikan balasan pesan itu, Baekhyun tidak boleh mengetahui keadaannya saat ini. “Aku sedang diluar, kepalaku penat jadi aku memutuskan untuk mencari udara segar.” Balas Rin.

“Kau dimana? Sini aku susul.” Balas Baekhyun tidak sampai semenit.

Rin menggeleng, ia benar-benar tidak bisa menemui Baekhyun sekarang. “Pulang saja Baek, aku benar-benar sedang penat. Kau tidak latihan?”

“Kan aku sudah bilang aku libur hari ini, sayang. Aku ingin menemuimu sekarang. Kau kenapa, sih?” Jawab Baekhyun diseberang sana.

Mata Rin mulai memerah, disatu sisi dia ingin bercerita, tapi disisi lainnya mengatakan tidak boleh bercerita. Ia tidak ingin membuat kekasihnya khawatir, ia tidak boleh membebani kekasihnya lagi. Berita skandal kekasihnya yang dahulu benar-benar sudah membuat Baekhyunnya down ditambah keluarnya dua orang lagi anggota EXO, membuat Baekhyun sering stres. Ia tidak boleh membebaninya lagi kekasihnya dengan keadaannya.

“Aku tidak apa-apa, aku hanya sedang penat. Bisakah kau temui aku besok saja? Aku benar-benar tidak dalam mood yang baik.” Balas Rin kemudian.

“Hm… Baiklah. Aku tidak mengerti kenapa kau tiba-tiba berubah seperti ini. Tapi, kuharap kau baik-baik saja.” Jawab Baekhyun lagi membuat Rin berhasil menitikkan air matanya.

“Ku harap aku juga baik-baik saja.” Kata Rin dalam hati.Ia menangis ditengah keramaian jalan sore itu.

Rin melangkah masuk kembali ke apartemennya, melepas sepatunya asal kemudian segera berjalan ke kamarnya. Ia menaruh hasil pemeriksaannya di laci meja belajarnya yang paling bawah, kemudian melangkah keluar bersama obat yang ditentengnya menuju ruang makan. Obat-obatan itu segera ia taruh di lemari tempat ia biasa menyimpan obat. Kakinya kemudian berjalan Kearah kulkas, mengambil air dan menuangkannya ke cangkir putih dengan lambang hati tersebut, ia kemudian segera meneguk air dingin itu.

Rin menjatuhkan kepalanya di atas meja makannya setelah menyelesaikan minumnya. Pikirannya berputar-putar, memkirkan siapa saja yang boleh ia beritahukan dan siapa saja yang sebaiknya tidak boleh ia beritahukan, serta bagaimana ia menghabiskan kehidupannya beberapa bulan kedepan. Rin terus berpikir hingga matanya lelah, Rin segera memejamkan matanya setelah ia menemukan jawabannya.

Pagi itu Rin terbangun dengan leher yang terasa begitu pegal, matanya ia kerjap-kerjapkan segera setelah tubuhnya ingin bangun dari tidur tak nyamannya. Rin yang baru bangun tersebut segera menyandarkan tubuhnya di kursi meja makan tersebut. Setelah bangun dari tempat duduknya, Rin merasa perutnya mual. Ia segera berlari kearah kamar mandi dan segera memuntahkan isi perutnya yang tidak seberapa, ia juga melihat beberapa bercak darah ikut keluar bersama isi perutnya sama seperti kemarin, bedanya hari ini Rin sama sekali tidak kaget.

Rin mengelap bibirnya setelah selesai dengan acara muntah-muntahnya, ia kemudian mengambil beberapa obat yang kemarin ia taruh dilemari. Rin berusaha menormalkan kembali kehidupannya setelah kemarin sempat di gemparkan dengan penyakitnya.

Rin melirik ponselnya sekilas saat alunan lagu EXO-LIGHTSABER tiba-tiba memenuhi apartemennya. “Baekhyun oppa calling” Kata-kata itu tertera di ponselnya. Rin berusaha tersenyum

Ne oppa.” Kata Rin mengatur suaranya.

“Kau dimana?” Tanya Baekhyun terdengar risau, jelas saja dia risau. Rin tidak memberikannya kabar kemarin.

“Di rumah, oppa. Ada apa?” Jawab Rin tenang.

Ani, hanya ingin bertanya. Aku khawatir, kemarin kau terlihat begitu berbeda.” Jawab Baekhyun lagi.

Rin yang mendengarnya berusaha menahan tangisnya “Aku tidak apa-apa aku hanya tidak mood kemarin.”

“Benarkah? Kau beneran baik-baik saja?” Tanya Baekhyun lagi meyakinkan Rin.

Rin mengangguk meskipun ia tahu tidak mungkin Baekhyun melihatnya menangguk seperti itu. “Aku baik-baik saja.” Kata Rin berbohong.

“Baiklah aku lanjut syuting dulu.” Kata Baekhyun akhirnya.

“Oke.” Jawab Rin kemudian mematikan telepon.

Rin melanjutkan aktivitasnya, memasak sedikit makanan untuk sarapannya hari ini. Semangkuk nasi, telur gulung, miso sup, dan kimchi menjadi menu sarapannya hari ini. Rin menghabiskan makanannya dengan sedikit paksaan mengingat perutnya yang terasa tak nyaman saat makan. Seselai makan Rin segera meminum obatnya dan melangkahkan kakinya masuk kekamar, berjalan menuju meja belajarnya, ia membuka sedikit bukunya memulai belajarnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Mata Rin mulai lelah setelah tiga jam belajar, ia melirik jam kecil yang ada di atas meja belajar, sudah jam tiga sore. Rin beranjak bangun dari tempat duduknya, matanya tidak sengaja ia melihat kalender kecil yang berada di samping meja belajarnya. Rin baru ingat besok hari peringatan ke dua tahunnya bersama Baekhyun.

“Astga, kenapa aku bisa lupa.” Ucap Rin sambil menepuk darinya.

Kakinya segera melangkah ke kamar mandi setelah itu mengganti bajunya. Ia kemudian beranjak keluar setelah sebelumnya memakai sepatu dan jaketnya. Setelah itu Rin bergegas pergi menuju tempat yang ia tujuannya.

Toko pernak-pernik kecil yang ada di ujung jalan apartemennya adalah tempat tujuan Rin. Saat memasuki toko itu, seorang ahjuma segera menyambutnya dengan senyum keibuannya.

“Ah, Rin ingin mengambil barang ya?” Kata ahjuma itu sesaat setelah mereka bertatapan.

Rin mengangguk, “Ne ahjuma.”.

“Tunggu sebentar, ya.” Pesan ahjuma itu sebelum menghilang dibalik pintu kayunya.

Sembari menunggu ahjuma itu keluar membawakan barangnya, Rin melangkahka kakinya berputar-putar di leretan meja-meja yang berisi pernak-pernik lucu namun kuno. Gelang, cincin, kalung, hingga dream catcher tersedia di toko itu, namun dengan gaya yang sedikit kuno.

“Ini barangmu, Rin.” Kata ahjuma sambil memberikan kotak cokelat.

“Terima kasih ahjuma.” Jawab Rin tersenyum, kemudian membayar barangnya.

Kotak cokelat itu berisi sebuah jam cokelat antik dengan model yang kuno, namun masih terlihat mewah. Baekhyun memang menginginkan jam jenis tersebut saat Rin dan Baekhyun sedang berjalan-jalan di Buncheon tahun lalu, tapi Baekhyun tidak jadi membelinya karena keduluan oleh seseorang. Rin perlahan tersenyum geli saat mengingat keadaan Baekhyun yang mengetahui jam incarannya di ambil orang lain, mengerucutkan bibirnya lalu mengoceh tidak jelas khas anak kecil umur enam tahun yang tidak jadi dibelikan mobil-mobilan oleh orang tuanya.

Malam itu Rin tertidur dengan nyaman, usai meminum obatnya. Rin tidak mengetahui bahwa Baekhyun sedang berjalan mengendap-endap dengan beberapa kotak lilin dan mawar biru di kedua tangan cantiknya.

“Bagaimana aku menata ini semua?” Tanya Baekhyun pelan kepada dirinya sendiri, setelah menaruh tumpukan kotak lilin berwarna merah putih itu di atas sofa.

Baekhyun mengambil ponselnya, mencari gambar yang akan dia tiru untuk memngambar pola di lantai pintu depan kamar Rin. Tiba-tiba ponsel Baekhyun yang tadinya adem ayem berubah riuh saat Mingyu menteleponnya.

Wae?” Tanya Baekhyun jengkel. Ia hampir saja berteriak karena suara ponselnya sendiri.

“Kenapa kau marah, hyung?” Tanya balik Mingyu saat Baekhyun menjawab ponselnya dengan nada jengkel.

Baekhyun meniup poninya kasar, “Kau baru saja membuat kejutanku gagal Kim Mingyu! Kenapa kau tiba-tiba meneleponku dan membuatku kaget? Kau sengaja ingin membuat semuanya berantakan? Kau masih belum ikhlas adik angkatmu mencintaiku?” Celoteh Baekhyun panjang lebar, khas ibu-ibu pasar.

Ya! Hyung, jangan cerewet seperti itu. Aku ini bermaksud baik mau menghubungimu untuk bertanya, kau berhasil masuk tidak? Karena aku takut Rin mengubah password apartemennya. Jangan marah-marah begitu dong, aku sudah ikhlas kok adikku mencintaimu.” Jawab Mingyu pasrah.

“O, maaf-maaf aku kira kau mau menyuruhku keluar. Aku tidak jadi boleh mengapeli adikmu malam-malam.” Baekhyun hanya tersenyum-senyum malu.

“Ya sudah kalau begitu. Ingat ya hyung, aku memberikanmu izin kali ini, tapi setelah ini jangan harap ya. O iya, satu lagi awas hyung berani macam-macam dengan adikku.” Ancam Mingyu di seberang telepon sana.

Arra… arra… aku tidak akan macam-macam. Sudah ya aku tutup teleponnya, sibuk bicara dengan kakak overprotective sepertimu hanya membuat waktuku berkurang.” Kata Baekhyun sambil tersenyum geli.

“Biar saja aku overprotective hyung.” Cibir Mingyu.

“Hahaha… aku hanya bercanda, sudah ya aku tutup.” Baekhyun tertawa pelan.

Ne hyung.” Sahut Mingyu kemudian menutup teleponnya.

Baekhun hanya tersenyum geli saat telepon itu dimatikan, kemudian membuka kembali foto yang tadi. Ia kemudian menaruh ponselnya di atas lantai tak jauh dari pintu kamar Rin. tangannya mulai bekerja membuka bungkus-bungkus lilin kemudian menatanya sambil sesekali melirik foto tadi.

Tiga puluh menit menata, akhirnya lilin-lilin tersebut tertata rapi membentuk gambar hati dengan tulisan R & B 2rd anniv di tengahnya. Baekhyun tersenyum puas, kemudian merapikan sampah-sampah yang berserakan. Setelah bersih, Baekhyun menyalakan lilin-lilin tersebut.

Tok… Tok… Tok…

Setelah mengetok pintu kamar tersebut dengan cekatan Baekhyun merapikan bajunya dan mengeratkan pegangannya pada seikat bunga mawar biru tersebut. Baekhyu sekekali menghembuskan nafasnya saat menunggu pintu itu terbuka, dia gugup.

Di dalam Rin yang awalnya tertidur pulas, terganggu karena ketukan pintu kamarnya. Dengan Mata setengah terpenjam Rin berjalan menuju pintu kamarnya.

Nugu?” Tanya Rin dengan suara seraknya khas orang baru bangun tidur sambil membuka pintu kamar tidurnya itu.

Happy Anniversary Park Sung Rin!” Teriak Baekhyun setelah Rin membuka pintu kamarnya.

Mata Rin yang tadinya setengah terpeman berubah menjadi terbuka lebar saat matanya menemukan Baekhyun yang tengah berdiri diantara lilin yang hidup meremang. Senyuman Rin mulai mengembang saat laki-laki itu berjalan mendekat, sambil menyodorkan seikat bunga mawar biru favoritnya.

Gomawo oppa.” Ucap Rin sambil tersenyum meraih bunga mawar biru itu.

Saranghae, Rin.” Ucap tulus Baekhyun sambil menatap lekat kekasihnya dihadapannya.

Rin menatap Baekhyun sambil tersenyum, “Nado saranghae, oppa.” Jawab Rin.

Muka saling menatap dengan senyum tulus. Rin dan Baekhyun memejamkan mata mereka saat perlahan wajah mereka mulai mendekat. Bibir Rin dan Baekhyun kemudian bertemu, mereka berdua saling terpaut melampiaskan segala rasa cinta mereka.

Lima menit berciuman, Rin mendorong Baekhyun pelan, tubuhnya mulai kehabisan oksigen. Setelah melepas mereka saling berpandangan kembali, Baekhyun kemudian memeluk Rin hangat.

“Terima kasih telah menemaniku dua tahun ini. Terima kasih karena kau selalu menggengam tanganku. Terima kasih karena kau selalu bersamaku. Terima kasih karena kau selalu mepercayaiku. Aku tidak akan pernah melepaskanmu, ku harap kita bisa seperti ini selamanya.” Kata Baekhyun pelan, ia mengusap-usap rambut kekasihnya sayang.

Rin bukannya senang mendengar semua itu malah bersedih. Entah kenapa dadanya sesak saat Baekhyun mengatakan tidak akan pernah melepaskannya dan berharap mereka selalu seperti ini untuk selamanya. Air mata Rin mulai menetes, Baekhyun yang mengetahui kekasihnya menangis hanya mengeratkan pelukkannya. Baekhyun berpikir kekasihnya menangis karena terharu, padahal kekasihnya menangis karena ia takut tidak bisa mengabulkan keinginannya.

TBC

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 11)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s