[EXOFFI FREELANCE] The Sound of The Rain (Chapter 5)

picsart_02-28-10-06-17

 

The Sound of The Rain – Chapter 5

.

Author  : Whitecreamy

Main cast : Lee Shin Young/Rose ( OC ), Byun Baekhyun, Oh Sehun

Support cast : EXO members and ex members and others

Genre : Sad, Romance, Family and lil’bit action

Length : Multichapter

Rating : G-PG

Disclaimer : I only own the story

Poster by ByunHyunji @ Poster Channel

CHAPTER 5

You can call me monster

( Monster by EXO )

“Jadi, untuk apa pertemuan ini diadakan bila pada akhirnya keputusan mu tidak berubah, Baek…” ucap Kai menatap Baekhyun yang kini duduk di seberang meja sambil mengetukkan jemari nya di atas meja. Laki-laki itu bungkam. Menatap kosong ke arah jendela yang memperlihatkan betapa kelam nya malam ini.

Beberapa anggota Red Fox berserta para loyalis nya baru saja meninggalkan markas Baekhyun. Lelaki itu memang mengumpulkan beberapa anggota penting untuk membahas kerja sama yang ditawarkan Kris Wu.

“Baek…” panggil Kai lalu menegakkan tubuhnya.

“Aku hanya sedang menguji kesetiaan mereka padaku, Kai. Apakah mereka akan mendukung keputusan ku atau justru berpaling dariku demi segelintir keuntungan…”

Kai menyeringai,” Apa itu artinya kau juga sedang menguji kesetiaanku, Baek? Kau ragu padaku?”

“kKta sudah berkomitmen sejak awal bahwa kita tidak akan terlibat apapun yang berkaitan dengan narkoba,Kai.” Tegas Baekhyun yang kini menatap Kai dengan serius.

“Tapi kita bisa mendapatkan banyak keuntungan jika mengambil kerjasama dengan Tuan Wu ini. Kita bisa mengembangkan…”

“Apa itu artinya kau mulai melepas komitmen mu, Kai..” Baekhyun memotong ucapan Kai begitu saja. Tampak amarah dari raut wajah Baekhyun. Sedikit heran dengan pemikiran partner nya itu, bagaimana bisa dia berpikir untuk melanggar komitmen yang mereka bangun sejak awal. Tidak ada narkoba satu gram pun yang boleh mereka sentuh. Bisnis narkoba memang memberikan keuntungan berlimpah. Tapi, urusannya akan sangat panjang dan pelik kalau sampai berurusan dengan kepolisian. Lagipula dia tidak ingin merusak orang dengan barang laknat itu.

“Baek…” Kai baru akan mengutarakan pendapat nya saat tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka. Jaehyun muncul dengan terengah-engah.

“Apa yang terjadi?” tanya Baekhyun lalu berdiri dari tempatnya. Melihat ekspresi Jaehyun, sepertinya telah terjadi sesuatu diluar sana.

“Kita diserang !”

Dua kata itu berhasil membuat Baekhyun dan Kai saling berpandangan, dan tak lama kemudian mereka menghambur keluar dari ruangan itu. Melupakan perdebatan yang baru saja terjadi.

Jam dinding menunjukkan pukul satu dini hari, dan Oh Sehun sama sekali belum berniat untuk tidur. Sepasang mata nya masih menatap ke arah luar dari balik jendela dimana hujan rintik – rintik masih membasahi bumi malam itu. Laki – laki itu duduk di sebuah sofa yang berada tepat di hadapan jendela tersebut, terlihat merana. Efek perpisahan nya dengan Shin Young masih sangat terasa. Dan saat ini ia berada dalam keadaan terpuruk. Beruntungnya, meski sedang patah hati, Sehun bukan pria yang akan melampiaskan rasa sakit hatinya dengan pergi ke klab, menenggak alkohol dan berakhir mabuk. Laki-laki itu lebih suka merenung atau mencari teman untuk berbagi cerita.

“Apa kau ingin coklat panas, Hun?” suara kakak laki-laki nya terdengar dari arah pantry. Sehun tak langsung menjawab. Mungkin efek zat afetamin dalam coklat mampu memperbaiki suasana hatinya,

“Hem, boleh juga ,Hyung.” Jawab laki-laki itu kemudian.

Beberapa menit kemudian, bau harum coklat menguar hingga ke tempat Sehun berada. Laki-laki itu memejamkan matanya. Menikmati kelam nya malam dengan latar suara hujan juga bau coklat yang khas. Sekelebat memori masa lalu muncul, ketika pertama kali ia melihat seorang Lee Shin Young.

Hari itu, Sehun datang bersama orang tuanya ke festival seni yang diadakan sekolah adik nya, Oh Sena. Kebetulan, adik nya akan menjadi salah satu penampil dalam festival itu. Oh Sena memiliki bakat  di bidang seni seperti ibu nya. Gadis itu mahir menyanyi, menari sekaligus memainkan alat musik. Dan hari itu, adik Oh Sehun tersebut menampilkan sebuah lagu OST Disney Aladin yang berjudul A Whole New World. Gadis itu tidak tampil sendiri. Ia berduet dengan salah satu teman nya di klub musik.

Oh Sena tampil memukau dengan suara indah nya. Tapi, justru bukan itu yang menjadi fokus Sehun. Sepasang matanya tidak pergi dari sosok gadis yang menarikan jemarinya di atas grand piano mengiringi suara indah Oh Sena.

Seorang gadis dengan dress warna putih yang sangat simple. Rambut sebahu nya yang dibiarkan terurai menambah kesan cantik pada diri gadis itu. Tak hanya itu, Oh Sehun terpesona dengan cara gadis itu memainkan piano. Ia sudah sering melihat Oh Sena bermain piano dirumah, tapi permainan Oh Sena berbeda dengan gadis itu. Dia tampak begitu menjiwai permainannya. Begitu menyatu dengan setiap alunan melodi yang ia mainkan.

Sehun tersenyum mengingat saat pertama ia melihat Lee Shin young. Gadis yang kemudian mencuri seluruh hatinya. Mengikat nya dengan kuat, hingga Sehun tidak mampu untuk melepas ikatan itu.

“Namaku Lee Shin Young.” Ucap Shin Young memperkenalkan dirinya saat Sena membawa gadis itu bermain ke rumah nya.” Senang berkenalan dengan mu, Oppa.”

Gadis itu tidak tampak malu – malu ataupun gugup saat berkenalan dengan Sehun. Ia tampak biasa – biasa saja. Padahal selama ini, gadis yang berkenalan dengan Sehun selalu tampak malu, gugup dan ada juga yang mencari perhatian. Tapi gadis ini berbeda, dia tampak tenang dan seolah tidak mempedulikan fakta bahwa ia baru saja berkenalan dengan seorang mahasiswa kedokteran di Univesitas Seoul yang paling tampan dan cerdas. Perbedaan itu lah yang membuat Sehun tertarik dengan Shin Young, hingga akhirnya Sehun memutuskan untuk mendekati gadis itu. Dengan susah payah, Sehun memasuki kehidupan Shin Young – yang kata Oh Sena sangat susah didekati oleh lelaki manapun – saat ia berhasil menjadi laki-laki terdekat gadis itu, Oh Sehun memberanikan diri menyatakan perasaannya.

“Terimakasih karena oppa menyukaiku. Tapi maaf, aku belum memikirkan sebuah hubungan yang serius. Aku ingin fokus pada pendidikan ku, Oppa.” itu jawaban Shin Young. Juga pertama kalinya Sehun ditolak gadis itu.

Sehun tidak marah. Dia menghargai keputusan gadis itu, maka Sehun tetap menjaga kedekatan nya dengan gadis itu. Saat, kelulusan SMA, sehun mencoba peruntungan nya lagi. Kali itu, ia juga ditolak. Dan begitu seterusnya, hingga akhirnya Sehun memutuskan untuk fokus dengan pendidikan juga karirnya. Barangkali, saat suatu hari ia bertemu lagi dengan Shin Young, gadis itu akan berubah pikiran. Namun, beberapa jam yang lalu telah menjadi bukti bahwa ternyata… Lee Shin Young, tetap tidak mengubah perasaanya pada Sehun. Sehun tetaplah seorang kakak di mata Shin Young, tidak lebih dari itu.

Bunyi cangkir yang diletakkan di meja membangunkan Sehun dari kenangan masa lalu nya. Secangkir coklat panas tersaji dihadapannya.” Terimakasih, Hyung.”

“Jadi, apa masalah yang ingin kau bagi dengan ku,hm?”

“Aku ditolak lagi.” Jawab Sehun singkat lalu menyeruput coklat panas nya.

“Ditolak gadis yang sama?”

“Hm.” Sehun mengangguk lalu meletakkan cangkir nya kembali ke atas meja.

“Tidak perlu risau, Hun. Masih banyak gadis diluar sana yang menginginkan mu.”

“Ya, kau benar Hyung. Tapi masalah nya, aku tidak menginginkan mereka. Aku hanya ingin dia.” Ucap Sehun sambil memutar kepalanya ke arah kiri, menatap kakak nya yang duduk sambil memegangi tongkatnya. Laki-laki yang lebih tua 3 tahun dari nya itu hanya tersenyum.

“Tidak ada hal yang seperti itu di dunia ini, Hun. Kau bisa saja mengucapkan hal itu, karena sekarang kau sedang patah hati dan kau belum menerima kenyataan bahwa kau baru saja ditolak …lagi.”

“Hyung…”

Laki-laki itu lagi-lagi hanya tersenyum. Ia kemudian menepuk-nepuk bahu adik laki-laki nya tersebut.

“Cinta memang menyakitkan, Hun. Saat kau sudah memutuskan untuk mencintai seseorang, maka kau juga harus siap untuk tersakiti.” Sehun mendesah. Ia benar-benar kacau saat ini.

“Sesuatu yang berhubungan dengan perasaan memang sangat rumit, Hun. Hanya diri kita sendiri yang mampu memahami perasaan kita. Jika memang rasa nya sakit sekali, itu pun hanya dirimu yang mampu menyembuhkan nya.”

Sehun meneguk coklat panas nya lagi. Ia memandang lurus ke depan. Apa yang dikatakan oleh hyung nya memang benar. Rasa cinta dan sakit ini, hanya Sehun yang mampu memahami. Orang-orang di sisi nya hanya mampu menasihati dan memberi dukungan. Toh, nasihat pun hanya mudah diucapkan dan sulit untuk dilakukan.

“Pahami lah, seberapa dalam rasa cintamu padanya ,Hun. Juga pahamilah, seperih apa luka yang ditorehkan oleh dalam nya rasa cintamu itu. Lalu, putuskan. Apa kau akan bertahan pada cinta itu, atau melepas nya perlahan.”

Sehun terdiam. Ia mencoba meresapi kalimat tersebut. Seberapa dalam cinta Sehun pada Shin Young? Maka Sehun menjawab, sangat dalam. Sesakit apa luka karena cinta itu? Kali ini, Sehun tidak tahu jawaban yang tepat. Yang ia tahu, jauh di dasar hati nya, Sehun merasa ada ribuan duri yang tertancap begitu dalam.

“Mau menambah coklat panas lagi. Kebetulan, punya ku sudah habis.” Ucap kakak nya sambil berdiri perlahan dengan sebuah tongkat yang membantu nya menahan bobot tubuh saat berjalan.

“Tidak, hyung. Terimakasih.”

“Baiklah, aku akan ke dapur membuat secangkir lagi untukku.” Sehun mengangguk. Kakaknya mulai berjalan perlahan ke arah dapur. Sehun melihat dari tempat duduknya. Ia mengamati bagaimana kakak nya berjalan. Ia jadi teringat pada peristiwa kecelakaan di bulan Mei tahun 2016 lalu. Saat itu Sehun lah yang menolong si korban yang sekarang menjadi kakak nya tersebut.

Kecelakaan yang lebih tepat disebut tabrak lari tersebut telah membuat salah satu kaki kakak nya patah. Hingga saat ini, laki – laki itu harus menjalani perawatan secara intensif untuk memulihkan kondisi kaki nya. Dari peristiwa itulah, kedekatan Sehun dan laki – laki itu terjalin. Kedewasaan dan juga rasa tidak putus asa dari laki – laki itu membuat Sehun nyaman berada dekat nya. Hingga Sehun menganggap nya sebagai kakak laki – laki nya sendiri. Ya…pria itu memang bukan kakak kandung Sehun.

“Oh ya, Hun…kalau boleh aku tahu, siapa nama gadis itu, hm?” tanya kakak Sehun sambil mengaduk coklat di atas panci kecil.” Kau sering menceritakan tentang gadis mu itu padaku, tapi hingga sekarang aku tidak tahu namanya.” Laki – laki itu tersenyum kecil.

“Namanya Lee Shin Young, Hyung.” Jawab Sehun sambil menghabiskan coklat panas yang tersisa di cangkir nya.

Laki – laki itu menghentikan aktivitas nya mengaduk coklat. Ia memutar kepalanya ke arah Sehun berada.” Siapa, Hun?”

“Shin young. Lee Shin Young.” Tegas Sehun.

Lee Shin Young? Laki – laki itu tertegun. Sekelebat wajah seorang gadis hadir di pelupuk mata nya. Telinga nya tidak salah mendengar, kan?

“Ada apa, Hyung? Apa kau mengenal nya?” Sehun meletakkan cangkir nya di pantry. Ia menatap kakak nya yang masih tertegun di depan kompor listrik nya. Laki – laki itu tersenyum dengan gugup. Ia pun kembali mengaduk coklat panasnya.

“Tidak ada apa – apa, kok.” Jawab laki-laki itu.

Hujan baru saja berhenti. Menyisakan tanah yang basah dan air yang menggenang di beberapa tempat. Lee Shin Young menyeret kopernya menuju markas Red Fox. Sesekali ia mengusap air mata yang masih saja menetes. Padahal ber jam-jam sudah berlalu sejak dia menjadi wanita jahat yang menyakiti seorang pangeran baik seperti Sehun, rasa kepedihan itu masih terasa dengan jelas di hati kecil nya.

Memasuki wilayah kekuasaan Red Fox, Shin Young dibuat tercengang dengan keadaan disana yang tampak hancur berantakan. Yang lebih mengerikan, Shin Young pun melihat ceceran darah di beberapa tempat. Seketika nafas nya tercekat dan rasa takut mulai menjalari dirinya. Apa yang baru saja terjadi? Mungkinkah beberapa jam lalu terjadi pertarungan antar gangster disini? Lalu, kalau memang benar begitu, bagaimana dengan kakak nya?

Begitu mengingat kakak nya, Shin Young langsung mempercepat langkah kaki nya memasuki gang kecil yang merupakan satu – satunya akses menuju markas Red Fox. Shin Young tidak menjumpai satu orang pun saat berjalan menuju markas Red Fox. Mungkin pertarungan telah usai dan wilayah telah dibersihkan oleh anak buah kakak nya. Dalam hati, ia terus berharap semoga kakak nya baik – baik saja.

Langkah gadis itu terhenti tatkala ia melihat Baekhyun dan Kai berdiri di tengah lapangan dengan seorang laki – laki yang terbaring lemah. Baekhyun mendekat, dengan salah satu kaki nya Ia menekan dada laki – laki itu. Dia membungkukkan tubuh nya, berbicara sesuatu  yang tidak bisa Shin Young dengar pada laki – laki itu. Entah apa yang terjadi berikut nya, tapi ia melihat kakak nya yang tampak sangat marah, hingga ia mengeluarkan sebuah pistol dari saku celana nya. Pelatuk telah ditarik, Baekhyun siap menembakkan peluru nya pada laki – laki itu, namun suara Shin Young mendahului peluru itu menembus dada laki – laki yang terbaring itu.

“Jangan lakukan itu, Oppa !”

“Jadi, seperti ini ya caramu membalas dendam?” Baekhyun mendekat ke arah laki – laki yang terbaring dengan penuh luka di tubuhnya. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Laki – laki itu, Kim Namjoon – seorang ketua gangster kecil di Seoul yang disewa oleh lawan politik tuan Lee Kyung Hoon – merencanakan penyerangan ke markas nya yang berhasil digagalkan oleh Baekhyun dan juga anak buah nya. Rasa dendam karena Baekhyun berhasil mencuri flashdisk penting beberapa waktu lalu melatar belakangi penyerangan ini. Hanya saja, Red Fox tetaplah bukan tandingan bagi satu pun gangster manapun di Seoul.

Baekhyun membungkukkan tubuhnya. Dengan salah satu kaki nya, ia menekan dada Kim Namjoon. Membuat laki-laki itu merasa sesak hingga kesulitan mengambil oksigen.

“Aku memberimu dua pilihan.” Ucap Baekhyun.” Aku mengirim mu ke neraka sekarang atau kau menjadi anjing yang setia pada tuannya. Mana yang akan kau pilih?”

Baekhyun tertawa miring. Dia menanti jawaban dari Kim Namjoon. Sayangnya, jawaban yang diberikan pria itu, membuat amarah Baekhyun memuncak hingga ke ubun – ubun. Pria itu tidak memilih satupun dari kedua pilihan yang Baekhyun berikan. Justru sebuah ludahan yang tepat mengena di wajah Baekhyun menjadi jawaban. Seketika, Baekhyun langsung menarik pistol dari saku celananya. Dengan cepat laki-laki itu menarik pelatuk nya, peluru telah siap bersarang di dada Sang musuh. Tapi sebuah suara berhasil menghentikan pergerakan Baekhyun.

“Jangan lakukan itu, Oppa !” Baekhyun melihat ke arah sumber suara. Dia mendapati si gadis gila dan keras kepala itu berdiri tak jauh dari tempatnya. Baekhyun yakin, gadis itu telah berada di sana cukup lam dan telah menyaksikan semua yang terjadi.

Baekhyun menyeringai. Entah mengapa Baekhyun merasa sangat senang dengan kehadiran gadis itu. Karena dia merasa ini adalah saat yang tepat untuk menunjukkan siapa dirinya yang sesungguhnya pada gadis itu. Maka, tanpa mempedulikan larangan Shin Young, Baekhyun kembali menarik pelatuk nya lebih dalam.

Tak lama kemudian, suara desingan peluru terdengar. Memecah keheningan malam itu. Dua orang ambruk ke tanah secara bersamaaan dengan posisi saling menindih. Mereka adalah Baekhyun dan Shin Young. Keadaan pun berubah sangat hening untuk beberapa saat, hingga Baekhyun merasa ada yang aneh dengan situasi ini. Laki – laki itu membuka mata dan mendapati seorang perempuan berada di atas tubuh nya. Dengan cepat, Baekhyun menyingkirkan tubuh perempuan itu yang tak lain adalah Shin Young.

Baekhyun menatap wajah gadis itu. Terlihat sedikit senyuman kelegaan disana. Baekhyun mendekatkan tubuhnya ke arah gadis itu, ia menaruh jari telunjuk nya tepat di depan lubang hidung nya. Dia masih bernafas. Itu artinya gadis ini masih hidup. Tak hanya itu ,Baekhyun juga meneliti sekujur tubuh gadis itu, tidak ada tanda – tanda luka yang disebabkan tembakan. Jadi, peluru yang Baekhyun lesakkan tadi menembus tubuh siapa?? Karena seingat Baekhyun, saat ia melepas pelatuk nya, tiba – tiba ia merasakan tubuhnya yang terdorong hingga jatuh ke tanah. Membuat peluru nya lepas dari target nya yang tak lain adalah Kim Namjoon. Ia pun mengira, mungkin peluru itu kini bersarang pada tubuh gadis itu. Tapi saat melihat kondisi nya yang terlihat baik, membuat Baekhyun bertanya – tanya. Dimana Kim Namjoon sekarang?

Baekhyun kemudian mengedarkan pandangannya ke sekitarnya, Kim Namjoon sudah tidak ada di tempat semula. Begitu pula Kai. Mungkin kah, Kai telah membawa musuh nya itu pergi lalu menghabisi nya di suatu tempat? Baekhyun mengenyahkan pikiran itu. Pria itu lantas melihat ke arah Shin Young yang kini telah berada dalam posisi duduk.

“Kau tidak membunuhnya kan, Oppa?” tanya Shin Young yang juga mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Mencari tubuh Kim Namjoon yang tadi tergeletak di tanah.

“Entah lah. Kalaupun dia tidak mati di tangan ku, mungkin dia sudah mati di tangan Kai sekarang.” Jawab Baekhyun dengan santai. Dia yakin sekali saat ini pasti Kim Namjoon sedang berada di tangan Kai.

“Apakah membunuh seseorang sudah menjadi kebiasaan bagimu, Oppa?” tanya Shin Young sembari berdiri. Dengan nanar ia memandang kakak nya yang berdiri kurang dari satu meter dengannya.

“Mengapa kau menanyakan hal itu, hm? Kau takut bila aku juga akan membunuh mu?” Baekhyun mendekat. Dengan tatapan tajam yang menusuk ia memandang Lee Shin Young.

“Tidak. Aku tidak takut sama sekali, Oppa.” jawaban Shin Young tersebut menuai tawa dari pria itu. Sebuah jawaban yang konyol dan naïf sekali.

“Kau sudah melihat semuanya, Lee Shin Young. Masihkah kau percaya bahwa aku ini kakak mu?”

Shin young mengangguk pelan. Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya. Gadis ini bodoh? Idiot? Atau apa sih?

“Aku ini seorang monster, Lee Shin Young. Aku bisa melakukan hal – hal diluar perkiraan mu. Dan apa kau mau menjadi adik dari seorang monster?” Lee Shin Young tidak langsung menjawab pertanyaan Baekhyun. Gadis itu hanya bisa memandang lekat – lekat ke arah kakak nya. Shin Young akui, kakak nya memang sangat berbeda dari yang dia kenal. Wajah yang dulu memancarkan kedewasaan dan kasih sayang itu kini telah hilang. Jujur, Shin Young sangat sedih saat menyadari fakta itu. Apalagi saat melihat peristiwa yang baru saja terjadi, membuat Shin Young merasa telah kehilangan sosok kakak nya. Tidak ada lagi Baekhyun oppa yang penuh kasih, sosok itu kini telah berganti menjadi seseorang yang penuh kebengisan.

Tapi saat melihat wajah itu, menyelami kedua manik mata nya, membuat Shin Young masih percaya bahwa jauh disana, kakak yang dulu dia kenal itu masih ada. Kakak nya hanya sedang diselimuti kabut tebal, yang membuat nya tidak bisa melihat cahaya. Maka, Shin Young bertekad menjadi cahaya yang menuntun kakak nya keluar dari kabut tebal.

“Kau harus tahu mengapa aku tetap bertahan dan bersikeras bahwa kau adalah kakak ku.” Shin Young menelan ludah kemudian menarik nafas nya dalam – dalam, lalu menghembuskannya perlahan.” Matamu memancarkan semua nya ,Oppa. Rasa sakit dan kesepian yang kau rasakan selama ini, semuanya tergambar jelas di dalam matamu.”

“Jangan bicara seolah kau mengenal siapa aku!” hardik Baekhyun dengan mata yang mengarah tajam pada Shin Young.

“Malam ini, mungkin kau seorang monster. Tapi tidak ada yang tahu, saat matahari terbit nanti apakah kau masih tetap monster atau tidak. Karena itulah aku disini, Oppa. Karena aku tidak tahu apa yang terjadi besok, bisa saja besok kau telah mengingat ku. Mengingat adik mu ini, Oppa.” Shin Young tidak bisa membendung air mata nya lagi. Maka, ia pun membiarkan air matanya mengalir lagi malam ini.

“Kau benar, tidak ada yang tahu apa yang terjadi besok. Mungkin saja, besok pagi kau berada di pelukan ku dengan pisau tertancap di dadamu.” Ucap Baekhyun dengan nada penuh kebengisan.

“Jika memang kau akan melakukan itu padaku, maka lakukan lah, oppa. Aku tidak takut!”

Sifat keras kepala gadis itulah yang paling Baekhyun tidak suka. Sejauh, Baekhyun mengenal perempuan, Lee Shin Young adalah yang paling susah ditangani.

“Sombong, percaya diri, keras kepala, bodoh,dan juga gila.” Baekhyun berhenti sejenak. Ia menatap Shin Young dari atas ke bawah, lalu menyeringai. Namun sedetik kemudian, laki-laki itu terlihat sangat marah. Dia mengepalkan kedua tangannya. “ Kau membuatku gila, Lee Shin Young !!” teriak Baekhyun frustasi.

Bukannya menjauh, Shin Young justru mendekat. Tanpa ragu, ia menarik Baekhyun masuk ke dalam pelukannya.

“Karena itu, biarkan aku berada di sisi mu, Oppa!” teriak Shin Young.” Aku tidak peduli bila di balik punggung mu tersimpan pisau atau apapun yang bisa melukai ku. Sekalipun kau adalah seorang monster pembunuh, kau tetap kakakku. Dan aku tetap akan disampingmu, Oppa.” Shin Young mencengkeram baju Baekhyun dengan kuat, tangis nya sudah tidak bisa diredam lagi.

Tak satu patah katapun terucap dari bibir Baekhyun. Wajah pria itu mengeras dan tangannya terkepal erat. Menahan gejolak amarah yang memunak. Kemudian, Baekhyun melepas pelukan Shin Young.

“Oppa…” lirih Shin Young sambil memandang Baekhyun yang mulai melangkah menjauh dari nya.

“Aku bukan oppa mu !” Desis Baekhyun lantas pergi begitu saja dari tempat itu.

Di sebuah rumah bergaya minimalis yang berdiri kokoh di atas tanah perbukitan itu, Baekhyun berada saat ini. Tidak sendiri, seseorang menemani nya yaitu Lay. Di sebuah ruangan bernuansa putih abu – abu yang dilengkapi dengan beberapa peralatan medis itu, Baekhyun duduk di sebuah kursi yang menghadap langsung ke arah jendela besar  tanpa tirai yang memperlihatkan gelap nya malam itu.

Lay berdiri di belakang Baekhyun, tubuh nya sedikit menunduk. Sementara kedua tangan nya sibuk memeriksa kepala Baekhyun.

“Bekas luka mu terbuka lagi, Baek…” ucap Lay saat menemukan bekas jahitan luka Baekhyun yang terjadi akibat kecelakaan motor yang dialami nya pada Mei 2016 lalu. Baekhyun mendengar perkataan Lay, tapi pria itu memutuskan untuk diam. Pikirannya sedang kacau balau.

“Aku perlu menjahit nya lagi…” Lay kemudian mengambil peralatan medis nya. Dengan cekatan ia mulai menjahit kembali bekas luka di kepala Baekhyun tersebut. Kedua mata nya fokus pada luka yang tidak kecil tersebut. Mei 2016 lalu, baekhyun mengalami kecelakaan motor saat menghindari seorang pejalan kaki yang hendak menyeberang. Saat itu hujan turun cukup deras, Baekhyun dan motor nya tergelincir hingga menabrak trotoar. Helm Baekhyun terlepas, kepalanya membentur badan trotoar.

“Apa yang harus aku lakukan, hyung?” tanya Baekhyun dengan mata yang melihat lurus ke depan dan tanpa terlihat kesakitan sama sekali saat Lay menusukan jarum nya ke kulit kepala Baekhyun.

“Maksudmu?” Lay balik bertanya tanpa mengalihkan fokus dari kegiatannya yang membutuhkan tingkat konsentrasi tinggi tersebut.

“Maksudku, apa yang harus aku lakukan pada gadis itu?”

“Oh, maksudmu Lee Shin Young itu?” Baekhyun mengangguk sekali.” Biarkan saja dia berada disini.”

“Maksudmu, membiarkan dia berada di sisi ku begitu?!”

“Hem.”

“Kau ingin melihatku masuk rumah sakit jiwa atau bahkan mati bunuh diri,ya hyung?”

“Hei, bukan itu maksudku. Tahan dulu emosi mu, Baek.” Lay berhenti sejanak.” Dengarkan dulu penjelasan ku.”

Baekhyun pun mengalah. Ia memilih diam dan mendengarkan penjelasan the healer.” Lee Shin Young itu gadis yang baik, saat aku bicara dengannya aku tidak melihat sesuatu yang buruk dari dirinya. Dia juga terlihat terhormat, tidak seperti gadis – gadis yang selama ini mendekati mu. Ku rasa, dia cukup cantik. Kau tidak tertarik padanya, hm?” goda Lay yang membuat Baekhyun bertambah sebal.

“Hyung, aku sedang tidak bercanda dengan mu.” Lay terkekeh mendengar kalimat Baekhyun tersebut. pria china itu memang sedang tidak bercanda.

“Lagipula, mengapa kau membencinya, Baek?”

“Bagaimana aku tidak membenci nya, hyung? Dia datang tiba – tiba dan merusak semua tatanan kehidupan ku yang normal ini. Dia membuat ku gila dengan semua tingkah laku nya yang menganggap aku adalah kakak nya.”

“Ehm, ya aku mengerti. Hanya saja, saat melihat kesungguhan nya mengatakan bahwa kau kakak nya, membuat ku bertanya tanya. Kau… benar – benar tidak memiliki adik, Baek?”

“Apa aku perlu menembak diri ku sendiri agar kau percaya hyung?”

“Hehehe…” Lay kembali terkekeh. Satu rumus saat menghadapi Baekhyun, jangan mudah terseret arus emosi nya yang sering meledak itu. Tanggapi saja dengan santai tapi juga serius.” Aku percaya padamu, Baek. Tenang saja, tidak perlu khawatir.”

Lay telah selesai menjahit bekas luka Baekhyun. Ia kemudian membersihkan alat – alat nya lalu menyimpannya kembali. Ia lantas mengambil sebuah kursi kemudian duduk di sebelah Baekhyun.

“Apa yang paling membuat mu membenci gadis itu ,Baek?” tanya Lay dengan nada serius.

“Aku benci semua hal tentang nya, Hyung. Aku benci caranya menatap ku, caranya memanggilku oppa. Dia selalu bicara seolah dia tahu banyak tentang diriku. Begitu percaya diri bahwa aku pasti mengingatnya.” Baekhyun tertawa kecil.” Aku mengingat semua masa lalu ku dengan baik ,hyung.  Tentang diriku, tentang keluarga ku juga tragedy itu. Aku mengingat semua nya dengan baik. Dan dalam ingatan itu sama sekali tidak ada seorang gadis bernama Lee Shin Young yang merupakan adikku.”

Lay mengangguk paham. Ya, Baekhyun tidak amnesia ,bahkan setelah benturan yang terjadi saat kecelakan itu. Sebagai seorang dokter, ia telah melihat hasil CT SCAN Baekhyun juga memastikan sendiri bahwa mitra nya itu tidak hilang ingatan. Baekhyun tidak amnesia. Lay diam merenung. Dia lalu beranjak dari kursinya, berjalan menuju sisi jendela.

Semburat oranye terlihat dari balik jendela ini yang memang menghadap ke ufuk timur. Fajar telah tiba.

“Aku rasa, ada hal lain yang membuat mu sangat membenci gadis itu.” Lay berucap tanpa mengalihkan kedua netranya dari cahaya fajar yang kini perlahan mulai naik. Di kursi nya, Baekhyun tercenung. Ya, selain hal yang ia sebutkan tadi, memang ada hal lain yang membuat nya membenci gadis itu. Baekhyun pun menyusul Lay yang kini sudah berada di balkon.

Angin pagi mulai berhembus membelai tubuh dua pria itu. Lay dan Baekhyun sama – sama menumpukan tubuh bagian depan mereka ke ring balkon.

“Dia mengingatkan ku pada diriku sendiri, Hyung.” Ujar Baekhyun dengan mata terpejam merasakan angin segar yang membelai wajahnya. Lay yang berdiri disisinya diam menanti Baekhyun melanjutkan perkataannya,

“Bahwa dulu aku juga seorang adik yang memiliki kakak yang sangat menyayangiku.” lanjut Baekhyun dengan suara bergetar. Lay tersenyum mendengarnya. Inilah yang sebenarnya Lay tunggu sejak tadi. Pengakuan dari Baekhyun.

“Apa yang harus aku lakukan, Hyung?” suara Baekhyun kembali terdengar. Lay melayangkan tangannya ke pundak Baekhyun. Ia menepuk – nepuk pundak sahabatnya itu, lalu berkata,

“Biarkan dia tinggal di sisi mu ,Baek. Dengan begitu, dia akan mengetahui dengan sendirinya bahwa kau bukan kakak nya.” Dua laki – laki itu saling memandang.

“Haruskah?” tanya Baekhyun dengan nada lemah. Ugh, Baekhyun benci menjadi lemah seperti ini apalagi karena seorang wanita.

“Harus, Baek. Hanya itu satu-satu nya cara.” Jawab Lay dengan yakin. Kedua pria itu lantas kembali melihat ke timur, dimana semburat oranye itu telah naik cukup tinggi. Matahari telah terbit. Sinarnya menghangatkan setiap makhluk yang ada di bumi. Dan Baekhyun sangat menyukai matahari terbit, karena setiap kali melihat dan merasakan sinar nya Baekhyun selalu mendapatkan keyakinan baru.

Seperti saat ini, pria itu telah memutuskan untuk mengikuti nasihat Lay. Seribu kali Ia mengatakan pada Lee Shin Young bahwa dia bukan kakak nya, akan sangat percuma karena gadis itu terlampau keras kepala.

Matahari terlah terbit cukup tinggi, sinarnya masuk ke celah – celah jendela sebuah kamar kecil yang ditempati shin young. Dia berdiri di dekat jendela, mengamati apa yang tengah terjadi di bawah sana. Ia melihat anak buah Baekhyun bergerak cepat membereskan kekacauan yang semalam terjadi. Mereka menata ulang semua nya, hingga seolah terlihat tidak pernah terjadi pertempuran. Sejauh mata memandang, Shin Young tidak menemukan sosok kakak nya sama sekali.

Laki – laki itu pergi begitu saja usai percakapan terakhir nya dengan Shin Young. Membuat Shin Young bertanya – tanya dimana kakak nya berada saat ini. ia ingin bertanya pada Kai, tapi laki-laki itu pun juga tidak nampak.

Shin Young memutar tubuh nya saat ia mendengar derit pintu yang terbuka. Kai berdiri di ambang pintu. Baik Kai maupun Shin Young sama – sama meluncurkan tatapan tidak suka. Bagi seorang Kim Kai, Shin Young tak lebih dari sekedar  tanaman parasit yang merugikan induk nya. Sedangkan, bagi Shin Young laki – laki berkulit tan itu adalah penghalang utama kedekatannya dengan Baekhyun oppa. kesimpulannya, mereka tidak saling menyukai.

“Baekhyun ingin bertemu dengan mu.” Ujar Kai datar dan terkesan malas bicara dengan gadis itu.

“Kau tahu dimana kakak ku sekarang?” tanya Shin Young antusias.

“Kemasi koper mu sekarang. Aku menunggu mu dibawah.” Kai pergi begitu saja. Tanpa mau membuang waktu, Shin Young langsung mengambil kopernya. Ia berjalan sedikit cepat sambil menyeret koper nya. Mengerjar langkah lebar Kai.

Mobil yang membawa Shin Young berhenti di depan sebuah rumah bergaya minimalis yang berdiri kokoh di atas sebuah bukit indah dengan pemandangan pepohonan hijau. Shin Young bertanya – tanya di dalam hati, apakah ini masih di Seoul. Karena tempat ini benar – benar indah. Gadis itu berhenti mengagumi keindahan alam yang tersaji, tatkala mobil kembali berjalan melewati gerbang kemudian berhenti di halaman depan yang luas dari rumah yang didominasi dengan kaca itu.

Kai langsung turun begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pada Shin Young. Membuat gadis itu mendengus sebal dengan sikap Kai yang terlampau dingin. Apa dia juga seperti itu pada semua gadis? Huh, menyebalkan !

Usai turun dari mobil, Shin Young mengikuti langkah Kai memasuki rumah itu, laki-laki itu berhenti di sisi kiri pintu lalu melakukan finger print. Beberapa detik kemudian pintu terbuka, buru-buru Shin Young menyusul Kai. Laki-laki itu benar – benar memperlakukan Shin Young dengan dingin. Lay menyambut kedatangan Kai dan juga Shin Young. Pria itu muncul dari sebuah ruangan yang seperti nya dapur. Ia memakai apron cantik berwarna biru dengan motif bunga daisy,

“Hai, Lee Shin Young…” sapa Lay dengan ramah. Ia menyunggingkan senyum serta lesung pipi nya yang membuat nya terlihat manis.

“Lay ge… kau ada disini?” tanya Shin Young dengan senyum yang terukir di wajah nya. Ia senang bertemu dengan Lay, karena pria itu baik dan menghargai wanita. Tidak seperti pria yang kini duduk di salah satu sofa dengan santai nya itu, Kim Kai.

“Hem, Baekhyun meminta ku kesini semalam.” Mendengar kalimat itu Shin Young mendesah lega. Itu artinya kakak nya ada disini bersama orang yang tepat.

“Baekhyun ingin bertemu dengan mu. Sepertinya ada yang ingin dia bicarakan dengan mu.” Ungkap Lay sambil melirik ke arah tangga menuju lantai atas.” Naiklah.” Lanjut Lay kemudian.

Shin Young mengangguk. Ia pun segera melangkah kan kaki nya. Satu persatu ia meniti tangga tersebut. Begitu sampai di lantai dua, ia disambut dengan sebuah ruangan luas dimana terdapat sebuah grand piano berwarna hitam yang terletak tepat di tengah ruangan. Shin Young mengayunkan kaki nya perlahan menuju grand piano tersebut. Ia membelai alat musik yang banyak digemari orang tersebut. Ia mengulaskan senyum tatkala sekelebat kenangan masa kecil hadir. Apalagi kalau bukan kenangan bermain piano dengan kakak nya.

Shin young terus melangkah, hingga ia menemukan siluet seorang laki – laki yang berdiri di balkon dengan posisi menghadap ke depan tepat dimana sebuah pemandangan rumput dan pohon pohon hijau tersaji memanjakan mata. Shin young terpesona melihat pemandangan itu, namun ia lebih terpesona lagi saat sosok laki-laki itu berbalik.

Beberapa detik Shin Young habiskan untuk mengagumi sosok itu. Siapa lagi kalau bukan Baekhyun oppa. Dia tampil begitu segar pagi ini. Dengan kaos putih polos dan celana pendek selutut serta rambut coklat madu yang tampak cocok dengan wajah bersih kakak nya, Sang oppa terlihat sangat tampan dan maskulin. Jauh dari kesan seorang ketua gangster. Meski terdapat perban di kepalanya, tapi tetap tidak mengurangi ketampanan oppa nya pagi ini. Shin Young tiba-tiba jadi salah tingkah. Dan hei, apa – apaan dengan debaran jantung nya yang menggila ini !? Tidak ! Jantung nya tidak boleh berdebar seperti ini. Itu Baekhyun oppa. Oppa, Lee Shin Young.

“Kemarilah, ada yang ingin aku katakan padamu.” Baekhyun memecah kesunyian yang sempat tercipta karena Shin Young yang malah terpesona oleh kakak nya sendiri. Gadis itu pun mendekat. dan mengamibl tempat berdiri tidak terlalu jauh dari kakak nya. Keheningan kembali tercipta. Baekhyun bingung harus memulai dari mana.

“Maafkan aku.” Shin young membuka suara.” Aku tahu kalau semalam aku berlebihan padamu. Aku benar-benar minta maaf.”

Baekhyun bungkam. Sunyi kembali. Baekhyun masih belum menemukan kata yang tepat untuk memulai.

“Jadi, apa yang ingin oppa katakan pada ku?” tanya Shin Young. Ia melihat ke arah dimana kakak nya berdiri sekarang.” Kau tidak akan mengusirku kan?”

“Tidak.” Jawab Baekhyun singkat. Shin Young mengangguk bersyukur.

“Aku justru ingin mengatakan padamu bahwa kau…” Baekhyun memotong ucapannya sendiri. Ia masih sedikit belum yakin untuk mengatakannya, tapi toh akhirnya ia melanjutkannya meski harus menarik nafas dalam – dalam terlebih dulu.

“Kau boleh tinggal disini.” Ucap Baekhyun dengan cepat.

“Apa?” Shin Young tidak salah dengar kan?

“Kau boleh tinggal disisiku. Tinggal di rumah ini bersama ku.”

Shin young ternganga tidak percaya. Oppa nya mengijinkan nya untuk tinggal disini bersama nya? Wow, ini luar biasa ! Shin young sangat bersyukur akhirnya pintu hati kakak nya terbuka juga.

“Benarkah, apa yang kau katakan itu oppa?”

Baekhyun mengangguk. Ia mendapati sebuah ekspresi penuh kebahagiaan di wajah adik nya tersebut. sebuah senyum yang sangat lebar gadis itu tunjukkan di hadapan Baekhyun, membuat pria itu membuang muka dengan cepat. Melihat senyuman gadis itu, membuat Baekhyun sedikit merasa canggung. Sebuah pelukan mendarat di tubuh Baekhyun. Dan lagi-lagi, dia merasa kan ke aneh an pada tubuh nya. Ini bukan pertama kali nya ia dipeluk wanita, hanya saja…ini rasanya berbeda. Baekhyun ingin melepas pelukan ini, tapi ia tak kuasa.

“Terima kasih, Oppa.” Lee Shin Young mempererat pelukannya. Membuat Baekhyun merasa semakin awkward  dan akhirnya berhasil melepas paksa pelukan itu. Tidak baik jika terus – terusan dipeluk Lee Shin Young. Baekhyun tidak suka.

“Oh ya oppa, aku punya sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu. Jadi tetaplah disini, aku akan turun mengambil benda itu, ok?” ujar gadis itu dengan nada yang sangat ceria. Ia pun bergegas turun. Baekhyun menatap kepergian gadis itu dengan heran. Sebahagia itu kah dia bisa tinggal bersama Baekhyun?

Tak butuh waktu lama bagi gadis itu kembali ke atas. Ia membawa sesuatu berbentuk persegi,” Oppa, kemarilah.” Shin young melambaikan tangannya memberi kode pada Baekhyun untuk mendekat. Dengan langkah ragu, Baekhyun pun menghampiri nya.

“Lihatlah…” Shin Young menyerahkan sebuah benda yang merupakan sebuah frame warna merah marun, dimana terdapat foto dua orang dengan latar belakang istana di negeri dongeng. Lee shin young yang berpose se imut mungkin, sementara seorang laki – laki di samping nya yang memakai bando mini mouse di kepalanya.

”Itu foto kita berdua saat mengunjungi Disney Land. Saat itu, aku berada di tahun pertama  SMP. Karena aku berhasil mendapat peringkat pertama, kau mengajakku pergi ke Disney Land dengan uang tabungan yang kau hasil kan dari kerja paruh waktu mu di sebuah tempat les piano. Oppa, terlihat manis sekali dengan bando mini mouse itu.” Lanjut Shin Young diselingi tawa kecil saat mengingat masa itu.

Baekhyun diam. Ia tidak sepenuhnya mendengarkan perkataan Lee Shin Young. Ia fokus mengamati sosok laki-laki yang ada di foto itu. Laki – laki yang memiliki wajah mirip dirinya. Baekhyun mengenal laki-laki itu. Garis wajah nya, dan caranya tersenyum. Tidak salah lagi. Orang itu pasti dia. Baekhyun hanya mampu tertegun saat menyadari pemmkirannya sendiri.

Dia masih hidup.

To be continue…

 

 

 

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The Sound of The Rain (Chapter 5)

  1. Kakak Sehun pasti sebenernya kakak kandung Shin Young. Dan kok aku malah pengen Shin Young sama Sehun aja? Ya meskipun pasti deh Shin Young akhirnya sama Baek.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s