[EXOFFI Facebook] The Survivor (Chapter 1)

16790456_1334316616627869_302072239_n

 

The Survivor

Author : Oxeooh

Genre : Action, Horror, Adventure, Drama, Romance, Family.

Rating : M [Untuk adegan kekerasan dan beberapa kata-kata kasar.]

Main casts :

  1. Oh Sehun
  2. Wu Shixun [Sehun’s twin]
  3. Jung Soojung
  4. Choi Suli
  5. Kim Jongin
  6. Bae Joohyun as Oh Joohyun
  7. Find Your Self.

.

Soojung POV

Selanjutnya, kami berhenti di tempat tinggal Jongin dan Sulli. Jongin tinggal disebuah apartment tak jauh dari rumahku dan rumah Oh bersaudara sehingga kami memutuskan untuk berhenti ditempatnya terlebih dahulu. Kekacauan juga terjadi disana. Shixun meminta kami semua tetap berada dimobil sementara dia akan menemani Jongin ke apartmentnya.

“Aku bukan anak kecil, bung. Berikan saja aku salah satu senjatamu, aku akan pergi sendiri.” kata Jongin.

“Jangan banyak bicara, hitam. Cepat masuk dan ambil barang-barangmu atau kutinggal kau disini.” balas Shixun mutlak. Aku kenal pemuda itu sejak kecil. Dia kelewat keras kepala untuk mendengarkan orang lain. Namun aku setuju dengannya kali ini. Tidak bagus pergi seorang diri ditengah kekacauan ini.

Jongin mendengus tak suka namun tetap mengikuti perintah Shixun.

“Tetap dimobil. Dan jangan bukakan pintu mobil untuk orang lain selain kami, paham?” Aku melihat Shixun berpesan kepada saudara kembarnya, Sehun. Sehun hanya mengangguk patuh lalu masuk kembali ke mobilnya setelah menyuruhku dan Joohyun untuk mengunci pintu mobil apapun yang terjadi. Joohyun terlihat tidak begitu suka ketika diperintah oleh adiknya itu―namun ia tetap melakukannya.

Seseorang menggedor-gedor pintu mobil kami untuk meminta pertolongan. Darah berceceran ditubuh orang itu membuatku tidak tega untuk mengabaikannya. Aku hendak membuka pintu mobil namun tangan Joohyun menahanku.

“Jangan.” Joohyun menatapku tajam. “Kau dengar apa kata Sehun tadi.”

Aku mendengus kesal. “Tapi dia terluka, eon. Kau tak bisa―”

Perkataanku terhenti ketika sebuah suara debuman cukup keras terdengar disampingku. Orang yang tadi menggedor pintu mobil kami baru saja diserang oleh mahluk yang Jongin sebut zombie. Lalu, zombie-zombie lainnya mengerubungi orang itu.

Aku menatap ngeri ketika para zombie itu mulai mengoyak bagian-bagian tubuh orang tadi dengan gigi mereka. Terlihat begitu mengerikan dengan jarak sedekat ini sekalipun terhalang kaca. Rasanya aku ingin muntah sekarang.

Tak lama, Jongin dan Shixun keluar dari gedung apartment itu. Shixun menembak beberapa zombie yang ada didekat mobil yang kutempati dan juga mobil yang Sehun dan Sulli tempati. Namun zombie-zombie itu tak mati. Ia justru mengeram marah pada Shixun dan berjalan dengan lamban meninggalkan mobil menuju Shixun.

Dan ketika para zombie itu berjalan menuju Shixun, Jongin mengambil kesempatan itu untuk masuk kedalam mobil Sehun.

Sementara Shixun sendiri berlari memutar untuk sambil menembak zombie-zombie tersebut. Aku tahu ia sedang mencoba membuat zombie itu menjauhi mobil kami.

“Xun, cepat!” Aku berteriak padanya ketika peluru senjatanya habis dan kini pria itu berlari menuju mobil kami. Ia membuka pintu belakang dan menendang satu zombie yang hendak mengikutinya masuk. Joohyun langsung tancap gas begitu Shixun berada dalam mobil. Mobil Sehun langsung menyusul mobil kami.

Pemberhentian selanjutnya adalah rumah Sulli. Sulli adalah sahabat sekaligus teman sekelasku. Ia adalah gadis yang berasal dari kalangan atas sehingga tak mengherankan jika ia tinggal di komplek perumahan elit.

Berbeda dengan apartment Jongin yang rusuh dan kacau―komplek perumahan Sulli justru sepi. Sangat sepi malah. Terkesan benar-benar sudah ditinggali para penghuninya.

“Aku yang akan menemani Sulli.” kata Jongin sambil menatap Shixun menatang. Aku tahu Jongin masih sedikit kesal dengan sikap Shixun yang seenaknya tadi.

“Terserah.” kata Shixun setelah mengamati sekeliling halaman rumah Sulli yang benar-benar sepi. Ia kemudian mengangkat pintu belakang mobil kami―lalu mengambil sebuah senjata dari tas yang tadi ia bawa dari kantor polisi dan melemparkannya pada Jongin.

“Untuk jaga-jaga.” Shixun menjawab raut bingung Jongin. Sementara Jongin menatap senjata api ditangannya dengan wajah sumringah.

Ketika punggung Sulli dan Jongin menghilang di dalam mansion megah milik keluarga Choi, aku memutuskan untuk turun dari mobil dan menghampiri Sehun yang sedang berada disamping RV milik Sulli yang terparkir dihalaman rumah. Aku pernah menggunakan RV itu dengan Sulli dan teman-teman satu kelasku lainnya ketika jalan-jalan dulu.

“Jika kita akan pergi jauh, kurasa kita akan membutuhkan ini. Setidaknya didalam pasti ada toiletnya.” kata Sehun padaku sambil masih memperhatikan RV itu.

“Memang ada. Selain itu ada satu kamar tidur dengan satu ranjang besar dan lemari. Kurasa cukup untuk 2-4 orang. Dan ada dua pasang sofa panjang. Kau benar. Kita akan memerlukan ini jika pergi jauh.” balasku sambil mengingat apa saja yang ada didalam mobil ini ketika aku berada didalamnya.

Shixun menghampiri kami dengan senjata api baru ditangannya. “Ada apa?”

“RV ini akan sangat berguna jika kita ingin keluar kota.” Sehun menjawab. “Aku akan mencoba meminta Sulli mencari kuncinya.” lalu, pemuda itu pergi menyusul Jongin dan Sulli.

“Aku masih bisa menyalakan mesinnya bahkan tanpa kunci.” kata Shixun ketika melirik sekilas kedalam RV itu.

Aku memutar bola mataku malas. Tentu, Shixun sering mencuri mobil sebelumnya. Ia lebih sering menyalakan mobil dengan kabel ketimbang kunci.

“Dasar kriminal.” kataku setengah bercanda. Aku melihat seringai tipis terpatri dibibir tipisnya.

“Setidaknya kemampuan si kriminal ini berguna sekarang.”

“Itu memang berguna jika kau tidak menyalahgunakannya.”

Aku melihat senyum geli terpasang diwajahnya. “Sungguh Jung? Kau ingin menceramahiku sekarang?”

“Tidak. Aku tahu kau terlalu keras kepala untuk mendengarkan.”

Shixun tak terlihat tersinggung dan justru kembali menyeringai. Tatapannya seakan memperlihatkan jika ia bangga menjadi seorang yang keras kepala. Aku sama sekali tak mengerti dengan pria ini.

Sulli dan Sehun keluar dari mansion besar itu dengan sebuah koper ditangan Sehun yang kuyakini milik Sulli. Sehun hanya terlalu baik untuk membiarkan Sulli membawa kopernya sendiri. Sehun menaruh koper Sulli didekat RV lalu memamerkan kunci RV tersebut dihadapanku dan Shixun.

“Aku tak bisa menghubungi Sooyeon eonnie. Aku juga tak bisa menghubungi Donghae oppa. Ponselnya tak aktif dan―” aku tak bisa melanjutkan perkataanku pada Shixun ketika Sehun dan Sulli memeriksa bagian dalam RV.

“Kakakmu baik-baik saja. Kita akan segera menemukannya, aku janji.” balas Shixun. Matanya memandang tepat kearahku dengan sebuah kesungguhan yang entah bagaimana membuatku merasa lebih tenang. Aku hanya mengangguk menyetujui kata-kata Shixun.

Jongin kembali dengan sebuah box minuman ditangannya. Ia terlihat kesulitan dengan box itu sehingga aku memutuskan untuk membantunya.

“Memangnya kau pikir kau akan kemana?” tanya Shixun dengan kening mengkerutnya.

“Kita akan keluar kota. Perjalanannya panjang jadi kita butuh makanan dan minuman diperjalanan, bung.” Jongin menjawab.

“Dia benar. Kita membutuhkan itu.” kata Joohyun yang baru saja keluar dari mobil.

Aku menatap ngeri pedang anggar milik Joohyun yang tersampir dipinggangnya. Ya, benar. Joohyun adalah seorang atlet bela diri anggar. Dia memilih membawa beberapa koleksi pedang anggarnya sebagai tambahan senjata untuk kami. Terkadang aku bertanya-tanya apakah ia pernah tanpa sengaja menusuk seseorang dengan pedangnya itu atau tidak.

Gadis itu langsung mengikuti Jongin yang kembali masuk untuk mengambil makanan lainnya ketika Shixun mengambil ahli box tadi. Pria itu mamasukkannya ke dalam RV dengan mudah.

“Kau punya kotak P3K, Sull? Kurasa kita juga akan membutuhkannya.” tanya Sehun yang baru keluar dari RV pada Sulli.

“Akan kutunjukkan tempatnya.” Sehun dan Sulli kembali ke dalam sementara Joohyun dan Jongin keluar dengan box yang berisi makanan ditangan masing-masing. Shixun langsung mengambil alih box ditangan Joohyun sementara aku membantu Jongin membawa box ditangannya.

“Aku masuk ke salah satu kamar didalam dan tak menemukan satupun benda dilemarinya. Kurasa keluarga Sulli sudah mengungsi terlebih dahulu. ” kata Joohyun.

Aku langsung menggeleng tidak setuju.

“Mereka tak mungkin meninggalkan Sulli.”

“Mungkin mereka akan kembali mencari Sulli.” Joohyun berkata lagi.

“Itu masuk akal.” kata Jongin. “Jadi apa yang kita lakukan sekarang? Menunggu mereka semua kemari dan menjemput Sulli?”

Shixun menggeleng. “Kita harus cepat keluar kota. Jika keluarga Sulli sudah mengungsi kita pasti akan bertemu dengan mereka nanti. Tapi sebelumnya kita harus mencari Sooyeon nuna dulu.”

“Terakhir aku melihat Sooyeon pergi bersama Donghae.” Joohyun kembali bersuara. Aku sudah menduga yang satu itu, kakakku pasti sedang bersama kekasihnya.

“Dia akan baik-baik saja. Donghae pasti menjaganya.” sambung Joohyun lagi ketika melihat raut khawatirku. Aku hanya mengangguk kaku dan berusaha meyakinkan diriku sendiri jika apa yang dikatakan Joohyun dan Shixun memang benar.

Ketika Sulli dan Sehun kembali―kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan Jongin dan Sulli di RV. Joohyun dan Shixun dimobil Joohyun setelah melakukan perdebatan beberapa saat tentang siapa yang akan menyetir. Lalu aku dan Sehun dimobil Sehun.

Sehun menghentikan mobilnya ketika kami terjebak disebuah kemacetan. Shixun dan Jongin melakukan hal sama dengan mobil dan RV mereka.

“Tunggu dimobil, Jung. Nyalakan penghangat jika kau kedinginan.” ucap Sehun sebelum keluar dari mobil. Aku hanya tersenyum kecil dan mengangguk untuk menanggapi ucapannya. Kulihat Shixun dan Jongin juga turun dari mobil masing-masing. Mereka berbicara sebentar lalu maju menyusuri mobil-mobil yang terjebak macet didepan kami.

Kami sudah berusaha mencari kakakku ke beberapa tempat yang kupikir mungkin ia sedang datangi. Namun ia tak berada disatupun tempat yang kami datangi dan malam hampir tiba sehingga aku memutuskan untuk menyudahi pencarian itu. Aku hanya tak ingin egois. Ini bukan menyangkut diriku saja. Ini juga menyangkut keselamatan Joohyun, Sulli, Sehun, Shixun dan Jongin jika kami terus berada dikota dengan mahluk yang disebut zombie tadi semakin banyak.

Aku tersenyum kecil pada Sulli yang tersenyum padaku dari jendela RVnya. Ia terlihat lelah dan khawatir. Aku jadi sedikit merasa bersalah karena secara tidak langsung memaksa gadis itu mencari kakakku tadi. Aku membuatnya lelah untuk kepentingan pribadiku.

Jongin, Sehun dan Shixun kembali. Joohyun langsung keluar dari mobilnya dan menghampiri Jongin, Sehun dan Shixun yang berada diantara RV Sulli dan mobil Sehun. Sementara aku dan Sulli membuka pintu kaca mobil untuk mendengarkan.

“Seseorang didepan sana berkata jika ia sudah menunggu hampir 3 jam dan tak ada kemajuan sama sekali. Kita tak bisa melawati jalan ini sepertinya.” lapor Jongin.

“Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?”

“Balik arah.” Shixun menjawab pertanyaan Joohyun dengan acuh dan singkat. Ia masuk kedalam kursi pengemudi dimobil Joohyun lalu mulai kembali menyalakan mesin mobil itu.

“Dia tidak serius kan? Kita tidak akan bisa ke Seoul jika tidak melewati jalan ini.”

“Kita akan ke Seoul?” tanyaku dengan kening berkerut. Sedari tadi mereka hanya mengatakan tentang keluar kota tapi tidak mengatakan kota mana yang kami tuju.

“Ya, kita akan ke Seoul. Aku yakin pemerintah pasti membuat tempat perlindungan bagi yang selamat disana.” jawab Sehun. Aku hanya mengangguk mengerti lalu melirik kearah Shixun yang sudah memutar balik mobil Joohyun.

Joohyun langsung berlari dan masuk ke mobil Shixun sementara Jongin kembali ke RV Sulli. Aku dan Sehun menjadi yang terakhir masuk ke dalam mobil. Sehun langsung mengendarai mobilnya setelah mengingatkanku memakai sabuk pengaman.

“Kalau kita berbalik arah, kita akan kemana, Hun?”

“Aku tak tahu.” Sehun mengangkat bahunya lalu melirikku sekilas. “Tapi aku percaya pada Shixun.”

Aku memutar bola mataku malas mendengar perkataan pria itu. “Tentu kau percaya padanya. Dia kembaranmu.” Sehun hanya nyengir menanggapi kata-kataku.

Secara fisik, perbedaan berarti antara Shixun dan Sehun adalah pada bagian rambut dan bentuk tubuh mereka. Shixun memiliki rambut berwarna pirang platina atau blonde dengan model rambut menyamping. Tubuh pemuda itu lebih kurus dari tubuh Sehun namun juga lebih tinggi beberapa senti. Mungkin karena pemuda itu lahir lebih dulu. Ia sering membanggakan hal itu ketika kami kecil dulu.

Lalu Sehun memiliki rambut berwarna hitam dengan poni kedepan. Tubuhnya lebih terlihat berisi daripada tubuh Shixun.

Kepribadian mereka sudah terlihat dari penampilan mereka kurasa. Jika Shixun sering terlihatan seperti pemuda urakan maka Sehun sebaliknya. Ia selalu terlihat rapi. Begitupun dengan kepribadian mereka. Jika Shixun selalu melanggar aturan maka Sehun sebaliknya. Ia selalu menaati peraturan.

Tiba-tiba, RV ada didepan kami berhenti membuat Sehun ikut menghentikan laju mobilnya. Sulli dan Jongin turun dari RV membuat kami juga turun dari RV. Aku bergidik saat melihat Sehun menyampirkan pistol yang diberikan Shixun tadi disekitar gespernya. Aku belum terbiasa melihat senjata disekitarku saat ini.

“Tak ada salahnya berjaga-jaga bukan?” kata Sehun sambil tersenyum kecil. Aku hanya memalingkan wajahku enggan menjawab.

“Kenapa berhenti?” Jongin bertanya pada Shixun dan Joohyun.

“Kurasa ini tempat yang bagus untuk makan malam dan istirahat sejenak.” Joohyun menjawab mewakili Shixun. Kulihat ekspresi Jongin langsung berubah cerah mendengar kata ‘istirahat’ dan ‘makan malam’.

“Tapi sebenarnya kita akan kemana?” tanya Sulli. Ia terlihat benar-benar lelah hari ini sehingga aku memilih mendekat dan menepuk-nepuk bahunya untuk menyemangati.

Shixun hanya menggeleng. Aku sedikit terkejut saat melihatnya.

“Jadi kau tidak tahu akan membawa kami kemana?” Sulli menatap kesal Shixun yang kembali mengangkat bahunya acuh seakan hal itu bukanlah masalah besar.

“Aku hanya ingin mencari tempat yang aman untuk malam ini, lalu kita―”

Perkataan Shixun terhenti ketika sebuah suara tembakan disusul dengan teriakan minta tolong terdengar dari arah pepohonan yang berada disisi kanan jalan tempat kami berdiri. Sulli langsung mundur perlahan dan masuk kembali ke RVnya sementara Joohyun mengeluarkan pedang anggarnya.

“Ayo pergi.”

“Tidak! Kita harus menolong mereka!” Sehun membantah cepat perintah Shixun.

“Itu terlalu berbahaya.” desis Shixun tajam.

“Tapi kita tak bisa meninggalkan mereka begitu saja, Xun.” kataku mendukung Sehun. Siapapun yang berteriak minta tolong tak pantas untuk diabaikan begitu saja.

Shixun mendengus kesal melihatku dan Sehun yang menentangnya begitu. “Baiklah. Hitam, kau ambil senjatamu. Kau ikut denganku.”

Jongin mendengus ketika dipanggil begitu. Namun ia tetap kembali ke RV dan mengambil senjata apinya setelah berkata, “Aku punya nama.”

“Aku akan ikut.” kata Sehun sambil mengeluarkan pistol yang tadi ia sampirkan digespernya.

Shixun menggeleng. “Jika salah satu dari mereka terluka, itu akan memerlukan dokter. Dan kau dokternya. Mereka akan memerlukan dokternya disini.”

“Kenapa bukan Jongin―”

“Kau lebih cekatan dariku, Hun. Kau tahu itu.” Jongin yang baru keluar dari RV memotong perkataan Sehun. Sehun mendengus tak suka namun menuruti perkataan Shixun.

“Aku akan ikut dengan kalian.” kata Joohyun sambil mencengkram erat pedang anggarnya yang sudah ia keluarkan.

“Tidak, kau―”

“Kau masih adikku. Kau yang harusnya menuruti kata-kataku bukan sebaliknya!” Joohyun balik membentak Shixun yang hendak melarangnya ikut.

“Aku tak peduli. Kau harus tetap di―”

“HEI!” teriakku yang berhasil mencuri perhatian mereka. “Tak ada waktu untuk berdebat.”

Shixun mendengus tak senang. “Baiklah kau ikut. Tapi jangan jauh-jauh dariku.”

Aku tahu Shixun hanya mengkhawatirkan kakaknya mangkannya ia melarang Joohyun ikut. Namun Joohyun juga benar, Shixun tidak berhak memerintah Joohyun seperti itu karena Joohyun adalah kakaknya. Joohyun, Jongin dan Shixun kemudia berlari kearah pepohonan tadi sementara Sehun masuk ke dalam RV untuk menyiapkan tempat dan kotak P3Knya.

Aku kembali kedalam mobil untuk mengambil penggaris besi dari tasku. Ini hanya untuk berjaga-jaga karena situasi sekarang kembali tidak aman.

Aku terus memanjatkan doa sambil memandangi arah kepergian Joohyun, Jongin dan Shixun. Aku hanya berharap mereka berhasil menolong orang yang berteriak tadi tanpa terluka. Tanpa sadar aku mencengkram erat penggaris besi ditanganku.

“Tak perlu secemas itu, Jung. Joohyun dan Shixun itu kuat. Dan aku yakin Jongin bisa jaga diri.” kata Sehun yang baru saja keluar dari RV. Sementara Sulli kini memilih berdiri dipintu RV dengan tatapan waspadanya.

Beberapa menit setelahnya―empat orang perempuan berlari kearah kami dari arah pepohonan tempat Joohyun, Jongin dan Shixun pergi. Seseorang diantara mereka terus berteriak tolong sambil sesekali menengok sehingga ia terjatuh karena tak memperhatikan jalan. Aku dan Sehun langsung berlari menghampirinya yang kini dikerumuni teman-temannya untuk membantunya berdiri.

“Kumohon tolong kami!” teriak gadis tertinggi diantara mereka yang kini berusaha menopang tubuh temannya yang terjatuh tadi padaku dan Sehun.

“Kami akan menolong kalian. Tapi kalian harus tenang dulu sekarang.” Sehun langsung membawa gadis yang terjatuh tadi kepunggungnya lalu berlari memasuki RV. Aku dan ketiga gadis lainnga menyusul dibelakang Sehun.

Sulli langsung membantu Sehun dengan gadis yang tadi terluka pada bagian kakinya itu. Sementara ketiga gadis lainnya ikut masuk kedalam RV, aku memilih tetap diluar dan menunggu Joohyun, Jongin dan Shixun.

Namun bukannya ketiganya ataupun salah satu dari ketiganya, dua orang laki-laki asing justru muncul dari pepohonan itu. Mereka berlari sekuat tenaga kearahku. “Tolong! Kumohon tolong!” salah satu dari pria itu memohon padaku ketika sampai dihadapanku. Aku hanya mengangguk dan menyuruh mereka masuk kedalam jok belakang mobil Sehun lalu memberikan mereka botol minumanku karena mereka terlihat begitu lelah.

Aku kembali menoleh ketika melihat Joohyun dan Jongin membopong seorang laki-laki lagi. Lalu Shixun berada tepat dibelakang mereka dengan tiga laki-laki asing lainnya. Kurasa, mereka adalah teman-teman dari pria yang ada dimobil yang sama denganku saat ini karena dua pria itu kini tengah menatap khawatir kearah pria asing yang sedang dibawa Joohyun dan Jongin.

Joohyun langsung menyerahkan pria asing yang tadi dibopongnya kepada pria lain yang tepat ada dibelakangnya setelah Shixun membisikkan sesuatu padanya. Gadis itu langsung mempercepat larinya menuju mobilnya sendiri lalu masuk ke kursi pengemudi.

Kedua pria lain yang berada disamping Shixun langsung berlari menuju Joohyun ketika Shixun mengucapkan sesuatu pada mereka. Sepertinya Shixun yang menuruh mereka ikut bersama Joohyun, tapi entahlah.

Aku membelalakkan mataku ketika zombie itu kembali muncul dari arah pepohonan tadi. Bukan satu atau beberapa saja. Tapi ada banyak. Cukup banyak untuk menghabisi kami semua.

Shixun berhenti melangkah dan berbalik untuk menembaki beberapa zombie yang mendekat. Aku memutuskan untuk keluar dari mobil untuk berjaga-jaga jika Shixun butuh bantuanku.

“Tembak kepalanya! Hancurkan otaknya agar dia mati!” teriak pria asing yang tadi membopong temannya bersama Jongin. Keduanya kini sudah sampai RV. Jongin kini sudah menutup pintu RV setelah berteriak padaku untuk masuk ke dalam mobil.

Shixun berbalik dan kembali berlari kearah mobil Sehun setelah menembaki beberapa yang terdekat.

“MASUK SOOJUNG!” teriak Shixun padaku ketika melihatku berada diluar sana mobil. Aku langsung menuruti perintahnya ketika Shixun semakin dekat dan kini sudah berada dikursi pengemudi.

Kami akhirnya berhasil meninggalkan tempat itu sebelum para zombie itu menangkap kami.

Setelah meninggalkan tempat tadi, kami kembali berhenti setelah menempuh jarak sekitar satu kilo. Kami memutuskan untuk keluar dan makan malam dengan makanan kaleng yang dibawa Sulli tadi. Aku bisa melihat tatapan lega dari orang-orang yang tadi kami selamatkan.

Ada sepuluh orang yang kami selamatkan. 4 perempuan dan 6 laki-laki. Gadis yang tadi terjatuh bernama Yeri. Lalu ada Joy, Wendy dan Seulgi. Lalu dua laki-laki yang berada dimobil yang sama denganku bernama Jongdae dan Minseok. Sedangkan yang bersama Joohyun ada Yifan dan Zitao. Sementara seorang pria yang tadi dibopong oleh Jongin bernama Yixing sedangkan temannya yang membantu membopongnya bernama Luhan. Kurasa mereka berempat orang China jika dilihat dari namanya.

“Jadi kalian dari China?” tanya Sehun ketika kami semua selesai menyantap makanan didepan RV Sulli. Kami memutuskan untuk membuat lingkaran dengan penerangan secukupnya dari senter ponsel kami.

“Ya. Aku, Zitao, Yifan dan Yixing adalah orang China. Tapi kami pernah tinggal di Korea sebelumnya. Lalu kami bertemu Jongdae, Minseok, Yeri, Joy, Wendy dan Seulgi di pesawat. Terjadi kekacuan disana sini dan―” pria bernama Luhan itu terlihat tidak bisa menyelesaikan ceritanya.

“Banyak yang meninggal.” Temannya yang bernama Zitao membantu.

“Mahluk itu sudah menguasai China terlebih dahulu. Kami berpikir Korea aman sehingga kami memutuskan untuk kemari. Namun ternyata tidak.” giliran pria bernama Yifan yang menambahkan. Aku cukup terkesan dengan kelancaran mereka dalam berbahasa Korea walaupun mereka orang China.

“Jadi di China juga ada Zombie?” Jongin menyimpulkan.

“Zombie? Kau menyebutnya begitu?” Gadis bernama Seulgi mulai ikut berbicara. “Aku menyebutnya maniak manusia.”

Tawa kecil keluar beberapa diantara kami. Aku melirik kearah Shixun yang sedari tadi hanya diam. Ia memandang orang-orang yang baru diselamatkannya tadi dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Temanmu itu tergigit?” Sehun kembali bertanya. Ekspresi murung langsung terlihat diwajah mereka. “Ya. Sayang sekali kami harus kehilangan Yixing.” kata Luhan dengan senyum getirnya. Dia terlihat begitu putus asa.

“Sehun dan Jongin pasti bisa menyelamatkannya. Mereka mahasiswa kedokteran ternama disini.” kataku berusaha menghibur mereka.

Zitao menggeleng dengan senyum sedihnya. “Begitu kau tergigit, kau akan menjadi salah satu dari mereka dalam beberapa jam ke depan. Aku sudah melihat beberapa orang disekelilingku berubah. Dan itu akan terjadi juga pada Yixing sekarang.”

Hening. Semuanya langsung diam mendengar penjelasan Zitao. “Ngomong-ngomong, terima kasih atas bantuan kalian. Dan ku beritahu sekali lagi, jika ingin membunuh mahluk itu tembak kepalanya. Otaknya. Bukan hati, lambung atau jantungnya. Itu tak akan berfungsi dan hanya akan membuang peluru.” Zitao melirik kearah Shixun dan Jongin.

“Aku tak butuh nasihatmu tentang membunuh mahluk itu.” kata Shixun dengan nada kerasnya. “Besok pagi kalian boleh pergi dan meneruskan kembali perjalanan kalian. Kami akan memberikan kalian beberapa makanan agar kalian bisa bertahan.”

Semuanya memandang pengusiran Shixun dengan kaget. Pemuda itu langsung bangkit berdiri setelah mengatakannya.

“Apa? Kau mengusir kami? Setelah menolong kami, kau menelantarkan kami begitu saja?” Zitao terlihat tidak terima dengan keputusan sepihak Shixun namun Shixun nampak tidak peduli.

Luhan berusaha menangkan Zitao yang nampak emosi dengan keacuhan Shixun. “Kau punya satu RV dengan dua mobil. Apa salahnya memuat kami didalamnya?” kata Luhan berusaha bernegosiasi. Namun aku tahu Shixun bukanlah orang yang bisa diajak bernegosiasi.

“Kalian pergi besok.” Shixun kembali mengulang perkataannya dengan nada mutlak. Lalu, pemuda itu memutuskan untuk pergi dari sana. Aku memutuskan untuk mengikutinya untuk bicara namun Sehun mendahuluiku.

“Kita tidak bisa menyuruh mereka pergi begitu, Xun. Mereka tak punya kendaraan, makanan, dan dua orang dari mereka sakit.” Aku hanya diam dan mendengarkan percakapan mereka ditempatku berdiri sekarang.

“Itu bukan urusan kita.” balas Shixun enteng. Aku menatap pemuda itu tak percaya. Astaga, kapan pemuda itu berubah dengan sikap acuhnya?

“Tentu itu urusan kita! Jika mereka mati ditengah jalan itu akan jadi kesalahan kita, dosa kita!” Ini pertama kalinya aku melihat Sehun berteriak pada Shixun. Biasanya Sehunlah yang paling sabar menghadapi Shixun.

“Berhentilah menjadi orang baik, bodoh! Kau tak mengenal mereka. Bagaimana kau tahu jika mereka tidak berniat jahat padamu? Bagaimana kau tahu jika mereka tidak berniat menyakiti kita? Kau masih mau membiarkan mereka ikut bersamamu?”

“Kita tak akan tahu jika kita tak mencoba mengenal mereka!”

“Kita tak bisa mengambil resiko itu.” Aku melihat wajah Sehun yang memerah karena kesal dengan kekeraskepalaan Shixun. “Bayangkan jika kita yang ada diposisi mereka, Xun. Apa yang―”

“Terserah kau saja!” Shixun memotong ucapan Sehun dengan nada membentak lalu masuk kedalam mobil Joohyun dengan sedikit membanting pintu mobil itu. Sehun berusaha menstabilkan napasnya karena emosinya yang sempat menggebu beberapa saat yang lalu. Kemudian, ia melirik kearahku dengan senyum kakunya.

TBC

Gimana chapter satunya? Konfliknya belum terlalu keliatan ya? Nanti di chapter-chapter selanjutnya bakal keliatan ko. Dimohon RCLnya lagi terutama komen biar aku makin semangat ngelanjutinnya [?

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI Facebook] The Survivor (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s