[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On] (Chapter 8)

the one person is you re turn.jpg

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle            : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 8

Author        : Dancinglee_710117

Main Cast        :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast        :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating        : T

Length        : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

 

Suara deringan ponsel membuat seorang gadis yang berada dalam alam mimpinya terjatuh kembali ke dunia nyata, dimana dirinya terkapar diatas kasur empuk yang cukup mewah, dengan perabotan yang tak kalah indah, seperti kamar putri raja. Putri cantik yang menawan, anggun dan bijaksana-

“Aissh! Brengsek macam apa yang menelpon malam-malam begini sih?!”

Hanya saja tidak ada Song Jong Ki, Park Bo Geum maupun Lee Jong Suk yang melayaninya seperti dalam mimpi. Karena itu dia mengumpat, menghancurkan ekspetasi orang-orang mengenai status yang dimilikinya, gadis yang memiliki dua marga, Mira.

“Ya, halo?” ucapnya dengan suara lemah, menelan segala kata-kata kotor yang siap meluncur jika telpon itu hanya perbuatan orang iseng atau teman-temannya yang usil. “Hyojin eonni?”

Untungnya bukan, dan Hyojin adalah seseorang yang dia segani maka dari itu tak ada alasan bagi Mira untuk memaki gadis itu.

“Mira-ya, aku menelponmu untuk membahas hal yang penting dalam hidupku… tapi kau jangan pernah menganggap kita dekat karena aku menghubungimu duluan daripada Sehun atau Jong In!. Aku bertanya padamu karena kau satu-satunya seseorang yang paling sering berpacaran dan pandai menghadapi pria. Kau terkenal sebagai playgirl kan? Yang mereka sebut sebagai gadis jalang penakluk lelaki itu kau kan?”

Meskipun Hyojin berbicara dengan sangat cepat, namun Mira masih sanggup menangkap setiap kata-katanya. Termasuk kalimat terakhir Hyojin yang membuat Mira ingin membunuh seorang gadis berambut panjang berwarna hitam, memiliki mata bulat dan pipi tembam, juga berinisal H dengan nama lengkap Lee Hyojin.

Eonni sedang memujiku, atau meledekku?”

“Eoh? Aku tidak bisa mendengarmu. Pokoknya Mira-ya, kau harus membantuku, ini masalah HIDUP DAN MATIKU!”

Mira berjingkat, melompat dari kasurnya, mengambil jaket kulit favoritnya serta menyambar kunci mobil diatas nakas disebelah tempat tidur, bersiap pergi menemui Hyojin yang berbicara dengan nada terancam.

Eonni sekarang ada dimana?” tanya Mira, dengan wajah serius begitu pun dengan nada suaranya.

“Eoh? Kenapa memangnya?. Ah sial! Jangan mengalihkan pembicaraan bodoh! kau harus dengarkan apa yang kubicarakan sampai selesai baru tanya hal lain!” jawaban Hyojin tak membuat Mira puas. “Ini adalah masalah serius, dan kau adalah orang yang kurasa paling mengerti soal ini, jadi simak baik-baik pertanyaanku.”

Mira menarik nafas, menunggu Hyojin melanjutkan ucapannya setelah hening sesaat.

“Apa yang biasanya dilakukan orang-orang ketika berpacaran?”

Gadis berambut pendek itu membeku, bahkan hampir lupa untuk kembali bernafas. Sementara di sebrang sana Hyojin menanti jawaban dari Mira, benar-benar merasa tak berdaya hingga akhirnya terpaksa bertanya pada gadis yang sudah lama tak ia temui selama beberapa tahun itu. Meski nantinya Mira akan menertawainya, berkata bahwa Hyojin menanyakan hal yang sepele, tapi bagi Hyojin mengetahui cara berpacaran orang-orang pada umumnya adalah hal yang belum ia ketahui selama menjalani hidup dua puluh empat tahun lamanya.

“Mira-ya! Kau masih hidup kan? Belum mati kena serangan jantung atau ditembak pembunuh bayaran kan?”

Mira menjauhkan ponselnya sedikit untuk menghela nafas, mendengus pelan seraya menenangkan degub jantungnya yang tak beraturan sejak Hyojin bicara soal hidup dan matinya. Tentu saja bukan karena Mira adalah gadis ‘menyimpang’ yang jatuh hati pada teman dari Sehun, anggota klub dancenya. Ini karena Mira khawatir tentang Hyojin, karena Mira punya sesuatu yang akan mengejutkan Hyojin nantinya.

Eonni, kau benar-benar penasaran soal itu?. Kau serius ingin tahu apa yang dilakukan orang-orang saat pacaran?”

“Jika tidak, aku tak mungkin menghubungimu malam-malam begini!”

Gadis itu mengumpat dalam hati, walaupun dia menghormati Hyojin yang lebih tua satu tahun darinya, tapi Mira masih belum bisa memahami sikap Hyojin yang kasar dan selalu membuat orang lain menjadi kesal terhadapnya. Yah, setidaknya Mira sedikit lebih mengerti dari ‘orang lain’ itu.

“Kenapa?”

Sekali lagi, hening selama beberapa detik sampai suara Hyojin membuat Mira menaikkan sebelah alisnya.

“Karena tiba-tiba… aku sudah memiliki kekasih pertamaku.”

***

“APA?! KAU PACARAN DENGAN PARK CHANYEOL?!”

Hyojin menendang perut Jong In lalu mencekik leher Sehun karena sudah berteriak tak karuan hingga membuat telinganya berdenging.

“Sudah kubilang jangan terkejut!” serunya.

Sehun berusaha melepas tangan kuat Hyojin, “Te-tentu sa…ja kami ter-terkejut… dasar tolol!” meski dicekik pria tampan dengan kulit seputih susu itu masih sempat memaki sahabatnya yang kesetanan itu.

“Ukh… kami memang tahu kalau kalian saling mencintai -euh ralat, kau mencintainya. Tapi sampai berpacaran? Wah daebak!” Jong In menggelengkan kepala, kemudian sadar bahwa Hyojin masih mencekik Sehun sampai wajah pria itu membiru.

“YAK! KAU MAU MEMBUNUH OH SEHUN?!”

Hyojin mendelik lantas melepas tangannya dari leher Sehun, “Eoh, maaf!” ujarnya enteng. Sehun segera merangkak beberapa meter, menjauh dari Hyojin seraya mengambil oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-parunya yang sempat kosong akibat cekikan Hyojin.

“Aku tak menyangka selama ini berteman dengan psikopat!”

“Ini adalah cara satu-satunya untuk melindungi bocah dengan senyuman bodoh itu dari Lee Dae Ryeong.” Ujar Hyojin, mengabaikan keluhan Sehun dan kekesalan Jong In. Tapi toh, baik Sehun maupun Jong In lebih tertarik tentang masalah Lee Dae Ryeong.

“Memangnya kenapa lagi dengan pria tua itu?” tanya Jong In.

“Apa dia dan cecunguknya kembali berulah?. Bukankah sudah lama dia tak mengusikmu dan keluargamu?” imbuh Sehun.

Hyojin mendesah, berbaring diatas karpet mahal yang digelar disepanjang lantai ruang tamu apartemen Sehun. “Aku sudah berusaha keras menyembunyikan tempat tinggal keluargaku dan diam saja ketika anak buah Lee Dae Ryeong berusaha menyakitiku. Sayangnya Jinhyo tak bisa, dia langsung pergi ke rumah pria sialan itu setelah ayah kami diserang preman suruhannya!”

“Hah?, lalu Jinhyo? Apa dia baik-baik saja dan bisa keluar dari sana hidup-hidup?” Jong In kembali bertanya dengan nada cemas.

“Iya, kurasa. Aku tidak tahu bagaimana caranya dia bisa bebas dari istana setan itu, tiba-tiba saja polisi menelponku dan mengatakan bahwa adikku menyerang seorang wanita. Yang membuatku terkejut adalah fakta mengenai identitas wanita itu.”

“Siapa?” Sehun terdiam setelah bertanya karena dia sudah bisa menebaknya, “Jangan-jangan…”

“Kang Rae Mi?” lanjut Jong In yang punya pemikiran sama dengan sahabatnya.

Satu anggukan kepala dari Hyojin sudah memuaskan rasa penasaran kedua pria tersebut.

“Entah adikmu yang sudah gila atau Rae Mi yang kurang beruntung.”

“Yah, benar katamu Jong In. Itu sebabnya hubunganku dan Rae Mi mulai retak kembali sejak dari kantor polisi. Kalau kalian ada disana pasti tak bisa menahan emosi, gadis itu benar-benar… wah!” Hyojin kesal sendiri begitu mengingat lagi kejadian beberapa hari yang lalu.

“Kudengar, kau mau ambil cuti kuliah. Kenapa? Apa ini juga caramu untuk menghindari Lee Dae Ryeong?” pertanyaan Sehun membuat Jong In terkejut, juga sebal karena tak tahu banyak mengenai sahabatnya itu.

“Yak! kau mau cuti kuliah? Kenapa?. Kau sudah gila ya?, ini kan sudah tahun ketiga!”

“Oh itu, aku mengambil cuti karena sedang tak punya uang. Satu juta won ku habis untuk membayar uang jaminan Jinhyo.” Jawab Hyojin dengan santai, menghabiskan potongan buah yang disediakan Sehun dan disiapkan oleh Jong In tadi pagi.

“Dan kau tidak bilang pada orangtuamu?”

“Sudah tak waras?!” sarkas Hyojin pada Jong In, “Jika aku bilang begitu, ayah dan ibu pasti kepikiran, lalu mereka akan mendatangi kakek sialan itu untuk berlutut dan meminta maaf!”

“Menurutmu mereka akan membuang harga dirinya sampai seperti itu?. Setidaknya mereka akan mengganti uangmu dan kau tak perlu cuti kuliah.”

Hyojin menatap Sehun tajam, “Dan meminta mereka menghabiskan uang begitu saja?. Tidak, aku tak mau membuat mereka sakit karena masalah yang bisa aku tangani sendiri.” Gadis itu menhembuskan nafas, “Lagipula, aku masih belum begitu terbiasa dengan suasana rumah, keluarga, hal-hal semacam itu. Perpisahanku dengan keluarga terlalu lama, ingin belajar terbiasa pun rasanya tetap canggung.”

Dua sahabat Hyojin mengangguk paham, mengerti bagaimana perasaan Hyojin saat ini.

“Aku tak mau menyalahkan Lee Dae Ryeong. Toh, memang salahnya sampai aku bisa terpisah dari keluarga sejak kecil, dan dia sudah punya begitu banyak dosa yang harus ditanggung… sampai mati!” gadis bermarga Lee itu mengepalkan tangan kuat-kuat penuh dendam, “Tapi, dengan menyalahkan pria yang sudah berusia lanjut dan tak lama lagi mati karena keriput itu tak akan membuatku kembali menjalin hubungan yang normal bersama ayah dan ibuku -oke sertakan Jinhyo brengsek itu juga-, pokoknya aku harus berusaha sendiri sebisanya!”

Pukulan di kepalanya Hyojin terima dari Jong In. Tak parah atau menimbulkan rasa sakit, sebab Jong In memang hanya bercanda padanya.

“Kau tidak sendirian bodoh!, masih ada kami dan pacar idiotmu itu, Park Chanyeol!”

Sehun ikut merangkul sahabat wanita satu-satunya itu, “Kau tidak perlu khawatir! Karena kau punya sahabat terbaik disisimu!”

Hyojin tersenyum lebar, terharu karena ucapan menyentuh teman-temannya serta pelukan hangat yang ia terima sejak mereka bertiga mendeklarasikan persahabatan unik tersebut. Ia sangat bersyukur, berterima kasih pada Tuhan karena mengirimkan malaikat lain ketika ayah serta ibunya dipisahkan darinya oleh iblis kejam bernama Lee Dae Ryeong yang juga menyamar sebagai kakeknya.

“Tapi, Hyojin-ah… keriput tidak akan membuat orang cepat mati.”

“Yak!”

***

Hyojin keluar dari mobil Sehun dengan wajah pucat pasi. Bukan karena melihat hantu atau seorang psikopat beraksi, melainkan mabuk kendaraan yang sudah sering ia alami jika berpergian menggunakan mobil atau pun bis (sebenarnya kendaraan apapun yang tertutup tanpa sirkulasi udara yang lega). Beruntung tak terlalu sering karena Hyojin bisa mengendalikan rasa mualnya, jika tidak maka Sehun harus mau repot-repot membersihkan jok mobilnya ketika mengajak Hyojin pergi bersama.

“Woah, aku tak tahu kalau kau bisa kumat lagi setelah terbiasa dengan mobil.” Ujar Jong In dengan nada bicara seolah takjub.

Sehun memijat punggung Hyojin, berusaha meredakan rasa mual gadis itu sekaligus menunjukkan rasa terima kasih karena Hyojin tak sampai memuntahkan isi perut pada mobilnya yang tak bersalah.

“Mungkin karena ini mobil lama. Maaf ya Hyojin, aku membuatmu kesusahan.”

“Yak!, seharusnya dia berterima kasih karena sudah diberi tumpangan. Kenapa kau yang harus minta maaf?”

Hyojin tiba-tiba menegakkan punggungnya, mendongak, menatap langit sambil menghirup udara segar sebanyak-banyaknya seraya berteriak.

“Jong In Brengsek~!”

Hampir saja dia mendapat pukulan dikepala lagi oleh pria berkulit coklat itu.

“Wah, beruntung dulu aku tak muntah saat berada di mobil Yongguk.” Hyojin kembali mengingat masa lalu, “Hei Jong In! jangan menyalahkanku!. Jika kau duduk di kursi belakang, kau akan tahu kenapa aku mual setengah mati!”

Dengan enggan Jong In membuka pintu mobil Sehun, begitu terbuka aroma busuk tercium oleh ketiganya secara bersamaan. Bahkan Jong In sendiri muntah karena tak kuat akan baunya.

“Tadi tak begitu parah.” Jelas Hyojin, “Kupikir Sehun menyimpan mayat di bagasi!”

Sehun bergegas memeriksa mobilnya, lalu kembali dengan wajah pucat ketakutan. Hyojin bingung, memikirkan kembali ucapannya tentang mayat tadi. Ia pun ikut ketakutan meski belum tahu apa yang sebenarnya berada di bagasi mobil Sehun.

“Apa? Ada apa disana?” ia bertanya dengan mata melotot. Sehun tak menjawab, hanya meminta Hyojin untuk memeriksanya sendiri. Pria itu bersembunyi di belakang Jong In yang masih sedikit mual karena bau misterius tersebut, bersama-sama menyaksikan Hyojin menyingkirkan sesuatu yang sudah membuat seisi mobil berbau tak sedap.

“Apa-apaan ini?!”

Gadis itu membelalakan matanya, kemudian memandang jijik ‘sesuatu’ itu. ia melihat sekeliling, lantas memungut plastik hitam yang ia gunakan sebagai sarung tangan untuk mengambil sumber bau busuk itu, memamerkannya pada sang pemilik mobil serta sahabatnya.

“B-b-b-b-bangkai tikus?!” seru Jong In tak percaya.

“Buang itu Hyojin! Buang!” pekik Sehun yang masih bersembunyi dibelakang Jong In. Sementara pria yang menjadi tamengnya menatap Sehun tajam, “Ini pembunuhan! Pembunuhan!. Kau menyembunyikan mayat korban di dalam mobilmu dan membiarkan kami ikut di dalamnya untuk membuat alibi!. Bagaimana caranya? Apa trik yang kau lakukan? Katakan!” oceh Jong In.

“Yak! Kim Jong In!, kali ini komik apalagi yang kau baca? Conan ya?. Otakmu itu gampang sekali sih dipengaruhi!. Sehun-ah! Lain kali pastikan jangan berikan komik maupun majalah porno padanya!”

Sepertinya sudah terlambat peringatan dari Hyojin, Jong In sudah mendapat predikat sebagai ‘Yadong Man Every Year’ sejak masuk SMA. Jangankan para sahabatnya, siapapun itu, jika memeriksa tas, ponsel, serta kamar Jong In pasti bisa menemukan-‘nya’.

“Sudah gila ya?” kesal Jong In, “Kalau bicara disaring dulu kenapa sih?!”

“Sudahlah…” Sehun menengahi dengan suara bergetar, “Bu-buang saja ‘benda’ itu…”

Sementara itu, Chanyeol yang berada tak jauh dari tiga sekawan tersebut, yang tak menyadari kasus apa yang sedang terjadi, mendekati kumpulan orang konyol itu tanpa ragu. Senyumnya sudah merekah sejak melihat Hyojin berada diantara dua pria yang merupakan teman-temannya.

“Eh? Ada apa ini?” ia bertanya, dengan wajah polos, juga senyum bodoh -menurut Hyojin-, berdiri di belakang Hyojin tanpa ia tahu kalau gadis tersebut sedang memegang bangkai tikus berbau busuk yang dikelilingi lalat-lalat menjijikan.

Mendengar suara seorang pria yang dia cintai (dan baru saja menjadi kekasihnya semalam) dari dekat membuat Hyojin terkejut lantas tak sengaja melepaskan genggamannya pada bangkai tikus itu, hingga terlempar keatas menunggu jatuh ditanah atau ada orang baik nan bodoh yang menengadahkan tangannya untuk menangkapnya. Ya, orang baik sekaligus bodoh, yaitu Chanyeol.

“A-a-a-apa ini?” ia bertanya, tergagap tapi masih tersenyum cerah padahal aura suram sudah mengelilingi tubuhnya. “Ba-baunya seperti… bangkai?” dia bahkan tak berani melihat langsung benda apa yang sedang berada di tangannya.

“Cha-Chanyeol-ah…” lirih Hyojin cemas. Gadis itu mendekati Chanyeol dengan langkah perlahan, kakinya ikut lemas padahal bukan dia yang ada dalam posisi pria tinggi tersebut. Tangannya yang masih terbalut plastik hitam ia gunakan untuk menyingkirkan jasad binatang malang yang sudah mati tersiksa di mobil Sehun, kini malah jadi mainan manusia-manusia konyol itu.

Setelah benar-benar hilang dari tangkupan tangannya, barulah Chanyeol menurunkan kedua lengannya. Masih dengan senyuman dia menyapa Hyojin, Sehun, juga Jong In yang memberikannya tatapan jijik sekaligus kasihan. Begitu menyelesaikan sapaannya, tubuh Chanyeol ambruk setelah mukanya memucat dan keluar banyak keringat dingin.

Reflek, Hyojin menangkap tubuh yang jauh lebih tinggi darinya itu setelah membuang plastik hitam dari tangannya. Sehun dan Jong In hendak menolong, tapi membayangkan bagaimana tangan Chanyeol sudah terkontaminasi mayat tikus, tentunya membuat dua pria itu berpikir dua kali untuk mendekatinya. Jadilah hanya Hyojin yang membopong tubuh Chanyeol sendirian, menggendongnya di punggung lantas berlari seperti orang gila menuju rumah sakit universitas.

“Chanyeol-ah maaf… tapi bertahanlah sebentar lagi.”

Diam-diam gadis itu tersenyum. Bukan bermaksud tak sopan atau bahagia diatas penderitaan orang lain. Tapi kenangan indah di masa lalu yang membuat sudut bibirnya terangkat dengan sendirinya. Di suatu waktu di masa lalu… ketika hujan turun dengan deras dan seorang pria menunggunya…

“Ciuman pertamaku.” Lirih Hyojin.

***

“Kau baik-baik saja?” adalah pertanyaan pertama yang Chanyeol dengar sejak siuman dari pingsannya. Dan sosok Hyojin yang sedang berdiri di depan meja bertatakan obat-obatan, gelas kaca, serta termos besar berisi air mineral merupakan hal pertama yang ditangkap indra pengelihatannya.

Pria itu bangun perlahan, lantas terkejut begitu mengetahui dirinya sedang berada di ruang kesehatan kampus.

“Tadinya aku ingin membawamu ke rumah sakit universitas, tapi sadar tak punya uang, jadi aku membawamu kemari. Toh, kau cuma pingsan karena tikus kan?”

Pipi Chanyeol sontak memerah karena malu, merasa gagal sebagai pria cuma gara-gara seekor tikus yang sudah mati. Buru-buru dia memalingkan muka, kemanapun asal tidak terlihat oleh Hyojin yang menghampirinya sambil membawa segelas air serta beberapa butir obat yang ditaruh di mangkuk kecil.

“Ini minum.” Katanya sambil menyodorkan nampan, “Kata dokter penjaga kau harus minum ini setelah siuman. Berjaga-jaga siapa tahu virus dan kuman dari bangkai tikus tadi sudah masuk ke tubuhmu.”

Chanyeol mendelik, menatap Hyojin tak percaya sekaligus merasa cemas dengan keadaan tubuhnya sendiri. Ia melihat kedua telapak tangannya yang nampak bersih, lalu menciumnya untuk memastikan tak ada bau yang tertinggal. Hyojin bilang sudah membersihkannya sejak Chanyeol berbaring diatas kasur, tentu saja gadis itu meyakinkan Chanyeol bahwa dia sudah mensterilkan tangan Chanyeol.

“Bagaimana seorang gadis bisa bermain-main dengan bangkai tikus?” sindir Chanyeol setelah meminum obatnya.

“Yak, siapa yang memainkannya?!. Tikus itu ada di mobil Sehun, jadi aku membantu dua pria penakut itu untuk membuangnya!”

“Oh, begitu.”

Lalu hening. Baik Chanyeol atau Hyojin tak tahu apa yang harus mereka bicarakan lagi dengan status mereka yang baru berpacaran. Mereka saling membuang muka, tak berani menatap langsung satu sama lain, membiarkan otak mereka bekerja lebih keras untuk memikirkan obrolan lanjutan.

“Eumm… sabtu ini kau ada waktu?”

Hyojin menjawab tanpa menoleh, “Memangnya kenapa? Kau mau mentraktirku makan?”

“Apa hanya ada makanan di kepalamu?, ini kencan! Kencan bodoh!”

Hyojin tak menjawab, hanya memandang Chanyeol dengan kedua mata bulatnya. Sedikit terkejut karena seorang pria tiba-tiba mengajaknya kencan, hal pertama yang terjadi dalam hidupnya. Oh ralat, dulu Yongguk juga pernah mengatakan hal serupa pada gadis itu, namun dengan kondisi yang berbeda, dimana Hyojin tak pernah menganggap serius kata-kata pria berotot itu.

Kali ini pria yang dia sukai membalas perasaannya, bukan cinta bertepuk sebelah tangan yang dulu sering ia alami. Entah ini benar atau salah karena Hyojin tak seratus persen mengajak Chanyeol pacaran karena cintanya, melainkan program perlindungan yang disarankan oleh Yong Hwa pada Hyojin.

‘Ibu, ayah, adik, sahabat-sahabatmu, juga Chanyeol. Kau perlu cara untuk melindungi mereka, jika itu memang rencanamu, aku hanya bisa memberi tahu caranya. Khususnya Chanyeol, yang masih belum jelas keadaan perusahaan keluarganya sekarang dan akan menjadi sasaran empuk karena Lee Dae Ryeong tahu kalau kau menyukainya.’

Hyojin teringat kata-kata Yong Hwa saat pergi mengunjungi tempat tinggal barunya.

‘Apa yang harus aku lakukan?’

‘Ada dua pilihan. Satu, jadikan dia kekasihmu. Dua, jauhkan dia darimu seolah kau sudah memutuskan kontak dan tak peduli lagi padanya. Tentu saja tiap-tiap pilihan tetap memiliki resiko, mengingat bagaimana cerdiknya Lee Dae Ryeong. Tapi aku sarankan kau memilih pilihan pertama. Sebab, meski kau melempar Chanyeol dari kehidupanmu dan bersikap tak acuh padanya, Lee Dae Ryeong tetap akan menyingkirkannya karena juga memiliki urusan dengan Rae Mi, anak kandungnya.’

Hyojin terhenyak begitu Chanyeol melambaikan tangan di depan wajahnya.

“Melamun? Ada apa? Kau punya masalah?” tanyanya bertubi-tubi.

Hyojin yang tak siap dengan jawaban palsunya cuma menggelengkan kepala sekali.

“Kemana kita akan pergi sabtu nanti?”

Pertanyaannya yang tanpa ekspresi membuat Chanyeol sumringah. Pria itu lantas memegang kedua bahu Hyojin, memberanikan diri untuk menatap kedua bola mata itu secara langsung seraya tersenyum manis.

“Hyojin-ah, aku pastikan kau akan terus merasakan kebahagiaan.” Ucapnya tulus, “Terima kasih sudah memintaku untuk menjadi kekasihmu.” Kemudian malu atas perkataannya sendiri.

“A-aku merinding!” seru Hyojin sambil melepas tautan tangan Chanyeol. Meski dianggap menggelikan, tapi ucapan Chanyeol mampu membuat gadis itu sedikit tersipu. “Kata-katamu… ukh…”

“Ma-maaf, aku lupa kalau kau gadis yang berbeda.”

“Yah, kau pasti mengingat mantan kekasihmu. Aku paham.”

“Kenapa malah membahas mantan pacarku?. Hah! Kau cemburu kan?”

“Enak saja! Apa keuntungannya cemburu padamu?!”

“Apa salahnya cemburu pada kekasih sendiri?!”

“K-kau!”

Hyojin kehilangan kata-kata. Chanyeol tersenyum puas karena menang debat.

*Hyojin POV*

Sunbae!”

Seseorang di bangku depan memanggilku. Aku menghampirinya dengan langkah gontai dan wajah lesu, mengabaikan sikapnya yang heboh sendiri melihat kedatanganku di kelas bahasa dosen Im.

Sunbae darimana saja?. Hampir saja kau melewatkan kelas ini.” Katanya dengan suara menggebu. Maklum, anak tingkat satu yang belum tahu bagaimana kejamnya dosen Im kepadaku. Tidak, tidak, maksudnya kepada semua mahasiswa.

Sunbae sudah mengerjakan makalah bagian sunbae kan?. Tolong jangan sampai membuat nilai kelompok turun karena kepikunanmu.” junior yang lain, yang juga duduk didekatku, mengingatkan soal tugas menyebalkan itu dengan wajah yang tak kalah mengesalkannya. Heran, padahal mukanya itu imut, perawakannya pun seperti bocah SD yang manis, tapi mulutnya tajam seperti ibu mertua huh!.

“Ji Hoon-ah!, bukannya tak sopan bicara seperti itu pada senior?”

Itu Kwon Soonyoung, seumuran dengan Ji Hoon (junior bermuka imut) dan sama-sama memiliki mata segaris yang indah, tapi berbeda sifat. Bocah maniak komik dan animasi Jepang ini salah satu mahasiswa yang sering mendapat pukulan hangat dari Ji Hoon selain Seungkwan yang memanggilku kemari.

Tunggu, tunggu… kenapa aku malah membahas anggota kelompokku?. Akh, aku semakin stress saja akhir-akhir ini. huft, fokus Hyojin, setidaknya sampai ujian selesai dan kau bisa mengambil cuti dengan tenang.

“Kyaaaa itu Myungsoo kan?”

“Benar! Dia sudah masuk kuliah lagi? Dan sekarang mengambil kelas yang sama dengan kita?!”

“Myungsoo-ya! Apa kabar?”

“Wah, sunbae sudah selesai wamil ya?”

“Dia tampan sekali!”

Tampaknya tak bisa seratus persen tenang, haha…

“Oh, jadi dia Myungsoo sunbae yang sering dibicarakan senior lainnya?”

Apa-apaan si Myungsoo ini sampai Boo Seungkwan sang anak baru sampai mengenalnya pula?!.

“Siapa dia?” tanyaku akhirnya, mengenyampingkan rasa tak acuhku. Sebenarnya tidak begitu penasaran juga, tapi siapa tahu dia anak konglomerat yang ada hubungannya dengan Lee Dae Ryeong juga?. Hei!, bahkan Bang Yongguk dan dua anak buahnya pun tak seheboh ini sambutannya. Apalagi Sehun yang terkenal tampan dan Jong In yang dianggap seksi oleh banyak wanita. Wanita gila tentu saja.

Sunbae tidak kenal Myungsoo sunbae?” bukannya menjawab Seungkwan malah bertanya balik dengan keterkejutannya. Berlebihan. Memang si Myungsoo ini penyelamat Negara? Titisan dewa atau idol tampan yang tergabung dalam grup bernama Infinite?. Ugh, lupakan perkataan konyolku.

“Memang si Myungsoo ini penyelamat Negara? Titisan dewa atau idol tampan yang tergabung dalam grup bernama Infinite?”

Hebat! Bagaimana Ji Hoon punya perkataan yang serupa?. Apa dia membaca pikiranku? Tidak kan?

“Yang aku dengar, Myungsoo sunbae adalah mahasiswa terbaik di jurusan psikologi sebelum masuk wamil, jurusan yang sama dengan Hyojin sunbae. Karena itu agak mengherankan kalau sunbae tidak mengenalnya.” Akhirnya Soonyoung menjawab pertanyaanku yang hampir kulupakan. Lain kali akan aku belikan permen untuknya.

“Kalian sedang membicarakanku ya?”

Entah sejak kapan pria dengan lesung pipi itu sudah berada diantara meja kelompokku, berdiri tegap sambil memasang senyuman tampan yang membuat mahasiswi lain meleleh dan memberiku tatapan tajam karena iri. Bodoh, apa yang bisa di irikan dari kehidupan gadis tengik Lee Hyojin huh?. Pria ini cuma cari perhatian, mencoba memancing setiap gadis agar memiliki rasa ketertarikan padanya. Si Myungsoo ini memiliki aura yang sama dengan Himchan, meski tak begitu mirip.

“Se-sebenarnya-”

“Memang sehebat apa dirimu sampai kami harus membicarakanmu?” tanyaku, menghentikan Seungkwan bicara jujur dan membuat pria cassanova ini semakin besar kepala.

“Ah, bukan begitu.” Ucapnya dengan lembut, meminta maaf padaku -tidak, pada kami sebenarnya jika sudah menyinggung perasaan kami. Setelah itu dia pergi, menyisakan tatapan menusuk dari para wanita penggemarnya.

Sunbae!, kenapa bicara kasar begitu?”

“Entahlah, kebiasaan.” Bohongku, “Lagipula bau rokoknya benar-benar menyengat.”

“Hah? Bau rokok?. Siapa? Myungsoo sunbae?”

Pertanyaan Soonyoung kujawab dengan anggukan kepala, “Kalian tak menciumnya?. Dia mengingatkanku pada seseorang yang kutemui di toko roti, punya bau rokok dan alkohol yang menyengat. Karena itu dia memakai parfum yang sangat banyak untuk menyamarkan baunya.”

Eh?, bukannya pria di toko roti yang mengembalikan dompetku itu juga punya lesung pipi?. Apakah mereka orang yang sama?. Aku tak begitu ingat karena tak memperhatikan dengan baik wajahnya, tapi keduanya punya kebiasaan yang sama, menyemprotkan banyak parfum pada tubuhnya. Jadi, si Myungsoo ini juga pecandu alkohol dan rokok?.

“Bukankah Myungsoo sunbae dikenal akan kebaikan hatinya?. Saat pemeriksaan kesehatan dia juga dinyatakan bersih. Bagaimana sunbae bisa beranggapan begitu?”

Ucapan Ji Hoon mengejutkanku. Jelas-jelas hidungku ini mencium bau rokok diantara wangi parfumnya, bagaimana bisa dia lolos dari pemeriksaan kesehatan yang dilakukan setahun sekali?, apalagi untuk seorang pecandu?!. Yah, memang aku masih belum tahu apakah Myungsoo ini termasuk pecandu. Mungkin dia baru mencoba rokok untuk pertama kali?.

Benar, tidak perlu mencari tahu tentangnya. Tak ada keuntungan untuk itu. lebih baik fokus soal Lee Dae Ryeong. Oh iya, aku harus memberitahu Jinhyo soal rencanaku dan Yong Hwa sunbae. Anak itu harus dihajar supaya tidak membuat masalah secara tiba-tiba.

“Myungsoo sunbae sudah mau bersiap magang?”

“Hebat!, padahal baru selesai cuti wamil.”

Ah, percakapan mereka masih saja soal pria parfum itu. terserah, aku harus menghubungi Jinhyo sekarang. Mumpung dosen kejam itu belum datang.

“Dimana dia akan magang?”

“Dimana lagi!, tentu saja perusahaan kolega ayahnya, Jaeguk yang terkenal itu!”

Aku hampir menjatuhkan ponsel. Perkataan Soonyoung sedikit mengejutkanku, bahwa si Myungsoo itu ada hubungannya dengan Lee Dae Ryeong. Tak heran, perusahaan besar di tua brengsek itu memang punya banyak kolega, rekan bisnis yang bertebaran seperti semut yang mengerubungi gula. Mungkin Myungsoo dan keluarganya juga bagian dari semut-semut itu, tak begitu berbahaya untukku.

“Ya halo? Ada apa? Apa noona sudah mendapat cara untuk membalas pria tua sialan itu?”

Tapi untuk berjaga-jaga, agar rencanaku tak diganggu dan supaya usahaku melindungi orang-orang yang kusayangi tak digagalkan… kurasa menjaga jarak dengan Myungsoo adalah ide yang tepat.

~To Be Continue~

Nah, nah, nah! Si Myungsoo sudah muncul akhirnya!. Semoga chapter ini gak membosankan dan romance scene nya kerasa ya walau dikit-dikit kekekeke~

Abisnya author sendiri belum ada pengalaman manis-manis-romance yang bisa dibuat ff lagi. Yang lalu sudah dipakai chapter-chapter sebelumnya jiakakakakak *miris* dan karena banyak hal-hal lain yang dibahas sebelum adegan romance intinya sih. Jadi semoga pembaca sekalian bisa menikmatinya yeth~

By the way, finally SEVENTEEN jadi cameo urryeaaah!. Ada Woozi, Hoshi dan Seungkwan. Pengennya sih taruh si triolawak tapi kok kesannya ini ff malah berubah jadi pure comedy kalau ada mereka, jadilah DK diganti Woozi terus Seungkwan dan Hoshi dibikin normal dan manis hahahaha *disate carat* semoga cameonya memuaskan imajinasi pembaca, soalnya chapter berikutnya mungkin akan ada cameo lain kekeke~

Dan hampir lupa!. Author bikin chapter bonus spesial loh!, silahkan di search siapa tahu terhibur. Adanya CHAPTER BONUS ini buat merayakan 30 episodenya FF TOPIY ini (kalau dijumlah season 1 plus re turn on kecuali season 2 yang gagal). Karena itu CHAPTER BONUS ini bakal mengulik setiap karakter tokoh FF THE ONE PERSON IS YOU. Semoga menghibur dan jangan lupa dibaca ya!

Okedeh, RCL Juseyooooo~~~

Iklan

7 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person Is You [Re : Turn On] (Chapter 8)

  1. romance CY sma Hyojin lucu, anti mainstream. Gegara tikus jadi bisa beduaan di UKS.. wkwk
    makin serruu dan makin penasaran..
    di tunggu next chapnya ya thor..

  2. Ngakakk sam jongin… pembunuhan tikus? Kkkk konyol 😀
    Ciee yang sekarang mesra”an..
    Tambahin lagi dong kak,, scene romancenya kurang banyakk 🙂
    Kok pas udh pcran chanyeol kek orang gila sih..

    Seneng akunya.. updatenya cepet :’) hehee
    Fast update lagi yakk…
    Dipanjangin lagi scene chanjinya kkkk
    Ditunggu…

  3. apa-apaan sehun jongin… kukira mreka duo ini agak normal daripada hyojin.. ternyata sama” sengklek yaa.. manly apanya kalo takut sama tikus… kkkkkk
    tapi kocaknya mereka ituyg bikin terhibur kalo baca ff ini.. walopun berantem tak terelakan, tapi persahabatan tetep mulus….
    dan chanyeol udah gak dingin n cuek sama hyojin pas udah jadi pacar,,, ihhh plin plan chanyeol ini…konyol pulaa …kkkkkk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s