[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 9)

philosophyoflove

Tittle: Philosophy of Love
by Tyar

Chapter | Romance | T

Cast: Oh Sehun – Bae Irene. Etc

Disclaimer
2016/2017 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Inspired by
Perahu Kertas
AADC2

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

[1 – 8]

-9-

“Pelan-pelan aku menyadari, aku takut ketika tidak mendapatimu di sisi.” –Sweet Nothings, Sefryana Khairil.

Hari demi hari berlalu dengan cepat. Siang ini setelah kembali dari booksigning The Clan seri pertama di salah satu toko buku, Irene melesat ke Cosmic untuk menemui Baekhyun yang sudah kembali dari cuti menikah. Sejak pagi, yang membuat Irene begitu semangat bukanlah acara demi acara promosi buku miliknya, melainkan Cosmic yang beberapa hari ini tak dikunjunginya. Secara sadar atau tidak, Irene berharap kali ini mood Sehun sudah membaik.

Namun harapan tinggallah harapan. Ketika dirinya sampai di tempat tujuan, jangankan mendapat sapaan ramah dan senyum manis Sehun. Menyadari keberadaannya pun sepertinya tidak. Laki-laki itu begitu sibuk di meja kerjanya, sesekali barlalu-lalang ke ruangan lain untuk keperluan sesuatu, namun kemudian kembali dengan pekerjaannya.

Sementara Irene mencoba merasa baik-baik saja dengan itu. Dirinya berusaha fokus di meja meeting bundar bersama Baekhyun untuk membicarakan editing novel fantasi seri terakhirnya. Pun inilah minggu-minggu penantian seri kedua dari The Clan terbit di pasaran. Itu berarti, kerja sama Irene bersama Cosmic hampir selesai. Maka ketika seri ketiga telah finish nanti, dia tak akan memiliki banyak urusan lagi dengan penerbit buku itu. Dan Sehun? Alih-alih mendapatkan keyakinan, dia malah dicampakkan.

“Pengantin baru beda ya, auranya.” Timpal Wendy ketika bergabung di meja meeting dan memberikan beberapa rencana desain cover untuk seri terakhir.

Baekhyun yang tengah asik berdiskusi dengan Irene segera tertawa pelan, “Beda gimana? Makin ganteng, bukan?”

“Dih.” Delik Wendy malas. Membuat Irene tertawa.

Baekhyun memberi jeda untuk diskusi mereka. Lantas Irene beralih memperhatikan desain-desain rancangan Wendy yang selalu membuat dirinya bingung memilih. Gadis berponi itu pun menyikut lengannya, “Keliatannya kalian berdua nggak ada kemajuan, ya.”

Mendengar itu, sontak Irene dan Baekhyun mengangkat pandangan mereka dan saling bertatatapan. Gadis itu hanya tersenyum kaku dan mengusap belakang lehernya. Kali ini sang editor melirik ke arah meja kerja Sehun.

“Jadi dia nggak add KaTalk kamu, Rene?”

Irene menggeleng. “Mungkin Sehun lagi sibuk.”

“Lebih tepatnya, menyibukkan diri.” Sahut Wendy santai. Membuat Irene dan Baekhyun lagi-lagi menoleh dan saling bertatapan.

“Kayaknya masalahnya ada di kamu, Rene.”

Irene kembali menatap desain-desain cover yang ada di genggamannya kemudian berdehem, “Kayaknya yang ini lebih cocok, Wen.” Sarannya tanpa mau menanggapi pernyataan Baekhyun barusan. Itu bisa jadi sebuah fakta. Fakta yang ingin dia elak. Ekspresinya kali ini mendingin, Irene sungguh tak ingin membahasnya. Kelakuan Sehun yang tiba-tiba bersikap tak peduli dengan keberadaannya saja sudah membuat moodnya terganggu. Kemudian ditambah dengan pembahasan yang tak ada habisnya itu, Irene frustrasi.

xxx

“Nggak akan sekalian bahas ilustrasinya?” tanya Baekhyun jahil ketika Irene berdiri dan mengucap pamit untuk mengakhiri meeting kecil itu.

Irene tertawa ringan, “Bisa nanti-nanti. Saya sih, ikut yang punya ilustrasinya aja.”

Baekhyun tersenyum gemas, “Sehun, Irene mau pamit. Nggak akan nyapa dulu, nih?” serunya tidak tau malu. Membuat mata Irene membulat dan meringis malu karena teriakan Baekhyun mengundang perhatian orang-orang ––terutama Sehun.

Pria itu menoleh dari bilik meja kerjanya, menatap Baekhyun kemudian Irene beberapa saat. Dia pun diam-diam menghela nafas sembari berdiri dan menghampiri tempat Baekhyun dan Irene.

Selagi pria tegap itu melangkah, Baekhyun segera melirik jam di tangannya, “Saya masih banyak urusan, nih. Duluan, ya.”

Irene mendengus, merutuki sikap editornya yang asal. Seketika Irene terpaksa harus menahan nafas demi menerima keberadaan Sehun yang sudah berdiri di hadapannya. Pria itu tersenyum tipis, “Saya rasa meetingnya berjalan lancar, bukan begitu?”

Gadis itu tak membalas senyum Sehun sedikitpun, selain menatapnya dengan ragu. Irene menggigit bibir, meremas buku jurnal di tangannya dengan gelisah. “Kamu pasti sedang sibuk. Jadi saya akan pergi sekarang.”

Setelah memberi senyum tipis, Irene membungkuk dan berlalu dari hadapan Sehun. Sekali lagi, merutuki dirinya sendiri karena sudah membuang kesempatan.

Sehun menghembuskan nafas dengan berat. Kemana hasrat yang selama ini selalu menggebu dalam dirinya? Yang selalu membuat kakinya gatal untuk mengejar Irene lalu mengajaknya makan siang. Dia kehilangan gairah untuk melakukan itu. Meskipun, sekalinya menatap Irene, membuat tubuh Sehun bergetar, dan ingin mendekap tubuh ramping itu ke dalam pelukannya.

xxx

Irene menatap novel di tangannya dengan seksama. Novel fantasi seri keduanya yang baru saja terbit kemarin. Ya, beberapa minggu telah berlalu setelah hari itu. Kini gadis itu berada di dalam mobilnya setelah event Launching book The Clan: Grey telah berakhir setengah jam yang lalu. Bukannya merasa bahagia menyambut karya barunya, Irene malah meratapi novel itu dengan tatapan sendu. Dia menggigit bibir, membuka halaman demi halamannya hingga dia menemukan ilustrasi pertama. Ilustrasi yang juga membuat novel itu semakin melejit. Namun sayangnya, Sehun tidak bisa menjadi guest star lagi seperti sebelumnya. Jangankan menjadi bintang tamu, datang untuk sekadar memberi dukungan dan duduk di salah satu kursi pengunjung, pun tidak. Sehun sibuk. Dia menerima 2 naskah sekaligus bulan ini, Baekhyun mengatakan bahwa itu bukanlah sesuatu yang biasa Sehun lakukan.

Kali ini Irene meraih sebuah buku lain yang lebih tipis di kantungnya. Filosofi Cinta. Karya miliknya yang sebelumnya. Akhir-akhir ini, dia membaca buku itu kembali entah untuk dan karena apa. Dia merasa sudah sinting. Membaca buku semacam itu di saat-saat seperti ini hanya akan memperburuk suasana hatinya. Namun dia tetap membuka buku itu, membuka halaman yang terakhir kali dia baca.

Ara tidak pernah bisa memahami kenapa Rui selalu ada di sekitarnya. Semenjak pernyataan cinta seminggu lalu, Ara jadi canggung bahkan tak ingin menemui pria itu. Namun Rui tetap bersikap sama, hanya saja kali ini dia beberapa kali membicarakan cinta yang dia punya untuk Ara. Rui mencintainya, tapi bukan itu yang Ara inginkan dari Rui. Hidup ini terlalu realistis untuk sekadar mengurus soal cinta. Maka, Ara meminta Rui untuk mencarikan definisi cinta untuknya, jika pria itu memang ingin Ara menerimanya.

Irene menutup buku itu dengan cepat, bahkan sebelum satu halamannya selesai dibaca. Agaknya, apa yang pernah Sehun katakan mungkin benar. Karakter Ara adalah dirinya. Dia ingin ada seseorang yang menjelaskan definisi cinta padanya. Namun kini dia sadar bahwa dirinya telah salah. Selamanya cinta tak akan memiliki arti. Mungkin orang-orang lebih benar, bahwa cinta tidak butuh apa-apa. Itu terbukti, ketika Irene mulai merasa kehilangan Sehun.

––Dia benar-benar mencintainya.

Irene ingin Sehun selalu menatapnya, tersenyum dan berbicara banyak hal padanya, seperti beberapa waktu lalu. Kali ini gadis itu bersumpah bahwa Ara telah salah karena sudah menuntut Rui untuk menemukan arti cinta. Dia yang sudah menciptakannya seperti itu, Irene merasa sangat bodoh. Rindu yang tiba-tiba menguap itu berhasil menampar dirinya begitu keras, bahwa yang Irene butuhkan hanya Sehun. Persetan dengan apa yang harus cinta butuhkan di dunia ini. Irene ingin Sehun kembali, Irene ingin Sehun melangkah bersama dirinya. Dia yang membenci Sehun karena telah bersikap dingin seperti ini adalah bukti bahwa Irene ingin hidupnya kembali diwarnai Sehun, bukan orang lain.

Di bawah cahaya senja yang mulai menyelimuti langit, di dalam mobilnya Irene lagi-lagi menangis dan membenci dirinya sendiri.

xxx

Rui sadar, Ara mungkin memang benar. Cinta tidak berdiri sendiri. Selalu ada alasan, kenapa saling mencintai. Cinta membutuhkan banyak hal penting. Meskipun, gadis itu belum bisa memberikan jawaban padanya, apa itu cinta. Yang pasti, mulai hari ini Rui akan menjadi manusia realistis yang memberi realita terbaik bagi Ara, dia akan memberi segala hal yang cinta dan Ara butuhkan. Rui tersenyum lebar, menampakkan deretan gigi putihnya yang rapi. Kemudian meraih kedua tangan gadis di sampingnya dengan lembut. “Ara, hidup ini tidak selalu melulu soal cinta, seperti katamu. Makanya, izinkan aku berbagi duniaku padamu. Aku punya banyak hal yang menarik selain cinta.”

Selesai.

Sehun menutup buku berjudul Filosofi Cinta itu perlahan. Dia menghembuskan nafas. Inilah kali kedua dia membaca novel itu. Alih-alih tertarik dengan dua novel fantasi terbaru karya Irene, dia malah kembali membaca buku itu, dengan suasana yang sangat mendukung.

“Omong kosong,” gumam Sehun sembari memandangi novel itu dengan dingin.

Semua yang Irene tulis di dalam buku itu adalah omong kosong. Rui sudah sangat tulus mencintai Ara, tapi tokoh bernama Ara itu selalu saja memberi macam-macam teori soal cinta. Bagi Sehun, semua teori itu tidak lebih dari kebusukan. Dia bersumpah, pendapatnya tidak akan pernah berubah seberapapun dia mencintai Irene. Baginya tetap, cinta hanyalah cinta.

Lelaki itu menghela nafas, mengalihkan pandangannya keluar jendela. Menatap gemerlap malam kota Seoul sejauh mata memandang. Dia mulai menemukan titik terjenuh dalam hidupnya. Memiliki tumpukan pekerjaan bukanlah keinginannya, melainkan pelarian agar dia sibuk dari Irene.

Sesekali dia berpikir, bagaimana caranya meyakinkan Irene bahwa Ara salah. Cinta bisa berdiri sendiri. Cinta tidak butuh apa-apa, dan tidak butuh definisi. Bahkan baginya, jika disana ada keraguan sedikit saja, maka kemungkinan cinta ada bersama itu. Bagaimana caranya agar Irene mau mengakui bahwa gadis itu masih mencintai Sehun? Dan berhenti membunuhnya secara perlahan.

Tiba-tiba saja ponselnya bergetar. Tangan Sehun segera merogoh saku celana dan mengangkat sebuah panggilan.

“Ya, bu?” sahutnya lesu.

“Kamu masih banyak kerjaan, Hun?”

“Hm, begitulah. Aku nggak pulang malam ini, bu. Maaf belum sempat mengabari. Aku harus menyelesaikan semuanya dengan cepat.”

Ibunya tersenyum di seberang sana, “Nggak apa-apa. Asalkan kamu tetap bisa istirahat yang cukup, dan makan teratur. Masih ada banyak yang harus kamu siapkan, kan, sebelum hari besar itu?”

Sehun mengangguk, “aku sudah membicarakannya dengan direktur di Cosmic. Sempat berdiskusi juga dengan teman-teman yang lain. Mereka nggak setuju kalau aku berhenti.”

“Ibu juga nggak mau kamu berhenti, hun. Apalagi jika Irene adalah salah satu penyebabnya. Kamu kan masih bisa banyak melukis sambil bekerja.”

“Hm. Direkturku menyarankan untuk cuti. Kabar baiknya, dia memberiku kebebeasan untuk waktu yang harus aku ambil. Apakah sebulan-dua bulan, beliau nggak keberatan.”

Terdengar helaan nafas lega, “Syukurlah. Dengan begitu, kamu bisa fokus untuk mempersiapkan semuanya.”

“Hm. Sampaikan salamku pada semua orang di rumah. Jaga kesehatan, bu. Aku mencintaimu.”

“Iya. Ibu juga, nak.”

xxx

“Novel kedua dari The Clan ‘The Clan: Grey’ karya Bae Irene berhasil menjadi Best Seller dan berada di urutan pertama pada daftar Top Ten Novel di awal musim dingin.”

Salju pertama turun ketika Irene tengah menikmati teh hangat di depan jendela kamarnya yang berembun. Sejak kemarin-kemarin, udara di luar sana terus saja menurun. Terutama hari ini, Irene tak mau membayangkan betapa dinginnya saat ini di luar. Sebuah headline news baru saja selesai dibacanya. Dia tersenyum tipis, dua minggu semenjak seri keduanya terbit. Karyanya selalu membanggakan seperti biasa. Namun untuk saat ini, keberadaan novel trilogi itu justru membuat dirinya berkali-kali menyesal. Terlebih, di setiap artikel mengenai novel The Clan miliknya, selalu saja tersemat paragraf yang membicarakan ilustrasi-ilustrasi Sehun yang luar biasa.

Gadis itu meletakkan ponselnya di atas nakas, kemudian kembali menyesap isi cangkirnya dengan perlahan. Sedingin apapun cuaca di jalanan, Irene tetap harus melewatinya hari ini.

Beberapa menit setelah menikmati indahnya turun salju, juga hangatnya teh, Irene segera memakai mantel tebal dan syalnya. Kemudian meraih kunci mobil dan tasnya sebelum berlalu turun ke lantai bawah.

Hari ini, rapat finishing novel seri terakhir miliknya. Semua prosesnya nyaris rampung. Editing, proof-reading, dan desain cover sudah selesai. Hari ini, Irene akan melihat hasil ilustrasinya. Maka setelah itu, novel The Clan: Red pun akan segera proses cetak, juga melengkapi proses-proses administrasi lainnya.

Irene tidak tau harus bereaksi apa hari ini. Akhirnya, dia akan kembali berhadapan dengan Sehun. Dia harap hari ini akan lebih baik, dia harap sesuatu akan kembali seperti sebelumnya dan membuat moodnya lebih bagus dari sebelumnya.

Tidak ada lagi yang Irene inginkan dari projek triloginya bersama Cosmic itu. Dia hanya ingin semuanya segera berlalu dan selesai, agar Irene bisa mengutarakan semuanya. Agar Irene dapat mengatakan keputusannya pada Sehun sebelum sesuatu membuatnya menyesal dan berubah pikiran.

Namun keadaan cepat sekali berubah. Ketika Irene sudah siap untuk menggunakan kesempatan dengan sebaik mungkin, Sehun justru sudah tidak ada di sana. Meja kerjanya rapi dan tampak nyaris kosong. Irene duduk di kursi meeting dengan tidak nyaman, menatap rekan-rekan timnya dengan tatapan tanya. Baekhyun tampak menghela nafas dan mengusap belakang lehernya.

“Jadi, dia nggak bilang sama kamu?”

Irene menggeleng pelan, jemarinya yang dingin saling bertautan di bawah meja, saling meremas dengan resah. Terdengar desahan pasrah dari mulut Baekhyun.

“Sehuuun, Sehun. Dia tuh kenapa, sih?” gerutunya. Membuat Irene semakin tidak enak hati.

“Sehun sudah ambil cuti beberapa bulan sejak minggu lalu.” Kali ini Suho yang menyahut.

Irene tak menjawab, entah kenapa bibirnya kelu. Dia hanya ingin orang-orang di hadapannya itu segera menjelaskan kenapa Sehun tidak ada di kantor. Kenapa Sehun menitipkan semua hasil final ilustrasinya pada Baekhyun. Kenapa Sehun harus mengambil cuti selama itu.

“Kita juga nggak tau persis untuk apa dia cuti. Sehun cuma bilang dia harus fokus mengurus sesuatu untuk beberapa bulan kedepan. Entah apa itu, mungkin cuma Direktur yang tau. Sehun berpesan supaya kita nggak usah cerita ke kamu, karena dia bilang dia mau dia sendiri yang kasih kabar. Tapi ––” Baekhyun menggantungkan kalimatnya, menoleh pada teman-temannya dan saling bertatapan.

Irene menggeleng, “Dia menghindari saya. Dia nggak mau saya tau kemana dia pergi.”

Baekhyun mengerjap, menelan ludah sembari memberikan ekspresi gemasnya. “Nggak, Irene, nggak. Saya rasa nggak seburuk itu situasinya. Dia bukan mau menghindar. Dia cuma… Dia cuma,” ––entahlah, Baekhyun mengusap keningnya perlahan, kehabisan kata-kata, tak menemukan alasan untuk sekadar menghibur hati Irene.

“Percaya, deh. Dia pasti punya sesuatu yang harus dia selesaikan. Kamu tenang aja. Sehun cuma cuti, bukan mengundurkan diri.” Wendy mengusap lengan Irene lembut.

“Meskipun sebelumnya memang berniat begitu,”

“Sst!” Baekhyun segera melotot ke arah Suho.

“Dia berniat mengundurkan diri?” gumam Irene penasaran.

Apa itu? Dia tidak yakin apakah sesuatu itu hal yang buruk atau bukan. Kenapa dia harus merahasiakannya dari semua orang? Itu membuat Irene cemas, cuti beberapa bulan bukanlah waktu yang wajar dan sebentar. Siapa yang tau cuti itu akan berubah menjadi benar-benar mengundurkan diri dan membuatnya tak kembali?

Kali ini Irene memejamkan matanya beberapa detik, kemudian menatap ketiga partnernya sembari tersenyum tipis. “Bisa kita lanjutkan meeting ini?”

xxx

Pada dasarnya, ada banyak cara untuk bisa menemui Sehun saat ini. Irene sudah mendapatkan nomor ponsel dan id Katalk milik Sehun. Tetapi itu percuma saja jika pemiliknya bahkan tidak mengaktifkan nomornya sama sekali. Seperti sekarang ini.

Selama perjalanan pulang, Irene sudah mencoba beberapa kali untuk menghubungi Sehun. Namun hasilnya selalu sama; nihil. Jelas sudah, Sehun melarikan diri. Lagi.

Mungkin ini yang dirasakan Sehun ketika dirinya yang melarikan diri dari semua orang selama 2 bulan waktu itu, Irene merasa bersalah. Namun dia tiba-tiba saja teringat sesuatu ––kos-an Sehun. Ya, dia harus mencobanya.

Maka di lampu hijau selanjutnya, Irene berbalik arah menuju rumah kos-an yang dulu pernah dikunjunginya bersama Sehun.

Setengah jam dalam perjalanan, tubuh Irene sempat menegang. Sedan hitamnya berhenti di pelataran parkir yang sudah mulai ditutupi dengan gundukan-gundukan salju. Setelah menatap gedung vintage lewat jendela kaca mobilnya, Irene pun turun dan berjalan dengan ragu ke dalam sana.

Jam tangan yang melingkari pergelangannya kini menunjukkan pukul 5 sore. Cahaya senja di musim dingin sempat menembus beberapa jendela yang menghiasi ruang tamu luas di lantai 1 itu. Lantas Irene segera mempercepat langkahnya dan menuju kamar milik Sehun yang berada di lantai teratas dan terujung.

Irene menahan nafas kala menatap pintu kayu tua di hadapannya. Tangannya meraih engsel pintu dan tanpa menunggu apapun dia mendorong pintu itu untuk membukanya.

Senyap. Jantung Irene sempat tersentak beberapa detik. Darahnya mendesir begitu cepat ke seluruh aliran tubuhnya. Irene rasakan kini matanya mulai memanas. Yang didapatinya saat ini hanyalah kosong. Jangankan Sehun, bahkan kanvas-kanvas yang pernah dikaguminya itu tak satupun berdiri menyambut kedatangannya. Ruangan pengap itu kosong. Hanya tersisa bercak-bercak cat yang mengotori setiap penjuru dinding dan lantai. Irene kehabisan kata-kata. Kakinya yang lesu terangkat perlahan untuk melangkah, mendekati jendela putih yang terbuka membiarkan kesiur angin melambaikan tirai putih kusamnya dengan lembut.

Kedua tangan Irene menyentuh permukaan kusen yang dingin, matanya memandangi langit sore dan matahari yang nyaris hilang. Yang tersisa dalam dirinya kini hanyalah ketakutan. Di saat Irene tau apa keputusan yang harus dia ambil, Sehun justru pergi menghilang. Melarikan diri lagi seperti waktu itu, seperti 7 tahun yang lalu. Tidak ada yang tau, apakah Sehun benar-benar akan kembali lagi atau justru berubah pikiran dan meninggalkannya sekali lagi.

| to be continued |

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 9)

  1. sungguh menyesakkan, rada gemes juga dan menyalahkan sikap irene yang terlalu egois dan bertele tele, dalam hati “tau rasa!” #maafkansayambakirene😂
    semoga sehun ga nekat

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s