[EXOFFI FREELANCE] Black Enchanted (Chapter 7)

BLACK ENCHANTED CHAPTER 7 (FIND)

Author        : Rhifaery

FB        : Rhifa Chiripa Ayunda

IG        : @chiripachiripi

Blog        : rhifaeryworld.wordpress.com

Main Cast    : Airin (OC), Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun and Suho  (EXO-K)

Other Cast    : Kris, Luhan, Lay, Chen, Xiumin and Lay (EXO-M)

Genre        :Fantasy, Romance

Rating        : 17+

Author Note    : Inspired by Diabolix Lovers

Summary    : Airin yang tak pernah tahu asal-usul keluarganya, tiba-tiba dikirim pihak gereja ke sebuah rumah berisikan enam pria menawan: Sehun, Kai, Chanyeol, D.O, Baekhyun dan Suho yang ternyata masih mempunyai hubungan darah dengannya. Namun kenyataan mengatakan bahwa mereka adalah vampir yang haus akan darah manusia. Menjadi satu-satunya seorang mortal mampukah Airin membebaskan diri tanpa pernah terikat dengan pesona mereka?

Semua orang hidup untuk sebuah alasan.

    Masing-masing makhluk memiliki alasan untuk diciptakan. Baik hitam maupun putih, kotor atau  suci, semuanya telah diturunkan oleh Sang Maha Pencipta mengisi tempat yang bernama bumi. Hanya saja untuk menciptakan seorang makhluk Tuhan nyatanya lebih pilih kasih. Diberikannya manusia akal untuk membedakan baik dan buruk. Hal yang sebenarnya sangat diinginkan makhluk lain. Untuk itulah semua makhluk berlomba-lomba merusaknya. Sebisa mungkin menyesatkan seorang manusia agar tidak bisa berpikir normal hingga jauh dari kewarasan.

    Selain akal, ada pula sesuatu yang membuat makhluk lain iri. Mereka menyebutnya jiwa. Dua hal yang berbeda namun hubungannya sama. Akal yang sehat membentuk jiwa lebih bermakna. Begitu pula sebaliknya. Mereka bisa memilih untuk dihancurkan lebih dulu. Lalu setelah itu, akan dibuatnya manusia itu mati rasa.

***

    Tao menyesap vodkanya. Sekali lagi melihat pergerakan pelan seseorang di atas tempat tidurnya. Seseorang yang sudah ia buat pingsan hanya dengan satu pukulan di tengkuknya. Lantas mengikat tangannya di ujung tempat tidur. Gadis yang menawan. Mungkin karena itulah Tao merelakan waktunya berjam-jam menunggunya di kamar sampai ia bangun. Tentu saja ini tidak gratis. Akan ada bayaran yang diminta sampai dia sadar kembali.

    Benar saja, tak lama kemudian dia pun melihat erangan kecil keluar dari bibir manis itu. Sedikit memekik dia masih tak sadar bahwa kedua tangannya terikat. Perlahan mata gadis itu terbelalak melihat sosok asing yang ada di sampingnya. Tidak, ini bukan kamarnya. Karena dia tidak melihat selimut putih yang ia gunakan tidur tadi, dan perihal orang yang saat ini mendekatinya, dia sama sekali tak mengenalnya.

    “Kau lemah. Seorang Eve Klettern tidak mungkin selemah ini.” Sindir Tao tepat. Kembali menyesap aroma Vodka yang semerah darah.

    “Kau siapa?”  Meskipun dari nada suaranya terdengar bergetar tapi dia sama sekali tak memiliki ketakutan yang nyata. Matanya menatapnya dengan pandangan biasa. Bisa jadi permainan menarik untuk Tao.

    “Kau pikir selama ini kau berada di sekitar siapa?” Balasnya kelewat lembut. Tao mendekati ujung ranjang, menaruh vodkanya di meja lantas menelusuri wajah cantik itu dengan tangannya. “Airin, namamu Airin bukan?”

    Gadis itu tak menjawab. Melainkan memalingkan muka. Tak perlu ditanya bahwa ini termasuk adegan penculikan. Dia hilang dari tempat yang seharusnya lantas berpindah ke tempat, katakanlah lebih menyeramkan. Hanya saja, mengapa lagi-lagi seorang vampir yang membawahnya.

    “Kau bisa membunuhku kalau kau mau?” Ucapan kelewat pasrah itu tiba-tiba muncul. Membuat Tao mengeluarkan tawa keras sampai. Menggerikan karena inilah pertama kalinya Airin mendengar iblis tertawa.

    “Bagaimana jika aku memberikanmu tawaran menarik?” Siapa yang tidak tertarik. Tatapan lembut ditambah senyum menggodanya mungkin akan membuat semua gadis normal bakal terlena. Tapi Airin tak peduli. Meski dia jelas berbeda dengan saudara Klettern itu. Sedikit lebih menyeramkan karena iris mata yang hitam mencekam. “Aku bisa memberikan apapun yang kau mau, asal kau menjadi slave-ku.”

    “Tidak akan.” Jawab Airin cepat. Itu sangatlah terlaknat bagi Airin. Meski posisinya saat ini sudah mendekati itu tapi dia sangat tidak suka dia dipanggil begitu.

    “Kau akan diperlakukan dengan baik disini… hanya melayaniku.”

    “Aku tidak tertarik.” Lagi-lagi Airin menukasnya cepat. Membuat Sang penanya semakin mendekat, menyentuh pipi Airin pelan. Hidungnya ia arahkan ke leher jenjang yang masih memiliki bekas-bekas samar. Sejujurnya ia tak tertarik mencicipi makhluk lain yang sudah bekas selain dirinya. Namun dengan kurang ajarnya, dia justru memberikan jilatan ke bagian itu.

    “Memohonlah padaku, aku mungkin akan melepaskanmu.”

    Airin menggeleng, “Mungkin? Aku butuh pasti.”

    Gadis cerdas. Mungkin Si tetua Klettern itulah yang mengajarinya berpikir kritis. Dia toh tidak mungkin melepas Airin dengan begitu mudahnya. Apalagi dia belum mendapat bayarannya bukan?

    Lalu tanpa waktu lama, vampir itu melepas perlahan kancing kamejanya. Menunjukkan abs yang terbentuk sempurna di perut dan menanggalkan pakaiannya begitu saja. Airin mendadak panik. Ia sangat takut jika seorang vampir melakukan hal itu padanya. Trauma akan kejadian itu masih belum hilang.

    “Ap-apa yang kau lakukan?” Tidak banyak yang Airin lakukan dengan kondisi tangan yang terikat. Hanya kakinya yang sebisa mungkin ia layangkan mencegah pria itu agar tidak bertindak jauh.

    “Memberimu pelajaran.” Jawabnya santai. Melepas ikat pinggang dan berusaha mengikat kaki kanan gadis itu di ujung ranjang. Airin jelas memberontak. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Kumohon, bahkan mati pun lebih baik dari ini. Air mata perlahan membasahi pipinya. Tak ada harapan, kecuali satu nama yang sampai saat ini menghantui pikirannya. “Kaaaiii….”

    Sebenarnya dimanakah dia? Mengapa lagi-lagi menghilang saat Airin begitu membutuhkannya.

    “Hemm… namaku bukan Kai sayang, call me Tao.” Sedikit tersenyum dia memandangi Airin dengan puas. Memang inilah yang ia nantikan dari tadi. Ketakutan, teriakan dan kesakitan. Ini akan menjadi permainan sempurna, terlebih lagi jika gadis didepannya ini adalah Gadis Klettern.

    Braaakkk! Pintu lantas terbuka. Menampilkan sosok pria kelam dengan tudung di kepalanya. Bibirnya membentuk kurva tipis, memamerkan sedikit dari senyum bersurainya. Arah matanya memandang Tao sebal begitu pula sebaliknya. Lagi-lagi pria inilah menjadi biang, menganggu kesenang-senangannya.

    “Kris memanggilmu.” Berdecak pelan, pria yang bernama Luhan itu justru membuat Tao menyudahi dan kembali menggenakan pakaiannya.

    “Kau selalu saja menganggu permainanku.”

    Seolah tak peduli dengan umpatannya, tatapannya justru tertuju pada gadis yang melenguh kesakitan.  Kedua tangannya terikat dan hampir saja jika dia tak datang, Luhan tak bisa membayangkan lagi bagaimana kondisinya di tangan Tao.  “Bukankah aku selalu menyadarkan posisimu.”

    “Berhenti mengatakan itu.” Tao sangat kesal jika Luhan mengatakan itu. Mengungkit-ungkit  posisinya, mengakui bahwa Kris lah yang berkuasa pemegang posisi tertinggi dalam klan para vampir sehingga tidak ada seorang pun yang sanggup melawannya.

    Begitu Tao sudah meninggalkan ruangan, Luhan pun beringsut mendekati Airin. Dilepaskannya seluruh ikatan gadis itu dengan hati-hati. Mengusap sisa-sisa air mata yang menetes seolah bahwa dia benar peduli. Sayangnya, ucapan Luhan selanjutnya benar-benar merusak pikiran positif dari pria itu, “Kau berhutang nyawa padaku.”

    Setidaknya ia selamat untuk kali ini. Airin sungguh bersyukur bahwa hal buruk tidak sempat terjadi padanya. Barangkali memang benar jika ini dikategorikan sebagai hutang nyawa. “Kemana kau akan membawaku?” Tanyanyanya ragu. Pria itu memberi isyarat untuk mengikutinya.

    “Ke tempat seharusnya. Jangan berani-berani mencoba kabur atau kau akan menerima yang lebih parah.” Ancamnya.

    Airin mengangguk pelan. Mengikuti langkah Luhan keluar dari ruang. Baru dia sadari bahwa ia sedang berada di sebuah kastil. Sebuah tempat gelap dengan cahaya remang. Seperti vampir yang memang ditakdirkan untuk kaya raya, Airin pun bisa melihat kemewahan di setiap sudutnya. Lampu-lampu Kristal yang dibiarkan padam, atau barang-barang berlapis emas lainnya. Tentu karena mereka yang hidup beratus-ratus tahun sehingga bisa mengoleksi benda seperti itu.

    Namun bau anyir menyeruak, memaksa masuk ke penciumannya dan membuatnya hampir muntah. Aroma yang begitu familier, darah. Tubuhnya mendadak menegang saat Luhan membawanya pada pintu yang terbuka dengan sendirinya. Memaksanyanya masuk pada segerumbulan orang berpakaian yang sama dengan Luhan –jubah hitam dengan tudung di kepalanya. Bahkan orang yang sebelumnya, Tao  sudah berganti pakaian sama.

    Pernah Airin bermimpi pada satu malam. Saat dia melihat sosok berjubah hitam mengelilinginya seolah haus akan darahnya. Itu jauh sebelum dia bertemu orang-orang Klettern. Dan ketika mimpi itu semakin nyata, dia tak lagi didera ketakutan sama. Kakinya baru saja melangkah, mengikuti Luhan mendekati sosok yang masih berdiri memunggunginya. Barulah saat dia membalikkan badan, Airin tahu bahaya yang dihadapinya tak lagi sama.

    “Welcome to my castle princess….”  Pria itu berucap yang terdengar bagaikan petir di telinganya. Perlahan medekat dan tersenyum menawan ke arahnya. Tidak, dia sudah berkali-kali ketipu. Senyum menawan tak sepenuhnya baik bukan?

    “Aku merasa tersanjung kau mau berkunjung kesini?”

    Merasa bodoh, padahal Airin tidak benar-benar melakukan itu. “Kau yang membawaku kesini!” Ucapan tegas itu berhasil mencuri perhatian, termasuk 5 orang lainnya. Jumlahnya hampir sama dengan Klettern. Yang Airin kenal adalah Tao. Sosok beringas yang hampir menghabisi dirinya. Luhan, walaupun dari tatapannya tidak nampak dosa, namun tak bisa menjadikannya jaminan. Lalu Chen, Xiumin dan Lay yang menjadi pengikut setia mereka. Memiliki peran penting dalam kekuatan mereka. Sementara Kris, dialah yang memegang kendali atas mereka. Sosok yang bisa dikatakannya paling sempurna dari yang lain. Tidak tubuh atau wajahnya, pesona Kris begitu mengikat. Hanya saja itu tak berlaku bagi Airin, gadis yang sudah lama hidup dalam dunia mereka.

    “Kau lebih berani dari yang kuduga, dan sangat cantik.”  Pria yang bernama Kris itu menarik dagu Airin. Tidak berusaha mencium karena dia sedang berusaha mencari apa yang diinginkan di dalam sana. “Kekasih Kai, benar bukan. Kau bisa memintahnya menolongnya kalau dia sanggup.” Ungkapnya menyindir. Seolah mengakui bahwa Kai tidaklah ada apa-apanya dibanding dirinya. Vampir darah kotor, kekuatannya hanya sejengkal dari yang ia punya. Apalagi, saat ia tahu Kai sangat jarang menghisap darah manusia.

    “Aku bukan kekasihnya.” Bantahnya.

    “Benarkah, jadi kekasihku saja kalau begitu.” Tawaran yang hampir sama diberikan Tao. Dia melipat tangan masih bersenang-senang dengan mimik datar gadis itu, “Aku bisa memberikanmu apa saja yang kau inginkan. Harta, permata, kencan di atas rembulan atau…-

    “Bisakah kau membiarkanku pergi?” Potong Airin cepat. Sekalipun ketakutan benar-benar menderanya, ia toh, masih berhak mencari kesempatan baik itu. Berusaha membujuk Sang Raja Vampir agar sudi kiranya memberinya kebebasan.

    “Jika aku melepasmu, apakah kau akan kembali ke rumah Klettern itu… melayani mereka?”

    “Aku bukan seperti itu.”

    “Tentu saja bukan, karena kau lebih mirip sebagai budak nafsu mereka.” Kris memandangnya dengan senyum kemenangan.“Aku tidak suka dibantah jadi turuti saja apa mauku okey?”

    Airin hampir-hampir menangis. Tentu saja karena dia benci panggilan itu. Mendengar orang menganggapnya begitu, bukankah itu akan menjadi penghinaan nyata untuknya. Ia tidak bisa menduga apa yang terjadi setelahnya. Jika memang dia tak benar-benar seperti itu, tentu Klettern akan menolongnya bukan? Nyatanya sampai sekarang dia tak melihat pertolongan akan mendekatinya.

    “Be relax, honey. Kau mau minum?” Masih dihadapan semua, Kris menawarkan cairan merah yang tertuang langsung dalam gelasnya. Saat dia menyesapnya, aroma itu semakin kuat menyeruak. Dan dia bisa melihat bekas merah dari bibir tipisnya. Itu darah!

    Reflek Airin mundur ke belakang. Dia menggunakan darah untuk minum. Begitu menjijikkan, sampai-sampai membuat Airin hampir muntah. Matanya menatap sepenjuru ruangan, seolah mencari celah untuk kabur. Hanya saja langkah itu terhenti begitu tangannya menyentuh dan tergores benda tajam.

    Darah merembas, tetes demi tetes berjatuhan mengenai lantai. Membuat siapapun yang di ruangan itu terlonjak. Mereka vampir tentu mereka tak bisa mengontrol naluri mereka dengan darah. Terlebih dengan Kris yang saat ini berjalan cepat ke arahnya dengan menarik tangan gadis itu dan menyesapnya kuat.

    Hanya dalam lima detik. Airin pikir dirinya akan mati. Inilah akhir dari hidupnya. Tapi diluar dugaan pria itu justru melepas gigitannya. Mata bulat legamnya menghujam maniknya, seolah tak percaya dengan apa yang barusan ia rasakan.

    Darah itu…

    Ketakutan seketika menghantuinya. Membawanya pada saat-saat paling kelam jauh sebelum dia ada.  Tidak, ia lama tidak seperti ini. Setelah bertahun-tahun kejayaan menjadi miliknya, lantas mengapa dia harus melepasnya begitu saja. Dia abadi, tidak ada yang berhak menghancurkannya apalagi dengan gadis kotor sepertinya.

    “Bunuh dia!” Ucapannya tak bisa dipercaya. Bahkan Kris tak menyebut nama orang yang diperintahnya tersebut. Baik Tao atau Luhan, keduanya saling berpandangan. Gadis itu dibawah bukan untuk dibunuh. Sementara itu Xiumin malah bersiap mengambil sesuatu di balik jubahnya.

    “KUBILANG BUNUH DIA!” Teriakannya menggelegar. Iris matanya berwarna merah membuat Tao serta merta mengambil langkah maju. Meghunus pisaunya di depan mata Airin sendiri. Ini adalah kesenangannya. Menyakiti orang  dengan memberinya ketakutan seumur hidup. Walaupun tak bisa dipungkiri dia sempat menginginkannya.

    Airin sempat mengambil jalan untuk kabur sebelum dua orang dari belakang menghadangnya. Sementara di samping sudah terdapat Lay dengan senyum kecut dan sudah mengarahkan mata pisau ke arahnya. Hanyalah Luhan yang masih diam tak berkutik seolah tak setuju dengan keputusan itu. Sementara dari depan, sebuah tangan sudah bergerak ke arahnya, mencekiknya hingga membuat napasnya tersenggal-senggal.

    “Lepaskan tangan kotormu itu.” Sehun tiba-tiba hadir diantara mereka. “Kau sama sekali tak berhak menyentunya. Lanjutnya dengan wajah masam tengah malam begini. Dia menatap mereka semua satu-persatu. Paling lama ke arah Tao yang lantas menepis tangan yang bertenger di leher Airin.

    Bagaikan melihat hantu, semua yang ada di ruangan itu menjadi terkejut. Sejak kapan Sehun disini? Terlebih Kris yang berbalik dan buru-buru mengubah ekspresinya menjadi senyum selamat datangnya. “Oh Sehun, aku merasa terhormat kau sudi berkunjung di rumah kecilku.”

    Setiap kata yang keluar adalah bentuk kepura-puraan. Ia menganggap castle-nya kecil sementara setiap pemerintahan dan segala bentuk pembantaian dilakukan disini.

    “Lepaskan dia. “ Sehun lantas menepis tangan Tao yang masih dalam posisi menahan Airin. Kesempatan itu pun langsung dia gunakan untuk bersembunyi di belakang punggungnya. “Kau tak lupa dengan perjanjian kita bukan?”

    Kris tersenyum masam. Perjanjian yang membuat Klan Magvetto berjaya beratus-ratus tahun dan membuat Klettern menjalani hidup dalam pencarian atau pelarian. Kris tidak pernah ikut campur dalam setiap pencarian gadis-nya, namun untuk kali sepertinya Sehun sangat tak terima jika Kris mengambilnya apalagi menyentuhnya.

    Well, memangnya sejak kapan dia menyentuhnya, menggunakannya pun tidak.

    “Yeah, aku hanya sedikit bermain-main dengannya.”

    “Kau menyakitinya.” Bantah Sehun. Matanya menatap bulat-bulat sosok Airin seolah tidak rela jika sesuatu terjadi padanya. “Dan aku melihatmu hampir membunuhnya.”

    “Oh, ayolah Sehun, aku hanya bercanda.” Ujarnya masih menutupi kesalahannya. “Aku hanya membantumu untuk tidak membuang-buang waktumu. She ‘s not Eve just your slave!”

    Bukan Eve? Sehun memandang tajam manik itu. “Lantas mengapa ku lihat kau ketakutan saat mencoba darahnya.” Nyatanya Sehun memberikan perlawanan yang jauh lebih berani dari pada yang diduga. Sama-sama berdarah murni namun dari keturunan berbeda. Tujuan mereka berbeda.

    “Aku tidak pernah takut Sehun.”

    “Kau hanya takut saat seseorang mengancam posisimu.”

    “Ya tentu saja tapi bukan kau.”

    “Akan!” Tepis Sehun “Akan kukembalikan keadaan menjadi sedia kala. Saat Eve sudah ditemukan maka kupastikan kau akan berakhir.”

    Bruakkk!

    Seketika tubuh Sehun terlempar ke arah tembok. Tidak mengerti mengapa Kris melakukan ini, namun sepertinya ada dari nada ucapannya yang membuat Tuan besar itu marah sehingga memberikan serangan yang tiba-tiba, “Lihatlah dirimu, hanya dengan serangan kecil saja kau tidak bisa menyangkalnya, ck ck ck?”

    Tidak, ini belum dimulai. Dan belum saatnya bagi Sehun untuk bertarung. Sebisa mungkin ia mengontrol emosinya agar tidak sampai puncak. Membiarkan apapun yang pria itu lakukan untuk dirinya.

    “Tidak ingin melawan, eoh?” Tangan kekarnya sudah berada di leher Sehun. Mengangkat pria itu hingga ke atas lebih tinggi darinya lantas menghempaskannya arah lain. Masih tak ada perlawanan sekalipun timbul memar kebiruan pada lehernya. Sehun memilih merintih dalam diam.

    Airin yang melihat dengan mata kepalanya sendiri menjadi ngeri. Ini adalah pertama kalinya melihat Sehun selemah itu atau hanya pura-pura lemah. Benar-benar tak ada inisiatif membalas dan membiarkan dirinya menjadi samsak untuk Kris. Saat Airin berniat mendekati, tubuh Sehun pun tiba-tiba tiba-tiba terjungkal dengan sendirinya. Melayang menabrak meja. Begitu kesal, dalam keadaan seperti itu pun Sehun tak memilih menghindar.

    “Don’t help him!” Ujar Kris mengintruksi sebelum gadis itu datang kepada Sehun untuk menolongnya. Walaupun memang tidak mungkin, manusia menolong vampir.

    “Kumohon, berhentilah!” Walau tak cukup keras, rupanya suara itu dapat menarik perhatian semua yang ada di ruangan. Dia memohon untuk Sehun. Oh ayolah, gadis itu bahkan tak punya hak untuk menyeruhkan suaranya.

    “Kau lihat, orang yang kau pikir akan melindungimu ini bahkan tidak bisa menyelamatkan dirinya sendiri. Jadi tinggallah bersamaku saja.”

    Seolah tak peduli dengan segala bualannya, Airin malah lebih memilih merangkak ke arah Sehun. Memindahkan kepala pria itu di kakinya. Bukan sayang ataupun cinta, hanya inisiatif untuk melindungi. Dia pun tidak mengerti mengapa ia melakukan ini. Menggores tangannya sendiri lantas mengarahkannya pada bibir Sehun.

    “Habisi dia dan bawah aku keluar.” Bisiknya seduktif.

    Seketika itu Sehun bangkit. Sedikit tak percaya ia memandang bekas-bekas memar yang seketika menghilang.

    Tidak mungkin.

    Sehun memandang Airin lalu Kris. Mereka berdiri bertatapan seakan siap mengobarkan peperangan yang yang sudah lama teramalkan dalam kurun waktu ratusan tahun.

    Bukan Kris, malah Luhan yang beringsut mendekat. Tangannya yang kekar menyentuh pipi Airin. “Kurasa dia benar-benar orangnya.”

    Airin mundur menghindari sentuhan Luhan, “Tidak!”

    Tidakkah ia salah jika dia hanya berniat membantu Sehun. Insting itu sekonyong-konyongnya muncul. Perasaan marah seolah melihat temannya tersakiti. Dan Sehun yang masih tak percaya, diam di tempat sambil memegangi bekas memar yang sudah menghilang. Kebisuan itu tercipta selama beberapa menit, membiarkan pikiran membenarkan apa yang baru saja terjadi.

    Eve….

    Seorang yang memang ditakdirkan….

    Seketika Kris tertawa. Terbahak-bahak hingga suaranya menggelegar ke seluruh ruangan. Mustahil. Karna selama berabad-abad kekuasaan itu mutlak menjadi miliknya. Jadi dianggapnya ini lelucon paling lucu yang pernah didengarnya sepanjang hidupnya.

    “Wajahnya begitu familiar?” Belum sempat ia menyentuh Airin, sebuah kekuatan tiba-tiba menghadangnya, membuatnya jatuh terjembab. Tentu saja itu dari Sehun. Kekuatannya sudah kembali penuh berkat darah Airin. “Brengsek!”

    “Habisi mereka!” Intruksi Kris.

    Terlambat. Karena belum sempat anak buahnya melaksanakan perintahnya, Airin sudah dibawa kabur oleh Sehun. Sesutu yang tidak pernah ia lakukan seumur hidup, melepas mangsa begitu saja dari kandangnya, tanpa tahu dirinya ingin berbuat apa. Ini begitu tiba-tiba. Bahkan sebelum dia bisa melepaskannya dan merelakannya begitu saja.

***

    Sehun mengajaknya lari sampai tiba di sebuah hutan dan masuk ke dalamnya. Tangannya menggenggam rapat gadis itu seolah tak dibiarkan lepas. Beruntung dia dianugerahi kekuatan lari yang hebat sehingga bisa menembus kabut juga pinus-pinus yang menghadangnya. Keadaan berbalik justru ada pada Airin. Dia bahkan tak tahu kemana jalan ini menuju. Hanya ada ribuan dan ranting-ranting sekitar seolah tidak mempersilahkan menemukan jalan keluar

    “Berhenti, kumohon berhentilah.” Pintah Airin dengan napas yang terenggah-enggah. Ia tidak sekedar lari sekarang, melainkan melesat. Barangkali Sehun lupa akan sifat kemanusiaannya yakni bisa lelah.

    “Aku perlu…-

    “Tidak, tidak sekarang  sebelum mereka menemukan jejak kita.” Ucap Sehun tanpa memberi kesempatan bagi Airin mengatur napas. Dia baru saja ingin menarik tangannya dan mendapat hentakan keras dari gadis itu.

    “Kau harus menjelaskan sekarang Sehun!”

    Tolong, dia benar-benar ingin tahu jawabannya. Sumber ketakutannya selama ini juga sumber dari segala ketertekanannya. Air mata jatuh menetes membasahi pipinya. Kalaupun dia bisa, Airin ingin berteriak sekencang-kencangnya. Menyudahi semuanya sehingga dia bisa hidup kembali normal.

    “Kau Eve.” Ucap Sehun pada akhirnya.

    “Eve?” Sambungnya tak mengerti. Airin memang sudah sering mendengar bisik-bisik dari mereka tentang Eve, namun masih belum paham seberapa besar pengaruhnya pada mereka.

    “Seseorang yang memang ditakdirkan untuk kami. Sumber dari kekuatan semesta.”

    “Tidak mungkin.” Airin menggeleng, berujar pelan. “Kau pasti bercanda, aku tidak mungkin seorang Eve.” Bukankah itu menandakan dirinya tak akan bisa lepas dari mereka. Kehidupannya akan terus terikat bersama mereka. Tidak juga Sehun, Kletern atau seluruh vampir-vampir yang lain.  Airin sangat membencinya.

    “Kau satu-satunya yang bisa menyembuhkanku dari kesakitan itu, menyelamatkan Suho dari kematiannya, memangnya apalagi yang bisa kau sanggah dari semua itu?” Sehun nyaris berteriak agar suaranya dapat didengar dari kesunyian itu.

    Tatapan kosong gadis disampingnya semakin membuatnya kesal. Oh ayolah, Airin harusnya sadar bahwa dari awal dirinya spesial. Dia tidak mati walaupun tidak mengonsumsi obat penambah darah. Jika dia orang lain, mungkin dia sudah mati menerima beberapa hisapan dari vampir lainnya. Terlebih lagi saat Airin bertahan dari serangan D.O.

    “Tauhkah kau, berapa banyak gadis yang kurayuh hanya demi mencarikan posisi itu?” Sehun memandang embun yang sudah nampak pada daun pinus. Mungkin ini sudah dipenghujung pagi, “Aku tidak tahu, mungkin kau bisa menanyakannya pada Suho.”

    “Aku tidak peduli. Aku sungguh tak tertarik menjadi bagian dari makhluk sepertimu.”

    Ketengangan seketika lenyap dibalik cahaya bulan yang mulai meredup. Sementara amarah itu menyeruak, menampilkan Sehun dengan perubahan iris mata yang berbeda. “Begitukah, setelah akhirnya aku menemukanmu, kau malah tidak menginkan semuanya. Kau bisa saja masih hidup setelah digigit berkali-kali oleh vampir dan akulah yang membuatnya begitu. Tapi bukan tugasku untuk menjelaskannya disini. Hanya saja kau benar-benar berarti bagi kami. Sumber eksistensi manusia ada padamu.”

    “Aku tak peduli semuanya!” Potong Airin cepat. Bergerak menjauhi Sehun bersiap untuk lari. Sengaja ia memendam amarah walaupun Sehun melakukan hal yang benar dengan tidak memaksa atau menyakitinya. Namun tetap saja ia tidak bisa menerima semuanya.

    “Beritahu aku apa keinginanmu dan aku akan berusaha mewujudkan selama itu berada dalam batasku” Ucap Sehun pelan. Walaupun ucapannya itu terasa memberi kompensasi bagi seseorang yang akan mati. “Kau ingin bersama Kai, pergi ke pantai bersamanya, semua itu akan lebih mudah jika kau mengikuti mauku.”

    Airin mundur selangkah, memperlebar jarak diantara mereka berdua. “Kebebasan. Bisakah kau memberikanku itu, cukup dengan hidupku yang kembali normal tanpa mengenalmu.”

    Sehun menghembuskan napas, dan rasanya Airin ingin menangis. Pada awalnya dia tahu Sehun tak akan mungkin melepaskannya ini jelas tipuan vampir. “Kau membohongiku lagi bukan?” Sambungnya sinis.

    “Tidak. Begitu seorang mortal dipilih, tak ada alasan untuk membatalkannya. Kau mungkin hanya akan mempunyai dua pilihan, menerima atau menolak. Tapi kuberitahu, kehidupan manusiamu sudah berakhir disini. Pada akhirnya Black Moon akan segera terbit, jika kau menerima kau akan memerintah bersama kami tapi jika kau menolak kamu mungkin saja bisa mati.”

    “Tidak!” Airin merasahkan amarahnya. Untuk makhluk vampir, semua yang terpendam begitu lama pada akhirnya akan dikeluarkannya, “Aku menolakmu, oke. Dan kupastikan aku akan tetap hidup.”

    Sehun mengancungkan tangannya dan seketika kilatan petir tergambar di angkasa. Tak sedikit pun hal itu membuat Airin gentar. Bukankah dia sudah pernah merasahkan amarah Sehun, tidak seharusnya ia mengulanginya.  “Tak sadarkah bahwa kau sudah menjadi bagian dari kita sekarang. Calon vampir. Bahkan seandainya pun tidak,  kau tetap menjadi milikku. Kau menerima gigitan pertama dariku bersama vampir-vampir lain, tan itu cukup menjadikanmu sebagai gadis Kletern.”

    Walaupun Airin tidak tahu mengapa, pernyataan Sehun terasa masuk akal. Disuatu tempat pada diri Airin terasa berubah. Pendengarannya, kedinginan yang tiba-tiba menyengat dalam kulit. Jadi aku seorang vampir. Tapi tetap bukan berarti dia harus menerimanya. Dia masih manusia. Bagaimanapun.

    “Tidak seharusnya kau membiarkanku hidup sejauh ini.” Lirihnya.

    “Kupikir akan menyedihkan jika membiarkan wanita secantik dirimu mati sia-sia.” Sehun mendekat, pada ujung bibirnya terbentuk senyum masam. “And I know you still virgin?”

    “Menjauhlah dariku!” Airin menggepalkan tangan. Berusaha menahan amarah yang semakin memuncak dan menjadi tak terkendali.

    “Kau harus bergabung denganku atau aku akan membuat hidupmu lebih menderita.”

    “Itu bukan pilihan!”

    “Well, benar sekali.” Langkah Sehun maju mendekat. Tangannya ia arahkan merahi dagu Airin pelan, “Karena satu-satunya pilihan untukmu hanyalah menikmatinya.” Kemudian Sehun membungkuk dan menciumnya, bibirnya terbuka di bibir Airin walaupun gadis itu jelas menolaknya. Tangan kekarnya menahan bahu gadis itu agar tidak kabur. Tak ada niatan apa-apa, hanya menciumnya dan seharusnya dia tak setakut ini.

    “Menjauhlah dariku!” Airin terhuyung mundur. Meskipun sudah berkali-kali Airin mengucapkannya Sehun tetap tidak menghiraukan.

    “Tidak bisa. Kau sudah menjadi milikku sekarang.” Sehun maju lebih dekat lagi, menghembuskan napas di sekitar leher Airin seolah tahu letak sensitif dari gadis itu.

    Mata Airin nyaris terpejam. Setiap kenikmatan dari apa yang pria itu lakukan benar-benar membuatnya nyaris hilang akal. “Pergi!”

    Dia merogoh kantong, mencari kalung salip –walaupun tak pernah berfungsi- namun selalu dia bawa kemana-mana. Tepat saat Sehun mendekatinya ia hujamkan besi itu mengenai perutnya.

    “Akkh!” Sehun memekik. Tak sampai dua detik, pekikan itu digantikan suara Sehun yang tertawa. “Apa kau pikir aku akan mati semudah ini?” Sambungnya yang lantas membuat Airin terbelalak.

    Dengan mengerahkan kekuatan yang lebih besar dari yang Airin miliki, Airin berhasil menarik diri menjauhi Sehun. Dia melempar setiap ranting pohon yang menghalangi jalannya yang mungkin saja bisa mencederai siapapun yang mengikutinya dari belakang. Diambilnya satu dari ranting terpanjang, mengarahkannya pada Sehun seolah-olah bahwa itu pedang.

    “Brave and bitch. You’re perfect!” Bisiknya sepenuh hati.

    Lalu lenyap diantara pinus-pinus menjulang juga kabut yang semakin pekat. Sehun lantas kembali, menatap gadis itu intens dan kembali berbisik. “Kubiarkan kau kali ini. tapi tetaplah aku yang akan memenangkan pertandingan honey?”

    Dan Airin mendengar suaranya sejelas Sehun berdiri disampingnya tadi. Kata-kata yang bisa memohon dirinya agar tuli seketika.

***

Aduh… part ini bintangnya Sehun yah? Mungkin ada yang bingung Eve itu gimana sih, posisinya kayak apa sih? Jadi posisi Eve itu istimewaaaaaa bgt. Bisa dibilang Eve itu tingakatannya lebih tinggi dari vampir cogan2 itu. Kayak Ratu lebah gitu lah *apaancobak

Jadi seumur hidupnya Klan Kletern ini disibukkan dengan mencari Eve buat ngalahin Klan Magvetto. Cuma saat ditemukan Si Eve, yakni Airin, dia nolak. Yaiyalah, siapa juga yang mau jadi vampir. Sekalipun dikelilingi makhluk ganteng, berani bertaruh nggak bakal ada yang mau. Jadi disini mulai konfliknya. Airin nggak mau, tapi Klettern-nya butuh. Cuma Si Klettern nggak boleh maksa karena terikat aturan.

Ini inspirasinya dari novel Wicked Lovely Karya Mellisa Marr. Ada yg pernah baca? Ya udah deh, cukup sekian penjelasannya. Terima kasih banyak buat yang ngikutin terus ff ini. Pokoknya ane janji deh, pake ending terbaik dan nuntasin tepat sebelum deadline skripsi ane. Mohon doanya juga yah, supaya bisa ngatur antara nulis skripsi dan fiksi. Jjang deh kalian semua!!!

Iklan

14 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Black Enchanted (Chapter 7)

  1. wow makin kesini ni ff mkin seru weh kasihan si airin dia hidup di kelilingi ama vampir *ihh ngeri* btw ntu si kai kenapa sih ngilang mulu.. where are you kai???*sok inggris gue wkwkwk* btw ching aku minta pwnya chapter 4 ama chapter 6 jebal,, mian gue baru ko9men soalnya baru bkin blog wkwkwkw

  2. Airin sama sehun ajaa gihhh biar greget😂😂😂
    Semangat kaa❤❤
    Oya ka, ini komenan aku yang pertama di black enchanted ya ka??…😂😂 maap ya ka baru komen…. Ini aku yang @chairanimf_ itu lhoo ka, yang gatau maluu ituu ka ,,inget kan ka/pdamatlu/😹😹
    Pokoknya semangat kaa!!

  3. Kasihan banget airin, walaupun hidupnya dikelilingi cogan tapi kalo menderita untuk apa, kapan sih airin bahagia kenapa hidupnya harus sengsara terus.
    Kak, buat hidup airin bahagi dong jangan buata airin menderita terus.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s