[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 5)

Title        : Love in Time [Chapter 5]

Author        : Ariana Kim

Cast        : Kim Ara

Kim Jongin

Oh Sehun

Park Hana

Genre        : Family, Romance, Angst, School Life

Rating        : PG

Length        : Chaptered

Summary    : Hal yang paling mengesalkan bagi Jongin adalah menjadi saudara kembar Ara. Bagaimana bisa mereka yang tidak mirip satu sama lain bisa menjadi saudara kembar?Berawal dari harapan aneh yang Jongin buat, hidup mereka menjadi semakin rumit saja.

Disclaimer    : FF ini murni hasil pemikiranku. Ide cerita berasal dari kehidupan seseorang yang aku kenal dengan penyesuaian pada semua isi cerita. Apabila ada kesamaan tokoh dan jalan cerita mungkin itu hanya ketidaksengajaan. Don’t bash and don’t copast. Hargai kerja keras penulis ☺ FF ini pernah dipublish di blog pribadi aku ☺

HAPPY READING ☺

***

.

Dan ketika aku harus mengakhiri cintaku, tanpa siapun mengetahuinya….”

.

***

.

Chapter 5

Hal-hal berjalan seperti biasanya. Dunia seolah tak terlalu peduli dengan apa yang terjadi pada kedua saudara kembar itu. Semua yang ada, seolah tak menaruh minat sama sekali untuk sekadar tahu dan mengerti. Apa yang terjadi diantara mereka, hanya mereka yang tahu. Dan Tuhan, tentunya. Tak ada yang bisa menghindari takdir Tuhan, bahkan sekalipun kau berlari ke ujung dunia. Semua yang terjadi di dunia ini, sudah dituliskan sejak dahulu kala dan tak ada yang bisa mengubahnya. Sekeras apapun kau mencobanya, takdir itu tidak bisa diubah. Kecuali kau memiliki keyakinan dan usaha yang keras, mungkin dengan itu Tuhan akan berbaik hati mengubah takdirmu. Dan rasanya, Jongin ingin sekali melakukan hal itu. Hal buruk yang terjadi padanya, pada Ara dan pada keluarganya, ia ingin semua itu tidak terjadi. Ia ingin kembali pada masa saat ia bisa tertawa bahagia bersama kedua orang tuanya. Ia merindukan kehangatan itu. Sangat.

Jongin mengeratkan mantel yang ia pakai saat angin yang membawa udara dingin itu menerpa dirinya. Ia mengumpat dalam hati, sedikit menyalahkan Tuhan kenapa melakukan semua ini padanya. Ia hanya ingin hidup layaknya remaja yang lain yang bisa bersenang-senang bersama teman-temannya, diperhatikan oleh orang tua dan mendapatkan kasih sayang dari mereka. Apa yang salah dengan itu? Kenapa Tuhan menghancurkan keluarganya dan membuatnya harus hidup seperti ini? Rasanya dunia ini tidak adil.

Sesampainya di kelas, Jongin langsung duduk diam. Ia tidak berminat melakukan apapun. Perkataan Ara masih terus ternginga-ngiang dalam kepalanya. Apa maksudnya gadis itu mengatakan jika Ayah bukan ayahnya lagi? Bagaimanapun Ayah sangat menyayangi mereka berdua. Bagaimana bisa gadis itu mengatakan hal sekejam itu? Oh, Jongin lupa. Gadis itu pernah gila jadi otaknya pasti sudah melenceng jauh, bahkan mungkin terbalik. Ya, itu benar. Ara ‘kan pernah dirawat di rumah sakit gila beberapa tahun lalu. Jadi lebih baik ia tidak menghiraukannya karena apapun yang dikatakan oleh Ara itu tidak terbukti kebenarannya sama sekali. Yang harus ia lakukan adalah mengembalikan jiwa mereka berdua dan Jongin berniat untuk memperbaiki hubungannya dengan Ayahnya. Tapi, ia tidak tahu dimana Ayahnya sekarang berada. Semenjak kedua orang tuanya bercerai dan Ibunya meninggal, mereka tinggal di rumah Nenek dan Nenek tak pernah membahas apapun lagi mengenai Ayahnya. Seolah ada yang disembunyikan darinya.

Jongin membukan ponsel Ara. Ia mencari kontak seseorang dan saat berhasil menemukannya, ia langsung memencet tombol, berniat untuk meneleponnya. Tak perlu menunggu waktu lama, orang yang dituju menjawab teleponnya dan terdengar suara dari seberang.

“Ahjussi..” panggil Jongin pada orang di seberang. Ia tengah menelepon Jang Ahjussi, sekretaris pribadi Ibunya dulu. Dia adalah orang kepercayaan Ibunya dan sangat bisa diandalkan kemampuannya.

“Sudah lama tidak mendengar suaramu, Nona.” Sapa Jang Ahjussi. Jongin tersenyum walaupun jelas sekali orang itu tidak akan bisa melihat senyumannya.

“Bisakah aku meminta tolong pada Anda? Ada hal penting yang sangat mendesak.” Pinta Jongin, dan suara Jang Ahjussi pun berubah serius.

“Tentu saja, Nona. Selagi saya mampu, saya pasti akan membantu Nona.”

Jongin menggigit bibir bawahnya. Ia sedikit ragu. “Ehm.. begini, bisakah Anda memberiku nomor ponsel Ayahku? Aku ingin tahu keberadaannya, Ahjussi.”

Jang Ahjussi terdiam beberapa saat. “Nona, aku tidak bisa menjamin bisa melakukannya. Mendiang Ibu Anda – Nyonya Hwang, sudah melarang saya untuk memberikan informasi lebih jauh mengenai Tuan Kim jikalau di kemudian hari Anda dan Tuan Muda Jongin bertanya. Saya tidak bisa banyak membantu.”

Hati Jongin langsung mencelos mendengar apa yang Jang Ahjussi ucapkan. Ia tidak menyangka bahwa Ibunya tega melakukan itu. Bagaimana bisa seorang Ibu menghalangi anaknya untuk bertemu dengan Ayahnya? Sebegitu bencinyakah ia pada Ayah?

“Ahjussi, kumohon. Aku ingin sekali bertemu dengan Ayah. Kenapa Anda tega sekali melakukan ini? Tolonglah, tidak ada lagi yang aku miliki selain Ayah. Bisakah Anda membantuku kali ini saja? Aku akan sangat berterimakasih pada Anda jika Anda mau membantuku. Jebal, Ahjussi..”

“B-baiklah. Akan aku usahakan. Tapi kumohon jangan berharap banyak.” Kata Jang Ahjussi akhirnya.

“Ne. Terimakasih banyak, Ahjussi.”

BIIP

Sambungan terputus. Jongin meletakkan ponselnya di atas meja dan tersenyum bahagia. Dilihatnya foto yang sejak tadi ia pegang. Senyuman itu tersungging di bibirnya hingga membuat siapapun yang melihat akan terpesona karena senyum itu membuat wajah Ara berkali-kali lipat lebih cantik. Sudah lama bibir itu tidak menampakkan senyum. Hana yang baru datang cukup terkejut melihat gadis itu tersenyum. Ia duduk di bangkunya dan terus menatap gadis itu.

“Sepertinya kau sedang bahagia hari ini.” Ucap Hana, membuat Jongin mengalihkan perhatiannya dan menatap gadis itu.

“Oh, begitulah.” Jawab Jongin seadanya. Ia memasukkan foto itu kedalam laci mejanya dan mengeluarkan buku pelajarannya.

“Aku senang kau bahagia. Selama melihatmu, ini pertama kalinya aku melihatmu tersenyum. Ku harap kau selalu bahagia, Ara.” Kata Hana, ikut bahagia dengan apa yang Ara rasakan walaupun gadis itu tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya.

“Terimakasih. Kau benar-benar baik.”

.

.

***

.

.

Perlu waktu beberapa menit bagi Ara untuk sampai di kelas Jongin. Selain karena moodnya yang sudah hancur akibat pertengkarannya dengan saudara kembarnya itu untuk kesekian kalinya, ia juga sudah mulai bosan menjalani kehidupannya yang sangat aneh ini. Ia ingin secepatnya kembali ke tubuhnya tapi ia sendiri tidak mau bagaimana caranya. Ia juga tidak tahu kenapa hal itu bisa terjadi pada dirinya dan Jongin. Ara menghembuskan nafasnya yang terasa berat. Semoga hari ini tidak ada hal buruk yang akan terjadi lagi.

Dengan malas, ia melangkahkan kakinya memasuki kelas. Suasana kelas yang ramai sudah bukan hal yang baru lagi baginya. Di kelasnya juga seperti itu, hanya saja ia tidak terlalu peduli dan memilih duduk diam di bangkunya. Ara sedikit menoleh ke luar jendela yang langsung tertuju pada koridor. Kelas Ara dan Jongin saling berhadapan dan Ara ingin tahu apakah lelaki itu sudah masuk ke dalam kelasnya atau belum. Bukan khawatir, Ara hanya ingin tahu saja. Ah, tapi sejak kapan gadis itu peduli pada saudaranya? Menggelengkan kepalanya, Ara meneruskan langkahnya dan duduk di tempat Jongin biasa duduk.

Saat Ara duduk, Sehun yang sudah berangkat lebih dulu tengah bercakap-cakap dengan Yian. Entah apa yang sedang mereka berdua bicarakan, Ara hanya mengangkat bahunya tak berniat untuk ikut campur. Namun sentilan halus di punggungnya membuat Ara berbalik dan menemukan Yian yang tersenyum simpul padanya. Ara diam, menunggu apa yang ingin dikatakan oleh lelaki itu.

“Kenapa pagi-pagi sudah murung, eoh?” Tanya Yian, senyum itu tidak lepas dari wajahnya dan hal itu membuat Ara sedikit terpesona. Ia baru menyadari jika Yian cukup tampan untuk ukuran seorang lelaki. Pantas saja selama ia dekat dengan Yian, ia selalu mendengar banyak gadis-gadis di sekolahnya yang terang-terangan mengaguminya.

“Bukan hal yang penting. Aku hanya masih mengantuk.” Jawab Ara, mencoba menutupi apa yang sebenarnya terjadi. Ara rasa mereka tidak perlu tahu apa masalahnya.

Yian mengangguk dan menunjukkan sesuatu di tangannya. “Bisa kau menebak apa yang ada di tanganku?” tanya Yian.

Ara lagi-lagi terdiam. Ia berpikir dan mencoba menebak. Yian tengah memegang sesuatu yang terbuat dari kertas, berwarna pink dan terlihat sangat konyol. “Apa itu surat?” Ara menyuarakan suaranya dan dijawab anggukan oleh Yian.

“Aku menemukannya terselip di lokerku tadi pagi.” Sehun membuka suaranya. Ia membuat Ara menoleh padanya dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Sobat, betapa beruntungnya kau mendapatkan surat cinta. Aku saja belum pernah.” Yian menimpali. Ia menepuk bahu Sehun dengan semangat, di wajahnya ada binar-binar kebahagiaan.

“Hei, aku yang dapat surat kenapa kau yang senang? Surat ini ditunjukkan untukku bukan untukmu, Lee Yian.” Sehun mengingatkan. Temannya yang satu ini kadang berperilaku aneh. Mungkin ini efek karena Yian belum pernah berpacaran seumur hidupnya.

“Oke, oke. Aku hanya senang dia mau menghubungimu lagi setelah kalian putus.” Kata Yian akhirnya sambil mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi – menjauhkannya dari Sehun.

Kening Ara berkerut mendengarnya. Putus? Apa itu surat dari mantan pacar Sehun? Memangnya Sehun pernah berpacaran sebelumnya?

“Kau pernah punya pacar?”

Kedua lelaki itu terkejut mendengar apa yang Ara tanyakan. Mereka berdua berpandangan sejenak lalu bertawa terbahak-bahak. Ara mendengus sebal. Ia heran, tidak ada yang lucu dengan pertanyaannya jadi apa yang membuat mereka menertawakannya? Apa wajahnya cukup absurd hari ini?

“Kim Jongin! Kau benar-benar lucu!” Sehun tertawa masih memegangi perutnya yang terasa sakit akibat tertawa terbahak-bahak. “Bukankah kau sudah mengetahuinya sejak dulu? Itu sudah lama saat kita masih kelas tiga SMP.”

Ara terdiam. Oh, jadi Sehun pernah berpacaran saat masih kelas tiga SMP. Bukankah itu terlalu dini untuk menjalin suatu hubungan? Ara masih tidak mengerti. “Memangnya siapa dia? Mantan pacarmu itu, siapa?” Ara kembali bertanya, seolah penasaran dengan sosok lelaki di depannya.

“Ya ampun, Jongin! Aku tidak tahu apa yang kau makan tadi pagi sampai kau melupakan semua itu.” Yian menepuk pelan dahinya menyadari kebodohan Jongin. “Kita sudah berteman sejak SMP dan kau justru melupakannya? Jangan-jangan kau bukan Kim Jongin yang kami kenal.” Sambung Yian membuat Ara langsung gugup.

Sial. Sepertinya ia harus melakukan sesuatu agar tidak ada yang mencurigainya.

“Bukan karena aku lupa.” Ara mencoba membela diri. “Hanya saja terlalu banyak gadis yang kau kencani hingga aku tidak bisa mengingatnya.” Jawab Ara akhirnya yang membuat Yian dan Sehun terhenyak.

Lama mereka terdiam. Hingga akhirnya Sehun membuka suara.

“Han Jihyun.” Ungkap Sehun. “Kami menjalin hubungan selama dua bulan sebelum akhirnya putus.” Sambungnya.

Bagaikan disambar petir, Ara terkejut setengah mati. Ia mengumpat dalam hatinya. Dari sekian banyak gadis yang ada di Seoul, kenapa harus gadis itu yang berpacaran dengan Sehun? Bukan apa-apa, hanya saja Ara tidak suka dengan gadis itu sejak pertama kali melihatnya beberapa tahun yang lalu. Ara tidak menyukainya terlebih pertengkarannya dengan Jihyun saat hari pertama masuk membuatnya enggan berurusan lagi dengan gadis itu. Dan Sehun, bagaimana bisa lelaki itu pernah menjalin suatu hubungan dengannya? Walaupun itu hanyalah cinta monyet belaka, tapi apa Sehun tidak bisa melihat semua keburukan yang ada dalam diri gadis itu? Ah, mungkin semua laki-laki sama saja. Mereka itu bodoh dan naif.

“Selamat pagi, anak-anak.”

Suara Shin Songsaenim yang terdengar membuat Ara tersadar dari lamunannya. Ternyata jam pertama sudah dimulai dan Ara membenarkan posisi duduknya setelah mengeluarkan beberapa buku pelajaran milik Jongin.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu.” Tiba-tiba saja Sehun berbisik di telinganya, membuat tubuh Ara sedikit meremang. “Tapi aku hanya pernah berpacaran sekali sampai saat ini. Dan itu hanya dengan Jihyun.”

.

.

***

.

.

Siang itu seperti biasa Jongin dan Hana menghabiskan waktunya di kantin. Tidak seperti hari-hari sebelumnya, kantin terlihat sangat ramai dan hal itu membuat Jongin dan Hana kesulitan untuk mencari meja kosong. Sejak beberapa hari yang lalu, Hana sudah resmi berteman dengan Ara, walau hanya Ara bohongan. Tapi Jongin senang karena Hana tipe gadis periang dan peduli. Ia senang bisa mencarikan teman yang baik untuk Ara walau ia masih memikirkan bagaimana reaksi gadis itu jika mengetahui ia membuatnya berteman dengan Hana.

Jongin berjalan sedikit di belakang Hana karena banyaknya siswa yang berada di kantin membuatnya harus berdesak-desakan, ditambah ia membawa nampan yang penuh dengan makanan pesanannya membuatnya sulit berjalan. Seragam yang biasa dipakai Ara masih saja membuatnya tidak nyaman dan membuatnya kesulitan untuk berjalan. Matanya mencari-cari sosok Hana namun tidak melihat kemana gadis itu pergi.

BRUKK

Tiba-tiba saja terdengar suara dari arah kanannya yang memicu rasa penasarannya. Suara gaduh terdengar karena semua yang berada di kantin juga penasaran dengan apa yang terjadi. Jongin melangkah mendekat setelah meletakkan nampannya diatas meja terlebih dahulu sebelum masuk diantara kerumunan. Ia langsung terkejut saat melihat Hana yang terduduk di lantai dengan makanan yang berserakan di lantai dan beberapa mengenai seragamnya.

“Kau tidak punya mata, ya?”

Suara itu, Jongin sangat mengenalinya. Itu adalah suaranya sendiri dan ia terkejut untuk yang kedua kalinya melihat siapa yang berdiri di depan Hana. Saudara kembarnya.

“M-maafkan aku.” Hana tampak gugup sekaligus takut. Ia tadi sedang berjalan hingga tak sengaja menabrak lelaki itu. Hana merutuki dirinya sendiri. Ia selalu saja ceroboh.

“Kau tidak lihat seragamku kotor terkena makananmu?” Ara kembali berteriak, membuat suara berat Jongin menggema di seluruh penjuru kantin. Semua yang ada disana hanya diam menatapnya.

“Sudahlah, Jongin. Kenapa emosimu jadi tidak terkontrol begini?” Sehun dan Yian mencoba menenangkan Jongin yang mendadak sangat sensitif hari ini. Mereka mencoba membawa Jongin pergi namun lelaki itu begitu keras kepala.

“Kim A-“

“Kau baik-baik saja, Hana?”

Suara Jongin tertahan di udara saat melihat seorang gadis yang mendekati Hana dan memapah Hana untuk berdiri. Jongin mengikuti gerakan gadis itu. Dia adalah Han Jihyun. Tapi sejak kapan Jihyun akrab dengan Hana?

Jihyun sedang berkumpul bersama teman-temannya di kantin saat mendengar keributan tak jauh dari tempat duduknya. Ia berdiri dan melihat apa yang tengah terjadi. Hana yang terduduk di lantai dan Jongin beserta Sehun dan Yian yang menjadi pusat perhatian. Ia bisa menebak apa yang terjadi dan begitu melihat betapa marahnya Jongin, ia langsung maju berniat untuk menolong Hana.

Sepeninggalan mereka berdua, beberapa siswa nampak mulai membubarkan diri dan akhirnya seluruhnya kembali melakukan aktivitas mereka yang sempat terhenti. Jongin masih terdiam di tempatnya, menatap Ara yang berdiri tak jauh di depannya. Ara seolah menyadari jika sedang diperhatikan, menoleh pada Jongin dan tatapan keduanya saling bertemu, membuat Sehun dan Yian yang melihatnya kebingungan.

Jongin sangat kesal hari ini melihat tingkah Ara. Gadis itu benar-benar tidak berubah sedikitpun ditambah lagi ia sudah membuat image Jongin hancur di depan siswa satu sekolahnya. Selama ini, walaupun pemarah, Jongin tidak pernah menunjukkan emosinya pada siapapun kecuali teman-temannya yang sudah mengerti benar sifatnya. Tapi apa yang dilakukan Ara kali ini tidak bisa ditoleransi olehnya. Sangat kesal. Jongin benar-benar kesal hingga ia menarik tangan Ara menjauh, membawanya keluar dari kantin. Hal itu dilihat dengan jelas oleh Sehun dan Yian yang sejak tadi keheranan. Mereka saling berpandangan setelah melihat kepergian Jongin yang diseret oleh Ara entah kemana.

“Apa kau berpikiran yang sama denganku?” Sehun menyuarakan kebingungannya.

Yian mengangguk. “Aku tidak bisa mencerna apa yang sedang terjadi. Dan, sejak kapan Jongin mengenal gadis itu?”

“Kim Ara maksudmu?” Sehun mengoreksi.

“Ne. Aku tidak tahu jika Jongin menjalin hubungan dengannya. Kejadian waktu itu dan hari ini benar-benar membuatku bingung.” Yian menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia ingat dengan jelas bagaimana Jongin yang berada di atas tubuh Ara waktu itu ditambah saat ia pulang bersama dengan gadis itu (Chapter 2), dan apa yang terjadi hari ini, seperti menyibakkan fakta bahwa kedua orang itu memiliki suatu hubungan.

“Apa Jongin menyukai Kim Ara?” Sehun menyuarakan isi hatinya, sedikit ragu. Yian mengangkat bahunya tidak tahu. Mata Sehun masih tertuju kearah kedua orang itu pergi beberapa saat yang lalu.

.

.

***

.

.

“Han Jihyun… aku baik-baik saja.”

Hana yang sejak tadi tangannya ditarik oleh Jihyun akhirnya bersuara. Ia tidak tahu kemana gadis itu akan membawanya. Jujur ia berterimakasih pada Jihyun yang mau membawanya pergi dari kantin saat ia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan. Ia malu, takut sekaligus marah. Tentu saja pada sosok lelaki tinggi yang berdiri dengan gagah di depannya. Hana hanya tidak mengerti kenapa lelaki itu bisa sampai semarah itu padanya padahal ia hanya tidak sengaja menabraknya dan mengakibatkan makanannya itu tumpah.

Masih jelas dalam ingatan Hana bagaimana ekspresi wajah Jongin saat itu. Wajahnya jelas menunjukkan kemarahan yang luar biasa dan entah mengapa Hana merasa ngeri melihatnya hingga ia tidak bisa melakukan apapun selain diam saja dalam posisinya seperti itu seperti orang bodoh. Hana memang tidak mengenal Jongin, hanya tahu siapa lelaki itu karena kepopuleran lelaki itu yang membuat setiap gadis di sekolahnya pasti akan mengenalnya. Sejauh yang Hana tahu, lelaki itu tidak pernah terlihat marah dan bahkan ia menjulukinya sebagai pangeran tampan yang penuh kharisma. Yah, harus Hana akui jika ia mengagumi lelaki itu. Tapi karena hal itu jugalah, tiba-tiba minatnya terhadap lelaki bermarga Kim itu lenyap tak berbekas. Hana seolah trauma.

“Sebentar lagi kita akan sampai.” Ucap Jihyun yang sejak tadi menarik tangan Hana.

Seolah tersadar dari pikirannya sendiri, Hana menatap punggung Jihyun dengan tangan gadis itu yang masih bertaut dengan tangannya. Hana jadi penasaran. Ia dan Jihyun tidak pernah berbicara satu sama lain sejak pertama bertemu tapi kenapa gadis itu mau menolongnya? Ia hanya merasa aneh saja. Memang sih Jihyun dikenal sebagai gadis yang ramah, cantik dan baik. Tapi, setelah melihat apa yang pernah Jihyun lakukan pada Ara tempo hari, membuatnya sangsi jika gadis itu berkepribadian baik. Mungkin saja..

“Nah, sudah sampai.” Jihyun kembali bersuara saat mereka sampai di dalam toilet. Oh, ternyata Jihyun membawa Hana kesana. Untuk apa?

“Kenapa kita kesini?” Tanya Hana sedikit keheranan.

“Tentu saja membersihkan seragammu yang kotor.” Jawab Jihyun dengan wajah innocentnya. Ia sudah melepaskan tangan Hana sejak tadi. “Kalau begitu aku pergi dulu.” Sambungnya lalu berniat untuk keluar dari toilet.

“T-tunggu..” Kata Hana membuat Jihyun menghentikan langkahnya. “Kau tidak mau menemaniku?” tanya Hana sedikit ragu.

Jihyun menautkan kedua alisnya. Menatap Hana sedikit tidak suka. “Kau harusnya bersyukur karena aku mau menolongmu dari si Jongin itu, dan sekarang kau berharap aku melakukan apa lagi padamu? Jika saja tidak ada Sehun disana, aku juga tidak mau susah-susah menolongmu.” Sungutnya sedikit kesal.

Hana terdiam. Ia bingung dengan semua ucapan Jihyun. “Jadi kau tidak benar-benar menolongku?”

“Aku menolongmu – tentu saja. Sekaligus membuat Sehun terpesona pada kebaikanku. Bukankah itu seperti sambil menyelam minum air? Aku bisa menolongmu dan Sehun terpesona padaku lalu mau menjadi pacarku lagi.” Jelas Jihyun dengan riang. Ia tersenyum-senyum sambil membayangkan jika ia dan Sehun akan kembali berpacaran seperti dulu.

“Heh??”

Ini gila! Hana benar-benar tidak mengerti apa yang dipikirkan oleh Jihyun. Ia merasa seperti telah dimanfaatkan mentah-mentah oleh gadis itu. Ia pikir ada yang mau menolongnya dan sangat berterimakasih akan hal itu tapi nyatanya ia hanya digunakan sebagai alat untuk menarik perhatian siapa tadi.. Oh Sehun??!! Yang benar saja!! Hana mengumpat dalam hati sambil menatap kepergian gadis itu. Ternyata Han Jihyun tidak lebih dari seorang yang rela melakukan apapun asalkan keinginannya bisa terpenuhi. Ck. Untung saja Hana tidak berteman dengannya. Dia ‘kan hanya berteman dengan Ara. Oh, omong-omong tentang Ara dimana gadis itu sekarang ya?

.

.

Di sisi lain…

.

.

“Apa yang kau lakukan padaku, Jong??!!”

Untuk kesekian kalinya Ara berteriak dengan cukup lantang saat tangannya ditarik oleh Jongin. Walaupun mereka bertukar tubuh, tetap saja tenaga lelaki itu lebih kuat walaupun berada dalam tubuh kurusnya. Ara merasa pergelangan tangannya pasti akan memerah setelah ini. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh saudara kembarnya ini??

“Lepaskan, Jong. Sakit!!” Erangnya, berusaha menarik tangannya dari cengkeraman Jongin namun lelaki itu tak bergerak sekalipun dan terus menarik Ara hingga mereka akhirnya tiba di taman belakang sekolah. Eoh, apa yang akan lelaki itu lakukan padanya?

BUGG

Ara terkejut setengah mati mendapati Jongin mendorongnya hingga tubuhnya terjungkal ke belakang. Bisa ia rasakan pantatnya yang sakit akibat terbentur tanah terlalu keras. Ara meringis sambil mengusap pantatnya dan memberikan tatapan marahnya pada Jongin. Ia tidak merasa melakukan kesalahan apapun tapi lelaki ini berani berlaku kasar padanya? Ibunya saja tidak pernah mengasarinya.

“Sialan kau, brengsek.” Umpat Ara. Ia bangkit dan mendorong Jongin hingga tubuh lelaki  itu terhuyung ke belakang namun tidak jatuh seperti dirinya. Oh, apa tenaganya kurang kuat padahal ia ada di dalam tubuh Jongin.

“Apa yang tadi kau lakukan di kantin? Kau tidak malu dilihat banyak orang begitu?” Teriak Jongin tepat di depan wajah Ara, membuat Ara memberikan tatapan mematikannya pada lelaki itu.

“Memangnya ada yang salah dengan sikapku? Gadis itu saja yang tidak punya mata hingga menabrakku!!” Teriak Ara tak kalah sengitnya.

“Siapa yang kau bilang tidak punya mata, hah??!! Dia itu Park Hana, teman sekelasmu!!” Jongin masih berteriak hingga wajahnya memerah karena amarah.

“Persetan dengan Park Hana atau siapapun namanya. Apa pedulimu, hah? Lagipula dia juga yang mengotori seragammu. Kau lihat ini??” kata Ara dengan menunjukkan seragamnya yang berwarna kecokelatan terkena kuah entahlah apa namanya. Itu adalah seragam yang biasa Jongin kenakan.

“Hana itu temanmu.” Jongin akhirnya menurunkan volume suaranya.

“Aku tidak punya teman.” Ara membantah dengan cepat.

“Tapi sekarang dia berteman denganmu.” Jongin tidak mau kalah.

“Oh, aku mengerti. Kau merayunya hingga gadis itu mau berteman denganmu karena mengira jika Kim Ara, si gadis dingin itu sudah berubah. Oh, Jongin!! Aku tidak ingin berteman dengan siapapun. Bahkan aku sudah muak dengan teman-teman bodohmu itu!!”

“Jangan menghina teman-temanku, Ara. Bagaimanapun kau harus berlaku baik pada mereka semua, khususnya teman-teman sekelasmu.”

“Aku tidak mau. Tidak ada yang namanya teman di dunia ini, Jong. Kau tidak usah naif begitu. Teman hanyalah kedok untuk memanfaatkan seseorang lalu membuangnya saat orang itu sudah tidak dibutuhkan lagi. Aku pernah merasakannya dan kuharap kau tidak usah menceramahiku.”

Dan setelah mengatakan itu, Ara pergi begitu saja. Jongin hanya terdiam melihat kepergian saudara kembarnya. Di kepalanya masih terngiang-ngiang apa yang barusan Ara katakan. Jongin menghembuskan nafasnya kasar. Ara tidak tahu apapun. Dia hanya mengatakan itu agar Jongin berhenti mencecarnya. Bagaimana bisa gadis yang tidak pernah punya teman sejak dulu seperti Ara tahu bagaimana rasanya dikhianati oleh teman? Ara selalu memandang negatif segala sesuatunya membuatnya sulit melihat kebaikan pada kehidupannya. Otak gadis itu mungkin sudah benar-benar kacau karena sakit jiwanya dulu.

.

.

***

.

.

Jongin melangkahkan kakinya tanpa tenaga. Pikirannya bergelayut entah kemana dan hal yang paling membuatnya muak adalah berurusan dengan Ara. Sejak kecil, Jongin tidak bisa mengerti jalan pikiran gadis itu. Ia selalu bertolak belakang dengan Ara, dan entah kenapa semua hal yang baik justru berpusat pada Ara. Gadis itu sejak kecil selalu mendapat perhatian lebih dari kedua orang tuanya, ia selalu mendapat nilai baik di sekolah dan mendapatkan hal yang lebih darinya. Jongin selalu iri karenanya tapi hal itu pulalah yang membuatnya tidak menyukai Ara.

Langkah kakinya membawanya ke UKS. Ia membuka pintu perlahan dan masuk ke dalamnya. Tak ada siapapun disana karena jam pelajaran sudah dimulai beberapa menit yang lalu. Jongin menghembuskan nafasnya dengan kasar. Persetan dengan siapa dirinya saat ini, yang terpenting ia tetaplah Kim Jongin dan ia sedang tidak dalam mood yang baik untuk mengikuti pelajaran. Jongin menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur kecil di sudut ruangan setelah sebelumnya menutup tirai yang mengelilinginya. Matanya perlahan terpejam saat rasa kantuk mulai menguasai dirinya.

“Mmmppphhh”

Suara pekikan yang tertahan di tenggorokan itu terdengar dalam ruang UKS yang sepi ini. Siapa lagi yang melakukannya jika bukan Kim Ara – tepatnya Kim Jongin yang berada dalam tubuh Ara yang melakukannya.

Jongin hendak berteriak, namun sesuatu yang lembut menempel dengan keras di bibirnya hingga ia tidak bisa mengeluarkan sepatah katapun. Ingin rasanya Jongin membuka matanya namun apa yang tengah terjadi pada dirinya membuatnya susah untuk melakukan sesuatu karena otaknya seperti hilang kendali.

Bibirnya dilumat oleh sesuatu yang tidak ia ketahui, namun rasanya begitu manis dan memabukkan. Apakah ia sedang berciuman dengan seseorang? Tapi dengan siapa? Tidak ada siapapun di UKS ini kecuali dirinya dan bukannya dirinya sedang tidur? Jongin membuka matanya dan menemukan sosok lelaki yang wajahnya begitu dekat menempel dengan wajahnya – wajah Ara.

Mata Jongin mengerjap beberapa kali. Ia mengenal lelaki itu. Dan – dan apa yang tengah lelaki itu lakukan padanya?

Jongin terhenyak saat merasakan beban berat yang menindih tubuhnya. Ia melihat lelaki itu mulai menindihnya, sambil bibirnya terus menempel dan menciumi bibir Jongin. Ingin rasanya Jongin berteriak dan mendorong tubuh lelaki brengsek itu menjauh, namun tenaganya seperti habis tak tersisa dan satu hal yang ia sadari, ia mulai mengikuti permainan bibir lelaki itu.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Empat detik.

Lima detik.

Mata Jongin terbuka seketika. Nafasnya naik turun tidak teratur. Ia menatap sekelilingnya dan tidak menemukan siapapun disana selain dirinya. Jongin menyentuh bibirnya yang terasa basah dan agak bengkak. Ia mengernyitkan keningnya.

Sebenarnya apa yang baru saja ia alami? Apakah ia bermimpi atau memang ini yang terjadi sebenarnya? Jongin tidak mengerti. Jika ia bermimpi, kenapa ia harus memimpikan sedang melakukan hal erotis dengan seorang lelaki? Harusnya sebagai lelaki normal, Jongin memimpikannya bersama seorang gadis yang cantik. Ia pernah bermimpi akan hal itu dan ini kali pertama ia melakukannya dengan seorang lelaki di dalam mimpi. Oh, Jongin tahu. Jika memang ini adalah mimpi, pasti karena ia berada dalam tubuh Ara dan secara tidak langsung hormon gadis itu berpengaruh berpengaruh besar pada mimpinya. Jongin jadi curiga jika saudaranya ini menyukai hal-hal yang berbau erotis.

Tapi Jongin kembali berpikir. Mustahil ini adalah mimpi. Ia merasakan betul apa yang terjadi pada dirinya, bagaimana lelaki itu mencium bibirnya, menindihnya dan bagaimana ia membalas ciuman lelaki itu, tubuhnya yang tiba-tiba memanas dan ada gejolak tersendiri yang meledak-ledak dalam dirinya. Jongin sangsi jika itu adalah mimpi. Ini pasti nyata dan benar terjadi pada dirinya. Tapi tidak ada orang lain disini sekarang dan bagaimana bisa – astaga, Jongin pasti sudah tertular kegilaan  Ara. Ini benar-benar tidak masuk akal dan ia pasti sudah gila. Ini pasti akibat otak Ara yang sudah konslet sejak dulu.

Coba saja kau pikirkan, bagaimana bisa Jongin bermimpi berciuman dengan seorang lelaki saat ia berada di tubuh seorang gadis dan parahnya lelaki yang menciumnya adalah…… Oh Sehun???!!!!!

Jongin pasti sudah ikut gila!!

.

.

***

.

.

Selepas bel pulang berbunyi, Ara langsung keluar dari kelas Jongin dan tak berniat ikut latihan basket. Moodnya benar-benar sudah hancur total hari ini  dan ia ingin segera pulang ke rumah dan merebahkan tubuhnya di kasur yang empuk. Harapannya cukup sederhana namun nyatanya takdir selalu tidak berpihak padanya. Ia tengah berjalan seorang di koridor dan matanya menangkap sebuah mobil yang sangat familiar berhenti di ujungnya. Ara menghentikan langkahnya yang hanya tersisa beberapa langkah ke ujung koridor. Matanya menatap mobil hingga sosok pria berpakaian rapi keluar dari dalamnya.

Tubuh Ara langsung membeku. Walaupun sudah bertahun-tahun ia tidak melihatnya, matanya tetap mengenali pria itu, terlebih setelah Jongin membahasnya tadi pagi. Bagaimana bisa Ara melupakan sosok yang sudah menghancurkan hatinya? Tubuh Ara langsung bergetar. Tak bisa ia pungkiri phobia yang diidapnya tetap menyerangnya walaupun ia sedang tidak berada di dalam tubuhnya sendiri karena itu bukanlah penyakit fisik – seperti Jongin yang alergi pada telur – melainkan sakit yang menyerang kejiwaannya. Ara mengatur nafasnya, ia harus bertahan agar tidak pingsan lagi seperti sebelum-sebelumnya.

Pria yang sejak tadi diawasi oleh Ara itu menoleh ke arahnya dan tersenyum padanya. Saat itu juga Ara merasa dunia berhenti sejenak. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya, membuat hatinya menghangat dan menarik sudut bibirnya yang kaku. Ara ingin menangis detik itu juga. Itu adalah hal yang sudah lama menghilang dalam hidupnya, sesuatu yang ia sendiri ragu apakah masih bisa ia rasakan atau tidak. Dan kini, melihat pria itu tersenyum padanya, Ara merasa bahagia. Beban di dadanya terasa terangkat dan ingin rasanya ia berlari, menghambur memeluk sosok itu.

Namun, harapan tak seindah kenyataan. Saat ia merasakan kebahagiaan itu, saat itu pulalah dirinya kembali dihembaskan pada kenyataan pahit kehidupan. Pria itu tidak tersenyum padanya. Pria itu tidak melihatnya.

Seorang gadis berlari dari arah belakangnya dan langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu begitu jarak mereka sudah dekat. Tubuh Ara kembali membeku. Matanya terbuka lebar menyaksikan kejadian itu. Kedua orang yang menjadi pusat perhatian itu saling melemparkan senyum dan pria itu mengacak rambut gadis itu dengan sayang.

Ara merasa tubuhnya terhempas ke lapisan bumi terdalam untuk kesekian kalinya. Ternyata Tuhan tidak pernah menyayanginya, Tuhan tidak pernah mendengar doanya dan Tuhan tidak pernah mempedulikannya. Air mata langsung membasahi pipinya saat melihat siapa gadis yang membuat pria itu tersenyum bahagia. Dan memori yang sudah ia simpan dalam sudut otaknya, membawanya kembali merasakan rasa sesak yang sudah lama ia lupakan.

FLASHBACK

“Dia datang. Dia datang.”

Semua yang ada di kelas itu langsung terdiam saat Ara masuk ke dalamnya. Beberapa nampak menatapnya dengan tatapan penasaran dan sisanya menatapnya dengan tatapan nyalang penuh kebencian. Ara hanya diam, terus melangkah menuju mejanya, memasukkan seluruh buku ke dalam tasnya. Setelah memastikan tak ada satupun barangnya yang tertinggal, Ara menjinjing tasnya dan melangkah keluar.

“Aku hanya penasaran, apakah kau dikeluarkan atau kau yang mengundurkan diri?” Seorang gadis berteriak, membuat langkah Ara terhenti.

“Aku berani taruhan jika dia dikeluarkan.” Jawab seorang lainnya.

“Tidak. Tidak. Ayahnya pasti akan menarik seluruh dana pada sekolah ini jika anak gadisnya dikeluarkan.” Yang lain menimpali.

“Hei, bukankah Kim Ara sudah tidak punya Ayah?”

BRAKK

Ara mendorong meja yang terdekat dengan dirinya dengan kakinya dan membuat seisi kelas terkejut. Beberapa dari mereka mundur ke belakang sedangkan gadis-gadis yang sejak tadi ribut membicarakan dirinya justru mendekati Ara dengan pandangan meremehkan.

“Yak!! Apa yang kau lakukan? Jika ingin mengamuk jangan disini, aku tidak mau ada korban lagi.”

Gadis yang sejak tadi menjadi provokator itu mendorong Ara hingga tubuhnya terhuyung ke belakang dan menabrak papan tulis.

“Jaga bicaramu, Choi Yerim.” Ara menatap gadis itu tajam.

Gadis yang bernama Yerim itu tersenyum miring dan semakin mendekati Ara. “Coba katakan padaku bagian mana yang salah. Di bagian kau dikeluarkan atau kau yang sudah tidak punya Ayah?”

Sontak pertanyaan itu langsung memicu tawa seluruh kelasnya dan membuat Ara semakin tak bisa menahan amarahnya.

“Berhentilah menyampah. Mulutmu tak ada bedanya dengan keran bocor.” Ara menggertakkan giginya, ingin rasanya ia menampar mulut kotor gadis dihadapannya ini.

“Kau yang seharusnya jaga bicaramu, Kim Ara!! Gadis sialan sepertimu tidak seharusnya bersikap seperti itu. Kau tidak punya malu ya masih terus-terusan menunjukkan wajahmu itu di sekolah ini?”

“Aku memiliki hak di sini.”

“Tidak setelah kau dikeluarkan.”

“Aku tidak dikeluarkan.”

“Lalu kenapa kau mengemasi barang-barangmu? Tentu saja kau dikeluarkan. Atau, mugkin Ibumu yang gila itu menyuruhmu keluar karena akan mengajakmu ke rumah sakit jiwa bersama?”

PLAKK

Ara tidak bisa lagi, ia benar-benar sangat marah dan tersinggung dengan ucapan gadis itu. Bagaimana bisa gadis yang ia anggap sebaga sahabat itu bisa berkata demikian hanya setelah apa yang terjadi pada dirinya dan keluarganya? Sahabat macam apa itu?

“Sialan kau!!”

Yerim tidak terima, ia berniat membalas dengan menampar Ara namun tangannya dicegah oleh yang lainnya.

“Hentikan itu, Yerim. Kau tidak mau mengotori tanganmu dengan memukul gadis sialan itu ‘kan?”

Ingin rasanya Ara menangis saat itu juga mendengar kalimat-kalimat kejam yang teman-temannya lontarkan kepadanya. Tapi ia harus menahannya, ia tidak ingin terlihat lemah di depan mereka atau ia akan dihabisi.

“Tentu saja. Aku tidak mau menjadi korban lagi setelah apa yang ia lakukan pada Song Mijoo.” Yerim menatap Ara masih dengan memegangi pipinya yang terasa panas. “Aku hanya tidak menyangka, bagaimana bisa kau melakukan itu pada Mijoo? Kau mendorongnya hingga ia jatuh dari tangga dan koma sampai saat ini?”

Ara terdiam. Ia tahu betul apa yang ia lakukan itu salah tapi mengingat bagaimana perkataan Mijoo dan perlakuan gadis itu padanya saat itu, ia kehilangan kendali dan berniat melindungi dirinya namun malah justru gadis itu terjatuh dari tangga dan menderita gegar otak. Itulah yang menyebabkan semua orang di sekolahnya mengatainya gadis pembawa sial hingga teman-teman dekatnya pun membencinya. Termasuk Yerim.

“Aku tidak mendorongnya. Dia yang duluan menyakitiku.” Ara bergumam, nyaris tak terdengar.

“Tidak usah mengelak. Sudah terbukti jika kau seratus persen bersalah. Hanya karena kau anak dari pemilik rumah sakit terbesar di Seoul, bukan berarti kau bebas dari hukuman. Kau akan masuk neraka selamanya, Kim Ara.” Ucap Yerim tajam dan menusuk.

“Kenapa kau tega melakukan ini padaku, Yerim? Bukankah kita berteman?” Ara menatap Yerim dengan mata berkaca-kaca.

“Cih.” Yerim tersenyum miring. “Bukan hanya aku, semua orang juga ingin berteman denganmu karena kau kaya, bodoh dan bisa dimanfaatkan. Tapi setelah tak ada lagi yang bisa kami manfaatkan darimu, makanya kami ingin kau menyingkir. Terlebih kau adalah ancaman terbesar bagi kami setelah apa yang kau lakukan pada Mijoo tentunya akan ada korban selanjutnya. Kami tidak ingin itu terjadi.”

Tubuh Ara rasanya terhempas ke dalam jurang gelap tak berdasar. Ara merasa benar-benar ingin mengubur dirinya dalam-dalam saat itu juga mengetahui betapa piciknya ia saat itu. Ia pikir semua orang menyukainya karena dirinya, bukan embel-embel dari orang tuanya ataupun semua yang melatar belakanginya. Ternyata selama ini ia salah, orang-orang ini hanya memanfaatkannya dan membuangnya saat ia tidak dibutuhkan lagi. Jadi, seperti itukah teman?

Dengan langkah gontai, Ara keluar dari kelas diikuti tatapan tajam dari teman-temannya. Ia terus berjalan dan tak menoleh ke belakang. Saat tiba di lantai dasar, ia melihat mobil hitam yang sangat dikenalinya berhenti tak jauh di depannya. Ara tersenyum saat pria itu keluar namun senyumnya itu lenyap seketika saat ada gadis kecil yang ikut keluar dari mobil itu. Gadis itu memakai seragam yang sama dengan dirinya dan tersenyum bersamaan dengan pria itu.

“Ayah, aku masuk dulu, ya.” ucap gadis itu riang. Pria itu mengangguk dan mendekati gadis kecil itu.

“Belajar dengan baik dan carilah teman sebanyak mungkin, Jihyun.” Kata pria itu sambil mengecup kening gadis itu dengan rasa sayang.

Dari tempatnya berdiri, Ara meneteskan air matanya melihat orang yang sangat ia sayangi melakukan hal itu pada gadis lain selain dirinya. Ia merasa tersisihkan dan semakin terbuang. Saat gadis itu melintas di dekatnya, Ara melihat name tagnya dan menatap gadis berkucir kuda itu dengan seksama.

.

Han Jihyun, ternyata kaulah yang sudah merebut Ayahku.

.

Dan bersamaan dengan itu, mobil hitam itu melaju meninggalkan Ara yang terus-terusan menatap punggung gadis itu. Hatinya hancur berkeping-keping.

.

.

.

.

Aku bersyukur atas perpisahan ini.

Terasa berat dan penuh dengan air mata,

Hari-hariku akan berubah menjadi kesendirian yang menyakitkan.

Bahkan terasa sulit bagiku untuk sekadar menghangatkan hati yang beku ini.

Dan ketika aku harus mengakhiri cintaku, tanpa siapapun mengetahuinya..

.

.

TBC

.

.

.

Holla~ aku datang lagi.

Ini adalah chapter ke-5 dari FF Love in Time. Semoga kalian suka dan gak bosen bacanya. Untuk kedepannya aku gak bisa update tepat waktu karena jadwalku sudah sangat padat saat ini. Pagi hari aku kerja dan malamnya kuliah, selain itu tugas yang menumpuk dan waktu istirahat yang sedikit membuatku gak ada waktu buat lanjutin FF. Aku harus bener-bener curi-curi waktu istirahatku kalo mau nerusin FF ini. Tapi makasih untuk komentarnya, aku seneng masih ada yang mau baca FF ku yang absurd ini. Makasih semuanya ☺

Ariana Kim ~

Iklan

9 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Love in Time (Chapter 5)

  1. jadi jihyun anak yg lain dari ayahnya arajong(?) umur mereka berarti sama dong? tapi kenapa jongin gatau? kenapa ayahnya arajong gak tanda sama ara? apa karena ayahnya ara gak liat? trus jongin gimana? penasaran beuuddd..

  2. Ternyata Ara memiliki luka yang sangat besar hingga di bersikal seperti saat ini 😥 aahhh seneng banget bacanya apalagi cerita di chapter sangat panjang. Keep writing 🙂

  3. Hidup ara ternyata sangat menyedihkan, dikhianati teman sendiri dan hanya dimanfaatkan makanya ara ngak mau berteman dengan siapapun, kasihan banget jadi ara dan jongin belum tau semuanya tentang seberapa menderitanya ara, yang jongin tau ara hanya anak kesanyangan kedua orang tua mereka. Satu persatu rahasia yang disembunyikan ara terbongkar dan jongin bisa tau semua rahasia ara.
    Ff nya selalu ditunggu kak.

  4. hah sllu ditunggu ff in,semangat terus ya buat ngekanjutin ff in,hah Ara a.k.a Jong In penasaran bwanget plus bkln sakit tuh entar

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s