[EXOFFI FREELANCE] Destiny (Chapter 1)

Destiny~Chapter 1

Author: @dera139_

Length: Chaptered

Genre: Romantic, Sad, Family, School life

Rating: PG-15

Main cast: Kim JongIn (EXO) || Shin Hana (OC) || Song Chaerin (OC) || Oh Sehun (EXO)

Additional Cast: Find by your self ^^

Summary: Takdir mempertemukan kita dan berakhir dengan aku yang mencintaimu. Namun,takdir juga yang membuat dirimu menjauh dariku.

Disclaimer: FF  ini asli buatan. Terimakasih bagi yang sudah meluangkan waktu untuk membaca, jangan lupa tinggalkan jejak dengan like dan comment. Jangan jadi silent reader dan plagiat, karena itu melanggar peraturan. Happy readingg!!~~~

“We’re like parallel lines: always close-never together”

“Kim JongIn!! Lee Taemin!!”seru seorang pria paruh baya mengintrupsi kegiatan berkelahi dua anak murid tersebut, mereka menghentikan aksi pukul-pukulan mereka, satu diantara pria itu mengelap darah disudut bibirnya dan menatap kesal teman seangkatannya yang berani menantangnya berkelahi. Sedangkan yang ditatap itu bukannya takut malah tersenyum sinis sambil mengelap darah di sudut bibirnya.

    Kepala sekolah Im memegang keningnya yang tiba-tiba berdenyut melihat siapa murid yang berkelahi di jam istirahat. Lagi-lagi Kim Jongin, anak itu selalu saja bermasalah, ia bahkan sudah masuk ke kantor guru hampir 5 kali dalam 3 hari terakhir, entah apapun masalahnya mulai dari terlambat, tidur di kelas, tidak membawa baju renang sampai berkelahi.

    “apa kau tidak puas dengan perkelahianmu minggu lalu,Jongin?”sindir kepala sekolah berambut botak tersebut, Jongin hanya terdiam tak berminat untuk menjawab pertanyaan atau sindiran pria itu.

    “apa yang ia lakukan sampai kau terlibat perkelahian dengannya Taaemin?”tanya kepala sekolah beralih ke Taemin

    “dia menyelengkatku dengan sengaja di kantin tadi”jawab Taemin

    “apa itu benar Jongin?”tanya kepala sekolah Im

    “entahlah,aku hanya meluruskan kakiku dan tiba-tiba ia tersungkur di depanku”jawab JongIn

    “itu karena kau menyelengkatku!”jawab Taemin

    “kurasa kau harus pergi ke dokter mata”kata Jongin membuat Taemin kesal dan menarik kerah baju Jongin

    “hei! Ini kantor kepala sekolah!”seru kepala sekolah Im membuat Taemin melepaskan cengkramannya, “Taemin, hukumanmu berlari keliling lapangan sebanyak 20 kali”ucap kepala sekolah

    “nde?”ulang Taemin tak percaya

    “kau keberatan? Kalau begitu 30 kali”

    “baiklah”Taemin membungkuk lalu keluar dari kantor kepala sekolah dengan bersungut-sungut.

    “jadi menurutmu apa hukuman yang cocok untukmu Jongin? Apa kau tidak lelah terus-terusan dihukum hm?”sindir kepala sekolah namun Jongin tidak mennjawab, “kenapa kau tiba-tiba menjadi nakal seperti ini? Padahal dulu prestasimu bagus”lanjut kepala sekolah kali ini nadanya melembut.

    “Jongin-shi,jangan menjadi seperti ini.kau bisa tidak lulus nanti”ceramah kepala sekolah dan lagi-lagi bibir Jongin masih setia mengatup.

    Kepala sekolah Im menghela nafas lalu berujar, “bersihkan lapangan olah raga. Dan panggil orangtuamu ke sini. Kau boleh pergi”Jongin membungkuk lalu pergi keluar. Kepala sekolah Im memijat keningnya, selalu Jongin yang membuatnya pusing, entah apa yang terjadipada anak itu sampai ia berubah drastis seperti sekarang.

    Jongin berjalan menuju taman belakang SMA Daesung, ia enggan kemabali ke kelas karena sebentar lagi bel istirahat akan berbunyi. Pria itu menegadahkan kepalanya ke langit, dulu ia sangat suka memandang awan tiada hari tanpa melakukan rutinitas itu.

    Ia memejamkan matanya, kepalanya sedikit pening akibat tinju Taemin tadi. Yang dikatakan kepala sekolah memng tidak salah, Jongin tidak boleh menjadi nakal seperti ini terus, tapi apa daya  ia tidak bisa mengendalikan amarahnya tadi.

    Kala itu Taemin sedang asik mengobrol bersama temannya sampai tidak melihat jalan dan tersandung, dan ia menyalahkan Jongin. Jongin seharusnya mengabaikannya namun karna marah ia malah menantang Taemin. Ia kalap dan Taemin datang disaat yang tidak tepat membuat amarahnya semakin menjadi-jadi.

    Pria itu marah, marah karena tidak bisa mendekati orang yang ia cintai, marah karena gadisnya tertawa dengan pria lain dan marah karna takdir membuat mereka terpisah.

    “Oppa!”panggil sebuah suara yang sangat familiar, ia membuka mata dan melihat sosok yang amat ia rindukan, rasanya ia ingin mendekap tubuh mungil itu detik ini juga.

    Chaerin duduk di sebelah Jongin menatap wajah babak belur namja itu dari samping lalu mengoleskan obat merah dengan cottonbut, “ahh”ringis Jongin

    “mian”ucap Chaerin memelankan gerakan mengoleskan obat merah lalu menempelkan plester berwarna coklat yang memang biasa ia sediakan di tasnya.

    “gomawo”ucap Jongin menatap Chaerin, terlihat kerapuhan di mata hitam itu, mereka bertatapan cukup lama sampai akhirnya Chaerin melayangkan pandangannya ke arah pot-pot bunga yang ada di sana.

    “kenapa oppa berkelahi?”tanya Chaerin

    “aku tidak sengaja menyelengkat Taemin”jawab Jongin ikut menatap pot yang menjadi objek Chaerin

    “lalu apa oppa dapat hukuman?”

    “ya,aku harus membersihkan lapangan olah raga nanti”

    “aku akan membantumu”

    “dwasseo. Aku bahkan tidak ingin melakukannya”

    “oppa!”ucap Chaerin menatap Jongin dari samping, “jangan seperti ini, kenapa kau berubah?”tanya Chaerin

    “aku berubah? Apa yang berubah dari diriku?”

    “kau suka mencari masalah dan berkelahi. Kau bisa terluka parahnanti”

    “aku sudah”potong Jongin

    “nde?”

    Jongin menatap tepat di manik Chaerin dan berkata, “aku sudah terluka parah, sangat parah” Chaerin tidak perlu bertanya lebih lanjut karen amata Jongin menceritakan semuanya.

    “jadi bagaimana kau akan mengerjakan tugasmu dengan Jongin?”tanya Sena menatap temannya Hana yang sedang memasukkan buku dari loker ke tasnya,

    “entahla”ucap Hana lalu mendesah, “aku benar-benar tidak beruntung”lanjut Hana, “jadi apa kau tahu dimana Jongin berada?”tanya Hana

    “kudengar ia dihukum membersihkan lapangan olahraga. Mungkin ia ada di sana”jawab Sena,

    “baiklah aku ke sana dulu. Bye!”ucap Hana melambai dan lalu ia berpisah dengan Sena dan berjalan menuju lapangan indoor yang ada di sekolah mereka. hana masuk dan tidak menemukan siapa-siapa di sana, hanya ada gagang pel yang tergeletak di lantai,‘apa Jongin sudah pulang’pikir Hana karna lapangan itu memang sudah bersih, bola basket sudah tersusun di dalam keranjang.

    Yeojya itu lalu berbalik untuk keluar namun ia malah menemukan seseorang tengah tiduran di bangku penonton dengan tangan menutup matanya. Dari postur tubuhnya ia terlihat tidak asing bagi Hana, tapi ia ragu apa itu benar Jongin. Hana memperhatikan namja itu dengan hati-hati, ia takut salah.

    “ada apa kau mencariku?”tanyanya, yap itu benar Jongin. Jongin berujar tanpa merubah posisinya sedikitpun

    “guru Song memberikan tugas kelompok dan kita sekelompok”jawab Hana, “aku ke sini untuk mengajakmu mengerjakan tugas”lanjut Hana

    “kau kerjakan saja sendiri,aku tidak berminat”

    “nde? Ya! Tidak peduli kau berminat atau tidak, ini adalah tugas kelompok”

    Jongin menurunkan tangannnya dari matanya dan duduk menghadap Hana, tatapannya dingin. Sangat dingin hampir membuat Hana tercengang, “katakan saja pada guru Song kalau aku tidak mau”ucap Jongin lalu menuruni bangku penonton dengan tas di punggungnya lalu berjalan keluar.

    Hana mendesah kesal lalu berjalan mengikuti Jongin, “Ya! Tidak bisa begitu. Guru Song sudah bilang kalau-”kata-kata Hana terpotong karena tiba-tiba Jongin menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Hana

    “aku.tidak.mau.mengerjakannya”ucap Jongin penuh penekanan disetiap katanya lalu berjalan pergi meninggalkan Hana yang rasanya saat itu juga ingin menimpuk Jongin dengan sneakers berwarna kuning miliknya. Ia memang tidak beruntung bisa mendapat rekan kerja seorang Jongin.

    “kita lihat saja Jongin,akan kupastikan kau mau mengerjakan tugas ini”gumam Hana lalu berjalan meninggalkan sekolah, untung saja deadline tugas guru Song masih 2 minggu lagi. Jika bukan karena guru Song yang mengancam dengan berkata ‘karena itu tugas kelompok saya tidak mau tahu kalian harus mengerjakannya bersama dan nilai kalian adalah nilai kelompok’ Hana tidak akan mau menemui Jongin.

    Walaupun sekelas dengan Jongin sejak kelas 11, ia tidak pernah suka denganJongin. Baginya,Jongin hanyalah anak berandalan yang tidak mempunyai motivasi hidup. Bagaimana bisa ia terus-terusan mendapat hukuman padahal sebentar lagi ia akan lulus?

    Jongin merebahkan tubuhnya di kasur setelah selesai membasuh diri. Walaupun pegal karena membersihkan lapangan sendirian ia tetap tidak bisa tidur karena memikirkan di mana Chaerin sekarang. Seingat Jongin, ia menyuruh Chaerin tidak usah membantunya dan pulang namun saat ia sampai di rumah,pelayan Ahn  bilang kaalau Chaerin belum pulang.

    Jongin meraih ponselnya dan menekan angka 1 yang langsung tersambung dengan  nama kontak ‘Song Chaerin’. Tak ada jawaban, Jongin lalu bangkit dan meraih kunci motornya hendak keluar untuk mencari Chaerin, ia baru akan menjalankan motor sportnya saat melihat sebuah mobil berhenti di depan pagar rumahnya dan seseorang turun dari sana. Chaerin.

    Jonginpun turun dari motor, terdapat perasaan lega karena akhirnya Chaerin pulang namun juga ada perasaan kesal saat mengetahui siapa yang duduk di kursi pengemudi. Chaerin melambaikan tangannya lalu berjalan masuk dan melihat Jongin tengah menatapnya dari tadi.

    “oppa mau kemana?”tanya Chaerin

    “kemana saja kau dengan namja itu?”tanya Jongin mengabaikan pertanyaan Chaerin

    “ia mengajakku pergi makan tadi”jawab Chaerin

    “aku tidak suka kau pergi dengan namja itu”

    “ia punya nama oppa. Dan namanya Oh Sehun. Lagipula apa maksud oppa berkata seperti itu?”

    “aku tidak peduli siapa namanya. Aku tidak suka kau berdekatan dengan pria lain”

    “memangnya kenapa? Apa hak oppa?”

    “tentu aku punya hak. Kau masih milikku Song Chaerin!”ucap Jongin nadanya meninggi, jelas sekali ia marah. Chaerin tersentak mendengarnya, Jongin tidak pernah membentaknya. “aku tidak pernah suka melihatmu dekat dengan pria lain, Chaerin”lanjut Jongin penuh penekanan lalu berjalan meninggalkan Chaerin yang masih mematung.

    Yeojya itu masih mencerna kata-kata Jongin barusan, ia bingung harus bagaimana. Apa ia harus senang karena Jongin ternyata masih mencintainya atau merasa sedih karena seberapapun mereka mencoba,mereka tidak bisa bersatu.

    Jongin membanting pintu kamarnya dengan keras bahkan pelayan Ahn yang tengah menyapu di sekitar kamar Jongin tersentak dan hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan anak majikannya itu.

    Jongin melempar kunci motornya ke meja dan membantingkan tubuhnya di kasur. Ia mengacak-ngacak rambutnya kesal, ia cemburu. Cemburu saat melihat Chaerin dekat-dekat dengan pria lain terlebih pria itu adalah Sehun.

    Jongin tidak menyukai Sehun tanpa sebab. Sebagai laki-laki,ia dapat melihat dari sorot mata Sehun kalau laki-laki itu menyimpan perasaan pada Chaerin. Dan jongin tidak suka.

    Jongin tambah kesal karena Chaerin tidak mengindahkan perintahnya untuk menjaga jarak dengan Sehun.

    Jongin memejamkan matanya,mengatur nafasnya yang memburu. Jongin ingin tidur namun ia teringat dengan bentakannya pada Chaerin tadi. Ia harusnya tidak boleh berbicara seperti itu pada Chaerin, yeojya itu pasti kaget.

    Jongin lalu berjalan keluar kamar dan berbelok ke kiri menuju sebuah pintu bercat putih yang tak lain adalah kamar Chaerin. Jongin mengetuk pintu kamar Chaerin dan berujar, “Chaerin-ah,ini aku”. Tak ada jawaban, Jongin hendak pergi saat kenop pintu terputar dan menampilkan sosok Chaerin dengan wajah sembab. Jongin benci melihat Chaerin menangis, ia tidak pernah suka melihat Chaerin menangis apalagi karena dirinya.

    “boleh aku masuk?”tanya Jongin, Chaerin mundur dan mempersilahkan Jongin masuk,

    “wae oppa?”tanya Chaerin menatap ragu Jongin,

    “mianhae”ucap Jongin tulus, “mianhae karena membuatmu menangis. Mianhae, karena membentakmu tadi”lanjut Jongin, mata Chaerinkembali memerah dan bulir air terjatuh dari mata sipit Chaerin, yeojya itu menangis lagi.

    “oppa membuatku..hiks..takut tadi”ucap Chaerin sesegukan

    “mianhae”Jongin menarik Chaerin ke pelukannya dan mengelus surai panjang milik Chaerin. Hangat. Pelukan Jongin selalu hangat dan membuat Chaerin selalu merindukan pelukan Jongin.

    “apa kau membuat masalah lagi Jongin?”tanya mr Kim saat makan malam. Namja paruh baya itu menatap tajam anak laki-lakinya, ia baru saja mendapat telpon dari kepala sekolah Im untuk datang ke kantor kepala sekolah

    “aku berkelahi dengan teman kelas sebelah”jawab Jongin sambil memakan makan malamnya dengan cuek mengabaikan tatapan tajam ayahnya.

    “sebenarnya apa maumu Jongin? Kenapa kau selalu berkelahi terus?!”nada mr Kim meninggi membuat mrs.kim mengelus lengan suaminya itu memberikan tanda untuk tenang

    “a..appa, Jongin-oppa tidak salah. Itu hanya kesalahpahaman”ucap Chaerin, mr. Kim menatap Chaerin ragu, bukan tidak percaya, hanya saja mr kim tahu Chaerin selalu saja membela Jongin.

    “benarkah Jongin?”tanya mr kim

    “nde”jawab Jongin karena memang itu hanya kesalah pahaman, mr kim menghela nafas,

    “kalau begitu kenapa kau tidak jelaskan kepada kepala sekolah?”

    “seberapa keraspun aku menjelaskan toh aku memang berkelahi”jawab Jongin

    “yasuda. Yang penting kita tahu kalau Jongin tidak sengaja. Benarkan yeobo”ucap mrs kim, “lebih baik kia lanjutkan makannya. Ja,makan iniJongin”lanjut mrs kim menyendokkan ayam ke piring Jongin.

    Makan malampun berjalan dengan lancar, terkadang Chaerin dan mr kim tertaawa saat mendengar celotehan mrs kim yang bercerita mengenai salah satu muridnya. Mrs kim memang berprofesi sebagai guru bahasa di salah satu smp. Sedangkan Jongin,ia hanya fokus memakan makan malamnya sambil sesekali menatap Chaerin.

Dulu Jongin suka mengobrol dan bercanda namun semenjak ayahnya mr kim menikah lagi ia jadi malas untuk berbicara. Jangankan untuk bercanda, Jongin hanya berbicara seperlunya saja,serasa jika ia terlalu banyak bicara suaranya akan habis.

“aku selesai”ucap Jongin lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamarnya, mr Kim mendesah melihat kelakuan putranya yang dingin,

“kenapa ia bisa berubah? Dulu iatidak seperti ini”ucap mr Kim

“geokjongma,ia hanya perlu beradaptasi. Kau tenang saja yeobo,Jongin pasti akan seperti dulu lagi”ucap mrs kim tersenyum menenangkan.

Mr Kim memang benar, bukan hanya Mr kim yangmerasa Jongin berubah,Chaerin juga. Chaerin hanya terdiam mendengar percakapan suami-istri itu, ia tahu alasan kenapa Jongin berubah namun ia tidak ingin dan tidak akan pernah mau menceritakan alasan Jongin.

Di kamar Jongin mengeluarkan headphone dan mulai menyalakan playlistnya, ia bosan. Dan kebiasaan Jongin jika sedang bosan adalah mendengarkan lagu. Lagu pertama yang terputar di playlistnya adalah Blossom Tears milik Lyn dan Leo VIXX. Entah kenapa saat mendengar lagu itu, ia seperti tengah mendengarkan curhatan hatinya sendiri.

Lagu itu sangat cocok dengan kehidupan Jongin sekarang. Ia memejamkan matanya,pikirannya berputar ke saat-saat bahagia dulu.

“Oppa! Oppa!”rengek Chaerin kesal karena Jongin tak mengindahkannya dan malah asik bermain game di ponselnya, Chaerin tidak kehabisanakal. Yeojya itu mengambil bantal sofa dan melemparkan ke Jongin,ponsel Jongin terlepas dari gengamannya.

“Ya!”seru Jongin lalu meraih ponselnya, namun yang terpampang di ponselnya adalah ‘GAME OVER’, “Ya! Aku jadi kalah!”ucap Jongin menatap Chaerin kesal. Chaerin tertawa mengejek dan menjulurkanlidahnya

“oppa mengabaikanku dari tadi dan rasakan”ucap Chaerin

“ahh,kau mau bermain-main denganku eoh”Jongin menampilkan smirknya lalu bangkit menuju ke arah Chaerin, Chaerin menangkap signal bahaya Jongin dan mundur menjauhi. Jongin mempercepat langkahnya begitupun sebaliknya, Chaerin berlari menghindari Jongin.

“aku tidak akan melepaskanmu saat kau sudah tertangkap nanti”ucap Jongin mengancam,

“coba saja”tantang Chaerin dan berlari menuju belakang sofa menghindari Jongin,

“kau menantangku Kim Chaerin”

“Ya! Sejak kapan margaku berganti!”ucap Chaerin, Jongin berlari cepat dan Chaerin menghindar namun telat Jongin sudah berhasil meraih tangan Chaerin dan menariknya dalam satu hentakan ke dalam pelukannya.

Jarak antara mereka sangat dekat, saking dekatnya sampai Chaerin bisa merasakan hembusan nafas Jongin di permukaan kulitnya begitupun sebaliknya. Jongin mengunci tatapan mereka,ia menatap mata dan bibir Chaerin bergantian.

Jongin mengikis jarak di antara mereka dan menempelkan bibirnya di atas bibir Chaerin. Chaerin mengerjapkan matanya, Jongin menjauhkan bibirnya dan berujar “sudah kukatakan jangan pernah menantangku Chaerin” lalu menempelkan bibirnya lagi, kali ini disertai dengan sedikit lumatan. Chaerin menutup matanya dan mulaimenikmati permainan Jongin hingga tanpa sadar ia juga membalas ciuman Jongin.

TO BE CONTINUE…

Duh apa banget ini ff x,x Gimana bagus gag? Author juga bingung bisa dapat ide dari mana,pokoknya author cuman langsung ketik-ketik aja kekeke~ Oia bagi yang belum tahu lagu Blossom Tears, coba dengerin deh, kalau menurut author sih bagus. Artinya juga bagus, dan emank pas sama si Jong.

Comment jangan lupa ya, kalau bagus kan author jadi semangat buat lanjutin ff ini dengan cepat. Dont be plagiator and silent reader~

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Destiny (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s