Rooftop Romance (Chapter 21) – Shaekiran

Rooftop Romance 2nd Cover.jpg

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO) 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Friendship? AU? Angst? Sad? School Life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | Chapter 20 | [NOW] Chapter 21 |

“Ter-untuk engkau yang kian tak berujung.”

  

 

-Chapter 21-

Author’s Side 

Di sore yang agak mendung, seorang gadis nampak duduk santai di sudut kelas. Hari ini adalah jadwalnya piket kelas. Jadi setelah selesai membersihkan kelas dengan beberapa teman sesama piketnya, si gadis tak langsung pulang namun memilih duduk di mejanya sambil mendengarkan playlist handphone-nya secara acak. Ntahlah, akhir-akhir ini si gadis tampaknya sedang ketagihan mendengarkan lirik romantis dengan nada manis meskipun belakangan kisah hidupnya kian miris. Seperti sekarang, suara K.Will lewat You don’t know love-nya mengalun lembut di telinga Wendy.

“Kau belum pulang?” atensi Wendy kini teralih pada lelaki yang ntah sejak kapan sudah berdiri di ambang kelas sambil menenteng satu tas ranselnya dan menelusupkan tangan kanannya ke dalam saku celana. Wendy menatap Taeil sebentar, kemudian menggeleng pelan.

“Sebentar lagi,” jawab si gadis tanpa minat hingga teman sekelas yang juga berprofesi sebagai bodyguard-nya itu hanya bisa menghela nafas cukup kasar –heran dengan kebiasaan Wendy akhir-akhir ini. Jadi Taeil yang sudah gemas sendiri akhirnya masuk ke dalam kelas dan menghampiri meja Wendy, lantas ia duduk pula di depan si gadis.

“Mau sampai kapan kau seperti ini Wen? Kau aneh,” tanya Taeil penuh selidik, namun Wendy hanya memutar bola matanya malas. “Memangnya apa yang salah denganku?” tanya balik si gadis yang kali ini sudah melepas earphone-nya, yakin kalau sekarang dia perlu berbicara serius dengan pria bernama Moon Taeil itu.

“Kau berubah Wen, tidak seperti Wendy yang pertama kali ku kenal,” lagi Taeil menjawab serius, namun Wendy masih saja memutar bola matanya tanpa minat akan topik yang sekarang menjadi bahan konversasi itu. “Tidak ada yang berubah Taeil, aku masih sama saja,” jawab si gadis kali ini sembari menatap lekat Taeil yang juga balas menatapnya lekat.

“Terserahmu saja,” putus Taeil akhirnya dan Wendy hanya mengerucutkan bibir. “Sudah pergi sana, kau menggangguku mendengar musik,” sarkas Wendy akhirnya sambil mendorong badan Taeil menjauh, dan si lelaki bermarga Moon itu hanya bisa menurut sambil berdiri dari duduknya.

“Jangan pulang terlalu lama, telfon aku kalau kau perlu dijemput,” pinta Taeil dan Wendy hanya mengangguk setuju. Cukup aneh memang karena kini Taeil si bodyguard membiarkan Wendy yang notabene majikannya pulang sendirian. Semua karena tuan besarnya –Son Michael- yang memutuskan membiarkan Wendy bebas asal tidak mengurung diri lagi. Jadi mulai seminggu yang lalu Wendy sudah pergi dan pulang sekolah sendirian, meski di arena sekolah si gadis tetap dalam pantauan Taeil.

Tak lama kemudian, langkah besar Taeil nampak menghilang dibalik pintu kelas dan itu cukup membuat Wendy tenang. Lantas tangan si gadis tergerak untuk membuka handphone-nya lagi, lalu segera memilih menu musik. Ya, yang ingin Wendy lakukan sekarang hanya mendengarkan nada-nada manis itu lagi. Seperti seorang kecanduan Wendy lantas bersenandung sayup-sayup hingga ia sendiri lupa akan eksistensi sang waktu.

“Omo, jam berapa sekarang?” batin Wendy lama kemudian. Ntah sudah berapa puluh lagu yang terputar di earphone-nya, dan jumlah itu agaknya cukup menyadarkan si gadis bahwa sudah banyak waktu yang ia lewatkan di sudut kelas. Wendy pun segera melirik jam tangannya, lalu menemukan jarum jam itu sudah menunjuk angka 5 yang hampir mendekati 6. Sudah sangat sore dan bahkan hampir malam.

“Sial, aku harus pulang,” putus si gadis akhirnya sambil beranjak menenteng tasnya keluar kelas.

Jika biasanya Wendy akan pulang bersama Chanyeol, maka sekarang si gadis tengah berjalan sendirian di koridor sekolah yang sepi. Wendy sangat yakin sudah tidak ada lagi orang di sekolah mengingat sekarang sudah pukul 6, dan ia tentu saja melangkahkan kakinya terburu-buru kali ini.

Wendy sebenarnya ingin menghubungi Taeil, namun urung karena dia tidak ingin terlalu cepat sampai rumah. Kalau Taeil menjemputnya, sudah pasti lelaki itu akan mengendarai mobil dengan kecepatan seorang pembalap F1 dan membuat Wendy sampai di rumah besarnya hanya dalam hitungan menit.

Kalau Sehun? Wendy tidak ingin menggangu lelaki itu. Katanya, mengingat ujian semester yang kian mendekat keluarga Sehun memutuskan agar lelaki itu mengikuti les. Katanya lagi, nilai ujian Sehun cukup memalukan keluarga. Wendy sendiri tertawa, karena ia tau kenapa alasan nilai Sehun anjlok seperti itu. Ibu tiri Sehun yang suka mempengaruhi dan menatapnya iri itu membuat si lelaki Oh akhirnya berpikir membuat dirinya menjadi ‘rusak’ agak tak diusik. Namun kali ini Sehun ingin serius sekolah. Dia ingin menjadi Sehun yang dulu; si jenius yang membanggakan ayahnya selalu.

Sebenarnya ada satu lagi yang bisa Wendy mintai tolong, dan si gadis sangat yakin kalau lelaki itu mau menjemput Wendy sekarang. Taeyong masuk di dalam daftar Wendy sekarang, sosok yang adalah teman masa kecil juga bekas pacarnya itu. Apa pernah Wendy cerita hubungannya dengan Taeyong? Ah, sepertinya gadis itu lupa karena masalahnya yang akhir-akhir ini kian pelik, kan?

Taeyong adalah teman masa kecil Wendy di Kanada. Sungguh, Wendy hanya kenal satu orang Korea sepertinya di Kanada dan itulah adalah seorang Lee Taeyong. Mereka sekelas, dan orangtua mereka saling mengenal sebagai sesama orang sukses pemilik perusahaan besar dengan darah keturunan Asia, khususnya Negeri Ginseng itu.

Bukannya hubungan yang baik, malah sebaliknya yang terjadi antara Wendy juga Taeyong. Jujur saja, gadis itu sangat membenci bahkan berniat mengumpat pada si lelaki bermarga Lee itu tiap kali mereka berjumpa. Bagaimana tidak mengumpat kalau lelaki itu selalu mem-bully-nya, mengejeknya, juga memaksanya mengikutinya ke sana sini, lebih lanjut Taeyong juga mengekang pergaulan Wendy hingga gadis itu hanya berteman dengan Taeyong di jam istirahat. Gadis mana yang tidak gondok?

Kadang Taeyong berperan sebagai lelaki paling meyebalkan yang bisa membuat Wendy naik pitam, namun juga terkadang bisa menjadi sandaran hangat yang dibutuhkan Wendy dulu. Taeyong selalu ada untuk Wendy bahkan di saat terpuruk gadis itu, Taeyong si konyol yang selalu menghibur Wendy yang kian bersedih sekian tahun yang lalu saat mereka masih duduk di bangku sekolah dasar. Juga Taeyong ialah satu-satunya mantan kekasih Wendy; meski dalam unsur paksaan dimana Taeyong memaksa si gadis menerima pernyataan cintanya. Meski terpaksa, toh Wendy tidak terlalu keberatan. Malah perlahan, ia merasakan kenyamanan saat berada dekat dengan Taeyong.

Ya, semuanya baik-baik saja, benar-benar baik sebelum lelaki itu akhirnya pergi tanpa meninggalkan kabar. Taeyong pindah ke Korea, dan itu membuat semuanya berubah begitu drastis. Wendy tidak punya rasa yang sama lagi.

Gadis itu menghela nafasnya kasar setelahnya. Memikirkan banyak orang membuatnya menjadi sedikit muak. Jadi sekarang Wendy hanya berusaha fokus berjalan di koridor, menyesuaikan langkah kakinya secepat mungkin agar ia segera sampai di luar sekolah dan bisa men-stop taxi untuk membawanya pulang ke rumah.

Namun langkah Wendy terhenti seketika ketika ia menemukan dirinya berdiri terpaku di tengah koridor. Bagai dibius, Wendy kini hanya bisa berdiri sambil menikmati lantunan nada piano memikat yang ntah darimana. Barulah saat si gadis menoleh dan menemukan pintu ruang musik di sebelah kirinya, akhirnya si gadis mengerti asal suara merdu itu.

“Siapa yang main piano malam-malam begini?” batinnya penasaran sambil mendekati pintu ruang musik itu, berniat mengintip siapa gerangan pemilik nada-nada indah yang sekarang tengah memanjakan telinganya.

Namun yang didapati Wendy sungguh membuat nafasnya lagi-lagi tercekat. Ayolah, sudah banyak usaha yang gadis itu keluarkan untuk menghindari lelaki itu. Namun sekarang Wendy malah mendapati pemuda yang ia hindari selama beberapa hari ini tengah memikatnya dengan sebuah permainan nada-nada indah jemarinya di atas tuts piano. Kaku yang kini bisa Wendy lakukan, ragu antara membuka pintu dan menyapa sok akrab sosok dibalik ruangan itu atau lebih baik pergi saja seperti berpura-pura tidak melihat.

Akhirnya si gadis menghela nafasnya pelan, ragu, dijauhkannya jemari miliknya yang sudah melingkar di gagang pintu. Wendy mundur selangkah, tersenyum tipis, lalu mulai melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar sekolah. Nada-nada itu sungguh memikat rungunya untuk mendengar, juga dalang dibalik piano yang menciptakan lantunan nada tinggi rendah yang tersusun begitu manis sungguh membuatnya terpesona.

Namun kali ini Wendy memilih tidak, lebih baik ia menjauh dan berlalu begitu saja sebelum akhirnya satu kalimat sapa membuat tembok ‘move on’ yang sedang ia bangun runtuh begitu saja. Baginya, memandang raut serius Chanyeol dibalik piano selama selang beberapa detik dari balik pintu saja sudah jauh lebih dari kata cukup.

Ya, cukup membuatnya merindu lagi.

“Kau baru pulang?” tanya Baekhyun pada sosok tinggi yang kini memasuki ruang makan masih berbalut seragam sekolah lengkap dengan ransel di punggung. Hanya sebuah anggukan ringan yang Chanyeol berikan sebagai jawaban sebelum akhirnya si pemuda mendaratkan bokongnya di atas kursi meja makan setelah lebih dulu meletakkan ranselnya begitu saja di lantai.

Canda tawa menemani meja berisikan tiga orang itu seperti malam-malam sebelumnya. Nyonya Park kini nampak bergurau dengan kedua putra tampannya yang sesekali tertawa lebar, lumayan menghibur malam yang kurang lengkap karena Tuan Park yang masih bekerja hinggga larut malam di kantor Polisi.

“Kau mau kemana?” tanya Baekhyun kini karena Chanyeol malah berdiri dari duduknya saat tawa masih memenuhi ruangan. Memang sedari tadi mereka sudah selesai makan dan hanya tengah menghabiskan waktu sambil bercanda ria.

“Ke atas hyung, aku perlu mandi lalu tidur,” jawab Chanyeol singkat yang dihadiahi anggukan setuju oleh Nyonya Park. “Arraseo, sekarang kalian berdua naik ke atas dan tidur. Kalian butuh istirahat yang cukup karena kelelahan belajar untuk ujian,” katanya dan kedua orang saudara itu mengangguk. Lantas dengan langkah beriringan Chanyeol juga Baekhyun menaiki tangga menuju lantai 2 dan segera memasuki kamar mereka.

Baekhyun nampak langsung berbaring di atas kasur sesampainya mereka berdua di kamar. Tanpa babibu lagi si Byun langsung menarik selimutnya hingga menutupi batas kepala, dia benar-benar lelah belajar seharian di sekolah dan ingin segera terbang ke dunia mimpi sekarang juga.

Jika Baekhyun langsung terlelap, maka Chanyeol lebih memilih masuk ke kamar mandi untuk sekedar membasuh diri. Dia perlu mandi segar untuk membuat badannya nyaman untuk tidur, kebiasaannya sejak dulu.

Selesai mandi Chanyeol yang kini hanya mengenakan kaos oblong tipis dan boxer berwarna hitam segera menuju kasurnya, mulai membaringkan diri dengan niatan segera terpejam ke alam mimpi.

Namun ternyata Chanyeol tidak bisa tidur.

Shit!” Chanyeol mengumpat.

Ntah sudah berapa jam ia membuka buku pelajaran, membaca dongeng juga mencoret-coret kertas yang biasanya membuatnya mengantuk. Namun meski badannya terasa begitu remuk dan lelah, dia belum bisa tidur juga. Waktu bahkan sudah bergulir hingga menunjukkan pukul 1 dini hari, yang itu artinya sudah 4 jam lebih Chanyeol berusaha tertidur namun berakhir gagal karena maniknya yang kian enggan terpejam.

Lantas tangan Chanyeol yang sudah frustasi tergerak membuka laci meja belajarnya, kemudian meraih sebuah botol kecil transparan dengan beberapa penampakan pil mungil di dalamnya. Ragu, Chanyeol akhirnya membuka benda kecil itu dan menelan sebutir pil cepat. Pusing seketika menjalar kepala Chanyeol, dan dengan langkah tertatih si pemuda Park kembali membaringkan dirinya di atas kasur. Dalam hitungan yang tidak sampai semenit, akhirnya mata Chanyeol terpejam secara sempurna karena obat tidur yang baru saja ia tenggak habis.

Beberapa menit kemudian setelah yakin Chanyeol memang tertidur, seorang lelaki yang sejak sejam lalu memandangi Chanyeol dari balik selimutnya dengan aksi pura-pura tertidur akhirnya bangkit pula dari persembunyian. Baekhyun dengan segera mendekati meja belajar Chanyeol, kemudian mengelurkan botol obat yang baru saja adiknya tenggak isinya itu penasaran. Sebuah merk obat tidur yang lumayan terkenal dan di cap ampuh nampak menjadi fokusnya sekarang, sedikit membingungkan Baekhyun sejak kapan adiknya yang tukang molor itu harus menelan pil agar bisa terlelap?

Puas memandang obat tidur kepunyaan Chanyeol yang kini sudah Baekhyun kembalikan ke tempatnya semual, netra Baekhyun kini tertarik pada objek buku tulis yang terdampar bagai pulau tak berpenghuni di atas meja. Baekhyun lantas tertarik pada salah satu buku dengan keadaan terbuka lebar hingga menampakkan isi salah satu lembarannya. Baekhyun tercengang saat membaca kalimat yang terukir disana, lalu dengan langkah cepat ia bergerak memasukkan buku tulis itu ke dalam tasnya sebelum adiknya terbangun.

“Wendy…..Son…….. Wendy, Wen……”

Baekhyun tersenyum sekilas, sadar bawa lagi-lagi adiknya masih mengumamkan nama yang sama sejak beberapa hari yang lalu. Lantas ia tertawa mengingat bagaimana isi buku tulis Chanyeol tadi ternyata untuk yang satu ini. Jadi Baekhyun dengan segera menghampiri Chanyeol lalu menarik selimut Chanyeol untuk menutupi badan pemuda Park itu.

“Kau harus tau, cinta tak semenyakitkan itu,” lirih Baekhyun sambil terseyum penuh arti pada profil adiknya yang tengah tertidur damai meski dengan bantuan obat-obatan.

Wendy mendapati dirinya kini terdampar di ruang guru. Sungguh, ia bukanlah tipe gadis rajin yang suka menolong guru, namun di hari yang cukup cerah ini ia mendapati dirinya sedang membawa setumpuk buku matematika kepunyaan teman sekelasnya sepulang sekolah. Ayolah, gadis itu bukanlah ketua kelas, sekretaris atau perangkat kelas lainnya. Dia hanyalah seorang siswa baru, namun sekarang ia malah berdiri di depan pintu ruang guru yang luas itu dengan raut super kebingungan. “Dimana meja Cho-ssaem?” pertanyaan terbesar Wendy sekarang karena gadis itu harus meletakkan buku tugas teman sekelasnya itu di sana.

“Perlu bantuan?” sebuah suara hangat nampak menyapa Wendy kemudian setelah lebih 15 menit lamanya gadis itu hanya berdiri tanpa tujuan. Sempat si gadis berpikir si empunya suara adalah Sehun, namun mengingat Sehun sudah pulang terlebih dahulu karena memilik jadwal les Wendy lantas menepis pemikirannya. Dan benar saja, kini Wendy mendapati Baekhyun yang tengah tersenyum padanya.

Dengan cepat Baekhyun mengambil alih tugas Wendy membawa setumpuk buku itu, lalu dengan santai lelaki Byun itu tersenyum lagi tanpa merasa keberatan sedikitpun,” mau diantar ke meja siapa?” tanyanya seperti sadar kalau Wendy sekarang sedang mencari meja salah satu guru.

“Anu, itu, meja Cho-ssaem sunbae,” jawab Wendy akhirnya dan Baekhyun dengan cepat mengangguk. Baekhyun lantas mulai melangkahkan kakinya menuju salah satu meja diurutan ketiga dari depan, meja di baris nomor 4 dari kanan, “Ini mejanya Cho-ssaem,” jelas Baekhyun sambil meletakkan seluruh buku itu di atas meja yang ia maksud. Wendy yang mengikutinya dari belakang nampak mengangguk-angguk mengerti, lalu dengan segera ia mengucapkan terimakasih pada sunbae-nya yang sudah repot-repot membantu.

“Ada syaratnya,” kata Baekhyun kemudian sambil tersenyum tipis sedetik setelah Wendy mengucapkan terimakasih, hingga membuat si gadis kini bingung apa maksud sunbae-nya itu.

“Kau ada waktu? Bisa ‘kan temani aku bicara sebentar Son Wendy?” tanyanya sejurus kemudian, dan agak ragu Wendy akhirnya mengangguk setuju.

Tunggu, darimana Baekhyun tau kalau namanya Wendy dan bukannya Son Seungwan?

Anu sunbae, itu-“ Wendy menggantung kalimatnya, bingung sendiri apa yang mau ia ucapkan sekarang. Kini ia dan Baekhyun sedang ada di ruang musik, tempat dimana ia melihat Chanyeol kemarin sore menjelang malam. Beruntunglah karena ternyata ruangan itu kosong dan Wendy tidak menemukan sosok Chanyeol di sana. Kalau tidak, mungkin Wendy sudah mati berdiri.

Baekhyun nampak memilih diam, kini jemari lentiknya tengah menari indah di atas tuts piano sambil melantunkan nada yang tak kalah memikat dari permainan Chanyeol kemarin. Jika kemarin permainan Chanyeol indah namun terasa begitu sunyi dan sarat kesepian, maka nada milik Baekhyun kali ini lebih berwarna dan terkesan hangat.

“Mau tanya apa?” konversasi Baekhyun kali ini sambil tetap memainkan piano-nya. Wendy yang duduk di salah satu kursi di ruang musik itu lantas menghela nafasnya pelan. “Darimana sunbae tau kalau namaku itu Wendy?” tanyanya akhirnya, sungguh penasaran kenapa Baekhyun memanggilnya demikian di ruang guru tadi. Baekhyun tak langsung menjawab, dia hanya tersenyum sebentar dengan jemari ramping yang setia menari di atas piano.

“Chanyeol yang cerita, katanya kau menyewanya demi uang,” Wendy seketika terdiam. Bibirnya mulai kelu, dan hatinya merutuk sendiri. Ya, sudah pasti Chanyeol akan menceritakannya pada hyung-nya itu setelah kesepakatan mereka berakhir; pikirnya kemudian.

Aish, aku tidak ingin membicarakan itu,” kekeh Baekhyun kemudian saat menyadari perubahan raut Wendy yang tercetak begitu jelas. Baekhyun lantas menghentikan permainan pianonya, lalu memutar arah duduknya hingga kini ia berhadapan langsung dengan Wendy.

“Aku ingin berbicara tentang adikku,” kata Baekhyun kali ini dengan raut muka serius.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore lebih, namun Wendy hanya tetap duduk diam di tempat. Raganya bahkan belum bergeser satu senti pun dari kursi sejak setengah jam yang lalu Baekhyun meniggalkannya sendirian di ruang musik. Hatinya kini berkecamuk, dan pikirnya melayang pada perkataan Baekhyun yang kian menggiang terus menerus di pikirannya.

“Kau harus bertanggungjawab,” kata Baekhyun yang tentu saja membuat Wendy menatap bingung sunbae di depannya itu.

“Maksud sunbae apa?” tanyanya balik dan Baekhyun hanya tersenyum tipis.

“Kau menyukai adikku?” pertanyaan Wendy malah dibalas pertanyaan lainnya oleh Baekhyun yang tentunya makin membuat si gadis bingung. 

“Maksud sunbae apa? Aku tidak mengerti,” tanyanya lagi, bagai sekarang pertanyaan tidak perlu dibalas dengan jawaban namun dengan pertanyaan balik.

“Jawab saja, kau menyukai adikku atau tidak?” dan Wendy hanya terdiam seketika.

Wendy mengacak rambutnya kasar, frustasi sendiri. Pikirannya masih berkecamuk dan dadanya belum berhenti bergemuruh. Haruskah dia memercayai Baekhyun? Ya Tuhan, tolong Wendy sekarang juga.

“Adikku menyukaimu,”

“Tidak mungkin,” balas Wendy cepat dan yakin, hingga Baekhyun kini hanya bisa tersenyum sekilas. 

“Dia memang menyukaimu,” jelas Baekhyun ringan dan itu membuat Wendy kian campur-aduk.

“Jangan mempermainkanku sunbae, jelas –jelas Chanyeol sunbae bilang dia menyukai Irene sunbae yang cantik,” tolak Wendy lagi, enggan untuk berandai-andai jika memang ucapan Baekhyun barusan adalah sebuah kebenaran. Gadis itu hanya lelah berharap, terlalu tau bagaimana sakitnya jatuh disaat harapan tak sesuai kenyataan.

“Aish, begini saja. Kau tau kan apa artinya kalau Chanyeol sudah mengingau nama orang di dalam tidurnya?” tanya Baekhyun kemudian, dan kali ini Wendy mengangguk. Tentu saja gadis itu tau- menahu apa artinya igauan Chanyeol dalam tidur. Chanyeol sering mengigau nama orang yang ia kasihi, ia sayangi, ia cintai, ia rindukan, juga orang yang ia takutkan untuk pergi dari sisinya. Dan untuk kasus ini, Chanyeol selalu mengigaukan nama ibunya, tiap malam dan tiap detik dalam tidurnya.

“Selama lebih dari seminggu ini, Chanyeol mengigaukan nama lain selain nama ibunya,” terang Baekhyun, dan seketika nafas Wendy tercekat. Ingin ia berharap, namun hatinya menolak berangan terlalu tinggi. “Apa mungkin Irene sunbae?” pikirnya sejurus kemudian.

“Dia mengigaukan namamu Son Wendy. Belakangan ini Chanyeol tidak bisa tidur dan selalu mengigau namamu, dan kau masih tidak percaya kalau Chanyeol menyukaimu?”

 

Aish! Bisa gila aku!” pekik Wendy kemudian sambil mengacak rambutnya frustasi. Ingatan tentang percakapannya dengan Baekhyun seakan tanpa henti terbayang, membuatnya ingin berharap jika itu adalah sebuah kenyataan. Namun lagi-lagi si gadis takut itu hanya angannya belaka.

“Masih belum percaya?” tanya Baekhyun lagi, dan Wendy yang jantungnya sedang lomba berdetak itu menggeleng perlahan. Tak lama kemudian Baekhyun nampak membuka resleting tasnya, kemudian mengeluarkan sebuah buku tulis berwarna dasar biru tua dari dalam sana.

“Bacalah,” titah Baekhyun yakin, dan dengan ragu-ragu Wendy menerima buku tulis yang sudah agak usang itu. Perlahan Wendy mulai membaca serangkaian kata yang terukir disana, satu paragraf terbaru dari sekian frasa yang ada di lembar demi lembar buku itu. Seketika, Wendy melototkan matanya tak percaya.

 “Aish, jangan melotot seperti itu. Meski seperti preman, tapi adikku itu pernah juara lomba cipta puisi,” jelas Baekhyun seakan sadar kalau gadis di depannya itu tengah melotot tak percaya dengan isi buku yang ia tunjukkan.

“Ini, benar-benar tulisannya Chanyeol sunbae?” tanya Wendy masih tak yakin. Ya, meskipun dia hafal kalau itu memang tulisan Chanyeol, ntah kenapa ia ragu mengingat isi buku yang baru ia baca. Rasanya terlalu seperti mimpi bagi seorang Wendy, juga terlalu aneh jika memang itu tulisan seseorang semacam Chanyeol. 

“Aish, gadis ini benar-benar. Aku harus apa biar kau percaya, eoh? Dia memang puitis, mau bagaimana lagi,” teriak frustasi Baekhyun akhirnya karena Wendy sedari tadi tidak mau percaya dengan semua yang Baekhyun ucapkan.

Perlahan, Wendy yang akhirnya sadar kembali dari lamunannya. Masih tidak percaya juga, kali ini Wendy mencoba menampar dirinya sendiri berniat memastikan percakapannya dengan Baekhyun bukanlah mimpi, namun hanya rasa sakit di pipi yang ia rasakan setelahnya. Apa sekarang Wendy harus percaya?

Lalu dengan gerak cepat kemudian, Wendy membuka galeri handphone-nya yang kini menampilkan sebuah foto yang mencuri seluruh atensinya –foto tulisan Chanyeol di buku tulis tadi. Sebenarnya Wendy ingin melihat buku itu secara langsung saja terus-menerus, namun Baekhyun menolak Wendy memiliki buku itu.

“Kau ingin bukunya? Astaga, kau mau aku tinggal nama saja apa? Ini saja aku membawanya diam-diam Wen-ah, kalau Chanyeol tau aku mengambilnya maka aku sudah dikubur hidup-hidup!”

Wendy masih ingat bagaimana histerisnya Baekhyun saat ia mengatakan ingin membawa pulang buku itu. Sebenarnya benar juga, Chanyeol pasti akan marah kalau tau hyung-nya itu membawa kabur buku rahasianya; karena dari penglihatan sekilas Wendy ada banyak kisah disana, termasuk kisah kesepian seorang anak akan seorang ibu yang mendominasi isi buku itu.

Jadi, dengan pasrah Wendy hanya bisa memfoto paragraf yang Baekhyun berikan padanya, setidaknya Wendy masih bisa melihatnya kapan-kapan kalau mau, seperti sekarang, saat mata Wendy memandang tulisan di foto itu begitu lekat.

Wendy menghela nafasnya dalam, lagi-lagi jantungnya mulai bergemuruh tak jelas.

 

Ter-untuk engkau yang kian tak berujung

Apa engkau berbahagia nun jauh disana?

Batinku kadang terbayang kisah kelabu hari Minggu

Juga memori tawa dan senyum milikmu yang tertoreh tanpa ragu

Kini aku tengah termangu

 

Ter-untuk engkau yang kian tak berujung

Masihkah engkau ingat cerita dua orang anak dara?

Kala mentari belum menjadi pagi, juga malam yang hampir menjadi mimpi

Teringat saat kudaku tiba lalu kau memekik girang ingin pergi

Sekarang semuanya hanya bisa kuratapi

 

Ter-untuk engkau yang kian tak berujung

Sadarkah kau masih disini aku yang menatapmu penuh rasa?

Lantas jiwaku meraung tidak bisa, juga pikirku melayang itu bukan asa

Terdengar pula mereka ber-frasa, itu bukan kata yang bisa aku punya

Katanya kau tidak untuk dicinta rakyat jelata

 

Ter-untuk engkau yang kian tak berujung

Salahkah aku jika memang rasa tak bernama ini merana?

 

Ter-untuk engkau yang kian terlafalkan dalam doa

Lalu aku bisa apa jika yang tersisa hanya luka yang menganga?

 

Dan apa boleh Wendy merasa puisi itu memang ditulis Chanyeol untuknya?

Tak terasa sebuah genangan kenangan kini menumpuk di pelupuk mata Wendy. Sungguh, demi apapun, ia merasa puisi itu memang untuknya. Apa ia boleh berharap? Rasanya ia tidak ingin terjatuh karena mengharapkan larik-larik romantis itu memang dicipta baginya seorang.

“Chanyeol tidak bisa terlelap di malam hari dan dia mulai menkonsumsi obat tidur. Kau tau bagaimana khawatirnya aku melihat kondisi Chanyeol itu sebagai hyung-nya?”

“Kalau kau memang tidak percaya, temui saja dia langsung dan tanyakan padanya Son Wendy. Dia sedang di perpustakaan.”

“Orang yang dia cinta selalu pergi, lalu apa boleh aku berharap kau yang dia cinta saat ini bertahan untuknya? Jangan sakiti adikku, ku mohon. Jangan sampai salah satu dari kalian berdua terluka.”

“Jangan pura-pura tidak mencinta, karena kau akan tau nanti sakitnya pura-pura bahagia.”

 

Dan ntah sejak detik keberapa, Wendy sudah menghilang dari ruang musik penuh nada itu.

Kali ini Wendy menemukannya dirinya berlari di koridor sekolah yang sepi. Langkahnya tergesa-gesa ditengah cerahnya sinar matahari yang menerpa. Yang ingin gadis itu lakukan sekarang hanyalah menemukan Chanyeol, ya, dia memutuskan menemui lelaki itu dan menanyainya sendiri seperti saran Baekhyun.

Tak berapa lama kemudian, Wendy pun tersadar dia sudah memasuki perpustakaan dengan langkah tertatih. Beberapa siswa yang dominan senior kelas 3-nya yang sedang belajar di perpustakaan sempat melirik si gadis yang baru saja masuk bagai orang kesetanan. Wendy hanya bisa tersenyum tipis, menunduk, lalu berjalan memutari perpustakaan sebelum akhirnya dia menjadi pusat perhatian di perpustakaan itu. Untunglah, siswa –siswa kelas 3 itu lebih memilih berkutat kembali dengan buku mereka untuk mempersiapkan ujian dibanding mencari tau apa gerangan maksud kedatangan Wendy ke perpustakaan dengan begitu buru-buru.

Wendy menghela nafasnya, kini matanya tengah memindai ke setiap sudut perpustakaan, mencari-cari kemungkinan dimana keberadaan pemuda yang ia cari. Dan sekarang Wendy sudah sampai di bagian terbelakang perpustakaan, di sudut ruangan yang hanya berisi satu orang siswa yang tengah tertidur dengan buku lebar nan tebal yang menutupi kepalanya.

“Dimana dia?” batin Wendy karena sedari tadi ia belum juga menemukan sosok yang ia cari itu. Lantas pikirnya mulai menjalar tidak-tidak, “Apa ia sudah pulang?” batinnya pula.

Lelah, Wendy akhirnya mendudukkan bokongnya di depan siswa yang tertidur itu, berniat beristirahat sebentar karena nafasnya yang belum beraturan; efek ia yang berlari seperti orang kesetanan beberapa menit yang lalu. Lantas, Wendy mulai menekuk wajahnya, sedikit melirik siswa yang tertidur di meja depannya.

“Dia pasti siswa kelas 3. Apa sunbae ini kelelahan belajar?” batin Wendy pula, namun ia hanya menepis pikirnya lagi. Hei, buat apa dia peduli? Yang harus dia lakukan sekarang adalah mencari Chanyeol. Jadi si gadis lantas berdiri setelah merasa penatnya cukup tersingkir, berniat pergi mencari Chanyeol lagi.

Brukkkk.

Wendy mengerjap. Badannya yang kini sudah membelakangi meja yang ia tempati tadi kini spontan berbalik. Ntah siswa tadi menggeser pergerakan tubuhnya saat tidur atau apa, tapi sekarang Wendy bisa melihat bahwa buku bersampul abu-abu yang sedari tadi menutupi siswa itu sudah terjatuh ke lantai perpustakaan, dan ajaibnya Wendy menemukan sosok Chanyeol yang sedang tertidur di sana. Wendy jelas melihat betapa sempurnanya ciptaan Tuhan di depannya itu; Chanyeol yang tengah memejamkan mata dan tersenyum dalam tidurnya, begitu dama dan indah di mata Wendy.

Lantas dengan gerak pelan, Wendy memutari meja, lalu dengan segera meraih buku yang terjatuh tadi dan meletakkannya di atas meja samping Chanyeol. Gugup jelas yang Wendy rasakan sekarang.

Apa ia harus membangunkan Chanyeol?

Lalu kalau Chanyeol bangun dia harus bilang apa, hanya ‘anyeong sunbae’ begitu?

Chanyeol sepertinya kelelahan, apa memang benar kata Baekhyun dia tidak bisa tidur?

Ntahlah, sekarang banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Wendy. Gadis itu hanya diam, gugup, lalu dengan sudut matanya ia menucur-curi pandang akan sosok Chanyeol yang tertidur.

“Ah, benar juga,” batin gadis itu kemudian seakan mendapat pencerahan. Jadi dengan cepat Wendy membuka tas ranselnya, kemudian mengeluarkan sebuah kertas dan bolpoin. Dengan cepat, Wendy lekas menggoreskan beberapa patah kata di atas kertas putih itu.

“Semoga sunbae melihatnya,” batin Wendy sambil meletakkan kertas itu di bawah buku yang tadi ia pungut. Lalu dengan segera setelah membereskan barang-barangnya, Wendy menenteng tasnya dan berdiri.

“Sampai berjumpa lagi sunbae,” batinnya, lalu dengan segera melangkahkan kaki keluar dari perpustakaan.

“Nak, bangunlah.”

Chanyeol mengerjap saat ia merasakan sentuhan di bahunya, lalu dengan segera pemuda yang ntah sudah berapa jam terlelap itu terbangun.

“Ah, ssaem, maaf,” kata Chanyeol kemudian karena menemukan Mrs.Choi guru jaga perpustakaan yang ternyata membangunkannya. Guru awal 40 tahunan itu tersenyum tipis, lalu meninggalkan Chanyeol.

“Cepat ya nak, perpustakaan sebentar lagi tutup,” katanya sambil berlalu dan Chanyeol dengan cepat mengangguk mengerti. Sadar kalau dia sudah merepotkan guru itu dengan membuatnya membuka perpustakaan lebih lama. Jadi dengan segera Chanyeol bangkit dari duduknya kemudian menenteng tasnya pergi.

Beberapa langkah kemudian Chanyeol berhenti, kemudian berbalik seakan sadar ada sesuatu yang kurang. Chanyeol kemudian mendapati meja yang ia tempati tadi masih dengan tumpukan buku yang iseng dia baca. Lantas ia menghela nafasnya pelan dan mendekati meja itu. “Sudah buat perpustakaan lama tutup, sekarang meninggalkan buku berserak begitu saja?” pikirnya menyesal dan dengan segera mengangkat buku itu, berniat mengembalikannya kembali ke rak dengan rapi. Dan sekarang atensinya teralih pada secarik kertas yang terjatuh saat ia mengangkat salah satu buku.

“Apa ini?” batin Chanyeol sambil memungut kertas putih itu. Ingin Chanyeol membaca, namun dia sudah dikejutkan dengan suara melengking Mrs.Choi.

“Chanyeol-ssi, apa sudah selesai?” teriak guru itu yang ternyata sudah berdiri di depan pintu. Chanyeol segera tersadar, lalu dengan segera mengantongi kertas itu dan berlari ke pintu.

“Sudah ssaem, maaf merepotkan.” Katanya kemudian sambil menunduk. Guru itu tersenyum dan hanya mengangguk, lalu dengan segera mengunci perpustakaan. Chanyeol tau, sekarang ini waktunya ia kembali ke rumah.

Chanyeol hanya duduk di halte dengan santai. Bus yang akan dia tumpangi untuk pulang belum tiba dan dia sedang mengotak-atik isi ponselnya. Sekarang dia tengah bertukar pesan dengan Irene.

Belum pulang?

Tak lama, sebuah balasan pesan masuk.

Baru saja pulang les, sekarang mau ke halte. Kamu dimana Yeol?

Chanyeol tersenyum, lalu dengan gerak cepat mulai mengetikkan pesan balasan.

Di halte, datanglah cepat. Kita bisa pulang bersama.

Chanyeol tertawa saat mendapat balasan dari Irene.

Arasseo. Tunggu saja, aku akan ada disana dalam 15 menit ❤

Tak rela hanya me-just read kekasihnya, Chanyeol segera mengetikkan pesan balasan.

Umm, aku tunggu. Cepatlah, aku kedinginan. Hehe, katanya mau dipeluk kamu.

Chanyeol tertawa sendiri melihat bagaimana ia membalas pesan Irene. Untung saja sekarang hanya dia orang yang ada di halte. Dan berhubung belum ada pesan balasan dari Irene, Chanyeol kemudian merogoh saku celananya –hendak mengeluarkan earphone untuk mendengar musik sembari menunggu Irene datang.

Namun, atensi Chanyeol kini teralih pada sebuah kertas yang jatuh saat ia mengambil earphone. Dengan segera ia memungut kertas yang kini teronggok di atas lantai halte. “Ah, kertas yang tadi,” batinnya, dan dengan segera membuka lipatan kertas itu dengan penasaran. Tapi kali ini ekspresi Chanyeol berubah pias, tiba-tiba dia merasa menjadi manusia paling brengsek sedunia.

Engkau bukan rakyat jelata, jadi engkau bisa mencinta.

Bagiku engkau ialah raja yang bertahta, diam-diam engkau sudah berkuasa.

Aku jua pun terpesona,terpikat pada si Raja yang mengaku jelata.

Jelas teringat Minggu kelabu senja nan menggerutu

Bukan kutuk tapi bahagia kala engkau menatapku hari itu

Si anak dara? Aku ingat mereka, tentang aku dan si Raja belahan jiwa.

Doaku menemukan engkau dalam mimpi, jua mendampingi engkau esok hari

Jika kau tanya ini siapa, engkau tebak saja.

Sembuhkan semua luka yang menganga, laksana aku mencinta engkau wahai Raja

Ku tunggu engkau di tempat kita bersama

‘Aliran air yang kurasa adalah surga’

Dari aku yang ingin bertemu

Harapannya engkau juga malarindu

Chanyeol terdiam, dan dengan segera otaknya berpikir keras. Siapa? Dimana? Dan untuk apa? Semua pertanyaan itu seakan berebut keluar dari otaknya. Chanyeol melirik jam di pergelangan tangannya, sudah hampir jam 8. Apa dia masih menunggu? Pikirnya pula.

“Chanyeol-ah,”

Pemuda itu segera mengerjap kala sudah mendapati Irene yang tersenyum manis padanya. Gadis cantik itu melambaikan tangannya ke arah Chanyeol. Segera Chanyeol makin frustasi saja. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Menemani Irene, atau mencari si anonim tak bernama yang mungkin saja sudah pulang karena lelah menunggu?

“Irene aku-“

[To Be Continued]

Author’s Note

Irene, aku…..

.

.

.

Tett toottt…TBC MBAK, WKWKWKW/DIGAMPAR/

Fix, yg baca pasti pen nyakar eki sekarang. bhuakakaXD

Gpp dunks TBC disitu, ini kan udah fast update, baru seminggu udah up lo, jarang-jarang kan :3

Iklan

51 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 21) – Shaekiran

  1. wendy sama chanyeol terhalang dinding yang tinggi untuk bersama wkwk…#BahasaApaIni
    kira2 chanyeol bakal nemuin wendy gak ya ? #Harus…

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 26) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  10. Udah yeol tinggalin aja irene dan balik ke wendy
    Puisinya bagus akiku suka binggo………………………………………(mode alay:on)*please abaikan

  11. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 25) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 24) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 23) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  14. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 22) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  15. Huaaa daebakk 👍
    Kata-kata.y ngena banget.Penasaran chanyeol bakal milih siapa irene atau mencari sosok ‘anonim’ it?
    Ahhh udah nggak sabar nunggu kelanjutan.y thor.D tunggu ya 😊

  16. DI FF INI KAYAK ADA PAHIT PAHITNYA GITU, entah kenapa nggak bisa ngomong banyak. semoga wendy ama chanyeol bersama, chanyeol jangan kebanyakan minum obat dong nanti tambah parah. irene juga dijemput terus emangnya kamu pikir chanyeol itu gojek ya? tak tulis nama kamu di catatannya grim reapper nanti hahhahahah

    • kehabisan kata-kata kah? wkwk, mungkin karena semua katanya udah dimakan ceye semua kali ya?/plakk/apahubungannyaki/ XD
      PAHIT YAK :”)
      iya, denger tuh yeol, jangan nge-obat terus :’)
      grim reaper, kok eki ngakak, tapi gpp sih kak, kan grim reapernya secakep om dongwook/plakk/ XD
      Kalau gojeknya cem cy, ane juga mau diapelin kang gojek :’)/plakk/
      semoga bersatu yaw, wkwk 😀
      Sudah di up lo next chapnya, monggo di cek, hehe 😀
      Thanks for reading ❤

  17. Kenapa kisah cinta mbak Wen sama mas Ceye nista banget kayak kehidupan Eki coba?
    Please ki, kalo ente galau jan mbak wen sama mas yeol yang kena imbas, ente mah tega amat sama mereka :((

    • Ane tau garem hidup ane nista, tapi jan disangkut pautin juga dong neng, aib itu mah, wkwkw XD
      Iya, ane galau, jadi mereka yang kena imbas huhu :’)
      Baru sadar ane slow banget balas komenan minggu kemaren, wkwk XD

  18. Yeol kau puitis sekali huhu 😂 aku si ngarepnya Chanyeol pergi nemuin si ‘anonim’ itu 😁
    Ditunggu next chapternya kak Eki 😘😘😘

  19. Hah Kok tbc nya pas “Irene aku-” bikin deg deg an aj deh eki in,hah mengatakan kejujuran itu lbh susah ya son wendy dr pd berkta bohong

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s