[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 8)

philosophyoflove

Tittle: Philosophy of Love
by Tyar

Chapter | Romance | T

Cast: Oh Sehun – Bae Irene. Etc

Disclaimer
2016/2017 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Inspired by
Perahu Kertas
AADC2

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

 [1 – 7]

8

“Aku berharap mendapatkan jawaban darimu. Namun, kau tetap membisu, membuatku lebih lama menunggu.” –Perhaps You, Stephanie Zen.

Sedan hitam Irene sampai di pekarangan rumahnya yang tak terlalu luas. Angka digital di dashboard mobilnya terlihat menunjukkan pukul 10.30 P.M, ketika Irene memarkirkan mobil ke dalam garasi. Dengan perasaan yang masih campur aduk, dia segera turun dan memasuki rumahnya.

Tatapannya tampak kosong. Irene melipat kedua belah bibirnya dengan gelisah, lantas ingatan Sehun yang mengecup bibirnya kembali muncul. Hingga dia sampai di minibar dapur rumahnya, Irene tidak menyadari keberadaan sang kakak yang tengah duduk di ruang tengah dengan setoples cemilan sembari memperhatikannya dengan aneh.

Tangannya segera meraih gelas dan membuka kulkas, menuangkan air dingin satu gelas penuh. Kemudian meneguknya sampai habis dengan sekali teguk.

“Hei, santai, Rene. Kenapa, sih?”

Sahutan sang kakak membuat Irene nyaris tersedak. Dia lalu menoleh membalas tatapan Yoona. “Masih belum beres, galaunya?” celetuknya asal. Kali ini pandangannya kembali ke depan layar televisi.

Irene mendengus, tak menghiraukan ledekan Yoona. Kakinya pun kembali melangkah mendekati anak tangga menuju kamarnya.

“Kakak tau, kok. Sehun, kan yang bikin kamu begini?”

Irene tersentak. Bagaimana bisa kakaknya tau soal Sehun? Kakinya refleks terhenti, membeku di tempat. Dia melirik Yoona yang masih santai memperhatikan tayangan serial drama di televisi. Tidak ada ide untuk menjawab, gadis itu pun kembali melangkah. Berlari kecil menaiki tangga dan mengunci pintu kamarnya rapat-rapat setelah tiba di dalam.

10 menit kemudian, Irene sudah berakhir di dalam bathtub, menenggelamkan tubuhnya di dalam air hangat. Dia menghela nafas berat –untuk yang kesekian kalinya. Membayangkan apa yang akan terjadi setelah ini. Akan menjadi hal yang teramat konyol jika dirinya lagi-lagi menghindar, karena Sehun melakukan sesuatu tanpa seizinnya –lagi. Heioh ayolah, mereka masih tidak berada dalam status apapun selain partner kerja. Namun jika Irene boleh jujur, Sehun cukup ‘memabukkan’ –Apa?! Kali ini dia merasa sudah sangat gila. Apa yang baru saja dipikirkannya? Alih-alih menumbuhkan niat untuk meninggalkan, dia malah semakin tidak bisa melupakan sosok Sehun.

Irene menarik kedua kaki, memeluknya di dalam air. Setiap kali dia hendak mengakui bahwa dia ingin kembali dan memulai semuanya dari awal –seperti tujuan yang Sehun inginkan. Namun separuh keraguan masih bersemayam dalam dirinya, seperti menahannya untuk tidak melangkah kemanapun. Dan menariknya untuk tetap di tempat.

Bagaimana bisa Irene terus membohongi dirinya sendiri? Jelas sudah, dia masih mencintai Sehun. Bahkan perasaan itu kini entah berakhir sampai mana, boleh jadi memang tak berbatas. Namun terhalang ragu.

xxx

Keesokan paginya, Irene terbangun dengan mata sayu. Tampak jelas sekali bahwa dia nyaris tidak tidur semalam. Kini jemarinya mengapit sumpit, menyuapkan sesuap nasi dengan lemas tanpa semangat.

“Semalam bagaimana, Irene? Editormu itu pasti senang melihat kamu hadir di acaraya.” Sahut sang ibu membuka percakapan. Irene melirik beberapa detik kemudian mengangguk ringan.

“Pertanyaan kakak yang kemarin, belum dijawab.” Kali ini Yoona menimpali. Membuat seisi meja makan menoleh ke arahnya.

Irene mencoba mengingat kembali apa pertanyaan Yoona semalam. –Ah! Irene ingat, dan baru saja dia berniat mencegah Yoona. Wanita yang terpaut lebih tua 2 tahun darinya itu sudah kembali berbicara, membahas hal yang paling Irene hindari untuk dibahas di dalam keluarganya.

“Kakak baru tau kalau Oh Sehun menjadi illustrator bukumu. Kenapa nggak pernah cerita?”

Ayah dan ibunya spontan menatap Irene, meminta jawaban. Sementara gadis itu kini mendengus, menggigit bibirnya.

“Kak yoonaa.” Gumamnya gemas. Sungguh, dia belum mau membahasnya.

“Sehun?” ayahnya memastikan, “Sehun mantan kamu itu? Oh Sehun?”

“Iya, ayah. Siapa lagi? Sehun, Oh Sehun yang jago melukis itu. Pasti Sehun mantannya Irene.” Yoona mengambil alih jawaban.

“Dari mana kamu tau?” ibunya bertanya.

“Aku baru saja selesai membaca novel Irene semalam, karena illustrasinya keren, aku iseng baca siapa illustratornya. Dan ternyata, Sehun.” Yoona melirik Irene sebentar, “Kamu kok nggak pernah cerita, sih? Pantas aja galaunya sampai 2 bulan. Pasti terjadi sesuatu, kan?”

Irene merutuk dalam hatinya, kenapa dia memiliki kakak se-bawel Yoona. Yang terlalu ingin tau urusan orang.

“Kok nggak pernah cerita?” ayahnya kembali menyahut dengan santai. Diikuti dengan tawa kecil sang ibu.

“Kamu sudah dewasa, Irene. Jangan terjebak masa lalu.”

“Apa, sih, bu? Ibu jangan sok muda, deh.” Balas Irene sebal.

“Dia pasti ngajak balikan, kan?” tebak Yoona tepat sasaran.

“Atau kamu galau gara-gara Sehun ternyata sudah punya tunangan?” timpal ayahnya asal, kemudian menyuapkan sesumpit nasi ke dalam mulutnya kembali.

“Ih, ayah. Itu terlalu drama.” Celetuk Yoona kemudian tertawa pelan.

Keluarganya memang selalu seperti itu. Santai dan hangat meski pembahasan di meja makan tidak terlalu penting. Irene menghembuskan nafasnya.

“Kak Yoona benar. Sehun…” Irene menggantungkan kalimatnya, menghembuskan nafas, lagi. “Ah, aku sama sekali tidak tertarik untuk membahasnya.”

“Kalau ibu boleh kasih saran, tidak ada salahnya mencoba lagi, Irene.”

“Kalau ayah juga boleh kasih saran, pastikan Sehun benar-benar serius jika dia memang benar-benar ingin menjadi menantu ayah.”

Irene dan ibunya tersedak bersama ketika mendengar kalimat terakhir ayahnya. Yang benar saja. Sementara Yoona sendiri kini menahan tawa, melihat ekspresi wajah Irene yang sebal.

xxx

Malam sudah sempurna menyelimuti langit. Begitu pekat tanpa bintang, hanya bulan yang bertengger setia dengan cahayanya yang anggun. Sehun mengangkat dagu, menatap pemandangan sederhana itu dengan teduh. Sesekali tangannya meraih cangkir berisi kopi hitam yang menghangat di atas meja kayu di sampingnya. Teras belakang rumah Sehun begitu lengang sejak satu jam dia duduk di sana. Mendengarkan suara-suara khas malam, sambil menikmati setiap rindu yang tak berhenti membuatnya gila.

Dua hari. Sudah 2 hari berjalan, semenjak pertemuannya dengan Irene di pernikahan Baekhyun. Dua bulan lalu, tepat saat Irene memutuskan untuk tidak datang lagi ke Cosmic, naskah seri keduanya sudah dalam proses di tangan Baekhyun. Namun tentu saja, itu harus tertunda karena momen terpenting Baekhyun yang berjalan 2 hari lalu. Editor Cosmic itu akan kembali dari bulan madu satu minggu lagi. Dan selama menunggu, Sehun tidak memiliki banyak perkerjaan di kantor. Juga Irene, dua hari ini dia tak melihatnya sama sekali mampir ke Cosmic. Sehun tau itu konyol, tapi dia tidak bisa berbohong bahwa dirinya kini tengah takut. Takut Irene melarikan diri lagi.

Dalam suasana melamun yang amat khidmat, tiba-tiba ponselnya menyahut di samping cangkir. Pria itu segera menoleh, meraih benda itu dan membuka pesan Kakao Talk yang masuk. Dari Byun Baekhyun. Pesan pertama yang dikirimnya membuat Sehun terkejut, Baekhyun telah memberikan ID KaTalk milik Irene.

“Irene tidak akan berani memarahi saya karena sudah memberitaumu. Pastikan hubungan kalian tetap membaik selama saya pergi! Saya tidak mau jika rapat bersama saya nanti, kamu dan Irene masih saling menghindar tidak jelas.”

Sehun termangu menatap layar ponsel. Dia tidak tau apakah itu kabar baik atau kabar buruk. Hanya saja, dia gugup. Tidak pandai memulai tanpa sesuatu yang penting untuk dibahas di ruang obrolan seperti ini. Dia pun menghela nafas, meletakkan ponselnya kembali di dekat cangkir.

Tepat setelah itu, seseorang menghampiri Sehun. Mendekat untuk duduk di dekatnya, di kursi yang satunya. Dia menoleh, menemukan sang ibu tengah tersenyum hangat ke arahnya.

“Apa dia masih menghindar?”

Setelah pernikahan Baekhyun, Sehun tidak menceritakan apapun pada ibunya. Membuat wanita paruh baya itu penasaran, ingin tau. Namun tidak pernah menemukan momen yang tepat untuk bertanya. Hingga dia menemukan anaknya tengah berdiam diri selarut ini di teras belakang rumah mereka.

“Maaf karena aku tidak bercerita kali ini. Tapi kabar kami baik, bu. Irene datang ke pernikahan Baekhyun 2 hari lalu. Aku juga sempat membawanya ke Yongma Waterfall dan –” Sehun terhenti, menahan kembali kalimat yang hampir saja lolos dari bibirnya. Kemudian dia tersenyum tipis. “Dan dia kembali seperti sebelumnya. Kami partner kerja yang berhubungan baik. Hanya saja…”

“Hanya saja kamu masih menunggu jawaban Irene. Dia sedang dalam ‘perjalanan’ menuju keputusan, benar?”

Sehun menghela nafas, jemarinya memainkan cangkir di atas meja. “Sepertinya, ini memang benar-benar sulit bagi Irene.”

Ibunya kembali tersenyum, mengelus lengan Sehun dengan lembut. “Jika ibu berada di posisi Irene, mungkin ibu juga akan berpikir bahwa itu pilihan yang sulit. Tidak semua yang memulai hubungan kembali akan sama seperti sebelumnya. Berbeda dengan meneruskan hidup yang sempat jatuh kemudian bangkit, selalu berhasil –bahkan menjadi jauh lebih baik.”

Sehun diam, memperhatikan. Kini ibunya menghembuskan nafas, tatapannya begitu hangat, menatap Sehun penuh kasih sayang.

“Kita bisa melihatnya selama nyaris 8 tahun ini, Irene berhasil meninggalkanmu jauh di belakang –cukup menjadi masa lalu. Dia tidak pernah mencarimu, bukan karena dia tidak benar-benar mencintaimu, Sehun. Tapi karena Irene wanita yang prinsipil. Dia memilih meneruskan mimpinya sampai tercapai dengan gemilang seperti sekarang. Tanpa mengenang kamu, apalagi terpuruk dan berharap kamu kembali. 7 tahun kebelakang, adalah bukti bahwa Irene bisa hidup normal, sukses meskipun dia ditinggalkan salah satu orang yang sangat dicintainya. Bersama atau tanpa kamu, hidup Irene akan tetap sama. Maju, melangkah terus meninggalkan yang perlu ditinggalkan di belakangnya.”

Sehun sudah memasang wajah muram kali ini, keputus-asaan tampak jelas lewat matanya. Selama ini selalu ada alasan bagi Sehun untuk tetap bertahan, menunggu, dan tak henti-hentinya menarik Irene kembali ke hidupnya. Namun, hanya soal waktu dia akan menyerah. Lelah.

“Hampir 8 tahun. Tanpa terasa, itu akan menjadi 10 tahun. Waktu yang lebih dari cukup untuk saling melupakan. Mungkin pertemuan kalian saat ini, membuat perasaan Irene kembali tumbuh. Tapi 1 pengalaman menyakitkan saja mampu membuat siapapun yang mengalaminya begitu bimbang memilih keputusan terbaik. Ibu tidak membicarakan kemungkinan terbesarnya, tapi apa saja mungkin bisa terjadi. Jangan terlalu memendam harapan, Sehun.”

Kali ini Sehun menunduk, menatap lantai pualam yang melapisi teras belakang rumahnya. Selama ini, pendapat itu selalu Sehun kubur dalam-dalam, berusaha untuk tidak mengingat apalagi memikirkannya. Namun justru sang ibu lah yang membeberkan semuanya, membuka fakta bahwa Irene bisa membuat keputusan apa saja. Dia mendongak, matanya kembali membalas tatapan hangat wanita itu.

“Tapi ibu bisa menerima ayah kembali. Bahkan setelah ayah sudah kehilangan segalanya dan berada di posisi terbawah, ibu tetap menerimanya kembali dengan tulus. Tanpa berpikir lama, merawat keluarga ini dengan kasih sayang terbesar. Itulah yang membuatku selama ini bertahan, karena aku berharap Irene adalah wanita sekuat ibu. Wanita setulus ibu.”

“Kasus ibu dan ayah berbeda, nak. Ayah dan ibu sudah saling mencintai puluhan tahun, dalam ikatan pernikahan yang sah. Beribu-ribu hari telah kami lewati bersama. Sampai hari memilukan itu tiba. Hanya soal hati yang kembali saling terulur, yang membuat ibu rela menerima kembali. Menyatukan kembali keluarga, agar semua anak ibu berkumpul di tempat yang sama. Seperti sebelumnya.”

Angin malam berhembus mulai menusuk kulit. Teras belakang rumah itu lengang sejenak, menyisakan nafas Sehun yang semakin berat. Selama ini dia selalu yakin akan ada satu hal saja yang membuat Irene yakin untuk menerimanya kembali, meskipun dia tidak tau hal apa itu. Namun tak bisa dipungkiri bahwa pernyataan ibunya memang benar. Sehun tidak bisa menyetarakan posisi ibunya dengan posisi Irene. Itu jelas amat berbeda.

“Sehun. Ibu tau kamu sudah terluka, semenjak kamu memutuskan fokus dengan hidupmu sendiri dan meninggalkan Irene tanpa kejelasan. Selain karena urusan itu, kamu banyak sekali terjatuh selama berada di sisi ayahmu. Dan kali ini, tanpa sadar kamu sudah melayang sangat jauh. Daratan bahkan tidak mampu melihat kemana kamu terbang.” Wanita itu memberi jeda beberapa detik, kembali meraih lengan Sehun dengan lembut. “Turunlah, nak. Ibu tidak mau kamu kembali jatuh sejauh yang tak terbayang. Kamu akan terluka hebat jika ternyata Irene lebih memilih membiarkan kamu tetap di belakangnya –menjadi masa lalu. Membayangkannya saja, akan cukup membuatmu merasa sakit. Ibu sendiri sudah merasa sangat bersyukur karena dia telah memaafkanmu, dia sudah tau apa yang telah terjadi padamu waktu itu. Ibu juga senang bisa bertemu lagi dengannya, dulu dia selalu menjadi gadis yang menyenangkan. Sudah seperti anak ibu sendiri.”

Bukanlah hal yang mudah mengutarakan pernyataan semacam itu pada anaknya sendiri. Dia bukannya ingin membuat Sehun menyerah di tengah perang. Tapi ini waktu yang amat cukup bagi seorang laki-laki untuk menunggu perempuan. Dia tidak ingin jika ternyata Sehun tidak siap dengan kemungkinan terburuknya. Maka kehidupan anak itu akan kembali terjeda, seperti tahun-tahun silam.

“Kalian sudah sama-sama dewasa, Sehun. Kamu tau betul, kamu tidak berhak memaksakan keadaan. Irene punya haknya sendiri untuk kehidupannya.”

Sehun memandang ibunya lamat-lamat. Wajahnya kini benar-benar muram. Matanya yang teduh mulai tampak kelam. Dia menghela nafas lagi dengan amat berat. “Ibu membuatku menyerah seketika.”

Wanita itu tertawa pelan, menggenggam jemari Sehun dengan kuat. “Kamu bukan harus menyerah. Kamu hanya perlu ‘turun’. Jangan terbang terlalu jauh. Siapkan ketulusan penuh, juga dada yang lapang untuk menghadapi kemungkinan yang akan terjadi. Kamu juga berhak maju. Hanya ada 2 pilihan yang kamu miliki: melangkah bersama Irene, atau melangkah meninggalkan semuanya di belakang.”

xxx

Pagi di Cosmic Publisher mulai ramai seperti biasa. Para staf memulai kesibukannya masing-masing, mulai dari editing, desaigning, hingga kesibukan percetakan dan pengiriman ribuan eksemplar buku. Beberapa penulis baru ataupun senior terlihat duduk santai bersama timnya untuk sekedar berdiskusi ringan –meeting kecil.

Sementara sejak satu menit lalu Sehun dan Irene hanya berdiri saling berhadapan di koridor yang biasa Irene lewati menuju ruang editor. Mereka tak sengaja bertemu di tempat itu. Lantas waktu seperti berhenti berputar. Suara lift yang berdenting bahkan tidak membuat mereka beranjak.

“Selamat pagi.” Irene membungkukkan kepalanya sedikit kemudian tersenyum tipis.

“Pagi.” Balas pria itu, tersenyum juga.

Ada banyak sekali yang berputar di benak Irene saat ini, seperti saran yang di berikan kedua orang tuanya kemarin pagi. Juga kejadian beberapa hari yang lalu di air terjun buatan Yongma. Semua menyatu berebut tempat di dalam memorinya. Rasanya Irene ingin pergi begitu saja tanpa harus kembali. Dia malu. Tapi juga rindu.

Sementara Sehun kini tengah memutar kembali setiap kalimat ibunya yang begitu menempel di dalam ingatan. Memandangi Irene seperti ini saja sudah membuat dada Sehun bergetar lagi. Agaknya, ibu Sehun benar. Membayangkannya saja sudah membuat dia sakit. Dia sendiri bisa merasakan kini senyumnya perlahan luntur. Lantas bersumpah tidak akan pernah membahas apapun lagi tentang mereka sampai hari itu datang. Sebut saja dia egois, tapi Sehun tidak ingin berhenti melangkah hanya karena dia tidak bisa meninggalkan Irene di belakangnya, seperti Irene meninggalkan dirinya di kotak masa lalu.

Hanya karena satu orang yang tenggelam dalam keraguan, semua jadi begitu rumit. Percuma saja Sehun terus berusaha menyelamatkan Irene dari balik jeruji yang bahkan Irene sendiri tidak mau melangkah keluar dari ‘sana’.

Satu keraguan hebat, membunuh dua perasaan.

Sehun berdehem pelan, “Kamu bisa kedalam duluan, di sana sudah ada Suho dan Wendy.” Ucap Sehun akhirnya dengan nada ramah khas seorang staff.

Irene mengangguk pelan, “Kamu sendiri?”

“Saya ada urusan sebentar.” Sehun kemudian membungkukkan kepalanya sedikit, “saya pergi dulu, Penulis Irene.”

Lelaki itu pun segera melangkah meninggalkan Irene yang tiba-tiba membisu. Gadis itu tak bergeming, menatap kosong ke arah lantai pualam di depannya. Penulis Irene? Entah kenapa, dia tidak suka cara Sehun memanggilnya barusan. Itu terdengar terlalu formal baginya. Ayolah, dia bukannya berharap sesuatu akan terjadi setelah kejadian di Yongma itu. Hanya saja, berbulan-bulan ini Sehun selalu terlihat tidak tertarik untuk menganggap hubungan mereka hanya sekedar partner kerja. Lebih dari itu, Sehun selalu menganggap dirinya jauh lebih dari itu.

Irene menggigit bibir, Sehun mungkin sedang sibuk dan lelah bekerja.

xxx

Mari kesampingkan terlebih dahulu mengenai proses perkembangan buku Irene yang ketiga –seri terakhir. Seri kedua baru akan terbit satu bulan lagi. Itulah yang menjadi bahan perbincangan ringan Irene bersama timnya. Namun lihatlah Sehun, sekembalinya dari urusan yang entah apa selama hampir satu jam. Pria itu kali ini berubah menjadi staff paling profesional dari siapapun yang pernah ada. Membuat Irene tidak nyaman. Membuat Irene bertanya-tanya. Sehun begitu fokus pada isi diskusi. Membicarakan banyak hal mengenai illustrasi baru yang akan mulai dia kerjakan meskipun Sehun harus menunggu hasil editing dari Baekhyun. Sehun juga memberi beberapa usulan untuk membantu. Ya, pria itu bahkan tidak melirik nakal pada Irene. Selain membalas tatapannya jika harus berbicara.

Mood Irene turun. Dia tidak suka melihat Sehun yang tampak serius seperti itu. Terkesan seperti mengabaikan dirinya. Baiklah, bukankah seharusnya Irene merasa lega karena Sehun kali ini dapat bekerja dengan profesional sebagai partner kerja? Tapi tetap saja, Irene merasa seakan Sehun tengah hilang ingatan.

Meeting santai itu diakhiri dengan tawa ringan. “Kudengar hari ini Penulis terkenal Yunho mengadakan Bedah buku dan booksigning buku terbarunya di mall dekat sini. Kamu mau pergi kesana, penulis Irene?” sahut Wendy sembari merapikan buku agendanya.

Irene tersenyum ringan sambil mengangguk. “Tentu saja.”

Setelah Irene berpamitan, dia lantas pergi dari ruangan itu, menuju lift. Tidak ada yang spesial terjadi diantara dirinya dengan Sehun. Bahkan sampai Irene tiba di samping mobilnya, dia menggerutu di dalam hati. Untuk apa dia berharap Sehun akan mengejarnya seperti waktu itu?

Irene menghela nafas. Tangannya dengan perlahan menyentuh handel pintu mobil, kemudian diam lagi dalam posisi seperti itu. Hari ini berlalu begitu cepat. Tidak ada obrolan khusus, tidak ada ajakan makan siang? Tidak ada susul-menyusul? Bahkan ikut bersamanya ke acara bedah buku penulis kesukaannya, pun Sehun tidak tertarik?

“Rasanya aku seperti pernah melihat Sehun yang seperti ini.”

Sehun yang tidak mau berbagi apapun pada orang lain. Sehun yang membiarkan diri dianggap tidak peduli pada siapapun lagi ketika sebuah masalah terjadi. Tapi Sehun tidak sedang menghindar saat ini. Dia hanya diam di balik sekat itu. Tidak berusaha mendobrak seperti biasanya, tidak mengetuk atau apapun itu.

Ketika Sehun mengejar hatinya, bahkan melewati batas sekat dengan paksa, Irene tidak tau harus memilih keputusan apa. Tapi ketika Sehun berhenti berlari di belakangnya, tidak lagi mengejar. Irene jadi amat takut, dia takut Sehun akan memilih jalan yang lain, berbelok dan membiarkannya menjadi masa lalu belaka.

Irene berdecak sebal. Pikirannya begitu cepat berspekulasi negatif, terlalu melankolis dan terbawa perasaan. Akhirnya gadis itu pun menarik handel pintu, membukanya dan hendak masuk.

“Irene,”

Namun seseorang memanggilnya. Suara itu, iya, suara Oh Sehun. Suara yang kali ini membuat sekujur tubuhnya bergetar. Irene pun segera berbalik, menemukan pria tampan itu kini sudah berdiri dua langkah di depannya.

“Iya?”

Deja vu. Irene akui dia harap kalimat selanjutnya akan sama seperti waktu itu.

“Kamu meninggalkan ini.”

Namun harapannya patah hanya karena sebuah pulpen marun yang sedang Sehun sodorkan padanya. Irene menatap pulpen itu, kemudian menatap Sehun kembali. Pria itu tersenyum tipis.

“O-oh. Terima kasih.” Gadis itu menerima pulpen miliknya dengan ragu. Kemudian mengetuk-ngetukkan benda itu di telapak tangan yang satunya dengan wajah merunduk. Irene menggigit bibir bawah, sungguh dia ingin sekali mendengar Sehun mengucap lagi kalimat yang lain padanya.

Pria itu memperhatikan Irene dalam diam. Mengetuk-ngetuk sesuatu selalu menjadi kebiasaan Irene ketika gelisah dan gugup.

“Cuma –mau bilang ini?”

Sehun mengangguk. Tatapannya masih teduh seperti biasa. Senyum mengembang setipis benang, nyaris tak tampak. Irene terlihat semakin gelisah, gadis itu membenarkan posisi rambutnya sedikit. Lantas tidak beranjak satu langkah pun.

“Bukannya kamu mau ke acara penulis Yunho? Acaranya akan segera dimulai, kan?”

Irene mengangkat kepala lagi, membalas tatapan Sehun lalu mengangguk.

“K-kamu nggak tertarik untuk datang?”

Sehun menggeleng, “Dia penulis kesukaanmu, kan? Saya bahkan tidak pernah membaca novel penulis Yunho.”

Irene terkekeh kaku, “Y-ya. Saya cuma bertanya. Kalau begitu,” gadis itu mengusap belakang lehernya kemudian mundur untuk menarik handel pintu mobilnya. “Saya duluan.” Pamitnya tanpa memandang Sehun lagi dan segera duduk di balik kemudi.

Jelas sudah. Sehun bahkan tampak tak peduli sama sekali. Setelah menyalakan mobil, kedua tangannya begitu erat meremas setir. Untuk yang kesekian kalinya, dia menggigit bibir. Gelisah dan kesal. Kesal pada dirinya sendiri yang tidak terima melihat Sehun bersikap dingin seperti itu. Dia bersumpah, jika Sehun mengajaknya makan siang, Irene akan lebih memilih menerima tawaran Sehun ketimbang pergi ke acara booksigning itu. Tapi kenyataan selalu saja berbanding terbalik dengan harapan.

Tanpa mau melirik lagi ke arah Sehun yang masih berdiri di luar sana.  Irene segera memutar setir dan melesat dari tempat itu.

Sehun membisu di tempatnya berdiri. Jemarinya mengusap rambut dengan perlahan. Dia ingin sekali mencegah Irene untuk pergi, dan membawanya ke tempat lain. Tapi mood Sehun sedang sangat buruk. Dia bahkan sulit sekali untuk sekedar tersenyum lebar dan mengucapkan hati-hati atau kalimat semacamnya.

Apakah perubahan sikapnya begitu kentara? Sehun tidak ingin apa-apa, hanya ingin membatasi diri. Dan menarik ulur kembali semuanya.

| to be continued |

Iklan

2 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 8)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s