[EXOFFI FREELANCE] Rose (Ficlet)

jongin

 

ROSE | Lifen

 

 

 

Title :  ROSE

Cast : Kim Jongin & Rose(OC)

Author : Lifen

Length : Ficlet

Genre : Romance, Fantasy

Note : Terinspirasi dari webtoon ‘Winter Wood’ dan beberapa kali ganti judul dari your name is rose sampek berubah judul jadi immortal.  Jadi pilih yg singkat aja deh hehe ROSE.  Hehe untuk FF She Is Male telat update sorry,  buat The Sons of God juga,  biar greget #plaak apaan si thor.  Jadi sebagai gantinya ff ini,  kenalan dulu sama couple yang satu ini hehe.  Semoga gak mengecewakan.  See ya!

 

 

 

 

Happy Reading!

 

 

 

Setelah bertahun-tahun dia hidup di alam manusia tanpa pernah menjamah alam yang harusnya menjadi rumahnya. Hidup dengan rasa kesepian dan merasa jauh dari leluhurnya. Tidak di harapkan dan di jatuhkan di bumi. Ia memutuskan mulai bersembunyi di dalam hutan hingga para ilmuan yang sedang melakukan ekspedesi penelitian ke sebuah Desa yang semua penghuninya mati terkena wabah penyakit. Desa tersebut letaknya jauh di pedalaman hutan. Tanpa sengaja para ilmuan itu menemukan’nya meringkuk di dalam lubang jebakan hewan buas yang mereka buat di sekitar Camp mereka. Kaki gadis itu terkena ranjau lalu salah satu ilmuan itu memeriksanya dan mengeluarkan gadis itu dari lubang. Ketika dokter itu akan mengobati luka di kaki gadis itu. Ilmuan itu terkejut ketika melihat luka itu perlahan sembuh tanpa meninggalkan bekas. Ilmuan itu menyebutnya dengan mahkluk immortal.  para ilmuan membawa gadis itu ke laboratorium tersembunyi dan mengurungnya bertahun-tahun di sebuah ruangan dengan satu tempat tidur kecil dan penerangan temaram yang sangat besar. Tidak ada jendela. Tidak ada kursi. Hanya ada ia dan tempat tidurnya. Nyaris setiap satu minggu sekali gadis itu ditelanjangi oleh mereka demi sebuah eksperimen. Tidak terhitung berapa kali gadis itu di telanjangi dan berapa banyak ilmuwan melihat tubuh telanjangnya.

 

Mereka selalu melakukan eksperimen terhadap gadis itu. Namun gadis itu tidak menguarkan suaranya sedikitpun, ia seakan bisu. Dia tidak ingin memberikan secuil informasi apapun pada mereka.

 

Setiap malam gadis itu dibiarkan sendirian. Jujur saja dia merasa senang sebab tanpa mereka dia bisa merasa aman. Tak ada lagi gangguan dari mereka yang mencoba mencari tahu mahkluk apa dia.

 

Dan di ruangan yang sama, hari demi hari. Tak ada yang mengunjunginya. Tak ada yang berbicara padanya. Gadis itu sangat membutuhkan sinar matahari. Untuk bisa melihat hal lainnya. Ia selalu  berjalan mencoba meraba dinding  seolah mencari pintu keluar pada tengah malam. Tapi tak ada satupun yang bisa ia buka. Semua pakaiannya berwarna putih. Dan ia berjalan dengan bertelanjang kaki. Setiap hari ia terbangun di tempat tidur, gemetaran. Mungkin saja suhu ruanganya sengaja di buat dingin. Mungkin saja tidak, ia  tidak mengerti. Dan itulah saat dia sadar bahwa ia bahkan tidak tahu sudah berapa abad dirinya menghilang.

 

Dan saat ini untuk sekian kalinya sebuah pintu tiba-tiba terbuka dan gadis itu melihat orang lain untuk sekian kalinya. Orang-orang berpakaian putih. Jas laboratorium. Masker bedah menutupi wajah mereka dan gadis itu tahu mereka tidak akan menolongnya. Ia duduk di sana di tempat tidurnya, bahkan tidak peduli bahwa ia masih bertelanjang saat ia memandang mereka masuk satu per satu. Salah satu dari mereka memegang lengannya dengan kasar dan gadis itu mencoba melawannya namun yang lainnya memegang lengannya ke samping dan dia menyerah, terlalu lemah untuk melawan lagi. Hal terakhir yang ia ingat adalah sesuatu telah disuntik’kan ke dalam tubuhnya.

 

Sakit.

 

Itulah yang gadis itu rasakan saat mereka selesai melakukan percobaan di bagian yang di bilang manusia sangat fatal. Dan saat ia terbangun dia merasakan seakan kepalanya akan meledak. Kedua matanya terpejam, terlalu berat dan terlalu lelah untuk dibuka, ia juga tidak mengerti alasan mengapa dirinya merasakan sakit. Namun Gadis itu tetap hidup dan tanpa bekas luka di tubuhnya.

 

Di hari yang lain gadis itu tidak tahu berapa banyak tes yang telah ia lakukan tapi ini benar-benar keterlaluan. Setiap hari mereka membuatnya berlari di mesin treadmill tiga kali, dan bahkan mereka mencoba menenggelamkan’nya untuk melihat seberapa lama ia bisa menahan bertahan. Dan ketika gadis itu tidak menuruti kemauan mereka, mereka menyentaknya dengan menyalurkan listrik ke tubuhnya, mengejutkannya agar terjaga.

 

Menyedihkan.

 

Tubuhnya benar-benar menyerah. Ia berdarah di beberapa bagian tubuhnya dan kakinya yang lemah membuatnya terjatuh ke lantai. Gadis itu bisa merasakan listrik dialirkan ke kulitnya namun tidak dengan sekarang, ia terlalu lelah, terlalu lelah untuk melakukan apapun.

 

Gadis itu terbaring di lantai, terengah-engah. Tak ada yang menyentuhnya atau membangunkannya dan ia berterimakasih karena ditinggalkan sendirian. Ia belum pingsan tapi merasa seakan sudah tak sadarkan diri. Ia masih bisa mendengar suara mesin berderu di sampingnya, mendengar denyut jantungnya sendiri yang pelan namun lemah. Setelah beberapa waktu ia melihat seseorang bergerak mendekatinya.

 

“Bawa dia ke kamarnya.” Gadis itu mendengar seseorang berkata dan ia merasa tenang.

 

Gadis itu terbangun di tempat yang sama, di dalam kamarnya tanpa ada satupun orang melihat ke adaannya.

 

 

Dia kembali tertidur.

 

.

 

.

 

Gadis itu terbangun tapi ada yang berbeda dia berpakaian lengkap. Namun sekarang ada yang berbeda di tengah ruangan, ada sebuah meja, segelas air di atasnya, makanan dan ada seseorang yang sedang duduk di sana. Orang itu tersenyum padanya saat ia menatapnya dan gadis itu hanya balas menatap. Dia tidak memakai masker bedah. Gadis itu bisa melihat wajahnya. Dia mengenakan jas laboratorium seperti orang yang sebelumnya tapi gadis itu bisa melihat dia, rang yang bai pikirnya.

 

Dia duduk untuk melihatnya lebih jelas. Tak ada satupun dari orang-orang ini yang baik kecuali dia. Dan butuh beberapa waktu bagi gadis itu untuk dapat merasakan kakinya sendiri. Tapi ia berjalan pelan mendekatinya, merasakan dinginnya bagian logam dari kursi saat ia menariknya ke belakang. Ia duduk di hadapan orang itu dan menatapnya sendu.

 

“Selamat pagi Rose” Sapanya.

 

Gadis itu menyukai suara miliknya. Suara lembut dan hangat itu milik Kim Jongin seorang ilmuwan muda yang bertugas memeriksa kondisinya setiap pagi. Dia tidak mengerti kenapa Jongin menamai’nya dangan jenis tanaman? Tepatnya sejenis bunga. Jongin bahkan tidak perlu meminta ijinya untuk memangilnya dengan nama random. Tapi Gadis itu menyukai nama yang diberikan Jongin. Dia tidak suka ilmuan lain memanggil’nya dengan nama eksperimen nomor 1-0-4.

 

Rose hanya diam tak bergeming.

 

“Kau tak mendengarku Rose?” tanya Jongin lagi sambil beranjak dari posisi duduknya lalu berlutut di depan Rose, dan mendekatkan wajahnya untuk lebih jelas melihatnya.

 

Jongin mengulum senyum. Dia memaklumi jika Rosse tidak terbiasa berinteraksi dengan seseorang. Tiba-tiba ponsel Jongin berdering lalu ia merogoh ponsel di saku jas lab’nya kemudian dia berdiri membalikan tubuhnya dan melangkah menjauh.

 

Rose menatap punggung Jongin. Rasanya ia ingin bersandar di punggung lebar itu. Dari semua ilmuwan yang sudah dia jumpai selama hidupnya, hanya Jongin yang menurutnya baik dan tampan.

 

Rose memutuskan berajak dari posisi duduknya lalu berjalan mendekati tempat tidurnya. Kemudian dia merebahkan dirinya di atas ranjang dan menarik selimut putih yang tebal sampai sebatas leher mungkin karena suhu udara di ruanganya terlalu dingin atau ini sudah masuk musim dingin.

 

Rose tidak mengerti.

 

Terlihat di ambang pintu Jongin tengah mengangkat panggilan telepon dari seseorang. Rosse penasaran apa yang tengah Jongin bicarakan dengan ketua penilitian bernama Kris. Dari mana Rosse tahu jika itu ketua penelitian? Karena dia memiliki kelebihan yang diluar jangkauan manusia. Rose bisa mendengar pembicaraan mereka tanpa harus menggunakan alat.

 

‘Bawa dia ke apartementmu. Perlakukan dia seolah-olah dia adalah manusia. Gajimu akan ku naikkan jika kau berhasil menemukan sesuatu darinya.’

 

Telinga Rose kembali menangkap dengusan Jongin namun ia menyanggupi permintaan Kris.

 

Jongin berbalik dan berjalan mendekati Rose.

 

“Aku tahu kau tidak tidur Rose. Hari ini kau akan tinggal bersamaku.” Jongin menyibakkan selimut dan menggoyangkan tubuh Rose dengan lembut. Mau tak mau Rose harus membuka kedua kelopak matanya dan menatap ke dua manik kelam milik Jongin.

 

“Mulai dari sekarang kau akan tinggal bersama denganku. Aku akan menjagamu,” katanya sambil mengulurkan tangannya.

 

Rose mengerjapkan matanya berulang kali. Ia mencoba membaca pikiran Jongin.

 

Dan sepertinya Jongin tengah gelisah dirumahnya hanya ada satu kamar tidur dan buruknya tak ada ranjang tambahan. Ia bingung apakah harus tidur di sofa atau membeli ranjang tambahan. Kalau tidur di sofa tingginya yang sampai mencapai seratus delapan puluhan itu tidak cukup. Membeli ranjang tambahan? Lebih baik dia membeli sebuah komputer baru dengan kapasitas memori yang besar. Rosse ingin tertawa saat membaca pikiran Jongin tapi ia urungkan niatnya. Dan ternyata dibalik itu semua, Kim Jongin  ingin menghemat uangnya. Ia berencana melamar seorang wanita bernama Krystal.

 

Entah mengapa ada rasa kecewa di benak Rose saat Jongin berencana melamar seorang gadis. Rose tak mengerti dan menepis perasaan aneh yang terus bergelayut di benaknya.

 

Jongin mengerutkan keningnya sambil menatap Rose heran. “Apa yang kau pikirkan Rose,”

 

Rose menatapnya lalu menerima uluran tangannya. Gadis itu beranjak bangun dari ranjang dan tanpa sengaja ia mendengar suara hati Jongin yang tengah frustasi. Jongin tetap menarik tangan Rose lalu mengaikat jemarinya ke jemari Rose. Ada rasa hangat saat Jongin menggenggam tanganya sambil berjalan keluar dari ruangan yang bisa di sebut sebuah penjara selama dua abad mengurungnya.

 

 

END

 

 

 

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Rose (Ficlet)

  1. Huaaa, ini gantung
    Apa ada seriesnya gk thor ? Aduh aku penasaran rose yg punya kmampuan luar biasa serumah ama jongin nanti trus krystal bgemana ? Ide ceritanya fresh banget jd gk bosen bacanya

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s