[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You (Re : Turn On – Chapter 7)

photogrid_1480225269408

The One Person Is You [Re : Turn On]

Tittle                           : The One Person Is You [Re : Turn On] – Chapter 7

Author                      : Dancinglee_710117

Main Cast                 :

  • Park Chanyeol (EXO)
  • Lee Hyojin (OC)

Other Cast               :

  • Kang Rae Mi (OC)
  • Park Jiyeon (T-Ara)
  • Jung Yong Hwa (C.N.BLUE)
  • Bang Yongguk (B.A.P)
  • Choi Jun Hong / Zelo (B.A.P)
  • Kim Himchan (B.A.P)
  • Oh Sehun (EXO)
  • Kim Jong In / Kai (EXO)
  • Park Yoora (Chanyeol Sister)
  • Kim Hyoyeon (SNSD)
  • Lee Young Nae (OC)
  • Jang/Choi Mira (OC)
  • Kimberly Hyun (OC)
  • And other you can find in the story

Genre                        : Romance, Friendship, Comedy (a little bit), and other

Rating                       : T

Length                       : Chapter

~Happy Reading~

*Author POV*

 

“Mau lakukan permainan seru?”

 

Celetukkan Jun Hong tak diacuhkan teman-temannya. Baik oleh Himchan dan Yongguk yang pernah menjadi kelompok pembuat rusuh bersama maupun Sehun juga Jong In yang baru beberapa tahun ini dekat dengan trio yang dulu diberi julukan trouble maker tersebut.

 

“Yak!~” pria yang paling muda itu merajuk, kesal karena tak ditanggapi sama sekali oleh empat pria lainnya. “Setidaknya perhatikan aku atau gumam ‘apa?’ begitu tidak bisa?!”

 

Jong In meletakkan ponselnya, berhenti sejenak dari permainan game online yang sudah menjadi kegiatan favoritnya semenjak putus dari Hyoyeon. Pria berkulit kecoklatan itu mengikuti Sehun untuk menatap Jun Hong langsung sesuai permintaannya tadi. Yang mana malah membuat Jung Hong merasa tak nyaman karena diberi tatapan intens oleh dua orang pria sekaligus.

 

“Apa sekarang giliranku untuk bergumam ‘apa’?” sahut Himchan seraya tersenyum lebar melihat kekonyolan ‘teman sejati’ Lee Hyojin itu.

 

“Arrrgh! Hentikan!”

 

Jong In berdecak, “Sebenarnya anak ini maunya apa sih?. Tadi kau minta diperhatikan, kami sudah melihatimu kau malah marah-marah!”

 

“Nilai bahasamu berapa sih?, maksudku kan bukan itu!”

 

Dan sebelum Jun Hong berkelahi dengan Jong In karena masalah sepele, Sehun menengahi dengan merespon pertanyaan ‘maknae’ mereka.

 

“Memang permainan seru apa yang mau kau lakukan?”

 

“Ya, permainan apa itu?” imbuh Himchan setelah puas menertawakan muka memerah Jun Hong.

 

Sambil cemberut karena baru ditanggapi, Jun Hong menjelaskan lebih rinci mengenai idenya soal permainan tadi. Sebuah permainan yang tiba-tiba muncul diotaknya setelah perhatiannya sempat teralihkan pada gerombolan mahasiswi yang terus memperhatikan meja mereka sambil berbicara tak karuan hingga membuat seisi kantin menjadi riuh oleh suara gadis-gadis tersebut.

 

“Lihat pintu masuk kantin itu!” titah Jun Hong dan dituruti oleh teman-temannya, kecuali Yongguk yang nampaknya tidak tertarik, sibuk menghabiskan makanannya sambil membaca berita bisnis terkini melalui ponselnya. Yah, meskipun sebenarnya dia ikut menyimak pembicaraan kawannya itu.

 

“Ada apa?. Jangan bilang kau bisa melihat hantu.” Ujar Jong In seraya bertopang dagu.

 

“Enak saja!. Maksudku, permainan kita ini bersumber dari pintu masuk itu!. Jadi, kita buat urutan, lalu siapa gadis yang memasuki pintu itu sesuai dengan urutan kita, maka orang tersebut harus menyatakan cinta atau lebih mudahnya meminta nomor gadis itu.”

 

Sehun menghela nafas berat, “Dan apa untungnya aku melakukan itu?”

 

Jun Hong tersenyum penuh percaya diri, “Kita cari tahu siapa pria paling bisa memikat wanita diantara kita.” Ia bersandar pada kursinya, “Aku punya keyakinan bahwa itu aku.” Lanjutnya.

 

“Omong kosong.” Ejek Jong In, “Tapi, baiklah.”

 

Ucapannya membuat Sehun terkejut. Jong In bukan tipe orang yang mau mengikuti permainan konyol seperti apa yang digagaskan oleh Jun Hong. Biasanya dia tak peduli pada peringkat apapun itu, apalagi soal ketampanan (kecuali soal kekuatan berkelahi). Karena itu, kesetujuan Jong In mengikuti permainan Jun Hong membuat Sehun kembali memikirkan tentang Hyoyeon yang membuat Jong In patah hati, bisa jadi itu alasan mengapa Jong In mau menyatakan cinta pada gadis asing meskipun itu hanya permainan.

 

“Kalian sudah seperti orang gila peringkat. Tapi aku juga setuju.” Himchan lagi-lagi menyahut.

 

“Oke, aku akan menjadi sukarelawan untuk menjadi orang pertama.” kata Jun Hong, kembali menunjukkan rasa percaya dirinya yang tinggi.

 

Mereka memandang pintu masuk yang masih dilewati oleh mahasiswa, belum ada gadis yang melewati pintu kaca dengan pinggiran berwarna putih gading yang terbuka lebar tersebut. Saat wanita tua petugas kebersihan lewat, Himchan bersorak gembira dan memaksa Jun Hong untuk melakukan tugasnya. Tentu saja Jun Hong menolak dan berkata bahwa wanita tua dan karyawan kampus adalah pengecualian.

 

“Tidak, tidak, seharusnya kau mengatakan persyaratan semacam itu sebelum permainan dimulai.” Tolak Himchan dan dengan senyuman jahil memaksa Jun Hong menghampiri wanita paruh baya yang sedang membersihkan tong sampah tersebut.

 

“Cepat!, sebelum kami mendiskusikan hukuman yang lebih berat untukmu.”

 

Maka pergilah Jun Hong menemui wanita petugas kebersihan itu, meminta nomor poselnya dengan canggung yang dibalas tatapan bingung, kemudian menyatakan perasaannya. Membuat Jun Hong harus menerima pukulan di punggungnya karena dianggap sudah gila oleh wanita tersebut. Akhirnya Jun Hong kembali ke kursinya dengan hasil sia-sia ditambah rasa malu karena sudah menjadi tontonan banyak orang.

 

“Kalian puas?!” kesalnya sambil mengacak rambut.

 

Teman-temannya tertawa keras sejak Jun Hong mendapat pandangan ‘anak-gila-zaman-ini’ dari petugas kebersihan itu, termasuk Yongguk. Bahkan mereka harus menghentikan permainan sejenak karena Himchan merasakan kram perut akibat terlalu banyak tertawa.

 

“Baiklah… sekarang giliranku.” Ujar Jong In.

 

Lalu hening, pria-pria itu menatap pintu masuk dengan seksama. Jong In berharap wanita cantik -atau setidaknya normal- yang lewat, yang lain berdoa agar pria berkulit kecoklatan itu menyatakan perasaannya pada seseorang yang lebih parah dari petugas kebersihan yang pemarah tadi. Dosen killer misalnya…

 

Assa!” pekik Jong In bahagia ketika yang lewat adalah Hyojin dan Mira, dua gadis itu melambaikan tangan yang langsung dibalas penuh semangat oleh Jong In. Pria-pria yang duduk satu meja dengannya, yang melakukan permainan konyol tersebut langsung mendesah kecewa, menganggap kalau Jong In mendapat keberuntungan besar dan tak ada hal lucu yang bisa mereka tertawai.

 

“Eoh? Jang Mira?” lirih Sehun saat sadar kalau Hyojin tidak datang sendiri. Dalam hati berharap sahabatnya itu tak tahu soal urusan Mira berada disini.

 

Jong In beranjak, hendak menghampiri Hyojin dengan senyum percaya diri, membanggakan hal baik yang mendatanginya. Namun sepertinya Yongguk tak mempermudah Jong In. Dengan wajah serius dia meminta pria bermarga Kim itu mengalah, membiarkan Hyojin menjadi targetnya. Tentu saja Jong In tak mau, lebih mudah menjadikan Hyojin sebagai target alias korban dari permainan ini daripada orang lain yang tak dikenal.

 

“Lagipula, Bang Yongguk, bukannya dari tadi kau tak tertarik sama sekali?” tanya Sehun, heran. Sekaligus menutupi kegugupannya soal Mira.

 

Yongguk tersenyum, “Tiba-tiba saja aku jadi bersemangat. Apa kalian tidak ingin melihat sesuatu yang menarik dariku?”

 

“Justru…perkataanmu membuatnya jadi…terlihat menakutkan…” Himchan bingung harus bicara apalagi. Dia salah satu orang yang paham akan situasi percintaan Yongguk, selain Jun Hong yang kini membatu, menatap Yongguk tanpa berkedip.

 

Jong In yang awalnya menolak, akhirnya tak ambil pusing dengan membiarkan Yongguk melakukan apa yang dia inginkan. Toh, Hyojin dan Mira sudah sampai di meja mereka.

 

“Ada apa? Ada apa?” tanya Hyojin dengan polosnya, “Aku tidak tahu apa yang kalian lakukan, tapi sepertinya seru.” Lanjutnya, duduk disebelah Jong In yang masih diam menunggu Yongguk beraksi. Sementara Mira memutuskan untuk duduk disamping Sehun, memberi tanda pada pria tampan itu bahwa rahasianya aman-aman saja.

 

“Lee Hyojin.” Panggil Yongguk, empat pria lain menegak ludah gusar.

 

“Apa?”

 

“Sudah lama aku ingin mengatakan ini, dan kurasa sekarang adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku.”

 

Mira tersedak, memuntahkan jus yang ada dalam mulutnya. Beruntung Sehun sigap, dia meletakkan gelas kosong dibawah mulut gadis itu sebelum ia mengotori permukaan meja dan lantai karena ulah joroknya. Tapi, siapa yang tak terkejut kalau mendengar pengakuan cinta orang lain yang ada di dekatnya?. Bahkan Mira yang tak mengenal siapa Yongguk pun kaget, apalagi teman-teman Yongguk sekaligus Hyojin yang jadi sasarannya?.

 

“Aku menyukaimu, Lee Hyojin. Aku mencintaimu, sejak lama.”

 

Mulut Hyojin terbuka, tapi tak sepatah kata pun dapat keluar. Matanya membulat dan berkedip cepat, gadis itu tidak tahu harus bagaimana merespon pernyataan yang tiba-tiba itu, tanpa dia tahu kalau pengakuan Yongguk merupakan sebuah permainan konyol. Namun tak menutup kemungkinan kalau pria berwajah sangar itu tak sedang main-main. Bisa saja Yongguk mengatakannya dengan tulus, hanya saja ia menggunakan kedok ‘permainan’ yang akan menutupi kesungguhannya.

 

“Nah, sudah lihat kan?” Yongguk mengalihkan pandangannya pada Himchan dan yang lainnya, “Pesonaku bahkan bisa membuat Hyojin terpana!” pria itu tersenyum bangga.

 

Mira mendengus kesal, ekspetasinya tentang Hyojin memiliki kekasih tak sesuai dengan realita. Harusnya dia sadar dari awal kalau pria dengan wajah menakutkan itu dari awal tak serius mengenai ucapannya.

 

“Hahahaha!” Yongguk tertawa sendiri, mengabaikan tatapan bingung serta miris dari teman-temannya. Ia terlihat senang, bahkan tidak mempedulikan reaksi Hyojin setelah mendengar pengakuan bohongannya.

 

“Maaf Hyojin! Ahahaha!, mereka mengadakan sayembara siapa pria paling keren yang bisa memikat wanita. Ternyata meluluhkan hati Hyojin tak sesulit yang kukira…” Yongguk menyeringai, “…kau ini tipe yang gampang ditaklukan ya?”

 

Sebelum Sehun berseru tak terima oleh ucapan Yongguk, atau Jong In menghajarnya dengan penuh emosi karena sudah bicara keterlaluan kepada Hyojin, gadis yang menjadi tokoh utama itu segera menghembuskan nafas lega sambil mengelus dada.

 

“Wah! Yak! kupikir aku akan kena serangan jantung!” ujarnya seraya menenggak minuman Jong In sampai tandas. “Oh iya, Sehun, kau tidak pernah bertemu Yong Hwa sunbae lagi?” gadis itu mengalihkan pembicaraan.

 

“Tidak. Memangnya kenapa? Kau ada urusan dengannya?” jawab dan tanya Sehun, seraya mencegah Mira mengeluarkan informasi yang dia minta, berbisik ‘nanti’ pada gadis berambut pendek itu tanpa mengalihkan pandangannya dari Hyojin.

 

“Hanya butuh beberapa nasehat darinya.” Kata Hyojin singkat, tak berniat menjelaskan lebih lanjut. “Kalau kau atau Jong In bertemu dengannya, atau setidaknya tahu nomor yang bisa dihubungi, tolong beritahu aku ya?”

 

Tidak menunggu balasan dari dua sahabatnya, Hyojin buru-buru meninggalkan kantin setelah menghabiskan minuman milik Jong In sekaligus mengambil kunci apartement Sehun.

 

“Dan Bang Yongguk, tolong jangan bercanda seperti itu lagi. Lama-lama membosankan.” Ucap Hyojin sebelum benar-benar pergi. Setelah itu dia menghilang ditelan kerumunan mahasiswa lain yang sudah harus masuk kelas.

 

***

 

Rae Mi memandang ponselnya dengan wajah sebal, sudah beberapa kali gadis itu mencoba melakukan panggilan pada Yongguk tapi tak satupun dijawab. Ini bukan karena Rae Mi membutuhkan pria itu atau merindukannya, tidak, pilihan kedua adalah omong kosong yang dibuat oleh imajinasi Kang Rae Mi. Gadis yang dulu terkenal dengan muka polosnya itu berusaha menghubungi Yongguk atas alasan acara makan malam keluarga mereka. Dimana baik Rae Mi dan Yongguk tahu kalau acara makan malam tersebut akan berbuntut pada perjodohan, seperti dalam drama mengenai orang-orang kaya yang sebenarnya didasari oleh kisah nyata.

 

“Bang Yongguk sialan!” umpatnya, pelan. Menutupi sifatnya yang lain dari orang asing, dari mereka yang tidak tahu menahu soal kepribadiannya, mereka yang tidak kenal baik dengan Rae Mi dan terlanjur menganggap dirinya adalah gadis polos yang kuno.

 

Lagipula, Rae Mi tidak merasa itu adalah kesalahan. Dia bukan seorang gadis yang memasang wajah ‘malaikat dungu’ yang sebenarnya adalah ‘iblis pemaki’, dia tidak berpura-pura untuk hal bodoh semacam itu. Hanya saja Rae Mi berbeda, sedikit unik dari gadis kebanyakan. Dan Rae Mi akan marah jika orang lain menganggapnya aneh. Dia tidak aneh. Setidaknya itu yang ia yakini.

 

Ponselnya berdering, nama Bang Yongguk terpampang dilayarnya, membuat Rae Mi setidaknya bisa meluapkan amarah setelah diabaikan oleh pria berotot itu.

 

“Bang Yongguk-ssi, kau tentunya tak ingin aku membuat pengaduan kecil kepada ayahmu kan?” sindirnya sebelum Yongguk sempat mengucapkan ‘halo’ padanya.

 

“Sekedar informasi, aku tidak mau meminta maaf soal apapun keluhanmu itu.”

 

Bahkan hanya mendengar suaranya pun Rae Mi sudah kesal setengah mati.

 

“Oke, lupakan. Ayahmu tadi menghubungiku.”

 

“Oh ya?. Kalau begitu, kemajuan untuk hubungan kita.”

 

Meski Rae Mi mendengar kekehan geli diakhir kalimat Yongguk, gadis itu tahu kalau orang yang tengah mengobrol dengannya via telepon itu sedang dalam keadaan buruk. Tentu saja, Yongguk selalu dalam mood yang jelek kalau sudah berurusan mengenai ayahnya, ibunya, maupun Hyojin.

 

“Kau mungkin tak ingin mendengar apa yang kami bicarakan, initinya, beliau meminta agar kita berhubungan baik-”

 

“Sepertinya perusahaan Lee Dae Ryeong cukup berpengaruh pada bisnis keluargaku.” Potong Yongguk, “Oke, oke, aku sudah paham keseluruhan situasinya. Sebaiknya putuskan sambungannya sebelum kau sakit hati karena aku melakukannya duluan.”

 

“Aku juga menemui ibumu.”

 

Hening sejenak. Rae Mi awalnya tak yakin akan mengatakan ini pada Yongguk, tapi toh nasi sudah menjadi bubur. Ia tak mungkin menelan kata-kata yang sudah dikeluarkan. Pria itu pasti marah, Rae Mi sudah menebaknya. Tapi dia tak bisa berdiam diri mengetahui kenyataan kalau ibu Yongguk masih hidup, sementara anaknya tak acuh dan meneruskan hidupnya seolah tak mengenal wanita yang sudah melahirkannya.

 

“Hyoyeon eonni yang sudah mengatakannya padaku, dia juga yang memberikan alamat tempat tinggalnya padaku…”

 

“Untuk apa? Mau apa kau setelah tahu segala tentangku?”

 

Butuh waktu bertahun-tahun untuk Rae Mi supaya bisa terbiasa dengan suara mengintimidasi Yongguk. Bahkan untuk saat ini sekalipun.

 

“Bukan seperti itu, aku hanya-”

 

Rae Mi kehilangan kata-kata. Bukan karena Yongguk menyela ucapannya atau dia merasa takut atas amarah pria tersebut. Melainkan karena sekelebat bayangan masa lalunya kembali muncul begitu dua orang wanita berjalan melewatinya. Tidak, ia tidak mengenal wanita-wanita itu, hanya saja… ia mengingat bau parfumnya.

 

‘Apa ini? parfum?!. Kau masih berani mempercantik diri setelah dihajar habis-habisan ya?’

 

Rae Mi tertegun, tak lagi mendengarkan ocehan Yongguk atau bahkan sadar bahwa sambungannya sudah terputus secara sepihak. Gadis itu terlalu sibuk melamun, mengingat lagi dirinya saat masih berada di kampung halamannya, ketika dia berada di sekolah menengah… ketika dia masih bisa percaya pada pertemanan antar wanita.

 

‘Kang Rae Mi!, kau tidak ingin membantunya?’

 

Dia ingat saat itu masih tahun pertama, awal yang seharusnya terasa masih untuk anak SMA. Ia mengambil parfum milik seorang siswi dari sakunya, menggantinya dengan sebungkus rokok yang hampir habis isinya, lantas membiarkan siswi itu diadili meskipun itu bukan kesalahannya.

 

‘Sebenarnya, alasan kematian Hyun Mi Joon adalah Kang Rae Mi kan?’

 

Rae Mi menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk tidak berteriak atau malah meringkuk dijalanan seperti orang gila. Tangannya terkepal, lagi-lagi, gadis itu berusaha untuk terlihat normal. Tidak, tidak… dia normal -menurutnya. Hanya saja perbedaan kecil milik Rae Mi mungkin tak bisa dimengerti oleh orang lain.

 

“Perbedaan yang tidak bisa dimengerti… sehingga mereka menganggapku… gila…” gumam gadis itu sepelan mungkin, berjalan mundur dengan langkah gontai, menuju tempat yang lebih sepi. Dimana tak seorang pun akan melihatnya dan kembali menganggapnya aneh.

 

*Hyojin POV*

 

“Apa? Kau mencari Jong Hwa?”

 

“Bukan, kek. Bukan Jong Hwa tapi Yong Hwa.”

 

“Apa? Yong Ma?”

 

“Maaf, kek. Itu merk rice cooker, yang aku cari adalah pria bernama Jung Yong Hwa!”

 

“Ooh anak pemain gitar itu…”

 

Aku mengerutkan alis, kali ini siapa lagi yang akan kakek ini sebut?. Yah, bisa jadi Yong Hwa sunbae terkenal sebagai seorang gitaris disini. Berfikir positif saja Hyojin-ah…

 

“Tapi, nak. Tak ada pria bernama Sung Jung Ha disini.”

 

“Itu SUNG HA JUNG, kakek!” geramku emosi.

 

Arrgghh! Apa sesulit itu ya menemukan senior itu? sampai aku harus berurusan dengan pria tua yang sudah pikun dan lemah dalam pendengaran ini?!. Oke, aku harus bersikap sopan. Bukan karena aku tak punya kenangan manis yang masih membekas bersama kakek-nenekku, atau hanya punya rasa benci dan dengki terhadap Lee Dae Ryeong, maka aku juga akan memperlakukan kakek ini demikian. Huft~ bersabarlah Hyojin, bersabarlah.

 

“Kakek, coba diingat-ingat lagi. Banyak orang kampus yang bilang kalau Yong Hwa itu tinggal disekitar sini, tepatnya dirumah kakek ini!” ujarku sedikit memaksa. Aku tak bermaksud menggunakan cara kasar, tapi aku benar-benar hampir putus asa dalam pencarian ini. Aku butuh bantuan senior Yong Hwa, dia adalah jalan menuju pembalasan dendam terhadap Presdir tua sialan itu!.

 

“Sudah kubilang kan, tidak ada pria bernama Yong Hwa tinggal disini!. Sejak kemarin kau terus saja datang dan mengganggu kami!”

 

Itu Chan Hee, anak yang tinggal bersama kakek Yoon. Anak itu selalu bersikap buruk padaku, dan selalu berusaha mengusirku ketika aku datang untuk menanyakan keberadaan Yong Hwa sunbae. Tapi aku yakin pria itu tinggal disini, hanya saja Chan Hee selalu berkata ‘tidak’ dan masa bodoh lalu kakek Yoon yang tuna rungu dan pelupa ini tak membantu sama sekali.

 

“Aku ini bukan pengganggu, penagih hutang atau salah satu antek dari Lee Dae Ryeong!. Aku datang karena butuh bantuan Jung Yong Hwa, itu saja!”

 

“Da-darimana kau tahu soal Lee Dae Ryeong?!” tanya Chan Hee terkejut campur ketakutan. Merasa sudah salah bicara anak itu langsung menutup mulutnya dan mendorongku pergi. Aku meronta, jelas saja menolak, dia juga mengerti soal pria tua itu jadi pastinya Yong Hwa tinggal disini, pernah berada disini, atau Chan Hee sendiri punya hubungan khusus dengan Presdir Jaeguk. Spekulasi-spekulasi tersebut harus dia buktikan sekarang juga.

 

“Chan Hee-ssi!, beritahu aku bagaimana kau mengenal Lee Dae Ryeong?”

 

“Bu-bukan urusanmu!”

 

Anak ini keras kepala sekali sih?!.

 

“Chan Hee-ssi, pria itu berbahaya!”

 

“Aku juga tahu itu!, keberadaanmu disini juga berbahaya! Kau bisa membahayakan kami semua!”

 

Apa?!. Jadi benar kalau Chan Hee juga da hubungannya dengan Lee Dae Ryeong? Karena Yong Hwa kah? Atau kakek Yoon?.

 

“Sudahlah! Pergi saja dari sini dan jangan pernah kembali!”

 

“Ta-tapi Chan Hee-ssi!-”

 

“Hyojin?”

 

Aku mengenali suara itu!. pasti, pasti itu Yong Hwa sunbae. Dan benar!, begitu aku menoleh ternyata pria yang menjadi kunci mengenai Presdir sialan itu sudah berada di depan gerbang rumah kakek Yoon. Menatapku dengan heran sambil membawa kantung besar berisi sayuran.

 

Aku dapat mendengar decakan dari Chan Hee yang kesal karena keberadaan Yong Hwa sudah terungkap olehku, sebab itu aku balas memberinya tatapan tajam karena sudah berbohong sejak pertama kali aku menginjakan kaki dirumah ini.

 

“Hyojin-ah, sedang apa kau disini?”

 

Chan Hee buru-buru menghampiri Yong Hwa, menabrakku dengan keras sampai aku hampir jatuh mencium halaman berumput mereka. Beruntung aku hanya menyenggol kursi roda kakek Yoon, membuat pria pikun itu terkejut lantas menawariku minum soju. Random sekali kakek ini!.

 

Hyung!, dia mata-mata Lee Dae Ryeong!” Chan Hee mengadu pada Yong Hwa tanpa bertanya dahulu siapa aku sebenarnya dan bagaimana aku bisa mengenal orang yang dia panggil ‘hyung’ itu.

 

Kalau aku boleh bertanya, apa anak laki-laki remaja yang sedang masa pubertas itu selalu membenciku ya?. Sebut saja adikku sendiri, Donghyuk yang dulu membuatku babak belur bersama teman-temannya, dan sekarang bocah bernama Chan Hee Ini. Mau bertanya tapi pada siapa? Pada rumput yang bergoyang?.

 

Sunbae…” panggilku, tak mengacuhkan rengekan Chan Hee pada Yong Hwa sunbae yang memintaku pergi.

 

“Aku ingin mendengar cerita tentang ‘bibit’ sekali lagi.”

 

Yong Hwa sunbae pasti mengerti apa maksudku. Cerita yang pernah dia dongengkan kepadaku saat berada di depan makam kakek dan nenek, cerita tentang bibit dan orang jahat itu, aku sudah memahaminya. Karena itulah, untuk membuat Jinhyo percaya padaku, untuk menghentikan kekejaman Lee Dae Ryeong itu, serta menyadarkan Rae Mi mengenai siapa ayahnya…

 

“Tolong tunjukkan padaku cara menghabisi orang jahat itu!, cara supaya dia tidak menyakiti bibit-bibit yang lain!”

 

*Author POV*

 

Yongguk menghampiri Rae Mi yang sudah menunggunya sejak tadi. Bahkan untuk acara yang tidak dia inginkan gadis itu masih sudi merias dirinya, memakai pakaian cantik yang belum pernah dia pakai, membuat dirinya menjadi seorang putri dari pengusaha kaya di Korea. Pengorbanan yang tidak begitu sulit bagi Rae Mi, kecuali menunggu Yongguk yang sekarang malah datang dengan kondisi mabuk.

 

“Yak! Bang Yongguk!, kau sudah gila ya?!” sentak Rae Mi. Meski kesal dia masih mau menolong pria itu yang hampir jatuh akibat mengkonsumsi terlalu banyak alkohol. “Kau sudah lupa soal acara makan malam huh?! Kau sendiri yang bilang jangan sampai mengecewakan keluarga kita!”

 

Yongguk terkekeh, memasang wajah konyol dengan pipi yang memerah. “Ssst!. Sebelum pergi kesana… heuk!… kita harus bersenang-senang dulu!”

 

“Kau benar-benar sudah tak waras!”

 

Rae Mi menahan tubuh Yongguk yang limbung, membuat pria itu bersandar padanya seraya duduk diatas kursi dipinggir trotoar. Ia hampir memukuli Yongguk, mencacinya yang sudah membuat indra penciumannya terganggu oleh bau alkohol. Tapi Hyojin menyelamatkannya dari amukan Rae Mi.

 

Gadis yang sedang bertengkar dengannya itu sedang berada jauh dari tempatnya berada, tapi Rae Mi masih bisa mengenalinya. Hyojin memang tak menyelamatkan Yongguk secara langsung. Tapi dengan mengalihkan perhatian Rae Mi, sudah mampu membuat tubuh Yongguk aman dari pukulannya. Apalagi gadis bermarga Lee itu tidak sendiri.

 

“Rae Mi-ah… cinta pertamaku… sudah berakhir…” suara lemah Yongguk menyakitinya. Meski tak melihat secara langsung keadaan pria itu, tapi dia mengerti rasanya. Jika saja Yongguk juga melihat pemandangan apa yang dia lihat saat ini, Rae Mi yakin pria itu akan menangis sejadi-jadinya.

 

“Cinta pertamaku… heuk!… benar-benar sudah berakhir…”

 

Rae Mi merasakan basah di pundaknya, namun tak berniat mencari tahu asalnya. Matanya tertuju pada Chanyeol yang terkejut karena Hyojin tiba-tiba muncul di depannya.

 

“Kau tahu Yongguk, aku… cintaku juga sudah berakhir… seharusnya begitu.”

 

*Hyojin POV*

 

“Hyojin? Bagaimana kau bisa berada disini?”

 

Aku berbalik, mempersiapkan hati sekali lagi untuk menjawab pertanyaan Chanyeol. Ah salah, yang benar adalah untuk melakukan saran Yong Hwa sunbae sekaligus mengungkapkan perasaanku…kan?. Akh masa bodoh lah!.

 

Aku kembali menghadapnya, “Euh, itu… ada sesuatu yang harus kukatakan padamu.” Menyesuaikan diri agar tak terlihat salah tingkah.

 

“Apa?”

 

Jantungku berdegub terlalu kencang, aku bahkan bisa mendengarnya sendiri. Semoga pria di depanku ini tuli. Oh ralat!, semoga pria di depanku ini tidak bisa mendengar!. Hah? Apa bedanya kalau begitu?!. Ma-maksudku… aaarrgghh! Tidak usah dijelaskan aku sudah gugup setengah mati!.

 

Aku malah hampir lupa soal pertengkaran kemarin, begitu pun apa yang aku ucapkan padanya waktu itu… bodoh!, dan sekarang aku mau memintanya jadi pacarku?!.

 

“Chanyeol-ah!”

 

“Eoh?”

 

Benar, sudah tak perlu membahas masa lalu. Chanyeol pun sepertinya tak terkecoh masalah kemarin. Ini demi kebaikan kami, demi menyelamatkan Chanyeol dari cecunguk Lee Dae Ryeong. Cara terbaik yang Yong Hwa sunbae usulkan untuk melindunginya dari gangguan pria tua kejam itu. Semoga Chanyeol bisa mengerti alasanku melakukan ini. Tidak, tidak, yang benar adalah semoga Chanyeol tidak pernah tahu alasan sebenarnya mengapa aku memintanya untuk menjadi kekasihku sekarang.

 

Selain karena aku menyukainya, juga karena untuk melindunginya.

 

“Chanyeol-ah, kau harus jadi pacarku!”

 

 

 

~To Be Continue~

 

Haduh-haduh, maaf jadi nunggu lama. Otak kering mikir ide, dan rasanya susah banget bikin scene romance. Tapi mudah-mudahan dilancarkan setelah chapter 7 ini dan bisa diperpanjang yeth~

 

 

NB : Minggu kemarin habis dari desa. Rehat sementara sekaligus cari ide. Mohon kemaklumannya T.T

 

Okedeh RCL Juseyooo~~~

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] The One Person is You (Re : Turn On – Chapter 7)

  1. kasian junhong.. udah dicuekin, apes pulaaa.. kan dia yg ngasih usul permainan tapi dia jg yg sial.. kkkk
    emang apa yg diomongin yonghwa ke hyojin???
    kok yongguk bisa patah hati, padahal dia sendiri yg ngebet gantiin jongin nyatain perasaan ke hyojin… uhhh kasian yongguk.. keras gitu tapi hatinya lemah banget cuma gara” hyojin.. wooaaaaaa

  2. wah……Makin seru aja nih, oh pantes aja lwamma bru update nya,tpi g pp kok thor,hah jgn2 si yong guk suka lg sm hyojin??
    aku hanya menerka ya…..hihihi….abang ceye trima dong please..

  3. Baik banget sih.. hyojin 😥
    Ngakakk ada yong ma juga.. 😀
    Ahayy sungha jung kuuu… :*
    Greget gara” tbc nya.. akhirnyaa.. ditrima dong hyojinnya. Kasian kalo enggak.
    Pliss fast update!! Huhuhu…
    Okok.. ditunggu

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s