[EXOFFI FREELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 2)

picsart_01-28-12-29-02

In Our Lovely Destiny

.

By : Author Rhee

.

Byun Baekhyun & Han Yu Raa || Romance, School-Life || Multichapter || PG-17

Summary : “Ketika takdir mempermainkanku, kau hair dan membuatku kembali percaya…”

Disclaimer : Cerita ini murni adalah ide saya yang sudah tersimpan dalam laptop selama 1 tahun 😀 (kekeke). Cerita ini adalah fiksi semata, jadi jangan pada baper.

.

.

02 – [ Byun Baekhyun ] ~ Mengingatmu?

 

Ini hampir minggu kedua setelah kepergian Ha Kyung – wanita yang meninggalkanku saetelah membawa hatiku. Masih terasa sakit di jantungku saat mengingatnya. Mana mungkin aku bisa melupakan seorang sepertinya?

Aku masih sibuk mengejar bola di tengah lapangan – sendiri – dimalam musim gugur ini. Berfikir mungkin jika aku lelah aku bisa tidur nyenyak walau hanya untuk hari ini, berhenti memikirkan Ha Kyung.

Butiran keringat sudah membasahi wajah dan tubuhku. Sudah satu jam aku berlari, menggiring bola, menendangnya masuk kegawang, lalu kembali menggiringnya menjauhi gawang dan melakukannya terus tanpa lelah.

Deruan nafasku sudah sangat tersenggal diantara angin yang berhembus. Sangat nyata terdengar olehku karena sepinya lapangan itu dan gelapnya langit yang menambah kesan kesunyian.

Dan inilah akhir dari kesanggupanku, sudah puluhan kali bola itu masuk ke gawang tapi kini nafasku bahkan tubuhku tidak memungkinkan untuk melanjutkan lagi. Aku mengatur nafasku yang masih terasa sesak – tanpa sadar tubuhku malah merosot ke rumput hijau. Kepalaku menengadah ke langit, berharap bisa menyesuaikan nafasku.

Dan akhirnya aku hanya bisa tergeletak dengan kedua tanganku yang kurentangkan di hamparan rumput luas itu – masih dengan nafas yang tersenggal bait demi bait tarikannya.

Aku tertawa setelah merasa deruan nafas tak beraturanku mulai berkurang – tertawa entah karena hal apa. Tapi seperti ada yang menggelitik perutku.

Takdir

Ya… satu kata itu yang membuatku terkikik ditengah lelahku.

Sangat lucu… ketika dia bisa membuatku mengenal seseorang lalu menjatuhkan diriku pada seseorang itu dan kemudian dia menariknya untuk menjauh – sangat jauh – yang tidak akan pernah bisa ku gapai lagi raga bahkan hatinya.

Seketika aku terdiam saat nafasku sudah benar-benar beraturan. Memejamkan sejenak mataku, menepis kata umpatan yang sangat ingin ke keluarkan.

Tapi itu hal yang mustahil.

Semakin memendamnya, maka semakin ingin ku keluarkan.

Aku memilih bangkit dari rumput hijau yang tidak begitu lembut itu, duduk sebentar dan mengusap wajah berkeringatku menggunakan tanganku. Menyesuaikan angin yang sedari tadi menghempas lembut wajahku.

Lalu kembali berdiri, berjalan dengan terpincang karena perenggangan otot kakiku yang dipaksa terus berlari. Berjalan ke pinggir lapangan dan meraih tasku yang setia menungguiku bermain tadi… atau lebih tepatnya mencari pelarian.

Aku memilih untuk meninggalkan lapangan dan berjalan – bukan untuk pulang pastinya. Masih terlalu siang untuk pulang sekarang, di rumah pasti akan lebih sepi – hal buruk untuk menenangkan pikiran dikala sepi.

Kakiku melangkah, masih sedikit gontai, sepertinya otot kakiku masih perlu sedikit istirahat dari kenormalannya. Hanya berjalan tanpa arah, entah kemana kaki ini menuntunku.

Melewati beberapa keramaian di malam minggu. Ya… sangat ramai di akhir pekan ini, atau mungkin memang selalu ramai.

Kepalaku hanya tertunduk, tak mengindahkan keramaian disekitarku. Untuk pertama kali dalam hidupku – keramaian bisa sesepi ini. Mungkin karena fikiranku yang begitu kusut.

Dan akhirnya, kakiku sampai disebuah stasiun… lebih tepatnya di kursi panjang di depan tulisan tinggi ‘peron 19’ di depanku. Aku mengedarkan pandanganku ketika sadar kalau aku disini – berdiri sendiri – seperti seorang idiot.

~ Apa yang kau lakukan disini, Byun Baekhyun?

Aku memilih untuk duduk tepat di tengah kursi panjang itu, memejamkan mata sebentar seraya menundukkan kepala.

Ya… ini adalah hal yang biasa kulakukan. Dan aku berharap hal ini akan menjadi kenyataan.

Kenyataan.

Bahwa kereta akan segera berhenti dan menampilkan sosok Ha Kyung yang telah kembali dari menengok Neneknya di Busan.

Hal biasa yang kulakukan.

Bahkan saat otakku tidak mengatakan, kakiku ini – karena terbiasa – malah melangkah kesini… ditempat dan diwaktu yang sama.

~ Oh… Byun Baekhyun… Kenapa kau ini? Apakah berimajinasi membuatmu menjadi lebih baik? Tidak… itu hanya akan memperburuk.

Hatiku berkecamuk kencang, derisan darah yang terpompa karena detakkan jantungku yang sangat kencang membuatnya memanas disekujur tubuhku.

Mataku panas.

Artinya air sialan ini akan kembali keluar.

~ Jangan Byun Baekhyun. Kau berjanji tidak akan menangis… berjanji kepada Ha Kyung untuk kuat.!

Dan aku membuka mataku, memilih bersandar dikursi itu dan menatap satu persatu kereta yang berhenti dan kembali pergi.

Lagi pula tidak mungkin ada keabadian bukan? Tapi… ku harap juga tidak terlalu cepat seperti sekarang.

Waktu seperti tidak berharga untukku… aku bahkan menghabiskan tiga setengah jam di sana – tanpa ada hasil dari kegiatan memandang – entah apa itu.

Aku melirik kearloji di tangan kiriku… 10.30 – itu sudah sangat malam… mungkin aku harus pulang dengan naik taksi sekarang.

Aku segera bangkit dari sana dan hendak berjalan meninggalkan bangku itu – yeah… sebelum aku menemukan sosok wanita yang duduk menghadapku dengan jarak dua bangku panjang dengan bertopang dagu dengan lututnya – menatapku bahkan tidak bergidik sedikitpun ketika aku mengetahuinya.

~ Dia tidak asing… tapi aku tidak bisa dengan jelas mengenali wajahnya. Hanya… merasa kalau dia pernah lebih dekat dari ini.

Aku bertanya-tanya dalam hati, apakah aku mengenalnya? Tapi aku tidak begitu mengingatnya. Aku memiliki memori yang buruk tentang mengenali wajah seseorang, kalian tau?

Jadi aku memutuskan hanya untuk beralih dari tempatku. Berjalan melewatinya, tapi matanya malah tetap mengikuti arahku berjalan.

~ Seperti penguntit.

Aku sedikit meliriknya, masih sama… matanya tetap mengikutiku. Dan tentu saja aku mengabaikannya.

.

Hari berlalu begitu saja, ini terhitung 18 hari kepergian Ha Kyung. Dan tentu masih Ha Kyung yang menjadi bayangan dalam diriku.

Menatap kursi kosong di barisan pertama selisih tiga sejajar meja dari pintu.

Sekolah adalah daftar pertama aku sering melihatnya – ahh… bukan, tapi kelas ini. Lebih buruknya.

Hari senin – kepala sekolah datang bersama seorang wanita berusia 30 tahunan kekelasku, memasuki ruang kelasku. Bisa kutebak, ini pasti guru wali kelas yang baru. Guru wali kelasku yang lama resmi mengundurkan diri karena alasan menikah. Tentu aku yang paling awal mengetahui bahwa dia mengundurkan diri – bahkan sama seperti sekarang, aku yang pertama tau jika guru ini penggantinya.

Dari mana aku bisa tau?

Katakanlah sebuah keberuntungan bahwa aku menjadi ketua kelas saat ini, jadi aku tau desas-desus di ruang guru.

Terutama jika Guru wali kelasku yang lama selalu menyuruhku membantunya – sedikit memaksa – untuk mengoreksi pekerjaan teman sekelas atau sekedar merapikan tumpukan kertas dengan tulisan yang sangat tidak ingin ku baca. Acak-acakan. dari kelas lain. Aku akan berdiri disana walau dalam diam – karena memang banyak orang yang bilang bahwa aku pendiam – tapi telingaku selalu mendengar gosip di antara para Guru.

Jangan salahkan telingaku. Dia hanya berada disana ketika mereka memulai bergosip tentang para murid bahkan tentang sesama guru. Untungnya aku ini bukan tipe seorang bermulut besar.

Kepala sekolah masih sibuk untuk memperkenalkan Guru baru ini yang ku ketahui bernama Ahn Jae Sii, saat ada lagi yang mengetuk pintu lalu masuk tanpa persilakan.

Ada seseorang dibelakangnya – mengenakan pakaian yang sama dengan ku. Seorang wanita dengan rambut sebahu yang tergerai begitu saja.

Murid baru?

Aku tak tau itu, tak ada yang ku dengar tentang murid baru belakangan ini.

Dan setelah percakapan panjang antara kepala sekolah dengan Guru Uhm – guru BP yang mengetuk pintu – selesai, aku melihat Guru baru itu terlihat sedikit tersentak. Terdengar dari nada bicaranya, “Apa yang kau lakukan disini?” ,kearah si murid baru itu.

Tidak jauh berbeda dengan reaksi si guru baru, si murid baru itu juga sedikit terkejut tapi tidak begitu ketara, dia memilih untuk menghindari saling tatap dengan orang yang dikenalnya, mungkin.

“Kalian sudah saling mengenal?” ,tanya kepala sekolah entah tertuju kepada siapa.

“Iya.”

“Tidak.”

Dikala bersamaan menjawab, tapi dengan jawaban yang berbeda.

Sekarang bukan hanya kepala sekolah tapi seisi kelas – termasuk diriku – sedikit merasa… entahlah… aneh mungkin. Atau bingung.

Si guru baru yang lantang mengucapkan ‘Iya’ itu menatap tajam si murid baru, yang hanya dibalas dengan memutar bola matanya malas. “Kami berasal dari kelas bahkan sekolah yang sama dulu.” ,jelas si guru baru, sebutlah namanya Guru Ahn.

“Benarkah?” ,kini Guru Uhm bertanya jelas di depan mata si murid baru yang bahkan tidak mengindahkan sedikitpun pertanyaannya. Dia menghela nafas kesal dan kembali tidak menatap apapun, terlihat menantang.

“Baiklah… silakan perkenalkan dirimu.” ,singkat kepala sekolah.

“Namaku Han Yu Raa.” ,suaranya terdengar lantang dan malas di saat yang bersamaan.

“Hanya itu?” ,kembali Guru Uhm bertanya. Tapi kali ini direspon olehnya.

“Bukankah sudah dijelaskan oleh beliau jika kami dari sekolah yang sama. Jadi tak perlu ku ulang.”

Guru Ahn memasang tatapan yang benar-benar mematikan kepada si murid baru – oh… Han Yu Raa. Dan hanya diabaikan olehnya.

“Baiklah… kalau begitu kau boleh mencari bangku di tempat yang kosong.”

Dia berjalan di lorong baris mejaku, dan memilih duduk di bangku baris ke tiga, selisih jarak satu kolom dua baris didepan mejaku.

Dan tunggu…

Wanita ini…

Matanya juga menatapku, sedikit terpaku. Mungkin sama – oh tidak… dia pasti sangat mengenalku.

~ Si penguntit di stasiun?

Aku mengingatnya, itu seminggu yang lalu aku bertatapan matanya.

Dia berlalu dengan wajah ceria mengakhiri tatapan pertemuan kedua kami, dan duduk di bangku sebelah teman sekelasku – Jung Kristal. Aku bisa melihat sudut bibir kirinya sedikit tertarik – dia tersenyum? – siapa yang menyangka si penguntit ini bisa sedekat ini denganku.

~ Masa bodo dengannya…

Dan jam awal pelajaran menjadi lebih membosankan ketika si guru baru – Guru Ahn menerangkan sedikit tentang sajak dan bla… bla… bla… setelah dia selesai dengan kegiatan mengabsen satu persatu isi kelas.

Dua jam berakhir – telingaku sudah panas – sastra adalah satu dari sejuta hal yang tidak pernah ku indahkan di otakku. Begitu membosankan. Tapi berbeda dengan Ha Kyung yang sangat menyukai sastra.

~ Song Ha Kyung… kau kembali menghantui otakku,

“Ketua kelas?”

Aku mengalihkan lamunanku kearah sumber suara.

“Ya?” ,aku berdiri sedikit terkejut pasti. Apa dia menyadari aku melamun?

“Bisa bantu saya?” ,tanyanya dengan bahasa begitu formal. Aku hanya mengangguk dan dia menginterupsiku untuk mengikutinya ke kantor guru – lagi…

Aku bangkit dari kursiku dan berhenti berjalan ketika Guru Ahn kembali membuka mulutnya. “Dan Kau – Han Yu Raa.” ,dia menatap meja si penguntit itu yang kini sedang di ajak mengobrol dengan Kristal dan dua temanku yang duduk di depan Kristal – Taeyeon dan Jin Ah.

“Kau… ikut denganku ke kantor sekarang.” ,ujarnya. Bahasanya tidak se-formal ketika menginterupsiku tadi. Lalu si penguntit itu berjalan dengan malas tepat dibelakangku.

Kini aku sedang berdiri di depan mesin foto copy di ruang BP – menjadi tukang foto copy lebih tepatnya. Aku sedikit mengendus kesal… Apa yang dilakukan guru baru ini? Dia menyuruhku mengopy puluhan lembar kertas pengenalan diri – yang bisa kutebak – pasti Guru baru ini menyuruh kami menulis ulang lembar-lembar ini.

Sedangkan dia bersama si murid penguntit baru duduk tepat dibelakangku, masih saling menatap tajam satu sama lain.

Sesekali aku melirik ke mereka, ada hawa roh jahat yang sepertinya menghantui satu sama lain. Bahkan si penguntit itu sangat berani membalas tatapan tajam Guru Ahn. Luar biasa.

Aku sedikit tertegun ketika ada suara ketokan yang keluar setelah keterdiaman menegangkan itu. “Apa kau sedang bermain denganku, Han Yu Raa?”

Itu suara Guru Ahn yang keluar seraya ketukannya, sangat sinis dan bahasa tidak formalnya… sangat mengerikan.

Tidak ada jawaban dari lawan bicaranya.

Dia tertawa dengan desisan murka, “Bagaimana bisa – disaat bersamaan – kau juga mengajukan pemindahan dirimu dari sekolah dan kembali bertemu denganku disini?”

“…” ,masih sunyi tak ada jawaban bahkan untuk kedua kalinya.

“Kau benar-benar ingin membuangku ke jurang ya.” ,gumam Guru Ahn yang tidak mungkin pelan atau bahkan tidak di dengar Han Yu Ra – si penguntit – dengan jelas. Bahkan aku yang berjarak 3 meter darinya sangat jelas mendengar.

“Maka harusnya anda bilang dengan jelas bahwa anda pindah ke Jo Eun School, bukan hanya menyebut sekolah internasional terbaik di Korea.” ,ujarnya yang tak kalah sarkastik.

~ Apa yang dia konsumsi untuk nutrisi tubuhnya? Bisa-bisanya dia bicara berani kepada Guru seperti itu?

Sungguh, aku tidak habis pikir. Bukan hanya sikapnya, tapi kata-kata yang keluar dari mulutnya juga tidak… beretika… mungkin.

Aku mendengar jelas desahan kesal Guru Ahn, “Baiklah.” ,dia sedikit tenang… atau mencoba tenang. “Han Yu Raa, dengarkan aku baik-baik. Aku berencana menjadi karyawan yang baik disini, jadi kumohon padamu untuk bersikap tenang dan tidak membuat masalah.”

Aku melirik sekali lagi.

Dan yang benar saja – si penguntit itu bahkan tidak menatap Guru Ahn. Matanya malah asik menatap, entah apa, diluar jendela dengan tangan yang terlipat di depan dadanya, bahkan dia menyandarkan punggungnya di senderan bangku yang di tempatinya.

Satu pikiranku tentangnya saat itu – pemberontak!

“Hanya kurang dari satu tahun… ahh tidak… 8 bulan kau harus bersikap tenang. Kau mengerti?” ,ada nada memohon di akhir katanya.

“Aku sedang masa traine selama tahun ajaran ini. Jadi ku mohon kau jangan menyusahkanku.” ,lanjutnya.

“Baiklah.” ,suara kayu yang bergeser dengan lantai terdengar. Dan hanya beberapa detik dia sudah berdiri di depan pintu yang tepat bersebelahan dengan mesin fotocopy. “Daripada aku harus mendengar ceramahanmu lagi.” ,gumamnya. Entah di dengar atau tidak oleh Guru Ahn. Dan kemudian dia berlalu meninggalkan ruangan – bahkan saat Guru Ahn belum menyuruhnya pergi.

Guru Ahn terlihat frustasi, “Ahh..! Bisa gila aku!” ,teriaknya. Tidak begitu besar tapi penuh penekanan, sangat menyiratkan emosinya.

Dan benar saja, setelah jam makan siang – si Guru baru itu – menyuruhku membagikan lembar pengenalan diri kepada seisi kelas. Jelas sekali, banyak keluhan yang keluar dari mulut mereka.

Bahkan aku juga enggan untuk mengisi ini, setidaknya ada 4 lembar kertas yang harus di tulis.

MENYEBALKAN!

“Sebenarnya apa sih yang diinginkan Guru wali kelas baru itu?! Menyuruh menulis ulang data diri! Apa susahnya hanya membaca dari tulisan kita yang lama.” ,Ujar Taeyeon yang berkali-kali berdecih kesal.

“Itulah resikonya saat kau punya wali kelas baru.” ,jawab Kristal. “Kadang aku sedikit menyesal sudah senang mendengar Guru Jo keluar.”

“Kau sih enak Yu Raa hanya mengisi ini sekali, karena kau baru pindah.” ,timpal Jin Ah yang melihat si penguntit itu diam dengan tangannya yang bertopang dagu.

“Percayalah. Ini surat pengenalan diri ke-4 yang harus ku tulis tahun ini.” ,jawabnya dengan nada yang sangat datar.

~ Tunggu? Ke empat? Untuk tahun ini?

“Ke empat?!’ ,teriak Kristal. “Kau berapa kali pindah sekolah?”

“Aku tidak pernah pindah sebelumnya.” ,jauh sekali sikapnya kepada teman sebayanya dari pada berhadapan dengan Guru Ahn tadi.

“Lalu…” ,Jin Ah menerawang. “…kenapa bisa kau menulis ini sebanyak itu?”

Mereka kelihatan bingung. Aku juga sama -,-‘’

“Guru Ahn selalu menyuruh menulis surat pengenalan diri setiap akhir bulan di sekolah lamaku.”

Bukan hanya mereka, aku juga sama terkejutnya. Setiap bulan? WTF?

Seperti mengerti pertanyaan ‘kenapa’ dari wajah teman baru penguntit-nya, Yu Raa melanjutkan. “Dia mengikuti salah satu penelitian tentang mengetahui tingkat ke-stress-an, ketertarikan, kesenjangan antara sosial dan pribadi melalui tulisan.”

~ Hal baru apa lagi itu?

“Maksudmu?” ,Kristal memiringkan kepalanya – terlihat jelas dia kebingungan.

“hhhmmm…” ,mungkin dia mencari kata yang mudah dimengerti oleh ke tiga teman penguntit barunya itu. “Jadi seperti menilai seseorang dari tulisannya atau yang lebih seperti itu.”

~ Astaga! Ini akan menyulitkan kedepannya. Aku pasti selalu menjadi tukang fotocopy si Guru baru.

“Memang bisa?” ,Taeyeon menerawang jauh. “Bagaimana caranya?”

“Entahlah. Aku juga bingung. Dia memang pernah mengikuti kuliah psikologi dulu walau tidak sampai mendapatkan gelar. Tapi aku tidak mengerti bagaimana cara kerjanya ‘tulisan tangan’ dengan karakter seseorang. Yang ku tahu… dia memang selalu berhasil mengetahui masalah di diri muridnya.” ,jelasnya dengan panjang.

“Ooo…” ,Taeyeon mengangguk bersama kedua temannya juga. “Bagaimana kau bisa tau dengan jelas?”

“Itu sudah menjadi hal wajib diketahui anak asuhnya ketika mengetahui dia yang menjadi wali kelas. Mengalir begitu saja.”

~ Kau penguntit yang suka bergosip. Lengkap sekali.

“Kalian mau tau julukannya disekolah lamaku?” ,mereka menjadi tertarik. Bahkan secara kompak menyodorkan badannya ke Yu Raa. “Master of  kejiwaan.” ,dia tertawa kecil. “Karena mereka bilang dia menyerap gangguan jiwa para muridnya dan memberikan tubuhnya menjadi wadah untuk kejiwaan yang terganggu itu. Maka dari itu dia sedikit ya… menggelikan sesaat dan banyak menjengkelkannya.”

Dan akhirnya tawa mereka pecah di kelas yang memang sedang gaduh.

~ What The Hell…?? Bagian mana dari itu yang lucu? Dasar penguntit.

–o0o–

Hari berlalu begitu saja, berjalan biasa dengan beberapa pelajaran yang well… membosankan. Dan lainnya berjalan normal.

Sekarang adalah hari kamis, di jam pelajaran olahraga. Ini satu-satunya pelajaran yang sangat menyenangkan bagi 99% manusia penghuni sekolah.

Kelas kembali menjadi ribut, karena Guru Park yang juga belum datang ke kelas. Beberapa siswa berkerumun – tentu saja bergosip – ada juga yang sibuk dengan bukunya.

Dan si sahabat bodoh-ku yang tepat duduk disebelah ku – Park Chanyeol – sedang mengganggu si penguntit baru.

Aku suka julukan penguntit yang kulebeli padanya.

Tertawa keras dengan lelucon anehnya, dan ke tiga teman baru penguntit itu juga ikut terbahak. Sementara si penguntit – jangan tanya… hanya tawa getirnya yang secara tidak langsung menyiratkan kata ‘Enyah Kau!’ yang mengiasi bibirnya.

Sampai ketika kelas menjadi hening seketika, ku pikir malaikat pencabut nyawa datang – atau Guru Park, mungkin.

Tapi jelas tebakanku salah.

Kai – si pembuat onar nomor satu di Jo Eun School – datang ke kelasku. Kini siapa yang bermasalah dengannya? Dan apa masalahnya?

Kai dan jangan lupa teman-temannya, menghampiri si culun dari kelasku – Do Hyuk. Sedikit menyeringaikan senyum evilnya.

Sekedar Informasi Do Hyuk duduk tepat di sebelah kanan Kristal.

Membuat Kristal menjadi mendekatkan diri kepada Yu Raa, ya… siapa yang mau cari masalah sama si hitam itu. Akan berakhir  dengan tidak menyenangkan.

“Ya… Lim Do Hyuk… Lama tidak berjumpa eoh?” ,pertanyaan mematikan sebelum pembantaian pun dimulai.

Bisa kalian tebak, Do Hyuk hanya menundukkan wajahnya dan sesekali membenarkan kaca mata di batang hidungnya. Hampir terjatuh karena dia menunduk begitu dalam. Sementara teman-teman Kai sibuk mengobrak abrik meja dan tas si Do Hyuk.

“Ku dengar dari temannya temanku… mereka bilang kau mengadu kepada Guru Uhm karena aku meminta kartu kreditmu. Benarkah itu?”

“…” ,sangat sunyi. Tapi seluruh mata menuju kearah mereka.

“Kenapa tidak menjawabnya eoh?” ,kini Kai menjadi lebih menakutkan. Tapi segila apapun Kai dia tidak mungkin melakukan kekerasan fisik. Sedikit kelebihannya.

“Jika kau tidak ingin memberikan kartu kreditmu tak apa. Kau hanya perlu bilang baik-baik kepadaku, aku akan memikirkannya.” ,dia kembali terdiam dan menarik dagu Do Hyuk. “Tapi sekarang kesalahpahaman terjadi. Ayahku dipanggil kesekolah. Dia sangat murka, kau tau?”

Do Hyuk tampak sangat gemetaran, bahkan untuk sekedar mengatakan ‘Maaf” saja sangat sulit.

“Bagaimana ini sekarang?” ,dia tertawa sinis – kepanjangan dari Kai adalah Kai-nibal. Dia bisa melahap siapa saja yang membuatnya kesal. “Do Hyuk~aa, kau harus meluruskan ini.”

“A-a-aku—”

BRAKK!!

Pukulan keras tangan Kai diatas meja Do Hyuk membuat seisi kelas terkejut – bahkan aku -,-‘’

“Bicaralah yang jelas seperti saat kau mengadu kepada Guru!” ,kini emosinya seperti benar-benar akan meledak.

“Kai!” ,suaraku lantang menyebut namanya. Membuat Kai dan kelompok karnivoranya itu menatapku. Menyeramkan! Aku rasa aku harus pensiun dini dari jabatanku. “Tolonglah kembali ke kelasmu, jangan buat kerusuhan disini.”

Kai tertawa lepas, diikuti 4 penyembahnya itu. “Maafkan aku ketua kelas. Aku hanya ingin meluruskan kesalah pahaman ini. Aku jamin tidak akan ada kekerasan—” ,dia sedikit memutar matanya, “…setidaknya tidak ada yang sampai masuk kerumah sakit.” ,dia kembali menatap Do Hyuk.

“Aku hanya ingin menjaga ketenangan kelasku. Jadi tolong kembalilah ke KELASMU!” ,penekanan terakhir dari kalimatku dengan penuh emosi itu mungkin akan memancing emosinya.

“Ya! Byun Baekhyun. Kau jangan terlalu ikut campur urusanku!” ,dengan penekanan yang tak kalah kerasnya.

Dan itu akhirnya membuat aku emosi, apa susahnya menunggu Do Hyuk di gerbang dan mengancamnya disana, bukan dikelas.

Oke well… terdengar seperti aku tak berperasaan. Tapi aku memang bukan tipe orang yang suka mencampuri urusan orang.

“Preman.” ,suara yang entah dari mana terdengar seperti gumaman tapi terdengar jelas bahkan untuk seisi kelas. Dan aku mendapatkan semua pasang mata di kelas mengarah ke si penguntit baru.

“Apa?” ,tanya Kai yang juga mendapatinya tepat disebelahnya duduk – hanya terhalang Kristal.

Kai memicingkan tatapannya ke Yu Raa, oh… aku lupa si penguntit baru. “Aku tidak pernah melihatmu sebelumnya… bukan?”

Seriously? si penguntit baru ini salah jika mencari masalah dengan makhluk seperti Kai.

Dan Yu Raa hanya mengedarkan pandangannya, tanpa bergidik ngeri dengan nada mengancam Kai itu. Sama sekali mengacuhkannya. Hebat! Tapi dia akan menyesalinya!

“Wah…” ,Kai menunjukkan wajah kagum yang dibuat-buat olehnya itu. “Kau sangat berani nona. Bolehkah aku berkenalan denganmu? Sepertinya aku menyukaimu.” ,Kai terkekeh mengejek bersama teman-temannya.

~ Kau penguntit yang sial.

Aku mulai mewaspadai pergerakan Kai, walau tidak memukul – biasanya Kai bisa berbuat diluar dugaan.

Dan…

Si penguntit baru itu bangkit dari kursinya, membuat bunyi gesekan keras antara kaki kursi kayunya dengan lantai. Yang lebih parahnya dia mengela nafasnya seperti orang kebosanan yang hampir mati.

Gila! Aku saja terbelalak, bayangkan bagaimana reaksi anak sekelas – terutama sahabat bodoh ku, Chanyeol, yang menganga menatap si penguntit baru dihadapannya.

Yu Raa berjalan begitu saja, menjauhi diri dari Kai.

“Nona anak baru. Bukankah tidak sopan mengabaikan uluran tangan persahabatan?”

Dia berbalik, tangannya dilipat di depan dadanya. Tepat di depan – di tengah kelas – dia kembali mengendus.

“Begitukah?” ,suaranya menampakkan sejuta kesombongan. “Kalau begitu maaf, aku harus segera ke toilet. Karena kelamaan menahan mual jadi aku tak sengaja menelan muntahku kembali.” ,ujarnya dengan tatapan – entahlah apa – tapi sangat menantang.

Seisi kelas menahan tawa. Terdengar beberapa suara seperti ‘Pppttff’ entah dari baris mana.

Kini dia berhasil membuat Kai marah seutuhnya, dia mulai tersenyum getir. Sekarang terlihat seperti serigala kelaparan dan selamat padamu si penguntit baru, kau akan menjadi makanannya.

“Oh… maafkan aku.” ,lanjut si penguntit seraya mengedarkan pandangannya. “Aku tidak bermaksud menghina, aku memiliki masalah ketergangguan sosial saat berhadapan dengan orang… baru, mungkin?” ,nadanya sangat mengejek.

Dan kembali seisi kelas terkekeh kecil, itu tidak berlebihan. Memang agak sedikit lucu. Karena pada akhirnya ada si penguntit baru yang menampar pipi si pembuat onar, Kai.

Yu Raa kembali berjalan menuju pintu keluar, sampai ketika dia berpapasan dengan salah satu teman se-geng Kai yang baru datang, Kris.

“Ya!” ,panggilnya saat Yu Raa melewatinya beberapa langkah. “Kau Han Yu Raa, kan?” ,tanyanya.

 ~ Si manusia kelebihan kalsium itu mengenalnya?

“Benar, kau Han Yu Raa.” ,katanya lagi. Yang sangat mengundang perhatian seisi kelas – termasuk Kai – yang memang sedari tadi melihat si penguntit itu.

Yu Raa sedikit bergidik dari tempatnya berdiri, dan melirik kebelakang bahunya. Tak begitu menampakkan kearah mana, bahkan sulit menebaknya.

Dan kembali tak mengindahkan orang yang mengenalnya itu, hanya melenggangkan kakinya kembali melanjutkan niatnya meninggalkan kelas.

Kris berdecih, seraya mengeluarkan umpatan atas sikap acuh dari orang yang dikenalnya itu.

~ Sekarang kau memiliki julukan yang makin panjang.

~ Si penguntit gila yang tidak tau sopan santun.

 

TBC

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] In Our Lovely Destiny (Chapter 2)

  1. omegat omegat omegaaaaaat….!!!!
    ini ff hari hari gue tungguin kaga nongol nongol, akhirnyaa nongol jugaaaa….😀
    kenapa siih ngga di update seminggu sekali aja authornim*maksa😌
    semangaat authorniiim~😊

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s