[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy (Chapter 8 – END)

333.jpg

Superplayboy

#8 [The{Real}End]

Dinopeach

Kim Jongin. Oh Sehun. Lilian Kang. Kim Hyein.

Romance

Teen

Chapter

Selamat menikmati, dan hargai karya penulis ya.

Fanfic ini juga pernah dipublish di sini bersama karya-karya saya yang lain.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Last Chapter

.

Pagi itu Jongin berdiri di depan pintu rumahnya, menunggu kedatangan adiknya yang semalaman hilang entah ke mana. Lelaki itu sesekali mengigit kukunya karena resah, ini sudah jam sepuluh pagi dan Hyein belum pulang. Demi jus mentimun, Jongin tak pernah sekhawatir ini.

Sebelumnya Hyein hilang setengah hari saja, ia sudah hampir mati gila, syukurlah saat itu Sehun berhasil menemukan adiknya. Dan sekarang, Hyein maupun Sehun tak dapat dihubungi sama sekali. Sudah tiga kali Jongin mengitari kota mencari adiknya.

Jongin bersumpah, jika sampai jam duabelas nanti adiknya belum juga kembali, ia akan memasang brosur kalau adiknya hilang, dan melaporkannya ke kantor polisi.

Baru saja Jongin hendak memasuki rumah karena jenuh, sebuah mobil hitam berhenti di depan rumahnya. Lelaki marga Kim itu sedikit menyipit saat mendapati seorang keluar dari kursi kemudi, Sehun.

Seketika, Jongin berjingkat kemudian berlari ke arah Sehun.

“Sehun-ah, aku butuh bantuanmu?”

Ucapan Jongin tercekat ketika mendapati gadis yang membuatnya mati hari ini keluar dari kursi belakang mobil yang sama. Hyein tersenyum menyambut Jongin yang langsung memeluknya heboh, atau berlebihan.

“Gadis gila! Ke mana saja kau!” Jongin mengucap pertanyaan retoris dan tak lupa umpatan kecil untuk adiknya.

“Habis jalan-jalan” setelahnya terkekeh, Hyein menunjuk Sehun yang berdiri menyandar pada pintu mobil dengan tangan dilipat di depan dada. Tanpa berfikir, Jongin lekas menghampiri Sehun, menarik kerah kemeja sahabat pucatnya, “Kau apakan adikku?”

Bukannya terkejut, Sehun malah menampilkan senyum gila, “Lihat, kau tidak pernah mempercayaiku Jongin-ah. Adikmu baik-baik saja kok.”

Jongin melepas cengkramannya pada leher Sehun setelah pikirnya membenarkan ucapan Sehun, lelaki hitam itu mendekat pada adiknya lalu menarik lengan gadis itu agak kasar. Hingga tubuh kecil Hyein sedikit menghantam Jongin.

“Masuklah, ibu mencarimu. Ada yang ingin aku selesaikan dengan albino ini,” Jongin mendorong tubuh Hyein ke arah rumah, meminta gadis itu untuk masuk dan membersihkan diri setelah semalaman entah ke mana. Namun gadis itu enggan menuruti kakaknya, ia malah berlari kecil mendekat pada Sehun.

Hyein memasang wajah garang pada kakaknya sambil mengapit lengan Sehun, “Aku tidak akan membiarkanmu berbuat aneh-aneh pada Sehun!” Jongin mengangkat sebelah alisnya tanda ia tak mengeti keadaan di depannya, Sehun sendiri hanya menatap ke arah Jongin dengan pandangan yang sama.

Sehun sungguh tak tahu harus bersikap apa di depan Jongin karena ia tak tahu apa reaksi Jongin saat lelaki itu tahu kalau Sehun menyukai adiknya. Yang Sehun tahu hanya, mungkin Jongin tak akan membiarkan Sehun mengencani adiknya.

“Mimpi apa kau?”Jongin berucap memastikan keadaan, Sehun sendiri tetap diam.

Bukan menjawab pertanyaan Jongin, yang Hyein anggap tidak penting, gadis itu justru menarik kerah Sehun dan mengambil kecupan kecil dari lelaki pucat itu kemudian berlari ke dalam rumah tanpa memperdulikan dua lelaki yang terdiam dengan mata membulat.

.

Lilian memandang layar ponselnya dengan perasaan gundah. Di sata tertampil ruang obrolannya dengan Jongin, hanya ada beberapa gelembung obrolan di sana. Lilian merupakan tipe gadis pemalu yang tak tahu berhubungan dengan lelaki. Jujur, Jongin adalah lelaki pertama yang mengenalnya sejauh ini. Jongin sendiri, bukannya ia lupa ngobrol dengan seorang gadis sebelumnya, lelaki itu hanya terlalu gengsi, Jongin tak pernah merasa seaneh ini saat berhubungan dengan gadis.

Lilian berkedip pelan tanda ia butuh waktu untuk tidur beristirahat, well, ini hampir tengah malam. Jongin berjanji menghubunginya setelah masalahnya dengan Hyein selesai. Jongin memberitahu pada Lilian tentang hilangnya Hyein sampai gadis itu ditemukan setelah semalam keluyuran dengan Sehun.

Baru saja tubuh Lilian hendak bangkit menuju ranjang setelah menunggu kurang lebih satu jam dengan duduk di meja rias sambil menyangga dagu menggunakan tangan, dentingan dari ponselnya membuat gadis itu menggagalkan rencananya untuk tidur. Berharap ada notifikasi dari Jongin.

Lilian tersenyum girang saat tau notifikasinya benar-benar berasal dari panggilan Jongin, dengan semangat gadis itu menekan tombol hijau dan meletakkan ponselnya di dekat telinga. Nihil, suara Jongin tak terdengar sama sekali, hanya suara berisik entah apa, Lilian tak tahu.

Sedetik kemudian, suara aneh dari jendela kamarnya mengusik telinga Lilian. Seperti seseorang yang sedang melempar sesuatu pada jendela. Gadis itu memberanikan diri menengok keluar, betapa terkejutnya gadis itu saat tau Jongin sedang tersenyum gila di sana.

.

“Benar kau jalan kaki?” Lilian menangkis ucapan Jongin yang sebelumnya mengaku ia berjalan selama perjalanan menuju rumah Lilian. Jongin hanya berdehem sambil memasukkan tangannya ke dalam saku celana. Jongin mengakui ia kedinginan, jaket birunya baru saja ia lepas guna melindungi tubuh kecil Lilian yang hanya berbalut piyama. Gadis itu terlalu bersemangat hingga melupakan penampilannya, lagj pula tidak ada waktu untuk berganti pakaian.

“Ku antar pulang, ya? Sudah larut malam,” alih-alih menjawab permintaan Jongin, Lilian menarik lengan lelaki itu untuk ikut duduk di salah satu kursi halte. Jongin hanya menuruti gadis itu dan duduk di sampingnya. Lelaki itu tak henti memandang Lilian yang sedang terpejam dengan kepala menengadah merasakan angin malam yang meniup pelan.

“Jangan melihatku seperti itu, kau membuatku malu” Lilian merunduk dengan kedua tangan menutup wajahnya yang merona. Gadis itu tahu benar Jongin menaruh perhatian padanya sedari tadi. Jongin terkekeh pelan lalu menarik sebelah tangan Lilian yang menutupi wajahnya sendiri.

“Kapan lagi aku bisa memandangimu seperti ini, kau sangat cantik,” terasa lebih panas, wajah Lilian merona sempurna dengan kalimat Jongin yang terlalu manis. Bahkan lampu jalan pun tak bisa menyembunyikan rona gadis itu.

“Lebih cantik lagi kalau sedang malu seperti ini.”

“Kim Jongin!”

Setelahnya keheningan selama hampir lima menit menyelimuti mereka. Tak ada yang berniat untuk mengucap, malu malu sepertinya. Lilian yang masih canggung dan Jongin yang berkutat dengan pikirannya.

“Lilian..” akhirnya Jongin membuka mulut. Lilian sendiri menoleh setelah merasa namanya terpanggil.

“Besok hari minggu, apa kau sibuk?” Lilian menggeleng kecil sebagai jawaban, seketika senyum manis terulas di bibir Jongin.

“Jam sepuluh di sini, aku akan menjemputmu, berpakaian yang bagus,” Jongin menggantung kalimatnya, membuat Lilian terheran luar biasa.

“Aku mengajakmu kencan, nona.”

.

“Mau ke mana sih?”pertanyaan Jongin memenuhi telinga Hyein, pagi itu kakaknya menelusup ke kamarnya sambil membawa sekantung keripik kentang dan dengan santai melahapnya perlahan di atas ranjang dengan mata yang tak henti mengawasi Hyein yang ke sana ke mari. Gadis itu membuka-tutup lemari pakaiannya, mengobrak abrik isinya mencari setelan yang pas.

“Ribet sekali.” Jongin sekali lagi membuka mulutnya yang penuh keripik kentang. Hyein menghentak setelah ke delapan-nya di atas ranjang tepat di depan dongin duduk bersila.

“Diam!” bentak gadis itu lalu beranjak masuk ke dalam kamar mandi guna mengganti pakaiannya untuk yang kesekian kalinya.

Butuh sepuluh menit untuk itu, dan Jongin hanya diam sambil menghabiskan keripiknya sampai Hyein keluar dengan setelan santai dan riasan tipis. Gadis itu duduk di depan meja rias, memperbaiki tatanan rambutnya.

“Kencan, ya?” Hyein dibuat memutar bola mata. Mana mungkin ia berkencan, hanya jalan-jalan dan memata-matai kegiatan Jongin hari ini, yang ia dengar akan kencang dengan Lilian. Dan Hyein harus memastikan hal itu mengingat taruhannya dengan Sehun. Gadis itu bisa babak belur jika Jongin dan Lilian benar-benar berkencan.

Jongin dan Hyein serentak menoleh ke arah jendela saat mendengan suara klakson mobil. Jongin bangkit dari ranjang lalu membuka tirai dan menatap ke bawah, lelaki itu seketika terperangah saat tau siapa yang baru saja membunyikan suara klakson di depan rumahnya.

“Kenapa Sehun ada di depan? Kenapa albino itu berpakaian sangat rapih? Apa dia-” Jongin tak selesai dengan kalimatnya, otaknya berfikir kalau kedatangan Sehun ada kaitannya dengan adiknya yang sedari bangun tidur mondar-mandir menguras isi lemari. Hyein hanya membulatkan mata melihat reaksi kakaknya. Gadis itu perlahan melangkah menuju pintu sambil menenteng flat shoes, berniat kabur sebelum Jongin mengutarakan isi otaknya.

“Kau berkencan dengan Sehun?!” sedetik setelah Jongin berucap, gadis itu bergegas menurunu tangga dan berlari keluar rumah. Tak kalah sigap, Jongin yang butuh penjelasan memilih untuk mengejar adiknya atau setidaknya meminta penjelasan dari Sehun.

Sesampainya di pintu depan, Hyein terhenti sebentar guna mamsang sepatunya. Di hadapannya sudah ada Sehun yang berdiri dengan tangan dilipat di dada. Hyein masih ada di tempat saat Sehun memapas jarak, terpaut beberapa langkah di antara mereka.

“Aku sampai berjamur karena menunggumu, kau tidak baca pesanku ya?” belum sempat Hyein menjawab, Sehun dengan cepat mengangkat gadis itu dan menggendongnya di bahu.

“Oh Sehun! Apa yang kau lakukan?!” Sehun tak menjawab, lelaki itu dengan santai berjalan menuju mobilnya, bertepatan dengan Jongin yang baru saja sampai di ambang pintu. Lelaki hitam itu sontak mengangkat alis mendapati pemandangan ganjal di hadapannya.

“Hei!!” tak menghiraukan sahutan keras Jongin, Sehun menurunkan Hyein di samping kursi kemudi.

“Kau apakan adikku?!” Sehun masih menutup mulut sambil masuk ke dalan mobil dan menyalakan mesin.

“Aku pinjam sebentar.” tanpa menghiraukan Jongin, Sehun bergegas menginjak gas dan melaju.

.

Lilian duduk dengan tenang di kursi halte tempat Jongin memintanya bertemu. Gadis itu tak hentinya memasang senyum mengingat hari ini adalah hari dimana Jongin mengajaknya berkencan, untuk yang tertama kalinya. Lilian nampak cantik dengan gaun bunga dan sepatu senada, rambutnya diurai dan dihias pita kecil di atas telinga, riasannya tipis natural.

Suara mesin mobil mengganggu khayalannya, gadis itu mendapati mobil hitam di depannya. Wajah girang Jongin muncul setelah lelaki itu menurunkan jendela mobilnya. Lilian tersenyun simpul pada Jongin yang beranjak keluar dari mobilnya dan membuka salah satu pintu mobil. Tangan lelaki itu terulur menarik Lilian dengan lembut, gadis itu hanya menuruti lalu memasuki mobil disusul Jongin setelahnya.

“Aku merasa sangat beruntung.” Jongin berucap pelan sebelum menginjak pedal gas dan menuju tempat tujuan.

.

Sudah sejam Hyein dan Sehun terduduk di dalam mobil memgamati Lilian dari seberang jalan, sebenarnya hanya Hyein yang mengamati, Sehun sendiri hanya bersantai sambil menyeruput bubble tea yang hyein belikan. Janji Hyein saat gadis itu memohon pada Sehun untuk ditemani.

Bangun pagi-pagi dan harus menjemput Hyein yang super lama, Sehun sebenarnya tak ingin mengikuti rencana gadis itu. Siapa yang mau menguntit kencan orang lain? Oh, ayolah, Sehun lebih suka tidur di rumah. Isi otak Sehun memang seperti itu, tapi tidak dengan nuraninya. Lelaki pucat itu saja heran kenapa akhir-akhir ini perhatiannya hanya tertuju pada Hyein, buktinya sekarang ia sedang mengamati Hyein yang memata-matai Lilian dari kejauhan. Sehun akui, gadis itu cukup lucu.

“Kenapa kita berangkat sangat pagi, padahal kencan Jongin jam 10?” Sehun akhirnya membuka mulut setelah isi gelas bubble tea-nya habis tak tersisa. Hyein masih diam, sibuk dengan kegiatannya, mengabaikan Sehun yang diam-diam memotretnya dengan ponsel, Sehun tak ingin mengabaikan momen lucu seperti ini. Sehun memasang senyum geli saat emmeriksa hasil jepretannya.

“Agar Jongin tidak mencurigai kegiatan kita,”

“Senyumanmu menakutkan, apa yang kau lihat?” Hyein yang merasa aneh dengan Sehun akhirnya berbalik menghadap Sehun sambil mencoba merebut ponsel lelaki pucat itu. Namun usaha Hyein gagal karena Sehun lebih cekatan untuk menyembunyikan ponselnya.

“Hanya pesan dari teman.” Sehun berucap gamplang, menyisakan Hyein yang menyimpan dongkol.

“Bohong,”

“Siapa yang bohong?”

“Sapi albino yang baru saja menghabiskan bubble tea-nya.”

Wah, gadis ini benar-benar-” Sehun tak selesai dengan kalimatnya saat ekor matanya mendapati kehadiran mobil hitan yang tampak tidak asing.

“Jongin!” Sehun berjingkat, Hyein pula. Keduanya tak henti mengikuti gerak-gerik Jongin dan Lilian, sampai mobil hitam Jongin berlalu membelah jalanan, Hyein menyenggol lengan Sehun.

“Ikuti mereka!!”

“Kau pikir aku suruhanmu!?”

“Cepatlah, Oh Sehun! Kita bisa kehilangan mereka!”

Dengan badan bergerak gelisah, Hyein menggoyang lengan Sehun dengan brutal. Gadis itu terus meracau memohon pada Sehun. Sehun tetap tidak bergerak dan malah memandang geli Hyein yang terlihat menggemaskan. Pikiran Sehun sempat melayang saat matanya berhenti di satu titik candunya.

Entah setan apa yang memasuki lelaki itu, sekarang Sehun perlahan mendekatkan tubuhnya pada Hyein. Hyein sendiri hanya terbelalak lalu menyeringai saat tahu maksud dari Sehun.

Sebelum Sehun menempelkan bibir mereka, Hyein lebih cepat mencium singkat pelipis Sehun.

“Sudah, ayo kejar mereka.” Hyein berucap ringan, mengabaikan Sehun yang gelabakan saat Hyein menyadari apa yang terjadi. Sungguh sebelumnya sehun tak berniat seperti itu. Sehun dengan cepat menghadap kemudi dan memutar kunci mobilnya, lelaki itu terlalu malu. Hyein hanya terkekeh pelan.

“A-ayo..”

.

Lilian dan Jongin duduk di salah satu kursi taman kota, hari sudah mulai sore, keduanya memilih untuk mengakhiri hari ini dengan membeli es krim dan menikmatinya sambil melihat langit sore. Lilian mengaku lelah setelah seharian menikmati taman hiburan berdua dengan Jongin, gadis itu tak pernah merasa sebahagia ini.

Ha.. Aku senang sekali!” Jongin merebahkan kepalanya pada bahu Lilian, gadis itu hanya melebarkan matanya, lalu tersenyum tipis sambil melanjutkan menghabiskan es krimnya yang tersisa dalam cone, milik Jongin sudah lama habis, sisanya Jongin hanya menatap Lilian menghabiskan es krimnya.

Jongin makin menenggelakan kepalanya pada curuk bahu Lilian. Sikap Jongin tersebut agak membuatnya geli. Namun gadis itu mencoba untuk menahannya demi menjaga posisi nyaman Jongin.

“Aku mencintaimu.”

Seketika Lilian membulatkan matanya. Telinganya salah dengar?

“Apa?” Lilian mencoba memastikan apa yang barusan Jongin katakan. Bukannya menjawab atau mengulang perkataannya, lelaki itu justru mengangkat kepalanya dari bahu Lilian dan menarik lengan gadis itu untuk mendekat. Sisa es krim yang digenggam Lilian seketika terjatuh ke tanah.

Nafas Lilian tercekat mengingat jarak pandangnya terhalang oleh mata elang Jongin, nafas lelaki itu lembut membelai wajahnya mengingat jarak antara mereka terlalu dekat.

Jongin tersenyum lalu mengusap pipi Lilian lembut kemudian mendekatkan wajahnya, menggapai apa yang hari ini mengganggunya.

Lilian dibuat terkejut luar biasa, ini memang bukan pertama kalinya jongin menciumnya, tapi rasanya tetap sama, manis dan lembut. Lilian selalu dibuat ketagihan. Tangan gadis itu yang terbengkalai di samping badan akhrinya terangkat menggapai leher Jongin dan menarik lelaki itu makin dekat dengannya. Jongin tersenyum samar menyadari hal itu.

Lilian melepas panggutannya secara sepihak guna meraup oksigen sebanyak mungkin, gadis itu membelai rahang Jongin.

“Aku juga mencintaimu.”

.

Sehun dan Hyein saling memandang satu sama lain saat keduanya mendapatti adegan Jongin dan Liilan yang sontak mebuat keduanya canggung. Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan Hyein yang memaikan ponselnya alih-alih memastikan jam.

“Su-sudah sore, kita akhiri saja hari ini, tolong a-antar aku pulang” Sehun hanya diam sambil menuruti perkataan Hyein. Lelaki itu menancapkan gas dan pergi meniggalkan kemesraan Jongin dan Lilian.

Namun yang Hyein anehkan sepanjang perjalanan, Sehun bukan mengantarnya pulang, melainkan memutar kemudi dan berakhir di pantai.

“Kenapa ke pantai?” Hyein membuka mulut mengucap pertanyaan, bukannya menjawab, Sehun justru melangkah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Hyein meyusulnya. Tapi Hyein tak kunjung beranjak, gadis yang rambutnya digulung ke atas itu masih bergeming di tempat. Oh Sehun mendesis lalu dengan tiba-tiba menggendong Hyein di bahunya. Gadis itu sempat meronta minta diturunkan sebelum Sehun mendudukkan gadis itu di atas kap depan mobil.

“Ya!” Hyein memukul lengan Sehun, lelaki itu sejak tadi memasang wajah datar tak terbaca.

Tiga menit keduanya diselimuti keheningan, saling bertatap mata saling bertukar pikiran. Hyein yang dibuat bingung dengan sikap Sehun, dan Sehun yang membola-balikkan otaknya demi mengucap sesuatu yang selama ini mengganjal pikirannya.

“Kita masih punya perjanjian,” alis Hyein tertaut mendengar pernyataan Sehun, lelaki itu menyandarkan sebelah tangannya pada kap mobil, tepatnya di samping tubuh Hyein. Membuat jarak di antara mereka sedikit terpapas.

“Jongin akhirnya mendapatkan Lilian,” Sehun melanjutkan kalimatnya, kali ini berhasil membuat bulu kuduk Hyein berdiri saat gadis itu teringat perihal taruhan dengan Sehun mengenai hubungan Jongin dan Lilian.

“Kalau begitu kau harus menuruti apa yang kuminta jika Jongin benar-benar mendapatkannya!”

Oho! Kau ingin taruhan? Baiklah, aku akan melakukan hal yang sama jika Jongin tak berhasil mendapatkannya”

Hyein kembali membalik otaknya mengingat perjanjian mereka. taruhan ini berhasil dimenangkan Sehun, Jongin berhasil mendapatkan Lilian. Berbeda dengan ekspetasi Hyein yang mengira Jongin tidak akan mendapatkan Lilian mengingat gadis itu gadis pemalu dan bukan tipe Jongin. Hyein merutuki apa yang ia ucapkan dahulu kala.

Hyein hanya bisa menunduk menyembunykan wajah gusarnya, Sehun sendiri justru menyeringai tanpa disadari oleh Hyein.

“Bagaimana?” Sehun berucap memecah hening, membuat Hyein menatap manik Sehun yang lebih rendah darinya mengingat gadis itu duduk di atas kap mobil dan membuat tubuhnya sedikit lebih tinggi dari pada Sehun.

“Apanya?”

“Kau siap melakukan apa yang kuminta?”

Seusai kalimat Sehun, Hyein kembali terdiam berfikir.

Akhirnya gadis itu berucap mantab sambil memjamkan matanya, “Baiklah.” Tak menyadari Sehun yang menyandarkan kedua tanganya di samping Hyein, mendekatkan wajahnya. Hyein baru menyadarinya saat merasakan deru nafas Sehun yang mendera wajahnya.

“Jadilah kekasihku,” Sehun berucap ringan seringan kapas di udara, Hyein membuka mata dan mendapati kemilau tajam tatapan Sehun padanya. Gadis itu mencerna kalimat Sehun barusan.

“Kau harus menjawab ‘Iya’ karena ini perjanjian.” kalimat Sehun benar-benar berhasil memjokkan mental Hyein, gadis itu terlalu bingung terhadap situasi ini, wajahnya memerah gelisah. HYEIN nampak menggigit bibirnya, Sehun mengangkat sebelah alisnya.

“Jongin..” Hyein mengguman pelan, keringat sebiji jagung menetes dari pelipisnya. Walau pelan, Sehun masih bisa mendengarnya dengan sangat jelas meningat jarak mereka hanya terpaut ruas jari.

“A-aku butuh.. Jo-Jongin.. cium..” Sehun perlahan mengerti apa yang dimaksud Hyein, gadis itu menginginkan Jongin untuk mengatasi gelisahnya.

“Kenapa harus Jongin? Aku di sini, Hyein-ah..” Sehun meraup wajah Hyein dengan kedua tanganya. Gadis itu terdiam dengan daad naik turun lalu menatap wajah Sehun.

Sehun mendekatkan wajahnya pada Hyein, sontak gadis itu memejamkan matanya merasakan usapan lembut bibir Sehun pada bibirnya. Gadis itu tetap diam saat Sehun melingkarkan tangannya di pinggang Hyein. Refleks Hyein menggantungkan tangannya di leher Sehun.

Sekian detik keduanya memanggut, akhirnya Sehun melepas ciumannya secara sepihak, Hyein nampak mengatur nafasnya. Sehun tersneyum singkat sebelum mengangkat pinggang Hyein. Sehun mendekatkan wajahnya pada Hyein, menyatukan kedua dahi mereka.

“Hari ini hari pertama kita.”

.

.

.

.

.

.

“Oh ya, Sehun.”

“Hm?”

“Bisa kau ceritakan bagaimana kau menemukanku saat aku mabuk?”

“M-maksudmu?”

“Jujur saja, kau pasti mulai jatuh cinta padaku saat aku menciummu waktu itu. Iya kan? Ah, sudah kukira, Kim Hyein selalu memikat.”

“Tapi tidak berlaku pada Kyungsoo”

“Ya!”

“Ngomong-ngomong kenapa kau bisa tahu?”

“Aku bertanya pada Jongin”

“Lelaki hitam itu, benar-benar-”

.

.

.

.

.

.

.

END

E.N.D

E N D

.

.

.

SUDAH END! GAK ADA LAGI TULISAN TBC! *sujud syukur* Saya bersyukur sekali cerita ini dapat diselesaikan, walau dalam waktu yang cukup lama.

Curcol; fanfic ini sudah aku tulis sejak hampir tiga tahun yang lalu, itu pun cuma sampai separuhnya, bahasa penulisannya aja dari awal sampe akhir keliatan beda :3 Separuhnya lagi baru terselesaikan sekarang, itu pun endingnya geje gini :v maafkeun yaaaaaaaaaaa~

Saya bingung mau bikin ending yang gimana lagi T^T dan terciptalah ending absurd yang tidak sesuai ekspetasi 😦 pokoknya mereka happy ending lah :v

Dan sekali lagi maafkan saya karena updatenya telat, tugas numpuk cyiiiiiin~ :3 Semoga besok-besok gak telat lagi ya :v

.

TERIMA KASIH BANYAK BUAT PARA READER YANG SETIA NGIKUTIN CERITA INI SAMPAI AKHIR!!! AKU SAYANG KALIAN *KECUP BASAH DINOSAURUS*~ :*

TETAP IKUTI CERITA SAYA YANG LAIN YAAA~~

.

.

.

.

.

 

Tinggalkan komentar yaa, sebagai apresiasi kalian serta penilaian tersendiri bagi penulis. Komen kalian sangat berharga loh, beneran ._.v

Kalo ada kesalahan entah typo(s) atau lainnya, mohon koreksinya semuaaa.

Sekian, terima kasih.

-Dinopeach-

 

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Superplayboy (Chapter 8 – END)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s