[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 7)

philosophyoflove

 

Philosophy of Love

by Tyar

Chapter | Romance | T

Cast: Oh Sehun – Bae Irene. Etc

Disclaimer
2016/2017 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Inspired by
Perahu Kertas
AADC2

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

 [1 – 6]

7

“Luka membuatku buta. Aku tidak tau apakah ini cinta atau hanya ilusi belaka.” –Sweet Nothings, Sefryana Khairil.

..

“Kamu membuat keraguan itu semakin tak berbatas.”

Sebaris kalimat itu tak pernah sekalipun enyah dari ingatan Sehun. Semua apa yang dikatakan Irene waktu itu, mulai menghantuinya setiap pagi. Bahkan setiap malam.

Suasana tim redaksi projek novel The Clan, jadi sedikit agak lambat karena sesuatu terjadi pada Sehun dan Irene. Sesuatu yang membuat sang penulis hilang kabar selama nyaris 2 bulan ini. Terakhir, 2 bulan lalu sebelum dia menghilang Baekhyun bilang Irene sudah mengirimkan naskah keduanya untuk diproses. Gadis itu tidak ingin diganggu, dan menyerahkan seluruhnya pada Baekhyun.

Laki-laki mana yang tidak frustrasi? Hanya kesalah pahaman sepele saja, bisa membuat Irene seperti telah mendapat tamparan terpedih dalam hidup. Irene benar-benar tidak bisa dicari.

Pernah, dengan nekat Sehun datang kerumah Irene. Namun hanya sampai beberapa meter dari pagar rumahnya, kaki Sehun tak sanggup lagi melangkah. Yang dilakukannya hanya mematung seharian, menunggu gadis itu keluar dari sana. Tetapi Irene benar-benar menghindar dari dunia ini. Keberadaannya seperti ditelan bumi.

Sehun bingung. Hatinya berdenyut setiap kali mengingat momen mereka beberapa bulan terakhir ini. Dia nyaris saja, satu langkah lagi dia hampir berhasil mencuri kembali seluruh bagian hati Irene. Meskipun dia harus menunggu, tapi sesuatu dalam dirinya –entah apa, membuatnya yakin bahwa Irene akan menerimanya kembali. Namun kemudian hal seperti ini terjadi. Membuat kepercayaan Irene lagi-lagi bobrok. Membuat keraguan gadis itu semakin membabi buta.

Akhir pekan ini, tak ada sesuatu yang terbesit di dalam pikiran Sehun untuk dilakukannya, selain pergi ke salah satu toko buku kecil yang menjual banyak buku-buku lama. Sebuah lagu berjudul Crosswalk milik Jo Kwon mengalun merdu ketika kakinya melangkah memasuki toko.

Itu bukanlah tempat yang rutin dia datangi. Sehun hanya tidak tau harus pergi kemana. Melihat-lihat buku jadul mungkin akan menarik.

Tangannya menelusuri salah satu rak dekat jendela toko yang lebar. Menilik judul-judul apa saja yang ada di sana. Sampai terdengar decitan pintu kaca toko terbuka, mata Sehun masih asik memandangi seisi rak.

“Oh? Penulis Irene? Kemana saja? Sudah lama sekali kamu tidak mampir kesini.” Sahutan semangat pria paruh baya pemilik toko itu, menyentak pendengaran Sehun. Pria itu segera menoleh, menemukan Irene berdiri di depan meja kasir sambil tersenyum membalas sapaan si pemilik toko.

“Sedang sibuk projek baru, ya? Novel serimu itu sangat menarik.”

Irene terkekeh pelan mendengar pujian itu.

“Irene?” tiba-tiba suara Sehun mengejutkan gadis itu. Irene dan si pemilik toko segera menoleh bersamaan ke arah pria itu yang sudah berdiri di dekatnya.

“S-Sehun?” gumam Irene terkejut. Tanpa berpikir panjang, dengan refleks kakinya berbalik dengan cepat. Berlari kecil menuju pintu keluar.

Namun seperti biasa, Sehun selalu berhasil menangkap lengan Irene. Dia kemudian menarik gadis itu dengan sedikit paksa, meminta gadis itu menghadapnya.

“Irene, dengarkan saya.” Sahut Sehun lantang. Tak ada seorang pun yang memperhatikan mereka di tempat itu selain laki-laki paruh baya sang pemilik toko.

Wanita itu tak memberi balasan, selain berusaha menepis genggaman itu dengan sekuat tenaga. Kemudian mendorong dada Sehun menjauh. Namun tepat ketika Irene hampir meraih pegangan pintu, Sehun menarik pundaknya. Meraih tubuh Irene dan memeluknya dari belakang. Membuat sekujur tubuhnya berhasil membeku.

Kali ini Breathe dari Lee Hi memenuhi penjuru toko itu. Mengalun pelan menemani waktu yang terasa melambat bagi Irene. Bahkan seperti berhenti bagi Sehun. Keduanya membisu beberapa saat. Sama-sama merasakan detakan jantung Sehun yang berirama cepat. Meluluhkan persendian tubuh Irene hingga tak sanggup bergerak.

“Saya mohon, hentikan. Jangan menghindar lagi.” Bisik Sehun tepat di telinganya, bersamaan dengan sehembus nafas hangat yang melewati pipinya.

Leave me alone, please.” Balas gadis itu tak kalah berbisik. Namun permintaannya tak diindahkan Sehun. Lelaki itu menggelengkan kepala. Seraya mengeratkan dekapannya, enggan membiarkan Irene melarikan diri lagi.

“Saya cuma minta kamu untuk tidak menghindar, Irene. Saya tidak mau kamu seperti ini terus.”

“Lepaskan saya.” Pinta Irene sekali lagi. Tatapannya kosong, tangannya mengepal. Dengan sekuat tenaga dia menepis lengan Sehun yang melingkari pundaknya. Kemudian mendorong pria itu lagi dengan kuat, “Saya tidak mau bertemu dengan kamu, Sehun!”

Seruan Irene yang lantang, cukup membuat Sehun terpaku di tempat. Menatap gadis di hadapannya dengan kecewa. Hatinya mencelos, memilu lagi. Mendapati ekspresi penolakan Irene yang begitu tajam. Seluruh dunianya seakan runtuh, membuat seisi kepalanya pening. Sehun menyerah.

“Saya belum siap.” Gumam Irene bergetar. Nafasnya tampak berat, jelas menahan amarah.

Maka tak ada yang bisa dilakukannya, selain melepaskan Irene. Membiarkan gadis itu pergi meninggalkannya, lagi.

xxx

Dua bulan bukan waktu yang sedikit untuk sekedar melarikan diri. Apalagi Irene bukan cuma melarikan diri dari Sehun. Tapi juga dari Cosmic. Menurutnya, terserah saja. Yang terpenting Baekhyun sang editor dapat dia percaya sejauh ini.

Gadis itu menghela nafas berat di balik selimut yang melilit sekujur tubuhnya dari atas kepala. Kedua kakinya dia tekuk, terduduk seperti orang depresi di depan jendela kamar. Memandangi langit yang selalu tampak sama di matanya.

Ya, dua bulan Irene terus seperti ini. Mengunci diri di dalam rumah. Bangun-makan-menulis-tidur-bangun-makan dan seterusnya. Pertemuan tak sengajanya dengan Sehun beberapa hari lalu, membuat Irene tak berniat sekalipun melangkahkan kakinya lagi keluar meninggalkan rumah. Dia benar-benar seperti orang sakit jiwa.

Irene mungkin sadar bahwa ini hanya kesalah pahaman belaka. Dia tau, Sehun mungkin memang sama sekali tak ada hubungan apa-apa dengan perempuan itu. Namun entah kenapa, kalimat mengenai bahwa pria itu mencintainya, jadi terdengar begitu asing baginya. Mengingat Sehun, membuatnya kembali mengingat betapa terpuruknya saat dia ditinggal lelaki itu.

Suara pintu kamarnya yang tidak dikunci, terdengar terbuka. Pemilik kamar itu diam, tak menoleh sedikitpun.

“Sampai kapan kamu mau begini, Irene?” kali ini terdengar gerutuan Seulgi, sahabatnya. Gadis itu mendekat, duduk di atas tempat tidur sambil terus memperhatikan Irene dengan sebal sekaligus kasihan.

“Kamu kaya orang depresi yang ketakutan karena habis bunuh orang, tau gak?” omelnya lagi.

“Aku kesal, Gi. Ingin marah. Tapi nggak bisa.” Gumam Irene lemas.

Seulgi melipat kedua tangannya di depan dada, “Kalau begitu, kamu temui Sehun. Marah di depannya, mengumpat sesukamu. Aku yakin dia nggak akan keberatan dengan itu.” Timpalnya sengau.

Irene diam beberapa detik. “Aku marah pada diriku sendiri.”

Sahabatnya itu ikut diam, memperhatikan Irene dan menunggunya berbicara lagi.

“Aku merasa sangat bodoh, gi. Aku nggak tau apa yang sebenarnya aku mau.”

“Tapi setidaknya kamu tau apa yang sebenarnya kamu rasakan.”

Kamar Irene lengang beberapa saat. Oranye senja yang hangat berpendar lewat jendela kamar, menerpa tubuh Irene yang terbalut selimut dan tak mau beranjak sesenti pun. Diamnya Irene, cukup membuat Seulgi mengerti bahwa kalimatnya barusan tidak salah sama sekali. Mata gadis itu tidak pernah berbohong selama ini.

“Terkadang, aku berharap kalau aku dan Sehun takkan pernah bertemu lagi. Terkadang juga, aku menyesal kenapa aku menerima tawaran projek bersama Cosmic lalu meminta llustrasi. Kenapa harus Sehun, gi? Kenapa dia harus balik lagi?” suara wanita itu menghalus, terdengar mulai bergetar. Membuat Seulgi lagi-lagi menghela nafas berat.

Dari balik punggungnya, Irene tampak menggelengkan kepala lalu menenggelamkannya di atas lutut. “Kenapa dia begitu terlambat, gi? Kenapa dia tak pernah mencariku selama 7 tahun ini? Kenapa dia tak bisa berhenti membuatku ragu?”

Agaknya, Irene benar-benar kacau dengan perasaannya sendiri. Semua rasa benci, ragu, juga cinta bersatu berebut tempat, memporak-porandakan seisi hatinya. Seulgi mendekat, menghampiri Irene. Kedua tangannya kemudian meraih pundak sahabatnya itu, meminta Irene untuk menghadapnya.

Untuk yang kesekian kalinya, Seulgi menghembuskan nafas. Ketika melihat mata Irene sudah memerah dan meloloskan air matanya.

“Lihat aku, rene.” Irene mengangkat pandangannya, membalas tatapan Seulgi. “Aku memang nggak bisa mengerti bagaimana perasaanmu sekarang. Tapi aku harus mengatakan ini. Diam tidak menyelesaikan apa-apa, rene. Kamu harus hadapi Sehun sekali lagi. Bicarakan semuanya dengan jelas. Mau sampai kapan ditunda? Mau sampai kapan membuat dia menunggu atas keraguan kamu yang tak kunjung hilang?”

Air mata Irene semakin mengalir turun, membasahi seluruh kelopoak matanya. Wanita itu menggigit bibirnya, menunduk lagi.

“Iya, ya iya. Tidak, ya tidak. Aku sudah katakan padamu, jujur sama diri sendiri. Biar aku beberkan, ya. Kamu itu masih mencintai Sehun. Kamu cuma takut, kamu terlalu mempertanyakan keraguan kamu sendiri, rene.” Kali ini tangannya turun dari pundak, mengenggam kedua tangan Irene. “Kamu nggak bisa menghindar terus.”

xxx

“Kamu kenapa, sih?” sebuah pertanyaan itu akhirnya keluar juga dari mulut ibunya ketika mereka tengah menikmati sarapan di meja makan. Ibunya bertanya dengan santai tepat setelah dia memberikan selembar undangan pernikahan pada anaknya. Irene mengangkat pandangannya dari undangan itu, menatap ibunya yang baru saja menyumpit sesuap menu sarapan ke dalam mulut. Sementara ayah dan kakaknya ikut menoleh, memberi Irene tatapan tanya.

“Semalam editormu itu datang kesini. Mengantar sendiri undangannya untuk kamu. Dia berharap banget kamu datang, loh. Kamu sudah terlalu lama menghindar, katanya.” Suara wanita paruh baya itu masih tenang menjelaskan.

“Menghindar?” kening ayahnya mengkerut bingung.

“Pantas saja kamu di rumah terus akhir-akhir ini.” Kakaknya ikut menyahut. Sementara Irene masih diam, mengalihkan pandangannya ke atas mangkuk nasi lalu mulai menyuapkan miliknya ke dalam mulut.

“2 bulan, loh, rene. Nggak biasanya kamu meninggalkan rekan kerjamu seperti ini.” Sahut ibunya lagi.

“Hmm. Galau, rene?” tebak kakaknya meledek.

“Yoona, jangan menggoda adik kamu. Dia pasti sedang ada masalah.” Bela ibunya ringan.

“Tidak baik, rene, membuat orang menunggu.” Sambung ayahnya kemudian. Irene menoleh, kalimat ayahnya itu mungkin memang bermaksud agar dia tidak membuat rekan kerjanya menunggu. Tapi teguran itu telak sangat cocok untuk situasinya saat ini.

“Iyaa, Irene tau. Sore ini Irene akan datang kok ke pernikahan Baekhyun.” Akhirnya gadis itu bersuara, menyerah.

“Kalau nggak ada undangan seperti itu, kamu pasti bakal terus mengurung diri sampai bulan depan, deh. Galaunya kamu kan nggak pernah tanggung-tanggung.” Yoona yang begitu mengenal adiknya itu, kembali mencibir santai. Membuat Irene hanya mendelik.

xxx

Pukul 7 malam. 1 jam telah berlalu sejak Irene selesai membenahi diri. Yang dilakukannya hanya duduk di hadapan cermin dengan gelisah. Penuh keraguan, ia terus menimbang-nimbang apakah dia harus pergi atau tidak. Jika iya, maka Sehun pasti ada di sana. Jika tidak, oh ayolah, ini adalah momen sekali seumur hidup bagi editornya. Bukankah dia memang seharusnya hadir?

“Irene, masih belum pergi juga?” Yoona menyahut di luar kamar, tanpa mengetuk. Irene tak membalaspun, kakaknya sudah tak bersuara lagi. Gadis itu akhirnya menghela nafas pasrah.

“Hadapi, Irene. Hadapi.” Gumamnya.

Setelah memastikan dari ujung rambut sampai kakinya masih tampak rapih, Irene melangkah keluar dan turun dari kamarnya. Mengucap pamit pada orang tuanya di ruang tengah kemudian segera melesat dengan sedan hitam miliknya.

xxx

Dengan balutan hitam-hitam dan style rambut yang agak klimis, Sehun tampak begitu menawan meski dia berdiri di antara rekan kerjanya tanpa konsentrasi. Tangannya memutar-mutar gelas dengan gelisah. Berusaha mendengarkan perbincangan apa saja yang berada di sekitarnya ini, walaupun dia hanya bisa memberi senyum dan merespon seadanya saja. Acara pernikahan Baekhyun sudah berjalan sejak pukul 4 sore lalu. Namun pikiran Sehun tak ada di sana sampai detik ini, benaknya melayang tanpa arah. Matanya terus saja melirik pintu masuk aula yang sudah terisi oleh banyak tamu. Hatinya tak berhenti berharap-harap cemas apakah gadis itu akan datang. Baekhyun sendiri yang memberi taunya bahwa Irene seharusnya datang. Sementara sang editor begitu yakin dan percaya, Sehun saat ini masih resah. Merasa bahwa gadis itu masih bersikeras menghindarinya.

Namun ketika pandangannya melirik pintu masuk itu lagi, jantung Sehun seakan berhenti bekerja. Harapannya tidak sia-sia, Irene ternyata benar-benar hadir ke pernikahan Baekhyun. Dengan gaun terusan hitam, dan rambut yang tergerai bebas di punggungnya, Irene tampak begitu sempurna di mata Sehun.

Irene melangkah mantap di red carpet tamu. Beberapa orang yang mengenalnya di dunia kepenulisan, menyapa Irene dengan ramah. Gadis itu membalas sembari tersenyum. Tak bisa dipungkiri, bukan hanya Sehun namun banyak orang di sana terpesona dengan kecantikan penulis yang satu itu.

Sehun menghela nafas dengan samar, enggan mengalihkan tatapannya dari sosok Irene yang kini sedang memberi selamat pada sepasang pengantin di pusat perhatian. Baekhyun tampak begitu lega dan senang bisa kembali bertemu dengan Irene. Keduanya sempat mengobrol beberapa kalimat singkat sampai gadis itu meninggalkan tempat pengantin.

“Jangan cuma dipandangin, coba ajak bicara.” Tiba-tiba suara Suho menyahut dari sampingnya. Sehun menoleh sebentar, lalu kembali menatap Irene seolah tak ingin membiarkannya lepas dari pandangan.

“Dia tidak mau bertemu dengan saya. Melihatnya datang saja sudah cukup membuat saya lega.”

Suho tertawa mendengar jawaban Sehun, “Jangan bohongi diri sendiri, Sehun. Pekerjaan kita bersamanya masih banyak. Kamu mau ikut-ikutan melarikan diri juga, heh?”

xxx

Setelah meraih salah satu gelas minuman dari meja saji, dengan tidak nafsu Irene melangkah menuju salah satu pintu balkon yang berjejer di samping ruangan, bersama Wendy. Dia menghembuskan nafas setelah sampai di balkon, kemudian menyeruput isi gelas dengan perlahan. Menikmati angin malam yang berhembus membelai rambutnya. Irene tau Sehun disana, dia menyadari keberadaan lelaki itu tepat di detik pertama dia melangkah melewati pintu masuk. Namun dia pura-pura bersikap bahwa ia tak melihatnya. Meskipun sampai detik ini, jantungnya berdetak tak tenang. Alih-alih segera pergi dari sana, dia malah bertemu dengan Wendy dan mulai berbincang sedikit mengenai bukunya.

“Kali ini jangan taruh warna marun di sampulnya ya, Wen.” Sahut Irene.

“Kenapa?”

Irene tersenyum sambil mengedikkan bahu, “Mau memberi kesan baru aja.”

Lawan bicaranya mengangguk mantap setelah menyesapi isi gelasnya, “Ekhm. Jadii, kapan kamu mau berkumpul bersama tim redaksi?”

Irene diam, tersenyum tipis dan menggeleng. “Saya usahakan secepatnya, saya merasa tidak enak jika terus meninggalkan kalian.”

“Kalau kamu masih tidak nyaman. Saya, Suho, dan Baekhyun, pasti bersedia kok menganggap Sehun tidak ada kalau sedang berkumpul.” Timpal Wendy bergurau, kemudian keduanya tertawa.

“Teganya,” tiba-tiba orang yang sedang dibicarakan, menyahut dari belakang. Membuat mereka terkejut. Wendy segera berbalik dan memberi cengiran pada Sehun sementara Irene masih diam di tempat, ragu untuk menoleh.

Sehun lalu segera memberi isyarat pada Wendy untuk meninggalkan mereka berdua. Gadis itu pun mengerti dengan menepuk pundak Irene pelan, “saya tinggal dulu.”

Suasana salah satu balkon itu pun senyap seketika. Tersisa suara-suara gaduh yang terdengar samar dari dalam ruangan. Angin segera menyambut wajah Sehun ketika dia tepat berdiri di samping Irene. Wanita itu menunduk sebentar, kemudian memberanikan diri untuk menoleh. Membalas tatapan Sehun yang tampak seperti hilang harapan.

“Maaf,” keduanya bersahutan bersama. Menyadari itu, mereka kembali membisu. Irene mengalihkan pandangannya, menatap ke arah lain.

“Maaf, karena sudah membuat kamu semakin ragu.” Sehun masih enggan melepaskan tatapannya dari Irene. “Tapi saya tidak akan berhenti meyakinkan kamu kembali, kalau saya men–”

“Maaf,” Irene kali ini membalas tatapan Sehun, memotong kalimatnya dengan cepat. Sehun sedikit terkejut ketika menemukan mata Irene yang mengkilap, ujung matanya mulai basah. “Maaf karena saya sudah bersikap terlalu kasar waktu itu.”

Dada Sehun seperti bersih dari segala beban, semakin ringan dan lapang. Ia tersenyum, harapan baru kembali tumbuh dalam hatinya.

“Tapi seperti yang pernah saya katakan sebelumnya, saya tetap akan memberi jawaban setelah projek ini selesai.”

Dan seketika harapan baru itu harus kembali tenggelam. Namun dia tetap tersenyum, merasa lega sudah cukup untuk saat ini. “Jadi, kamu akan datang lagi ke Cosmic, kan?”

“Tentu saja, saya sudah terlalu meninggalkan tanggung jawab pada editor Baekhyun.” Kali ini Irene mencoba tersenyum.

Tak sedetik pun, mata Sehun lepas dari gadis di hadapannya itu. Seperti senyum teduhnya yang sama sekali tak luntur untuk Irene. “Kamu pernah ke Yongma waterfall park?”

“Oh?” Irene kemudian menggeleng dengan ragu. Dia pernah mendengarnya, tapi tidak pernah benar-benar berpikir untuk mengunjungi tempat itu.

Sehun melirik jam tangan yang melingkar di pergelangannya, meski jarum jam hampir menunjukkan pukul 9 tepat namun dia tak mau peduli dengan itu. Dia pun menarik tangan Irene dan melangkah keluar gedung. “Kamu pasti akan suka.”

“Eh?” Irene menatap tangannya yang tiba-tiba ditarik Sehun. Tapi kemudian dia tersenyum tipis, terserah saja. Setelah mengambil jaketnya dari penitipan barang, Sehun dan Irene segera menaiki mobil dan melesat dari sana.

xxx

Butuh waktu 40 menit untuk Sehun membawa mobil Irene sampai di kawasan Jangnang, tempat ari terjun buatan Yongma berada. Selama perjalanan, tak banyak yang mereka bicarakan. Irene hanya mencoba duduk dengan santai di kursinya sambil terus memandangi keluar jendela, sesekali ia tersenyum merespon sahutan pendek Sehun yang tak terlalu penting. Suasana mobil selama 40 menit itu jadi agak canggung setelah 2 bulan mereka tak pernah bertemu.

Sehun dan Irene berjalan menyusuri jalan setapak menuju air terjun yang Sehun sebutkan. Masuk kesana tak memungut biaya sepeserpun, pengunjung bisa datang sesukanya seperti saat mereka berkunjung ke taman-taman kota.

“Saya pernah satu kali kesini, tempatnya cukup bagus untuk sekedar melepas penat.” Ujarnya. Irene hanya menganggukkan kepala.

Pria itu berharap bisa menunjukkan air terjun buatan tertinggi di Asia itu pada Irene malam ini, namun sayang sekali, ketika keduanya sampai di sana. Tak ada suara gemericik khas air terjun yang mereka tangkap. Tampak beberapa orang berlalu lalang di sana, tempat itu tidak terlalu ramai di malam hari.

“Air terjunnya pasti turun dari sana, kan?”

Sehun dan Irene kini sudah mendekati pagar pembatas kolam tempat air terjun itu jatuh. Sehun mengangguk mengiyakan perkataan Irene. Dia menoleh memperhatikan gadis di sampingnya yang sedang mengulum senyum memperhatikan tebing juga kolam sekitarnya. Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menyahut di dekat mereka.

“Air terjunnya cuma turun setiap jam 1 dan jam 3 sore.”

Mereka menoleh ke arah sumber suara, mendapati wanita paruh baya itu tersenyum ramah pada mereka. Kemudian setelah mereka saling membungkukkan badan, wanita itu pergi meninggalkan mereka, tampak menyusul beberapa keluarganya di kejauhan.

Sehun menatap kembali tebing di hadapannya dengan kecewa. Namun kemudian Irene terkekeh pelan.

“Tidak apa-apa, Sehun. Tempat ini indah. Seindah taman-taman yang pernah kamu tunjukkan ke saya. Yang paling penting, tempat ini tidak terlihat mengerikan karena pengunjungnya nggak cuma kita berdua.” Gadis itu tersenyum ke arahnya. Membuat Sehun lebih lega.

Irene kembali menatap sekitarnya dengan tenang. Namun kedua tangannya memeluk lengan karena kedinginan. Melihat itu, Sehun segera melepas jaket miliknya kemudian menyematkannya ke atas bahu Irene. Wanita itu menoleh, menatap pria di dekatnya canggung.

“Saya lupa, harusnya sejak tadi kamu yang pakai jaket.”

“Terima kasih.” Balas gadis itu.

“Hmm. Kamu tunggu di sini, ya.”

Sebelum Irene mengiyakan, Sehun sudah berjalan menjauh dari tempatnya berdiri. Melangkah cepat ke sesuatu tempat entah kemana. Sampai satu menit-dua menit Sehun masih tak kunjung kembali. Entah kenapa, pandangan Irene tak beralih. Terus menatap ke arah dimana Sehun berbelok dan menghilang ke sesuatu tempat. Irene tersenyum tipis, menggenggam jaket Sehun dan mengeratkannya agar semakin hangat.

“Bodohnya aku. Bahkan sampai ini terjadi pun, aku masih tidak tau harus memutuskan apa.” Gumamnya pelan.

Tiba-tiba saja, pendengarannya mendengar suara berisik di belakangnya. Itu suara gemericik air terjun yang mulai turun dari atas tebing. Irene pun segera berbalik kembali, menatap tumpahan air yang berakhir di kolam di hadapannya. Cahaya-cahaya lampu di sekitar kolam yang berpendar terang berhasil membantu pemandangan itu menjadi cukup indah. Irene tersenyum lebar, suara deburan airnya yang bising justru terdengar merdu di telinganya. Air terjun, Irene tidak ingat kapan terakhir kali dia melihat air terjun.

“Kamu suka?” suara Sehun tau-tau saja sudah terdengar kembali di sampingnya. Irene menoleh, membalas tatapan Sehun dengan berbinar. Gadis itu mengangguk mantap, senyumnya membuat Sehun bahagia.

Jadi, apa yang dilakukan Sehun beberapa menit lalu adalah meminta pihak Yongma untuk menurunkan air terjunnya. Tidak mudah, tapi usahanya membuahkan hasil. Demi Irene.

Sehun menghela nafas santai, “Kapan-kapan saya akan ajak kamu ke air terjun Cheonjiyeon, deh.”

“Bukannya itu di Jeju?”

“Memang.” Balas Sehun dengan senyum penuh arti. Irene tak menjawab apapun, selain terkekeh pelan dan kembali memandangi air terjun buatan yang ada di hadapannya.

Ketimbang memandangi Yongma waterfall, Sehun lebih suka memandangi Irene. Memperhatikan setiap sudut wajah gadis itu dari samping. Sekali lagi, jatuh cinta pada senyum itu.

“Dua bulan ini kamu membuat saya takut,” bisik Sehun namun masih mampu menyaingi suara air terjun yang menderu. Gadis itu membalas tatapan Sehun dengan serius. “saya pikir kamu tidak akan pernah percaya lagi.”

Irene tersenyum tipis, “apakah percaya saja cukup untuk kamu, Sehun?”

Sehun menggeleng, raut wajahnya menurun, seperti menahan putus asa. “Saya merindukan kamu.”

Jantung Irene berdebur kencang bagai ombak, melihat tatapan Sehun yang begitu dalam. Juga tajam hingga menusuk dirinya tanpa ampun.

“Saya bahagia melihat kamu malam ini. Tapi nyatanya saya masih takut kamu pergi lagi. Hanya membuka harapan, tapi tidak benar-benar menerima saya kembali.”

Irene menelan ludah, dirinya sendiri pun takut jika beberapa bulan ini dia sudah membuka harapan untuk Sehun, namun ternyata dia akan memutuskan untuk meninggalkan. Kesimpulannya adalah, seharusnya keputusan itu sudah ada sejak awal.

“Apakah saya memang tampak seperti sedang memberi kamu harapan?”

Sehun mengangguk pelan, “Kamu tampak seperti sedang mencintai saya.”

Irene menggigit bibir bawahnya resah, “Jangan,” kepalanya menatap pagar pembatas yang ia genggam, “jangan menyimpulkan terlalu cepat.” Bisiknya nyaris tak terdengar.

Pria itu tak membalas sepatah kata pun. Diam membisu memperhatikan Irene yang terlihat mulai tak nyaman. Sekali lagi, Sehun melakukan hal itu tanpa aba-aba. Tangannya tiba-tiba meraih kedua sisi wajah Irene, menariknya mendekat.

“S-Sehun,” Irene tampak sedikit panik, dia meraih lengan lelaki itu, hendak melepaskan diri. Namun Sehun segera meraup bibir Irene dengan lembut. Gadis itu sempat tersentak, namun matanya tertutup dengan otomatis. Kedua tangannya beralih, meremas baju hitam Sehun dan mencoba mendorong pria itu menjauh. Namun gerakan Sehun seperti sihir yang tak terelakkan. Alih-alih berusaha melepaskan diri, Irene justru terbawa dengan suasana. Membalas ciuman Sehun seirama dan saling bertukar nafas.

Kesadaran keduanya kini lenyap seketika. Sehun menurunkan kedua tangannya, meraih punggung kecil Irene sembari menarik pinggulnya merapat. Mendekapnya semakin erat seolah ia tak akan pernah melepaskannya sampai kapanpun. Seperti coklat yang meleleh dalam mulutnya, bibir Irene begitu manis, membuat gerakan Sehun semakin intens. Dan segera menjadi candu yang memabukkan.

Irene hampir saja melenguh kalau saja seluruh akal sehatnya tidak kembali normal. Sesuatu akhirnya berhasil membangunkan Irene, membuat gadis itu membuka mata dan segera melepaskan diri dengan sisa tenaganya yang tiba-tiba menipis.

Keduanya saling bertatapan. Nafas Irene yang memburu beradu halus dengan wajah Sehun. Gadis itu semakin lemas saja, ketika melihat eskpresi sayu Sehun yang tampak putus asa. Wajah pria itu kembali mendekat, ingin mengambil lagi candu yang merusak akal sehatnya. Namun tangan Irene meraih pipi Sehun, dengan perlahan tapi pasti mengalihkan wajah pria itu ke arah lain, cukup membuat Sehun tersadar.

“K-kita pulang sekarang.” Ucap Irene gugup, sembari menjauhkan diri dari dekapan Sehun. Tanpa menunggu balasan, dia pun segera melangkah meninggalkan Sehun yang tengah mengusap belakang lehernya dengan canggung.

xxx

Suasana mobil Irene semakin canggung saja, lebih dari sebelumnya. Selama perjalanan tak satupun diantara mereka membuka suara. Pandangan Irene pun tak sedikitpun beralih dari luar jendela. Enggan menatap Sehun yang duduk di balik setir.

Sudah yang kedua kalinya, Sehun mencuri ciuman Irene bahkan sebelum ia memberi keputusan. Sebelum mereka benar-benar saling memiliki. Tapi tak dapat dipungkiri bahwa sentuhan bibir Sehun mampu menciptakan kesan tersendiri baginya. Perasaannya bercampur aduk, tidak tau mana yang paling meyakinkan hati Irene. Yang pasti, dia ingin berusaha melupakan apa yang telah terjadi di Yongma tadi.

Setelah satu jam perjalanan, akhirnya Sehun menghentikan mobil Irene di pinggir jalan, sebelum memasuki kawasan rumah gadis itu. Sejak tadi, Sehun selalu berusaha membuka suara, ingin mengatakan sesuatu agar hubungan mereka tidak kembali secanggung sebelumnya. Namun tenggorokannya seperti terkunci, bibirnya tiba-tiba kelu dan akhirnya dia sama sekali tak mengatakan apapun.

Tepat ketika Irene telah berdiri di luar mobilnya, Sehun sudah berada di depannya. Berdiri dan mencoba tersenyum.

Thanks untuk hari ini.”

Irene menganggukkan kepala, sama-sama mencoba tersenyum dengan tipis. Setelah membalas lambaian tangan Sehun dia segera beralih menghampiri kursi kemudi.

“Irene,” namun pria itu memanggilnya kembali, membuat Irene sedikit tersentak. Dia pun berhenti melangkah, membalas Sehun dengan tatapan bertanya.

Pria itu tak menjawab, tangannya bergerak seolah-olah dia sedang menyematkan jaket di atas pundak, memberi Irene isyarat.

“O-oh.” Gadis itu baru menyadarinya, jaket Sehun masih menempel pada tubuhnya. Dia pun kembali mendekati Sehun dan memberikan jaket itu pada sang pemilik.

Irene berbalik lagi, berjalan menuju pintu mobil.

“Irene,” tetapi lelaki itu kembali memanggilnya, membuat Irene mengerjap dan menggigit bibir mulai gemas. Mau-tak mau dia pun menoleh, merespon sahutan Sehun. Pria itu tersenyum, mengangkat kunci mobil Irene di tangannya.

Gadis itu menghela nafas, kali ini keduanya sama-sama melangkah, saling menghampiri. Dengan senyum yang masih mengembang manis di wajah Sehun, dia memberikan kunci mobilnya pada sang pemilik.

“Irene,” dengan sedikit senyum jahil, Sehun lagi-lagi memanggil Irene yang sudah hampir sampai di pintu kemudi mobilnya. Untuk yang ketiga kalinya, gadis itu menoleh dengan sebal.

“Apalagi sih, huun?”

Lelaki itu tersenyum manahan tawa melihat Irene yang tampak kesal dibuatnya, “Goodnight.”

| to be continued |

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Philosophy of Love (Chapter 7)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s