[EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful (Chapter 3)

more-than-beautiful

 

MORE THAN BEAUTIFUL

.

.

By Author Rhee

.

.

Main Cast: Byun Baekhyun (EXO) & Oh Yuri (OC/YOU) || Add Cast : Xi Luhan (Ex.EXO), Lee Ji Hyun (T-ara) & many more ||Romance, Marriage-Life || Multichapter || PG-18

Summary : “Kau lebih cantik dari bunga di musim semi, lebih cantik dari pelangi setelah hujan dan lebih cantik dari langit di sore hari.”

Disclaimer : Semua Cast milik Tuhan. Ide cerita murni milik Author, jika terjadi kesamaan karakter atau ide itu murni ketidak sengajaan. Cerita ini adalah fiksi semata, tidak ada maksud untuk menjatuhkan satu karakter… SO… ENJOY READING.. ^^

.

.

=  Chapter 3 =

 

Nenek Bo Yoon sangat menikmati secangkir coklat panas yang menurutnya sungguh enak, selepas menyeruput untuk kedua kalinya Nenek Bo Yoon kembali tersenyum. “Ini sangat enak.” ,pujinya yang di layangkan kepada sosok wanita berumur 40an di hadapannya.

“Anda berlebihan Nyonya Kwon, ini hanya coklat panas biasa.” ,jawab sang wanita seraya terkekeh. Sepersekian detik berikutnya Nenek Bo Yoon merubah air mukanya menjadi murung, membuat Young Hee heran. “Apa… anda baik-baik saja?” ,tanya Young Hee dengan keraguan.

“Apa aku baik-baik saja?” ,Nenek Bo Yoon tersenyum kecut. “Melihat kau seperti ini, aku tidak begitu merasa baik, Young Hee-ya.”

Nenek Bo Yoon menghembuskan nafasnya, “Bagaimana bisa aku melupakan Min Yo?” ,gumamnya yang terdengar jelas oleh Young Hee.

“Apa anda katakan? Apakah saya terlihat begitu buruk? Kurasa itu karena umurku bertambah semakin tua.” ,gurauan Young Hee tidak mendapat respon dari Nenek Bo Yoon. Young Hee sungguh merasa canggung dengan situasi ini.

“Itu bukan salah anda, Nyonya.” ,ujar Young Hee setelah mereka terdiam beberapa saat. “Min Yo yang memutuskan untuk pergi.”

“Bukan itu.” ,sanggah Nenek Bo Yoon. “Min Yo selalu berada di samping Myung Jae, bahkan dia yang menangis paling keras ketika Myung Jae meninggal. Tapi aku… aku bahkan tidak tau dia dengan susah payah melawan penyakitnya.”

Young Hee sedikit terperanjat ketika mendengar penuturan Nenek Bo Yoon yang bisa tau dengan jelas tentang penyakit mendiang suaminya. “Hidupku yang seperti sekarang ini adalah usaha dari ayah Min Yo dan juga Min Yo, tapi aku bisa lupa tentang dirinya.”

Young Hee menatap sendu Nenek Bo Yoon, “Jangan menyalahkan diri anda, Nyonya. Aku percaya tentang takdir yang sudah menuliskan bagaimana kita lahir dan bagaimana kita pergi, jadi apapun yang sudah terjadi itu hanya rangkaian dari takdir itu.”

“Walaupun sulit kita harus tetap menerimanya, bukan?”

Nenek Bo Yoon hanya mengangguk kecil, menyetujui perkataan dari Young Hee. Dia kembali tersenyum, bukan karena merasa lega tapi hanya mencoba mengembalikan suasana. Dan seperti tebakan Nenek Bo Yoon, Young Hee yang memang bernotaben dengan keluguannya kembali ceria setelah melihat Nenek Bo Yoon tersenyum.

Nenek Bo Yoon kembali menyeruput coklat panas dihadapannya, “Young Hee-ya, apa kau ingat tentang janji antara Myung Jae dan Min Yo?” ,tanya Nenek Bo Yoon setelahnya.

“Janji?” ,Young Hee mencoba untuk mengingat tentang janji yang dibuat oleh suaminya.

“Janji tentang anak kalian.” ,Nenek Bo Yoon memberi sedikit bantuan kepada Young Hee untuk mengingatnya.

Young Hee menautkan kedua alisnya, otaknya kini sedang berusaha untuk kembali pada masa 11 tahun yang lalu dan kembali mencari tentang ‘janji’ yang tidak dapat ia ingat.

“Anak kami? Yuri dan Sehun?” ,tanya Young Hee mencoba meyakinkan.

Nenek Bo Yoon menggelengkan kepalanya, “Bukan. Ini tentang Yuri dan… Baekhyun – anak Myung Jae.”

Young Hee semakin bingung setelah mendengar nama ‘Yuri dan Baekhyun’ yang di ucapkan oleh Nenek Bo Yoon. Apa janji yang dibuat oleh suaminya dengan teman karibnya?

Mengerti dengan tatapan bingung dari Young Hee, Nenek Bo Yoon mulai membuka mulutnya. “Sebenarnya—”

—–

“Sebenarnya… ini adalah janji yang dulu suamiku dan ayah Min Yo pernah rencanakan—”

“Yaitu menjodohkan anak kami, tapi karena kami sama-sama memiliki anak laki jadi kami tidak pernah membahasnya lagi.”

“Tapi setelah Yuri lahir, Myung Hee dan Min Yo berencana untuk menjodohkan mereka dimasa depan.”

~

Young Hee hanya bisa menghela nafasnya dengan gusar setelah pertemuannya dengan Nenek Bo Yoon pagi ini. Sungguh ini bukan pertemuan yang biasa baginya, Nenek Bo Yoon yang tak pernah terdengar lagi kabarnya setelah 11 tahun lalu muncul di depan cafenya dengan segudang penyesalan dan yang paling terakhir adalah…

Perjodohan?

Dia menatap kedua anaknya – Yuri dan Sehun – yang untuk ke sejuta kalinya sedang bertengkar dan saling melempar ejekan. Itu adalah pemandangan biasa yang selalu terjadi kala kedua anaknya itu saling bertemu.

“Bagaimana bisa anak itu menikah? Bahkan dia lebih kekanakan dari adiknya.” ,gumam Young Hee dengan nada kecewa.

“Kalian hentikan!!” ,pekiknya masih dengan menatap kearah dua kumpulan bocah yang seharusnya bersikap lebih dewasa. Terutama Yuri.

Sehun dan Yuri melihat sang ibu dengan tatapan ngeri, “Ada apa dengan ibu?” ,tanya Sehun sedikit berbisik di telinga Yuri.

“Entahlah, mungkin sedang datang bulan.” ,jawab Yuri asal.

Young He berdecak, “Aku bisa mendengar kalian.” ,ucapannya berhasil membuat Sehun dan Yuri kembali terdiam. Young He berjalan menuju meja kasir – tempat Yuri dan Sehun sedang berdiri sekarang. Menatap Yuri yang kini berhadapan dengan dia, menatapnya intens.

~

“A-aku tidak yakin jika—”

“Aku tidak meminta jawaban darimu untuk saat ini, karena ini adalah hal yang di inginkan oleh Myung Jae dan Min Yo. Aku harap kau mengerti, Young Hee-ya.”

~

Sebenarnya Young Hee sedikit tidak setuju dengan perjodohan ini, tapi mendengar Nenek Bo Yoon yang memaksanya membuat ia tidak bisa menolaknya. Terutama lagi Young Hee sendiri juga ingat ketika suaminya membicarakan soal ini dulu, dan memang benar jika perjodohan itu pernah di rencanakan oleh suaminya dan sahabat suaminya itu.

Tapi jika melihat sifat dan kondisi Yuri saat ini, orang tua manapun tidak akan setuju dengan perjodohan ini. Apalagi pria yang akan di jodohkan dengan Yuri adalah pria yang menurut Young Hee adalah langit biru dengan matahati terang yang tidak terlalu menyengat kulit. Sedangkan anaknya hanya akan menjadi awan kelabu yang membuat langit menjadi gelap. Berlebihan, tapi ketahuilah sesuatu tentang Yuri, anak gadis itu sangat jauh berbeda dari anak gadis pada umumnya, bahkan Yuri tidak dapat di sebut sebagai seorang gadis – Itu pikirnya.

“Bu, kenapa menatapku seperti itu? Kau membuatku takut.” ,suara Yuri menginterupsi segala pikirannya.

Young Hee masih menatap Yuri, “Apa… kau mengingat Nenek Bo Yoon?” ,tanya Young Hee ragu.

Yuri tampak bingung, nama itu tidak pernah di dengar olehnya sebelumnya tapi Yuri merasa sedikit familiar dengan nama itu. Yuri menggelengkan kepalanya dengan lemah.

“Nenek Bo Yoon?” ,tanya Sehun bingung. “Kenapa ibu menanyakan tentang Nenek Bo Yoon?”

“Bagaimana dengan Paman Myung Jae?” ,tanya Young Hee kembali, mengabaikan pertanyaan Sehun

Yuri kembali menggelengkan kepalanya.

“Bibi Hye Rim, Dae Chul Oppa?” ,nafas Young Hee semakin menderu.

Yuri kembali menggelengkan kepalanya, tanpa memutar otaknya Yuri menjawab dengan cepat karena memang baginya nama-nama itu tidak pernah di dengarnya sebelumnya.

“Ibu, sebenarnya ada apa denganmu? Kau kan tau jika Noona tidak akan mengingat mereka.” ,ujar Sehun yang juga tak kalah bingungnya dengan Yuri.

“Baekhyun!” ,teriak Young Hee. “Kau pasti mengingat Baekhyun, bukan?”

Sehun yang jengah dengan sikap Ibunya yang mengabaikannya, meninggikan suaranya. “Ibu~!”

Yuri hanya terdiam dan akhirnya kini Young Hee menyerah dengan sejuta pikiran yang di otaknya, salah satunya adalah menjelaskan kepada Yuri tentang perjodohan yang telah Ayahnya rencanakan sejak ia lahir.

“Ada apa sebenarnya? Ibu membuatku bingung.” ,protes Sehun. “Lagi pula Ibu kan tau jika Noona masih belum ingat apapun sejak kecelakaan. Kenapa Ibu masih menanyakan hal itu padanya?”

Young Hee mendesah, “Benar. Maka dari itu aku bertanya padanya. Kupikir setidaknya dia mengingat sedikit tentang mereka.”

“Kenapa Noona harus mengingat mereka?” ,Sehun masih belum mengerti tentang situasi saat ini. Dia sangat bingung kala Ibunya bertanya tentang keluarga majikan Ayahnya.

Yuri masih diam, tidak menghiraukan percakapan antara adik menyebalkannya dan Ibunya, pikirannya kembali menerawang saat mendengar nama ‘Baekhyun’.

“OH!!” ,seruan Yuri membuat Sehun dan Ibunya terlonjak kaget. “Aku mengingat Baekhyun!” ,Yuri memukul kuat meja di hadapannya. “Byun Baekhyun!!”

Baik Sehun dan Young Hee sama-sama terkejut tak kala Yuri akhirnya mengingat sesuatu setelah kecelakaan 7 tahun lalu, ini adalah yang pertama kalinya.

“Kau mengingatnya?” ,tanya Young Hee bersemangat.

“Bagaimana Noona bisa mengingatnya?” ,timpal Sehun.

Yuri mengerucutkan bibirnya, “Aku tidak mengingat dia sebelumnya—” ,ucapannya terputus ketika Young Hee dan Sehun melepas gumaman kecewa. “Kenapa kalian seperti itu?”

Baik Sehun maupun Young Hee kembali tidak menanggapi Yuri, apa yang mereka harapkan pada Yuri adalah hal yang berlebihan. Bahkan setelah 7 tahun ingatan Yuri tidak pernah kembali.

“Aku bertemu dengannya di pameran kemarin, saat aku pergi dengan Luhan.” ,ujar Yuri kemudian.

Young Hee kembali memperhatikan Yuri. “Lalu bagaimana kau mengenal Baekhyun?” ,pertanyaan itu berhasil membuat Sehun menjadi tertarik kembali pada topik mengenai keluarga bermarga Byun itu. Benar, walaupun mereka bertemu bagaimana Yuri tau jika pria itu adalah Baekhyun dan Yuri dengan jelas tau namanya?

“Dia mengikutiku seperti mafia yang berniat menculik, setelahnya menyebutku menyebalkan dan bilang kalau Luhan adalah pilihan yang mengecewakan. Bahkan dia mendesis, sangat tidak sopan!”

“Kini aku yakin jika itu Baekhyun,” ,mata keduanya kini menatap Sehun yang begitu yakin. “Karena dia tau jika Noona sangat menjengkelkan.”

“Ya!” ,sentak Yuri kepada Sehun yang sedang tertawa puas karena mengejek Yuri.

Young Hee semakin mendekatkan wajahnya ke Yuri, “Bagaimana penampilannya?”

“Entahlah, dia buruk bagiku.” ,jawab Yuri santai.

Heol! Walau kau lupa ingatan tapi penilaianmu tentang Baekhyun hyung tidak berubah.” ,cetus Sehun.

Kini Yuri tidak menanggapi ucapan Sehun dan kembali pada aktivitasnya mengelap gelas di hadapannya, semantara Young Hee hanya bisa menatap miris anak gadisnya. Memang benar, Baekhyun dan Yuri saling mengenal sejak kecil tapi mereka tidaklah memiliki hubungan layaknya teman, mereka lebih terlihat seperti musuh. Bahkan saat Yuri kehilangan memorinya tentang Baekhyun tapi penilaian Yuri akan diri Baekhyun tidaklah berubah.

Lalu bagaimana jika dua orang yang bermusuhan dengan salah satu di antaranya tidak mengenal yang lainnya dan berakhir dengan hidup bersama?

Hal gila ini membuat Young Hee begitu frustasi.

–o0o–

Sudah tiga hari sejak pertemuan Baekhyun dan Yuri terjadi, tapi Baekhyun masih saja mencibir sikap Yuri yang berpura-pura tidak mengenalinya. Awalnya Baekhyun pikir Yuri akan memberikan reaksi berlebihan saat pertemuan mereka kemarin, seperti sebuah pelukan erat, mungkin?

Baekhyun bangun dari tidurnya dengan gerakan agak kasar, dia kembali menjadi orang bodoh yang berjalan mondar-mandir dengan tangan yang memegangi dagunya. Ya… Hal tak biasa ini terjadi setelah pertemuan itu.

“Bagaimana bisa ia tidak mengenaliku?” ,gumam Baekhyun pada dirinya sendiri. “Apa dia menipuku?”

Baekhyun kembali memutar otaknya pada saat pertemuannya, “Tapi dia tidak terlihat berbohong.”

“Ah, Tidak… Tidak… Gadis itu pasti menipuku.”

Baekhyun kembali duduk setelah berperang terhadap pikiran otaknya, “Haruskah aku menghubunginya?” ,Baekhyun meraih ponselnya yang berada di atas meja nakas sebelah ranjangnya. Dia menggeser layar ponselnya dengan cepat, sampai kegiatannya tiba-tiba berhenti karena satu hal.

“Aku tidak punya nomornya.” ,ujarnya dengan polos. Baekhyun kemudian menarik rambutnya frustasi. “Kenapa aku tidak meminta nomor telponnya?!” ,maki Baekhyun untuk dirinya sendiri.

Seketika otak Baekhyun kembali mengingat sosok pria yang mengaku sebagai pacar Yuri, “Benar! Ini karena pria itu!” ,Baekhyun berdecih. “Karena dia, aku lupa untuk meminta nomor telpon Yuri.”

“Lagipula… Yuri itu masih kecil, kenapa dia harus berpacaran? Dia harusnya bersekolah dengan baik.” ,Baekhyun menunjuk-nunjukkan jarinya sembarangan.

Setelah diam beberapa saat Baekhyun kembali bangkit, “Aku harus mencarinya.” ,ia segera meraih kunci mobilnya seraya melangkah menuju pintu kamarnya.

Tiba-tiba knop pintunya berputar dan menampilkan sosok wanita dengan balutan dress selutut bermotif bunga yang sangat pas di tubuhnya. Siapa sangka wanita lemah lembut dengan wajah cantik itu adalah istri dari kakaknya yang begitu egois dengan tingkat emosi yang labil?

Mungkin jika di suruh memilih, Sung Eun Noona tidak akan mau memilih Dae Chul – kakaknya. Ini adalah sebuah rekayasa dunia bisnis, dimana pernikahan bisa menjadi sebuah kekuatan. Alasan klasik.

Sung Eun Noona tersenyum seraya menapaki kakinya memasuki kamar Baekhyun, “Kau mau pergi?” ,tanyanya setelah mendapati Baekhyun yang sudah menggenggam kunci mobilnya.

Baekhyun mengangguk, “Iya.”

“Pergi kemana?” ,tanyanya sedikit menyelidik.

“Aku ada janji dengan Chanyeol, ada beberapa urusan mengenai pameran.” ,bohong Baekhyun.

Sung Eun Noona menganggukkan kepalnya seraya mengucapkan ‘oh’, bagi Baekhyun itu menggemaskan. Sung Eun Noona hanya berumur setahun lebih tua darinya, tapi bagi Baekhyun ia lebih terlihat seperti gadis berumur 19 tahun yang baru lulus sekolah. Terutama jika sikapnya menunjukkan wajah polos yang lucu.

“Nenek mengajak kita makan malam bersama.” ,ujar Sung Eun Noona. Baekhyun membulatkan matanya seraya menatap Sung Eun Noona tidak percaya.

“Kuharap kau bisa datang. Tidak baik terus menerus seperti ini, Baekhyun-ah.” ,bujuknya.

Lihat? Betapa polos Sung Eun Noona. Bahkan ia tidak bisa membaca ekspresi terkejut Baekhyun saat ini yang sebenarnya hatinya itu berjingkrak girang karena pada akhirnya Neneknya memaafkannya. Tidak perlu membujuk Baekhyun untuk hadir karena bagi Baekhyun ajakan makan malam adalah pertanda untuk membuat hubungan Baekhyun dan Neneknya kembali membaik. Walau Baekhyun akan tetap pada pendiriannya untuk tetap mempertahankan Ji Hyun tapi setidaknya ia tidak perlu untuk pergi ke Jepang.

Kali ini Baekhyun bertekad untuk memperbaiki segalanya, memperbaiki sikapnya dan memperbaiki penilaian Neneknya pada Ji Hyun. Ini merupakan kesempatan emas baginya. Baekhyun tersenyum lebar, “Jangan khawatir, Noona. Aku akan datang tepat waktu.” ,ucapnya dengan semangat.

Sung Eun tersenyum, ternyata pikiran tentang Baekhyun yang akan menolak untuk hadir di acara makan malam ini merupakan sebuah kesalahan. Baekhyun terlihat bersemangat dan Sung Eun sendiri yakin jika sebenarnya Baekhyun juga tidak jauh berbeda dengan Dae Chul yang berharap bahwa hubungan mereka kembali membaik.

“Kalau begitu aku akan bersiap sekarang.” ,ujar Baekhyun kemudian.

“Bukankah kau ingin menemui Chanyeol? Kau bilang ada urusan dengan pameran?”

Baekhyun mengibas-ngibaskan tangannya, “Itu tidak penting sekarang, Noona. Makan malam dengan Nenek yang terpenting sekarang.” ,Baekhyun menyengir setelah menyelesaikan perkataannya.

Sung Eun tersenyum mengejek sembari berdecih, “Bahkan ini masih pukul 3 sore, makan malamnya dimulai pukul 7, kau tau?” ,teriak Sung Eun pada Baekhyun yang sudah melesat ke dalam kamar mandi.

—-

Baekhyun menapaki kakinya dengan terburu-buru memasuki restoran yang memang sudah menjadi langganan mereka ketika mengadakan makan malam keluarga. Dia berkali-kali mengumpat dengan kata-kata kasar dalam hatinya, jika bukan karena sahabat bodohnya yang menelponnya karena urusan pameran mungkin Baekhyun sudah berada di sini sejak satu jam yang lalu. Mungkin itu yang namanya ‘kualat’? Ia sempat membohongi Sung Eun Noona dengan mengatakan bahwa ia ada urusan dengan Chanyeol, yang ternyata tidak. Kenyataannya adalah ia hanya ingin mencari informasi tentang Yuri.

Ia tersenyum hanya ketika otaknya menyebut nama Yuri, rasanya ia kembali menjadi bocah berumur 14 tahun yang siap bertengkar kembali dengan Yuri. Sungguh, saat itu lebih mudah di banding sekarang.

Ia kembali melangkahkan kakinya ketika lift sampai pada lantai tiga, lebih tepatnya ruang VIP. Kakinya terhenti seketika, apa ia salah lihat? pikirnya. Baekhyun kembali memundurkan langkahnya untuk memastikan bahwa pandangannya adalah kesalahan. Ia melihat seorang wanita dengan gaun berwarna pink baby memunggunginya. Dengan ragu ia memajukan langkahnya menuju wanita itu.

“Aku yang memakai gaun saja tidak selama itu di dalam toilet!! Cepat keluar!!” ,maki sang wanita di depan pintu toilet pria. Beberapa orang yang keluar dari toilet itu hanya memandang aneh kepada sang wanita.

Baekhyun semakin terkejut bukan main kala mendengar suara itu, ia mendengar suara itu tiga hari yang lalu, saat di pameran, suara yang berasal dari orang yang dipikirkannya beberapa waktu lalu. Kalian bisa menebak siapa, bukan?

“OH SEHUN!” ,teriak Yuri. Demi Tuhan, Baekhyun hampir kehilangan jantungnya mendengar teriakan gadis itu.

Baekhyun memutar tubuh Yuri dengan gerakan sedikit kasar, membuat Yuri terkejut. “Kaget aku!!” ,serunya sembari memegangi dadanya.

“Kenapa kau berteriak seperti orang kampung? Kau tidak sadar ini restoran mahal?”

Yuri tertawa kesal mendengar ejekan Baekhyun, siapa dia yang baru saja bertemu dan mengejeknya. Ini kedua kalinya dan bahkan mereka belum resmi berkenalan, tapi pria itu sudah berani mengejeknya seperti itu. “Ahjussi, kau itu siapa? Tidak sopan sekali mengejekku seenaknya.”

“Ahjussi?” ,tanyanya dengan nada kesal. “Ya. Oh Yuri—“

“Oh. Baekhyun hyung?” ,pandangan Baekhyun beralih kearah suara yang memotong perkataannya. Sehun tersenyum dan berlari kecil menghampiri Baekhyun. “Apa kabarmu?”

Baekhyun memandang Yuri dan Sehun bergantian, “Baik…” ,jawabnya ragu. Sungguh kali ini Baekhyun seperti baru menyadari, bagaimana setelah bertahun-tahun mereka dapat secara kebetulan bertemu di sini?

“Kalian… makan malam disini juga?” ,tanyanya yang lebih mengarah kepada Sehun.

“Tentu saja, kami sedang menunggumu.” ,jawab Sehun dengan wajah cukup riang.

“Menungguku?” ,yakinnya. Dan Sehun menganggukkan kepalanya. Baekhyun menatap keduanya dengan pandangan bingung, seingatnya Sung Eun Noona tidak menyinggung tentang kehadiran mereka.

Sedangkan Yuri, juga hanya menatap bingung kearah keduanya. Bagaimana adiknya bisa kenal akrab dengan paman menyebalkan di hadapannya ini? Dan sungguh dirinya juga baru menyadari bahwa orang yang sedari tadi mereka tunggu adalah pria di hadapannya ini?

—–

Dua keluarga itu berbincang di sela makan malam mereka, mengingat beberapa hal yang terjadi di masa lalu saat mereka masih bersama. Kecuali Baekhyun yang masih menatap tajam Yuri, sedangkan yang di tatap hanya diam di bangkunya. Sungguh Yuri seperti sedang di dongengi, rasanya ia sangat mengantuk mendengar percakapan Ibu dan adiknya serta orang-orang yang Ibunya bilang adalah keluarga jauh. Ayolah… Yuri tidak mengerti dengan apa yang mereka bicarakan. Bahkan ini kali pertama Yuri bertemu dengan mereka.

“Apa kau merasa tidak enak badan?” ,tanya Dae Chul yang menyadari keterdiaman Yuri.

Yuri hanya menggelengkan kepala, sungguh Dae Chul juga sedikit merasa aneh dengan sikap Yuri. Mungkin Yuri yang sekarang berbeda dengan Yuri sewaktu kecil yang riang, ceria dan cerewet.

“Lalu kenapa kau diam saja sedari tadi?” ,tanyanya lebih lanjut.

Yuri memandang Ibunya yang berada tepat di sebelah kanannya, “Aku… harus bicara apa?” ,tanyanya dengan ragu.

Baekhyun tertawa meremehkan kearah Yuri, yang berhasil mendapat tatapan tajam dari Yuri. “Kenapa kau tertawa?!” ,tanyanya sinis.

“Apa aku dilarang tertawa disini?” ,jawabnya tak kalah sinis.

“Memang tidak ada larangan, tapi nada tawamu menjengkelkan.”

“Lalu apa masalahmu? Jika tidak suka maka jangan dengarkan.”

Sehun menyenggol lengan Yuri dengan sikunya, bermaksud agar Yuri menghentikan adu mulut itu. Jika bukan karena janjinya pada Ibunya untuk menjaga sikap, mungkin Yuri akan terus menerus beradu mulut dengan pria menyebalkan di depannya itu. Sungguh.. pria itu begitu menyebalkan dan Yuri sangat tidak menyukainya.

“Kalian tidak pernah berubah sejak dulu.” ,ujar Nenek Bo Yoon yang di akhiri dengan tawanya.

“Sepertinya begitu.” ,jawab Young Hee dengan kekehan.

Baekhyun memandang Nenek Bo Yoon yang tertawa lepas, sudah lama ia tidak melihat tawa dari orang yang di cintainya itu. Rasanya sangat senang melihatnya kembali tertawa seperti ini, rasa tersiksanya sedikit demi sedikit menjadi lepas setelah mendengar tawa dari sang nenek.

“Seandainya Myung Jae dan Min Yo berada disini, mungkin mereka yang akan merasa paling bahagia.” ,ujar Nenek Bo Yoon setelahnya. Semua terdiam, termasuk Baekhyun. Suasana menjadi canggung seketika.

“Kita tidak seharusnya menyebut mereka disaat seperti ini, Nek.” ,ujar Sung Eun memecah kecanggungan.

Nenek Bo Yoon hanya menghela nafasnya, lalu menggeleng. “Tidak.” ,jawabnya singkat. “Aku harus mengingat mereka, makanya aku menyebut mereka.”

Baekhyun menatap wajah Neneknya yang berubah menjadi sendu, “Aku mengadakan makan malam bersama ini karena mereka.” ,lanjutnya.

Young Hee tercekat di tempatnya, sepertinya Nyonya Kwon serius dengan ucapannya tentang perjodohan dan jika ini benar maka makan malam ini bertujuan untuk membahas tentang perjodohan itu. Dia melirik kearah Yuri yang masih tidak berminat dengan perbincangan mereka. Apa ia harus mengatakan yang sejujurnya tentang keadaan Yuri? Tapi rasanya ia tidak akan tega, karena Nenek Bo Yoon terlalu menyalahkan dirinya ketika mengetahui tentang Min Yo, apalagi jika ia mengetahui tentang Yuri? Itu adalah alasan mengapa hingga sekarang Young Hee tidak mengatakan kepada mereka keadaan Yuri yang tidak mengingat mereka.

Dae Chul bingung ketika mendengar pernyataan terakhir Neneknya, “Apa maksud nenek?”

“Yuri sudah cukup dewasa.” ,Yuri menatap Nenek Bo Yoon yang tersenyum. “Maka kurasa memang ini sudah waktunya.”

Yuri mengerutkan keningnya, “Waktu apa?”

“Kurasa kalian tidak tau hal ini karena ini memang adalah perjanjian antara kakek kalian dan kakek Yuri dan Sehun. Tapi… karena kami sama-sama memiliki anak laki-laki jadi kami membatalkan perjanjian itu.” ,seketika badan Dae Chul menegang. Ia tau arah dari pembicaraan ini, rasa-rasanya ia seperti mengalami de ja vu. Ini pernah terjadi padanya 3 tahun yang lalu, saat… ia dan Sung Eun di jodohkan.

“Tapi… saat Yuri lahir, Myung Jae dan Min Yo kembali membuat perjanjian itu. Perjanjian untuk Baekhyun dan Yuri.”

Merasa namanya disangkut pautkan, Baekhyun kembali memandang Nenek Bo Yoon. “Perjanjian apa itu?” ,tanyanya penasaran.

Nenek Bo Yoon tersenyum kearah Baekhyun, membuat Baekhyun merasa beban yang selama ini berada di hatinya terangkat seketika. “Mereka berjanji untuk…” ,Nenek Bo Yoon menghela nafasnya dan tersenyum semakin lebar. “Menjodohkan kalian.”

“APA?!” ,teriak Baekhyun dan Yuri bersamaan. Meraka hanya menatap satu sama lain tepat pada manik mata masing-masing. Bahkan setelah bertahun-tahun mereka bertemu kembali, mereka masih seperti dulu dan mungkin bisa di katakan lebih parah. Bukankah suatu kekonyolan menjodohkan dua orang yang saling tidak menyukai satu sama lain?

–o0o–

Pertengkaran dirinya dengan Neneknya kembali terjadi setelah makan malam itu, sudah dua hari Baekhyun memutuskan untuk angkat kaki dari rumah dan hidup tidak menentu seperti saat ini – atau lebih tepatnya menumpang di apartemen sahabatnya Park Chanyeol.

“Ya. Byun. Sampai kapan kau akan seperti ini?” ,tanya Chanyeol yang sudah rapi dengan kemejanya.

Baekhyun masih memfokuskan matanya di depan televisi. “Aku akan segera mencari kerja.” ,ujarnya pelan.

Benar. Dirinya sedang mencari kerja. Saat ia mengancam ingin mengangkat kaki dari rumah, Neneknya bahkan tidak menahannya dan malah mencabut semua fasilitasnya dan melarangnya untuk pergi ke kantor. Dengan kata lain, Baekhyun jatuh miskin dalam semalam. Bahkan ketika ia mencoba menghubungi Ji Hyun, wanitanya masih tidak mengangkat teleponnya. Sungguh membuat frustasi.

Chanyeol hanya menatap iba sahabatnya yang terlihat seperti mayat hidup selama dua hari ini. “Kau tau bukan itu maksudku.” ,ujar Chanyeol seraya menyerahkan roti panggang kepada Baekhyun. “Kau terlihat mengerikan.” ,tambahnya seraya duduk di sebelah Baekhyun.

“Apa kau pernah di buang oleh Ibumu?”

Chanyeol bergidik ngeri dengan suara Baekhyun yang terdengar dinging ketika mengucapkan kata ‘di buang’. Ia berkali-kali mengatupkan rahangnya sembari menimang perkataannya dengan hati-hati. “Maka dari itu…” ,ujarnya ragu. “Kau… bicaralah baik-baik dengan Nenekmu.”

“Apa yang harus ku bicarakan?” ,tanyanya denga tidak semangat.

Chanyeol menggaruk tengguknya yang tidak gatal, jujur saja dirinya juga bingung. Apa yang harus Baekhyun bicarakan kepada Neneknya yang sudah membuat keputusan jika Baekhyun tidak menikah dengan gadis yang di pilihkan oleh Neneknya maka Baekhyun harus siap keluar dari rumah dan tidak pernah kembali bahkan mendapat warisan. Itu sedikit rumit.

“Memang gadis seperti apa sih yang Nenekmu jodohkan denganmu?” ,tanya Chanyeol menginterupsi kegiatan Baekhyun yang sedang menatap kosong kelayar tv, dan beralih menatap sengit Chanyeol.

Chanyeol segera menggeser tubuhnya, menjauh dari Baekhyun. Melihat Baekhyun dengan lingkar hitam di sekeliling matanya dan sekarang matanya melotot sempurna membuatnya sangat takut.

‘J-jangan dijawab jika tidak ingin.” ,ujarnya kemudian.

Chanyeol melirik kearah Baekhyun yang masih sama menatapnya seperti tadi,, “B-baek, k-kau mengerikan. M-matamu.” ,ucapnya dengan terbata.

“MAKA DARI ITU JANGAN MEMBAHAS GADIS ITU!!” ,teriak Baekhyun dengan nafas yang tersenggal karena emosinya yang kini berada di puncaknya. Chanyeol hanya meneguk salivanya yang terasa serat, rasanya tenggorokannya menjadi ekring melihat emosi Baekhyun yang sebelumnya tak pernah di tunjukkannya.

Mereka terdiam dalam duduk mereka, Baekhyun kembali menatap kosong layar TV sedangkan Chanyeol masih merasa takut walau hanya ia ingin pamit pergi bekerja. Jangan lupakan fakta bahwa Chanyeol bekerja di perusahaan keluarga Byun.

Suara bel yang berbunyi menginterupsi mereka, Chanyeol segera berdiri dengan hati yang sangat bersyukur. Mungkin ia akan memeluk orang yang telah menekan bel itu sehingga ia dapat menjauh dari Baekhyun.

Ia membuka pintu ketika bel kembali berbunyi, “Siapa—“ ,perkataannya terputus ketika mendapati Dae Chul berada di depan pintu apartementnya. Mungkin keputusannya untuk merasa lega terlalu awal. Ini bukanlah hal yang bagus karena kedatangan Dae Chul, mungkin apartemennya akan menjadi lokasi perang dunia ke tiga setelah ini.

“Apa Baekhyun ada di sini?” ,tanya Dae Chul santai. Sejujurnya, Chanyeol juga sedikit iba melihat Dae Chul yang juga memiliki lingkar hitam di matanya, seperti sama seperti Baekhyun – ia juga tidak bisa tidur karena Baekhyun yang pergi dari rumah.

Dengan terpaksa Chanyeol mengangguk dan mempersilahkan Dae Chul masuk. Baekhyun hanya menatap tajam Chanyeol ketika membawa Dae Chul masuk, tapi mau bagaimana lagi? Posisinya serba salah saat ini.

Mereka duduk di ruang tamu dengan Chanyeol yang sedang membuatkan minuman, “Aku akan meninggalkan kalian berdua untuk berbicara.” ,ujar Chanyeol seraya menaruh minuman di atas meja.

Baekhyun tidak sedikitpun melihat kearah Dae Chul, ia hanya terus menatap layar TV yang entah sedang menayangkan acara apa. Ia juga tidak terlalu memperhatikan sejak tadi. Sedangkan Dae Chul menatap miris kearah Baekhyun yang bisa di bilang tidak baik-baik saja itu.

“Aku akan bicara dengan Nenek soal perjodohan ini.” ,Dae Chul akhirnya membuka mulut.

Baekhyun hanya tertawa meremehkan dengan gaya khasnya yang menyebalkan, “Apa yang akan kau lakukan? Bahkan kau tidak bisa menolak perjodohanmu sendiri.” ,gumamnya yang masih terdengar oleh Dae Chul.

Dae Chul hanya memejamkan matanya, menahan emosinya. “Aku memang mungkin tidak akan bisa membatalkan perjodohan ini, tapi setidaknya aku akan berusaha agar Nenek mau mengubah keputusannya.”

Keputusan? Ya, Baekhyun ingat tentang keputusan sang Nenek yang mengatakan bahwa ia akan resmi menjadi direktur perusahaan mereka saat usia ulang tahun pertama pernikahannya dengan Yuri. Ulang tahun pernikahan? Yang benar saja?

“Lalu apa gunanya? Aku harus tetap menikah dengan anak kecil itu.” ,ujar Baekhyun sengit.

“Yuri bukan anak kecil lagi, Baekhyun.” ,timpal Dae Chul. “Kau tau jelas bahwa Yuri bukan anak kecil lagi.”

Baekhyun mendengus, “Mau anak kecil atau bukan pun aku tidak peduli. Aku tidak ingin dan tidak akan pernah menikahinya.”

“Kenapa?” ,tanya Dae Chul yang kini menatap tajam Baekhyun. “Bukankah kau menyukainya sejak dulu?”

Perkataan Dae Chul membuat Baekhyun sedikit terkejut, “Tidak. Aku tidak pernah menyukainya.” ,sanggah Baekhyun.

“Kau menyukainya, Byun Baekhyun. Aku tau itu. Sejak dulu.” ,cetus Dae Chul.

Baekhyun mengatupkan rahangnya, membuang pandangannya sedikit gusar. “Itu dulu.” ,ujarnya mengelak. “Aku mencintai Ji Hyun sekarang.”

“Benarkah?” ,Baekhyun terus menghindar bertatapan dengan Dae Chul, hal yang selalu terjadi saat dirinya berbohong. “Kurasa tidak. Aku melihat caramu memandangnya waktu makan malam itu. Mungkin benar kalian sering bertengkar dulu tapi ku yakin itu hanya sebatas permainan bagimu. Dan itu juga terjadi saat makan malam itu. Benar bukan?”

“Hyung, hentikan. Aku mencintai Ji Hyun.”

“Katakanlah jika itu benar kau mencintai Ji Hyun. Tapi kuyakin alasanmu menolak perjodohan ini adalah diri Yuri sendiri, benar?”

“Apa yang kau bicarakan?” ,gerutu Baekhyun.

“Percuma kau membuang pandanganmu dari ku, Baek. Aku mengenalmu.” ,Baekhyun terdiam seketika. “Alasanmu menolak itu adalah karena dirimu yang buruk dan kau tau itu. Sama seperti ku. Saat aku akan menolak Sung Eun. Kau sungguh tau itu.”

Dae Chul berdiri dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar apartemen, “Maka dari itu…” ,Baekhyun bersuara menghentikan langkah kaki Dae Chul. “Aku tau dengan jelas bagaimana Sung Eun Noona sekarang dan aku tidak ingin Yuri sama seperti dirinya.”

“Maka kau jangan menjadi diriku.” ,Dae Chul segera memutar knop pintu itu, meninggalkan Baekhyun sendiri dengan sejuta pikiran yang menghantuinya.

~~~ TBC ~~~

 

Huuuaaaaahhh,… maafkan Rhee yang baru update sekarang.

Maafkan Rhee juga yang buat cerita ini makin gak maksud bin gak nyambung. Seriussss… Buntu nih idenya.

Entah apa jadinya FF ini tapi Rhee berharap kalian gak akan kecewa yaaaaa…

Boleh kok kalo kalian mau ngasih-ngasih masukan, Rhee terima dengan senang hati…

Oke… jangan lupa komen ya *kiss *kiss *sambildada-dadacantik

Iklan

10 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] More Than Beautiful (Chapter 3)

  1. huaaaaaaaa kalo ini sih ga bikin kecewa malah bikin greget ,asli !! chapter ini aku bacanya sebel nano nano gitu yaaaa walaupun cerita ttg perjodohan ky gini emg bikin “memutar bola mata” tapi tergantung cara bahasa ceritanya sih sm karakter yg kita suka atau ga dan aku suka sih sm karakter baek disini apalagi cekcok mereka berdua bikin gemes. moga aja chapter chapter selanjutnya msh bisa bikin aku komen kaya gini

  2. Mereka dijodohkan tapi baekhyun belum tau kondisi yuri yang sebenarnya. Ternyata baekhyun suka dengan yuri tapi dia nggak mau seperti dae chul, maksudnya apa thor ?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s