[EXOFFI FREELANCE] Another Angel (Chapter 1)

picsart_02-18-10-43-22

 

ANOTHER ANGEL

ByunYara Presents

Main Cast : Byun Baekhyun   Kang Hye So   Oh Sehun

Add Cast : Find yourself…. 😀

Romance   Comedy   Fantasy , PG-17 , Series/Chaptered

Summary : Bagaimana jika seorang malaikat secara tiba-tiba berubah menjadi manusia kembali?

Disclaimer : Cerita ini terinspirasi dari drama Star of The Universe yang di kombinasikan dengan ide author.

~

~

Prolog

Apa yang kalian pikirkan tentang kematian?

Bagiku, itu terlihat sama – kehidupan dan kematian. Mengapa? Hanya saja… rasa kehidupan bagiku tidak begitu lebih menyenangkan dari kematian itu sendiri.

Sepi…

Bahkan… Dalam keramaian, kehidupanku begitu sepi…

~

~

Chapter I – Dunia Kedua

 

Ini hari pertamanya ia resmi bekerja di sini – dikantor yang menjadi tempat terakhir bagi seseorang sepertinya. Baekhyun memandang takjub gedung yang tidak begitu mewah itu, mungkin hanya ada tiga lantai disana. Catnya usang dan ada beberapa sisi tembok yang retak. Ini cukup baginya, pikirnya. Karena memang hanya ini yang tersisa setelah selama 21 tahun ia mencoba mengikuti beberapa tes.

Walau pekerjaan sebagai malaikat pencabut nyawa adalah pekerjaan terakhir yang di pilih oleh orang-orang sepertinya – meninggal sebelum waktunya – tapi itu lebih baik di banding menjadi arwah jalanan yang penasaran. Tekadnya sangat kuat saat terpilih, begitu banyak saingan jika kalian ingin tau. Ini kompetisi seluruh dunia tentunya.

Byun Baekhyun, pria yang berumur 26 tahun selama 21 tahun ini. Ya… ia meninggal saat berumur 26 tahun, tapi sebenarnya saat itu bukanlah waktu baginya untuk meninggal dan akhirnya membuat ia terlantar menjadi arwah penasaran. Selama 3 tahun hidup tanpa tujuan dan hanya mencoba mengembalikan ingatannya – salah satu hal yang terjadi ketika kalian menjadi arwah penasaran, ia hanya dapat mengingat namanya saat terbangun malam itu. Pada akhirnya ia di tawari mengikuti beberapa tes pekerjaan akhirat, hadiah tak terduga yang di berikan oleh seorang malaikat kehidupan yang selalu Baekhyun bantu.

Siapa sangka, pada tes ke 18 akhirnya ia lulus dan dapat bekerja sebagai malaikat pencabut nyawa, walau sebenarnya itu bukan harapannya. Setidaknya yang di pikirkannya adalah ia dapat menempati posisi sebagai malaikat kehidupan atau malaikat penjaga. Itu terlihat lebih baik di banding menjadi salah satu malaikat berjas hitam dengan topi senada dan tatapan dingin. Tapi menampik semua pemikirannya, ia sangat beruntung bisa menempati posisi ini karena sejujurnya tes itu sangat sulit. Bahkan ia bertekad untuk menjadi malaikat pencabut nyawa yang selalu tersenyum ramah, tidak seperti para seniornya yang berwajah masam.

“Fighting!!” ,Baekhyun mengepalkan telapak tangannya dan mengayunkannya tinggi keudara. Lalu ia segera menyebrangi jalan yang masih berlalu lalang mobil. Jangan khawatir, mobil-mobil itu tidak akan bisa membuatnya terluka karena konsep antara arwah dan malaikat tetap sama. Tembus pandang.

Begitu banyak kesibukan di gedung kantor barunya itu, beberapa malaikat sibuk dengan berbagai kegiatan. Baekhyun tersenyum cerah, sebentar lagi ia juga akan seperti mereka, pikirnya. Ia sampai pada ruang yang ditujunya, berisi beberapa malaikat baru yang sedang duduk menunggu pembagian pembimbing dan wilayah kerja.

“Apa kau memiliki bisul di bokongmu?” ,suara dingin terdengar jelas di telinganya, menyadarkannya dari pikiran takjubnya yang sedari tadi memenuhi kepalanya.

Ne…?”, Baekhyun mengernyitkan keningnya.

Pria dengan tatapan dingin itu mendesah pelan, “Kau bisulan?” ,ketusnya. Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya pelan, masih bingung dengan pertanyaan ambigu dari pria di sebelahnya. “Kalau tidak, mengapa kau menghalangi jalan dan berdiri seperti orang bodoh?”

“A-ah… itu—”

“Kalau tidak, segera cari bangkumu dan duduk disana!” ,si pria memotong perkataan Baekhyun.

Baekhyun membungkukkan badannya dengan segera, “Maafkan aku.” ,ujarnya.

“Jangan terlalu berlebihan Jong In-ah.” ,suara nyaring itu terdengar di antara mereka. Baekhyun mengangkat kepalanya dan menemukan sosok wanita yang mengenakan jas hitam dengan rambut sebahu berwarna coklat dihadapannya. “Cukup katakan dengan baik-baik saja. Tidak perlu membentak.” ,lanjutnya.

Si Pria tersenyum meremehkan, “Terserah kau saja, Malaikat Jung.” ,dan ia pergi dari hadapan mereka dengan tangan yang dimasukan kedalam sakunya.

“Aish… dia itu!!” ,umpat si wanita. “Tidak bisakah kau meninggalkan muka dinginmu itu?!!” ,teriaknya pada si pria yang di panggil Jong In olehnya itu.

“Kau bahkan mengabaikanku.” ,gumamnya setelah si pria tetap berjalan santai.

Baekhyun masih menatap wanita di hadapannya, mungkin pemikiran awalnya tentang malaikat pencabut nyawa yang selalu berwajah dingin dan emmm… jelek? Mungkin? – sangat salah untuk kali ini. Itu terbukti dari salah seorang di hadapannya kini. Garis wajahnya yang begitu menerangkan kecantikannya, bentuk mata, hidung dan bibir tipisnya yang sangat pas di wajah dengan dagu lancip itu adalah sesuatu yang sangat sempurna.

Jung Kristal – wanita itu melambaikan tangannya di hadapan Baekhyun yang menatapnya diam. “Ya! Kau baik-baik saja?” ,tanyanya.

Baekhyun menggelengkan kepalanya cepat untuk mencapai kesadaran akal sehatnya, “I-iya.” ,jawabnya gugup.

Kristal terkikik, “Syukurlah.” ,ujarnya. “Kau anak baru?” ,tanyanya lagi.

Seperti baru sadar dengan kecerobohannya tidak mengenalkan diri, Baekhyun segera membungkukkan badannya. “Iya. Namaku Byun Baekhyun.”

“Byun Baekhyun?” ,ulang Kristal tak kalah semangat, Baekhyun mengganggukkan kepalanya ragu. “Wah… ini benar-benar kebetulan yang sangat tidak terduga.” ,ucapnya.

“Aku Jung Kristal. Aku merupakan salah satu pembimbing untuk malaikat baru. Dan kebetulan aku mendapatkan kabar bahwa yang akan ku bimbing adalah seseorang bernama Byun Baekhyun.” ,bisiknya.

Baekhyun membulatkan matanya, “Benarkah?”

Kristal menyampirkan telunjuk kanannya di depan bibirnya, “Jangan berisik. Ini belum resmi di umumkan.” ,bisiknya kembali. “Kalau begitu…” ,Kristal mengulurkan tangannya dan dengan segera Baekhyun menjabatnya. “Sampai ketemu nanti, Baekhyun-ssi.”

Ia masih tersenyum di tempatnya sembari menatap punggung sempit Kristal yang menjauh, sungguh ini mungkin sebuah jackpot baginya. Mungkin ia akan mendapatkan seorang kekasih dan pembimbing yang sama – khayalnya. Tapi bisakah malaikat berkencan?

Ruangan menjadi sunyi ketika manager datang, setelah menunggu selama setengah jam akhirnya pengumuman akan segera di bagikan. Baekhyun duduk di baris ketiga dari lima baris kursi, ia menatap Kristal yang berdiri di depan bersama beberapa sunbae lain yang akan menjadi pembimbing juga. Termasuk senior pria yang bernama Jong In itu.

Kurang lebih dua jam mereka mendengarkan segala aturan dan deskripsi pekerjaan mereka serta pembagian pembimbingnya. Ada beberapa yang terlihat senang dan ada juga yang terlihat kecewa karena pembimbingnya tidak sesuai dengan harapan mereka. Baekhyun merupakan salah satu yang senang menerimanya, walau sebenarnya ia sudah tau di awal tapi tetap saja itu membuatnya tetap senang.

Mereka berdua duduk di salah satu kursi di ruang tunggu, “Setelah ini giliranmu untuk masuk.” ,ujar Kristal.

“Iya, sunbae.” ,jawab Baekhyun.

Kristal kembali membaca buku panduan, “Setelah kau mendapat perlengkapan, kita akan ke aula untuk pengumuman pembagian wilayah kerja.” ,ia menutup bukunya. “Aku harap kita tidak mendapatkan HanReung Hospital sebagai wilayah kerja kita.”

“Memangnya kenapa jika kita mendapat wilayah disana?” ,tanya Baekhyun penasaran.

“Kau tidak tau.” ,Baekhyun menjadi dua kali lebih penasaran karena ucapan Kristal yang menggantung. Kristal mencondongkan badannya kedepan, mendekati Baekhyun. “Disana… ada malaikat maut bagi malaikat pencabut nyawa seperti kita. Jujur saja, bagi kau yang masih menjadi seorang trainee itu sangat tidak bagus untuk karirmu kedepannya.”

Baekhyun memiringkan kepalanya, “Malaikat maut… bagi malaikat pencabut nyawa?” ,Kristal mengangguk. “Apa maksudnya itu?”

Kristal memejamkan matanya, “Kau benar-benar tidak pernah mendengarnya? Bahkan aku mendengar ini sebelum aku di terima di sini. Kabarnya ada seorang Dokter yang sudah bekerja selama 3 tahun disana dan dia selalu berhasil membuat manusia yang akan mati kembali hidup. Rekor tertingginya adalah saat salah satu malaikat pencabut nyawa sudah membawa salah satu jiwa yang mati kesini, tiba-tiba jiwa itu menghilang dan kembali ketubuhnya.”

“Bagaimana mungkin?” ,tanya Baekhyun terkejut.

“Itu dia, aku sendiri tidak mengerti bagaimana caranya ia melakukannya. Makanya dia disebut sebagai malaikat maut bagi malaikat pencabut nyawa.” ,Kristal membuang nafasnya gusar, “Bahkan sudah ada 27 malaikat yang di tugaskan di HanReung Hospital di pecat selama 3 tahun ini. Kasusnya sama, mereka kehilangan jiwa manusia karena ulah Dokter itu. Aku memang belum pernah bertemu langsung dengannya dan aku tidak ingin bertemu dengannya. Dia menyeramkan bagi seseorang yang berprofesi seperti kita.”

Kristal kembali menyandarkan badannya ke bangkunya, sedangkan Baekhyun hanya menatap lurus sembari berfikir tentang perkataan sunbae-nya itu. Bagaimana bisa semua itu terjadi? Seorang manusia bisa mengembalikan kehidupan? Bahkan setelah jiwa di tarik keluar dari raganya?

Ia sedikit tegang saat pembagian wilayah setelah mendengar cerita dari Kristal, karena jika ia mendapat wilayah itu maka kemungkinan ia akan gagal saat trainee ini. Di tambah beberapa suara dari beberapa peserta trainee di sekitarnya yang juga membicarakan sosok Dokter wanita itu. Mereka menyebutkan bahwa si Dokter wanita berwajah menyeramkan itu bahkan pernah menjemput jiwa yang sudah berada di atas untuk di tarik kembali, walau ia tau itu hanyalah cerita palsu yang berlebihan tapi itu cukup membuatnya merasa lebih takut.

“Kenapa kakimu terus bergerak sedari tadi?” ,tanya Kristal menginterupsi Baekhyun dari rasa takutnya.

“Ini sering terjadi jika aku sedang gugup.” ,jelasnya.

Kristal menautkan kedua alisnya, “Gugup? Kenapa  kau merasa gugup?” ,Baekhyun memejamkan matanya sejenak dan menggeleng setelahnya, lebih baik menyimpannya untuk saat ini. “Ada apa? Ceritakan saja.”

“Bagaimana… jika kita mendapatkan HanReung Hospital?” ,tanyanya ragu.

Kristal tercekat, benar juga? Bagaimana jika mereka mendapatkan wilayah terkutuk itu?

Kristal tertawa, mencoba mencairkan suasana yang mana malah terdengar sangat kentara dibuat-buat. “Itu tidak mungkin. Kenapa harus kita? Masih banyak wilayah lain dan para peserta lain.” ,ucapnya mencoba menghibur.

“Ini gawat.” ,ujar Baekhyun kemudian.

Ne..?”

“Bahkan kau merasa tidak yakin dengan ucapanmu barusan.” ,Kristal menelan salivanya kasar mendengar perkataan Baekhyun dan akhirnya dia terdiam. Baekhyun mendesah dan tertunduk setelahnya.

#####

Suasana begitu ramai di rumah sakit yang cukup terkenal itu.

“Code Blue. Code Blue. ICU Code Blue.”

Begitu nyaring suara peringatan yang menandakan adanya seorang pasien yang sedang mengalami serangan jantung terdengar di seluruh penjuru rumah sakit. Beberapa Dokter mulai berlari-lari menuju ruang ICU yang menampung beberapa pasien dengan riwayat penyakit jantung.

“Apa yang terjadi?” ,tanya seorang Dokter pria yang berdiri tepat di sebelah ranjang rawat yang terdapat seorang gadis kecil di atasnya.

“Hipertensi dan kelebihan cairan di pembuluh darah jantung, dok.” ,jawab seorang suster yang berada di sana.

Dokter pria itu dengan sigap langsung mengeluarkan stetoskop dari saku jasnya dan menyelipkan di antara telinganya. Dengan bantuan suster yang menyingkap kancing teratas dari pakaian si gadis kecil itu untuk memudahkan akses bagi Dokter pria itu memeriksanya.

“Dia mengalami Edema Paru Akut.” ,ujar sang Dokter sembari melepas stetoskop dari telinganya. “Siapa penanggung jawabnya?”

Suster itu melirik sejenak rekan di sampingnya, “Do-Dokter Kang.” ,jawabnya ragu.

Dokter pria itu membulatkan matanya, “Wanita gila itu!” ,umpatnya. “Kemana dia?!!” ,teriaknya.

“Aku disini. Tidak perlu berteriak. Itu sangat mengganggu.” ,ujar seorang wanita dengan rambut pirang terkuncir. Ia berjalan santai menuju ruangan itu, menaruh handphonenya dimeja yang sedari tadi digunakannya untuk mendengarkan musik. Bahkan ia tidak memperdulikan monitor yang memperlihatkan detakan jantung pansien itu berbunyi semakin keras.

Dia menyingkap lengannya, dan mendorong pelan Dokter pria yang menatapnya dengan tajam itu. “Berikan dia Furosemide iv dengan dosis 45 mg dan Morphin Sulfat dosis 1 mg.” ,perintah Dokter Kang kepada dua orang suster di depannya.

Dengan sigap kedua suster itu melaksanakan perintah Dokter Kang, mereka mengambil 2 botol kecil yang berisi cairan bening yang berbeda dari rak obat dan segera menyuntikkan cairan itu kedalam selang infus.

“Intubasi.” ,perintahnya lagi masih dengan nada santai.

Kembali, dua suster itu dengan segera mengambil selang-selang panjang yang membantu pernafasan dan segera memasukkan selang itu kedalam mulut sang gadis itu. Sementara mesin yang menandakan detakan jantung sang gadis terus menerus mengeluarkan nada peringatan yang semakin keras.

“Dokter Kang.” ,panggil salah seorang suster yang masih memompa airway untuk jalan pernafasan sang gadis, mencoba memberitahu bahwa detakan jantung sang gadis terus menurun.

Masih dengan kegiatan memeriksa dengan santainya, Dokter Kang tidak menghiraukan panggilan peringatan dari kedua suster itu.

“Ya! Hye So!” ,panggil Dokter pria yang berada di belakang mereka. “Berhentilah bermain-main!!” ,bentaknya.

Kang Hye So – Dokter wanita yang dijuluki Dokter gila penuh keajaiban itu hanya melirik rivalnya – Dokter Park Chanyeol. “Yang tidak berkepentingan bisa menunggu di luar.” ,ujarnya sengit.

Seolah mengabaikan peringatan alat pendeteksi jantung itu, Dokter Kang masih dengan memenekan pusat nadi si gadis dan memperhatikan jam tangannya.

“Jika kau tidak bisa melakukannya, biar aku saja!” ,pekik Chanyeol di belakangnya.

Hye So tertawa meremehkan, “Dia pasienku, Dokter Park. Keluarlah.”

Chanyeol hanya menatapnya tajam dari belakang punggung gadis gila itu, selalu seperti ini sifat dari Dokter Kang Hye So yang terkenal itu. Jika ia tidak mengingat bahwa Hye So merupakan salah satu pewaris dari rumah sakit ini mungkin dirinya akan menendang Hye So keluar dari rumah sakit ini.

Monitor kembali bersuara dan bahkan bertambah nyaring, “Dokter Kang…” ,panggil salah seorang suster itu lagi.

Hye So menarik kasar baju sang gadis yang terbaring lemah, sehingga menampilkan dada telanjangnya. “Berikan Suxamethonim di kombinasikan Barbiturat I.V dosis 30 mg.”

Dengan sigap, suster yang bebas dari alat airway itu mengambil obat yang dimaksud dengan Dokter Kang dan menyuntikkan langsung pada pembulu darah sang gadis. Beberapa detik berikutnya monitor menunjukkan garis lurus yang dibarengi dengan suara nyaring panjang.

Dengan segera, Dokter Kang melakukan CPR – menekan-nekan bagian jantung si gadis dengan beberapa ketukan. “Defibrilator!” ,pekiknya kepada suster itu.

Suster itu segera mendorong alat dengan monitor itu di sisi Dokter Kang. Ia segera menarik dua buah paddle yang berada di samping alatnya dan sang suster segera memberikan krim pada permukaan paddle, setelahnya Dokter Kang menggosokkan kedua paddle itu. “atur pada 150 joule.”

Shoot” ,pekiknya dengan seraya menempelkan paddle itu pada dada sang gadis, dan bersamaan dengan di tempelkan alat itu, sang gadis melejitkan dadanya tinggi – reaksi dari setruman.

Masih dengan garis panjang itu, Dokter Kang kembali mengulangi aksinya. “200 joule.” ,perintahnya kembali.

Suster itu segera memutar pengatur tegangan pada alat itu, “Shoot.” ,kembali Dokter Kang menempelkan kedua paddle pada dada sang gadis dan kembali membuat sang gadis terlonjak. Dan setelah usaha keduanya detakan jantungnya berangsur kembali normal, membuat seisi ruangan menghela nafas lega.

Hye So menatap pasiennya yang sudah di rawatnya sejak 5 bulan lalu itu, ia memejamkan matanya sebentar. “Pembulu arterinya pecah, kita harus segera melakukan operasi.” ,tuturnya kepada suster yang berada di hadapannya. “Hubungi walinya dan operasinya akan di lakukan sore ini.” ,ujarnya kembali santai dan hanya di jawab dengan anggukan dari kedua suster itu.

Hye So kembali menuju meja tempatnya menaruh ponselnya dan setelahnya ia kembali berjalan santai keluar dari ruang ICU itu. Melewati Chanyeol yang masih menatapnya dengan tajam dan rasa marah yang besar.

Chanyeol mendesis dengan perlakuan Hye Soo yang mengganggapnya tidak ada disana. Dia juga dengan segera berjalan keluar dari ruang ICU itu, mengejar Hye So.

“Ya! Kang Hye So!” ,panggilnya dengan nada kasar.

Hye So hanya berjalan dan tidak menghiraukan panggilan marah Chanyeol. Ia lebih memilih untuk menutup kedua telinganya dengan earphone dan menyetel music dengan kuat.

Chanyeol berjalan cepat, menyusul Hye So dan menarik tangan gadis gila itu. Hye So memberontak dan berkali-kali menampik tangan Chanyeol, tapi kembali Chanyeol meraih tangannya dan menariknya, kali ini bahkan genggamannya lebih kuat dari sebelumnya sehingga menyulitkan Hye So untuk memberontak.

Mereka sampai di halaman depan rumah sakit, Chanyeol melepas dengan kasar tangan Hye So. “Aish..!” ,cibir Hye So. “Kau gila?!”

“Kau bilang aku gila?! Lalu kau apa namanya?!” ,ujar Chanyeol dengan nada tinggi penuh dengan kemarahan. Hye So hanya mengedarkan pandangannya, dia sangat tau bahwa rivalnya sejak tahun pertamanya masuk itu selalu seperti ini. Mengomelinya. “Apa bagimu nyawa seseorang itu adalah permainan?!” ,tanyanya sengit.

Hye So menghela nafasnya, “Apa yang kau bicarakan? Kau pikir itu sebuah mobilan?” ,gumamnya.

Chanyeol semakin menatapnya tajam, “Maka dari itu, karena nyawa seseorang bukanlah sebuah mainan, kau harus serius saat menangani pasien!!” ,ocehnya. “Kau hampir membuat seorang gadis kecil mati konyol karena tindakanmu!!”

“Yang terpenting dia tidak mati, bukan? Jangan berlebihan, Dokter Park.”

Hye So berniat melangkahkan kakinya menjauhi Chanyeol yang masih setengah mati marah padanya, tapi Chanyeol kembali mencengkram lengannya kuat. “Jangan terlalu sombong, Dokter Kang.” ,ucapnya dingin. “Kau pikir karena kehebatanmu itu jadi kau bisa dengan sesuka hati bertindak santai seperti tadi? Aku tau bahwa kau hebat, semua pasien yang kau tangani selalu berhasil melewati masa kritis mereka, tapi bermain dengan nyawa pasien? Kau tidak bisa melakukan itu! Karena suatu saat nanti kau juga akan merasakan kegagalan karena tindakanmu itu!” ,Chanyeol menghempas kuat genggaman tangannya pada Hye So dan pergi meninggalkan gadis itu.

Hye So hanya membeku dengan pandangan yang terus mengarah kepada punggung Chanyeol yang semakin mejauh. Chanyeol adalah salah satu dari begitu banyak dokter yang membenci kehadiran Hye So di rumah sakit ini, bahkan sejak di tahun pertama – setelah namanya menjadi legenda dengan sebutan tangan Tuhan – banyak yang membencinya. Ada beberapa yang merasa iri dan tersaingi tapi juga ada beberapa dokter seperti Chanyeol yang membencinya karena sikap santai Hye So.

Sikap santainya itu bukanlah bentuk dari kesombongan seperti dugaan Chanyeol, tapi itu karena ia memiliki alasan lain. Salah satunya adalah rasa bencinya terhadap Kakeknya – Ayah dari mendiang Ibu Hye So – Han Tae Jun. Kakeknya adalah pemilik dari rumah sakit ini, dan sayangnya Hye So adalah pewaris tunggal dari rumah sakit ini karena Ibunya adalah anak tunggal dari Kakeknya. Walaupun sebenarnya ada keponakan Kakeknya – paman Hye So, Lee Ji Woon – yang bisa meneruskan kepemimpinannya tapi Kakek Hye So lebih memilih Hye So yang menjadi pemimpin dari rumah sakit ini kelak. Darah lebih dekat dengan kita, bukan?

Hye So menghela nafasnya, entah keberapa kali Chanyeol mengeluarkan kata-kata kasar kepadanya tapi rasanya selalu tidak enak di dengar oleh dirinya. Tapi hanya berkalut dengan pikirannya juga tidak merubah penilaian Chanyeol terhadapnya. Dia memutuskan untuk kembali menjalankan tugasnya, kembali masuk kedalam rumah sakit. Saat mencapai pintu masuk rumah sakit, ia merogoh saku jas dokternya dan mengambil permen lolypop yang pernah di berikan dari adik si gadis kecil itu. Menatapnya miris. Mungkin benar kata Chanyeol bahwa kali ini ia sudah sangat keterlaluan. Bahkan jika gadis kecil itu bisa selamat, tapi bermain santai seperti tadi adalah hal yang tidak boleh dilakukannya karena ada keluarga yang sungguh berharap padanya untuk keselamatan sang gadis.

Ia membuka bungkus lolypop rasa strawberry itu, berniat untuk memakannya. Saat permen itu terbuka sempurna, ada yang menabraknya dari belakang dan mengakibatkan permen itu terpental jatuh kelantai. Kali ini orang itu mungkin akan mati di tangan Hye So, dengan kasar ia membalik badannya untuk melihat orang tidak sopan yang menabraknya. “Iisshh..!!” ,umpatnya.

Tapi saat itu juga ia tidak menemukan orang di dekatnya, Hye So hanya menolehkan kepalanya kesana kemari mencari dalang masalah itu, tapi nihil… di sana hanya dirinya yang berdiri. Sendiri. Membuatnya menautkan kedua alisnya, dan kembali memutar badannya untuk kembali mencari siapapun yang berada di sekitarnya. Pikirannya bertambah bingung saat pencariannya tetap tidak membuahkan hasil.

Hye So memegang tengkuknya perlahan dan mengusutnya lembut, sekujur bulu kuduk-nya berdiri seketika. Salah satu kelemahan dari si Dokter Tangan Tuhan itu adalah ketakutannya dengan makhluk-makhluk gaib nan menyeramkan yang selalu ada di bayangannya itu. Beberapa saat ia hanya melirik kanan dan kirinya yang masih sama sepi, akhirnya ia dengan sigap membalikkan badannya dan berlari-lari kecil menjauhi tempat itu.

#####

Baekhyun hanya menundukkan kepalanya saat ini, ia kembali membaca secarik kertas yang berada di telapak tangannya dan did etik selanjutnya ia meremas kertas itu dengan kasar dan membuangnya dengan kesal. Bahkan ia berkali-kali mengumpati kertas yang tak bersalah itu.

Sementara Kristal di sebelahnya hanya bisa duduk lemas di bangku taman dengan kedua kaki yang di lebarkan dan wajah yang menatap sendu kedepan serta jangan lupakan mulut menganganya. “Percuma saja.” ,ucapnya setelah melihat Baekhyun melempar kertas itu. “Kertas itu tidak bersalah.” ,lanjutnya dan sedetik berikutnya ia kembali menatap kosong kedepan, masih dengan cara bodoh yang sama.

Baekhyun menangkup kedua tangannya di wajahnya, “Apa kesalahan yang pernah ku lakukan saat aku hidup dulu?” ,tanyanya entah pada siapa. “Bahkan ketika aku ingin memulai sesuatu, semua menjadi berantakan dalam waktu sehari.” ,rengeknya.

Kristal menghela nafasnya, “Sialnya kita.” ,timpalnya.

Kini mereka berdua berdiri di depan rumah sakit yang sangat luas, lebih ramai di banding perkiraannya. Ternyata banyak juga malaikat pencabut nyawa yang berada disini. Mereka mengedarkan pandangannya, melihat aktifitas yang terjadi di sekitar mereka. Beberapa malaikat sedang mengobrol dengan jiwa yang menjadi target mereka, ada juga yang sedang menunggu perintah dan ada juga yang sudah membawa jiwa.

“Ini terlihat normal. Benarkan?” ,tanya Baekhyun dengan sedikit berbisik kepada Kristal.

Kristal mengangguk, “Mereka terlihat cukup baik.”

Baekhyun menarik tangan Kristal untuk kembali keluar dari ruangan itu, ia melepaskan tangan Kristal saat mereka berada di luar. “Sunbae.” ,Baekhyun tersenyum cerah kepada Kristal saat ia mendapatkan ide. “Aku punya ide yang cukup bagus.”

Kristal menjadi tertarik mendengar perkataan Baekhyun, “Apa itu?” ,tanyanya penasaran.

“Di rumah sakit ini pasti banyak sekali dokter, bukan?” ,Kristal mengangguk cepat. “Ku pikir kita bisa menghindari pasien yang di tangani oleh malaikat maut itu dan hanya bertugas mengincar jiwa yang bukan tanggung jawab si dokter maut itu.”

Kristal memiringkan kepalanya, “Bagaimana caranya?”

Baekhyun menyeringai, “Aku peserta trainee. Yang ku tau, peserta trainee tidak menerima panggilan, melainkan mengambil salah satu berkas saat memulai di pagi hari, bukankah begitu?” ,Kristal kembali mengangguk. “Kita bisa mencari tau siapa saja nama dari pasien si dokter maut itu dan menghindari nama itu untuk kita sendiri. Ada empat peserta trainee disini, bukan? Kita bisa memberikan itu kepada mereka.”

Kristal menepuk tangannya girang, “Kau sangat cerdas, Baek!” ,pujinya. “Tapi… bagaimana kita menemukan pasien-pasiennya?”

“Kita bisa memulai dari sana.” ,Baekhyun menunjuk meja resepsionis yang berada tidak jauh dari pintu mereka berdiri. “Kau cukup berdiri disana dan menemukan nama si dokter maut itu dan segera memberitahuku.” ,Kristal mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. “Setelah itu, aku akan menyusuri rumah sakit ini dan mencari nama-nama pasien yang merupakan tanggung jawabnya.”

“Baiklah.” ,Kristal mengangkat tangannya tinggi, mengajak Baekhyun untuk high five sebelum memulai rencana mereka. Baekhyun menyambutnya dengan pukulan kecil, dan setelahnya Kristal berlari menuju meja resepsionis yang di tunjukkan oleh Baekhyun tadi.

Tanpa sadar Baekhyun tersenyum melihat tingkah menggemaskan dari sunbae-nya itu. Begitu manis ketika ia berlari-lari semangat dengan tubuh mungil yang terbalut jas hitam. Wajah kebingungannya dan wajah semangatnya sama-sama menggemaskan bagi Baekhyun. Menurutnya, Kristal adalah sisi lain bagi maskot malaikat pencabut nyawa yang bernotaben seram dan dingin.

“Jangan terlalu sombong, Dokter Kang.” ,perkataan bernada dingin itu menginterupsi pandangannya akan Kristal dan menjumpai dua orang manusia yang berada tak jauh darinya – bahkan ia tidak sadar sejak kapan mereka berada disana.

“Kau pikir karena kehebatanmu itu jadi kau bisa dengan sesuka hati bertindak santai seperti tadi? Aku tau bahwa kau hebat, semua pasien yang kau tangani selalu berhasil melewati masa kritis mereka, tapi bermain dengan nyawa pasien? Kau tidak bisa melakukan itu! Karena suatu saat nanti kau juga akan merasakan kegagalan karena tindakanmu itu!”

Si pria bertubu tinggi dengan bentuk telinga aneh itu menghempas kasar tangan gadis dengan tampilan yang berantakan di hadapannya dan meninggalkannya sendirian. Gadis dengan jas dokter itu hanya membeku di tempatnya sembari menatap kosong si pria yang meninggalkannya.

Rasa-rasanya, wajah itu tidak begitu asing baginya. Seperti ini bukan kali pertamanya Baekhyun pernah menemui si wanita itu, atau sekedar melihatnya sepintas tapi rasanya pernah lebih dekat dari ini. Entahlah, ia tidak begitu mengingatnya. Hanya merasa yakin bahwa ia pernah melebihi ini sebelumnya.

Beberapa detik kemudian si wanita kembali berjalan menuju pintu rumah sakit, dan Baekhyun mengikutinya tanpa sadar. Ia berhenti ketika langkah si wanita juga terhenti seketika, Baekhyun mengawasi pergerakan si wanita yang sedang merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah lolypop strawberry. Kini lolypop itu lebih menyita perhatiannya, ia sungguh sangat ingin menyicipi rasa dari lolypop itu. Tapi malaikat tidak akan bisa menyentuh benda yang tidak di berkati. Dia menatap si wanita yang mulai membuka bungkus permen itu secara perlahan, berkali-kali membuatnya dengan susah payah menelan salivanya kasar.

Sampai permen itu terbuka sempurna, Baekhyun dengan reflexs memajukan tangannya untuk menggapai permen yang sudah terekspose itu. Ia segera berjalan maju tapi karena kecerobohannya, ia malah tersandung kakinya sendiri dan mengakibatkan ia kehilangan keseimbangan.

Pikirnya, ia pasti akan jatuh dan mendaratkan bokongnya di kerasnya lantai. Tapi semua pikirannya salah, ketika dengan tidak sengaja tubuhnya menabrak sang wanita berjas dokter itu dan membuat permennya terpental jatuh kelantai. Membuatnya sedikit bersyukur karena tidak akan merasakan rasa sakit karena tidak jadi jatuh.

Tunggu….?

Bagaimana bisa ia menabrak wanita itu?

Bukankah konsep ‘tembus pandang’ berlaku untuk malaikat?

Baekhyun membulatkan matanya ketika menyadari kejanggalan yang terjadi beberapa waktu lalu, ia menatap si wanita yang sedang mengedarkan pandangannya kekanan dan kekiri dengan wajah bingung. Apa yang terjadi tadi adalah sebuah kemustahilan, bagaimana bisa itu terjadi?

Baekhyun dengan ragu mendekati si wanita, mendekati tangannya kepada lengan sang wanita dan menyentuhnya. Nihil… bahkan diri sang wanita tidak bisa di sentuhnya. Membuatnya bertambah bingung?

Apa dia salah?

Tapi rasanya tidak mungkin, ia bisa merasakan dirinya menyentuh si wanita itu.

Ia masih memperhatikan sang wanita yang sedang mengelus tengkuknya seraya tiba-tiba menghadap kearahnya. Membuat jarak mereka menjadi dekat. Baekhyun tercekat ditempatnya, bahkan sulit untuk kakinya melangkah mundur, di tambah dengan jarak sedekat ini ia dapat melihat dengan jelas warna mata sang wanita yang berwarna coklat. Sangat indah.

Sepersekian detik Baekhyun seperti terhipnotis dengan pesona tersembunyi dari si wanita itu, dan di detik selanjutnya ia tersadar dari lamunannya dan segera melangkah mundur. Mungkin ia dapat menyentuh gadis itu lagi, pikirnya. Dan sungguh ia tidak ingin itu terjadi lagi. Ini diluar batas normal untuk orang sepertinya atau – kaumnya?

Matanya tertuju pada sebuah nama yang tercetak di dada kiri si wanita, “Kang – Hye – So.” ,ejanya dengan pelan. Dan matanya terus mengikuti arah si wanita yang pergi menjauh dari sana, bahkan setelah ia tidak terlihat lagi mata Baekhyun masih setia menatap kearah yang sama.

“Ya! Aku mencarimu sedari tadi. Kau malah berdiri disini.” ,ujar Kristal yang baru tiba di sebelah Baekhyun.

Baekhyun masih terdiam, tidak menyadari kehadiran seniornya atau mendengarnya. Kristal menatap kearah yang sama dengan Baekhyun, entah apa yang di tatap oleh Baekhyun sampai ia tidak mendengarkannya. “Baekhyun!” ,seru Kristal seraya menepuk bahu Baekhyun.

“I-iya…?” ,jawab Baekhyun terkejut.

“Apa yang kau lihat?” ,tanya Kristal penasaran.

Baekhyun hanya tersenyum lebar dengan memamerkan rentetan gigi rapinya, jangan lupakan matanya yang bertambah sipit karena senyuman lebar itu. “Aku tidak lihat apapun.” ,ya… baginya lebih baik berbohong dari pada harus menceritakan hal mustahil kepada Kristal. Lagipula Kristal tidak akan mempercayainya, bahkan ia juga sulit untuk percaya.

Kristal masih menatapnya intens, membuatnya menjadi salah tingkah. Ia mencoba mengalihkan pandangannya dari Kristal dan menjadikan lolypop yang terjatuh tadi sebagai objek pengalihannya. “Sayang sekali permennya jatuh.” ,ujarnya seraya membungkukkan badan untuk mengambil permen itu dari lantai. Walau ia tau bahwa itu adalah hal yang tidak mungkin bisa di raihnya, hanya benda-benda yang di berkati yang dapat di sentuh oleh malaikat seperti mereka. Tapi…

Baik Baekhyun dan Kristal sama-sama membulatkan matanya ketika Baekhyun bisa meraih permen itu dengan tangannya sendiri. Ia hanya menggenggam permen itu dengan tatapan tidak percaya, “Omo!! Bagaimana bisa…?!!” ,pertanyaan Kristal terputus dengan sendirinya karena rasa terkejutnya.

“Bagaimana kau bisa… memegangnya?!” ,tanya Kristal akhirnya.

Baekhyun hanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang masih menatap lolypop itu. “Apa permen itu di berkati? Tapi siapa orang kurang kerjaan yang mau memberkati sebuah permen?” ,Kristal berkata entah pada siapa karena sejujurnya Baekhyun tidak mendengarkan apapun selain pikirannya yang melayang kembali pada si wanita bernama Kang Hye So itu.

Tanpa sadar Baekhyun langsung memasukkan permen itu ke mulutnya, rasanya ia seperti melayang saat merasakan rasa manis di mulutnya itu. Ia memejamkan matanya, menikmati rasa yang membuatnya penasaran selama 21 tahun ini. Hanya sebuah permen…

Kristal melihat Baekhyun yang tengah menikmati permen itu, “YA!!” ,Kristal memukul kepala Baekhyun. Baekhyun kembali terkejut seraya memegangi kepalanya yang merasa sakit karena pukulan Kristal. “Kau harus membaginya!” ,omel Kristal yang langsung menarik lolypop itu kasar dari mulut Baekhyun dan berlari secepat kilat menghindari Baekhyun yang ingin protes.

Sunbae! Itu milikku!” ,teriak Baekhyun kepada Kristal yang semakin menjauh. Hanya karena sebuah permen, tujuan dari keberadaan mereka telah mereka lupakan sama sekali.

Baekhyun ingin melangkah mengejar Kristal, tapi seperti ada yang menghalangi kakinya tetap berada disana dan pikirannya kembali menuju si wanita itu. Entah hal baru apa yang di alaminya kini. Tapi rasanya…

‘Aku bahkan tidak tau bagaimana aku menggambarkan rasaku sekarang.’

~~~###~~~TBC~~~###~~~

 

Iklan

Satu pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Another Angel (Chapter 1)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s