[EXOFFI Facebook] The Survivor (Prolog)

16790456_1334316616627869_302072239_n

 

The Survivor (Prolog)

 

Author : Oxeooh

Genre : Action, Horror, Adventure, Drama, Romance, Family.

Rating : M [Untuk adegan kekerasan dan beberapa kata-kata kasar.]

Main casts :

  1. Oh Sehun
  2. Wu Shixun [Sehun’s twin]
  3. Jung Soojung
  4. Choi Suli
  5. Kim Jongin
  6. Bae Joohyun as Oh Joohyun
  7. Find Your Self.

Shixun mendengus sebal ketika ia didorong dengan kasar oleh petugas kepolisian ke dalam sebuah sel penjara. Ini bukan pertama kalinya ia berada ditempat ini―ia sudah cukup sering keluar masuk tempat ini karena berbagai macam tindak kriminalnya. Seperti tawuran, mencuri mobil, mencuri senjata dan semacamnya. Namun bagusnya ia tak pernah berlama-lama disini―karena saudara kembarnya selalu akan menolongnya keluar.

Ia berbalik dan mendapati tahanan lain disel tersebut yang lebih tua darinya mentertawakannya. Shixun mendengus kasar mendengar tawa memuakkan orang-orang tersebut.

“Bocah sepertimu bisa melakukan tindak kriminal juga eh?” kata salah satu narapidana yang ada didalam sel itu. Disambut dengan tawa teman-temannya.

“Tutup mulutmu, brengsek.” balas Shixun kasar.

Keempat narapidana lain disel itu terlihat marah dengan ucapan Shixun. “Jaga ucapanmu, bocah!”

Shixun kembali mendengus kasar ketika dipanggil bocah. Apalagi oleh orang tua brengsek seperti para narapidana yang ada dihadapannya ini.

“Kurasa kita harus mengajarinya sopan santun.” kata narapidana lainnya. Dan perkelahian yang tak bisa dihindarkanpun terjadi.

Satu lawan empat. Hasilnya sudah bisa ditebak kan?

Meskipun begitu, Shixun mampu bertahan dari serangan narapidana tersebut. Sebelum seseorang dari mereka memukul belakang lehernya hingga Shixun terjatuh dan hilang kesadaran.

Sehun mendengus sebal sambil memasukkan ponselnya kembali kedalam saku jasnya. Ia baru saja mendapat telepon dari kepolisian tentang kembarannya yang kembali membuat masalah. Dan mau tak mau ia harus kesana setelah praktek kuliahnya selesai karena kakak perempuannya pasti tak akan mau mengurusi hal itu. Dan ia tak tega untuk sekedar membiarkan Shixun bermalam dikepolisian walaupun hanya satu malam.

“Ada apa?” tanya Jongin. Salah satu teman sekelasnya sekaligus teman terdekatnya.

Sehun hanya menggeleng sambil menjawab dengan satu nama. “Shixun. Temani aku ke kantor polisi setelah ini, Jong.”

Jongin menatap pemuda itu tak mengerti. “Kakakmu saja sudah menyerah pada Shixun. Aku tak mengerti kenapa kau masih mau mengurusinya.”

“Karena dia kembaranku mungkin.” Sehun menjawab acuh. Kemudian mulai memperhatikan dosennya yang sedang menjelaskan tentang praktikum mereka saat itu.

Sudah ada sebuah mayat dihadapan pria paruh baya yang akan menjadi bahan praktikum mereka kali ini. Dosen tersebut mendekat dan membuka sehelai kain yang menutupi mayat tersebut. Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi.

Mayat itu bangkit―dan langsung menyerang si dosen. Menggigit leher si dosen yang berteriak kesakitan dan ketakutan.

Seluruh kelas panik dan ketakutan. Mereka buru-buru meninggalkan kelas―termasuk Sehun dan Jongin.

Namun keadaan diluar ternyata tak lebih baik. Terjadi kekacauan yang sama seperti yang terjadi didalam kelas mereka. Beberapa diantara teman mereka terserang oleh salah satu mahluk penggigit itu―membuat keadaan semakin tak terkendali.

Sehun dan Jongin terus berlari keluar kampus mereka sambil berusaha menghindari serangan-serangan yang terjadi. Namun langkah Sehun terhenti ketika melihat kelas di lantai atasnya masih tertutup.

Itu kelas Soojung. Temannya. Sehun ingat Soojung memiliki jadwal dikelas itu saat ini.

“Apa yang kau lakukan, Sehun? Ayo lari!” Jongin berteriak ketika melihat Sehun yang tiba-tiba hanya diam.

Sehun tak menjawab dan hanya melemparkan kunci mobilnya pada pemuda tan itu. “Bawa mobilku ke pintu belakang. Aku akan menjemput Soojung dulu. Kutemui kau disana nanti.”

Soojung menatap bergantian binder dan dosennya. Ia cukup bosan mendengarkan dosen tua itu membacakan materi dari buku. Hell, kalau seperti itu Soojung tak perlu datang kuliah. Ia tinggal membaca buku yang sama saja dan ia akan sama pintarnya dengan teman-temannya yang lain.

Sejak tadi mereka bisa mendengar kericuhan diluar kelas mereka. Tapi dosen dikelasnya tak akan mengijinkan mereka keluar untuk sekedar melihat apa yang terjadi. Sehingga Soojung hanya bisa membolak-balik bindernya sambil sesekali melirik keluar kelas.

Tiba-tiba, pintu kelasnya dibuka oleh seseorang yang Soojung kenal. Itu Sehun―dengan jas dokternya yang terlihat sedikit kotor terkena darah.

“Jung, kita harus pergi sekarang!” teriak Sehun tanpa memperdulikan tatapan si dosen dan mahasiwa lainnya yang ada didalam sana.

Para mahasiswa tersebut langsung berbondong-bondong keluar untuk melihat apa yabg terjadi sementara Soojung merapikan tasnya. Ia bertatapan dengan sahabatnya yang ada disampingnya―Sulli, lalu berlari mendekati Sehun bersama.

“Ada apa sebenarnya, Sehun?” tanya Sulli.

“Kujelaskan nanti. Kita harus cepat.” jawab Sehun. Ia langsung menarik tangan Soojung dan Sulli untuk keluar dari ruangan itu.

Soojung tak bisa menahan keterkejutannya ketika melihat keluar dan menyadari apa yang sedang terjadi. Tangannya mencengkram tangan Sehun erat ketika ketakutan melandanya saat orang-orang yang ada dikoridor kampusnya banyak yang terserang dan panik.

Mereka berjalan turun dengan sedikit berdesakkan dengan orang-orang lainnya. Namun ketika turun pegangan tangan Sulli terlepas dari Sehun dan salah satu dari mahluk yang menyerang itu hendak menyerang Sulli yang ketakutan.

Sehun melepaskan tangan Soojung dan menarik pria yang menyerang Sulli itu menjauh. Ia membantu Sulli berdiri ketika pria itu kembali. Soojung bisa melihat mulut pemuda itu yang dipenuhi darah―kulitnya yang pucat dan matanya yang berwarna berbeda.

Dengan refleks, ia mengeluarkan penggaris besi yang selalu ia bawa―dan menusukkannya ke perut pria itu ketika pria itu hendak menyerang Sulli dan Sehun.

Pria itu hanya mundur beberapa langkah dan mengeram kepada Soojung lalu kembali mendekat. Dan Sehun langsung mendorong pemuda itu kesamping lalu kembali menarik Soojung untuk berlari ketika pemuda itu hendak menyerang Soojung.

Soojung terkejut. Bagaimana bisa ada orang yang masih bisa berjalan mendekat ketika perutnya ditusuk? Ini gila, serius.

Mereka terus berlari hingga sampai dipintu belakang. Sehun kembali meninju dan mendorong beberapa penyerang yang hendak menyerang mereka. Soojung bisa melihat mobil pemuda itu terparkir disana dengan Jongin yang ada dikursi pengemudi.

Ia masuk ke pintu belakang―sementara Sehun masuk ke pintu depan.

“Jongin, cepat jalan!” teriak Sulli yang takut ketika para penyerang tadi mengerumuni mereka. Jongin terlihat gugup dan ketakutan ketika melihat mobil mereka dikermuni oleh banyak sekali penyerang tadi.

Ia akhirnya mengunci semua pintu lalu menjalankan mobil Sehun meninggalkan kampus mereka.

“Yang tadi itu apa?” kata Sulli lagi yang menutup wajahnya dan mulai menangis karena ketakutan.

Sehun hanya menggeleng dengan kaku dan menjawab. “Aku juga tidak tahu, Sulli.”

“Mereka bahkan tidak mati saat aku menusuknya.” ucap Soojung dengan tatapan terkejutnya. Ia masih shock dengan kejadian beberapa saat yang lalu yang terlihat sangat mengerikan.

“Apalagi menurutmu mereka itu? Tentu saja mereka zombie! Kau tak lihat mereka menggigit dan menyerang tadi?” Jongin menjawab dengan nada tak kalah frustasi.

“Jangan gila, Jong. Zombie itu hanya fiksi.” jawab Sehun. Ia pernah beberapa kali menonton film zombie―namun tak pernah sekalipun berpikir untuk berhadapan dengan zombienya langsung.

“Lalu kau bisa menjelaskan apa mereka itu tadi, Hun? Mereka memakan manusia, hidup kembali dan bahkan tak mati saat ditusuk!” Tak ada yang menjawab. Mereka membenarkan ucapan Jongin dalam diam.

“Kita harus ke kantor polisi. Menjemput Shixun dan meminta bantuan kepada mereka.” kata Sehun.

Soojung dan Jongin hanya mengangguk menyetujui sementara Sulli hanya diam dengan napasnya masih memburu karena berlari dan ketakutan.

Astaga, apa yang harus mereka lakukan sekarang?

Shixun terbangun sambil memegangi kepalanya yang terasa cukup pusing. Ia masih berada dilantai sel tadi dengan sekujur lebam diwajahnya. Keningnya mengkerut ketika mendapati tak ada satu orangpun ditempat itu―dan pintu sel tersebut terbuka.

Hell, seberapa lama ia pingsan memangnya?

Ia bangkit dengan berpegangan pada jeruji besi dihadapannya. Matanya melirik pada meja penjaga yang ada disana dan tak mendapati satupun polisi yang berjaga.

Tangannya langsung membuka laci meja penjaga tersebut dan mengambil ponselnya yang tadi sita polisi yang menangkapnya. Ia sempat melihat ketika polisi tersebut menaruh ponselnya disana.

Dengan hati-hati berjalan meninggalkan tempat tersebut. Ia berusaha untuk tak bersuara karena takut seorang polisi akan datang dan kembali memasukkannya kedalam sel.

Namun lorong-lorong yang ia lewati sangat sepi.

Tak ada satupun polisi ataupun penjahat yang terlihat.

Hingga ketika berbelok Shixun menemukan seorang polisi yang berdarah-darah berlari kearahnya.

“TOLONG! TOLONG AKU!” teriak polisi tersebut pada Shixun. Dan seketika sesuatu yang mengejar polisi tersebut datang dan kini mengejar polisi tersebut dan Shixun.

Shixun langsung berbalik arah dan berlari ketika sadar jika itu adalah alarm bahaya untuknya.

Ia menatap sebuah pintu ruangan yang ada dipojok lorong lalu masuk kesana dan menguncinya rapat-rapat tanpa memperdulikan polisi yang meminta tolong padanya tadi―yang kini telah menjadi santapan yang mengejarnya tadi.

Shixun melangkahkan kakinya menuruni tangga yang ada dibalik pintu ruangan itu. Ruangan itu gelap membuat Shixun berusaha mencari saklar lampunya.

Begitu menemukan saklar lampu dan menyalakan lampunya, seringai Shixun mengembang.

Ia bisa melihat berbagai jenis senjata api disana―yang berati ini adalah gudang senjata di kantor polisi ini.

Keberutungan sedang berpihak pada Shixun saat ini. Ia mendapatkan banyak sekali senjata ketika banyak orang hendak menyerangnya.

Dengan sigap ia mengambil salah satu tas besar yang ada ditempat itu. Lalu memasukkan semua senjata dan peluru yang ada disana.

Ia melirik kearah rolling yang ada diruangan itu yang akan menjadi jalan keluarnya dari tempat ini.

Namun Shixun tahu ia tak bisa langsung keluar begitu saja dengan para penyerang tadi diluar. Ia memutuskan untuk mengangkat sedikit rolling yang tak terkunci itu―Shixun sangat bersyukur karena rolling itu tidak mengeluarkan suara yang nyaring―dan mengintip situasi diluar sana.

“Sial.” umpatnya ketika melihat beberapa orang dengan pakaian polisi dan narapidananya sedang mengerumuni satu orang. Dan Shixun langsung apa yang sedang mereka lakukan begitu melihat darah dimulut mereka. Ia mundur dan kembali menutup rolling tersebut sangat pelan.

Ini gila. Bagaimana bisa mereka memakan orang seperti itu? Apa mereka kanibal?

Shixun memutuskan untuk mengisi salah satu senjata yang ia temukan dengan peluru penuh. Ia harus siap menembak salah satu dari mereka nanti kalau-kalau mereka mencoba memakannya juga.

Ponselnya bergetar saat Shixun sedang menyiapkan senjatanya. Ia langsung dengan cepat menerima panggilan tersebut begitu melihat nama yang tertera dilayarnya.

“Xun, kau masih dikantor polisi?” Itu Sehun, kembarannya.

“Ya. Kau dimana sekarang?”

“Aku tak jauh dari kantor polisi. Aku akan menjemputmu.”

“Aku ada digudang senjata. Dibelakang kantor polisi ada rolling, disanalah tempatku berada sekarang.”

“Baiklah. Kau tunggu disitu, aku akan datang.”

“Hati-hati dengan para kanibal. Aku melihat mereka diluar.”

“Apa? Mereka juga ada disana?”

“Ya itu sebabnya sebaiknya kau cepat sebelum aku yang menjadi santapan mereka.”

Sambungan diponselnya langsung terputus dan Shixun bisa mendengar sebuah suara deru mesin mobil yang mendekat dari balik rolling tempatnya berdiri.

Ia langsung menenteng tas besar yang berisi senjata itu―lalu mengangkat rolling tersebut keatas. Dan berlari keluar.

Beberapa kanibal―Shixun memutuskan untuk menyebutnya begitu―menyadari kehadirannya dan langsung berjalan dengan langkah lambannya menuju Shixun.

Shixun mengangkat senjatanya lalu menembak beberapa dari mereka yang paling dekat dengannya. Namun mereka tidak mati dan justru kembali bangkit dan mengejarnya.

“Fuck.” umpat Shixun ketika salah satu dari mereka baru mati dengan empat pelurunya. Jika untuk membunuh satu kanibal itu membutuhkan 4 peluru, ini pasti akan cepat menghabiskan pelurunya.

“Shixun, cepat!”

“Xun, ayo!”

Shixun bisa mendengar teriakan Soojung dan Sehun bergantian yang menyuruhkan untuk cepat. Ia kemudian berlari mendekati mobil tersebut lalu membuka pintu belakang mobilnya keatas dan memasukkan tas berisi senjatanya kedalam. Lalu, ia duduk dibagian belakang mobil tersebut.

“Jalan!” perintahnya sambil kembali menembaki para kanibal yang mendekat dari belakang mobil tersebut.

Jongin memacu mobil tersebut dengan kecepatan penuh meninggalkan kantor polisi tersebut.

Rencana mereka selanjutnya adalah kembali kerumahnya masing-masing dan menjemput keluarga mereka dan membawanya keluar kota. Mereka sadar kota itu pasti sudah tidak aman meningat kantor polisi juga sudah terkontaminasi.

Rumah Sehun dan Shixun adalah tujuan pertama mereka karena berjarak paling dekat dari kantor polisi ketimbang rumah yang lain. Dan berhubung rumah Soojung berada tepat disebrang rumah mereka―itu juga menghemat waktu mereka.

Jongin dan Sulli memutuskan menunggu dimobil sementara Sehun, Shixun dan Soojung yang pergi.

“Kau panggil Joohyun, kemasi semua barang-barang yang kau perlukan dan kembali lagi kesini. Aku akan menemani Soojung kerumahnya.” kata Shixun sambil melemparkan sebuah senapan pada Sehun. “Kau masih ingat cara menggunakannya kan?”

Sehun hanya mengangguk singkat lalu berlari memasuki rumahnya sementara Shixun dan Soojung berjalan ke rumah Soojung yang berada disebrang.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu penuh luka lebam lagi.” Soojung menatap pria itu khawatir ketika mereka memasuki rumahnya. Ia sudah sejak tadi ingin menanyakan soal wajah pemuda itu tapi ia tahu situasinya tidak tepat saat dimobil tadi.

“Cepat kemasi barang-barangmu dan jangan pedulikan aku.” jawab Shixun ketus. Soojung langsung cemberut mendengarnya.

“Aku harus mencari Sooyeon eonnie juga.” kata Soojung yang kini memasuki kamarnya. Shixun hanya berdiri diluar kamar gadis itu untuk berjaga-jaga jika para kanibal itu datang dan berusaha memakan Soojung.

“Kakakmu dimana memangnya?”

“Mungkin dirumah pacarnya atau―”

“Kalau begitu kita cari setelah kerumah Jongin dan Sulli.”

Soojung hanya mengangguk patuh setelah memasukkan beberapa pakaiannya kedalam tas dan juga penggaris besi lainnya yang masih ia punya untuk berjaga diri. Ia berjalan hendak berjalan keluar namun langkahnya berhenti ketika melihat salah satu foto yang terpajang dikamarnya.

Ia mengambil salah satu foto yang menunjukkan seorang gadis dengan sepasang anak kembar yang berusia sekitar 9 tahun dan memasukkannya kedalam tasnya.

Itu fotonya, Shixun dan Sehun ketika mereka berumur 9 tahun. Ya, mereka sudah saling mengenal sejak kecil. Dan itulah menyebabkan mereka menjadi sangat dekat.

“Sudah?”

“Ya.”

“Kalau begitu, ayo!”

“Tunggu, Xun.” Soojung menahan pergelangan tangan pria itu. Tangannya lalu mengambil tissu ditasnya lalu mengusap lembut sudut bibir pemuda itu yang mengeluarkan darah.

Shixun menatap gadis itu dengan kening mengkerutnya lalu memegang tangan Soojung dan menjauhkannya dari wajahnya.

“Terima kasih.” Shixun berujar singkat lalu menggengam tangan Soojung erat. Ia bersumpah tak akan pernah melepaskan gadis itu dan membiarkan apapun menyakitinya.

Mereka kembali dan menemukan Joohyun sudah masuk kedalam mobilnya sendiri sementara Sehun menunggu mereka diluar dengan tatapan cemasnya.

“Kalian tak apa?”

“Ya.” Shixun menjawab tanpa melepaskan pegangan tangannya dengan Soojung. Sehun yang melihat pegangan tangan kedua orang tersebut hanya terdiam dengan pandangan yang sulit diartikan.

“Hei, cepatlah!” Jongin mengingatkan dengan mengklakson mobil Sehun. Sehun hanya mendengus lalu menyuruh Jongin bergeser ke kursi penumpang yang berarti pemuda itu sendiri yang akan mengendarai mobilnya.

Sementara Shixun masuk kedalam mobil Joohyun dan menyuruh Joohyun bergeser kekursi penumpang yang berarti jika ia yang akan mengendarai mobil itu.

“Jung?” Sehun bertanya ketika Soojung tak kunjung masuk kedalam mobilnya.

“Aku akan naik mobil Joohyun.” Soojung menggigit bibir bawahnya―lalu memilih memasuki mobil yang sama dengan Shixun. Sehun hanya mengangguk kaku lalu menjalankan mobilnya.

Disusul Shixun yang juga melajukan mobilnya mengikuti mobil Sehun.

TBC

Hai, aku penulis baru disini/? Tapi aku udah sering nulis ditempat lain e.e ini ff aku yang ada diwattpad, sengaja aku post disini karena ga puas sama respon yang kudapat di wattpad/? Semoga aja respon disini lebih memuaskan ya e.e Mungkin kalian berpikir ini semacem kaya Train to Busan kan? Tapi sebenernya aku lebih ke terinspirasi dari The Walking Dead, dan kalau disini responnya cukup bagus, aku akan bikin ff ini jadi trilogi kaya The Maze Runner. Nanti aku lanjutin buku dua dan buku tiganya disini hehe.

Dimohon RCLnya:))

 

Iklan

3 pemikiran pada “[EXOFFI Facebook] The Survivor (Prolog)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s