[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 10)

img_705711

Tittle/judul fanfic        : Reason Why I Life

Author                : Park Rin

Length                : Chaptered

Genre                : Romance, Family, Angst

Rating                : PG-13

Main Cast&Additional Cast    : Baekhyun

                 Park Sung Rin (OC)

                 Mingyu Seventeen

                 All EXO’s Members

                 Ect.

Summary    : Semuanya akan baik-baik saja. Kita hanya perlu menunggu hinga semuanya membaik. Tidak usah merasa bersalah semasih kau bisa memegang janjimu.

Disclaimer    : FF ini murni buatan author sendiri. Ada beberapa cerita yang mengisnpirasi author dalam membuat karakter disini. Namun, jalan cerita dan alur cerita murni buatan author sendiri. FF ini juga bisa kalian temukan di akun wattpad milik author. Id author @ParkRin98. Baca juga di blog milik author https://parkrin98.wordpress.com/

Author’s note    : Halo! Ini FF pertama author, semoga kalian suka dengan FF ini. Selamat membaca.

“Apa yang kau lakukan, oppa?” Tanya Rin segera. Ia berusaha mengatur nada suaranya agar tidak meninggi, meskipun khawatir Rin tidak boleh membentak Baekhyun yang sedang sakit.

“Menulis surat permohonan maaf.” Jawab Baekhyun pelan, tidak bukan pelan, lebih tepatnya berbisik.

***

Rin menatap Baekhyun khawatir, namun ia tidak berani mengcegah Baekhyun untuk menulis permohonan tersebut. Rin hanya berdoa, semoga setelah ini beban rasa bersalah yang di pikul Baekhyun sedikit berkurang.

Tiga puluh menit memainkan jemari lentiknya di atas ponsel, Baekhyun kemudian ia terdiam. Sepertinya, ia telah selesai menulis dan mengirimkannya pada penggemarnya. Setelah terdiam sebentar, tangan Baekhyun kembali men-scroll ponselnya. Melihat hal tersebut Rin menjadi penasaran, ia juga mulai mengambil benda perseginya yang ia letakan di meja dekat sana.

Mata Rin mulai berkaca-kaca ketika membaca bait demi bait, kata demi kata yang terlihat di layar ponsel putihnya. Tangan Rin kemudian tidak sengaja men-scroll kebawah pos tersebut, sehingga ia bisa membaca beberapa komentar di pesan tersebut. Orang – orang menulis komentar beragam mulai yang positif, hingga tidak sedikit orang juga menulis komentar negatf. Ia kemudian menatap Baekhyun yang terlihat lebih sedih. Melihat hal tersebut, tangan mungilnya segera mengambil ponsel yang ada di genggaman kekasihnya itu.

“Jangan, Rin. Aku harus membacanya sampai tuntas.” Kata Baekhyun berusaha mempertahankan ponselnya yang hampir di tarik kekasihnya.

“Kau akan terluka jika membacanya, oppa.” Rin menatap Baekhyun khawatir.

Baekhyun menggeleng. “Aku tidak apa-apa.” Jawab Baekhyun berusaha menenangkan kekasihnya. Rin hanya bisa menatap wajah kekasihnya khawatir, sedangkan Baekhyun? Baekhyun masih tetap membaca komentar demi komentar yang di tulis disana.

Lima belas menit membaca, wajah Baekhyun terlihat makin sedih, matanya mulai berkaca-kaca. Rin menatap Baekhyun khawatir, ia berharap Baekhyunya sungguh-sungguh baik-baik saja. Tak lama, mematikan ponselnya dan menaruhnya di mejanya. Rin bisa melihat jari lentik Baekhyun sedikit gemetar saat menaruh ponselnya. Baekhyun kemudian menatap Rin sedih, matanya benar-benar merah.

“Aku menghapusnya.” Lirih Baekhyun pelan, suaranya seperti orang ingin menangis.

“Kenapa?” Tanya Rin pelan, ia menggenggam tangan Baekhyun.

“Mereka semua berdebat. Aku tidak ingin mereka bertengkar.” Jawab Baekhyun dengan nada bergetar.

“Sudahlah, oppa semuanya akan baik-baik saja.” Rin memeluk Baekhyun dan setelah Baekhyun mulai menunduk. Bahu lelaki itu mulai gemetar.

Rin menarik Baekhyun kepelukannya, ia berusaha memberikan sedikit kekuatan kepada kekasihnya itu. Rin tahu di balik sosok ceria dan kuat Baekhyun, hati Baekhyun juga begitu sensitive apalagi jika menyangkut dengan fans. Ia tahu benar, Baekhyun benar-benar mencintai fansnya.

Baekhyun menghentikan tangisannya, setelah semuanya terasa lebih ringan. Memang menangis  adalah hal yang paling ingin Baekhyun lakukan semenjak berita skandalnya keluar, namun ia tidak bisa. Beban di bahunya seakan melarangnya untuk menangis. Baekhyun tidak menyangka akhirnya ia bisa melepaskan semua bebannya di pelukan gadisnya itu.

“Maafkan aku, tidak seharunya aku menangis seperti ini.” Kata Baekhyun pelan, setelah berhasil mengatur tubuhnya.

Rin menggeleng. “Tidak apa-apa” Jawab Rin pelan.

“Maafkan aku yang menjadi cengeng, padahal aku memintamu untuk mempercayakan semuanya padaku. Tapi aku malah menangis di bahumu karena ini.” Baekhyun menatap Rin menyesal.

Rin menggeleng lagi. “Tidak ada salahnya kau menangis, oppa. Aku tahu ini berat bagimu. Meskipun kau menangis sepanjang haripun semasih memegang janjimu, kau tidak usah menyeseal. Aku akan selalu mempercayaimu.” Kata Rin pelan sambil tersenyum. Baekhyun hanya menangguk, ia menggenggam tangan Rin.

“Terima kasih.” Lirih Baekhyun kemudian memeluk kekasihnya erat.

“Sama-sama.” Lirih Rin. “Semuanya akan segera berakhir, oppa. Kita hanya perlu menunggu semuanya mereda.” Lirih Rin lagi.

Baekhyun menengguk, kemudian mengeratkan pelukkannya.

***

Dua tahun sudah semenjak skandal dating itu keluar, Baekhyun sudah bisa membenahi karirnya lagi. Bahkan, ia juga sudah melepaskan status kekasih Taeyeon semenjak setahun yang lalu. Hal ini juga berdampak besar bagi hubungan Rin dan Baekhyun. Semenjak keluar berita Baekhyun putus dengan Taeyeon, mereka berdua bisa bernafas lebih lega. Setidaknya sekarang saat mereka ingin bertemu mereka bisa sidikit merasa lebih leluasa. Meskipun mereka masih harus tetap menggunakan penyamaran lengkap saat berkencan keluar.

Semenjak setahun yang lalu pula, Mingyu memulai debutnya di sebuah boygroup bernama seventeen. Anehnya, semenjak Mingyu debut, Mingyu malah berubah. Mingyu menjadi lebih peduli pada Rin saat ia memulai debutnya. Padahal yang gadis itu pikir Mingyu akan menjadi semakin cuek padanya. Bahkan, saat jadwal kosong, Mingyu akan mengetuk pintu apartemennya dan mengatakan ingin menginap.

Melihat Mingyu, kakak angkatnya itu berubah Rin menjadi makin bahagia. Meskipun Mingyu tidak pernah terlihat menyesal saat ia sering meninggalkan Rin dahulu. Rin masih bersyukur, setidaknya kakak angkatnya itu kembali menjadi peduli dengannya lagi.

Oppa, kau tidak bisa menemuiku besok? Lalu aku bagaimana dengan rencana kita, oppa? Besok adalah hari kelulusanku setidaknya sisihkan waktumu sepuluh menit saja.” Nada suara Rin terdengar jengkel saat bicara dengan seseorang di telepon itu.

“Maafkan aku Rin. Aku benar-benar harus syuting hingga larut malam, saat itu. Tidak bisakah kita merayakannya esoknya saja? Esoknya aku ada waktu.” Laki-laki yang menjadi lawan bicara Rin berusaha menenangkan Rin yang sedang kesal.

“Tapi esoknya aku harus memulai kembali persiapanku untuk ujian masuk universitas oppa. Aku hanya akan bersenang-senang sampai saat kelulusanku nanti. Kau tahu kan masuk universitas “S” itu sangat susah, aku harus benar-benar mempersiapkannya dengan baik.”

“Tapi, aku benar-benar tidak bisa Rin.” Kata laki-laki itu menyesal.

“Ya sudah, lanjutkan saja syutingnya.” Rin mengatakan itu kesal, ia kemudian menutup teleponnya tanpa mendengar jawaban dari kekasihnya itu.

Rin benar-benar kesal sekarang, bagaimana bisa kakak dan kekasihnya tidak bisa menemuinya saat ia merayakan hari kelulusannya. Ia masih bisa terima jika Rin lulus hanya dengan nilai pas-pasan, ia bahkan tidak akan mau menyuruh mereka untuk menyisihkan waktu berharga mereka. Permasalahnya sekarang adalah Rin lulus dengan nilai yang amat baik, bahkan nomor dua terbaik. Bagaimana bisa ia melewatkan semua kebahagiaan itu sendiri? Ditambah keluarga Mingyu yang juga tidak bisa datang karena adik Mingyu yang masuk rumah sakit.

Rin mejatuhkan dirinya kesal ke tempat tidur empuknya, ia berguling-guling kekanan dan kekiri untuk melapiaskan kekesalannya yang sudah hampir meledak itu. Setelah lelah menggulingkan badannya, Rin berusaha untuk tidur. Ia berusaha memejamkan matanya padahal saat itu baru pukul sepuluh malam, tapi Rin sudah terlanjur kesal. Paginya Rin berangkat kesekolah dengan muka kusut.

Saat acara tersebut, beberapa teman Rin sempat menanyakan seputar alasan mengapa muka gadis itu terlihat sangat tidak mengenakan, padahal Rin mendapat nilai yang begitu memuaskan. Rin hanya menjawab semua pertanyaan yang dilontarkan semua teman-temannya dengan sebuah senyum yang dipaksakan dan sedikit kebohongan saat bibirnya mengatakan bahwa ia tidak apa-apa. Setelah menyelesaikan kata itu, senyum Rin akan segera memudar dan digantikan dengan wajah kesal. Melihat sikap Rin yang seperti itu, teman-temannya hanya akan memandang aneh Rin lalu menggelengkan kepala mereka.

Tiga jam duduk, akhirnya acara itu selesai. Rin segera melangkah keluar dari gedung sekolahnya menuju halaman. Ia kemudian duduk sendirian disebuah bangku taman di bawah pohon pinus. Mata Rin memandang sedih semua teman-temannya saat ini. Bagaimana tidak? Saat ini mereka semua tengah asyik berfoto dengan keluarga mereka masing-masing atau teman-teman mereka. Salahkan juga Rin yang tidak pandai berteman sehingga saat acara kelulusannya, Rin terlihat begitu menyedihkan.

Jam putihnya sudah menunjukan pukul dua belas siang, tangan mungil Rin dengan otomatis masuk ke dalam jas cokelatnya untuk mengambil ponselnya. Deretan notifikasi pensan muncul disana saat Rin menekan tombol kunci di selah kiri ponselnya. Bukannya senang, Rin malah menjadi tambah gusar saat menyadari kekasih dan kakak angkatnya sama sekali tidak terlihat dideretan nama-nama disana. Rin yang benar-benar kehilangan mood-nya itu segera beranjak dari tempat duduknya. Rin mau pulang saja.

Sampai dirumah Rin melempar ponselnya asal ke atas sofanya, Ia kemudian melangkahkan kakinya menuju dapur. Ia menuangkan air dingin yang ia ambil dari kulkasnya dan segera meminum airnya kasar, berharap panas di tubuhnya karena tidak dikabari seharian dapat turun. Sebenarnya,  ini bukan masalah dikabari atau bukan, Rin sejujurnya sudah biasa jika tidak diberikan kabar sampai seharian dari dua lelaki tersayangnya. Rin hanya kecewa mereka berdua tidak memberikan setidaknya selamat untuk kelulusannya, padahal nilai kelulusan Rin di atas rata-rata.

Rin beranjak dari dapur menuju kamarnya, ia segera mengganti baju seragamnya dengan baju kaos kebesaran dan celana pendek. Ia kemudian mengambil buku tebal di atas lemari pakaiannya dan mulai membuka buku tersebut. “Lebih baik mempersiapkan ujian masuk universitas dari pada sibuk memikirkan dua orang jelek yang sama sekali tidak peka!” Kata Rin dalam hati sambil memulai belajarnya.

Tiga jam belajar membuat mata Rin mulai lelah, ia kemudian menutup bukunya dan beranjak ke tempat tidurnya. Rin merebahkan dirinya di kasur sambil memeluk boneka pororo yang di belikan Baekhyun saat ulang tahun Rin yang delapan belas. Matanya terasa begitu lelah, begitu pula hatinya. Sebenarnya selama tiga jam tadi, Rin tidak bisa fokus. Pikirannya masih tertuju kepada dua orang lelaki disana.

Rin memejamkan matanya, matanya terasa begitu mengantuk. Saat Rin akan memasuki alam mimpinya, tiba-tiba bel pintunya berbunyi. Rin mendengus kemudian bangun dari posisi nyamannya, siapa lagi yang mau menganggunya? Rin sudah cukup kesal hari ini, jangan sampauiada orang aneh lagi yang mengggangu dirinya. Rin bisa meledak. Rin melangkah kedepan dengan gusar, ia kemudian membuka pintunya kasar.

Rin memandang aneh ketika tidak ada siapapun disana, yang ia lihat hanya seikat bunga mawar biru yang ada di ujung kakinya. Rin mengambil mawar itu, lalu mengambil surat yang terselip disana.

“Selamat atas kelulusanmu.” Rin memandang aneh kertas tersebut, tulisannya tidak bisa diprediksi karena itu hasil tulisan komputer. Rin kemudian memandang seikat bunga mawar tersebut. Tiba-tiba…

Surprise!” Teriak dua orang laki-laki yang hampir membuat jantungnya copot.

Ya!” Rin memandang dua orang laki-laki yang membuatnya jengkel dari kemarin dengan gusar.

“Kenapa kau selalu terlihat imut saat kaget seperti tadi?” Baekhyun menjewer pipi kekasihnya gemas.

Rin mengerucutkan bibirnya imut, “Untuk apa kalian kesini? Katanya sibuk.” Kata Rin sinis sambil melangkah masuk.

Omo… omo, adikku ini sedang marah, ya?” Tanya Mingyu sambil tersenyum-senyum melihat tingkah ngambek adiknya.

“Menurut kalian?” Tanya Rin balik sambil menaruh bunga tersebut di atas meja makannya.

“Jangan marah, Rin-a.” Kata Baekhyun dengan aegyo-nya membuat Rin meliriknya sekilas. Mingyu yang ada disebelah Baekhyun ikut-ikutan melakukan aegyo, membuat Rin tak tahan.

“Baiklah-baiklah kalian menang.” Rin mengatakannya dengan pasrah kemudian mendudukan dirinya di atas sofa. Mendengar jawaban Rin, Baekhyun tersenyum senang sambil mengkuti Rin duduk disofa.

“Rin-a kejutannya tidak hanya ini saja.” Kata Mingyu sambil menatap Rin.

“Apalagi memang yang kalian siapkan?” Tanya Rin malas, Rin belum seratus persen selesai marah.

Setelah Mingyu medengar jabawan Rin, Mingyu seolah memberikan kode kepada Baekhyun. Baekhyun hanya menganggukan kepalanya, setelah itu Mingyu kembali bejalan menuju pintu keluar. Tak lama, Mingyu masuk kembali dengan bungkusan di kedua tangannya.

“Ayo makan!” Teriak Mingyu disana.

“Ayo!” Sahut Baekhyun disebelah Rin dengan semangat. Rin hanya memandang geli kakak dan kekasihnya itu.

“Makanlah yang banyak, Rin.” Kata Mingyu sambil memberikannya sumpit. Rin hanya menangguk sambil mengaduk jajjangmyeon-nya.

Setelah mengucapkan salam sebelum makan, mereka bertiga memulai acara makan malam mereka dengan menu jajjangmyeon, tangsuyuk, dan mandu. Mingyu dan Baekhyun tampak semangat memakan makanan mereka, berbeda dengan Rin yang tidak begitu semangat saat makan. Rin terlihat mencoba memaksakan makanan tersebut masuk kemulutnya, Rin merasakan perutnya kembali tak nyaman. Entah kenapa, dari dua tahun yang lalu Rin memang lumayan sering tidak nafsu makan seperti sekarang. Biasanya Rin akan langsung menyelesaikan makannya bila merasa seperti ini, namun karena Mingyu dan Baekhyun sudah susah payah menyiapkan semuanya, Rin merasa tidak enak sehingga berusaha dengan keras untuk menghabiskan semangkuk jajjangmyeon itu.

Jarum jam di dinding apartemen Rin menunjukan pukul delapan malam, Baekhyun dan Mingyu segera berpamitan karena mereka ada latihan dalam rangka persiapan album masing-masing. Setelah mereka berdua pergi, Rin segera memasuki kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya.

“Huek… huek…” Suara Rin mulai menggema disana, tangan Rin memegang perutnya yang terasa tak nyaman dan sakit.

Saat Rin hampir mengluarkan semua isi perutnya, mata Rin menangkap sesuatu yang janggal disana. Tangan Rin mulai gemetar, dengan cepat ia menghidupkan kran wastafel-nya. Setelah itu Rin dengan cepat megambil tisu di sebelahnya, ia mengusap bibirnya pelan sembil gemetar.

Mata Rin terbuka lebar saat melihat usapan tisu bekas bibirnya itu. Tangan dan kaki Rin terasa begitu dingin dan gemtar. Rin masih berusaha mencerna hal ia lihat saat ini. “Tidak mungkin. Kenapa bisa ada darah keluar dari perutku?” Tanya Rin dalam hati.

TBC

Iklan

4 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Reason Why I Life (Chapter 10)

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s