[EXOFFI FACEBOOK] On Valentine’s Day – Oneshoot | Ohwuvant

11130130_761413307309389_7185462360381963802_n

 

 

Judul: On Valentine’s Day
Cast: Xi Luhan, Oh Sehun, Kim Hyuna (oc), Kim Him Chan, and others
Lenght: Oneshoot
Autor: Ohwuvant
Genre: Sad Ending
Annyeong saya datang lagi bawa eFeF yang pasti. Cerita ini ada sedikit unsure kekerasan, mohon untuk tidak mencobanya dimanapun. Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejaknya!!!!!!!. Gomawo! Buat admin yang udah ngeshare, neomu gomawo BOW!!!

On Valentine’s Day

Hyuna mentap keluar jendela kamarnya rintik-rintik hujan masih memebasahi kaca jendela dan beraneka bunga mawar yang tumbuh didepan kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya mengamati ponsel yang digenggamnya. Ia membuka akun instagramnya, ia mengamati foto-foto yang diunggah oleh followersnya, terulas senyuman di bibir mungilnya saat melihat foto-foto lucu yang bermunculan. Beberapa detik kemudian matanya membulat sempurna, kemudian ia mengucek matanya yang baik-baik saja, selanjutnya ia merefresh ponselnya berharap ia salah lihat. Namun semakin ia mengingkari semakin jelas semua ini kenyataan. Hyuna melempar ponselnya, bangkit dari ranjang kemudian mengambil tas ransel yang tergantung di belakang pintu kamarnya. Tak lupa ia mengenakan syal pink bermotif hello kitty dan mantel bulu berwarna ungu kesayangannya. Ia menghapiri ranjang lalu menghubungi seseorang. “Ya, kita segera bertemu hari ini di tempat biasa.”
Klik….
Ia mengakhiri panggilannya, memasukkan ponsel kedalam tasnya kemudian berlari keluar kamar. Semua orang yang ada dirumahnya tak pernah memperdulikan kelakukan gadis yang mulai beranjak dewasa tersebut, mereka hanya berpikir untuk mencari uang sebanyak-banyaknya untuk bekal di hari tua nanti. Hyuna mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, jalanan yang becek dan berlumpur membuat mobil kesayangannya tampak kotor. Berkali-kali ia menerabos jalanan berlubang, ia tak bisa berpikir jernih saat ini. Sekarang ia semakin kesal karena disaat seperti ini bannya justru kempes, ia tidak tahu harus pergi kemana. “Aish jinja,,,,” Hyuna menendang ban mobil merahnya. Ia mondar-mandir sambil menghubungi seseorang. “Yak……. Berapa lama lagi kau akan datang Bona-ya? Aku sudah tidak sabar lagi menunggumu!” teriaknya Hyuna berjongkok di samping mobilnya, rasanya ia ingin menangis saja saat ini, namun ia tak ingin orang-orang di jalan memperhatikannya. Ia pun akhirnya hanya berjongkok sambil menyembunyikan kepalanya diantara kedua kakinya. Seorang namja bertubuh tinggi berkulit putih menghentikan mobil hitamnya di belakang mobil Hyuna. Namja itu menghampirinya, menepuk pundak yeoja itu pelan. “Noona ada yang bisa aku bantu?” ucap namja itu dengan suara khasnya. Hyuna mendongakkan kepalanya menatap namja yang ada dihadapannya. “Ah ne.” ia berdiri didepan namja itu. “Aku tidak tahu harus bagaimana, ban mobilku tiba-tiba kempes.” “Oh Noona tak perlu khawatir, aku akan memanggilkan temanku ia mempunyai bengkel di dekat sini.” Ia merogoh saku celananya mengambil ponsel dan menghubungi seseorang. “Jangan-jangan ini rencana kalian. Kalian sengaja memasang jebakan disini kemudian mencuri mobilku kan?” Hyuna menatap tajam namja dihadapannya. “Jika Noona berpikir seperti itu silahkan Noona urus saja sendiri. Aku pergi.” Namja itu meninggalkan Hyuna yang masih bingung. Ia pun kemudian mengejar namja itu sebelum benar-benar hilang dari hadapannya. “Baiklah saya minta maaf. Perkenalkan nama saya Kim Hyuna, kau bisa memanggilku Hyuna.” Ia mengulurkan tangannya. “Ternyata anda keren juga, meminta maaf untuk berkenalan denganku.” Sehun menyambut uluran tangan Hyuna “ Baiklah kumaafkan, aku Oh Sehun. Kau bisa memanggilku Sehun.” Hyuna tidak mendengarkan cemoohan Sehun, ia tidak peduli dengan kata-kata yang meluncur tajam dari mulut namja itu. “Selama kita menunggu temanmu, bagaimana kalau kita kesana?” Hyuna menunjuk sebuah pohon besar yang tak jauh dari tempat mereka berdiri. “Baiklah, cuaca sekarang memang kurang bersahabat. Pagi hari turun hujan dan siang hari panas menyengat seperti ini.” Sehun berjalan di belakang Hyuna. “Ya benar. Sehun-ssi boleh aku bertanya?” “Ye tanyakan saja, aku tidak akan keberatan.” “Kira-kira berapa lama temanmu akan datang?” “Mungkin sebentar lagi, apa kau terburu-buru?” “Ne, aku ada urusan yang sangat penting. Eottokhaeyo?” “Aku bisa mengantarmu jika kau tak keberatan.” “Kau yakin tidak apa-apa?” “Tentu, mau pergi sekarang juga?” “Ne, sekarang lebih baik.” Sehun dan Hyuna berjalan menuju mobil Sehun yang tak jauh dari tempat mereka berada. Rintik hujan kembali membasahi bumi, Hyuna yang kedinginan mengeratkan mantel bulunya. Sehun mematikan Ac mobilnya melihat tubuh Hyuna menggigil. “Gamsahamnida Sehun-ssi.” “Ehm.” Sehun menatap lurus jalanan yang ia lewati, “Setelah ini kita lewat mana?” “Kita belok ke kiri, kau bisa menurunkanku di sebuah cafe yang tak jauh dari sana.” “Sebenarnya kau kerja apa?” Tanya Sehun tanpa mengalihkan pandangannya dari jalan. “Aku?” ia tertawa geli mendengar pertanyaan Sehun. “Ada yang salah dengan pertanyaanku?” kali ini heran melihat Hyuna yang masih tertawa, kemudian mentap jalan lagi. “Aniya, hanya aku merasa geli mendengarnya. Apakah aku sudah terlihat tua hingga kau bertanya seperti itu?” “Aniya, aku kira urusan pentingmu tentang pekerjaan Hyuna-ssi.” “Stop stop stop.” Sehun menghentikan mobilnya mendadak, kendaraan yang ada di belakangnya pun ikut berhenti dan membunyikan klakson bertubi-tubi. “Kau sengaja ya?” ucap Sehun kesal. “Aniya, aku senang saja karena kau terlihat lucu.” Hyuna membuka pintu mobil Sehun, “Gomsahamnida atas tumpangannya Sehun-ssi, aku titip mobilku padamu. Kau bisa menghubungiku jika mobilku sudah diperbaiki.” Hyuna melemparkan kartu namanya diatas jok mobil Sehun, kemudian melambaikan tangannya. Teman-teman Hyuna yang tak biasa melihat Hyuna tampak bahagia seperti ini keluar dari Café secara serempak, mereka melontarkan pertanyaan bertubi-tubi kearah Hyuna. Namun gadis itu hanya tersenyum kecil atau menggeleng tanpa mengeluarkan sepatah katapun kemudian masuk ke dalam Café tanpa memperdulikan pertanyaan teman-temannya. Mereka duduk melingkar, Hyuna sebagai Leader dalam kelompok tersebut memulai menyusun rencana yang sudah mendidih di otaknya. Tak ada seorang pun yang menolak rencana Hyuna karena mereka juga merasakan apa yang Hyuna rasakan. Ponsel Hyuna berdering, ia tak memperdulikan panggilan tersebut. Ia asyik berdiskusi dengan teman-temannya dan menuliskan bahan-bahan yang mereka butuhkan. 2 jam sudah mereka berada di tempat itu, rintik-rintik hujan mulai turun kembali. Satu persatu sahabat Hyuna mulai kembali ke rumah, hanya tinggal Bona dan dirinya yang ada disana menunggu hujan reda. Ponsel Bona bordering, beberapa saat kemudian mobil berwarna merah itu mendekati Café. Bona segera berlari kearah mobil itu, namun ia kembali lagi kedalam Café untuk menemui Hyuna. “Hyuna-ya apa kau mau pulang denganku?” “Aniya, aku tak ingin menganggu kalian berdua.” “Tapi sampai kapan kau menunggu disini? Aku rasa hujan seperti ini tak akan reda hingga malam nanti.” “Gwenchana, kau pulanglah terlebih dahulu. Aku menunggu Him Chan oppa saja, pasti sebentar lagi dia pulang. Kau segera pulanglah kasian Minhyuk oppa lama menunggumu.” “Kau yakin?” Hyuna mengangguk cepat. “Baiklah, aku pulang dulu. Sampai jumpa.” Bona mengecup pipi kanan sahabatnya kemudian berlari sambil melambaikan tangannya kearah Hyuna. “Ah gadis itu selalu bertingkah seperti ini.” Hyuna kembali duduk di kursinya dan memesan coklat hangat. Sebuah pesan masuk ke ponselnya, ia mengerucutkan bibirnya membaca pesan tersebut. “Aish jinja, ada apa dengan hari ini. Mungkin seharusnya aku tidur saja, oh ya mobilku….” Ia mencar-cari nomor ponsel namja yang tadi siang menolongnya, ia lupa kalau ia tak memiliki nomor namja tersebut. “Aish…. Nan pabboya.” Ia menggigit sudut bibirnya, melempar ponselnya ke atas meja dihadapannya. Ia mengambil kembali ponselnya, berpikir keras siapa yang harus ia hubungi disaat seperti ini. Terlintas dalam pikirannya untuk menghubungi seorang namja yang selalu mengejarnya meskipun Hyuna selalu menolaknya namja itu tetap teguh pada perjuangannya untuk mengejar cinta Hyuna. Namja itu selalu berharap hati Hyuna akan berubah untuk mencintainya. Hyuna berpikir keras, “Jangan bertindak bodoh Kim Hyuna, kau ingin dia semakin gila mengejar cintamu? Jangan pernah memberi harapan pada namja gila itu bahkan hanya sebesar lubang semut saja.” Ia menggelengkan kepalanya kuat. Hyuna terlonjak, ponselnya yang berdering membuatnya terkejut. “Yoboseyo? Nuguseyo? Ne, kau bisa menjemputku di tempat yang tadi.” Dia mengusap dadanya, akhirnya ada seseorang yang menjemputnya. Hyuna meneguk coklat panas yang ada di cangkir kepulan asap dari dalam cangkir itu membuat Hyuna harus menunggu beberapa menit untuk meneguknya. Ini sudah kali ketiga ia meminum minuman itu namun namja itu belum nampak batang hidungnya. Hyuna mengambil syal pink bermotif hello kitty kemudian melingkarkan ke leher putihnya, sebuah ide brilliant muncul di kepalanya. Sehun berdiri disamping Hyuna yang tersenyum penuh kemenangan, ia menepuk pelan pundak yeoja tersebut. Hyuna tersentak, senyum diwajahnya sontak menghilang. “Kenapa kau sangat terkejut, apa yang kau fikirkan?” Sehun duduk di kursi berhadapan dengan Hyuna. “Eobseoyo, sudah berapa lama kau berada disitu?” Tanya Hyuna sinis. “Tidak lama sebelum senyum di wajah cantikmu menghilang.” Sehun mengedipkan matanya. “Oh, bagaimana dengan mobilku apakah sudah bisa aku ambil sekarang juga?” “Sebenarnya sudah bisa namun,” Sehun menatap arloji hitamnya. “Pemilik bengkel itu pasti sudah tidur, bagaimana jika kau ku antar pulang saja?” “Jinjaeyo? tapi aku harus ke beberpa tempat terlebih dahulu sebelum kau mengantarku ke rumah. Eotteyo?” “Itu tak masalah bagiku.” Sehun berdiri, “kajja, sebelum tempat yang kau tuju itu tutup.” Ia berjalan keluar mendahului Hyuna yang berjalan di belakangnya beberapa saat kemudian. Sehun melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, berkali-kali ia mengamati wajah gadis yang duduk disebelahnya. Ia menghentikan mobilnya, mengecek keadaan Hyuna yang memucat. “Gwenchanayo?” Hyuna megangguk. “apa kita kerumah sakit saja? Wajahmu pucat sekali.” “Aniya, aku hanya kedinginan saja.” Ia membenahi letak syal pinknya hingga menutupi kedua telinganya. “Baiklah, kau ambil saja kain yang ada di belang itu. Kau bisa memakainya.” Hyuna mengernyitkan dahinya, “itu milik hyungku, dia itu orangnya sangat bersih dan rapi. Kau takusah mengkhawatirkannya.” Hyuna pun mengambil kain yang ada di jok belakang. Sehun kembali mengendarai mobilnya dengan tenang.

Ohwuvant Kkaebsong Yehhet
9 Maret 17:07
Hyuna mengamati bordir yang ada di bagian ujung kain itu, ia mengenali kain yang bertuliskan ‘XLH’ dan gambar hati kecil berwarna merah di samping huruf H. “Sehun-ssi, apakah maksud tulisan XLH ini?” “Hyung bilang itu inisial namanya, Xi Lu Han. Waeyo, apakah kain itu bau?” Sehun memandang wajah Hyuna sekilas. “Aniya, hanya saja sepertinya aku mengenalnya.” Hyuna menyelimuti tubuhnya dengan kain tersebut. “Luhan Hyung bilang kain itu dari fansnya saat ia sedang berjalan-jalan di taman dengan Suho Hyung saat musim dingin 2 tahun lalu.” “Jinja?” mata Hyuna berbinar, ia menciumi kain tersebut. Ia berpura-pura menutupi seluruh wajahnya dengan kain tersebut ketika Sehun memandangnya heran. Sehun menghentikan mobilnya di sebuah toko bunga, ia membangunkan Hyuna yang tertidur. Hyuna segera terbangun dan keluar dari mobil menuju toko bunga miling Sung bersaudara langganannya. Sehun yang mulai mengantuk menyandarkan kepalanya, menutup kedua matanya yang mulai perih. Hyuna kembali ke mobil, ia membawa seikat bunga tulip berwarna ungu muda dan menaruhnya di dashboard. Ia membiarkan Sehun terlelap untuk beberapa saat. Sehun tersentak, ia mengamati sekelilingnya. Ia sangat lega saat melihat Hyuna sudah ada disampingnya sedang terlelap, ia mengamati arloji hitamnya yang menunjukkan pukul 03.00 KST. Ia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju rumah Hyuna, khawatir jika keluarga gadis itu mencarinya. Sehun membangunkan Hyuna ketika mereka sudah sampai didepan rumah gadis tersebut. Hyuna mengucek matanya yang belum terbuka sepenuhnya, Hyuna menatap Sehun sekilas kemudian keluar dari mobil menuju rumahnya tanpa sepatah katapun keluar dari bibir mungilnya. Sehun tertawa kecil, ia pun segera melajukan mobilnya. Ia segera berhenti saat melihat bunga tulip berwarna ungu yang tergeletak di dashboard mobilnya, ia segera menghubungi Hyuna. Sehun mengakhiri panggilannya, seyum tipis terlukis diwajah pucatnya. Ia segera mengambil bunga tersebut dan mencium aromanya, ia meletakkan kembali bunganya yang mulai layu kemudian melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Hyuna memasuki kamarnya, Him Chan dan Eommanya tak lagi heran dengan kelakuan anak gadisnya yang sering uring-uringan akhir-akhir ini. Mereka berdua hanya beradu pandang, lalu melanjutkan kegiatan mereka masing-masing. Gemericik air membasahi tubuh Hyuna, wajahnya yang kusut mulai cerah kembali. Ia segera menghampiri kedua orang yang sedang sibuk di lantai bawah setelah ia berdandan rapi. Kedua orang yang sedang duduk di ruang makan menatap Hyuna tercengang, ia mengenakan gaun panjang berwarna merah marun tanpa lengan, rambut hitamnya yang lurus ia biarkan tergerai, di tangan kirinya terselip tas ukuran sedang berwarna senada. Ia segera duduk di kursinya tanpa memperdulikan tatapan kedua orang tersebut, ia segera memasukkan potongan apel yang ada di piring Him Chan dan meneguk coklat panas yang ada didepannya. “Kau mau pergi kemana, dini hari seperti ini tidak biasanya kau berdandan serapi ini?” Ny. Kim melipat kedua tangannya ke atas meja. “Eomma aku akan menghadiri pernikahan temanku.” Hyuna meletakkan cangkir yang kosong, ia mengambil potongan apel milik Oppanya lagi. “Yak… kau ini. Sana potong sendiri!” Him Chan menyerahkan apel yang masih utuh. “Memangnya siapa yang mau menikah, bukannya hari ini kau dan Daehyun akan pergi merayakan valentine?” Him Chan memasukkan potongan apel ke mulutnya. “Siapa bilang aku akan pergi dengannya, kau bilang saja pada temanmu itu untuk tidak mengangguku lagi. Kau tak perlu tahu siapa yang akan menikah.” Ia beranjak dari kursinya. “Aku pergi dulu, bye….” Hyuna mengecup kedua pipi eomma dan oppanya. Hyuna berjalan santai menuju halte, gaunnya yang panjang ia jinjing untuk memudahkannya berjalan, ia tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memandangnya aneh. Beberapa saat kemudian bus yang membawanya menuju ke toko bunga langganannya datang, ia segera naik dan duduk di kursi paling belakang, ia mengirim pesan pada teman-temannya untuk segera menyiapkan bahan-bahan yang sudah mereka bicarakan kemarin dan bertemu di toko bunga milik Sung bersaudara. Ia mengambil kain yang tadi malam ia gunakan untuk menutupi tubuhnya sebagai penutup kepala, tak lupa ia mengecek syal pink bermotif hello kitty yang ia biarkan tetap berada didalam tas tersebut. Ia segera turun di depan toko bunga saat melihat Sung Jong sang pemilik tengah menyemprotkan air agar bunga-bunga di tokonya tetap segar dan cantik. Hyuna menepuk pundak Sung Jong hingga namja itu terlonjak. Ia tersenyum melihat wajah Sung Jong yang terlihat lucu. “Annyeong haseyo Sung Jong-ah.” “Anyeong, kau mengagetkanku. Kau bilang akan datang jam 09.00 KST sekarang terlalu pagi untuk mengunjungiku.” Sung Jong kembali menyemprotkan air pada bunganya. “Tapi pesananku sudah selesai kan?” “Sepertinya sudah, kau masuk saja dan bilang pada Sung Yeol hyung untuk mengambilnya.” “Ok. Hyuna berlari kedalam toko menemui Sung Yeol yang sedang menyiapkan pesanannya. “Annyeong Sung Yeol oppa. Apa pesananku sudah selesai?” “Kau tidak lihat aku sedang apa?” Sung Yeol yang kesal karena pekerjaannya terganggu hanya menjawab seperlunya. “Araseo, berapa lama lagi aku menunggumu menyelesaikannya?” “Shikero, kau duduk sajalah disitu.” Sung Yeol memanggil Tae Hyung untuk mengambil semua mawar ungu yang masih tersisa di belakang. Tae Hyung keluar dari belakang sambil membawa puluhan mawar dalam dekapannya. “Annyeong, kau sudah lama disini Hyuna-ssi?” “Ne, apakah kau butuh bantuanku?” “Aniya kau duduklah disana dan lihat saja, pembeli itu adalah ratu.” Tae Hyung mengambil kursi dan membantu Sung Yeol menyusun bunga mawar tersebut. Sebuah mobil berwarna merah yang sangat Hyuna kenali terparkir didepan toko, ia segera berlari keluar menghampiri mobilnya yang sangat ia rindukan, ia segera mengajak teman-temanya masuk ke dalam toko dan mengambil bunga yang sudah selesai disusun. Hyuna meletakkan mawar tersebut di bagasi, ia segera melajukan mobilnya diikuti mobil teman-temannya menuju ke Pulau Jeju tempat acara pernikahan tersebut berlangsung. Ia sudah tak sabar untuk menunjukkan aksinya dihadapan kedua mempelai tersebut. Hyuna memarkirkan mobilnya diikuti keenam temannya, mereka segera masuk ke sebuah taman dan membawa barang-barang tersebut sebagai kado pernikahan. Sepanjang perjalanan menuju taman mereka tertawa terbahak-bahak, saling berbisik dan tertawa lagi membayangkan hal menarik yang telah mereka rencanakan. Hyuna berjalan menyendiri berpisah dari teman-temannya, ia masuk ke sebuah ruangan. Ia mengendap-endap untuk masuk kedalam ruangan tersebut, disaat semua orang keluar dari ruangan tersebut ia masuk dan mengunci pintu. Sang mempelai laki-laki yang mengetahui ada seseorang yang masuk mengira bahwa Hyun adalah menegernya. “Manager-nim apa masih ada yang teringgal hingga kau kembali lagi?” Hyuna memeluk tubuh namja tersebut dari belakang. “Ini aku Kim Hyuna, kau masih ingat dengan kain ini?” Hyuna melepas kain yang menutupi kepalanya. “Kau siapa, bagaimana bisa kau masuk kesini? Dan bagaimana kain itu ada padamu?” “Itu tidak penting Luhan-ssi. Kau jawab saja pertanyaanku.” Hyuna menyandarkan kepalanya di pundak Luhan. “Mwoya?” Luhan melepaskan tangan Hyuna yang melingkar erat di perutnya. “Apa kau benar-benar tidak mengingatku?” Luhan menggelengkan kepalanya. “Kau masih ingin menikahi yeoja itu?” kali ini ia menganggukkan kepalanya. “Baiklah jika itu jawabanmu, kau lihat saja nanti. Aku akan memberikan kado special yang tak kan pernah kau lupakan seumur hidupmu.” Hyuna pergi dari hadapan Luhan, para staff, manager dan perias yang sedari tadi menggedor-gedor pintu menatap tajam kearah gadis cantik yang baru saja keluar dari ruangan itu dengan tenang. Luhan mematung diposisinya, ia mencerna setiap kata yang keluar dari bibir gadis tersebut yang membuatnya khawatir. Manager segera menghampiri Luhan yang masih mematung di posisinya, takut terjadi sesuatu yang buruk menimpa namja itu. “Gwenchanayo Luhanie? Luhan mengaggukkan kepalanya, ia menyembunyikan masalah dari manajernya. Ia pikir yeoja itu hanya bercanda dan tidak perlu memikirkan ancamannya lagi. Luhan keluar dari ruangan tersebut, jas hitam dengan paduan kemeja warna biru muda membuat wajahnya seakin terlihat tampan, rambut hitamnya tersisir rapi kebelakang, di saku kiri jasnya terselip bunga mawar berwarna ungu, padahal ia meminta asistennya untuk menyiapkan mawar berwarna merah. Luhan berjalan menuju taman dimana acara pernikahannya digelar, taburan kelopak bunga mawar merah mengiringi langkahnya menuju kursi pelaminan. Shin Ji yang sedari tadi gelisah menunggu di ruang riasnya, kini berjalan menuju taman diiringi taburan kelopak bunga mawar merah, Luhan yang melihat sang mempelai wanitanya segera berdiri dan berjalan menghampirinya, mengapit lengan yeojanya penuh kebahagiaan. Hyuna dan teman-temannya menyiapkan kado teristimewa untuk kedua mempelai yang sudah sah menjadi sepasang suami-isteri tersebut. Ia meletakkan sebuah kado berukuran besar di atas meja yang berada di samping tempat mereka berdiri. Hyuna kini mendekati Shin Ji yang sedang berbincang-bincang dengan para tamunya, ia menyerahkan segelas jus alpukat kepada Shin Ji. Mereka berbincang-bincang hingga tanpa Shin Ji sadari ia telah menjauh dari tempat acara pernikahannya berlangsung. Jus alpukat yang sedari tadi Shin Ji minum mulai bereaksi, tenggorokannya lengket dan tak mengeluarkan suara, ia semakin panic saat segerombolan gadis memegangi kedua tangannya kemudian menyekapnya disebuah gudang. Hyuna memanggil Bona untuk mengambilkan mawar yang ada ditangannya, ia melemparkan bunga itu ke wajah Shin Ji, ia mengambil bunga lain yang tergeletak di lantai kemudian ia mencabut duri dari tangkai mawar tersebut untuk melukai wajah cantik Shin Ji. Shin Ji hanya diam, mulutnya sulit terbuka, air matanya mengalir merasakan perih diwajahnya, kedua tangannya yang terikat tak mampu mengusap air matanya. Shin Ji yang melihat yeoja lemah dihadapannya itu tertawa puas diikuti teman-temannya. Saat air mata Shin Ji sudah berhenti mengalir, ia kembali melukai wajah Shin Ji dengan duri tersebut. Ia menjambak rambut Shin Ji dengan kasar, selanjutnya ia mengambil syal yang ada didalam tasnya untuk mencekik leher Shin Ji. “Kau harus mati ditangaku saat ini juga.” Hyuna tertawa terbahak-bahak, keenam temannya tidak menyangka jika Hyuna akan bertindak sejauh ini. Bona segera menahan Hyuna sebelum syal tersebut benar-benar mencekik leher yeoja dihadapan mereka. Bora, Dara, Mira, Hyura, dan Hyunra segera berlari meminta pertolongan. “Hyuna, aku mohon jangan bertindak seperti ini. Ini semua sudah cukup. Jangan bertindak semakin jauh, aku tak ingin kau masuk penjara.” Bona memegangi wajah Hyuna yang memerah karena marah. “Ani, aku harus menyelesaikan semuanya. Gara-gara yeoja ini Luhanku pergi dari sisiku.” Cairan hangat keluar dari kelopak mata Hyuna. “Tidak, tidak Hyuna, bahkan Luhan tidak mengenalmu. Bagaimana mungkin dia merebut Luhan darimu, sudah Hyuna. Ayo kita pulang saja.” Bona menarik tangan Hyuna untuk melepaskan syal yang mencekik leher Shin Ji. Hyuna mendorong tubuh Bona hingga membentur tembok, Shin Ji hanya pasrah jika memang ia harus berkhir di tangan yeoja ini. Luhan dan kelima teman Hyuna berdiri di depan pintu,. Luhan terdiam menyaksikan yeoja yang baru beberapa menit lalu menjadi isterinya, ia bingung harus melakukan apa. Sehun yang baru saja menyusul langsung masuk ke gudang tersebut, ia menghampiri Hyuna yang sudah berubah 180° menjadi sangat menakutkan. Air mata Shin Ji terus mengalir membasahi pipinya yang berdarah saat syal itu semakin kencang mencekik lehernya. Mulutnya yang terbuka tak mampu mengeluarkan sepatah katapun. Sehun berjalan perlahan mendekati Hyuna, Luhan yang melihat keadaan semakin menegang ikut berjalan perlahan di belakang Sehun. “Berhenti, jangan mendekat! Atau kau akan melihat yeoja ini terbujur kaku dalam beberapa detik saja dihadapan kalian!” Hyuna semakin mengeratkan syalnya di leher yeoja itu. Luhan berdiri didepan Sehun. “Hyuna-ssi jika kau marah padaku pukul saja aku!” “Mana mungkin aku marah padamu, kau bahkan masih menyimpan kain pemberianku.” Hyuna berjalan kearah Luhan. “Maukah kau pergi denganku?” Luhan mengangguk dan berjalan di samping Hyuna. Luhan memberi aba-aba agar Sehun membawa Shin Ji kerumah sakit karena keadaannya sangat parah. “Kita mau pergi kemana Hyuna-ssi?” “Kita mau pergi ke surga, kau mau pergi bersamaku kan?” Luhan mengangguk meskipun ketakutan melandanya. Mereka sampai di pinggir tebing yang sangat curam, angin bertiup kencang membuat keseimbangan tubuh keduanya berkurang. Hyuna menatap wajah Luhan yang pucat pasi, ia memegangi wajah namja itu dengan kedua tangannya. “Kau sangat tampan Xi Luhan.” Ia melepaskan tangannya dari wajah namja yang ada dihadapannya, mengamati seberapa dalam jurang tersebut kemudian berpaling ke wajah Luhan lagi. “Apa jika aku turun kemari kau akan mengikutiku?” “Aniya, neol michoseo?” ucap Luhan spontan. “Baiklah kalau seperti itu, sepertinya aku harus memaksamu.” Hyuna mengenggam erat tangan Luhan. Sebuah suara tembakan mengejutkan keduanya, Hyuna yang berada di pinggir jurang terjatuh kedalamnya. Luhan yang masih berada diatas memegang erat tangan yeoja itu, namun ia tersenyum lebar melihat wajah Luhan yang menatapnya khawatir. Hyuna melepaskan genggaman tangan Luhan, ia terjatuh ke dalam jurang dengan penuh kemenangan diwajahnya. Beberapa jam kemudian Luhan tersadar, ia mengamati sekelilingnya berharap apa yang baru saja ia alami hanyalah sebuah mimpi buruk. Sehun yang duduk di sampingnya memberitahu bahwa Hyuna telah meninggal, dan akan di makamkan saat ini juga. Luhan segera beranjak, ia mengganti pakaiannya dengan kemeja berwarna putih dan celana panjang hitam dipadukan dengan jas kaca mata dan topi hitam. Kedua namja itu menghadiri pemakaman Hyuna di bawah rintik hujan. Him Chan memeluk tubuh Luhan dan meminta maaf karena Hyuna telah mengacaukan acara pernikahannya. Luhan menerima permintaan maaf dari Him Chan, ia pun berjalan mendekat kemakam Hyuna. Luhan berjongkok untuk meletakkan setangkai mawar merah atas gundukan tanah yang masih basah tersebut. “Mianhaeyo, karena aku tidak pernah tahu bahwa kau sangat mencintaiku hingga membuatmu menjadi seperti ini. Kim Hyuna aku sangat berterima kasih atas rasa cintamu yang sangat besar hingga hari ini. Andai saja semua ini hanya mimpi, aku ingin menemuimu dan mengajakmu merayakan Valentine bersama. Aku pergi, selamat jalan Kim Hyuna.” Luhan meninggalkan pemakaman tersebut di ikuti Sehun yang tak mengeluarkan sepatah katapun berada di belakangnya.
—END—
Mian jika ceritanya tidak menghibur dan tidak dapat feelnya serta masih banyak typo dimana-mana. Gamsahamnida untuk semuanya

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s