WINGS – EPISODE V — IRISH’s Tale

altairish-wings-3

—  WINGS —

— Kai x Irene —

storyline by ALTAIR and IRISH; our winter collaboration project

action; adventure; fantasy; romance; school life

PG-17; chapterred

standart disclaimer applied

2017 © EXO Fanfiction Indonesia

[ Previous: Episode IV ]  —  [ Clicked: Episode V ]

“Dia kelewat tertarik padaku. Setidaknya aku harus tertarik padanya juga, bukan?”

EPISODE V

Bukannya Baekhyun tidak suka wanita. Dia masih normal, sungguh. Tapi, untuk pertama kalinya eksistensi seorang wanita berhasil mengusik konsentrasi seorang Byun Baekhyun.

O, tentu belum ada yang tahu bagaimana kelakar seorang Byun Baekhyun, bukan?

Bisa dibilang, dia adalah seorang yang punya kemampuan berkonsentrasi sangat tinggi. Saat Baekhyun memutuskan untuk menaruh fokusnya pada sebuah perihal, bisa-bisa dia tidak akan tahu jika ada bom meledak di dekatnya.

Dan jika ada seseorang berhasil mengusik konsentrasinya, maka patutlah orang itu diberi penghargaan. Sebab, selama ini tidak ada yang bisa mengusik Baekhyun jika dia sudah berkonsentrasi.

Adalah Son Wendy, gadis dari tingkat pertama yang berhasil mengusik konsentrasi Baekhyun siang ini kala ia tengah menghafal barisan teori. Sebenarnya, Wendy tidak mengganggu pemuda itu dengan suara-suara aneh—berhubung mereka ada di perpustakaan—tetapi ‘gangguan’ itu Baekhyun dapatkan kala ia sadar jika si gadis Son terus memandanginya.

Well, Baekhyun memang sering menjadi perhatian. Bukan karena ketampanannya yang dianggap melebihi murid lain—o, tentu bukan alasan konyol itu. Tapi karena Baekhyun identik dengan warna hitam. Dia selalu mengenakan setelan berwarna hitam.

Nah, lantas siapa yang tidak akan memperhatikan eksistensi seorang berpakaian serba gelap? Pikir orang-orang, mungkin Baekhyun adalah grim reaper atau semacamnya.

Tapi cara Wendy sekarang menatap Baekhyun tidak bisa pemuda itu golongkan sebagai cara menatap ‘terkejut’ yang biasa diberikan orang-orang padanya. Pasalnya, si gadis terus menerus menatap Baekhyun dari kursinya yang terletak di ujung meja panjang perpustakaan.

Sekarang, bagaimana bisa Baekhyun berkonsentrasi saat seseorang terus memandangnya selama hampir tiga puluh menit?

“Apa aku sebegitu menariknya untuk ditonton?” sebaris kalimat akhirnya keluar dari bibir Baekhyun setelah sekon sebelumnya dia menutup sampul buku tebal yang dibacanya sejak tadi.

Tergeragap, si gadis—Wendy—segera membuang wajah, pura-pura tidak mendengar ucapan Baekhyun barusan.

“Nona, aku bicara padamu.” Baekhyun mengulang perkataannya.

Terlihat, bahu Wendy sedikit berjengit saat mendengar ucapan Baekhyun. Sekon kemudian si gadis mendongak dari buku yang pura-pura dibacanya, menatap Baekhyun takut-takut sementara pemuda Byun itu masih menghadiahinya dengan tatapan tidak bersahabat.

“Aku?” Wendy bertanya dengan nada tidak berdosa.

“Ya, kau. Memangnya siapa lagi yang sejak tadi menatapku?” tanya Baekhyun, nada bicaranya sama sekali tidak menyisakan aura bersahabat yang mungkin bisa memberi Wendy celah untuk memperluas konversasi mereka.

Ingat, Wendy terlampau menaruh perhatian pada si misterius ini. Tapi dari yang didengarnya, Baekhyun bukanlah murid yang menonjol di tingkatannya. Dia juga tidak berasal dari keluarga terpandang sehingga semua murid mengelu-elukannya.

Baekhyun adalah seorang yang biasa saja. Yang membuatnya sedikit mencolok hanya kebiasaan berpakaian gelap yang selalu melekat pada seorang Byun Baekhyun.

“Aku tidak memandangimu—” Wendy mengerjap cepat kala alis Baekhyun terangkat. “—Sunbae.” cepat-cepat Wendy melengkapi kalimatnya, tahu benar jika ekspresi barusan Baekhyun pamerkan karena melihat bagaimana Wendy tidak menyebutnya ‘sunbae’.

Ingin sekali Baekhyun mengatakan kalau dia bukanlah orang bodoh yang tidak tahu jika seseorang sedang memandanginya—apalagi di meja sepanjang tiga meter yang ada di tengah perpustakaan ini hanya ada mereka berdua—tapi kemudian Baekhyun sadar kalau dia tengah berdebat dengan seorang wanita.

Wanita.

Catat itu, Baekhyun tak pernah berurusan dengan wanita. Bagi Baekhyun, berurusan dengan wanita adalah hal yang sia-sia karena toh, dia tidak akan bisa menang sebelum menyakiti hati wanita dengan perkataannya.

“Kau juga memperhatikanku di aula.” Baekhyun berkata, sekedar mengingatkan Wendy kalau gadis itu kepergok memandangi Baekhyun saat mereka berkumpul di aula untuk mendengarkan pengumuman.

Merasa kalah bicara, Wendy akhirnya bungkam. Ditutupnya sampul buku yang sedari tadi pura-pura jadi alibinya membaca—padahal yang jadi tujuan Wendy hanyalah memperhatikan Baekhyun saja—sebelum dia akhirnya melipat kedua tangannya di atas meja, bertumpu pada buku yang sudah ditutupnya.

“Memang benar, aku memang memandangi sunbae terus. Lalu kenapa? Memangnya aku tidak boleh memandangi apa yang ingin kupandang?” skak mat. Baekhyun sekarang mati kutu.

Bicara tentang hak perorangan, mana bisa dia seenak jidat menyalahkan Wendy atas perilakunya. Meski, ya, perilaku Wendy terhitung cukup mengganggunya. Tapi siapapun yang mendengar pengaduan konyol Baekhyun soal dia yang merasa terganggu lantaran seorang wanita terus memandangi adalah hal yang tidak wajar.

Hey, malah bisa-bisa Baekhyun dianggap terlalu percaya diri.

Lagipula, dia akan bercerita pada siapa? Sementara teman saja dia tidak punya.

“Aku merasa terganggu.” akhirnya vokal Baekhyun terdengar. Tidak ingin dia berbohong pada si gadis tentang alasan-alasan muluk yang membuatnya merasa risih ketika Wendy memandangi. Pikirnya, alasan simpel seperti itu saja sudah cukup membungkam.

Tetapi, bukan Son Wendy namanya kalau dia mudah menyerah pada keadaan canggung yang sengaja diciptakan oleh lawan bicaranya. Berlawanan dengan keinginan Baekhyun untuk mengakhiri konversasi, Wendy justru melihat kesempatan ini sebagai seberkas cahaya kecil di tengah kegelapan.

Bukankah Wendy memang ingin tahu tentang Baekhyun?

“Aku mengganggumu?” Wendy sengaja mengulangi perkataan Baekhyun.

Seolah tahu kalau gadis di depannya berusaha membuka konversasi lain, Baekhyun tidak lantas menjawab. Sejenak, dipandanginya Wendy—yang memasang senyum ramah di sana—sebelum akhirnya Baekhyun mengalihkan pandang.

Tak lagi ingin berlama-lama di perpustakaan, mood Baekhyun untuk belajar agaknya sudah menguar entah kemana. Yang tersisa hanya rasa dongkol dan kesal karena baru kalah bicara dengan seorang gadis yang diketahuinya telah mengikuti selama beberapa hari.

“Daripada terus bicara padaku, lebih baik kau belajar saja, hoobae.”

Akhinya Baekhyun mengucapkan sebuah kalimat perpisahan. Karena setelah mengakhiri kalimatnya, Baekhyun beranjak dari tempat duduknya dan melangkah dengan membawa dua buah buku bersama dengannya.

Wendy juga kelihatannya tidak ingin terus mengikuti pemuda Byun itu hari ini. Terbukti dengan bagaimana si gadis hanya terkekeh kecil, sebelum dia bangkit dari tempat duduk dan melangkah mendekati kursi kosong yang ditinggalkan Baekhyun barusan.

Masih dengan memasang senyum yang sama, Wendy duduk dan membuka satu persatu sampul buku tua yang ada di sana.

“Biar kulihat dulu… buku apa yang membuatnya selalu ada di perpustakaan…” Wendy menggumam, senyum masih terpasang di wajahnya sebelum pandangannya kemudian menangkap judul-judul janggal di lembaran depan buku-buku tersebut.

Kemudian, Wendy mendongak, memandang ke arah pintu kayu besar yang jadi tempat keluarnya Baekhyun tadi. Senyum tidak lagi terpasang di wajahnya, sementara ekspresi Wendy sekarang menyimpan penuh pertanyaan.

Sunbae… siapa kau sebenarnya?”

~

Hari ini, Wendy tidak begitu banyak bicara. Padahal biasanya, saat makan Wendy akan jadi orang paling banyak bicara—satu kebiasaan buruk yang sering membuat Nayeon kesal setengah mati—tapi tidak dengan pagi ini.

Gadis bermarga Son itu hanya makan dalam diam, sesekali menghembuskan nafas panjang sementara ekspresinya menunjukkan bagaimana gadis itu tengah berpikir keras.

“Ada apa dengannya? Jarang melihatnya pendiam seperti ini.” Nayeon jadi orang pertama yang berkomentar. Sebenarnya, Irene sudah lebih dulu ada di sana. Tapi si gadis Bae ini agaknya sama sekali tidak menaruh fokus pada sikap diam Wendy.

“Mungkin Wendy sedang datang bulan.” Irene menyahuti, netra gadis itu sedari tadi rutin memandang berkeliling, agaknya Nayeon sudah tahu benar siapa yang dicari-cari oleh Irene.

“Kai ada di sana.” Nayeon menunjuk dengan dagu. Rupanya, saat berada dalam perjalanannya menuju meja yang sudah dengan sengaja dikosongkan oleh Irene dan Wendy tadi, Nayeon sempat melihat Kai yang ada di sisi barat kantin—tidak terlihat dari tempat mereka duduk sebab ada tembok yang membatasi.

“Benarkah?” sontak Irene berucap memastikan.

Sebuah anggukan kecil Nayeon berikan sebagai jawaban, sementara dia sudah tidak ambil pusing pada sikap aneh Wendy dan kemungkinan kalau sebentar lagi Irene akan membawa nampannya pergi dari meja mereka.

Gadis Im itu memilih untuk mengisi perut saja, daripada mengurusi dua orang gadis labil yang sama-sama tidak punya keterbukaan, bukankah lebih baik bagi Nayeon untuk tidak ambil pusing?

“Kalau begitu aku pergi dulu.”

Benar saja, setelah menimbang-nimbang, Irene akhirnya bangkit dengan membawa nampannya pergi dari tempat itu. Irene, membawa dirinya memutari beberapa buah meja yang ada di sana, sebelum dia akhirnya melongokkan kepala ke sisi barat kantin, tersenyum kecil saat menemukan sosok Kai ada di sana.

Nafsu makan Irene pun sontak hilang. Tiba-tiba saja gadis itu merasa kenyang padahal dia bahkan tidak sempat menghabiskan separuh porsi makanannya. Akhirnya, Irene meletakkan nampannya di pantry besar yang ada di sisi tembok, mencuci tangannya di wastafel sementara netranya masih bersarang pada Kai—mungkin takut jika dia mengalihkan pandang barang satu sekon, Kai sudah hilang.

Gadis itu kemudian membawa dirinya melangkah mendekati Kai—yang tampak tengah makan sambil membaca dengan serius. Tangan kiri pemuda itu tengah memegang seuah buku yang terbuka, sementara tangan kanannya menyuap satu-dua kali ke mulut.

Irene perhatikan, makanan Kai sempat terjatuh karena netra pemuda itu terus terarah pada lembaran buku.

“Kai!” sapa Irene sesampainya dia di sebelah pemuda itu.

“Oh, Irene.” Kai menyahut tanpa menolehkan pandang.

Menyadari bahwa eksistensinya tidak berhasil merenggut perhatian Kai, Irene akhirnya memutuskan untuk duduk di ruang kosong yang ada di sebelah Kai.

“Buku apa yang sedang kau baca?” tanya Irene berbasa-basi.

“Sejarah.” Kai menyahuti—masih tidak menaruh atensi pada si gadis.

Irene hanya bisa ber-oh ria mendengarnya. Ia kemudian memperhatikan Kai yang masih sibuk membaca sambil menyuap diri sendiri. Gadis Bae itu berdecak pelan saat melihat bagian makanan Kai yang lagi-lagi terjatuh.

“Aku bantu saja, Kai.” tiba-tiba Irene berinisiatif.

“Apa? Membantu a—” belum sempat Kai menyelesaikan kalimatnya, Irene sudah merebut sendok yang ada di tangannya dan mengambil sesuap nasi yang ada di mangkuk di hadapan Kai.

“Apa yang kau lakukan?”

“Kenapa? Kau kan sibuk membaca, biar aku bantu menyuapimu.” ucap Irene membuat tatapan Kai melebar.

“Tidak perlu.” sahutnya singkat, lengan Kai baru saja bergerak hendak merebut sendok yang ada di tangan Irene saat dilihatnya Irene merengut.

“Kai, aku kan hanya ingin membantu.” ucap Irene merajuk. Sadar bahwa dia bisa menyimpan energi untuk hal lain yang lebih penting daripada sekedar berdebat dengan Irene dan berakhir pada kekesalannya seorang—karena Kai pikir Irene mungkin tidak pernah merasa kesal saat kalah berdebat dengannya—Kai akhirnya menghembuskan nafas panjang.

“Terserah kau saja.” ucap Kai akhirnya.

Melihat persetujuan yang baru saja Kai berikan, Irene akhirnya mulai menyuap pemuda itu. meski sedikit kesulitan karena harus sedikit menolehkan kepala ke arah Irene, tapi toh Kai bisa makan juga.

Well, jangan pikir Kai tidak tahu bagaimana orang-orang menatapnya juga Irene sekarang. Siapa yang tidak akan berpikir kalau mereka adalah sepasang kekasih yang sedang memamerkan kemesraan di tempat umum?

Membuang keengganan untuk berdebat dengan Irene mengenai situasi canggung yang akan tercipta setelah ini, Kai akhirnya memilih untuk bungkam. Percuma juga menjelaskan pada Irene, memangnya dia bisa mengerti?

“Bisa aku duduk di sini?” di luar dugaan Kai, orang lain akhirnya datang menginterupsi aktivitas Irene.

“Taehyung!” Irene berucap, dan benar saja, pemuda yang berdiri di sebelah meja mereka adalah Kim Taehyung—sosok yang entah mengapa berhasil membuyarkan konsentrasi Kai dari kegiatannya membaca buku.

“Duduklah,” Irene lagi-lagi berkata. Ingin rasanya Kai menendang saja kursi di depannya agar Taehyung terjatuh di tengah usahanya untuk duduk. Tapi akan jadi bagaimana imej-nya di mata Irene nanti?

Membuang jauh-jauh niatan buruk itu, Kai akhirnya memilih untuk mengacuhkan keberadaan Taehyung dan kembali berusaha fokus pada lembaran buku miliknya.

“Kalian berdua saja?” tanya Taehyung, melirik ke arah Kai dan Irene bergantian sementara tatapannya ia tumbukkan pada Irene sekarang.

“Hmm, ya. Aku baru saja selesai makan saat aku lihat Kai ada di sini sendirian.” Irene berucap, menjelaskan situasi yang membuatnya harus ada di meja yang sama hanya dengan Kai saja.

“Ah, begitu rupanya. Kupikir kau belum sarapan. Padahal aku sudah mengambil dua porsi makanan.” Taehyung tertawa kecil, tengah berusaha menggoda Irene tanpa sadar kalau ekspresi pemuda di sebelah Irene sudah berubah kaku.

Diam-diam, Kai melirik ke arah nampan Taehyung. Memang benar, porsi makanan yang ada di sana terhitung banyak. Tapi tolong, apa Taehyung berpikir kalau dia bisa makan satu nampan dengan Irene? Memikirkannya saja sudah membuat Kai ingin merealisasikan rencana menendang kursi yang tadi sempat dipikirkannya.

“Kau ini pandai bicara, Kim Taehyung.” Irene memukul pelan lengan Taehyung. Melupakan sejenak eksistensi Kai yang tadi dicari-carinya dengan susah payah. Well, mungkin Taehyung memang punya kemampuan untuk mendapatkan perhatian di saat dia ingin.

“Lihat, kau terkena godaanku. Pipimu saja sudah memerah.” Taehyung berkata sembari makan.

Lagi-lagi, dengan bodohnya Kai melempar lirikan ke arah Irene. Memang benar ucapan Taehyung, pipi gadis itu memerah karena ucapan Taehyung. Sekarang, Kai mengingat-ingat lagi, apa pernah Irene memamerkan ekspresi seperti itu di depannya?

“Taehyung, hentikan.” Irene berucap. Dengan kedua tangan Irene menutupi pipinya yang baru saja jadi subjek pembicaraan. Melihat hal itu, Kai akhirnya menghembuskan nafas kesal.

“Kalian berdua sangat berisik.” Kai berucap, ditutupnya buku di tangan dengan kekuatan berlebih—membuat buku itu tertutup dengan suara cukup keras—sebelum ia akhirnya beranjak dari tempat duduknya.

“Kenapa dengannya? Dia sangat sensitif akhir-akhir ini.” Irene berkomentar, dipandanginya Kai yang sudah melangkah menjauh tanpa Irene sempat menanyakan kemana pemuda Kim itu akan pergi.

Sementara itu, Taehyung kini memasang sebuah senyum kemenangan. Baru saja, dia menangkan atensi Irene—yang berhasil sejenak mengabaikan eksistensi Kai karena dirinya.

“Jadi, Irene—” lagi-lagi Taehyung membuka konversasi, untuk kedua kalinya ia berhasil membuat Irene melupakan Kai—karena gadis itu langsung menoleh ke arah Taehyung padahal tadinya dia mengkhawatirkan Kai. “—Kau ada kelas apa setelah ini?”

~

Son Wendy, agaknya sudah jadi murid bandel hari ini. Tahu bahwa dirinya akan berada di satu kelas yang sama sore ini—bersama pemuda yang entah mengapa ingin dihindarinya—Wendy akhirnya memutuskan untuk melewatkan kelas sorenya dan merelakan satu pelajaran utamanya dicoreng oleh satu kali absen.

Gadis itu tidak tahu, darimana dia harus mulai menyusun mozaik misteri tentang pemuda yang identik dengan warna gelap itu. Wendy takut, jika mungkin dirinya akan terjebak dalam masalah jika dia terlalu menaruh perhatian. Tapi mau dipikir bagaimanapun, rasa penasaran Wendy terhadap pemuda itu berhasil menekan semua logika yang ingin bersuara.

Bagaimana Wendy bisa berhenti merasa penasaran jika tiap kali ia melihat pemuda itu, satu pertanyaan lagi disimpannya dalam sudut khusus di dalam otak yang sengaja disiapkannya?

“Jangan ikut campur, Wendy. Ingat, kau di sini untuk bersekolah, bukan untuk mencari masalah.” Wendy berucap pada diri sendiri. Mengisi waktu sambil menunggu pergantian jam pelajaran, Wendy memutuskan untuk menghabiskan waktunya di perpustakaan.

Beberapa menit dilalui gadis itu dalam keheningan—karena dia satu-satunya murid yang ada di bilik membaca perpustakaan—sebelum suara gaduh pelan mengganggu konsentrasinya.

Perkiraan Wendy, seseorang pasti tengah mencari buku dan tidak berhasil menemukannya. Alih-alih menemukan buku, yang dilakukan oknum itu justru menjatuhkan beberapa buku.

Penasaran, Wendy akhirnya melangkah pelan mendekati sumber suara. Entah, Dewi Fortuna tengah membencinya atau justru berpihak padanya, tapi pemandangan yang sekarang menyambut netra Wendy memang luar biasa mengejutkannya.

Hey, untuk apa dia membolos pelajaran demi menghindari satu orang dan malah bertemu dengan orang itu di perpustakaan? Wendy baru saja membuang satu absensinya sia-sia.

Ingin rasanya Wendy berbalik, dan berlari masuk ke dalam kelas, beralasan jika dia merasa tidak enak badan dan datang bak murid teladan ke kelas, tapi batin Wendy terlanjur terganggu pada pemandangan buku berantakan yang sudah disuguhkan oleh Baekhyun dan kelakuannya.

Tanpa bicara apapun, Wendy akhirnya melangkah mendekati pemuda itu, membantunya mengambili beberapa buku yang masih berserakan di lantai dan dikembalikannya sesuai dengan aturan.

Bahkan, Wendy sempat menghela nafas panjang saat melihat bagaimana acak-acakannya buku tersebut disusun oleh Baekhyun.

Tidak ada kata berarti yang terdengar di antara keduanya. Baekhyun sendiri, sudah menghentikan aktivitasnya dan memperhatikan tindakan Wendy. Sementara Wendy sendiri berusaha menghindari kontak mata sehingga dia sengaja berlama-lama menyusun buku.

“Kurasa, aku bukan satu-satunya orang yang berusaha menghindar hari ini.” akhirnya satu kalimat membuka pembicaraan di antara mereka berdua.

Aktivitas Wendy sontak terhenti, gadis itu memandang ke arah deretan buku di depannya sebelum dia akhirnya menyelipkan buku terakhir di rak.

“Buku apa yang kau cari, sunbae?” tanyanya, memberanikan diri menatap Baekhyun yang sedari tadi menerornya dengan tatapan.

“Ramuan Kekebalan Tubuh.” vokal Baekhyun terdengar.

“Bukunya tidak ada di deretan ini.” Wendy berucap. Alis Baekhyun terangkat saat mendengar kalimat gadis itu.

“Benarkah? Bisa kau bantu aku menemukannya? Aku bukan murid Furion jadi aku tidak tahu banyak hal tentang ramuan.” Baekhyun berucap.

Wendy, mengulum bibirnya sejenak sebelum akhirnya dia mengangguk. Mungkin, karena mereka memang benar-benar bertemu karena unsur tidak sengaja, keadaan yang tercipta juga tidak secanggung kemarin.

Meskipun begitu, Wendy masih menahan diri kuat-kuat untuk tidak mengutarakan banyak celotehan tidak penting yang mungkin akan membuat Baekhyun meninggalkannya.

“Kau lebih banyak menaruh perhatian pada studi-studi tentang penyerangan individual.” Wendy buka suara, hal yang membuat Baekhyun—yang melangkah di belakangnya—memasang senyum tanpa suara.

“Wah, kau tahu banyak hal tentangku, Wendy.”

Sontak, langkah Wendy terhenti. Dua hal disadarinya telah terjadi. Pertama, tanpa sengaja dia mengutarakan tentang bagaimana dirinya yang diam-diam mencari informasi tentang Baekhyun. Kedua, Baekhyun baru saja menyebut namanya.

“Bagaimana kau tahu namaku?” Wendy berbalik, dipandanginya Baekhyun dengan tatapan sarat akan pertanyaan saat pemuda itu kemudian mengikis jarak di antara mereka.

“Kenapa? Memangnya hanya kau yang boleh tahu tentangku? Aku… juga penasaran tentangmu, Nona Son.” Baekhyun berucap, sengaja diterornya Wendy dengan pandang dingin dan langkah yang dirajutnya.

“Apa maksudmu, sunbae?” Wendy bertanya lantaran benar-benar tidak mengerti.

Apa dia sudah berbuat kesalahan karena kepergok memperhatikan pemuda itu kemarin? Apa sikap pemuda itu sekarang adalah sebuah wujud balas dendam? Atau, mungkinkah pertemuan mereka di sini sekarang hanya sebuah kamuflase dimana Baekhyun pada dasarnya sudah tahu jika Wendy membolos kelas?

“Pepatah mengatakan, jangan bangunkan harimau tidur kalau kau tidak mau diterkam. Apa kau masih tidak mengerti apa yang aku bicarakan sekarang?” masih dengan nada bicara yang menyudutkan Wendy, Baekhyun berucap.

SSunbae—” baru saja Wendy hendak berlari lantaran Baekhyun yang terus mendesaknya ke sudut, tiba-tiba saja tangan pemuda itu terulur ke belakang tubuh Wendy. Rupanya, si gadis Son sudah membawa Baekhyun ke rak buku yang pemuda itu inginkan.

Masih dengan memasang raut ketakutan di wajahnya, Wendy menatap Baekhyun sejenak. Pemuda itu tampak mengaibaikan efek dari teror yang baru saja diberikannya pada si gadis. Malahan, dia sibuk membolak balik lembar buku yang diambilnya dan sesekali mengangguk-angguk.

“Terima kasih karena sudah membantuku.” Baekhyun berkata kemudian, ditutupnya buku yang ada di tangannya sebelum dia pamerkan sebuah senyum tipis pada Wendy.

“Sepertinya kita akan sering bertemu setelah ini. Bukankah begitu, Wendy?”

~

“Bagaimana kalau Wendy diculik?”

Sebuah pertanyaan masuk ke dalam rungu Kai di tengah niatnya untuk serius mendengarkan kelas sejarah. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Irene? Sejak tadi gadis itu sibuk mencari Wendy yang tampaknya membolos kelas.

“Tidak ada yang mau menculiknya, Irene.” aih, sepertinya Kai telah salah berucap. Karena Irene akhirnya sampai pada spekulasi bahwa Kai tidak peduli pada keadaan Wendy yang tengah Irene khawatirkan.

“Kau menyebalkan. Aku bahkan sampai tidak bisa fokus pada Professor Park karena mengkhawatirkan Wendy.” Irene menggumam.

Oh, ingatkan Kai kalau mereka sekarang sedang ada di pelajaran seorang Professor muda yang kemarin Irene puji karene ketampanannya. Memang benar, sebagian besar gadis-gadis yang ada di kelas sejarah sekarang pastilah memperhatikan Professor itu—Bogum namanya—tapi setidaknya tidak dengan Irene.

Dia sudah terlanjur sibuk memikirkan Wendy sampai seorang Professor pun bisa diabaikannya.

“Nona Bae.” tiba-tiba saja sebuah vokal terdengar.

“Ah, ya?” Irene mendongak, menyadari kalau tatapan Professor Park sudah bersarang padanya.

“Kau mengabaikan kelasku sedari tadi, Nona.” ucapan Bogum terdengar. Hal yang kemudian membuat Irene mengerjap cepat, merasa bersalah lantaran tertangkap basah tidak menaruh fokus pada pelajaran.

“Ah, maaf.” Irene berucap, disahuti Bogum dengan sebuah senyuman.

“Aku hanya punya sisa waktu lima belas menit sebelum pelajaran berakhir, bisa kau perhatikan aku selama sisa waktu itu?” pertanyaan Bogum kemudian berhasil membuat tatapan Irene melebar.

Memperhatikan Bogum? Tunggu, tidak. Pasti bukan itu maksudnya. Irene pasti sudah terlampau lelah sampai bisa salah mengartikan kalimat seseorang.

“Tentu saja,” Irene akhirnya menyahut dengan diiringi sebuah senyuman.

“Terima kasih.” Bogum berkata, ia sudah kembali pada kesibukannya menjelaskan teori pada murid-murid yang mayoritas wanita dan sudah jelas lebih memperhatikan Bogum daripada pelajarannya.

“Sama-sama.” Irene mencicit pelan. Seperti yang biasa terjadi, perhatian gadis itu terlampau mudah dialihkan, agaknya.

Terbukti dengan bagaimana sekarang gadis itu menggerakkan lengannya untuk menyenggol lengan Kai yang duduk di sebelahnya.

“Kai, kau lihat itu? Dia minta aku memperhatikannya. Aku pasti sudah gila, bukan?” Kai mendengus mendengar pertanyaan Irene.

“Dia memintamu untuk memperhatikan pelajarannya.” Kai meralat kesalah pahaman yang Irene percayai dalam pemikirannya.

“Sejarah itu sangat membosankan, Kai. Aku pasti hanya bisa memperhatikan Professor Park sampai pelajaran ini berakhir.”

Nah, sekali lagi ingatkan Kai kalau pagi tadi Irene sudah membuatnya naik pitam karena interaksinya dengan Taehyung. Dan sekarang gadis itu sudah memancing kemarahan lainnya lagi?

Kalau saja Kai tidak duduk di sudut dan terkurung oleh Irene di sebelahnya, sudah bisa Kai pastikan dia akan melangkah keluar dari kelas karena kesalnya.

“Perhatikan pelajarannya, Bae Irene.” akhirnya Kai menekankan tiap anak kata yang diucapkannya. Berharap Irene akan merasakan kemarahan yang diselipkannya di tiap silabel sementara netra gadis itu tidak berpaling dari eksistensi Bogum di depan kelas mereka.

Well, bukan salah Bogum karena selalu menjadi highlight di kelas Sejarah. Salahkan saja para wanita yang kerapkali terlena pada pria-pria tampan.

Dan ya, bertambahlah satu alasan kekesalan Kai pada Irene hari ini.

~

Satu usaha pelarian diri berhasil Kai lakukan. Saat Irene dan dua murid perempuan lainnya diminta untuk maju ke depan kelas, Kai berhasil menarik diri dari keramaian dan keluar dari kelas Sejarah yang dinilainya sebagai kelas paling memuakkan untuk saat ini.

Alih-alih melontarkan kemarahan pada benda-benda di sekitarnya, Kai justru lebih memilih untuk menenangkan diri di taman sekolah. Membaringkan diri dan membiarkan angin membuai untuk lantas membawa kemarahannya terbang bersama senja.

Hey, Kai!”

Well, ketenangan sepertinya memang tidak memihak Kai hari ini. Baru saja dia akan terlelap, sebuah suara sudah menjadi pengganggu.  Adalah Chanyeol, pemilik suara itu—yang hari ini telah melewatkan kelas Sejarah demi sebuah bimbingan khusus di kelas Azwraith.

“Apa yang kau lakukan di sini?” terdengar tanya dari Chanyeol sementara langkah kakinya ia bawa mendekati Kai yang memilih diam dan memejamkan mata.

Hey!” lagi-lagi Chanyeol memanggil, ditepuknya lengan Kai—berpikir jika pemuda itu benar-benar tertidur—sebelum sebuah decakan kesal didapatnya sebagai jawaban.

“Jangan menggangguku.” Kai bicara memperingatkan.

“Kenapa? Tidak biasanya kau sediam ini.” komentar Chanyeol, diliriknya Kai yang masih bertahan di posisi semula sementara dia sendiri mengambil tempat di sisi pemuda itu.

Memang, Chanyeol pikir Kai hari ini terlampau diam—meski Kai di kesehariannya memang pendiam. Tapi, kali ini sikap diam Kai bukan sekedar karena kelakar biasanya saja.

“Kau bertengkar dengan Irene atau apa, huh?” pertanyaan yang dilontarkan Chanyeol berhasil membuat Kai membuka mata, melemparkan lirikan sadis pada pemuda itu sebelum dia menghembuskan nafas panjang.

“Bukan, bukan karena dia.” Kai menyahuti.

“Oh, ya? Kalau begitu, apa karena Bae Irene?” lagi-lagi Chanyeol bertanya, menguji kesabaran Kai, agaknya.

“Bukan.” sahut Kai.

“Lalu, karena Nona Bae?”

“Bukan, Park Chanyeol-ssi.” Kai berucap tegas, ditekankannya tiap kata seolah masing-masing kata itu bisa berubah jadi palu yang kapan saja dapat digunakannya untuk memukul pemuda di sebelahnya.

Ck, ck. Aku juga sepertimu, dulu, saat aku jatuh cinta.”

“Apa kau sudah gila?!” Kai menatap dengan membelalak, dipandangnya Chanyeol seolah komentar pemuda itu adalah hal paling tidak masuk akal yang pernah dilontarkan.

Walaupun Chanyeol memang punya kebiasaan untuk berkata di luar nalar, tapi kali ini agaknya otak Chanyeol sudah bergeser beberapa derajat. Dari posisinya. Chanyeol dan spekulasinya sudah terlampau gila.

“Baiklah, baiklah. aku hanya bercanda. Lanjutkan saja tidurmu.” Chanyeol berkomentar, kekehan kecil sempat dipamerkannya di akhir kalimat sebelum dia akhirnya membiarkan Kai kembali memejamkan mata, berusaha untuk tidur.

“Sebenarnya, aku ingin bercerita padamu tentang bimbingan yang kudapatkan hari ini di kelas Azwraith. Seperti kesepakatan kita di awal, karena ada beberapa kelas utama yang waktunya berbenturan, kita saling bergiliran mengikuti kelas dan—” kalimat Chanyeol terhenti, netranya kini menangkap satu pemandangan tidak asing.

“Dan apa?” tanya Kai menggumam.

Mendengar suara Kai, Chanyeol akhirnya memamerkan sebuah senyum samar.

“—Dan ya, kau tahu jadwal makanku jadi tidak karuan. Aku bahkan merasa lapar saat aku tidak biasanya merasa lapar. Sekarang aku juga merasa lapar. Kau tidak lapar, Kai?” tanya Chanyeol berbasa-basi.

“Tidak.”

Bingo!

“Ya sudahlah kalau kau tidak lapar. Aku akan ke kantin dulu, kalau saja kau mau menyusul. Oke?” Chanyeol berucap sebelum dia menepuk pelan lengan Kai dan lekas melangkah meninggalkan pemuda itu.

Oh, tentu saja Chanyeol sengaja melakukannya. Karena beberapa sekon yang lalu, pandangnya baru saja bertumbukkan dengan Irene yang tengah melangkah sendirian.

~

“Jadi alasan kenapa werewolf dan vampire bermusuhan selama ini karena werewolf itu sangat kuat dan para vampire ingin menjadikan mereka budak?” sebuah tanya diutarakan salah satu gadis pada gadis lain di sebelahnya.

“Iya, itu alasannya, eonni. Karena para werewolf itu sebenarnya lebih kuat daripada para vampire. Mereka mempunyai sebuah momentum dimana mereka bisa lebih kuat dari para vampire.” si gadis mengangguk-angguk saat mendengar jawabannya.

“Ah, aku rasa aku harus banyak membaca sub-bab kali ini. Yerin, apa kau lapar? Mau ke kantin?”

Si gadis bernama Yerin yang diajak bicara menjawab dengan gelengan pelan.

“Aku ada janji dengan Jaehyun akan pergi ke kebun utara Claris untuk mendata perkembangan bayi Griffin yang baru.” Yerin menolak halus.

“Ah, baiklah. Aku akan pergi sendiri ke kantin.”

“Maafkan aku. Mungkin lain kali, kalau begitu aku pergi duluan. Sampai jumpa nanti, Irene eonni.”

Irene mengukir senyum di wajahnya dan melambaikan tangan pada Yerin. Selepasnya, ia berjalan menuju kantin, melewati beberapa koridor dan beberapa murid yang hilir-mudik melewatinya.

Dalam perjalanannya, beberapa orang murid kelas Furion menyapa dan di balas oleh Irene dengan ramah, tentunya. Meski bagi si gadis, interaksi ini terasa sedikit aneh. Well, memang Irene tidak pernah ada niatan untuk berburu sosialisasi di kelas, tapi sejak dua hari lalu, Irene serasa jadi artis di kelas Furion.

Bukan hanya karena dia berjulukan Dewi dari Furion, tentu saja. Tapi karena dua hari lalu saat kelas Furion mengadakan uji praktek, semua murid terkesan dengan kemampuan Irene. Dan sejak waktu itu dia mulai bersosialisasi sedikit dengan teman kelasnya.

Dan sejujurnya, tadi pagi saat ia bersama dengan Kai, ia ingin memberitahu kepada pemuda itu tentang kemajuan pesat yang sudah dilakukannya. Berhubung mood Kai sedikit tidak bersahabat sepanjang hari ini, Irene seolah kehilangan keberanian dan kesempatan untuk bicara.

Terlebih lagi, Irene tidak habis pikir dengan sikap Kai. Mengapa dia selalu bersikap super sensitif saat Irene ada di dekat Taehyung atau ada Taehyung di sekitar mereka? Memangnya Taehyung salah apa?

Baru saja Irene mau menyibukkan diri dengan spekulasi, pandangnya sudah bertemu dengan Chanyeol—yang tengah duduk di sebelah seseorang yang berbaring di rumput taman.

Lambaian tangan Irene pamerkan pada Chanyeol, yang dijawab si pemuda dengan lambaian juga senyuman. Sekon kemudian, Chanyeol menggerakkan telunjuknya ke arah pemuda yang tetidur di sebelahnya.

“Ah, itu Kai.” Irene spontan tersenyum lebar ketika ia sadar kalau Kai-lah pemuda yang ada di dekat Chanyeol.

Baru saja Irene akan bersuara, dia sudah melihat Chanyeol melangkah pergi, meninggalkan Kai sendirian. Sontak, Irene melihat kesempatan in sebagai sebuah momen yang tidak mungkin dilewatkannya begitu saja. Irene berlari kecil, berusaha secepat mungkin untuk sampai di dekat pemuda Kim itu.

Hey!” panggil Irene ketika sudah berada disamping Kai.

Sadar pada suara yang baru saja menyapa, Kai membuka mata sedikit, menghembuskan nafas panjang saat nyatanya sosok yang menghampiri adalah sosok yang paling tidak ingin ditemuinya hari ini.

Hmm. Ada apa?” tanya Kai dengan suara datar, membuat Irene berpikir jika Kai mungkin merasa kesal karena kedatangannya sudah mengganggu tidur siang pemuda Kim itu.

“Aku hanya ingin memanggil. Memangnya tidak boleh?” Kai menatap Irene dengan intens kali ini. Ayolah, Kai sudah hafal dengan sikap gadis Bae ini.

“Aku kenal baik tentangmu, Nona Bae. Pasti ada sesuatu yang ingin kau bicarakan. Jadi, cepatlah bicara.” jawab Kai sekenanya.

“Baiklah, baiklah.” Irene mendudukan tubuhnya dan mengambil nafas dalam lalu menghembuskannya pelan. Setelah itu, ia menatap Kai dan disambut dengan tatapan yang berkata cepat-ceritakan-sebelum-aku-kehabisan-kesabaran milik Kai.

“Aku hanya ingin bertanya. Kenapa sikapmu hari ini kembali lagi seperti tiga hari kemarin? Perasaanku, kita sudah baik-baik saja kemarin. Tapi kenapa pagi ini kau kembali menjengkelkan? Apa aku berbuat salah padamu?”

“Tidak.”

Hanya tidak? Duh, kalau saja boleh, Irene sudah pasti akan menyarangkan sebuah jitakan di kepala Kai karena jawaban singkatnya.

“Lalu kenapa? Apa karena Taehyung?” sengaja Irene langsung bicara to the point. Percuma mengulur-ulur konversasi dengan Kai, mungkin saja pemuda Kim itu meninggalkannya lagi tanpa Irene punya kesempatan untuk menjelaskan.

Sepersekian sekon tak ada jawaban dari pemuda Kim itu, ia hanya memperhatikan Irene. Membuat Irene beranggapan tentang jawaban apa yang mungkin akan diterimanya. Namun menit berlalu, dan Kai belum juga berbicara, membuat Irene akhirnya jengah juga.

“Kai, ayo jawab. Apa pertanyaanku sesulit itu untuk kau jawab?” Irene kembali bertanya, namun Kai masih bergeming.

Mengabaikan kemungkinan bahwa dia akan terkena omelan Kai atau diejek sebagai seorang gadis banyak bicara, Irene lagi-lagi membuka mulut untuk mendesak Kai dengan kalimat.

“Kai—”

“—Luruskan kakimu.” tatapan Irene melebar saat mendengar ucapan Kai.

“Apa maksudmu? Ada apa dengan kakiku?” pertanyaan bodoh Irene utarakan sebagai wujud ketidak mengertian.

“Luruskan.” Kai lagi-lagi berkata, penuh otoritas dan penegasan yang membuat Irene merasa bahwa dia tidak seharusnya banyak bicara saat Kai masih menyimpan kekesalan seperti saat ini.

Sejenak, Irene menggembungkan pipinya kesal, tapi toh dia turuti juga permintaan Kai—meluruskan kaki, tentu saja.

“Aku akan tidur siang sebentar, bangunkan aku lima belas menit lagi. Setelah itu aku akan mengantarmu ke kantin untuk makan siang—karena aku yakin kau pasti belum makan. Ingat, bangunkan aku dalam lima belas menit.”

Belum sempat Irene bertanya, Kai sudah terlanjur melakukan tindakan yang membuat jantung Irene hampir melompat dari persinggahan. Pemuda itu—Kai, tentu saja—membaringkan kepalanya di atas paha Irene sementara netranya kembali menutup rapat.

“Kai, apa yang kau—”

Ucapan Irene terhenti saat Kai menyilangkan jari telunjuknya di bibir. Garis dingin yang dipasangnya di wajah adalah peringatan bagi Irene kalau dia tidak boleh menolak—bahkan berkomentar—tentang sikap Kai sekarang.

Alhasil, Irene hanya bisa terdiam dan menuruti apa kata pemuda itu. Sebenarnya, Irene ingin sekali berceloteh banyak pada pria yang sekarang tengah berusaha tidur di kakinya, tapi ia urungkan niat itu lantaran tahu kalau banyak bicara saat mood Kai sedang buruk mungkin akan berujung pada hal-hal yang tidak Irene inginkan.

Gadis itu sudah merasa nyaman—bukan karena mereka tengah melakukan adegan khas opera romansa, tentu saja—tapi karena sekarang sikap Kai menunjukkan bahwa dia tidak lagi membangun benteng permusuhan atau kekesalan pada Irene.

Pemuda itu mungkin tidak marah, Irene berspekulasi. Dan pemuda itu bahkan bisa terlihat memasang ekspresi tenang saat tertidur di atas kakinya. Diam-diam, Irene memperhatikan paras pemuda itu, sadar bahwa hanya wanita bodoh yang akan menilai Kai sebagai sosok yang tidak sempurna.

Lagi-lagi, Irene pikir dirinya dulu tidak menyangka jika akan jadi sedekat ini dengan Kai—mengingat Kai sampai detik ini tidak banyak dekat dengan murid lain, apalagi wanita. Senyum tanpa sadar muncul di wajah Irene saat dilihatnya semilir angin meniup anak rambut Kai, mengacak surai pemuda itu hingga membuat Irene merasa jika angin tengah memamerkan pahatan sempurna Tuhan yang sudah dibaginya di paras seorang Kim Kai.

Tanpa sadar, jemari Irene bergerak untuk merapihkan rambut pemuda itu, menyingkirkan anak rambut nakal yang menutupi dahi si pemuda dan mungkin akan mengganggu tidur sejenak si pemuda.

Lagi-lagi, Irene tanpa sadar menahan kekehannya lantaran mendapati dirinya tengah berinteraksi dengan surai si pemuda. Well, angin berhembus saat Irene tengah berada di tengah usahanya untuk merapikan rambut pemuda itu, membuat usahanya jadi sia-sia.

Sekon kemudian Irene sadar, bahwa kali ini jantungnya telah berkhianat lantaran telah berani berdegup kencang karena seorang Kim Kai.

“Bagaimana bisa kau membuatku jadi seperti ini, Kai?”

~

“Kai, tidakkah kau pikir kalau jam di kelas ini sudah dimanipulasi?”

“Kenapa memangnya?”

“Kau pikir apa lagi? Tentu saja aku bosan, bodoh. Aku ingin segera kembali ke asrama.” Kai terkekeh mendengar jawaban dari sahabatnya—atau lebih tepatnya Chanyeol.

Mereka berdua kini sedang berada di kelas Azwraith karena ini adalah kelas yang disesuaikan dengan kemampuan yang berasal dari masing-masing individu itu sendiri.

Ada empat kelas wajib di Claris yang tidak bisa dipilih oleh murid karena kelas-kelas tersebut harus sesuai dengan kemampuan mereka. Kelas Azwraith, dimana semua murid yang mempunyai kemampuan untuk mengendalikan kekuatan yang bersifat menyerang.

Crestfall, kelas dimana murid yang mempunyai kekuatan untuk bertahan diri dalam skala besar maupun kecil. Magus, murid yang mempunyai kekuatan mistis serta bisa berhubungan dengan roh akan di tempatkan di sini.

Terakhir, Furion, kelas dimana semua murid yang memiliki kekuatan atau ketertarikan dalam bidang penyembuhan dan kesehatan akan berkumpul di sini.

Claris menempatkan siswanya tepat seperti bagian-bagian dalam pertempuran. Dan ya, baik Kai maupun Chanyeol sama-sama ada di kelas ini karena kemampuan mereka.

“…Itulah kenapa, kondisi pada tubuh serta fokus yang kita gunakan akan mempengaruhi pengendalian kemampuan kita. Jika kita kehilangan fokus atau kondisi tubuh kita tidak sehat, maka apa yang akan kita lakukan dengan kemampuan kita tidak akan berjalan sempurna. Baiklah, itu saja hari ini. Ada pertanyaan?”

Ingatkan lagi Chanyeol dan Kai kalau mereka sedang ada di tengah pelajaran.

“Baiklah, aku anggap tidak ada. Kalau begitu, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya, selamat sore!”

Whoah, akhirnya bebas! Kai, ayo kita ke kantin. Aku rasa aku butuh beberapa potong fried chicken dan cola.” Chanyeol meregangkan kedua tangannya seolah ia baru saja lepas dari ikatan erat bernama pelajaran, sedangkan Kai melirik pemuda bermarga Park itu—memilih untuk melanjutkan apa yang sedang ia tulis daripada menghiraukan euforia sahabatnya.

“Kau pergi saja duluan. Ada beberapa hal yang harus aku selesaikan terlebih dahulu, pesankan aku satu apa saja yang kau pesan.” Chanyeol bangkit dari duduknya dan menatap sahabatnya dengan sedikit keterkejutan di kedua netranya.

“Kau serius?” Kai memberikan anggukan pelan sebagai jawaban.

“Baiklah, aku pergi duluan. Sampai bertemu di sana.” tidak ingin mempertanyakan alasan Kai yang lain, Chanyeol akhirnya memilih untuk tidak ambil pusing. Pemuda itu lantas mengangguk-angguk dan melenggang pergi meninggalkan Kai dan keluar dari kelas.

Sementara itu Kai hanya menggeleng-geleng pelan melihat kelakuan sahabatnya itu. Ia sendiri memilih untuk melanjutkan aktivitasnya, sebab makan tidaklah sepenting menyelesaikan tugas.

Tidak seperti Chanyeol yang seringkali mengerjakan tugas hanya saat dia ingin, Kai lebih perfeksionis. Ia tidak ingin keluar dari kelas dengan menyisakan tanggungan apapun karena bagi Kai, pelajaran hanya berlaku saat ia ada di dalam kelas saja.

Kai kemudian mengeluarkan beberapa buah buku dari dalam tasnya, membeber buku-buku tersebut di meja dan membuka halaman demi halaman, menyalin isinya ke buku catatan yang jadi fokus utamanya.

Well, karena kelas mereka di akhiri dengan sebuah tugas yang diberikan di awal pelajaran, Kai tentu tidak ingin menjadi seperti Chanyeol yang mengerjakan tugas hanya saat dia ingin.

Lagipula, mengerjakan tugas di kamar sangatlah tidak efektif. Karena Chanyeol akan terus mengganggunya dengan mengajak ini-itu yang berujung pada kegiatan tidak jelas dan buang-buang waktu.

“Kai.”

Kai mendongak saat mendengar sebuah suara menyapanya.

“Ah, Baekhyun sunbae.” Kai tersenyum simpul dan membalas sapaan Baekhyun—salah satu sunbae-nya di kelas Azwraith.

“Boleh aku berbicara denganmu? Sebentar saja.” Baekhyun berkata, melirik buku-buku yang ada di hadapan Kai seolah eksistensinya mungkin mengganggu fokus Kai.

“Tentu saja.” Kai menyahut.

Tanpa berkata apapun, Baekhyun mendudukkan dirinya di bangku yang ada di depan meja Kai, menatap pemuda itu masih dengan menyimpan deretan kalimat di dalam mulut.

“Apa ada yang bisa aku bantu?” tanya Kai, mungkin saja sunbae-nya ini membutuhkan bantuan darinya meski Kai sendiri tidak pandai menduga-duga.

Baekhyun, mengerjap cepat sebelum ia kemudian menggeleng pelan dan mulai bicara. “Aku dengar… kau salah satu murid berbakat dari angkatan baru, bahkan kau bisa mengalahkan seorang Cyclops sendirian dimana aku dulu harus membutuhkan lima orang untuk menaklukkannya.”

Baekhyun menghentikan kalimatnya sejenak, seolah memberi waktu selama sepersekian sekon bagi Kai untuk mencerna maksud dari ucapannya.

“Lantas, ada apa, sunbae?” tanya Kai yang mulai menaruh atensi pada konversasinya dengan Baekhyun.

Melihat bagaimana Kai bereaksi terhadap ucapannya, Baekhyun akhirnya memberikan sebuah seringai pada pemuda Kim itu.

“Aku… ingin menanyakan sesuatu padamu, Kai.”

tbc

Altair’s Fingernotes:

IZINKAN AL UNTUK TERTAWA TERBAKA-BAHAK KARENA TINGKAHNYA IRENE SAMA SI KAI. SUMPAH, ANE KETAWA-KETAWA TIAP LIAT SCENE MEREKA BERDUA.

Irish’s Fingernotes:

Ane demen BaekWen ;~~; dua-duanya sama-sama pinter cuma yang atu kalem yang atu berusaha kalem demi imej ;~~; hwhw, Cabeku ~ Cabeku ~ apa kabar hubungan LDR kita yang belum jelas ujungnya ini? :”)

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

48 pemikiran pada “WINGS – EPISODE V — IRISH’s Tale

  1. Lagi gabut ngubek” library kak rish eh nemu ini ff,, btw sorry ya kak baru komen d chap ini aku bacanya ngebut soal e 😄😗
    Kapan dilanjut lagi kak? Keren ini ceritanya gampang aku nangkep ceritanya/efek baca game over 😂😂
    Lanjut terus ya kak rish😍fightingg!!

  2. Kaaaak… kapan update lagi T_T Ini fanfic ternyata candu banget. Kenapa gak update2 kakak??? Lagi berantem sama kak Altair kah? *EH*

    It’s June already huhuhu…:(

    • XD kenapa serem sekali tebakannya… wkwkwkwkw tengkar sama Al itu sering ~ tapi damai2 sendiri dan engga berujung sama mogok ngetik sih ._.v diriku lagi ngaturin jadwal2 publish ff yang udah lama kutelantarin jadi… sabar yaa :”)

  3. Ane yang biasanya seneng sehun irene jadi senyum2 sendiri sama scenenya kai irene,aigooo,cocweetnya mereka,udah ngebayangin pad kai minta irene lurusin kaki,,,
    Terus sih bacon kenapa pakek doyan item,sih bacon lebih asyik sama imut gitu daripada dibikin misterius gitu,tapi gak apa2 lah,miga dah gak ada gangguan buat hubungan kairene sama baekwen,biarkan masalah itu datang dari mereka,tolong jangam buat kisah segitiga,aku tak kuasa…
    Cepetan upload kak,i’m waiting it….

    • Mbb ya sayangs :* Buakakakakakkaka alhamdulillah ada satu lagi yang terkena invasi Kairene XD aku berbangga hati wkwkwkwkwk XD harusnya si cabe dibuat imej alay ya XD duh kenapa diriku enggak kepikiran XD wkwkwkwkwk tunggu ya tunggu… insya Allah awal Juni nanti update ku sudah teratur…

  4. Taehyung jangan ganggu hubungam kai sama irene😭 baek kenapa tiba2 berubah sikap sama wendy? Suka kali ye?
    Tanggung jawab nih gua jadi shipperin kairene, maafkan diriku mbak italllㅜ.ㅜ

  5. Duhhhh al duhhh rish kenapa tbc harus disitu ???? Hufttttttt aq harus merelakan rasa penasaran ku ini untuk menunggu chap selanjutnya deh,, aq juga penasaran kaya wendy siapa baekhyun sebenarnya ????? Spoiler dong

    • Mbb ya sayangs :* harusnya dimana kah tbc ini kuletakkan…. wkwkwkwkwk XD sabar ya sabar, ini udah mau tiga bulan sejak ini epep kuduakan sama epep lain XD

  6. idiiihhhhhhh… kai nyuri” kesempatannn… modus jaman emak gw muda tuh.. kkkkkkkk
    aduh”… kai kai
    seumpama ini bukan cerita tapi drama sungguhan, pas syuting scene baekwen.. abis scene pertama ketawa” ketiwi” ma tingkah masing”.. kkkk kocak duo ini.. sok”an misterius lu baek…pake ngikutin gaya kyungsoo item” semua..
    tumben duo AlRish gk banyak ngomong…

    • Sek sek ini apa yang masuk dalem kategori modus jaman emak2 muda? XD wkwkwk dulu emak sama bapak ane modus-modusannya pake surat cinta sih yang ada ‘setuju tidak setuju harus dibalas’ gitu XD wkwkwkwkwkwkwkwkkwkwk bagian BaekWen ini sebenernya pait-pait manis, ada paitnya bikos si cabe begitu kelakuannya, manisnya ya si Wendy XD wkwkwkwkwkwkwk KYUNGSOO EMANG TERLAHIR BERAURA ITEM, PAKABAR CABE YANG IKUT TERINSPIRASI…
      tanyakan pada Al ~ ane mah banyak yang mau diketik di a/n tapi takut saingan sama epepnya XD

  7. Kak iriiiiish
    Sama kak altair

    Akhirnya diriku selese baca
    Ngebut
    Ketinggalan banyak, dari eps.3 huhuhu
    Baru sempet baca sekarang
    Maaf baru komen yang disini, terlalu menikmati sampe lupa wekawekaaa

    GILS AKU KANGEN SAMA KAIRENE HUWEEEE
    long time no c T.T
    Kairene ada perkembangan pesat selama aku tinggal :”) kai jadi childish nih, dikit dikit jealousan kkkkkk
    Irene juga sering polos banget :V
    Cieeee calon pasangan hots terbaru
    Baekwen
    Wendy sok anteng ah XD jadi pendiem gitu
    Baekhyun misterius banget yaaaa
    Masak item item muluk pakaiannya

    Mungkin warna bajunya luntur kali, jadinya item semua .-.

    Agak takut sih kalo si wendy cuma dimainin sama cabe
    Tapi kayanya nggak deh

    Btw liat hubungan kairene kaya gini, bakalan nyesek kalo tiba tiba ada benalu diantaranya :3

    Ini mereka udah fix pacaran apa masih hts? :”)

    Kutunggu kabar selanjutnya dari kalian kairene baekwen

    Semangat nulis kakak-kakak tercuintaaaahhh :*

    • KAMU BACANYA NGEBUT SENGEBUT DIRIMU NGETIK INI KOMEN YHA ~~ WKWKWKWKWK
      ketinggalan baru 2 episode, jangan sedih XD wkwkwkkwwkkwkkwk kalau dirimu bersedih diriku juga ikut bersedih XD wkwkwkwkwkwk
      alhamdulilah juga kalau ada yang kangen sama Kairene ~ berarti usaha si Al buat nyomblangin mereka berdua itu berhasil XD wkwkwkwkwkwkwk
      INI PERKEMBANGAN SELAMA 2 EPISODE ITU BISA DIITUNG SEBAGAI PERKEMBANGAN PESAT YAH XD XD DUH AKU BAHAGIA XD WKWKWKWKWKWK
      alhamdulillah semoga semua orang juga merestui BaekWen di sini ya Lord XD wkwkwkwkw
      nah, titik permasalahannya, si cabe dulu beli baju itemnya satu kodi, jadi dia enggak bisa ganti warna lain sebelum warna itemnya habis XD wkwkkwkwkwkwk
      SINI KUKASIH BENALU DEH DI HUBUNGAN MEREKA BIAR SEMAKIN PANAS MACEM KOBARAN API CINTAKU KE BYUN BAEKHYUN WKWKWKWKWK THANKS A LOT YAA KARENA UDAH NYEMPETIN BACA XD XD XD

  8. Yeaaaay irene mulai jatuh cinta cie cie cie cieeeee 😍😍😍 makin seneng ma couple kairene 😙😙😙😎 baekhyun bad boy bangeeeet sukaaaa banget ma karakter baekhyun yg bad boy gitu susah ditebak (#eaaaa)
    Ak udh nunggu bangett wings up hehe pas baca seneng banget karena chapter ini panjaaaaaaaaaaaang banget sampe bingung kok ga selesai2nya?? Pas nemu kata to be continue rasanya tuuuuu gregeeet bgt 😣😣😣😣 (#maafkanmulaialay)
    Makasiiiih banget kak irish dn kak altair udah bikin chap ini panjang hehe 😆😆😆
    Semangat ya kak nulisnya di tunguuuuu banget kelanjutannya

    • buakakakak di Irene mah udah ada benih2 cinta gatau lagi di Kai mah XD alhamdulillah ya Lord ada yang suka kalau mereka dijodohin XD wkwkwkwkkw ADUH DUH SESUNGGUHNYA DIRIKU JUGA HEBOH SENDIRI LOH KETIKA SI CABE JADI MACEM INI… KOKORO INI LOH GA KUAT T.T
      ini semacam ambigu, kamu nyari2 kapan end nya tapi pas end kamu sedih? sini kucium peluk tanpa diskon XD wkwkwkwkkwkkwk diriku juga amat sangat berterima kasih karena dirimu masih menyempatkan diri untuk ngebaca cerita ini {}

  9. yeayyy kairene sweet kebangetennnnn ga banyak omong deh buat mereka di chapter ini cumaaaaaa berharep lg yg lbh sweet di chapter selanjutnya ahh my baechu emg bener2 cocok sm siapa aja. but kayanya q beda sendiri deh sm baekhyun-wendy bukannya aku ga suka aku hanya ga bisa lihat baek sm cewek lain selain irene lagi haha

  10. Aaaaaa, kai-rene yang langgeng yaaa….
    Taetae ga usah jadi orang ketiga napaa…, kayak g ada cewe lain aja, kan masih ada akuu tae/plak/ ㅋㅋㅋ
    Ditunggu chap selanjutnya thor^^
    화이팅♡♡

  11. Ciee yang tiduran dipahanya Irene. Uuuuh kenapa dirimu sweet overload sih Kai? Suka deh cowok yang cuek tapi sweet gitu. Masih ada gk ya stok yamg begituan??
    Kakak Al sama Kakak Irish jjang!!
    Siapa sih yang bikin sweet scene Kairene? Kudu berterimakasih banyak

    • Ternyata dirimu suka Kai yang cem ini ya? Ntar Al tambahin deh😂😂😂 Yang buat sweet scene itu Al , mau request sesuatu?😀 Thanks for reading anyway😉

  12. Baekhyun sama Wendy kalem kucu gimana gitu, saling penasaran satu sama lain…hahahaa. Masih penasaran loh kok Baekhyun demen pake baju item2? Kenapa sih? Agak kasihan sama Nayeon yang satu kamar sama 2 bocah labil itu, wkwk.
    Kalo Kai suka sama Irene, kenapa kok nggk ditembak aja? Nanti keburu diambil Taehyung, kan? Trus sakit hati sendiri. Ah, gereget2 sendiri bayanginnya.
    Itu diakhir Baekhyun mau nanya apa?? Bikin penasarann….
    Tetep semangat ya kakak2… jangan bosan2 nulis ff keren…!!!

  13. Aku anggap taehyung disini sebagai pengganggu hubungan kai-irene.
    Interaksi wendy-baekhyun lucu dimana satu kalem dan satunya lagi banyak bicara dan baekhyun itu sebenarnya siapa ? Apa dia jadi tokoh jahat apa baik aku harapnya sih baekhyun jadi tokoh baik. Kak, interaksi kai-irene diperbanyak lagi dong terus taehyun nya gak ada dan gak ganggu mereka.

    • Wkwk, pengganggu itu pasti ada, dimana pun itu. Wkwk, tapi kemungkinan untuk sweet moment dan sweet moment BaekWen. Mungkin aja ada?😁😁

  14. SERASA BACA NOVEL TERJEMAHAN TAHUN 80-AN LIHAT ADEGAN IRENE KAI. IYE, CEM OPERA ROMANSA RENE, TAPI LU SENENG KAN KAI? YA IYALAH, KAN ENTE MODUS!/PLAKK/APAAN INI/XD
    DDUDUH BAEK CABE NAN IMUT GEMESIN TAPI DISINI SOK COOL, ENTE SIAPA SIH? SUKA MATA BAJU ITEM, PERASAAN WARNA WARNI BIASANYA/DIGAMPAR/ XD
    WEN, JAN SOK JAIM ENTE PLIS. ITU ATUH KALO CY ASAL USULNYA MERAGUKAN, CEY, PANTAS KAMU GEMBUL SEKARANG, MAKAN MULU KAMU MAZ. BAEKHYUN JUGA MERAGUKAN [KAYAKNYA WENDY TAU SESUATU, EMANG APA YG DIBACA BAEK WEN?] , TAEHYUNG KAMVRET, SAMA EKI AJA SINI DARIPADA JADI ORANG KETIGA ‘_’
    ditunggu next chapnya Kak Irish dan Al,hwaiting!! XD

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s