Rooftop Romance (Chapter 20) – Shaekiran

Rooftop Romance 2nd Cover.jpg

Rooftop Romance

By: Shaekiran

 

Main Cast

Wendy (RV), Chanyeol, Sehun (EXO)

 

Other Cast

Baekhyun (EXO), Kim Saeron, Irene (RV), Taeil, Taeyong (NCT), Jinwoo (WINNER), and others.

Genres

Romance? Family? Frienship? AU? Angst? Sad? School life?

Length Chapter | Rating PG-15

Disclaimer

Idenya cerita ini murni datang dari otak author yang otaknya rada senglek banyak (?). Maaf untuk idenya yang mungkin pasaran dan cast yang itu-itu aja. Nama cast disini hanya minjam dari nama-nama member boy band dan girl band korea. Happy reading!

Previous Chapter

Teaser 1 | Teaser 2 | Teaser 3 | Chapter 1 | Chapter 2 | Chapter 3 | Chapter 4 | Chapter 5 | Chapter 6 | Chapter 7 | Chapter 8 | Chapter 9 | Chapter 10 | Chapter 11 | Chapter 12 | Chapter 13 |Chapter 14 | Chapter 15 | Chapter 16 |Chapter 17 | Chapter 18 | Chapter 19 | [NOW] Chapter 20 |

“Malam itu hujan mengguyur Seoul.”

 

 

 

-Chapter 20-

 

 

 

“Terimakasih Wen-ah,”

“Sama-sama sunbae,”

 

 

Auhtor’s note

Sore itu, Sehun menunggu di tempat biasa ia bertemu dengan Irene, sebuah café bernuansa minimalis di seberang jalan menuju sekolah. Sudah hampir setengah jam Sehun menunggu ditemani kepulan asap cappucino panas di atas meja sudut café, barulah beberapa menit kemudian sudut matanya menangkap sosok Irene yang nampak menyebrang jalan. Sudut bibir Sehun terangkat, hatinya masih belum berubah dan akalnya masih menganggap Irene sebagai satu-satunya gadis di muka bumi ini yang sanggup membuatnya tersenyum, merana, bahkan tau rasa sakitnya jatuh cinta. Irene, si pengisi hatinya siang maupun malam.

“Kau sudah lama menunggu? Maaf, tadi aku mampir ke perpustakaan sebentar,” sapa Irene sambil menerangkan alasan keterlambatannya yang Sehun sendiri tidak terlalu peduli. Baginya, Irene hadir saja sudah merupakan sebuah anugrah.

Lantas, gadis yang masih menggunakan seragam sekolah itu membuka blazer sekolahnya dan menyampirkan benda berwarna biru dongker itu di atas kursi, menyisakan tubuh bagian atasnya yang terbalut kemeja sekolah dan dasi sebelum berakhir mendudukkan bokongnya sendiri di atas bangku yang berhadapan dengan Sehun. Irene tersenyum, tak pelak membuat pemuda di depannya makin melebarkan cengiran yang memang sudah terbentuk sedari tadi.

“Kau tidak lapar noona? Mau aku pesankan sesuatu?” sahut Sehun membuka konversasi, dan Irene dengan cepat menggeleng. Ia tersenyum lagi, bahkan netranya kini bergerak memandang lekat netra kecoklatan lawan bicaranya sangat lekat.

“Oh Sehun, ada yang ingin ku katakan,” Irene akhirnya memilih mengalihkan pembicaraan, memulai konversasi sebenarnya yang membuat si gadis mengajak Sehun untuk bertemu sore ini. Mendengarnya tentu saja Sehun senang. Dengan sigap Sehun langsung menegakkan tubuhnya, bersiap mendengarkan setiap frasa yang keluar dari bibir tipis Irene.

“Katakan noona, aku penasaran,” kekeh Sehun masih dengan senyum mengembang sempurna.

“Begini, tadi siang Chanyeol-“ Irene menggantung kalimatnya, menunggu reaksi Sehun. Dan yang muncul di raut Sehun hanya sedikit rasa terkejut, juga mata berbinar penasaran seperti dugaan si gadis. Jadi, Irene mulai melanjutkan kalimatnya lagi.

“Tadi siang Chanyeol memberitahuku sesuatu yang menakjubkan, dan kupikir kau harus tau Sehun,” kata Irene mengakhiri kalimat yang sedari tadi sudah mendesak keluar dari bibirnya. Lekas si pemuda Oh makin tertarik, “katakan padaku noona,” lanjut si pemuda kemudian.

“Kau bisa mendapatkan Seungwan, maksudku, bukannya dulu kau bilang kau menyukainya?” lanjut Irene meski kini sebuah tanda tanya besar muncul di kepala Sehun.

“Seungwan pacarnya Chanyeol sunbae,” kata Sehun mengingatkan, namun hanya gelengan pelan yang diberikan si gadis sebagai penolakan.

“Tidak, mereka berdua hanya pura-pura pacaran,” Sehun seketika terbelalak,dan itu membuat Irene semakin tersenyum. Sadar kalau berita yang ia bawa ini akan membuat Sehun bahagia setengah mati.

“Bagaimana bisa?” lolos Sehun tak habis pikir, dan Irene hanya makin mengembangkan senyum sumringahnya.

“Aku tidak tau alasannya, tapi Chanyeol dan Seungwan memang hanya pura-pura pacaran, Chanyeol menjelaskannya sendiri padaku Sehun, lihat, mereka hanya pura-pura pacaran. Bukankah itu berita baik?” Ragu, Sehun akhirnya mengangguk meski enggan. Rasa kaget masih memenuhi semua pikirannya. Bagaimana mungkin Chanyeol dan Seungwan ternyata hanya pura-pura pacaran padahal mereka mesra sekali seperti itu? Di mata Sehun, Seungwan dan Chanyeol sangat cocok dalam satu frame bersama.

“Apa Seungwan melakukan ini untuk menghindar dari pertunangan?” praduga Sehun dalam hati akhirnya, mulai mencari hipotesa-hipotesa yang memungkinkan untuk kasus Wendy.

“Dan kau tau apa kabar yang lebih menggembirakan Sehun?” tanya Irene antusias, dan jelas Sehun menggeleng. Sekarang ia bagai menjadi orang terbodoh sedunia karena sudah tertipu dengan hubungan calon tunangannya itu. Hatinya campur aduk, ntah senang atau malah sedih mengetahui fakta mengejutkan tentang kepura-puraan Seungwan serta Chanyeol.

“Chanyeol dan Seungwan sudah memutuskan berpisah, jadi kau bisa mulai mendekati Seungwan dengan leluasa,” jelas Irene semangat dan Sehun makin tidak bisa berkata-kata. Wajahnya seketika pias, padahal harusnya ia berakting senang di depan Irene. Bukankah itu berarti Irene si pujaan hatinya itu bisa lebih dekat dengan kebahagiaannya? Karena kebahagiaan Irene itu Chanyeol.

Ya, kenapa pucat begitu? Kau sakit, eoh?” Bagai sadar dengan perubahan raut muka Sehun, tangan Irene tergerak menangkup pipi Sehun yang dirasanya berubah pucat nan dingin. Mendapat perlakuan demikian, jantung Sehun mulai berdesir cepat, rasa gugup kembali memenuhi setiap inchi tubuhnya.

Anii, aku tidak apa-apa noona,” elak Sehun sambil menjauhkan tangan Irene dari pipinya sebelum ia meledak sakin cepatnya jantungnya berdetak sejak beberapa detik lalu. Irene tersenyum pula, jawaban Sehun setidaknya cukup meredakan rasa khawatir gadis itu.

“Ah, jadi noona juga bisa mendekati Chanyeol sunbae mulai sekarang ‘kan?” kata Sehun berpura-pura bahagia, memulai konversasi lagi yang tiba-tiba hilang diantara ia dan Irene. Kali ini Irene bagai tak pernah kehilangan senyumnya, gadis itu makin sumringah, membuat Sehun sungguh bahagia karena gadis pujaan hatinya selalu terlihat penuh tawa hari ini.

“Memang sudah dekat, hehe,” Irene terkekeh, lalu menggenggam tangan Sehun erat.

“Kau tau, aku dan Chanyeol jadian,” Sehun terdiam, sementara Irene kini mengenggam tangannya makin erat.

“Tadi siang dia melamarku di UKS. Kau tau Hun? Aku bahagia sekali, rasanya seperti mimpi cintaku terbalas!” pekik Irene benar-benar girang, gadis itu bersorak senang, mengabaikan semua tatapan penghuni café ke arah gadis cantik itu. Bagi Irene, kebahagiannya perlu dipublikasikan ke dunia. Setelah merasa cinta bertepuk sebelah tangan selama hampir 3 tahun dan sekarang dia resmi menjadi kekasih pujaan hatinya, siapa yang bahagianya tidak overdosis seperti Irene?

“Ah, aku turut senang noona, selamat atas hari jadimu,” Sehun tersenyum getir. Harusnya ia bahagia, ya, mestinya ia bahagia tiap kali Irene bahagia. Namun kali ini senyum palsunya yang terpasang sementara ringis hatinya membelenggu jauh di lubuk yang terdalam.

Apa cinta, memang semenyakitkan ini?  

 

 

Kabar Wendy putus dengan Chanyeol, juga kabar si pangeran sekolah tengah menjalin kasih dengan seorang Bae Irene kini mengudara dengan luas. Tak butuh waktu lama bagi seisi sekolah mengetahui kabar mengejutkan itu, dan mereka cukup takjub bagaimana bisa Chanyeol memiliki kekasih baru disaat yang bersamaan dengan hari ia mengakhiri hubungan.

 

“Apa Chanyeol selingkuh dengan Irene selama ini?”

“Heol, aku takjub, mereka memang benar-benar membuatku hampir syok jantung,” 

“Irene bukan pelarian Chanyeol saja kan?”

“Oppa, kenapa punya pacar lagi? Hiks,”

“Lebih cocok siapa, Irene atau Seungwan?”

“Chanyeol benar-benar playboy cap kapak, kudengar, Seungwan malah tersenyum saat ia dan Chanyeol putus.  

“Bukankah hebat? Chanyeol bahkan tidak ditampar oleh Seungwan saat ketahuan menjalin hubungan dengan gadis lain.”

 

“Kau tidak apa-apa? Namamu jadi jelek karenaku,” kata pemuda itu pada gadis di sebelahnya. Irene dengan cepat menggeleng, kini gadis Bae itu tersenyum.

“Tidak apa, asalkan aku tetap bersamamu Chanyeol,” jawab Irene yakin sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Chanyeol. Pemuda tinggi itu lantas tersenyum, kemudian mulai menarik Irene menuju ke salah satu bangku kantin dengan mesra. Masa bodoh meski seisi kantin kini menggunjingkan mereka berdua.

“Duduklah,” titah Chanyeol sambil menarik bangku kantin, mempersilahkan Irene untuk duduk setelah meletakkan nampan makanannya di atas meja. Irene menurut, dengan cepat gadis itu segera mendaratkan bokongnya di atas kursi yang ditarik Chanyeol.

Irene lantas memangku tangannya sambil tersenyum-senyum, memandangi Chanyeol yang bagaikan mimpi kini sudah duduk di hadapannya sambil menyantap makan siang.

“Kau tidak makan?” tanya Chanyeol akhirnya karena mendapati Irene hanya memandanginya, bahkan gadis itu tidak memesan makanan sama sekali. Irene menggeleng, kemudian tersenyum tipis.

Anii, aku tidak lapar Yeol-ah. Lagipula memandangimu saja sudah membuatku kenyang,” kata Irene yakin dan Chanyeol hanya tersenyum jenaka setelahnya.

“Kau bisa saja Bae Irene,” kekeh Chanyeol sambil mencubit gemas hidung mancung Irene, dan itu sukses membuat beberapa gadis berteriak sakin romantis dan mesranya Chanyeol terhadap Irene. Yah, mereka masing menjadi pusat perhatian sekarang ini.

“Ini, makanlah,” pinta Chanyeol kali ini setelah selesai mencubit gemas hidung kekasihnya itu. Kali ini Chanyeol mengangkat sendoknya yang sudah terisi nasi kari dari nampan makan siangnya, berniat menyuapi Irene. Dengan malu-malu, Irene kemudian membuka mulutnya dan menerima suapan Chanyeol. Hatinya benar-benar berbunga-bunga sekarang ini.

“Bagaimana, enak ‘kan?” tanya Chanyeol dan Irene dengan cepat mengangguk setuju. Kali ini Irene dengan langkah cepat mengambil alih sendok di tangan Chanyeol.

“Sekarang giliranmu Yeol,” sahut Irene jenaka, dan Chanyeol tentu saja dengan senang hati menerima suapan dari Irene yang sekarang menjadi kekasihnya itu. Semuanya terlihat sempurna, lengkap dengan tatapan iri saat melihat sepasang kekasih cantik dan tampan itu saling suap-menyuap makan siang di kantin. Hei, bukankah itu sangat romantis?

Tapi tanpa mereka tau, Wendy kini berdiri kaku beberapa meter dari meja Chanyeol dan Irene. Hampir saja nampannya jatuh kalau ia tidak segera sadar dan mengalihkan pandangan. Ya, Wendy di sana, menjadi saksi kalau sekarang Chanyeol sedang bermesraan dengan pujaan hatinya –Bae Irene. Bila jujur, Wendy mencelos, bahkan air matanya mulai merangkak memaksa membuat sebuah anak sungai jika tidak ia tahan.

Apa cinta, memang semenyakitkan ini?

 

 

Seminggu berlalu dengan cepat. Di tengah malam sunyi yang memekik meminta kehangatan itu, seorang gadis nampak duduk meringkuk di sudut kamar. Si gadis –Son Wendy– nampak menggunakan baju gaun terusan model lengan terbuka berwarna hitam, menampakkan sebagian punggung mulus dan tangan halusnya yang putih pucat.

Tak lama, pintu kamar Wendy yang tertutup terketuk, lalu detik selanjutnya derit pintu yang terbuka terdengar. Sosok Jinwoo yang sudah menggunakan setelan jas hitam dengan dasi kupu-kupu nampak menyapa hangat sang adik yang kini sudah dalam posisi berdiri sambil membersihkan bagian belakang gaunnya.

“Kau sudah siap Wen?” tanya Jinwoo, dan gadis yang rambutnya digerai itu nampak mengangguk singkat sambil tersenyum tipis, sedikit terpaksakan.

Ne, aku siap oppa,”

 

 

Jika dulu ibu Sehun menghina penampilan Wendy dengan alasan biasa saja, kini wanita yang menjabat sebagai ibu tiri Sehun itu menatap takjub akan penampilan Wendy yang sungguh glamour. Dengan make up tipis nan mempesona, si gadis Son nampak menapaki lantai restaurant dengan mantap ditemani high heels hitam 7 senti miliknya. Di leher Wendy bertenger sebuah kalung emas putih nan cantik, nampak seragam dengan anting yang kini ia gunakan. Penampilan gadis itu makin membuat Sehun yang memang sudah takjub sedari dulu semakin takjub dengan kecantikan Wendy malam ini.

“Kau sudah datang?” sapa Son Michael yang memang sampai lebih dulu pada putrinya, efek tuan besar Son itu yang datang langsung dari kantor sementara Wendy dan Jinwoo dari rumah besar keluarga Son. Di sebelahnya sudah duduk ibu tiri Wendy yang juga tersenyum pada putri tirinya itu.

Ne appa,” sahut Wendy sambil duduk di kursi sebelah kanan ayahnya, diikuti Jinwoo yang duduk di sebelah Wendy. Di depan keluarga Son kini sudah duduk keluarga besar Sehun –ayah Sehun, ibu tiri Sehun, saudara Sehun, juga Sehun sendiri yang kini masih menatap takjub ke arah Wendy.

“Kenapa memandangnya takjub begitu Sehun? Terpana? Calon tunanganmu memang cantik nak, ayah saja terpana,” canda ayah Sehun yang membuat seisi meja itu tertawa, sementara Sehun sendiri kini menunduk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal –cukup malu karena terpergok memandangi lekat teman sebangkunya itu. Wendy hanya tersenyum tipis.

Tak lama, beberapa pelayan datang menghampiri dan mengisi meja besar itu dengan beberapa pangan sajian ala Eropa. Kedua keluarga besar itu kemudian mulai menyantap makan malam mewah yang sudah tersaji.

“Son Wendy,” Sehun akhirnya memberanikan diri bersuara setelah sekian lama hanya menyantap makan malamnya dalam diam. Wendy lantas mendongak, mulai menaruh atensi pada Sehun dibanding memandang steak yang sudah separuhnya ia santap.

“ Bisa kita berbicara empat mata setelah ini? Ada yang ingin ku bicarakan denganmu.”

 

 

“Kau serius dengan Irene?” Baekhyun nampak menyikut Chanyeol yang asyik bermain game di handphone-nya, lantas aksi Baekhyun membuat lelaki Park itu sedikit terganggu.

Hyung, jangan ganggu aku,” kata Chanyeol agak marah, namun Baekhyun tidak peduli. Baginya, penjelasan mengenai Wendy yang ternyata anak konglomerat dan Chanyeol yang selama ini berpura-pura menjadi kekasih Wendy sama sekali bukan alasan. Lelaki Byun itu malah merasa Chanyeol pasti hanya bercanda, karena dari sudut matanya tidak ada hubungan kepura-puraan diantara Wendy dan adiknya itu. “Chanyeol tidak sepandai itu berakting,” pikirnya.

“Yeol, kalau kau memang hanya bermain-main dengan Irene, sebaiknya kau– “

Hyung, aku tau apa yang kulakukan. Aku tau isi hatiku. Lalu kenapa semua orang bilang begitu, eoh? Aku serius dengan Irene. Titik.” Potong Chanyeol dengan nada kian marah, hingga membuat Baekhyun kini hanya bisa bungkam sambil menghela nafasnya pelan.

“Terserahmu saja,” putus Baekhyun akhirnya mengakhiri konversasi. Chanyeol nampak kembali bergelut dengan game di handphone-nya, tidak memperdulikan Baekhyun yang kini menaiki tangga memasuki kamar mereka.

Lama kemudian, sekitar 15 menit, game zombie yang dimainkan Chanyeol berakhir game over, efek Chanyeol yang tidak fokus sejak Baekhyun memulai percakapan mereka tadi. “Shit!” umpatnya saat kata game over itu menggiang, juga karena perkataan Baekhyun diam-diam masih menghantuinya.

Bosan bermain game, Chanyeol lantas tergerak membuka aplikasi LINE, mencari-cari nama Irene untuk sekedar menanyai kabar gadis itu.

 

Kau dimana Irene-ah?

 

Tak selang beberapa detik, Irene membaca pesan itu. Lalu hanya dalam hitungan detik pula pesan balasan Irene muncul di layar handphone Chanyeol.

 

Aku baru saja selesai les Yeol, sekarang aku sedang di halte menunggu bus pulang >.<

 

Chanyeol menghela nafasnya kasar, lalu dengan cepat mulai mengetikkan pesan balasan pada Irene.

 

Tunggu disana, aku akan menjemputmu Rene. Aku merindukanmu.

 

 

“Apa yang ingin kau bicarakan?” tanya Wendy kini saat mereka berdua sudah duduk di salah satu bangku taman. Yah, Sehun baru saja meminta ijin mengajak Wendy jalan-jalan sebentar selesainya keluarga mereka selesai makan malam, tak lupa lelaki Oh itu juga berjanji akan mengantar gadis Son itu pulang dengan selamat kembali ke rumah.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Sehun sayup-sayup namun masih bisa didengar jelas oleh Wendy yang tengah memainkan kakinya kebosanan. Gadis itu lantas terhenyak, cukup bingung dengan pertanyaan Sehun.

“Maksudmu apa?” tanya Wendy, dan Sehun tidak langsung menjawab. Kali ini lelaki Oh itu lebih memilih memandang langit yang penuh bintang, juga lampu taman yang menyala kerlap-kerlip beberapa meter di depan mereka.

“Hm, maksudku, kau dan Chanyeol sunbae, gwenchana?” tanya Sehun takut-takut, ragu apa Wendy akan menjawabnya atau tidak. Hanya helaan nafas gadis itu yang terdengar setelahnya, dan Sehun tebak itu adalah nafas frustasi milik gadis di sebelahnya.

“Kami baik-baik saja, yah, bukannya kau sudah tau kalau selama ini aku hanya menyewanya Sehun?” jawab Wendy akhirnya sambil tersenyum tipis, dan kali ini Sehun lagi-lagi tak langsung menjawab. Ia memandang Wendy sebentar, merekam tiap ekspresi yang gadis itu pasang di wajahnya.

“Kau menyukainya,” putus Sehun, dan Wendy dengan cepat menggeleng.

“Awalnya kupikir iya, tapi ternyata aku salah,” Wendy memalingkan wajahnya, mendongak memandang langit dengan milayaran pendar bintang itu.

“Kupikir aku menyukainya, tapi ternyata aku ini keliru,” kekeh Wendy setelahnya, cukup membuat Sehun bingung dengan jawaban si gadis. “Apanya yang keliru?” batinnya pula.

“Oh Sehun, aku harap kau juga tidak keliru.”

“Maksudmu apa?” tanya balik Sehun cepat. Wendy nampak mengalihkan atensinya dari langit, lalu balas memandang Sehun lekat.

“Ku harap kau tidak keliru memilihku, jadi aku juga tidak keliru belajar mencintaimu Oh Sehun,” Sehun terdiam, bibir gadis di depannya terangkat naik membentuk sebuah lengkung tipis, secara tiba-tiba membuat Sehun merasa ribuan jarum menusuknya seketika.

Sehun tau, takdir sangat suka bermain-main, dan ia rasa kali ini takdir memilih ia dan Wendy untuk dipermainkan. Sungguh, semuanya seperti kebetulan ajaib di mata Sehun. Wendy yang menyukai Chanyeol, juga Sehun yang menyukai Irene. Kepura-puraan Chanyeol dan Wendy, ditambah kebohongan Sehun pada Irene. Semuanya bagai sudah diatur oleh Tuhan, hingga Wendy dan Sehun kini terikat dengan benang merah tersendiri.

Sebulan lagi, Sehun maupun Irene akan resmi bertukar cincin pertunangan, dan itu makin menyadarkan lelaki Oh itu bahwa takdirnya adalah gadis disebelahnya itu. Ia dan Wendy bernasib sama –sama-sama mengorban perasaan untuk kebahagiaan orang yang ia cintai karena Sehun sendiri sadar Wendy mencintai Chanyeol dengan tulus.

Sadar, Sehun tau, mungkin ini jalan Tuhan agar mereka berdua bahagia setelah mempersatukan Chanyeol dengan Irene –masing-masing tambatan hati mereka dengan menelan kepahitan hati. Wendy akan belajar menerima Sehun, dan Sehun sendiri yang sudah terlanjur mengatakan bahwa ia menyukai Wendy tau kalau sekarang ia memang benar-benar harus menyukai gadis itu. Wendy gadis yang baik, dan Sehun tau kalau kebahagiannya memang bersama Wendy.

“Aku tidak keliru Son Wendy, aku yakin, memang kau orangnya yang kelak akan mendampingiku menghadapi hidup bersama-sama.”

Apa sekarang Wendy boleh mengatakan bahwa ia cukup luluh dengan ucapan Sehun? Karena kini hatinya berdesir, juga pipinya memerah tersipu malu-malu.

 

 

“Kau tidak perlu menjemputku,” ucap Irene sesampainya Chanyeol kekasihnya itu di halte. Sekarang si lelaki Park sudah duduk di bangku halte, tepat di sebelahnya.

“Aku hanya khawatir Bae Irene, sekarang sudah malam dan aku takut kekasihku kenapa-kenapa,” ntah Chanyeol sedang menggombal atau memang tulus dari hatinya, pipi Irene berubah kian memerah. Bahkan kini beberapa orang di halte memandang kedua insan itu dengan pandangan beragam. Kebanyakan memandang Irene dengan pandangan iri karena gadis itu memilik kekasih yang sangat romantis, atau memasang pandangan memuja atas visual kedua orang itu.

“Kau bisa saja,” balas Irene gugup, dan Chanyeol hanya memasang senyum mautnya –senyum tipis tulus yang sanggup membuat detak jantung Irene bekerja tidak beraturan.

Tak lama, sebuah bus nampak menepi di depan halte, dan Chanyeol dengan sigap menarik pergelangan tangan Irene untuk naik ke bus yang baru tiba itu. Chanyeol juga Irene memilih duduk di bangku paling belakang, di sudut bus dimana Chanyeol bersisian langsung dengan kaca bus. Tadinya Chanyeol berniat menjemput Irene dengan motornya, tapi mengingat udara malam ini sangat dingin dan dia tidak mau membiarkan Irene membeku di atas motornya yang melaju kencang, Chanyeol memilih datang dengan tangan kosong. Lebih baik menemani Irene di dalam bus hingga gadis itu selamat sampai rumah, pikirnya.

“Darimana kau tau kalau ini bisku?” Irene memulai konversasi, dan Chanyeol nampak tersenyum sangat lebar.

“Karena aku selalu memperhatikanmu Bae Irene,” jawab Chanyeol yang makin membuat detak Irene kian tak karuan. Melihat kekasihnya malu-malu, Chanyeol tersenyum pula, lalu mulai menepuk-nepuk bahunya sendiri.

“Kau tidak mengantuk? Sini, tidurlah. Aku akan membangunkanmu kalau sudah sampai,” Irene hanya tersenyum, lalu mengikis jaraknya dan Chanyeol sembari meletakkan kepalanya di atas bahu sang kekasih. Memang, Irene tengah mengantuk berat karena kecapekan. Sekarang sudah jam 8 malam lebih dan Irene baru pulang les, tentu saja Chanyeol tau kalau gadisnya itu pasti mengantuk.

“Bahumu nyaman sekali,” puji Irene, dan si peminjam bahu hanya tersenyum tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tangan bergerak mengelus permukaan kepala Irene yang kini ada di bahunya, memuji betapa halus dan indahnya rambut Irene.

“Heol, dia sudah tidur?” batin Chanyeol beberapa menit kemudian karena sadar kalau kini Irene sudah terlelap. Chanyeol tertawa sendiri, kalau ia tidak ada mungkin Irene sudah tertidur di bus dan ada kemungkinan gadis itu terlewat halte dimana dia harus turun.

“Cantik,” puji Chanyeol, lalu mengalihkan pandangannya keluar jendela. Malam ini begitu kelabu baginya, padahal bintang nampak berpendar ramai di langit. Lampu-lampu jalanan Seoul juga pemandangan mobil yang berjejer berhenti kian memanjakan iris Chanyeol.

Namun perlahan nafas Chanyeol berubah tercekat. Kini netra pemuda itu memandang lurus ke arah sebuah mobil Audi hitam yang berhenti tepat di sebelah bus yang ia naiki –tepatnya menatap gadis yang tengah duduk di bangku penumpang mobil mewah itu. Hujan nampak turun perlahan kemudian, mengguyur Seoul yang makin kelabu bagi Chanyeol. Seketika, pemuda itu merasa waktu kian melambat, dan detik pun kian enggan untuk berdetak.

 

 

Jalanan seoul nampak begitu ramai, ntahlah padahal hari sudah cukup malam namun kota itu nampaknya tidak pernah mati. Lampu jalan nampak menyala berwarna-warni, begitu cantik meski kontras dengan gelapnya malam. Sehun nampak duduk di balik kemudi. Mobil Audi hitam miliknya meluncur cepat di jalan raya, niatnya si pemuda Oh ingin menepati janji mengantar Wendy selamat sampai rumah.

Tak lama kemudian mobil itu nampak bergerak melambat –mengikuti pergerakan kendaraan bermotor lain– karena pemandangan lampu merah yang menyala kini menyambut netra para pengguna jalan. Menunggu lampu lalu lintas itu berubah warna, Sehun sempat melirik Wendy yang kini asyik mendengarkan suara merdu Kim Bum Soo dibalik earphone-nya. Gadis itu nampak menyandarkan badannya ke sisi mobil, menempelkan tubuhnya berdempet dengan kaca.

“Kau tidak kedinginan?” tanya Sehun akhirnya, dan gadis itu nampak membuka earphone-nya karena melihat pergerakan bibir Sehun.

“Kau bilang apa tadi?” tanya Wendy polos, dan Sehun hanya tersenyum simpul. Tanpa perlu banyak kata, Sehun kemudian membuka jasnya dan menyampirkan benda berwarna biru dongker itu ke badan Wendy.

“Hujan, nanti kau kedinginan,” kata Sehun masih tersenyum simpul, lalu dengan cepat kembali berkutat dengan kemudinya tanpa menunggu Wendy untuk sekedar mengucapkan terimakasih.

Wendy terdiam. Lagi-lagi hatinya berdesir hangat atas segala perlakuan Sehun. Secara ajaib, kini suara penyanyi ballad anyar itu tergantikan dengan vocal merdu Taeyeon dengan lagu Rain –hujan– yang mengingatkan Wendy untuk segera menengok keluar kaca mobil.

“Kapan hujan turun?” batinnya karena dia sendiri sadar hujan tengah mengguyur karena ucapan Sehun, “Hujan, nanti kau kedinginan.”

Lantas, Wendy yang tidak mau ambil pusing di detik keberapa hujan mulai mengguyur Seoul tanpa ia sadari, gadis itu ternyata lebih memilih memandangi rintik air yang kini membasahi bumi. Tangannya tergerak untuk menyentuh kaca mobil yang mulai berembun, lalu dengan jenaka menyingkap semua embun itu dengan permukaan tangannya.

Sunbae?” dan tanpa Wendy duga, kini gadis itu spontan membatin. Saat ini netranya tengah beradu pandang dengan milik seorang lelaki yang tengah duduk di dalam sebuah bus yang berhenti tepat di sebelah mobil Audi Sehun. Mata gadis itu membulat, mulutnya bahkan sedikit menganga bodoh karena terperangah bisa menemukan sosok Chanyeol di malam hujan seperti ini secara tidak sengaja.

Lampu merah ini kian serasa melambat di matasi gadis. Wendy campur aduk, hatinya bagai di remas. Penampakan Chanyeol dengan Irene yang tidur bersandar di bahu si pemuda cukup membuat rasa itu hadir lagi –rasa dimana nafas Wendy berubah tercekat dan bibir yang secara ajaib mendadak kelu berkata-kata

Lama mereka berdua hanya saling pandang dalam diam, berbataskan kaca transparan dengan rintik hujan sebagai penghalang. Sekon selanjutnya, bibir Chanyeol nampak terangkat membentuk sebuah lengkung setipis benang, bagai memulai konversasi diantara si pemuda dan Wendy yang sedari tadi hanya saling memandang. Ntah kekuatan darimana, Wendy juga mulai tersenyum sama tipisnya ke arah Chanyeol, sembari memandangi badan bus yang mulai bergerak maju perlahan membawa bayang Chanyeol dalam diam.

Mobil Audi itu juga bergerak maju perlahan setelahnya, melaju lurus sementara bus berisikan Chanyeol itu nampak berbelok di perempatan jalan –memisahkan adu pandang Wendy yang masih merasakan sensasi membius di mata kecoklatan Chanyeol.

Hujan nampak mengguyur semakin deras, memenuhi pendengaran si gadis dengan suara rintik yang kian berebut menerpa tanah. Cinta yang keliru, agaknya menjadi tema malam itu. Wendy jadi ingin cepat-cepat sampai rumah, agar ia bisa segera menyesap secangkir kopi hitam panas yang sama pahitnya dengan pertemuan malam ini. Hanya tersenyum getir, dengan segala asa berpura-pura bahagia.

 

-To Be Continued-

 

 

Author’s Note

Mungkin chapter ini bakal jadi chapter ter-nggak banget karena sebenarnya nggak ada inti cerita di chapter ini, haha, cuma ada mellow-mellow gak jelas, hiks. Jangan tanya eki pliss, eki sendiri bingung kenapa comedy romance ini berubah jadi angst :”)

 

 

 

 

Iklan

55 pemikiran pada “Rooftop Romance (Chapter 20) – Shaekiran

  1. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 33) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  2. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 32) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  3. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 31) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  4. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 30) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 29) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 28) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  7. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 27) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  8. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 26) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 25) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  10. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 24) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  11. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 23) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  12. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 22) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  13. Ping balik: Rooftop Romance (Chapter 21) – Shaekiran | EXO FanFiction Indonesia

  14. Chan bikin pusing ,dia tuh beneran suka sama irene atau irene jadi pelampisan doang tapi sikapnya sweet banget sama irene ,trus persaan chan ke wendy gimana ???? Kasian sehun ama wendy cinta nya bertepuk sebelah tangan ….. Nexxt

    • hayooo, sebenarnya apa yang dipikiran cy tentang irene dan wendy? masih menjadi misteri lo, wkwkw XD
      kesian ya anak orang :’)
      Thanks for reading ❤

  15. Eki, lama aku tidak menyampah di ffmu.
    sumpah aku kaget banget loh chanyeol ternyata ‘bisa gitu’ sama Irene. padahal kemaren-kemaren kayak nggak ada kode apapuuun. how could??
    jadi pas chanyeol keliatan tulus itu kayak rada ngejatuhin feel gitu soalnya kayak gimana gitu, aduh bingung aku ngelanjutinnya. tapi ya, cerita ini punya kamu pasti kamu punya something suprising behind that plot hehe 🙂

    keep writing ya ki!

    • duh kak, rindu deh, wkwk XD
      Maaf yaw ini eki slow respon banget. hehe 😀
      How could? hmss, coba kita tanyakan pada chanyeol-nya langsung, wkwk/digampar/ XD
      Nanti bakalan jelas kok semuanya gimana irene dan gimana ceye, juga apakabar dengan wendy pasti terungkap semua sampek end, serius ini :’)
      semoga suprise deh, wkwk XD
      Thankyouuu kak ❤

  16. Ah ya tuhan. Ini eki lagi galau kayaknya.
    Syudahlah, aku mah tidak mau berharap banyak. Mau Chanwen atau Hunwen, ane kagak bisa apa apa. Cuma bisa baca sambil ngiris ngiris hati chanyeol, biar tau rasa!!
    Jadi inget kata kata mamas rompis;
    ‘Kukira pisau lebih tajam, ternyata perkataanmu lebih menghujam.
    Kukira bunga bangkai lebih busuk, ternyata penolakanmu lebih menusuk.’
    AAAAAAWWWWWWW YAWLAH! ANE KAGAK NAHAN!!!!! AKU TUH GAK BISA DIGINIIIN!!!!! TYDAK, TYDAK, TYDAAAAAAAAAAAAAAAAK! KAMVRETNYO ALUR CERITANYA!! HAYATI GAK KUAT MAS! WALO PUN HATI INI BERKATA AKAN INDAH PADA WAKTUNYA, TAPI KAVAAAN??? KAVAN INDUAHNYA HAH???
    APAKAH SETELAH MIMI PERI JADI ISTRI MAS LOHAN GITU? ATAU DIJAH YELLOW JADI SUAMI SEHUN?? ATAU SAMPE ANE JADI ARTIS KOREAH GETOH?*alaymodeon

    Cintaku tak harus~
    Miliki dirimu~
    Hm, begitulah kisah chanwen, mungkin. Chanyeol lagi sesat, ntar kalo udah insap, pasti balik lagi ke wendy. Saat ini imannya chanyeol lagi menipis, jadi nurut aja waktu diancem sama bapaknya wendy*sok tegar padahal dalem ati tereak gak kuku nana

    At last but not least, keep writing and fighting eki! Horas! Ganbatte kudasai!! BANZAIIII!!!!!!!

    • kok chingu tau eki lagi galau :”)
      HAYO,mau chanwen atau hunwen ini? XD
      Iris aja terus chingu, biar tau rasa si ceye, HAHA
      BHAKS, DALAM BEUT KALIMATNY CHINGU. PAS BANGET DIKASIH SAMA CEYE, SERIUS.
      AKAN ADA WAKTUNYA KOK SEMUANYA MENJADI INDAH CHINGU, GAK PERLU NUNGGU SI MAKLHUK MEREBUT COGAN, HAHA XD/DIGAMPAR/
      masa eki bacanya sambil nyanyi/ganyanyaki/ XD
      iya, mungki ceye lagi kilap, sesat dia. Doain cepet tobat makanya, hiks :”)
      Thanks for reading chingu, ditunggu yaw next chapnya. Jumat ini up lo, HOHO ❤

  17. IM CREEPING IN YOUR HEART BABE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! GILA GILA CHANYEOL! CAHNYEOL BETULAN KAMU TINGGALKAN WENDY DENGAN IRENE?! AKU TAHU IRENE LEBIH CANTIK TAPI WENDY ITU MEMBER RED VELVET FAVORIT SAYA! POKOKNYA CHANYEOL HARUS SAMA WENDY TITIK NGGAK PAKAI KOMA!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! waaha adegan saling tatap tuh terinspirasi sama school 2015 ya? hahahhaha pas baca bagian itu jadi ngebayangin adegan school 2015 di bus. wanjar slow motion memangnya kayak Zen pertama kali ketemu shirayuki juga slow motion berakhir dengan Zen yang jatuh~ waahh saya akan mengakui kamu sebagai istrinya chanyeol yang sah mulai hari ini shaekiran alias syahrini KW2 ahhahahahahha. ditunggu chapter selanjutnya ya~

    • SALPOK TANDA SERUNYA BANYAKEUN XD
      CHANYEOL!!!!!!!!!!!!
      SAMA CHINGU, HAHA, WENDY CANTIK KOZ, DIA BIAS EKI BETEWE DI RV, HAHA/PLAKK/ XD
      eki belum nonton school 2015 masa chingu, wkwk, ada adegan seperti itukah?
      mungkin terinspirasi eki, tapi gak tau aja pas ngetik kepikiran aja ini adegan yang rasanya nyess gitu XD
      kek drama korea gitu kan jadinya, wkwkwk XD
      Zen nya pangling liat shirayuki, wkwk XD
      CIEH, AKHIRNYA ADA YANG MENGAKUI EKI SEBAGAI ISTRI CEYE, YESSSS/TERBAR KONFETI/DIGAMPAR/XD
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya. Jumat ini up lo, hehe ❤

  18. Ping balik: Entry : About Me | Ann's Planet

    • kapan? coba tanyakan pada rumput yang bergoyang ~~~/digampar/ XD
      Nyesek ya, eki juga mau nangis pas baca ulang masa :”)
      Thanks for reading, ditunggu yaw next chapnya ❤

  19. Apakah Cinta itu semenyakitkan seperti ini????

    jawabannya adh terkdng.
    Son Wendy
    Oh Sehun

    Hah,swdih,tpi juga paham banget gmn frustasinya si ceye buat ngeakhirin penyiksaan appanya wendy buat wendy,kasian deh kalo liat couple in trpisahkn ky gini,walaupun demi kbaikan tpikn knp hrus hti y trsakito,kn jdi mau mewek pas nginget msa2 sweet mreka,hah kyakx udah lm banget deh eki udh ninggalin ff in,brasa lumutan namun tetap diingay kok judul dn jln critanya 😀 😀 😀 😀 😦 😦 😦 😦

    • kalo flashback jaman kencan, jadi makin serasa nyes gitu kan chingu? Hiks, iya, cinta emang sakit, sungguh. :”)
      hehe, eki gak bakal gantungin lagi kok chingu. ini udah masuk klimaks cerita dan eki gak tega gantungi mereka lagi. tenang aja, jumat ini update kok chap 21-nya, janji, sius, kali ini gak php XD
      Thanks for reading chingu, ditunggu yaw next chapnya ❤

    • Yakseok ya Eki,aku bkln stay lo liat EXOFFI tiap hri cuma buat nungguin ff nya eki dong,aku lo saking menantinya ampe bca ff lain biar ga bosen menunggu ff nya eki,kan ff nya eki itu pantas buat ditunggu,dan mslh hati wendy dan ceye,yah….eki nya aja nyesek ap lg readernya

    • duh, eki terhura sumpah baca komen ini, sius, eki pen nangis jadinya , :’)
      Duh makasih banget yaw, eki bahagia beut ini, wkwk, maaf slow respon banget :”)
      nyeseknya mereka, hmzz, maafkan eki jadi mellow ini ceritanya, wkwk XD
      Thankyouuu ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s