[ EXOFFI FREELANCE ] The Sound of The Rain – CHAPTER 4

picsart_01-07-06-33-21

Title       : The Sound of The Rain – CHAPTER 4

Author  : Whitecreamy

Main cast            : Lee Shin Young/Rose (OC), Byun Baekhyun, Oh Sehun

Support cast       : EXO members and ex members and others

Genre   : Sad, Family, Romance

Rating   : G/PG

Disclaimer          : I only own the story

Poster by ByunHyunji @ PosterChannel

CHAPTER 4

If I could walk away as esasily as you, I would

( I would by Henry Lau )

Please, your id card Sir…” seorang laki – laki afro america berbadan besar menghadang langkah Baekhyun dan Kai saat akan memasuki pintu Casino, tempat dimana mereka akan bertemu pria dari Vancouver itu.

Baekhyun dan Kai memberikan kartu identitas mereka. Petugas itu mengecek data Baekhyun dan Kai, baru setelah itu dilakukan pemeriksaan tubuh. Setelah pria itu memastikan kedua tamu tersebut aman, barulah dia mempersilakan Baekhyun dan Kai masuk.

Dalam benak banyak orang, Casino merupakan sebuah tempat berlabel negative. Dimana ada banyak orang berkumpul hanya untuk menghamburkan uang mereka untuk berjudi sambil ditemani wanita-wanita cantik berpakain minim. Tapi tak selamanya casino tampak seperti itu. Baekhyun pernah mengunjungi beberapa casino terkenal di dunia, seperti Casino Donald Trump di Atlantic City ataupun Casino di Sentosa Highland. Dan casino yang dikunjungi nya saat ini merupakan tiruan dari dua casino tersebut. Terlihat seperti tempat nongkrong, dimana ada tempat untuk nonton bareng pertandingan sepak bola, restaurant dan lain-lain. Yang menarik bagi Baekhyun saat memasuki setiap casino ialah meja roulette. Seperti saat ini, ia melihat beberapa laki-laki duduk mengelilingi meja. Begitu bola digelindingkan, Bandar  nya meraup banyak uang. Baekhyun tidak pernah sekalipun melihat seorang pemain menang dalam setiap permainan itu.

“Ingin mencoba, Baek?” tawar Kai saat menyadari mata Baekhyun yang melihat dengan tertarik ke arah meja roulette.

“Tidak.” Jawab Baekhyun singkat. Dia tidak suka berjudi.

“Aku juga tidak.” Sahut Kai,

Mereka tiba di pintu masuk menuju VVIP room, lagi-lagi mereka bertemu para bodyguard, yang kebetulan kali ini seorang pria berwajah Asia berkepala botak.

“Aku ingin bertemu Mr. Wu.” Ucap Baekhyun. Bodyguard tersebut melihat Baekhyun dan Kai sekilas. Kemudian dia membukakan pintu, seorang petugas lain menyambut Baekhyun dan Kai. Dia bertugas mengantar dua orang itu menuju tempat pertemuan.

Awalnya Baekhyun dan Kai mengira bahwa Mr. Wu telah menunggu mereka di ruang itu, tapi yang mereka dapatkan hanyalah sebuah ruangan mewah dengan interior design bergaya klasik. Baekhyun langsung duduk di salah satu kursi, sedangkan Kai sibuk melihat-lihat interior ruangan itu. Bukan untuk mengagumi nya, hanya memastikan tidak ada sesuatu yang mencurigakan-seperti bom misalnya-di ruangan itu. Saat Kai menangkap letak kamera CCTV super mini, saat itu pula pintu ruangan terbuka. Menampilkan sosok laki-laki Asia bertubuh tinggi dengan potongan rambut jarhead.

“Maaf, membuat kalian menunggu.” Ucap laki-laki itu kemudian duduk di kursi tunggal. Baekhyun menoleh ke arah Kai yang masih berdiri, ia memberi kode agar Kai segera duduk.

“Tidak, kami baru saja sampai.” Jawab Kai sembari duduk di sisi Baekhyun.

“Kalian ingin minum apa? Wine,Whiskey atau Champagne?”

“Apa saja.” Jawab Baekhyun singkat.

Laki-laki itu lalu menekan tombol di sisi kursinya, dan tak lama setelahnya seorang wanita berpakaian ala waitress memasuki ruangan. Dia meletakkan sebotol champagne sekaligus tiga buah gelas di atas meja. Ia langsung keluar begitu tugasnya selesai.

“ini adalah champagne terbaik yang aku bawa dari Prancis. Semoga kalian menyukainya.” Ujar Mr.Wu sembari menuangkan ke gelas Baekhyun juga Kai. Ia mengangkat gelasnya, mengajak kedua tamunya untuk cheers.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan denganku?” tanya Baekhyun seusai meletakkan gelas nya.

“Hanya sebuah kerja sama kecil…” jawab Mr.Wu sembari memutar gelasnya.

“Jadi, kerja sama apa yang kau inginkan dari kelompok gangster kecil milikku ini?” Baekhyun menyandarkan punggungnya ke sofa. Bersikap sesantai mungkin. Lawan bicaranya kemudian meneguk champagne nya hingga tak tersisa. Lantas, dengan memasang ekspresi yang cukup serius, Kris Wu-ketua kelompok gangster The Scorpion dari Vancouver itu memulai penjelasannya.

Shin young menengadahkan wajahnya ke arah langit. Langit malam benar-benar tampak kelam. Angin sesekali berhembus membuat udara semakin terasa dingin. Gadis itu mengusap-usap lengan nya yang polos tak tertutup. Pakaian Ji hyun yang berupa dress sleeveless benar-benar tidak membantu dalam keadaan seperti ini. Shin young pun tidak tahu sekarang sudah pukul berapa. Tapi ia rasa ini sudah cukup malam. Ia juga sudah merasakan kantuk yang menyerang. Berkali – kali ia menguap.

Sedari tadi ia menunggu kedatangan Baekhyun. Namun hingga malam tiba, belum juga tampak tanda-tanda kemunculannya, pun juga anak buah nya yang lain. Tempat ini sepi. Shin young melihat ke arah gang sempit yang menjadi satu-satu nya akses masuk ke tempat ini. Huh, harus sampai kapan ia menunggu. Atau jangan-jangan kakak nya sudah tidak singgah di tempat ini lagi. Kalau betul itu terjadi, lantas apa yang harus ia lakukan?

Di tengah keputus asaannya, tiba-tiba telinga Shin Young menangkap suara deru motor. Ia bisa melihat sebuah motor memasuki area ini. Dua orang laki-laki turun dari motor sport tersebut. Shin young berharap bahwa itu adalah kakak nya. Harapannya terkabul. Karena laki-laki yang baru saja melepas helm nya itu ternyata memang Baekhyun. Shin young tersenyum, dan seketika hatinya menghangat. Ia  berlari memeluk Baekhyun.

Laki-laki itu sempat terkejut, baru saja menapakkan kaki nya, ia sudah disambut oleh pelukkan. Sayangnya, pelukan itu datang dari orang yang tidak ia sukai keberadaannya.

“Rupanya, kau masih berani mendatangi tempat ini ya?” Baekhyun melepas tangan shin young yang melingkari pinggangnya dengan kasar,” Kau tidak takut dengan ancamanku?”

Shin young menggeleng sebagai jawaban. Kai yang sudah menahan emosi sedari tadi, langsung mengambil tangan Shin young, berniat menyeret gadis itu. Tapi yang ia dapatkan justru sebuah rasa sakit di pangkal pahanya akibat tendangan Shin young. Kai meringis kesakitan sambil memegangi alat vitalnya. Sementara Baekhyun cukup shock dengan apa yang baru saja gadis itu lakukan pada partner nya tersebut.

“Aku merindukan mu,oppa.” lirih Shin young, gadis itu menatap Baekhyun tepat di kedua manik matanya yang disambut Baekhyun dengan mengalihkan pandangannya.”Ada yang harus kita bicarakan.”

Baekhyun tertawa remeh.”Memangnya apa yang harus kita bicarakan? Mengenal mu saja tidak.”

“Aku ini adikmu. Berapa kali aku harus mengatakannya agar kau percaya?”

“Dan berapa kali pula aku harus mengatakan bahwa aku tidak memiliki adik agar kau juga percaya.” Tegas Baekhyun kemudian berjalan menaiki tangga menuju lantai dua. Shin young dengan cepat menyusul Baekhyun menaiki undak – undakkan itu.

“Oppa, kita benar-benar harus bicara. Ada banyak hal yang harus aku sampaikan padamu, dan aku rasa kau juga ingin menyampaikan sesuatu padaku.”

“Pergilah. Aku tidak mau mendengar omong kosong mu.” Ucap Baekhyun terus berjalan lurus tak mempedulikan Shin young.

“Sebentar saja, Oppa. Aku harus menjelaskan semuanya padamu, agar kau tidak menganggap semua ini omong kosong.” Lagi-lagi Baekhyun memilih mengabaikan Shin young. Ia tidak memiliki urusan apapun dengan gadis ini.  Bicara dengannya sama saja membuat waktunya terbuang sia-sia. Namun sebuah tarikan di tangannya berhasil membuat Baekhyun berhenti berjalan. Ia memperhatikan tangan mungil gadis itu, yang terasa panas.

Baekhyun dibuat membeku, saat gadis itu menarik tangannya lantas menyentuhkan punggung tangannya ke dahi gadis itu. Panas, itu yang Baekhyun rasakan.

“Aku sakit, Oppa.” ucapnya dengan lirih, menatap Baekhyun dengan sepasang mata nya yang jernih dan polos.

“Lalu?” Baekhyun mengangkat sebelah alis nya. Tak mengerti dengan apa yang gadis ini inginkan.

“Apa kau tega mengusir adik mu yang sedang sakit ini?”

“Mengapa aku tidak tega. Kau bukan adikku.” Jawab Baekhyun dengan sangat tegas.

Shin young tersenyum. Membuat Baekhyun mengernyitkan dahi nya. Semakin bingung dengan tingkah polah gadis ini. Laki-laki itu semakin bingung saat lagi-lagi, ia mendapatkan pelukan dari gadis ini.

“Kau tidak akan tega mengusirku.”

“Percaya sekali kau…”desis Baekhyun, mencoba melepas pelukan Shin young tapi gagal. Pelukannya terlalu erat.

“Tentu saja aku percaya.” Shin young tersenyum di atas dada Baekhyun,”karena aku adikmu.”

Jawaban terakhir itu berhasil membuat Baekhyun terpana. Ia seolah pernah mendengar kalimat itu. Karena aku adikmu. Tapi kapan Baekhyun mendengar kalimat itu?

Hujan turun cukup deras malam itu, membuat Shin young semakin menggigil kedinginan. Ia juga mulai merasa linu di beberapa persendian tubuhnya. Sesekali ia menyentuh dahinya sendiri. Suhu tubuhnya sepertinya naik. Shin young menghela nafas. Haruskah ia menyerah sekarang? Tapi kalau Shin young menyerah sekarang, itu sama artinya penantiannya selama ini menjadi hal yang sia-sia. Ia harus bicara dengan oppa nya. Tapi sayangnya, Baekhyun oppa sepertinya tidak ingin bicara dengannya. Lalu apa yang harus Shin young lakukan? Setetes air mata turun di pipi Shin young, dengan cepat ia menghapus nya. Ia tidak boleh menangis. Ia harus kuat. Begitulah Shin young menyemangati dirinya sendiri.

Semua yang terjadi pada Shin young tersebut tidak luput dari perhatian Baekhyun yang sekarang berdiri di dekat jendela lantai dua gedung itu. Ia memang tidak jadi mengusir gadis itu, hanya membiarkannya tetap di tempat ini tanpa ada niatan sedikitpun untuk bicara dengannya.

Kemunculan gadis itu sungguh di luar perkiraan Baekhyun. Laki-laki itu tidak mengira bahwa selain gila ternyata dia juga keras kepala. Nyalinya cukup besar untuk kembali ke tempat ini meski beberapa hari yang lalu, ia sudah diusir secara tidak sopan oleh anak buah Baekhyun. Ah, membicarakan anak buah…Baekhyun jadi teringat sesuatu. Jangan – jangan anak buah nya tidak melakukan tugasnya dengan baik, sampai-sampai si gadis keras kepala itu bisa memasuki wilayahnya dengan selamat. Sepertinya Baekhyun harus memberi mereka hukuman.

Baekhyun meneguk segelas wine yang berada di tangannya. Minuman itu cukup membuat Baekhyun merasakan kehangatan di tengah hawa dingin yang disebabkan oleh hujan deras yang disertai angin. Ia kembali melihat si gadis gila yang tengah memeluk dirinya sendiri. Baekhyun berniat mengabaikan gadis itu. Ia mulai berjalan menjauhi sisi jendela sebelum akhirnya sebuah suara menghentikan langkah kaki nya. Membuat Baekhyun kembali ke sisi jendela. Sayup-sayup ia bisa mendengar gadis itu melantunkan sebuah lagu anak-anak tentang hujan.

“Air nya turun tidak terkira…” tanpa Baekhyun sadari, ia ikut merapalkan lagu tersebut.”Cobalah tengok dahan dan ranting…” Baekhyun membeku di tempatnya. Ia kaget terhadap dirinya sendiri yang mampu menyanyikan lagu tersebut dengan baik. Dulu sekali, sepertinya Baekhyun juga pernah menyanyikannya.

Baekhyun kembali memfokuskan penglihatannya pada gadis itu. Dia duduk di atas lantai yang dingin dalam keadaan yang tidak cukup baik. Hati kecil nya terketuk. Tidak seharusnya ia membiarkan seorang perempuan menderita seperti itu. Baekhyun memang seorang ketua gangster, tapi bagaimanapun juga dia tetaplah manusia yang memiliki hati nurani. Cepat-cepat ia merogoh ponsel di saku celananya lalu menghubungi salah satu anak buah nya.

“Bawa perempuan itu pada healer.

“Rose…”

Suara oppa yang menggaung di telinganya, membangunkan tidur Lee Shin Young yang terasa nyenyak dan hangat. Mungkinkah ini efek dari mimpinya semalam. Baekhyun oppa memeluknya, menyalurkan kehangatan lewat dekapannya. Seingat Shin young ia bermimpi seperti itu semalam. Shin young tersenyum saat mengingatnya.

Ia pun memutar tubuhnya menjadi telentang. Menatap langit-langit kamar yang berwarna putih membuat nya teringat kejadian semalam. Seorang laki-laki  yang entah siapa namanya, membawanya ke tempat ini. Salah satu kamar berukuran 4×6 meter  dengan sebuah single bed, almari dan meja kecil di sudut kamar, di gedung seperti apartemen yang letaknya berada di kiri gang sempit dan berhadapan langsung dengan gedung tua tempat singgah kakaknya.

Shin young tahu kakaknya pasti tidak tega melihatnya menderita semalam, sebab itulah dia mengirim temannya untuk menolong Shin young. Bahkan demamnya sudah turun, badannya pun terasa ringan. Shin young tersenyum bahagia. Ia pun bangun lalu duduk di sisi ranjang, tepat saat itu seorang laki-laki masuk ke kamarnya. Laki-laki itu tersenyum menampakkan lesung pipi nya yang membuat nya terlihat sangat manis.

“Kau sudah bangun rupanya.” Ucap laki-laki itu sambil meletakkan nampan nya di atas meja di sudut kamar. Ia kemudian mendekat, meletakkan punggung tangannya di atas dahi Shin young.” Syukurlah, demammu sudah turun.”

“Siapa kau? Apa kau juga salah satu teman kakakku?” Shin young bertanya sambil mengamati penampilan laki-laki itu. Bersih, rapi dan wangi. Tidak terlihat seperti salah satu anggota gangster.

“Hem, aku memang teman…” laki-laki itu menahan kalimat nya,” kakakmu.” Lanjut nya dengan sedikit ragu. Laki-laki itu sudah tahu mengenai gadis yang saat ini duduk di tepi ranjang, menurut informasi Jaehyun semalam, gadis inilah yang mengaku-aku sebagai adik Baekhyun.

“Namaku Lay. Aku seorang dokter yang bekerja untuk Red Fox.” Tambah nya kemudian menjawab rasa penasaran yang kentara sekali dari ekspresi gadis itu.” Lalu, siapa namamu?”

“Aku Lee Shin Young. Adik baekhyun oppa.” jawab Shin young.” Red Fox itu…apa?”

“Jadi kau belum tahu tentang Red Fox?”

Shin young menggeleng.

“Red Fox, nama kelompok gangster yang dipimpin kakakmu.” Jelas Lay yang membuat Shin young menundukkan kepalanya. Dugaannya ternyata benar, Baekhyun oppa memang seorang gangster. Parahnya, dia adalah the leader.

“Aku membawakan sarapan dan juga obat untuk mu.” Lay berucap sembari mengambil nampan dari atas meja, lalu menyerahkan nya pada Shin young yang nampak ragu untuk menerimanya.

“Kau tidak memberi racun pada makanan ini kan?” tanya Shin young dengan wajah penuh kecurigaan. Lay sempat tertegun, namun tak lama setelah itu laki-laki berdarah China itu menyemburkan tawa yang begitu keras. Astaga, bagaimana bisa gadis ini berpikiran seperti itu?

“Mana mungkin aku menaruh racun di makanan mu ini. Lagi pula kalau aku ingin membunuhmu, aku sudah melakukannya sejak semalam. Tak perlu memberi mu obat penurun demam.”

“Tapi mungkin saja kan? Mengingat Baekhyun opa sedang membenciku.” Akhirnya Shin young menerima nampan itu. Ia melihat sepiring nasi dengan beberapa lauk. Ugh, perutnya tiba-tiba berbunyi nyaring. Maklum lah ia kan belum makan sejak kemarin. Shin young pun segera melahap makanan tersebut, dan ternyata rasanya sangat enak. Membuatnya ingin segera menghabiskannya. Lay memperhatikan itu semua. Dan dia hanya bisa tersenyum. Ia lantas duduk di samping Shin young.

“Menurutmu, Baekhyun oppa itu seperti apa?” tanya Shin young di tengah aktivitas makan nya.

Lay tersenyum.” Satu hal yang membuatku menghormati Baekhyun ialah, dia tidak pernah melukai perempuan manapun. Ada dua hal yang menjadi prinsip nya sebagai seorang ketua gangster. Menghormati wanita dan menjauhi narkoba.”

Shin young langsung meletakkan sendok nya begitu saja.” Menghormati wanita kau bilang?”

“Hem…”

Shin young menampilkan wajah cemberut tidak setuju. Kalau oppa nya itu benar-benar menghormati wanita, seharusnya dia menerima kehadiran Shin young? Bukannya malah mengusir nya dengan cara yang tidak sopan.

“Apakah sudah lama kakakku menjadi ketua gangster?”

“Ehm, entahlah. Mungkin iya. Mungkin juga tidak.” Jawab Lay ambigu.

“Apa kakakku juga membunuh orang, terlibat judi dan juga bisnis kotor seperti yang dilakukan para gangster atau mafia dalam film?”

“Kalau soal itu, aku tidak tahu.”

“Apa kakakku sering terluka?”

“Terlalu sering terluka, terlalu cepat sembuh. Tubuh nya telah kebal dengan semua rasa sakit.” Mendengar hal itu Shin young terdiam. Ia menunduk menatap piringnya yang hampir kosong. Kakaknya seorang ketua gangster yang mungkin terlibat dengan berbagai bentuk kejahatan. Yang mungkin juga telah membunuh orang. Kakaknya telah berubah. Shin young sedih saat memikirkan hal itu.

“Bagaimana dengan Red Fox itu sendiri? Gangster seperti apa mereka.”

Lay mengangkat kedua bahu nya.” Kalau tentang itu aku tidak bisa menjawabnya. Pertanyaan mu itu lebih tepat kau berikan kepada Baekhyun atau Kai. Aku disini hanya seorang dokter yang bertugas sebagai healer.”

“Oh…jadi apa kau itu semacam Yong Pal?”

“Yong Pal? Apa itu?” tanya Lay penasaran.

“Yong Pal itu sama seperti mu. Seorang dokter yang bekerja secara illegal untuk para gangster. Aku pernah melihat Jihyun melihat drama dengan judul Yong Pal.” Shin young telah menghabiskan sarapannya. Dia kemudian mengambil beberapa butir obat, menelannya secara bergantian.

Lay mengamati gadis itu. Dilihat dari garis wajahnya, tidak ada satu pun yang mirip Baekhyun. Jadi apa benar mereka bersaudara? Sepertinya pun, Baekhyun juga tidak pernah menceritakan kalau dia memiliki seorang adik.Tapi melihat kesungguhan gadis ini, membuat Lay berpikir mungkin saja dia memang adik Baekhyun.

Lay bukan hanya dokter bagi anggota Red Fox, tapi ia juga menjadi dokter pribadi Baekhyun. Banyak hal yang telah Baekhyun bagi hanya dengannya. Bahkan Kai yang merupakan kaki tangannya pun tidak tahu. Dibalik kepribadian nya saat ini, Baekhyun memiliki sisi yang tidak bisa ia ceritakan pada orang lain selain Lay. Ada bagian tersembunyi dari Baekhyun yang membutuhkan sentuhan kehangatan. Dan saat Lay melihat Shin young pertama kali, ia merasakan sebuah aura positif menguar kuat dari gadis itu.

Entah dia memang adik Baekhyun atau bukan, tapi Lay telah menaruh harapan besar pada gadis ini untuk bisa menyentuh sisi yang Baekhyun sembunyikan itu.

“Shin young-ssi…”

“Ya?”

“Kau tidak takut pada Baekhyun?”

“Untuk apa aku takut pada kakakku? Satu-satunya hal yang aku takuti hanyalah dia pergi dari sisiku dan tidak pernah kembali.”

Matahari telah terbit cukup tinggi. Sinarnya semakin terang dan terasa hangat. Di salah satu drum yang sudah tidak terpakai, Baekhyun terduduk menimati sinar matahari pagi yang konon sangat baik untuk kesehatan tulang. Di tangan nya terdapat sekaleng kopi hangat yang isi nya sudah hampir habis. Di tengah ketenangannya itu, Baekhyun tiba-tiba merasakan sebuah tangan yang menggelayut manja di lengan kokohnya. Tanpa perlu melihat, Baekhyun tahu siapa pelakunya. Cepat-cepat ia menepis tangan itu.

“Oppa, terimakasih ya.” Suara gadis gila dan juga keras kepala itu terdengar di indra pendengaran Baekhyun, membuat laki-laki itu sedikit bergeser, menciptakan jarak diantara mereka.” Terimakasih, telah mengirim seseorang untuk menolongku.”

Baekhyun bungkam dan kembali bergeser. Menciptakan jarak yang lebih panjang. Shin young yang melihat kakaknya bersikap seperti itu, hanya tersenyum geli. Kakak nya terlihat seperti seorang gadis yang tengah jual mahal. Hihihi. Sementara Baekhyun sendiri sebenarnya merasa risih berdekatan dengan gadis yang telah membuatnya kembali tidak bisa tidur semalam. Demi apapun, Baekhyun belum pernah merasa seperti ini sebelumnya. Mengkhawatirkan seseorang…

Tapi gadis ini memang berbeda. Buktinya sekarang Baekhyun mulai merasa canggung karena ditatap secara intens oleh seorang perempuan. Kalau soal tatapan menggoda dari seorang perempuan sih, Baekhyun sudah sangat terbiasa. Tapi tatapan gadis itu sungguh berbeda. Entah bagaimana cara Baekhyun menggambarkannya, tapi ini benar-benar berbeda. Entah feromon jenis apa yang menguar dari tubuh gadis itu, tapi yang jelas aura gadis ini membuat Baekhyun sungguh tidak menyukai keberadaannya.

“Oppa, bolehkah aku tinggal disini? Di kamar apartemen itu…” ucap Shin young sambil menunjuk gedung yang terletak persis di depan markas Red Fox, yang ternyata berfungsi sebagai tempat menginap para anggota gangster pimpinan Baekhyun tersebut.

“Tidak boleh.” Jawab Baekhyun dengan singkat dan tegas. Shin young mengerucutkan bibirnya. Ia kecewa pada jawaban Baekhyun.

“Aku ingin bersamamu,oppa. Aku sudah menantikan pertemuan ini sejak lama. Tinggal bersama keluarga Lee memang menyenangkan. Ayah dan ibu sangat baik, ya walaupun Ji hyun tidak sih.. Tapi tetap saja, aku merasa sedih dan bosan. Itu karena tidak ada dirimu,oppa.” Shin young berucap tanpa sedetik pun mengalihkan mata nya dari wajah Baekhyun yang menurutnya tampak bersinar pagi ini.” Jadi ijinkan aku tinggal disini ya?”

“Tidak.”

“Ayolah,oppa. Ibu sudah meninggal, hanya kau satu-satunya yang aku miliki di dunia ini.” Rayu Shin young sambil bergeser mendekat ke arah Baekhyun. Membuat laki-laki itu menurunkan kaki nya dengan cepat. Menghindari Shin young tentunya.

“Oppa…” suara Shin young terdengar manja sekali, dan itu membuat telinga Baekhyun semakin panas saja. Laki-laki itu mengayunkan kaki nya, hendak meninggalkan Shin young. Tapi gadis itu bergerak lebih cepat, hingga kini ia sudah bergelayut manja di lengan Baekhyun. Dengan puppy eyes dan senyum semanis madu, Shin young mencoba membujuk Baekhyun.” Boleh kan,oppa?”

“Tidak, nona gila. Harus berapa kali aku mengatakannya padamu?! Kalau kau memang sudah sembuh, cepatlah pergi dari tempat ini!” Baekhyun melepas tangan Shin young dari lengannya. Dengan kuat ia berusaha untuk tidak termakan aegyo Shin young.” Disini berbahaya, dan aku tidak mau repot-repot menjamin keselamatanmu.” Imbuh Baekhyun.

Bukannya mendapatkan ekspresi takut, Baekhyun justru disuguhi dengan senyuman manis dari Shin young. Baekhyun pun membuang muka secepat mungkin. Senyuman itu tak ubahnya bisa ular betina yang berbahaya. Jangan sampai Baekhyun terkena bisa itu.

“Aku akan tetap tinggal disini, apapun yang terjadi.”

Ugh, dasar gila ! Sinting ! Kerasa kepala ! Baekhyun melangkahkan kaki nya lebar-lebar menjauhi Shin young. Cara apa lagi yang harus ia lakukan agar gadis itu menyingkir dari lingkaran hidupnya.

Berbekal uang pinjaman dari Lay ge – begitulah Shin young memanggil Lay – gadis itu memutuskan untuk naik bus dan mengunjungi beberapa tempat. Pertama, ia mengunjungi toko buku tempat nya bekerja. Masih menggunakan dress sleeveless milik Jihyun serta sandal rumah sakit, Shin young muncul di depan toko buku. Sahabatnya, Choi Rae Jin segera menghampiri Shin young kemudian memberikan pelukan erat untuknya.

“Aku merindukanmu, Young-ie.” Ungkap Rae Jin sembari mempererat pelukannya.

“Aku juga, Rae Jin-ah…”

“Kau menghilang kemana, eoh? Membuatku sangat khawatir.”

“Hehe, maaf ya karena membuatmu khawatir. Ceritanya panjang sekali, Jin-ah.”

“Kalau begitu ayo masuk. Kebetulan toko sedang sepi, kau bisa menceritakan semuanya padaku.” Rae jin pun menarik tangan Shin young masuk ke toko.

Mereka duduk di kursi baca yang ada di dalam toko. Shin young menceritakan kejadian yang dia alami kepada Rae jin. Tentu dengan beberapa pengurangan di bagian cerita nya, karena tidak mungkin kan ia menceritakan semuanya pada Rae jin. Tidak hanya itu, Shin young juga mengutarakan niatnya pada sahabatnya itu tentang keputusan nya untuk resign. Saat mendengarnya, Rae jin sangat sedih. Ingin sekali dia menahan Shin Young agar tidak pergi. Tapi Rae jin tahu betul seperti apa sifat Shin young. Gadis itu keras kepala. Sekali mengambil keputusan, maka dia akan berpegang teguh pada keputusannya itu.

“Aku mendukung apapun keputusan mu.” Ucap Rae jin akhirnya. Mencoba merelakan keputusan Shin young.” Selalu jaga kesehatan dan jangan lupa menghubungi ku ya.”

“Hem, aku akan melakukannya. Dan juga…terimakasih kau sudah mau menjadi teman ku selama ini jin-ah.”

“Aku juga.”

Mereka kemudian saling memeluk. Tak ingin terlalu lama larut dalam perpisahan yang mengharukan, Shin Young pun segera melepas pelukannya. Ia menatap wajah Rae Jin cukup lama. Menyimpan dalam memorinya, bahwa Rae jin adalah sahabat terbaik yang tidak boleh ia lupakan. Selepas itu, Shin young naik ke lantai dua. Ia harus menemui bos nya untuk menyatakan pengunduran diri secara langsung.

Nyonya Lee sedang termenung di ruang tengah, memikirkan putrinya yang tak kunjung ditemukan. Disampingnya, Tuan Lee sedang memeriksa beberapa laporan rekonsiliasi bank. Sesekali ia melirik ke arah istrinya. Ia mendesah, kemudian melepaskan kacamatanya.

“Shin young pasti ditemukan. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Tuan Lee menghibur istrinya yang memang sejak Shin young hilang tampak sangat murung.” Polisi pasti akan menemukannya.”

Sementara itu, Ji hyun sedang mencuci piring bekas makan malam. Beberapa hari ini, gadis itu rajin melakukan pekerjaan rumah. Itu adalah bentuk hukuman dari ibu nya karena telah membiarkan Shin young pergi. Tidak hanya itu, Tuan Lee mengurangi uang jajan Jihyun dalam sebulan serta memberikan fasilitas eksklusif pada Jihyun berupa pengawal yang setia mengikuti kemana pun ia pergi. Gadis itu memang harus diawasi dengan ketat, agar tidak melakukan hal – hal buruk lainnya. Jika aku yang hilang, apa ibu juga akan terlihat menyedihkan seperti itu? Tanya ji hyun di dalam hatinya.

Bel rumah berbunyi. Ji hyun segera mencuci tangannya kemudian berlari ke depan. Betapa terkejutnya Ji hyun saat mendapati Shin young berdiri di depan pintu dengan masih menggunakan baju yang sama saat terakhir kali ia pergi dari rumah sakit.

“Siapa yang datang Ji hyun-ah?” tuan Lee muncul dari dalam. Matanya menangkap keberadaan putri angkatnya.” Shin young, kau kah itu?”

Suara tuan Lee terdengar hingga ke ruang tengah. Ibu yang mendengar nama Shin young disebut, segera berlari ke depan. Hatinya membuncah bahagia begitu melihat Shin young.

Shin young telah siap dengan koper kecil. Ia juga telah berganti pakaian. Setelah pembicaraan yang berlangsung lama dan sedikit alot, akhirnya Tuan dan Nyonya Lee mengijinkan Shin Young untuk tinggal bersama kakaknya.

“Ingat sayang, kau harus menepati ketiga janji mu tadi ya.”

Shin young mengangguk mantap.” Aku akan sering menelpon ibu, ayah ataupun Jihyun. Tidak akan lupa makan dan menjaga kesehatan. Dan bila sudah sempat, aku akan mengajak oppa berkunjung kemari.” Ucap Shin young mengulang tiga janji yang ia ucapkan di hadapan keluarga Lee tadi.

Nyonya lee tersenyum kemudian memeluk erat Shin young. Meski, dia hanya putri angkat, tapi Nyonya Lee telah menganggap Shin young sebagai darah dagingnya sendiri. Rasanya berat sekali melepas Shin young pergi. Tapi, ia juga tidak bisa menahan Shin young untuk tetap tinggal, mengingat betapa besar keiinginannya ingin tinggal bersama kakak nya. Impian Shin young sejak dulu.

“Ibu mencintaimu.” Bisik Nyonya Lee tepat di telinga Shin young.

“Aku juga mencinatai, ibu.” balas Shin young lalu melepas pelukan ibu. Ia beralih ke Tuan Lee. Dengan air mata yang hampir menetes ia menatap sosok pria bijaksana itu.

“Ayah, terimakasih banyak untuk semuanya. Maaf aku belum bisa membalas kebaikan mu. Aku benar-benar bersyukur Tuhan mengirimkan mu untuk menjadi ayahku. Lee Jae Ha, kau ayah terbaik. Aku bangga menjadi putrimu.” Ucapan Shin young yang menimbulkan haru luar biasa bagi Tuan Lee. Ia bahkan tak kuasa menahan tangis nya. Ia pun memberikan pelukan hangat nya untuk Shin young.

“Terimakasih, karena kau telah bersedia menjadi putri ku. Ayah juga bangga padamu.”

Terakhir ji hyun. Gadis itu sedari tadi memilih mengalihkan pandangannya dari drama keluarga yang sedang berlangsung. Tapi, saat Shin young menggenggam tangannya, tiba-tiba ia jadi kikuk sendiri.

“Ji hyun-ah, terimakasih telah menerima ku menjadi saudara angkat mu. Terimakasih karena kau telah rela berbagi kasih sayang dengan ku.” Shin young pun memeluk Ji hyun, yang juga dibalas oleh Ji hyun. bagaimana pun ini terakhir kali nya ia bertemu Shin young, juga ini masih di hadapan orang tua nya. Jadi, Ji hyun pun membalas pelukan itu sebagai penjagaan reputasi nya di depan orang tuanya.

“Jaga dirimu…” Ji hyun memberikan sebuah senyuman yang nampak dibuat-buat kepada Shin young. Karena, sebaik apapun Shin young padanya, Ji hyun tidak akan pernah menyukai Shin young.

“Ayah, Ibu, Ji hyun, aku pergi.” Ucap Shin young lalu membungkuk penuh sebagai tanda hormat pada keluarga yang telah sangat berjasa dalam hidupnya. Keluarga kedua yang sangat ia cintai dan tidak akan pernah dia lupakan. Setelah itu, ia benar-benar melangkah kan kaki nya meninggalkan rumah yang telah menjadi tempat tinggal nya sejak ia berusia 14 tahun. Rumah dimana ia tumbuh dari gadis remaja menuju gadis dewasa. Kini, dengan berat hati ia harus meninggalkan rumah itu, menuju rumah baru yang ia impikan selama ini. Yaitu, bersama kakaknya.

Sehun terlihat seperti zombie tampan saat sedang memeriksa kondisi beberapa pasiennya hari ini. Membuat mereka bertanya-tanya, apa gerangan yang telah membuat dokter tampan mereka menjadi seperti ini. Kantong mata membesar disertai lingkaran hitam di bawah nya, juga senyuman manis yang tiba-tiba menghilang. Meski terlihat mengerikan, sialnya dia tetap tampan.

Selesai melakukan pekerjaannya, Sehun kembali ke ruangannya. Melepas stetoskop dan juga jas putih nya. Ia menyimpan catatan medis pasiennya tetap di atas meja. Dia sedang tidak berminat mengecek semua nya sekarang, karena otak nya sedang error. Semenjak, Shin young menghilang, otak Sehun hanya berisi bagaimana menemukan gadis pujaan hatinya itu.

“Baru satu hari menghilang, tapi kau sudah tampak menyedihkan seperti ini?” ucap kakaknya tadi pagi saat mereka sarapan bersama.

Berlebihan memang, tapi mau bagaimana lagi. Sehun terlanjur memasukkan Shin young ke hati nya dengan dalam. Sampai-sampai tidak bisa dikeluarkan lagi dari hatinya. Ck, parah ya?

Dengan gontai Sehun mengayunkan kaki nya menuju tempat parkir. Langkah nya terhenti saat dia melihat sosok yang ia rindukan sedang duduk di kursi tunggu lobi. Siapa lagi kalau bukan Lee Shin Young? Seulas senyuman terbit dari bibir Sehun, ia segera berlari ke arah sosok itu.

“Lee Shin Young?”

Shin young mendongak, menatap wajah laki – laki yang kini berdiri tepat di depannya. Laki – laki itu tersenyum, Shin young pun membalas nya. Gadis itu memang menunggu Sehun sedari tadi. Ada beberapa hal yang ingin ia sampaikan kepada pria itu.

Tak lama setelahnya, mereka duduk di bangku taman rumah sakit. Sehun yang membuka percakapan terlebih dahulu.

“Kau membuatku sangat khawatir, nona Lee. Lihat, kantung mata ku ini? besar sekali bukan? Juga lingkaran hitam nya.” Sehun menunujuk matanya, memperlihatkan bukti ke – zombie – an nya pada Shin young.” Ini semua terjadi karena aku kurang tidur. Terlalu banyak memikirkan dirimu.”

Shin young tidak tahu harus menanggapi apa. Maka, gadis itu hanya tersenyum.

“Jadi, kau pergi kemana hm?” tanya Sehun, menatap lawan bicaranya tepat di kedua manik matanya.

“Aku hanya pergi ke suatu tempat.”

“Dalam keadaan sakit? Dan tanpa ijin alias kabur? Bahkan bertukar baju dengan Jihyun?” cecar Sehun membuat Shin Young menundukkan kepalanya.

“Maaf karena telah membuat kau khawatir, Hun-ie.”

“Dan koper itu…” Sehun melirik koper kecil berwarna abu tua yang ada di sebelah Shin young.” Kau berniat pergi lagi?”

Terselip sedikit kemarahan saat Shin young mendengar pertanyaan itu. Membuat Shin young tidak berani mengangkat wajahnya.

“Jawab Lee Shin Young? Apa kau akan pergi lagi?” Shin young akhirnya mengangkat wajahnya, melihat ke arah Sehun yang saat ini sedang menatap nya dengan tajam. Terlihat gurat kemarahan di wajah itu.

“Oppa..”

Sehun paling tidak suka saat Shin young memanggilnya oppa. Karena itu artinya, gadis itu mulai membicarakan sesuatu yang serius. Membuat Sehun was – was, juga merasakan hal buruk akan terjadi.

“Aku harus pergi.” Lirih Shin young dengan suara pelan. Gurat kemarahan di wajah Sehun semakin terlihat. Ia benci bila harus terpisah lagi dari Shin young. Mereka baru saja bertemu lagi, Sehun juga baru memulai nya lagi dari awal. Secepat ini kah perpisahan itu terjadi?

“Kau tidak boleh pergi, Shin young ! kau harus tetap disini !” tegas Sehun.

“Aku tidak bisa, oppa. Maaf…”

“Kalau kau memang tidak bisa tetap tinggal, lalu mengapa kau harus kesini,huh?”

“Karena aku ingin berpamitan dengan mu, oppa. Bagaimanapun juga, kau sudah ku anggap seperti kakakku sendiri.”

Kalimat terakhir Shin young menampar Sehun dengan kuat. Jadi, selama ini tidak ada yang berubah dari perasaan Shin young terhadapnya? Gadis itu tetap menganggap nya sebagai kakak? Tidak lebih? Harapan Sehun kembali terbang ke awang – awang. Sehun tersenyum kecut,

“Jadi, aku tetap lah seorang kakak bagimu ya?” ucap  Sehun dengan nada getir. Shin young mengangguk.

“Apa aku sungguh tidak berarti lebih dari sekedar kakak, untuk mu? Sedikit saja kau tidak menaruh perasaan itu padaku, Lee Shin Young?”

“Maaf…” lirih Shin young. Sungguh, ia tidak ada niatan untuk menghancurkan perasaan Sehun. Tapi begitu lah faktanya, Shin young tidak pernah menganggap Sehun lebih.

“Menyedihkan sekali diriku ini. Sejak dulu hingga sekarang, tidak ada yang berubah dari perasaan ku padamu, Young. Aku selalu menyukaimu.” Shin young tidak bisa mendengar lebih dari itu, maka gadis itu beranjak dari bangku. Tangannya menyentuh koper, tepat saat itu Sehun mengambil tangannya lalu menarik Shin young ke dalam pelukannya.

“Tidak bisakah kau tetap tinggal? Demi aku yang selalu menyukai mu.”

“Maaf, oppa. Aku tidak bisa.”

“Kalau begitu katakan kemana kau pergi. Aku akan ikut bersama mu.” Shin young meloloskan diri nya dari pelukan Sehun. Dia menatap wajah tampan yang kini terlihat sangat menyedihkan itu.

“Maaf, oppa. Aku tidak bisa mengatakannya. Kau juga tidak bisa ikut dengan mu. Sekali lagi, maaf.” Shin young menarik kopernya. Dengan perasaan yang kacau, dia berjalan meninggalkan Sehun. Dia tidak mengira, perpisahan dengan Sehun terasa begitu berat.

“Aku mencintaimu, Lee Shin Young!” Teriakan Sehun berhasil menghentikan langkah Shin young.” Tidak cukupkah itu menjadi alasan kau tidak pergi.”

Shin young bungkam. Dadanya terasa dihantam palu yang cukup besar. Rasanya sakit saat mendengar Sehun mengucapkan kata cinta itu. Sakit karena dia tidak bisa membalas cinta tulus dari pria itu. Dia tidak pernah mengira hubungan yang selama ini ia anggap sebagai hubungan kakak adik akan menjadi serumit ini.

“Aku mencintaimu.”

Kali ini, Shin young berbalik. Ia tersenyum pada Sehun yang saat ini berdiri tidak jauh darinya. Shin young membungkukkan badannya.” Terimakasih karena telah mencintaiku,oppa. Tapi, maaf aku tidak bisa membalasnya.” Shin young kembali membungkukkan badannya. Setelah itu, ia benar-benar melangkahkan kaki nya menjauh dari Sehun.

Air mata menetes dari kedua orang itu. Sehun yang untuk kesekian kali patah hati. Dan shin young untuk dirinya sendiri yang seperti orang jahat yang telah menyakiti Sehun berulang kali. Perpisahan memang selalu menyakitkan.

Sehun pernah jatuh cinta berulang kali, Sehun juga pernah merasakan ditolak oleh perempuan selain Shin young. Entah kekuatan apa yang dimiliki Shin young, hingga membuat Oh Sehun jatuh terlalu dalam pada gadis itu. Tidak ada yang mematahkan hati Sehun hingga sehancur ini, selain Lee Shin Young. Membuat Sehun lemah seperti ini. Kalau saja, Sehun bisa melangkah pergi seperti Shin young, Sehun akan melakukannya saat ini juga. Tapi, dia tidak bisa pergi semudah itu. Tubuh dan perasaannya sudah diikat Lee Shin Young, tidak bisa dilepas.

Nothing has ever broken me like you did. No one, I ever wanted more than you. Nobody else can make a man so weak. Make him falling love so deep, baby

If I could just get over you, I would. Don’t wanna love you anymore, and missing you like fighting war. It’s a battle im loosing, and I’d give up girl if I could. If I could walk away as easily as you, I would

( I would by Henry Lau ).

 

To Be Continue

 

A/N        : hai, readers ! adakah yang menunggu fanfic ini?? hehe, baru bisa update karena sedang sibuk dengan my real life. Setelah chapter ini, mungkin saya baru bisa update 2 minggu sekali. Semoga kalian tidak bosan dan tetap menunggu kelanjutannya ya. Jangan lupa tinggalkan komentar agar saya tambah semangat nulis nya ya 😉 hihi … xoxo

 

 

 

Iklan

20 pemikiran pada “[ EXOFFI FREELANCE ] The Sound of The Rain – CHAPTER 4

  1. Hmm cerita ttg gengster, pastinya menegangkan yak? Dan aku suka daripaDa cerita yg melankolis.. Hihi.
    Aku belom ngerti sih, krn bacanya lngsung di chap ini.
    Aduh kasihan si zombie tampan patah hati.
    Aku penasaran, sebenarnya shin young suka sm siapa? Apa baekhyun beberan kakaknya?

  2. Daebak thor!!!
    Kok baekhyun gk inget shinyoung sih? Tapi,aq penasaraan. Gmna ceritanya baekhyun bisa jadi the leader gangster? Amnesia’kah’? Knp baekhyun dan shinyoung bisa terpisah? Kpn shinyounģ mencintai sehun? Sedih deh shinyoung pamitan ma sehun? Semoga sehun diam diam ngikutin shinyoung. Penasaran thor
    Next part~

  3. big question nya is kenapa baekhyun ga inget sm shin young ? dan alasan dia ninggalin “keluarganya” itu msh belum diungkapin kan apa akunya yg lupa yaa..
    shin young pd bgt main perpisahan2 gitu emg baekhyun beneran udh ngijinin trs gimana sm sehun disitu org ketiganya sehun kan trs krn sekarang dia udh ditolak mentah2 gitu masa udh kelar perannya . ok next chapter lanjut…

    • Hai thx for.reading ya…dan komentar yg kritis aq suka sekali. Membava komen mu aq jadi ingin membuka.segalanya.disini…tpi nanti ga seru…
      Sehun masih akan muncul kok di chapter2 yg akan datang. Dialah yg akan membaea titik terang nya…
      Wkwkwk
      jgn bosan ikuti ceritanya ya…krn bisa jadi sangat panjang.

    • Hai…thx for reading ya…
      Baekhyun amnesia atau tidak…jawabannya hanya akan kamu temukan.dgn mengikuti trs kisahnya…jadi keep reading ya….:-) 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s