[EXOFFI FREELANCE] DRAFT – Chapter 27/END

draft.jpg

Tittle: DRAFT
by Tyar
Chapter | School life, Friendship, Romance | T
Cast
Sehun – Irene – Kai – Seulgi – With SM Artists.
Disclaimer
2016/2017 © TYAR
Don’t claim my fiction!!

Visit my village – [https://nakashinaka.wordpress.com/]

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 26]

-27 – END-

Senyap. Tak ada suara apapun yang terdengar di apartemen itu selain detik jam dinding yang terus berlalu. Sesekali suara gesekan dari lembaran kertas yang berganti turut mengisi keheningan tempat itu. Jarum jam kini menunjukkan pukul 12 siang. Yang Sehun coba lakukan sejak tadi hanya membaca sebuah buku di atas sofa ruang tengah apartemennya. Tetapi beberapa kali dia harus membaca ulang hanya karena ketidak fokusan yang melanda benaknya. Setiap kali setengah halaman berhasil ia baca, tiba-tiba saja wajah Irene muncul membayanginya. Entah sudah berapa kali Sehun menghela nafas, mengerjapkan mata, dan mulai fokus kembali. Namun hasilnya akan tetap sama, wajah Irene lah yang akan hadir.

“Aish,” Sehun menggeleng cepat sembari menutup bukunya dengan cepat. Irene terus saja muncul dipikirannya semenjak pertemuan itu –3 hari yang lalu. Keesokannya dia mencoba pergi ke kantor milik ayah Irene, namun dia tak mendapatkan apapun karena bahkan ayahnya saja tidak sedang berada di sana. Hari berikutnya, Sehun mencoba menghubungi nomor lama Irene, tapi nomor itu kini sudah tidak terdaftar –pastilah karena selama 4 tahun ini tak pernah diaktifkan. Kemudian hari berikutnya –kemarin, Sehun sibuk sekali dan tak sempat berbuat sesuatu untuk menemui Irene yang saat ini telah berada di pijakan yang sama, udara yang sama, dan langit yang sama.

Sehun beralih ke dapur untuk membuat sesuatu untuk makan siang. Namun apa yang terjadi masihlah sama. Sehun diam di depan wajan dengan tidak fokus sampai omelet yang tengah dibuatnya nyaris gosong.

“Astaga!” Bau yang menyengat berhasil membuatnya sadar lantas mematikan kompor dan melemparkan spoon di dekat kompor dengan pelan.

Kedua tangannya kini bertumpu pada dataran kitchen set sambil menghela nafas. Sehun frustrasi. Irene sudah berada di Korea, bahkan menampakkan diri di depan matanya, tetapi jangankan menariknya ke dalam pelukan, menemuinya saja Sehun tidak bisa.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk ke ponselnya, Sehun menemukan nama Kai di sana.

Kau sudah mendapat jadwal wisuda? Kapan?”

Sehun pun memberi balasan singkat, “Lusa. Kau akan datang? Bersama orang tuamu?”

“Hm, begitulah.”

“Aku akan terlihat seperti kakakmu, nanti.”

“Kau tidak suka mempunyai adik imut sepertiku, hyung?”

“Enyah kau.”

Sehun membanting dirinya di atas sofa. Menyenderkan punggungnya kemudian menatap langit-langit apartemen dengan gelisah. Tak sampai 5 menit, dia bangkit dan melangkah menuju jendela apartemen hanya untuk sekadar memandang langit cerah kota Seoul. Lantas dia berjalan menuju kulkas demi meneguk sebotol air dingin dengan sekali tenggak. Wajah Irene muncul lagi, dan lagi.

Lelaki itu semakin gelisah dengan berjalan kembali di hadapan jendela, dan melakukan hal paling bodoh yang pernah dia lakukan selama hidupnya; mondar-mandir, seperti sebuah setrikaan panas.

Ada satu hal yang dia pikirkan saat ini. Mungkin dia bisa mencobanya lagi, meskipun ini hari Sabtu.

Setelah 10 menit gelisah berkutat dengan dirinya sendiri seperti orang sinting, Sehun pun segera berjalan cepat menuju kamarnya dengan bersiap-siap memakai jaket sembari membuat sebuah panggilan.

“Kai?”

“Oh?”

“Pinjam motor, aku akan segera ke rumahmu.”

Perjalanan di dalam bus selama 30 menit pun Sehun lalui menuju rumah Kai. Maka sesampainya di sana, dia tak mengatakan apapun pada sang pemilik motor selain, “aku akan kembali sebelum makan malam.”

“Jika kau terlambat?”

Sehun diam sejenak di atas motor besar Kai dengan helm yang sudah menutupi seluruh wajahnya. Lelaki itu membuka kaca helm, “itu artinya aku sedang makan malam, atau berkencan? Atau melamar Irene? Terserah kau mau menganggapnya apa.”

Heol, daebak.

XxxX

Satu jam sesudahnya, Sehun sampai di depan sebuah gedung pencakar langit yang sempat didatanginya 2 hari lalu. Dia turun dari motornya kemudian melepas helm. Dan sama sekali tidak menyadari orang-orang yang berlalu-lalang di sekitarnya saat ini memandanginya dengan mata berbinar, seakan mereka tengah menyaksikan pangeran paling menawan seantero kerajaan turun dari kuda putihnya dengan gagah. Sehun pun bersandar sedikit di pinggir motor itu sambil menatap ke arah gedung. Dia akan menunggu sampai kantor itu benar-benar tutup.

Sehun sadar betul ini bukanlah hari kerja. Namun perusahaan itu tidak mungkin memiliki hari libur, meskipun pemiliknya belum tentu berada di dalam sana saat ini. Baiklah, pemilik yang dimaksud Sehun adalah Irene. Dia berharap Irene akan keluar dari sana, dan saat itu terjadi Sehun akan membawa gadis itu pergi dari tempat itu.

Namun niatnya benar-benar gagal total ketika Irene keluar, bersama ayahnya. Sehun berdiri tegak dengan mendengus sebal. “Kenapa presdir Bae itu sama sekali tidak membiarkan anaknya sendiri, oh? Dia pikir Irene anak 5 tahun?” gerutunya sambil menggelengkan kepala.

Kini Irene dan sang ayah bersama-sama menaiki mobil yang sama dan berlalu entah pergi kemana. Mungkin pulang? Mungkin saja. Maka dari itu, Sehun pun segera menaiki motornya dan berlalu membuntuti mobil mewah itu.

Sehun terus mengejar mobil itu meskipun mungkin sang supir atau bahkan ayah Irene akan menyadari keberadaannya yang mencurigakan. Namun setidaknya, dia harus tau rumah Irene dimana. Siapa tau dia bisa menculik gadis itu dan benar-benar membawanya pergi.

Tetapi lagi-lagi harapannya pupus seketika. Saat mobil mewah itu justru berhenti di sebuah gedung yang tak kalah tinggi dengan perusahaan milik Bae.

Dari motornya, Sehun memperhatikan bagaimana Irene dan ayahnya turun dan disambut dengan beberapa staff penjaga berjas rapi yang kemudian menuntun mereka untuk masuk. Entah kenapa tiba-tiba saja perkataan Kai waktu itu segera memenuhi benaknya.

“Kau tau ‘kan sikap orang-orang tua seperti Presdir Bae dan ayahku yang punya perusahaan super besar, mereka biasanya saling menjodohkan anak mereka demi kepentingan perusahaan.”

Mungkinkah Irene akan dijodohkan dengan anak dari pemilik perusahaan di depannya kini? Pikir Sehun semakin cemas. Lelaki itu menghembuskan nafas. Bertanya-tanya apakah Irene bahkan pernah mencoba untuk kabur demi menemui dirinya?

XxxX

“Sepertinya sebuah motor sedang mengikuti kita, sajangnim.” Sahut supir mobil mewah itu dengan santai, matanya sesekali melirik ke arah kaca spion.

Irene segera menoleh ke belakang dan menemukan motor besar dengan seorang pengendara laki-laki beberapa meter di belakang mobilnya. Di balik helm tertutup itu Irene bahkan tau jika orang itu adalah Sehun.

“I-itu,”

“Oh Sehun?” sela ayahnya.

“Kau.. Tidak akan membiarkan aku turun sebentar saja?” tanya Irene berharap. Ayahnya tak menoleh, selain tertawa pelan.

“Tidak. Untuk apa?”

Irene memajukan bibirnya, “ayah bilang dia calon menantumu.”

Tawa pria paruh baya itu semakin keras, “tentu menjadi calon menantuku tidak akan mudah, Irene.”

Gadis itu melipat kedua tangan di dada sambil memperhatikan motor Sehun yang terus berusaha menyalip dan tidak kehilangan jejak mobilnya. “Cih. Ayah ternyata memang tidak pernah berubah sejak dulu.”

Irene mendelik pada ayahnya beberapa saat, “kau sedang mengujinya atau apa?”

“Hmm. Siap-siap, nak. Kita akan segera sampai.”

Dua jam berlalu begitu lambat di dalam sana bagi Irene. Serangkaian pekerjaan ayahnya yang harus dia saksikan, pelajari, atau semacamnya, membuat dia benar-benar bosan. Irene ingin bertemu Sehun, segera menghambur dan memeluk pria itu erat-erat.

Setelah semuanya selesai, supir mereka memberitau bahwa penguntit bermotor itu –Sehun, masih berada di tempatnya. Itu membuat Irene meringis, sungguh, Sehun pasti benar-benar menunggu dirinya untuk bisa bertemu.

“Irene,” sahut ayahnya pelan ketika mereka keluar dari lift, “jaga pandanganmu dan jangan lihat ke arah laki-laki itu.”

Irene mendengus, “Nee, nee.

Itu perintah yang amat sulit. Dengan susah payah Irene berusaha tidak melirik, dan tetap menatap ayahnya atau menatap ke arah mobil saja.

“Kurasa ayah tidak sungguh-sungguh menginginkan Sehun menjadi calon menantu,” gumam Irene membuka percakapan dalam perjalanan. Membuat ayahnya hanya tersenyum.

“Memang tidak. Pada awalnya.” Balas pria paruh baya itu santai, sambil memandangi ke luar jendela. “Kupikir laki-laki bernama Sehun itu bahkan sudah melupakanmu dan tidak mengharapkanmu lagi. Tapi,”

Irene menoleh, memperhatikan ayahnya yang tengah tersenyum, “dia ternyata menunggumu. Aku tau kalau kau sama sekali tidak bisa berpaling darinya. Jadi awalnya kupikir, pertemuan itu akan membuatmu senang dengan hanya melihatnya saja secara langsung. Tapi ternyata, setelah aku melihat laki-laki itu, melihat matanya, Sehun tak berpaling sama sekali.”

Oh, itu cukup membuat Irene tersipu, mendengarnya langsung dari sang ayah hanya membuatnya merasa malu. Namun juga tak menyangka, seseroang seperti ayah dapat melihat hal yang sesensitif itu.

“Aku mencoba mengujinya lagi dengan tidak membiarkan dia menghampirimu saat kita selesai rapat bersama mereka. Dan dia terus saja memperhatikanmu. Lalu hari ini, lihatlah, dia bahkan mengikuti kita sampai sekarang.” Tuan Bae tertawa pelan, “tidakkah dia berani menemuimu di hadapanku? Atau mungkin dia takut padaku?”

Irene menatap ayahnya dengan tatapan meledek kemudian mendelik sebal, “Oh! Ayah pernah menampar pipinya dan memakinya, tentu saja dia akan takut!”

Pria itu tertawa lagi, “Sekretaris Park, pastikan motor itu kehilangan jejak kita.”

“Ayaah!” Rengek Irene. Dia sudah berharap ayahnya akan menghentikan mobil, tetapi malah sebaliknya.

XxxX

Itu adalah hari yang cerah untuk sebuah wisuda. Momen sekali seumur hidup yang harus berjalan lancar dan indah. Begitupun juga bagi Sehun. Meskipun tidak memiliki keluarga kandung sama sekali. Namun keberadaan keluarga Kim sudah cukup membuatnya merasa bahagia. Mereka sudah seperti keluarganya sendiri.

Acara demi acara telah berlangsung dengan lancar dan mengharukan. Hari ini, Sehun berhasil menjadi seorang sarjana dengan nilai terbaik –seperti yang diharapkan. Meski begitu bukan berarti dia tidak memiliki masa-masa sulit selama menjadi mahasiswa. Sehun hanya tidak memiliki alasan untuk menyerah atau mengeluh. Karena hasil tidak pernah mengkhianati kerja keras. Itu adalah kebahagiaan, Sehun ingin tersenyum sekali saja untuk menghiasi foto wisudanya. Tetapi itu tetap saja sangat sulit dilakukan. Lagipula, itu tetap hari yang sungguh spesial meskipun ada satu hal yang membuat Sehun masih merasa kurang.

Kini Sehun dan keluarga Kim tengah berdiri, berpose bersama dengan background gedung fakultas tempat Sehun menjalani hari-harinya sebagai mahasiswa. Keluarga Kim tersenyum bahagia, dan Sehun berusaha sekeras mungkin agar wajahnya tampak ramah di kamera.

“Hadir di wisudamu sungguh membuatku senang, setidaknya aku sedikit terobati akibat melihat anak sendiri yang tidak kunjung menyelesaikan skripsinya.” Ucap ayah Kai sambil tersenyum, memang berniat menyindir anaknya sendiri. Sehun melirik ke arah Kai. Ibunya bahkan sudah tertawa meledek.

Kai menggaruk belakang kepalanya, “Nee, nee. Aku sudah mendengar sindiranmu sejak tadi pagi, ayah.”

“Senangnya bisa menghadiri wisuda anak lebih dari satu kali.” Sahut ibunya sambil tersenyum lebar.

“Haruskah aku memanggilnya hyung?” Kai menatap Sehun sambil tersenyum sok imut, “Sehun hyung?”

Sehun berdecih, lalu menepuk kepala sahabatnya itu dengan buket bunga yang ada di tangannya. Membuat kedua orang tua Kai tertawa.

Sehun-ah,”

Di tengah-tengah kehangatan keluarga itu, tiba-tiba seseorang memanggil Sehun dari belakang, membuat mereka sama-sama menoleh. Sehun mendapati seseorang tengah berdiri sambil menutup wajahnya dengan buket bunga. Lelaki itu menatapnya dari bawah sampai atas, segera mengenali wanita itu dengan cepat.

“I-Irene?” gumam Sehun memastikan.

Perempuan itu menggerakkan buket bunga di genggamannya ke samping, dan memperlihatkan wajahnya sambil tersenyum lebar, “Chukhahae.”

Sehun menahan nafas. Untuk beberapa saat kakinya membeku di tempat. Sesuatu segera membuat dadanya sesak, seperti ada sesuatu yang akan membludak. Sebelum Sehun bergerak, Irene bahkan sudah melangkah dan berdiri tepat di hadapannya dengan mata berbinar.

“Sehun­-ah,” sekali lagi Irene memanggil nama itu. Kedua matanya kini tampak mengkilap, susah payah dia menahan air matanya agar tak jatuh. Akhirnya wajah menawan itu benar-benar terpampang di depan matanya. Poni yang dulu memenuhi dahi pria itu kini kian menipis, memperjelas wajah Sehun yang makin dewasa dan tegas.

“Aku benar-benar merindukanmu, cewek sinting.” Suara Sehun tercekat. Beberapa detik dia merasakan sesuatu yang menggelitik bibirnya. Senyum yang selama ini lagi-lagi tenggelam, mengambang kembali. Lelaki itu pun meraih tubuh Irene ke dalam dekapannya, memeluk gadis itu dengan erat. Persis seperti yang ingin dilakukannya ketika dia melihat Irene saat di ruang rapat waktu itu.

Gadis itu menenggelamkan wajahnya di dada Sehun yang semakin bidang, “Aku juga, muka datar.” Memberi balasan dengan memeluk tubuh tegap Sehun dengan sangat erat, menghirup bau maskulin yang tersebar memasuki penciumannya. Terakhir kali yang dia ingat, kini tubuh itu jauh lebih besar dari yang pernah ia rasakan.

Irene nyaris saja menangis di sana, membayangkan betapa banyak rindu yang selama ini ia tahan. Mengingat sebesar apa perasaan yang tak pernah tersampaikan selama ini. Dia ingin memberitau Sehun saat ini juga bahwa dia tidak pernah berubah. Selalu Sehun yang dia ingin, tidak ada yang lain.

“Ekhm.” Kai yang tiba-tiba saja ikut larut dalam suasana haru itu, tanpa sengaja berdehem. Lantas kedua kakinya pun melangkah mendekat setelah kedua orang tuanya pamit pergi.

Keduanya segera melepas pelukan, saling berpandangan kemudian sama-sama menoleh ke arah Kai. Irene pun tersenyum lebar padanya. “Gomawo, Kim Kai.”

“Kau tidak mau memeluk teman lamamu ini?” goda Kai sembari merentangkan kedua tangannya di depan Irene.

Gadis itu tertawa pelan lalu merebut buket bunga dari tangan Sehun dan menyerahkannya bersama buket bunga miliknya pada Kai, “Nih, nih. Peluk saja ini sesukamu.”

“Tunggu dulu. Kalian –“ Sehun merasakan ada yang janggal ketika melihat respon Kai yang sesantai itu.

“Kau pikir darimana aku bisa tau hari ini hari wisudamu, oh?” Irene mengangkat sebelah alisnya.

Sehun melipat kedua tangan di dada seraya menganggukkan kepala pelan, “sungguh, itu curang sekali.”

“Jangan salahkan aku. Dia yang meneleponku duluan dan meminta jadwal wisudamu. Dia mengancamku jika aku memberitaumu.” Timpal Kai sambil menunjuk-nunjuk wajah Irene, “Kau lihat? Lihat? Dia masih sama seperti waktu SMA!”

“Kalau begitu,” Sehun tiba-tiba memasang wajah serius, “kalian harus membayar kecurangan kalian dengan mentraktirku selama seminggu!” kedua alisnya terangkat jenaka. Membuat Kai dan Irene diam dengan ekspresi malas. Mereka saling berpandangan kemudian Irene segera menggandeng lengan Kai dan membawanya pergi menjauh.

“Kita pulang, kajjaa!” Seru gadis itu semangat.

“Cih.” Dengus Sehun menatap kedua punggung temannya yang berjalan santai meninggalkannya. Namun beberapa saat setelah itu dia tersenyum, hari yang ditunggu-tunggu telah tiba. Sehun akan memastikan kali ini hatinya akan utuh.

XxxX

Taman bermain. Kai memilih tempat itu untuk berkumpul merayakan kelulusan Sehun. Meskipun itu adalah tempat yang sebenarnya tidak begitu menarik untuk Sehun.

Setelah berganti kostum dan membuat janji. Sehun dan Seulgi saling menyapa ketika mereka bertemu di taman bermain bersama Kai. Ketiganya menunggu di depan pintu masuk selama 15 menit sampai Irene benar-benar datang. Entah kenapa, Sehun sedikit merasa gugup. Juga kesal. Yang dia bayangkan sebelumnya adalah berduaan dengan Irene di apartemen supaya dia leluasa untuk mengungkapkan banyak hal, membicarakan semua yang tak sempat terucap. Namun sepertinya Irene akan lebih bahagia datang ke tempat ini.

“Seulgi-yaaaa!” Sebuah teriakan memekik dari kejauhan. Ketiga orang itu pun menoleh, mendapati Irene dengan wajah berbinar tengah berlari menghampiri.

Sehun tersenyum, memperhatikan Irene yang ternyata tidak berubah sama sekali dalam penampilan santainya. Rambut terikat tinggi-tinggi di atas kepala, Irene tampak seperti anak kecil dengan kaus belang merah lengan pendek yang dibalut overall jins. Bagian ujung kakinya terlipat jauh di atas mata kaki. Sehun berpikir apakah Irene benar-benar sudah dewasa. Tapi dia suka itu. Sangat.

Irene memeluk erat tubuh Seulgi sambil berteriak histeris. Mengucapkan semua kata rindu yang dia punya untuk juniornya itu. Seulgi tertawa, membalas pelukan Irene tak kalah erat, membalas semua rindu yang ia dapat. Seulgi senang sekali bertemu dengan Irene.

“Yang benar saja. Aku menjadi satu-satunya yang tidak kau peluk, oh?!” Timpal Kai sebal.

Irene kemudian melepaskan pelukannya dan menatap Kai malas, “apa kau tidak tau diri? Kau mengatakannya di depan pacarmu sendiri, cih.”

Mereka pun masuk ke dalam taman bermain itu, dengan tiket yang sudah dibeli dengan uang Kai –sesuai janjinya.

Irene benar-benar masih seperti anak kecil, ketika dia berlari masuk menarik Seulgi dengan penuh semangat. Membiarkan Kai dan Sehun yang berjalan santai mengikuti mereka. Dia berteriak, menunjuk ini dan itu yang menarik pandangannya. Seulgi yang berada di sampingnya pun tak kalah antusias, wajahnya penuh dengan senyuman tiap kali Irene menunjuk sesuatu.

“Apa kau tertarik naik sesuatu? Komidi putar?” sahut Kai pada Sehun dengan santai.

“Kau tidak malu dengan umurmu, hah?”

“Kapal viking, kajjaaa!” Tiba-tiba Irene berbalik, memberi jawaban dengan semangat kemudian menarik tangan Sehun dan Kai untuk ikut.

“A-apa?” gumam Sehun. Dia teringat pada pengalaman terakhirnya naik wahana yang satu itu. Sudah dapat dipastikan Sehun akan berakhir tumbang. Tapi dia tak sempat menolak, tau-tau saja tubuhnya sudah duduk di samping Irene, siap tidak siap dengan kapal yang mulai bergerak maju mundur.

Kapal itu berayun semakin kencang, membuat seluruh penumpang mulai berteriak histeris. Termausk Irene, Seulgi, dan Kai. Mereka berteriak sekeras yang mereka bisa, seakan semua hal yang pernah terpendam keluar begitu saja, melayang bersama udara. Irene tak henti-hentinya tertawa kesenangan, tidak menyadari sama sekali bahwa lelaki di sampingnya mulai mual dan pusing.

Sehun si muka datar itu, jangankan tertawa, berteriak saja dia tidak sanggup. Beberapa kali ekspresinya berubah menjadi aneh hanya karena dia terlalu terkejut, dan tidak siap.

Irene turun dengan perasaan yang menggebu-gebu. Dia selalu suka kapal viking. Gadis itu menoleh ke arah Sehun yang tengah menopang tubuhnya pada pagar pembatas pintu masuk wahana. Lelaki itu memegangi perutnya dengan wajah tak berdaya. Rambut tipisnya yang selalu tampak rapi kini sudah tak jelas wujudnya.

Irene tertawa, menghampiri Sehun kemudian menepuk punggungnya. “Kau baik-baik saja?”

“Apa aku terlihat baik-baik saja bagimu?” balas Sehun dengan malas dan lemas. Lantas Irene tertawa terbahak-bahak melihatnya.

“Komidi putar!” Kai terdengar berseru, kemudian menarik tangan Seulgi tanpa mempedulikan Sehun dan Irene.

“Kau mau makan es krim?” tawar Irene merubah tawanya menjadi seulas senyum yang manis.

Sehun diam beberapa saat menatap gadis itu kemudian mengangguk setuju. Tidak ada yang lebih mempan bagi Sehun ketimbang makan es krim bersama –bersama Irene, tentunya.

Keduanya kini sudah berdiri di hadapan salah satu stan es krim. Irene memesan satu cone ice cream rasa coklat, dan Sehun rasa vanilla.

“Satu scoop saja?” sahut Sehun ketika mereka menunggu pesanan.

Irene menoleh, “memangnya kenapa?”

Sehun tersenyum, “dulu kau memesan sampai 3 scoops.” Ingatannya terbang pada saat dimana dirinya mentraktir Irene dan Kai untuk makan es krim, hanya karena dia yang paling terakhir sampai dan tidak ikut berlari untuk membelinya.

Irene tertawa, meraih es krim miliknya. Begitu juga dengan Sehun. Keduanya pun berjalan bersama sambil menikmati dinginnya es krim yang menyejukkan. Sama-sama memperhatikan keramaian di sekeliling.

Orang-orang berlarian di sekitar mereka, saling memanggil dan berseru. Mengelilingi apa saja yang tertangkap mata. Sesekali Sehun dan Irene menemukan Kai dan Seulgi yang begitu asik bermain berdua seolah dunia hanya milik mereka. Kemudian Irene akan mulai tertawa, atau menertawai Kai yang bertingkah konyol. Sementara Sehun terus asik dengan es krim dilidahnya sembari melirik Irene beberapa kali, untuk sekadar menikmati senyum dan tawa gadis itu yang selalu dia rindukan.

Cahaya matahari kian memudar. Langit petang itu mulai menggelap. Lampu-lampu di seluruh penjuru taman bermain pun berangsur-angsur menyala, menerangi setiap sudut tempat itu.

Irene tau Sehun tidak begitu suka tempat bermain seperti ini, maka yang dilakukannya hanya membawa Sehun kesana-kemari, entah menonton sebuah pertunjukkan sulap, atau hanya menyusuri stan-stan dagangan yang berjejer, juga memperhatikan Kai dan Seulgi yang tak kenal lelah.

“Irene, gomowo.” Sahut Sehun tiba-tiba, ketika keduanya berdiri dengan santai di belakang Kai dan Seulgi yang mengajak mereka menonton kembang api. Gadis itu menoleh, menatap Sehun hangat. Belum sempat dia memberi jawaban, Sehun sudah tersenyum begitu manis dan kembali berbisik, “karena sudah kembali.”

Suara ledakan kembang api yang mengudara di langit, nyaris saja tak terdengar pendengaran Irene juga Sehun yang tiba-tiba tenggelam dalam suasana. Kilaunya yang berkelip indah bahkan sama sekali tak menarik perhatian keduanya. Sekali lagi mereka harus berpandangan untuk beberapa saat, tenggelam lagi seolah waktu berhenti untuk mereka. Irene begitu rindu tatapan itu. Sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dalam benaknya, apakah dia yang harus mengatakannya? Atau menunggu Sehun yang mengatakannya lebih dulu?

“Terima kasih juga,” Irene tersenyum, menyadarkan dirinya sendiri sebelum dia benar-benar kehilangan kesadaran. “Karena sudah menungguku.”

“Kau seharusnya meminta maaf, bukan berterima kasih.” Delik lelaki itu kemudian.

“Apa-apaan.” Irene berdecih sambil tertawa memandangi Sehun. “Aku sama sekali tidak merasa punya salah pada–“

mu.

Irene membeku seketika. Kakinya terpaku tak mampu bergerak. Kepalanya tiba-tiba pening. Bersamaan dengan kesekian ledakan kembang api beberapa detik lalu, Sehun menundukkan bahunya demi meraih bibir Irene dengan bibirnya. Sentuhan itu terjadi begitu saja tanpa Sehun rencanakan. Entah iblis atau justru malaikat yang mendorong dirinya untuk melakukan hal semacam itu di tengah kerumunan orang yang asik menonton kerlip-kerlip kembang api di atas sana. Sementara Sehun yang sama sekali tidak tertarik pada langit Seoul saat ini hanya mampu mengecup permukaan bibir Irene dengan halus.

Sehun melepaskan diri dengan perlahan, mendapati wajah di hadapannya kini memerah dengan mata bulat sempurna. Lelaki itu menelan ludah, diam sejenak tepat di depan ekspresi Irene yang terkejut.

“I-itu balasan karena kau sudah membuatku menunggu.”

Jika dentuman kembang api yang meledak-ledak tidak mengisi langit malam itu, mungkin orang-orang dapat mendengar seberapa kerasnya jantung Sehun dan Irene berdetak saat ini.

XxxX

Semua terasa seperti mimpi indah yang lenyap dalam semalam. Sehun terbangun di dalam kamarnya beberapa detik sebelum alarmnya berbunyi sama sekali. Satu hal yang melintas dalam benaknya ketika dia membuka mata adalah Irene. Apakah kebersamaannya dengan Irene kemarin hanyalah mimpi semata? Sehun tersenyum di atas ranjangnya seperti orang gila. Kemudian memulai harinya seperti biasa, bersiap untuk pergi ke kantor sebagai karyawan magang yang sebentar lagi akan diangkat menjadi karyawan tetap.

Sehun bahkan mengirimi pesan pada Kai beberapa kali selama perjalanan ke kantor, bertanya apakah Irene benar-benar bersama mereka kemarin. Membuat sahabatnya itu menyebut Sehun seperti orang sinting yang hilang ingatan.

Lantas Sehun akan tertawa lagi diam-diam. Persis seperti orang gila.

“Bodoh sekali.” Gumamnya ketika siang itu dia berada di pantry kantor untuk membuat segelas kopi. Kepalanya menggeleng dengan pelan, mengingat apa yang dia lakukan semalam. Mencium Irene, membuat gadis itu tampak seperti kena serangan jantung.

Semua seperti mimpi indah.

Termasuk ketika sore ini Sehun melangkah santai memasuki apartemennya lantas menemukan sosok Irene tengah berdiri di hadapan jendela dengan sebuah cangkir dan buku yang menyibukkan kedua tangannya. Gadis itu menoleh, memberi senyum tipis pada Sehun kemudian berjalan menghampiri sofa.

Dengan ragu, lelaki itu melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena kaget. Lantas segera duduk di samping Irene, saling berhadapan.

“Hari ini berjalan dengan baik?” tanya gadis itu sambil tersenyum lebar lalu menyeruput isi cangkirnya dengan pelan. Sikap Irene yang tetap santai setelah kejadian kecil kemarin membuat Sehun merasa nyaman.

Lelaki itu mengangguk, “Kai memberitaumu passwordnya?”

Irene mengangguk juga, “tanggal saat kita lulus SMA. Wae?”

Sehun tersenyum. Tangannya bergerak menuju kepala Irene hanya demi menepis sehelai rambut yang menjuntai di dahinya. Sentuhan yang lembut dan penuh hati-hati itu sukses membuat jantung Irene melompat-lompat. “Supaya aku tidak pernah lupa kalau aku sedang menunggumu.”

“Cih. Sejak kapan kau jadi sok manis begini.”

“Sejak aku jatuh cinta pada sahabatku sendiri.” Jawab Sehun santai, tangannya masih asik bermain-main dengan helaian tipis rambut di pelipis Irene. Kemudian merasa geli sendiri dengan kalimat yang baru saja lolos dari bibirnya dengan mulus seakan-akan dia tidak punya beban sama sekali dengan perasaan itu.

Irene mendelik lagi, “Siapa? Kapan? Kenapa? Ceritakan semuanya padaku.”

Tangan Sehun kali ini turun, dia menatap Irene hangat. “Sejak aku merasa kehilanganmu, aku sadar kalau selama ini aku terlalu naif. Jika diingat-ingat lagi, semua yang sudah kita lewati selama SMA bukanlah kebersamaan di antara sahabat. Tapi dua orang yang saling menyukai.”

Irene mengangkat kedua alisnya, “siapa bilang aku menyukaimu?”

“Kau akan mengatakannya sekarang juga atau aku akan mengusirmu dari sini.”

“Coba saja.” Gurau gadis itu sambil meletakkan cangkir di genggamannya ke atas meja. Kemudian dia meraih buku dan mulai membacanya sambil menjatuhkan kepala di atas paha Sehun.

Tiba-tiba saja tak sampai 10 detik Sehun menurunkan kepalanya dengan cepat, mengikis jarak di antara wajah keduanya. Membuat mata Irene membulat sempurna seperti yang terjadi semalam. Namun kali ini Sehun menyisakan beberapa senti kemudian berbisik, “Nagajuseyo.–tolong keluar. Dan sebuah kecupan singkat pun mendarat di bibir Irene.

Dengan santainya, lelaki itu menyingkirkan kepala Irene dengan perlahan kemudian melangkah masuk ke kamarnya untuk mengganti pakaian.

Irene tersenyum malu, wajahnya memerah tersipu. Kakinya menendang-nendang di udara seperti anak kecil sembari menutup seluruh wajahnya dengan buku.

XxxX

Setelah merendam diri di air hangat, mengganti baju dan merapikan beberapa pekerjaannya di meja kerja, Sehun pun keluar. Dia diam di depan pintu ketika menatap meja ruang tengah sudah berpindah tepat di hadapan jendela aprtemennya dengan beberapa hidangan sederhana di atasnya.

Sehun mendekat, melirik Irene yang masih sibuk melakukan sesuatu di dapur. Dengan gatal, kakinya terus berjalan menghampiri Irene sampai dia berdiri tepat di belakang punggung gadis itu. Irene segera berbalik dengan sebuah sinduk di tangan.

“Apa yang akan kau lakukan?”

“Memelukmu. Wae?”

“Duduk! Duduk di sana.” Perintah Irene keras.

Sehun tersenyum dan menuruti permintaan Irene untuk duduk di depan meja yang sudah sengaja Irene siapkan.

Makan malam sederhana yang romantis. Salah satu impian Irene jika dia berhasil bertemu kembali dengan Sehun. Kini keduanya duduk bersila saling berhadapan dengan pemandangan gemerlap kota Seoul yang terpampang megah di samping mereka.

“Kau ternyata masih ingat caranya memasak makanan Korea.” Komentar lelaki itu setelah menyuapkan sesuap menu makan malam dengan sumpitnya.

Irene tersenyum bangga, “aku tidak makan makanan Barat kecuali dengan membelinya.”

Gomawo.”

“Untuk apa lagi kali ini?” balas Irene santai setelah mengunyah suapan berikutnya.

“Untuk ini, tentu saja. Seingatku kulkasku kosong sejak kemarin-kemarin. Dan hari ini kau menyiapkan semuanya untukku. Kau benar-benar memenuhi rinduku.”

Irene terkekeh pelan, “sebaiknya kau harus berhenti banyak berterima kasih padaku, Oh Sehun.”

Wae?

“Karena aku pacarmu, bodoh. Sudah seharusnya aku melakukan semua ini.” Jawab Irene dengan gemas.

Sehun tertawa ringan, “pacar? sejak kapan?”

“Sejak aku mencintaimu.” Balas gadis itu santai. “Dan kau mencintaiku.”

Lawan bicaranya tak menjawab apapun selain tersenyum puas kemudian menyuapkan kembali sesuatu ke dalam mulut.

“Kau ingat dengan impian sederhanaku sewaktu SMA?” tanya Sehun tiba-tiba, dia tersenyum penuh arti kemudian meletakkan kedua sumpitnya dan meneguk segelas air putih. Irene yang masih asik mengunyah mengangguk mantap.

“Bahagia menjadi seorang suami dan ayah dalam sebuah keluarga kecil yang sederhana.”

“Kalau menjadi suamimu dan ayah dari anak-anakmu, bagaimana menurutmu?”

Irene segera tersedak ketika mendengar kalimat yang baru saja didengarnya. Sehun lagi-lagi tertawa pelan sambil membantu gadis di hadapnanya untuk meraih segelas air putih.

“Kau bukan sedang melamarku, ‘kan?” seru Irene setelah itu.

“Kau boleh menganggapnya seperti itu.”

“Kau mau menikah semuda ini, Oh Sehun?” seru gadis itu lagi tak sabaran. Membuat kedua alis Sehun mengkerut lalu tertawa lagi.

“Tidak, Irene. Aku akan menikahimu 2 tahun lagi.” Kali ini intonasinya berubah menjadi lebih serius. Sehun benar-benar tidak main-main dengan perkataannya. Membuat Irene diam sejenak.

“2 tahun?”

“Aku sudah terlanjur mendaftar wamil untuk akhir tahun ini.”

“A-apa?” suara Irene menurun, kecewa dengan apa yang baru saja Sehun katakan. Namun kemudian dia memukuli lengan Sehun dengan sumpitnya. “Ya! Kita baru saja bertemu dan kau membuat kita harus berpisah lagi selama 2 tahun?” jerit gadis itu sengau.

Sehun meringis sembari berusaha menghindar. Dengan sekali gerakan, dia meraih kedua tangan Irene yang menyerangnya. Kemudian menggenggam keduanya dengan erat, tersenyum mencoba menghibur Irene yang tampak tidak terima dengan keputusannya.

“Kita masih di kota yang sama, Irene. Kau juga bisa mengunjungiku kapanpun kau mau.”

Irene merenggut seperti anak kecil, namun dia mengangguk mengerti. Paham betul bahwa itu pastilah keputusan yang akan diambil seorang laki-laki menuju mapan.

“Atau,” Sehun tiba-tiba tersenyum jahil, “kita menikah dulu bulan ini?”

“Langkahi dulu mayat ayahku.” Gadis itu melotot sambil mengangkat lagi sumpitnya, siap memukul Sehun kapan saja.

Setelah makan malam itu, keduanya mengobrol banyak hal semalaman. Saling berbagi apapun yang selama ini tak pernah tersampaikan, bertukar rindu yang selama 4 tahun ini tertahan. Semuanya, seperti mimpi indah yang akan lenyap dalam satu malam. Tetapi beruntungnya, semua itu adalah nyata. Karena hati Sehun jadi begitu lapang, sama seperti yang Irene rasakan. Semua yang pernah tersimpan, keluar ke permukaan sampai tak bersisa.

Maka keesokan paginya ketika Kai dengan santai memasuki apartemen Sehun. Dia terlonjak kaget menemukan kedua sahabatnya masih terlelap saling memeluk di atas sofa tanpa selimut bahkan bantal.

“Ah! Yang benar saja!” seru Kai tak habis pikir. “Ya! Ya!

Waaee?” sahut Sehun malas, tanpa merubah posisi atau membuka mata sedikitpun.

Kai berkacak pinggang dengan sebal. “Kurasa kalian harus segera menikah. Aish.”

“Begitukah?” masih dengan suara yang parau Sehun kembali menjawab. “Haruskah kita menikah saja?”

Irene bergumam, mengeratkan pelukannya dan menenggelamkan wajahnya di dada Sehun. Kalimat selanjutnya pun berhasil membuat Kai menganga, “2 tahun lagi, Sehun. 2 tahun lagi.”

| EPILOG |

Harum sebuah masakan menguar ke seluruh ruangan. Cahaya matahari yang menembus jendela, juga asap yang mengepul di atas wajan, membuat pagi itu terasa hangat. Beberapa jam yang lalu, Irene mendapat telepon dari seseorang di rumah sakit. Membuat dirinya terpaksa harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan semua ini.

Setelah wanita itu mencicipi masakan terakhirnya, dia mematikan kompor. Merasa sudah puas dengan hasilnya. Tangannya pun dengan gesit melepas apron dan membersihkan bekas-bekas aktivitasnya di dapur.

“Mama!” Senyum Irene segera merekah ketika mendengar suara malaikat kecilnya berseru dari arah kamar. Dia menoleh dan mendapati anak laki-laki berumur 3 tahun berlari kecil dengan mata sayu kemudian memeluknya dengan malas.

“Oh? Hyuno-yaa. Tidurmu nyenyak?” balas Irene sambil menggendong anak kecil itu dan mendudukkannya di atas sofa. Anak berkulit putih itu mengangguk masih dengan mata sayunya. Kemudian hidung kecilnya bergerak, mencium sesuatu yang mengudara di sekitarnya.

“Wanginya membuat aku lapar.”

Irene terkekeh, “Mama baru saja membuat sesuatu untuk bibi Seulgi.”

Wae?”

Wanita itu mendekatkan wajahnya, “Bayi di dalam perut bibi Seulgi sudah keluar.”

Anak lelaki itu segera membulatkan matanya dan berseru dengan semangat, “Benarkah? Apa kita akan menjenguknya sekarang?”

Irene mengangguk mantap, “Hm. Setelah Hyuno membangunkan papa.”

Lelaki imut itu tersenyum jenaka kemudian segera berlari kecil ke arah kamar. Dari tempat Irene berada, dia dapat mendengar anaknya itu berteriak dengan nyaring, “Papaaaaa!”

Wanita itu berjalan menghampiri kamar, memperhatikan kedua malaikat kesayangannya di ambang pintu. Sehun tampak menggeliat malas di dalam selimut meskipun anaknya itu sudah berjingkrak-jingkrak di atas tempat tidur demi membangunkan sang ayah.

“Seulgi sudah melahirkan.” Sahut Irene seraya mendekat kemudian meraih Hyuno ke dalam pangkuannya. Sehun terlonjak, dengan cepat mengangkat tubuhnya dan menatap Irene dengan mata sayunya.

“Waktunya mencuci muka, kajjaa.” Seru Irene pada Hyuno yang berada di dekapannya sambil melangkah menuju kamar mandi. Sang suami pun menyusul, ikut mengisi ruang kamar mandi dan bersikat gigi bersama di depan cermin.

XxxX

“Cantiknya.” Komentar Hyuno berbinar, tersenyum senang menatap bayi perempuan di depan matanya.

Sesuai janji yang sudah mereka putuskan, sekembalinya Sehun dari tugas wajib militer 2 tahun kemudian akhirnya dia berhasil menikahi Irene dan dikaruniai seorang anak laki-laki yang kini sudah menginjak umur 3 tahun, Oh Hyuno.

Tahun lalu, Kai dan Seulgi akhirnya menyusul. Mengikrar janji di atas altar. Dan hari ini karunia itu datang pada keluarga kecil mereka. Sehun dan Irene tak henti-hentinya memandangi bayi kecil berkulit kemerahan yang masih nyenyak di pangkuan Seulgi itu. Teringat kembali saat Hyuno terlahir ke dunia 3 tahun lalu. Waktu terasa berjalan bergitu cepat.

Kebahagiaan yang Sehun dan Irene impikan sewaktu SMA, berangsur-angsur didapatkan dalam keluarga kecil mereka. Tetapi tidak semuanya selalu berjalan dengan mulus. Selalu saja ada sesuatu yang membuat Sehun harus lebih bekerja keras, ada saja yang selalu membuat Irene terus berusaha keras.

Semua kenangan yang tercipta bertahun-tahun silam, tak akan pernah Sehun lupakan. Emosi dan ekspresinya yang pernah lenyap telah kembali. Senyumnya tak pernah musnah lagi, tawanya kini semakin mewarnai. Sehun tak pernah berhenti bersyukur dan merasa beruntung karena sudah dipertemukan gadis sinting yang kini menjadi seorang ibu super menawan, Bae Irene. Dia akan berusaha sekeras mungkin agar dirinya selalu ada untuk Irene, juga Hyuno, jagoan kecilnya.

XxxX

“Sehun, kurasa Hyuno menyukai anakku.”

“Lalu?”

“Kita mungkin bisa menjadi besan di masa depan? Bagaimana menurutmu?”

“Jangan berpikir yang macam-macam, Kim Kai!”

“Hehe. Mian.”

| END |

TAMAT YA ALLAH AKHIRNYA TAMAT HAHAHAHAHAHAHAHAHHH /CAPSLOCK JEBOL/

Cuap-cuap kali ini sepertinya bakalan panjang kali lebar. Tapi wajib dibaca kalo engga dosa /plak/. Pertama aku mau minta maaf karena chapter terakhir ini sempat tertunda seminggu. Seminggu doang yaelah /dikeroyok/. Dan kebetulan ini hari terkahirku libur. Alhamdulillah pas. Sesuai janji, tamat sebelum masuk kuliah. AYE.

Aku juga minta maaf karna chapter sebelumnya kurang memuaskan. CINCA MIANEYO. Chapter sebelumnya itu aku ketik dengan sadar dan tidak sadar. Bayangin aja, aku ngetiknya mepet cuy pada hari terakhir pengiriman dari jam 8 sampai jam 11 malem. Tyar berasa gak waras malem itu LOL. Makanya sebelum baca komen reader pun aku udah merasa chapter kemarin kurang memuaskan, dan ada yang lupa gak tyar masukin ke dalem cerita. Bukan hal yang terlalu penting sih, tapi seharusnya lumayan buat jadi pelengkap. Begitulah alasannya kenapa selama ini aku sering tunda-tunda DRAFT, karna aku gak mau buru-buru dan maksain, hasilnya pasti bakal kaya chapter kemarin, reader sih mungkin suka-suka aja, tapi aku sebagai penulisnya merasa bersalah dengan chapter itu wkwk T__T

MARI MOVE ON.

Kalau ada yang nanya kenapa aku kasih judul DRAFT? Rada gak jelas gitu sih ya tapi jawaban mutlaknya: MENTOK. Xekian.

Maafkan daku lagi CINCA CINCA maafkan daku kalau endingnya juga masih ada yang kurang memuaskan dan kurang gimana gitu, tapi ane rasa sih ini cukup. /dibanting/

Tyar juga sangat-sangat minta maaf kalau selama ini ff DRAFT banyak kelemahan dan kekurangannya. Yang penting menghibur, kan? /plak/. Sejak pertama bikin ff ini, gak pernah nyangka aja kalau pengunjung EXOFFI bakal banyak yang suka. Dan setia sampai tamat. Padahal ceritanya amat tidak berfaedah T__T. MAKASIHH MAKASIH BANGET MAKASIIIIHHHH. Buat kamu-kamu-kamu yang rajin komen, aku selalu ingat id-id kalian wkwk dari yang masih suka komen sampe yang udah jarang nongol entah kemana. Makasih juga buat kamen-siders kuh, semoga kamu-kamu bersedia ngasih komennya mengenai ff ini di chapter terakhir ini.

Dugaan tyar sih chapter ini bakal di post antara 23/24 februari. DAN ITU TEPAT SATU TAHUN DRAFT DEBUT. Yassalam terharu. Bikin ff klise 27 chapter aja nyampe setaun ente ngapain aja selama ini tyar T__T /abaykan/.

Silahkan kalian semua kasih komentarnya, perasaannya, kritiknya, kesan atau apapun itu mengenai ff tidak berfaedah ini. Tyar gak tau harus bilang apalagi selain banyak-banyak terima kasih udah mengikuti DRAFT dari awal sampai akhir, dari jaman nama pena nakashinine sampe tyar, setia nunggu, dan kasih komen.

Kalau kalian penasaran sama karya tyar yang lain, kalian bisa kunjungi blog tyar, linknya ada di intro ff ini /PROMOSI DEH PROMOSI/ wkwk. Atau penghuni wattpad juga bisa follow akunku @/realtyar.

Entah kamu-kamu ini hunrene hard shipper atau bukan, yang penting karna kalian pembaca draft jadi aku pengen rekomendasiin ff hunrene ane yang laen. Pasti udah ada yang tau judulnya ‘Philosophy of Love’ itu rekomendasi banget. Kalau buat tyar sendiri ceritanya lebih matang dari DRAFT, lebih dewasa dan gemez. Cuma 11 chapter udah tamat di wattpad. /promosi abis kan gilak/. /ketawa setan doloe/.

Setelah ini, tyar gak akan muncul lagi di EXOFFI. Karna aku udah punya lapak baru yang lain sebagai author tetap. Saat ini tyar lagi nggak nulis FF hunrene, udah punya ide baru sih. Tapi belum memulai apa-apa, dan kemungkinan nggak akan dipost di sini. Baru rencana post di wattpad aja.

Sekali lagi, makasih banget loh kalian yang selalu bikin aku semangat nulis dan bikin ff T__T. Cuma ini yang bisa aku kasih…

HUAHAHAHAHAHAHAHAHH. ((btw muncul gak ya fotonya?)) Editan sehun-kai selfi pake seragam dengan warna yang sama doh dapet dari instagram ini tuh adoh suka banget gilak. Pertama nemu foto ini yang pertama kali aku inget cuma FF Draft.

At last but not least, inilah persembahan pertama tyar buat library EXOFFI /okelebay/. Di sini aku cuma post DRAFT dan Philosophy of Love ((ada Rain juga sih)). Semoga kalian suka dengan karya-karya sederhana tyar. Draft ternyata awal yang baik untuk memulai jadi author ff. Semoga aku bisa nulis ff yang lebih serius dan mantap konfliknya. Hoho. Tyar pamit undur diri /halah/. Sampai ketemu di kesempatan atau di ff lainnya. Kamsahamnida. Arigato gozaimas. Syukron. Hatur nuhun.

((panjang banget ih tyar mual deh T__T))

Iklan

41 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT – Chapter 27/END

  1. Baru baca chapter 26, ternyata chapter 27 udh update. Duh aku kudet😭

    “Tiba-tiba saja tak sampai 10 detik Sehun menurunkan kepalanya dengan cepat, mengikis jarak di antara wajah keduanya. Membuat mata Irene membulat sempurna seperti yang terjadi semalam. Namun kali ini Sehun menyisakan beberapa senti kemudian berbisik, “Nagajuseyo.”–tolong keluar. Dan sebuah kecupan singkat pun mendarat di bibir Irene.”
    ⬇⬇⬇⬇⬇
    Bener2 part yg paling greget thor ampe aku senyum2 sendiri😊

    Yah sayang sekali draft abis, ada rencana bikin draft season 2 ga thor? Wkwk
    Btw ff ini merupakan salah satu ff yg terbaik versi aku apalagi aku juga sebenernya HunRene shipper wkwk pas aja gitu sehun ganteng irene cantik tinggal dijodohin haha.

    Sukses ya thor dgn ff selanjutnya makasih bgt udh nulis ff draft ini pasti penuh perjuangan ya thor💪💪💪
    Next setelah baca draft baca philosophy of love asiiik masih HunRene😆

    *inimerupakankomenterpanjangygakuketik* haha

    Pokoknya jeongmal jeongmal kamsahamnida ya thor udh bikin ff draft smg kedepannya bisa sukses buat novel🙇🙇🙆🙆

  2. Finally tamat juga, duh sukaaa gemesss sama hunrene nya.. Selamat sehun akhirnya bisa senyum lagi hehe
    Nggak kerasa ya thor ff ini ternyata nyampe setahun, readers nya sampe bingung kapan lanjut kapan lanjut 😂
    Yg di wattpad aku uda follow akunnya author tapi krn draftnya lebih update disini akhirnya ngikutin yg disini hehe. Gumawo thor fighting

  3. SERIUS SEHUUN NIKAH DADAKAN YUK SAMA GUA BIAR KAYA TAHU BULAT (capslock jebol lagi wkwkwk). Aaaa ending-nya manis walaupun alurnya agak terlalu cepat tapi gpp yang penting sehun sama irene wkwkw, ditunggu ya kak ff sehun irene selanjutnya

  4. Kenapa bisa2nya gue ketinggalan???? Padahal update hampir tiap hari demi liat kok lama banget updatenya dari yg part terakhir ternyata gue ketinggalan…
    Nangis lagi kaya baca yg filosofi cinta part akhir. Dua ff hunrene pertama yg bikin jatuh cinta dgn dunia ff (actually, pertama aku nemu filofosi cinta dari rekom orang di sosmed pas baru part 2, terus penasaran ini writer bagus bgt ga kalah sama novel, trus dapetlah draft, dan makinnnnnn jatuh cintaaa) 😍😍 ga kerasa dua2nya udah selesai.😢
    Good job author-nim! Terus berkarya dan kapan2 bikin hunrene lagi yaa please. I literally love your works. ❤

  5. Uwaaaaaa knpa gue gak tau klo ni ff update dan selesai???
    Dari semua chapter gue suka semuanya lu udah bekerja keras buat ff ini 👍
    Lu juga gak hrus minta maaf krna apapun itu krya ttp krya yg hrus selalu dihargai.
    Ah cuma satu kritik gue. Update lu mgkin trlalu lama haha.
    Dri segi manapun ff lu baik untuk dibaca. Baik dari penulisan dan bhasa.
    Gue nantikan ff hunrene lu yg lain.
    fighting!!!

  6. Aku baru ngeh ternyata udah update padahal dari kemarin nungguin banget><appanya juga bikin gregetan
    Jangan bosen dong buat ff hunreneT_T, jarang banget nemu ff cast hunrene yang bagus seperti yang kamu buat
    Terus kalo bisa request sih aku pengen ngerequest yang genrenya fantasy wkwkwk

    Kutunggu ffmu yang baru di wattpad^^

  7. whuaaaaaaaaa ini romantis banget asliiiiii….
    paling suka pas scane sehun cium irene ditaman bermain,feelnya dapet banget…..
    terus cium irene di apartement nya juga,terus pas ngelamar aduhhhhhhh bikin senyum senyum sendiri

    cepet post ff hunrene yang baru yaaa harus fast update juga *maksa
    yang phiosophy of love udah baca juga dan gak kalah keren sama ini,tapi tetep lebih suka yang ini

  8. udah selesai, huweee 😭😭😭, gak terasa udah tamat aja.
    endingnya menurut aku kurang.
    sequel dong, tentang pertemuan irene waktu sehun wamil, trus nglamarnya gimana. kai sama seulgi juga. plisssss dibuatin ya.
    maaf kalo aku minta kayak gini padahal aku jarang komen ff ini.

  9. yeaay! happy ending, kekeke~~~ sehun jadi romantis gitu kalau dekat dengan Irene.
    Semangat ya Author! dan semoga bisa menghasilkan karya yang bagus. Sukses.

  10. Ahhhh jinjjaaaa….makin cinta hunrene couple….!!!
    Sejak baca chapter 26..selalu aja ngecheck chapter 27 udah di post atau belum…and finally…😄😄😄
    Baca dr awal sampe akhir senyum2 mulu…apalagi wktu Sehun nyium irene di taman…aihhhh gregetnya luar biasaaa….sampek teriak2 gitu😂😂

    Gomawo yya unnie syang udah buat ff ini…apalagi castnya bias aku…bener2 senang baca ttg persahabatan mreka ber 3…comedy, romance..sad…ahhh betul2 nyentuh banget…

    Endingnya juga luar biasa…dapat banget feelnya…
    Smoga aja next time…ada ff hunrene couple karyamu yya unnie
    Semangat…dan tetap berkarya…^^

  11. Ga nyangka bangett sehun yg keliatannya dingin itu
    bisa bertingkah konyol mondar mandir kek setrikaan haha 😀
    oya btw sweet kali ya author kalo bisa sikat gigi bareng orang yd disayang di depan cermin..
    kek di drakor2 itu lho…

    yeaah finally hunrene beneran bersatu
    sweetnya mereka deh

    thankseu author udh bikin dan ngepost ff ini…
    joahae 🙂

  12. Walaupun sedikit ngatung, tapi berhasil buat aku baper dan guling-guling ketawa kaa. Love you so much, makasih banyakkk kaa 😘😘😘😘😘😘❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

  13. tamat hun..tamat… akhirnya tamat juga dannnnnn
    happy ending… udah disetujuin sma papa bae… hahahahahha
    seneng deh.. dan Kai seulgi kapan pacarannya coba… ceritanya jg gk ada tau” udah nikah aja trus punya anak.. kkkkk
    seru”…hahhhh bakal kangen ff ini… ngikutin ff ini tuh perjalanan panjang banget loh…
    gomawo author-nim… good job…
    semoga bisa menelurkan karya” yg lain lg…

  14. KAK TYAR, FINALLY INI FIN UGHA, EKI TUH GEMES SUERRR..😍😍😍
    DUH, BAVER BERKEPANJANGAN INI MAH EKI JADINYA, HOHO…
    KENAPA KAKA JAGO BEUT BIKIN FF YG NGURAS EMOSI SEKALIGUS BIKIN BAPER INI KAK? EKI PENASARAN ALWAYS PAS INI UP NEW CHAP.😂
    DUH, END, JADI SEDIH JUGA EKI INK HARUS END.😢
    TAPI SENENG UGJA SOALNYA HAPPY ENDING😂/PLAKKK/PLINPLAN LO KI😂
    DITUNGGU FF KAK TYAR YG LAINNYA, GOOD JOB AND GOOD LUCK KAK. SEJAUH INI EKI UDAH BACA 3 FF KAK TUAR SAMPEK TAMAT, DAN OVERALL SEMUANYA EMEJING DAN BIKIN BAPERAN.😂😂😍
    MAKASIH UDAH BUAT CERITA INI KAK,😍😍
    HWAITING DAN KEEP WRITING KAK TYAR!

    maaf kak, ini kepslock jebol sakin senengnya, 😂😂

    • TYPO TUH KIII TYPOOO xD
      HUAHAHAHAHAHAHAHAHHH KETAHUILAH KII SEMUA FF BAPER ITU BERASAL DARI KEBAPERAN TYAR YANG NYATA /PLAKPLAK/
      MAKASIH JUGA EKIII UDAH BACA FF FF AKUUUU HUHUUU /KETJUP/PLAK

      Hwaiting juga buat eki :* keep writing semoga semua ff mu lancar dan sukses yaw :*

  15. Ingin berkata kasar tapi tak jadi😂😂😂, sesungguhnya kenapa scene KaiSeul sedikit? Apa karena sudah terpotong dan ditampilkan di ep 26 kemarin? Al kira bakal ada dialog antara KaiHun atau SeulRene yang ngebahas gimana mereka udah berkeluarga sekarang, ternyata tidak😁. But overall, this is good. Good luck for you in the future, maybe we can collab for something? 😂😂😂. See you again, i’m waiting for your new fanfiction, hihi.

    The guy who love the 4 main cast,
    Altair.

    • WKWKWKWKWK ANE TUH KEASIKAN SAMA HUNRENE TJUY /PLAK/ gakdeng, sesungguhnya kamu benar nak, karna endingnya sengaja tyar bikin buat penyelesaian hunrene aja, kaiseulnya ya ente bayangin aja moment-momentnya di benak ente /dilempar/ :v
      Collab? Enta bakal nangis kejer al kalo collab sama anak introvert macam tyar begini wkwkwkwk :v

      Oke, thanks banget altair, semoga collabnya sama kak irish sukses sampai akhir. Ane belum baca lagi karna nunggu sampe episodenya udah borongan hueheheheheheh

  16. IH SUMPAH AKU BUKA FF INI JAM 2 DINI HARI GILSS THOR , MATAKU LANGSUNG KEBUKAK TAUWWW. Ih ending nya kurang panjang thorr , atau sebenernya aku butuh sekueell.. hoo sorry , ini udah buagus buanget , tapi masi pengen yang lebih. Hehe mian, aku pengen romance nya mereka itu greget gitu.
    yaaa pokoknya ini terbaik dehh, soalnya selama ini cari ff hunrene susah thor. Dan sekalinya nemuin langsung keren gini ❤❤
    untuk philosophy of love , akhirnya aku cari di wattpad dan ketemu. Udah baca sampek ending dan sumpah keren banget ! Aku bener – bener berharap author bisa buat ff hunrene dengan genre baru. huh , sangat kuapresiasi InsyaaAllah. Hehe maaf thor jadi jebol nih komennyaa.. intinyaaa semuangattss yaa 💕💕

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s