[EXOFFI FREELANCE] [7th] The Wedding

 

FG.png

 

[7th] The Wedding

Author: WhiteBLove

Cast: Oh Se Hun. Oh Hye Ra. Jung Jae Mi. And others cast.

Genre: Hurt. Marriage Life. Fluff.

Summary: Aku iri, Jae Mi. Aku iri padamu.-Hye Ra.

Ket : This story pure from my Imagination! Please don’t be plagiator and try to copy my story without my permission.

 

 

https://whiteblove.wordpress.com/

 

Saat Sehun sadar bahwa wajah Jae Mi benar-benar pucat dan tubuhnya terlihat lemas, pria ini langsung kenuntun Jae Mi untuk kembali ketempat tidurnya.

Awalnya  Jae Mi beranggapan bahwa Sehun hanya peduli padanya sesaat, namun ternyata pikirannya salah besar. Sehun kembali kedalam kamarnya dengan membawa sebuah nampan yang berisi santapan untuk ia sarapan. Gadis ini hanya terdiam melihat Sehun yang kini duduk disisi tempat tidur dengan sebuah mangkuk bubur ditangannya.

“Buka mulut mu!”ucap Sehun menyodorkan sesendok bubur pada Jae Mi.

Jae Mi masih terdiam heran. Apa Sehun tengah bersikap manis padanya atau memang pria ini benar-benar peduli pada kondisinya saat ini.

“Ayo, buka mulutmu!”ucap Sehun yang kali ini diikuti anggukan kecil dari Jae Mi.

Jae Mi membuka mulut. Namun otaknya masih membeku karna sikap Sehun yang menjadi bahan pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Apa mungkin karna diperutku ada buah hatinya?, tanya Jae Mi dalam hati seraya memegang perutnya.

“Apa perutmu terasa mual?”tanya Sehun yang berhasil membuat Jae Mi mengarahkan pandangannya pada pria ini.

Jae Mi hanya menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Jika ada apa-apa, beritahu aku!”ucap Sehun yang kembali menyodorkan sesendok bubur kehadapan Jae Mi.

 

 

Setelah mengetahui bahwa Jae Mi tengah mengandung buah hatinya, sikap Sehun sedikit berubah pada gadis itu.

Sikap dingin Sehun memang tak hilang, namun untuk kali ini, Sehun benar-benar memperhatikan segalanya tentang istri keduanya itu. Mulai dari Sehun yang melarang Jae Mi untuk pergi kuliah, pergi sendirian dengan membawa mobil, memakai sepatu hak tinggi, pergi saat malam hari, dan termasuk melarang Jae Mi untuk makan makanan pedas yang merupakan makanan favorite Jae Mi. Sehun beralasan jika Jae Mi terlalu banyak memakan makanan pedas, itu akan membuat kulit bayinya sensitif.

 

Kini Jae Mi tengah berdiri dihadapan jendela kamarnya. Ia tengah melihat aktifitas kota Seoul yang siang ini cukup padat dari atas sini.

Hidupku seperti terkurung dipenjara!!, keluh Jae Mi dalam hati saat menyadari bahwa ia telah berada didalam kamarnya selama hampir 3 minggu dan tak pernah keluar dari tempat ini.

Sehun memang tak melarangnya untuk pergi keluar. Namun mood Jae Mi sudah berubah duluan jika ia meminta izin pada Sehun, dan Sehun akan memberikan banyak peraturan jika ia benar-benar pergi.

“Pakai mantelmu, udara diluar sangat dingin! Jangan pakai sepatu hels mu, jangan mampir ke kafe untuk minum kopi, dan jangan coba-coba pergi sendirian!  Aku akan menyuruh paman Kim untuk menjagamu!”

Mengingat perkataan Sehun melalui sambungan telpon beberapa menit lalu membuat Jae Mi kembali menghembuskan nafasnya kasar. Pria itu benar-benar membuatnya kehilangan mood untuk pergi.

Jae Mi melirik perutnya yang sudah mulai terlihat sedikit membuncit. Minggu depan usia kandungannya akan menginjak usia 3bulan. Sesaat senyum manis terukir dibibir kecil Jae Mi saat tangan kanannya mulai menyentuh perut buncitnya.

“Apa kau baik-baik saja disana? Ahh, aku mulai merasa bosan.”keluh Jae Mi.

Senyum yang sempat tercipta dibibir Jae Mi kini mulai meluntur. Ia baru sadar bahwa janin yang ada didalam perutnya ini adalah satu-satunya orang yang mungkin nanti akan berpihak padanya, atau bahkan tidak.

Hidupnya terlalu menyedihkan. Orangtuanya memaksa Jae Mi untuk menikah diusianya yang baru menginjak usia 18 tahun. Hampir semua teman dekat dan saudara-saudaranya menjauh saat tau bahwa Jae Mi akan menjadi istri kedua dari seorang Oh Sehun. Ditambah Sehun yang pernah mengatakan bahwa Jae Mi adalah beban bagi dirinya dan juga Hye Ra, pria itu merasa bahwa rumah tangganya telah diusik oleh kehadiran gadis ini.

Jae Mi terdiam. Ia merasa kasihan pada dirinya sendiri saat menyadari betapa banyak orang yang sama sekali tak memperdulikan dirinya yang selalu terpuruk pada setiap keadaan.

 

 

Hye Ra’s POV

 

“Aku tetap milikmu, Hye Ra.”

 “Aku sangat mencintaimu.”

Kalimat yang Sehun dulu katakan mulai luntur untuk ku dengar dari mulutnya. Aku percaya bahwa Sehun tetap milikku, karna akupun juga tetap miliknya. Aku percaya bahwa Sehun masih mencintaiku, karna akupun juga masih mencintainya.

Hanya saja untuk kali ini, aku harus rela menyadari bahwa perhatian Sehun tengah terfokus pada Jae Mi yang memang tengah membutuhkan dirinya. Aku terus berusaha untuk tak cemburu, namun semakin lama, sikap Sehun berubah seolah aku bukanlah siapa-siapa lagi baginya. Perhatiaannya terlalu memihak pada Jae Mi. Tak ada lagi ucapan sayang dan kecupan manis yang aku terima darinya. Aku merasa kini semua perhatiannya memang teralih pada gadis itu sepenuhnya.

Sudah hampir satu bulan ini Sehun terus menemani Jae Mi tidur. Dengan terpaksa aku harus ikhlas menyadari tak ada Sehun yang bisa ku peluk untuk mengantarku tidur.

“Unnie?”

Sebuah suara berhasil memecahkan lamunan ku saat menyadari seseorang tengah memanggilku dari arah pintu kamar.

Jae Mi. Ternyata ia disana. Berdiri diambang pintu dengan perutnya yang mulai terlihat buncit.

Aku iri, Jae Mi. Aku iri padamu. Kau gadis yang baru Sehun kenal 8 bulan lalu, namun dengan cepatnya kau memberi kebahagiaan yang Sehun tunggu sejak 8 tahun lalu bersamaku.

“Unnie?”Jae Mi kembali memecah lamunanku.

“Kau baik-baik saja?”tanya Jae Mi.

Aku mulai berjalan kearahnya seraya tersenyum, “Aku baik-baik saja. Ada apa?”tanyaku.

“Telpon rumah sedari tadi berdering, kau tak mendengarnya?”ucap Jae Mi.

“Ahh, benarkan?”

Jae Mi mengangguk, “Ada telpon dari paman Kim untukmu.”

“Baiklah.”ucapku yang langsung berjalan melewati Jae Mi untuk pergi menjawab panggilan paman Kim.

 

“Yeoboseyo!”

Ada sedikit perbincangan antara aku dengan paman Kim yang memberitahukan bahwa nenekku sedang sakit dan memintaku untuk segera menemuinya di Busan.

“Apa semuanya baik-baik saja?”tanya Jae Mi yang sedari tadi berdiri memperhatikanku yang tengah menjawab telpon.

“Nenekku sakit, aku harus segera menjenguknya.”ucapku seraya menutup telpon.

“Sungguh?”

Aku tersenyum mengangguk untuk menjawab pertanyaan Jae Mi.

“Ku harap nenekmu cepat sembuh.”

 

Bell pintu berbunyi menandakan ada seseorang yang baru saja masuk. Aku sudah dapat menebak siapa yang pulang karna waktu telah menunjukan pukul 4 sore.

Sehun. Ia pulang dengan kemeja putihnya yang sedikit terlihat berantakan dan jas hitam yang menggantung ditangan kananya. Ia melirik kearahku, aku memberikan senyum padanya yang terlihat kelelahan.

“Seh..-“

“Kau tak jadi pergi?”

Ucapanku terpotong oleh Sehun yang tiba-tiba mengarahkan pandangannya pada Jae Mi yang berdiri tak jauh dariku.

Jae Mi terdiam, sesaat ia hanya geleng kepalanya pelan lalu melangkah pergi meninggalkanku dengan Sehun.

Aku sedikit memandang kearah Sehun, ia terlihat begitu lesu. Sehun melempar jas hitamnya kearah sofa, ia juga melepaskan dasinya dengan cepat lalu pergi menyusul langkah Jae Mi kearah kamar gadis itu.

Aku terdiam. Sehun hanya memandangku sebentar dan setelahnya perhatiannya ia arahkan kembali pada Jae Mi. Sehun benar-benar memperhatikan Jae Mi dengan baik sampai-sampai keberadaanku terlupakan olehnya.

Hye Ra’s POV End.

 

 

Jae Mi langsung melangkahkan kakinya kedalam kamar setelah sedari tadi ia merasa bahwa perutnya mulai kembali terasa mual.

“Kenapa tak jadi pergi?”tanya Sehun yang tiba-tiba membuat Jae Mi kaget dengan kehadirannya.

“Kenapa? Apa memang aku harus pergi?”tanya Jae Mi.

“Kau bilang tadi..-“Ucapan Sehun terhenti saat melihat Jae Mi menutup mulutnya dan langsung berlari kedalam kamar mandi.

Pria ini menghembusakn nafasnya kasar saat menyadari Jae Mi kembali merasakan mual dalam perutnya. Ia langsung kembali melangkahkan kakinya menyusul Jae Mi yang terdengar memuntahkan isi perutnya didalam sana.

“Kau tak makan siang dengan baik?”tanya Sehun seraya memijak pundak Jae Mi untuk membuat gadis ini sedikit merasa lebih baik.

Jae Mi tak menjawab, ia sibuk dengan rasa  mualnya, wajahnya terlihat pucat, dan keringat dingin kini mulai memenuhi pelipisnya. Sehun melihat wajah gadis ini dari pantulan cermin yang berada tepat dihadapan Jae Mi, rasanya ia selalu lemah melihat keadaan Jae Mi yang seperti sekarang.

Sesaat Sehun membalikan tubuh Jae Mi untuk memeluk gadis ini, karna itulah hal yang dalapat membuat rasa mual Jae Mi hilang. Pelukannya.

“Apa sudah baikan?”

Jae Mi tak menjawab, ia sibuk mengatur nafasnya setelah sedari tadi mengeluarkan cairan bening dari mulutnya.

 

 

Waktu telah menunjukan hampir 7 malam. Hye Ra masih sibuk memindahkan beberapa masakannya kedalam mangkuk untuk segera ia sajikan diatas meja makan. Sudah hampir satu jam Hye Ra berjibaku didalam dapur seorang diri untuk memasak, karna Sehun terus nemenin Jae Mi yang sedari tadi merasakan mual pada perutnya.

Sesaat Jae Mi dan Sehun terlihat tengah berjalan menuju meja makan saat Hye Ra memegang mangkuk terakhir yang akan ia simpan diatas meja.

“Maaf aku tak membantumu menyiapkan makanan untuk makan malam.”ucap Jae Mi dengan wajah yang masih terlihat pucat.

“Tak apa, Jae Mi. Kau sudah mulai merasa baikan?”tanya Hye Ra.

Jae Mi hanya tersenyum untuk memandakan bahwa ia sudah mulai merasa baikan.

Perhatian Hye Ra kini teralih pada Sehun yang duduk tepat disebelah Jae Mi. Biasanya Sehun akan duduk ditengah, berada diantara Hye Ra dan Jae Mi, namun sekarang Sehun memilih untuk duduk tepat disebelah Jae Mi. Hye Ra terdiam saat melihat Sehun yang tengah menaruh beberappa lauk dalam mangkuk Jae Mi untuk gadis itu santap.

 

Makan malam untuk kali ini terasa egitu sepi. Hanya dentingan sendok dan mangkuk yang terdengar. Tak ada perbincangan antara ketiganya, semua sibuk dengan makanan yang tengah mereka santap.

 

“Masakanmu benar-benar enak Unnie.”puji Jae Mi saat ia telah menghabiskan makanannya.

Hye Ra hanya tersenyum. Kini ia tengah memindahkan beberapa piring kotor ketempat cuci piring.

“Ahh, Biar aku bantu”ucap Jae Mi yang membawa beberapa tumpukan piring ditangannya.

Dengan sigap, Sehun langsung mengambil piring dari tangan Jae Mi, “Istirahatlah dikamarmu!”

“Aku hanya mau membantu Hye Ra unnie.”ucap Jae Mi.

“Istirahatlah!”ucap Sehun kembali.

“Hanya sebentar.”ucap Jae Mi.

“Istirahatlah!!”ucap Sehun dengan nada suara yang sedikit meninggi.

Jae Mi diam, ia terlalu kaget atas bentakan Sehun. Gadis ini langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan.

Hye Ra diam saat Sehun terdengar menghembuskan nafasnya kasar.

“Jangan terlalu keras padanya, Sehun.”ucap Hye Ra.

Sehun hanya terdiam menyesali bentakanya tadi pada Jae Mi.

 

 

Jae Mi tengah mengistirahatkan tubuhkan diatas ranjang seperti permintaan Sehun tadi. Sedari tadi ia terus menggerutu didalam hatinya akibat bentakan Sehun.

Dia tak perlu membentakku, lagi pula aku bukan anak kecil!, bicaralah dengan cara baik-baik!, keluh Jae Mi dalam hati.

Gadis ini langsung mengubah posisi tidurnya menghadap kearah kanan saat menyadari Sehun yang baru saja masuk kedalam kamarnya.

Sehun langsung membaringkan tubuhnya disamping Jae Mi, kali ini gadis itu tidur dengan posisi membelakanginya.

“Temanilah Hye Ra Unnie, dia pasti kesepian.”ucap Jae Mi yang terdengar sedikit ketus. Untuk malam ini, Jae Mi benar-benar ingin tidur sendiri tanpa ditemani Sehunn.

Sehun sama sekali tak menjawab ucapan Jae Mi, pria ini malah mendekatkan tubuhnya kearah Jae Mi, tangan kirinya langsung memeluk perut Jae Mi dari belakang, dan kini tengah ngusap perut Jae Mi dengan lembut.

Jae Mi terdiam saat merasakan tangan Sehun yang berada diperutnya, entahlah apa yang tengah ia rasakan, jika tadi gadis ini merasa jengkel akibat bentakan Sehun, kali ini Jae Mi malah tersenyum manis merespon sikap manis Sehun padanya.

 

 

Waktu telah menunjukan pukul 6.30 pagi. Hari ini adalah hari Minggu, Sehun tak perlu cepat-cepat tuk bangun dari tidurnya. Namun kali ini ia langsung bangun dari tempat tidur saat mengingat ucapan Jae Mi semalam.

“Temanilah Hye Ra Unnie, dia pasti kesepian.”

Sehun langsung melangkahkan kakinya keluar kamar meninggalkan Jae Mi yang masih terlelap diatas tempat tidur. Pria ini melangkahkan kakinya menuju kamar Hye Ra. Ia sedikit terdiam saat memperhatikan Hye Ra dari ambang pintu yang tengah sibuk dengan tas hitamnya.

“Kau mau kemana?”tanya Sehun yang buru-buru menghampiri Hye Ra.

“Sehun? Ah, aku mau pergi ke Busan.”

“Ada apa?”

“Nenekku sakit, ia memintaku untuk segera menemuinya.”

Sehun terdiam, dengan cepat ia meluk Hye Ra dari belakang.

“Cepatlah kembali!”ucap Sehun.

Tanpa disadari Sehun, Hye Ra hanya hanya tersenyum menanggapi ucapannya.

“Kau berapa lama disana?”tanya Sehun yang membalikan tubuh Hye Ra untuk menghadap kearahnya.

“Sekitar 3 hari, aku akan pulang dengan cepat”ucap Hye Ra.

Sehun menaruh kedua tangannya untuk menangkup wajah Hye Ra, pria ini kini asik memandang wajah wanita pertamanya yang tengah ia rindukan.

“Maafkan aku!”ucap Sehun.

Hye Ra menyadari maksud dari permintaan maaf Sehun, ia hanya bisa tersenyum untuk membalas ucapan suaminya ini.

Sehun langsung memiringkan kepalanya dan segera mencium bibir Hye Ra. Keduanya hanya terdiam untuk beberapa saat, bibir mereka menempel satu sama lain, sampai akhirnya Sehun mulai melumat bibir Hye Ra.

 

 

Sehun sedang membenahi mantel coklat yang tengah Hye Ra pakai saat wanitanya ini masih sibuk mengikat rambutnya.

“Sehun?”ucap Hye Ra.

Sehun langsung mengalihkan perhatiannya pada wajah Hye Ra.

“Jae Mi seperti bosan berada terus dikamar, temanilah dia jalan-jalan keluar.”ucap Hye Ra.

“Baiklah, nona Oh.”ucap Sehun seraya merapikan anak rambut Hye Ra.

“Aku berangkat, sampai bertemu nanti.”ucap Hye Ra mencium pipi Sehun.

“Berhati-hatilah disana, sampaikan salamku untuk nenekmu.”ucap Sehun.

Kini Sehun kembali memberikan kecupan singkat pada bibir Hye Ra.

 

 

Sesuai dengan amanat Hye Ra sebelum pergi, kini Sehun benar-benar tengah menemani Jae Mi untuk sekedar jalan-jalan disekitaran jalan Gangnam.

Kali ini Jae Mi kembali tak luput dari perhatian Sehun. Gadis ini memakai mantel tebalnya karna suasana diluar cukup terasa dingin, ditambah kali ini Sehun lah yang memilihkan Sepatu untuk Jae Mi pakai, pria ini memilih sepatu flatshoes yang menurutnya tak akan membuat Jae Mi merasa pegal saat berjalan. Dan lihatlah, sedari tadi tangan Jae Mi terus berada disaku mantel milik Sehun, mungkin selain menjaga Jae Mi agar tetap disampingnya, pria ini juga tak mau jika tangan wanita keduanya ini kedinginan.

“Sebenarnya kita mau kemana?”tanya Jae Mi

“Kau sudah hampir 3 minggu ini terus-terusan berada didalam kamar, apa tak bosan?”ucap Sehun.

Jae Mi hanya terdiam mendengar ucapan Sehun.

 

Sesaat langkah Sehun terdiam saat ia menyadari bahwa toko disebelah kanannya adalah toko hewan.

“Kita masuk sebentar.”ucap Sehun yang menyeret Jae Mi untuk ikut serta dengannya masuk kedalam toko.

“Heyy!! Aku tak..-“ucapan Jae Mi tak sempat selesai karna kini mereka telah benar-benar berada didalam toko.

 

Sial, ucap Jae Mi dalam hati. Ia memang sedikit takut pada Anjing meskipun beberapa Anjing ditoko ini tengah berada didalam kandangnya masing-masing.

Sehun melepaskan tangan Jae Mi dari genggamannya, pria ini tengah mengedarkan penglihatannya untuk mencari seekor Anjing kecil.

Sementara itu, Jae Mi malah diam mematung karna takut jika tiba-tiba akan ada Anjing yang menikamnya. Ia hanya memperhatikan Sehun yang tengah asik mendekati beberapa Anjing seraya ditemani oleh salah satu karyawan toko.

“Sepertinya Hye Ra akan senang jika aku belikan anjing ini.”

Mata Jae Mi membulai sempurna saat mendengar ucapan Sehun yang jauh dari tempatnya berdiri namun terdengar dengan begitu jelasnya.

Sehun membeli Anjing?, ucap batin Jae Mi. Gadis ini masih terdiam saat melihat Sehun tengah menggendong seekor Anjing berbulu putih. Ia benar-benar takut dengan Anjing dan mulai sekarang ia malah harus hidup dengan seekor Anjing ditempat tinggalnya?

 

 

-To Be Continue-

 

Note: #TeamHyeRa tolong sabar, yess :’)

Mohon tinggalkan komentar, yaa..:)

 

Iklan

29 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] [7th] The Wedding

  1. dan yang aku takutkan terjadi sehun jadi perhatian ke jaemi ya gak sepenuhnya salah sih mau gimanapun juga kan jaemi istri keduanya dan lagi hamil pula tapi karena aku ada di pihak hyera tentunya gak rela lah hyera dibikin cemburu mulu

  2. Kasiann dah sama hyera, sehun look at hyera dong, bagaimanapun kan dia istri pertama mu, udh 8thn lg, msa d lupain gtu aja…wkwkwk… Smangat hyera…

  3. tiba2 aku bayangin kalo hyera cerai sama sehun,, trus nanti hyera malah nikah dan berhasil punya anak..
    otak aku emang banyak ngayal..

  4. seriusan nggak ada pikiran buat nge ship sehun sama siapa..karna samasama nyesek liat posisi mereka bertiga
    apa nggak sehunnya sama aku aja yaa..? hihihihi
    btw kak pass yg chap 8.2 mau dong kak
    id line : amyanaecha

  5. Kapan hyera bisa bahagia gitu 😢
    Liat perubahan sifat sehun ke jae mi jadi takut dia berpaling dari hye ra 😢😯 oh andweeee. Hyera sabar ini ujian 😅
    Baru bisa baca ff ini gara” keasyikan baca ff di wattpad
    #TeamHyera

  6. Baca ini, jadi ikut ngerasain apa yg hyera rasain huwaaa😪 ditunggu chapter selanjutnya. Nyesekkkk bangett thorr😅😭😢
    #teamhyera

  7. serba salah, mau jadi team yang mana? jadi yang pertama atau yng kedua sama-sama tersakiti. memang kalau ada dua gak akan pernah bisa terlihat adil, walau mungkin sebenarnya sudah berusa adil. paling baik memang jadi “satu-satuny” the only one

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s