Gotta be You – [01] The Girl – Shaekiran & Shiraayuki

irenegbyreal.jpg

Gotta be You

A Collaboration Fanfiction by Shaekiran and Shiraayuki

 

Maincast

EXO’s unknow and RV’s Bae Irene

Genre

Romance, campus-life, action, AU, angst, sad, etc.

Length

Chaptered

Rating

PG-15

DISCLAIMER

Lagi-lagi dengan Shaekiran & Shiraayuki, ada yang kenal?

Cerita ini adalah hasil buah pikiran kami berdua, second project collaboration from us.Merupakan perpaduan karya sepasang neutron otak yang bersinergi merangkai kata hingga menjadi sebuah cerita utuh.Standard disclaimer applied. Hope you like the story. Happy reading!

.

Previous Chapter

Teaser | 00. Prolog | [NOW] 01. The Girl |

.

[ PLAY]

A girl, who cried for her life.

.

.

“How many more tears like today’s are left?” —Tears Fallin’ Like Today; Huh Gak

.

.

Author’s side

Ahjumma, itu namanya bunga apa?” seorang gadis kecil nampak bertanya pada seorang wanita tua bermarga Kim, ahjumma yang selama sekian tahun ini sudah seperti orangtuanya sendiri. Lantas, wanita berumur 50 tahunan itu tersenyum, kemudian mengelus sayang puncak kepala si gadis.

“Itu namanya dandelion Irene-ah, cantik ‘kan?” jawab si ahjumma sambil tersenyum lebar, hingga si gadis yang ia panggil Irene itu juga ikut tersenyum sama lebarnya.

“Iya, cantik, seperti Irene ‘kan?” kelakar si gadis dan si bibi yang sebenarnya adalah baby sitter-nya itu hanya mengangguk setuju, toh Irene memang gadis kecil yang cantik, juga sangat manis dengan mata berbinar kecoklatan yang begitu indah.

“Tapi ahjumma, sayang ya, dandelion cantik-cantik tumbuhnya di rumput,” lanjut Irene kecil yang masih berumur 6 tahun itu, hingga kini menimbulkan tanda tanya tersendiri bagi ahjumma Kim.

“Maksud Irene apa?” tanyanya akhirnya, dan Irene dengan mantap menunjuk sebatang dandelion yang tumbuh liar beberapa meter di depannya.

“Dandelion tidak seperti mawar, yang cantik dan tumbuh terawat dalam pot,” Jawab Irene kecil sambil mengurucutkan bibir.

“Loh, memangnya kenapa kalau tidak sama seperti mawar?” kali ini ahjumma Kim semakin tertarik dengan penuturan bocah yang duduk di sebelahnya itu, hingga tak pelak ia semakin gencar bertanya.

“Dandelion ‘kan tumbuhnya diantara rumput, tidak terawat dan mudah gugur. Dihempas angin saja dandelionnya langsung terbang, bagaimana bisa unjuk diri kalau dia bunga cantik?”

Ahjumma Kim lantas tertawa, “kau bisa saja, Rene,” katanya di sela tawa yang memenuhi, namun Irene hanya tetap mengerucutkan bibir.

“Dandelion-nya mirip seperti Irene,‘kan ahjumma? Cantik, tapi tidak ada yang peduli.”

Seoul, 17 Februari 2007.

Lahir di dalam sebuah keluarga yang berkelimpahan dan terpandang merupakan mimpi tersendiri bagi beberapa orang —bagai kaum jelata yang bermimpi menjadi putri raja. Ya, impian semua orang. Namun bagaimana jika hidupmu melimpah akan harta namun tidak dengan kasih sayang?

Appa tidak pulang lagi hari ini?” sebuah pertanyaan dengan sarat kecewa itu membuat seorang wanita berusia kepala lima dihadapan si gadis kecil harus menggeleng lemah.

Appa-mu banyak pekerjaan, Irene-ah,” tangan yang mulai keriput itu mengelus pelan puncak rambut si gadis kecil.

“Apa appa lebih sayang pekerjaan daripada Irene, ahjumma?” sebuah senyum pilu pun akhirnya terukir di bibir mungil gadis yang bernama lengkap Bae Irene itu.

“Eh, tidak boleh bicara seperti itu, appa bekerja untuk Irene, karena appa sayang Irene,” ahjumma Kim itu memeluk tubuh mungil yang selama ini selalu merindukan kasih sayang, yang tanpa lelah selalu menanyai kabar si ayah yang entah peduli padanya pun tidak.

Ahjumma selalu bilang begitu. Usiaku sudah delapan tahun ahjumma, aku tidak bisa dibodohi lagi,” gadis kecil itu menepis tubuh sang ahjumma yang selama ini mengurusnya semenjak dia lahir ke dunia.

“Irene-ah,” wanita paruh baya itu hanya bisa menatap sendu punggung nona mudanya.

Irene kecil berjalan gontai menuju kamarnya. Dibukanya dengan malas pintu yang lima kali lebih tinggi darinya itu. Setelah pintu besar berwarna coklat itu terbuka, suasana suram menyambut sang gadis. Meski kamar miliknya adalah kamar idaman bagi para gadis kecil lainnya, dia sama sekali tidak menyukai kamarnya ini.

Tumbuh tanpa kasih sayang kedua orangtuanya membuat Irene rapuh dan terluka. Gadis kecil berparas cantik itu jarang tersenyum, lebih banyak berdiam diri di rumah daripada bermain dengan teman-teman seusianya. Sang ibu yang telah meninggal ketika melahirkan gadis itu, membuat para keluarga terkadang menganggap gadis kesepian itu sebagai anak terkutuk. Bayi yang merebut nyawa ibunya sendiri untuk hidup, itu cemoohan yang selalu didengar Irene.

Dengan menahan tangis, Irene lantas mengambil sebuah buku berwarna merah muda dengan hiasan-hiasan imut ala gadis seusianya —buku dengan cover gambar teddy bear yang tersenyum—dari laci meja belajarnya. Berjalan menghampiri kasurnya dan menelungkupkan tubuhnya disana, Irene menangis sudah.

Irene membuka buku itu, membuka lembaran demi lembaran dan akhirnya berhenti di sebuah lembar kosong. Gadis itu mulai menulis sesuatu disana dengan tangan mungilnya. Masih dengan isak yang senantiasa mengalir.

17 Februari 2007
Tuhan, aku bukannya mau melanggar perintah Tuhan hanya saja aku ingin meminta. Bapa Yang di surga, bolehkah aku menyusul eomma saja? Aku tidak suka disini. Aku tidak punya teman 😦 Appa selalu sibuk dengan pekerjaannya, dan aku bahkan hampir lupa wajah appa-ku sendiri. Jadi kalau Tuhan mengizinkan, aku ingin pergi dari sini selamanya karena aku yakin tidak akan ada yang sedih meski aku tidak berada disini.

 

Pagi yang cerah menyambut langkah Irene. Hari ini ada pentas seni di sekolahnya, mau tak mau dia harus hadir ke sekolah karena terus dipaksa oleh ahjumma. Irene memandang iri teman-teman seusianya yang berjalan bersama kedua orang tua mereka karena hari ini ada pentas seni — dimana para orang tua diundang untuk hadir ke sekolah dan menyaksikan anak mereka menyuguhkan bermacam-macam penampilan.

Sesampainya di kelas Irene hanya melewati teman-teman sekelasnya yang tengah sibuk mempersiapkan diri dengan acuh.

“Hey, Bae Irene, mana appa atau eomma-mu? Aku tidak melihat kau berjalan dengan salah satu diantara mereka hari ini,” seorang teman yang sebaya dengan Irene yang juga baru tiba di kelas lekas menghampiri Irene yang duduk malas di kursi di samping jendela sambil membaca sebuah buku disana.

“Hey, kau lupa kalau dia tidak punya eomma?” teman-teman yang lainnya menyahuti dan Irene masih tetap diam dan tidak berniat menggubris ucapan teman-temannya.

“Aku dengar Irene juga miskin, apa jangan-jangan dia tinggal di panti asuhan, ya?” Irene memejamkan matanya, berusaha menahan amarahnya.

Aigoo, kasihan sekali, ya. Sudah miskin, tidak punya eomma lagi, hahaha…”

BRUK!

Irene melempar buku yang dipegangnya ke arah gadis berkucir dua yang sedari tadi menghinanya dan buku itu berhasil mengenai wajah si gadis kucir dua yang alhasil menimbulkan luka tergores cukup dalam disana.

“Ya ampun! Wajahmu!” teman-teman gadis itu terpekik, dan gadis berkucir dua itu menangis keras.

“Berkaca terlebih dahulu sebelum menghina orang lain,” Irene kemudian segera berlalu meninggalakan pandangan seram teman-teman sekelasnya.

“Bae Irene! Apa yang kau lakukan?!” seorang wanita tua nampak berlari tergopoh-gopoh setelah pintu kamar di depannya berhasil di dobrak oleh beberapa bodyguard yang memang bekerja di rumah besar itu. Atensi ahjumma Kim langsung teralih ke sudut kamar, dimana seorang anak kecil nampak duduk meringkuk dengan pecahan gelas kaca di sekitarnya —juga darah yang berceceran dimana-mana.

“Irene-ah!”

Ahjumma Kim berteriak khawatir, sama seperti beberapa bodyguard yang merengsek masuk dan lekas mengangkat tubuh mungil si gadis, membawa nona muda mereka itu ke rumah sakit sesegera mungkin.

Entah belajar darimana, tapi sepulangnya dari pentas seni Irene langsung masuk ke kamar dan mengunci pintu. Tak pelak, membuat beberapa bodyguard yang bertugas memantau CCTV rumah itu mnghidupkan alarm peringatan karena penampakan putri majikan mereka yang mencoba bunuh diri dengan menyayat nadinya sendiri lewat perantara pecahan gelas kaca. Seorang gadis 8 tahun yang mencoba bunuh diri di bulan Februari 2007.

“Irene-ah, kau sudah sadar?” sudah seminggu Irene dirawat di Rumah Sakit dengan fasilitas terlengkap di Seoul bahkan Korea Selatan itu, dan tepat hitungan hari ke-7 gadis kecil itu dirawat Irene akhirnya membuka matanya juga setelah berjuang melawan kondisi kritis.

“Kenapa ada ahjumma? Kenapa Irene tidak mati saja?” jawaban yang lolos dari bibir mungil Irene jelas membuat ahjumma Kim mencelos. Sebegitu bencikah Irene untuk hidup?

“Rene-ah, Tuhan masih sayang pada Irene, makanya Irene tidak boleh bertindak bodoh lagi, ya? Jangan main-main dengan pisau dan pecahan kaca, arrasseo?” Ahjumma Kim tidak menggubris pertanyaan gadis kecil itu, malah kini ia mengalihkan pembicaraan dengan sebuah nasihat yang nampaknya tidak terlalu disenangi Irene.

Ahjumma, appa mana? Kalau tidak ada appa, Irene masih mau main kaca,” rengeknya dan ahjumma Kim hanya bisa menahan air matanya meluncur keluar. Gadis kecil di depannya benar-benar membuat hatinya remuk. Diusia semuda itu, bagaimana bisa Irene nampak begitu rapuh? Semua ucapannya sarat akan kesepian, juga emisan kasih sayang. Kenapa gadis semanis Irene harus menerima cobaan seberat ini? Ayah Irene masih ada di London, apa ahjumma Kim harus jujur?
Appa-nya Irene sedang beli es krim, katanya Irene suka es krim, iya kan?” Irene dengan cepat mengangguk, lalu tersenyum senang.

“Nanti Irene bisa makan es krim dengan appa, bersama ahjumma juga,” Irene berucap polos, dan ahjumma Kim hanya bisa mengangguk singkat. Lantas wanita kepala lima itu menarik Irene ke dalam rengkuhannya, memeluk Irene yang balas memeluk tubuh ringkihnya penuh sayang.

“Irene sayang ahjumma, Irene tidak akan main kaca lagi, janji,” Irene tersenyum, makin memeluk wanita tua di depannya. Irene tahu, ahjumma itu berbohong tentang ayahnya, namun Irene sadar setidaknya ia masih punya ahjumma yang begitu menyanyanginya. Irene sayang ahjumma.

Seoul, 20 April 2010

Langit hari itu kemerahan, sore sudah berkumandang di atas langit, dan Irene kecil nampak berlari turun dari mobil dengan wajah begitu riang. Hari itu dia mendapatkan point sempurna untuk kuis bahasa Inggris, dan Irene ingin segera memamerkan nilai itu pada ahjumma kesayangannya.

Ahjumma, lihat, Irene dapat nilai 100,” kata Irene sambil menerobos masuk ke kamar ahjumma, si gadis dengan cepat meletakkan tasnya sembarangan kemudian naik ke atas tempat tidur dimana ahjumma-nya itu tengah terbaring.

“Yah, ahjumma tidur ya?” tanya Irene polos karena ahjumma-nya itu tak kunjung juga menjawab. Jadi, Irene dengan senyum tersungging di bibir membuka celah di antara ahjumma dan bantal guling, lalu merebahkan badannya yang masih menggunakan seragam sekolah itu di sisi ahjumma. Tidur di samping ahjumma entah kenapa selalu membuat Irene merasa tenang dan damai. Lantas, tangan Irene tergerak untuk memeluk ahjumma Kim.

Ahjumma, kenapa badan ahjumma dingin?” tanya Irene polos, namun masih belum ada jawaban.

Ahjumma sakit ya?” tanya Irene lagi sambil bangkit duduk, kemudian mulai menggoyang-goyangkan badan wanita tua itu —hendak membangunkan si ahjumma. Namun nihil, ahjumma tidak bangun jua. Wanita tua itu tidak menjawab pertanyaan Irene barang sepatah katapun.

Ahjumma, bangun ahjumma!” Irene merasakan firasat buruk, entah kenapa kini tangisnya meleleh dengan sendirinya. Tangan Irene bergerak mengguncang tubuh kaku disebelahnya, namun belum ada jawaban.

“Nona muda, hentikan,” nampak kepala pelayan datang menghampiri Irene. Dibelakangnya sudah berdiri beberapa bodyguard yang segera melapor setelah melihat kejadian dari CCTV.

“Kenapa, kenapa ahjumma tidak bangun juga, eoh? Kenapa?!” pekik Irene tak terima, pikirannya mulai lain, juga tangisnya semakin menjadi-jadi.

“Nona Muda, ahjumma Kim sudah meninggal dunia. Nona Muda harus sabar dan ikhlas, karena ahjumma Kim sudah kembali ke sisi-Nya dengan tenang.”

“Dandelion-nya mirip seperti Irene,‘kan ahjumma? Cantik, tapi tidak ada yang peduli.”

“Aish, Irene tidak boleh begitu. Irene itu dandelion paling cantik, kan ada ahjumma yang peduli pada Irene, iya kan?”

Seketika, dunia Irene kembali gelap —redup. Ia mencelos, dunianya kembali hitam tanpa warna. Satu-satunya orang yang peduli padanya kini sudah pergi. Meninggalkannya lagi dengan satu kata setia yang menemani —kesendirian.

Seoul, 10 Juli 2012

Bae Irene si jalang.

Bae Irene si bajingan.

Bae Irene si iblis.

Bae Irene si memuakkan.

Entah berapa banyak julukan yang dimiliki Irene, gadis konglomerat kaya yang tanpa sopan santun itu. Baginya sekolah hanyalah tempat untuk menindas, meremehkan kaum rendah yang jauh di bawahnya dan membuat mereka malu. Irene tidak punya sahabat, tidak punya teman, bahkan wali kelasnya sendiri enggan untuk menegur semua tingkah Irene yang sudah kelewat batas.

Banyak kasus yang sudah diperbuat Irene, padahal belum genap setahun gadis itu masuk sekolah menengah pertama. Di usianya yang masih 13, saat ia masih duduk di bangku kelas 7 dan masih berstatus junior, dia sudah mem-bully ketua Osisnya sendiri yang lebih tua 2 tahun. Kurang hebat apalagi?

Irene bahkan pernah membuat guru sejarahnya menangis karena Irene melempar guru itu dengan tas ranselnya, alasanyan kesal karena guru itu menegur Irene yang tidur di kelas saat mata pelajaran si guru sejarah berlangsung. Irene salah, tapi Irene tidak perduli dan tetap menyarangkan tas ranselnya ke muka guru itu hingga harga diri si guru tercabik-cabik dan berakhir menangis karena ulah bocah 13 tahun.

Masih banyak yang Irene lakukan; melompat pagar, mem-pilox dinding sekolah, memecahkan kaca kantor kepala sekolah, masuk bar, tidak menggunakan seragam, dan jika disebutkan semuanya mungkin tidak akan selesai dalam 1001 malam. Irene bagaikan langganan Kantor BK, dan Irene sendiri bukannya malas masuk ke kantor itu setiap hari —malah ia bahagia karena katanya sofa kantor BK itu empuk dan bisa dia pakai untuk tidur. Kurang barbar apalagi?

Dan kali ini, Irene digiring masuk ke kantor kepala sekolah untuk kesekian ratus kalinya. Kasusnya sederhana, Irene berkelahi dan menjambak seorang gadis yang tak sengaja menabraknya di kantin. Bukankah Irene benar-benar di ambang batas?

“Aku harus menghukummu dengan cara apalagi, Irene-ssi?”

Yang ditanya hanya sibuk memilin-milin rambutnya,\ tak peduli dengan pria tua berkumis yang menatapnya jengah saat ini.

“Apa aku perlu melaporkan hal ini ke orang tuamu?” kali ini pria tua itu nampak memijit pelan pangkal hidungnya, dirinya sudah terlampau bosan menangani gadis brutal dihadapannya ini.

“Silahkan, lagipula mereka tidak akan marah,” jawab gadis itu enteng, kali ini dia sibuk memperhatikan kutek-kutek dikukunya yang rusak karena menjambak rambut seseorang tadi. Padahal kutek itu edisi terbatas dari Paris.

“Irene, pihak sekolah tidak bisa menangani berbagai tuntutan yang dilaporkan oleh orangtua-orangtua yang anaknya terluka karena ulahmu,” kali ini suara tegas nampak memenuhi ruangan yang terbilang mewah itu. Si Pak Kumis, nampak sudah naik pitam.

“Aku tidak akan mengganggu mereka jika mereka tidak terlebih dahulu mengangguku. Kalau mereka jual ya aku beli,” jawab gadis itu seraya menatap remeh pria yang jauh lebih tua daripadanya itu.

“Aku akan mengeluarkanmu dari sekolah,” ucap pria tua yang menjabat sebagai kepala sekolah itu akhirnya. Pelan, namun bernada begitu sinis.

“Kau berani memecatku? Hahaha..sekolah ini milik appa-ku dan kau berani memecatku?” Irene terkekeh sinis, selama ini tidak ada yang tahu kalau dia adalah putri dari David Bae pemilik perusahan SKY group yang menjadi salah satu perusahaan terbesar di Korea Selatan, juga pemilik yayasan sekolah yang Irene duduki sekarang.

“Anak berandal sepertimu tidak pantas mengaku-ngaku seperti itu, sudah banyak yang mengaku kalau mereka adalah putri Tuan Bae dan semuanya ketahuan berbohong,” balas pria itu tak kalah sinis.

“Aku menandaimu, pak tua. Jadi kita lihat saja siapa yang akan angkat kaki dari sekolah ini,” Irene tersenyum miring kemudian keluar dari ruangan itu dengan angkuh.

“Kalian tahu, kepala sekolah kita dipecat!” beberapa siswi mulai bergosip ria sepanjang jam istirahat di kantin.

“Iya, aku juga dengar beritanya. Katanya, putri pemilik SKY group bersekolah disini dan melaporkan kepala sekolah kepada ayahnya,” sahut yang lainnya.

“Teman-teman! Ini berita yang paling menghebohkan satu sekolah!” nampak seorang gadis berambut pendek berlari tergopoh-gopoh menuju bangku kantin yang sudah dihuni beberapa siswi itu.

“BAE IRENE ADALAH PUTRI TUNGGAL DAVID BAE!!” kali ini gadis itu menjadi pusat perhatian seisi kantin, siswa-siswi memandang gadis pembawa berita heboh itu dengan tatapan tak percaya dan mulut menganga.

Siapa yang menyangka gadis berandal itu adalah putri tunggal dari orang ternama seperti David Bae, chaebol kelas gold Korea? Siapa memangnya yang tidak kenal Irene si tukang buat onar? Dan siapa pula yang tidak mengagumi wajah cantik gadis itu meski sifatnya sekejam iblis?

“Berani sekali kau menyebut-nyebut namaku dan nama appa-ku,” suara dingin itu membuat si pembawa berita seketika membeku di tempat.

“Kau kira kau siapa? Sudah merasa jagoan?” Irene bertanya sinis seraya mendorong pelan tubuh gadis berambut pendek itu ke belakang.

“Ma-ma-maaf, Irene-ssi,” gadis itu menunduk ketakutan, mencari masalah dengan Irene sama saja dengan menggali kuburannya sendiri.

“Minggir kau, dasar sampah!” sarkas gadis bermarga Bae itu kemudian. Seisi kantin menyaksikkan kejadian itu dengan berbagai anggapan. Ada yang ngeri, benci, kagum, ataupun takjub.

“Apa lihat-lihat? Tidak pernah melihat orang kaya?” gadis itu bertanya angkuh kepada sesisi kantin yang sibuk melihatinya. Akibat pertanyaannya itu pula banyak siswa maupun siswi yang memutuskan untuk pergi dari kantin secepat mungkin.

Semenjak kejadian itu, Irene semakin bersikap semena-mena. Gadis yang menginjak usia 13 tahun itu semakin suka menyiksa siswa maupun siswi lainnya tanpa pandang bulu dan itu menjadi kebahagiaan tersendiri seorang Irene.

Tidak ada orang yang berani melawan atau menegurnya termasuk para guru dan pihak sekolah lainnya. Sudah banyak korban yang hidupnya hancur hanya karena menegur atau melawan gadis itu. Akhirnya orang-orang memutuskan untuk diam, menyaksikan permainan yang diciptakan gadis sombong yang terlihat seperti setan meski wajahnya secantik malaikat.

Mereka hanya tidak tau, Irene butuh sebuah pelampiasan atas dasar kesendirian miliknya. Kehilangan lagi-lagi membuat Irene terluka, tercabik, bagai hatinya dikebiri paksa. Irene sendirian dalam kelamnya hidup, namun tidak ada yang peduli untuk sekedar menarik Irene menuju cahaya kehidupan.

Seoul, 23 Oktober 2015

“Apa lihat-lihat?” sewot gadis itu sambil mendudukkan bokongnya kasar di atas kursi kantin, hingga beberapa orang yang sedari tadi curi-curi pandang menatapnya segera membuang muka. Bahkan beberapa orang yang duduk di meja dekat Irene segera menyingkir menjauh, takut menjadi sasaran Irene.

Melihat orang-orang yang terus saja bepergian bagai ia adalah malaikat pencabut nyawa yang wajib dihindari, Irene tetap masa bodoh. Dia sudah terlalu kebal dengan semua tatapan ketakutan dari orang sekitarnya, jadi si gadis dengan santai mulai melanjutkan aksi melahap makan siangnya dengan tenang.

Tak terasa, kini usia Irene sudah menginjak 16 tahun. Gadis itu kini duduk di bangku kelas 1 SMA di SMA yang tentunya milik ayahnya itu. Semua orang mengenal Irene, dan mereka tentu saja tidak mau berbuat masalah dengan anak pemilik yayasan sekaligus pewaris Tunggal SKY Group yang kaya raya.

Drtttt….

Tak lama, dering telpon Irene membuat nafsu makan si gadis turun seketika.

Maaf, Nona Muda Irene, tapi tuan menyuruh nona untuk ke kantor hari ini.

Irene menyerngitkan dahinya malas, lantas menggumam kesal saat membaca pesan dari sekretaris ayahnya itu. Jika dulu dia mengemis-ngemis meminta untuk bertemu ayahnya maka sekarang dia menentang untuk bertemu dengan ayahnya.

BRAK!

Irene menggebrak meja, lalu dengan cepat berbalik dengan mood tidak bagus sama sekali. Hari ini dia harus kabur dari sekolah sebelum bodyguard ayahnya datang dan menjemput Irene untuk mem—

Brughh!

Shit! kalau jalan itu pakai mata!”

Irene menaikkan suaranya saat tubuhnya kini tanpa sengaja menubruk badan seseorang di depannya itu meski sebenarnya dialah yang salah. Irene mundur selangkah, lalu dengan cepat ingin pergi sebelum akhirnya tangannya dicegat oleh orang yang ia tabrak.

“Rambutmu tersangkut,” jelasnya singkat saat Irene mengangkat kepalanya sambil melotot kesal. Si pemuda nampak menatap sayu si gadis dengan tatapan hangat meski Irene melotot, dan melihat Irene yang masih setia memandangnya, si pemuda dengan cepat menunduk dan meraih rambut Irene yang memang tersangkut di kancing kemejanya.

“Lepas, aku buru-buru,” kata Irene sewot, namun si pemuda masih menahan Irene agar tidak pergi.

“Memangnya kau mau pergi kemana, eoh? Rambutmu saja tersangkut di kancing kemejaku,” balas si lelaki, dan Irene mulai memutar matanya jengah.

Ya! Gunting saja, aku ini buru-buru bodoh!” teriak Irene dengan nafas memburu, namun yang diteriaki hanya tersenyum tipis.

“Jangan, rambutmu cantik, sayang kalau harus digunting,” entah senyum lelaki itu yang terlalu menawan atau mungkin Irene memang sedang dalam mode melankolis, apa gadis itu bisa jujur kalau sekarang dadanya bergemuruh dan pipinya bersemburat merah?

“Nah, sudah selesai,” beberapa detik kemudian, si lelaki kembali bersuara —memecah keheningan di antara si pemuda dan Irene yang mendominasi sedari tadi. Pemuda itu tersenyum, kemudian melepas tangan Irene.

“Namamu Bae Irene ‘kan? Rambutmu cantik, sampai jumpa,” kata si pemuda kemudian sambil pamit, hingga membuat Irene yang sepertinya masih melamunkan lelaki di depannya tadi segera tersadar dan dengan gerak cepat segera menahan pergelangan si pemuda dengan cepat.

“Na-namamu siapa?” tanya Irene dan si lelaki lekas tersenyum sangat manis.

“Namaku Xi Luhan, senang berkenalan denganmu Irene-ssi,”

Seoul, 27 November 2015

“Bae Irene!” lelaki itu nampak berlari menghampiri gadis cantik yang kini tengah menatapnya sambil tersenyum. Kedua insan itu sedang berada di atap sekolah saat ini.

“Kenapa Luhan? Wah, aku tidak menyangka ketua kelas sepertimu membolos,” kekeh Irene karena sebenarnya dia sedang membolos mata pelajaran Kimia, tapi Luhan malah menghampirinya di atap yang itu artinya Luhan juga ikut membolos.

“Hmm, tadinya aku tidak mau membolos, tapi kau memaksaku membolos,” kata Luhan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali, lantas Irene segera berkacak pinggang.

Ya! Kapan aku memaksamu membolos, Tuan Xi? Jangan mengada-ada!” pekik Irene tak terima karena disalahkan, dan Luhan hanya tersenyum tipis sambil mendekat ke arah Irene tanpa merasa bersalah sama sekali.

“Masalahnya kau memang memaksaku membolos, karena kau perlu mengembalikan barangku yang kau curi sehingga aku bisa fokus belajar di kelas,” Irene makin naik pitam, apa kata Luhan tadi —mencuri? Ayolah, Irene si konglomerat mencuri barang Luhan? Yang benar saja!

“Xi Luhan, apa katamu tadi? Mencuri? Jelas-jelas aku—”

Grep!

Irene terdiam, matanya masih membola, berbeda dengan Luhan yang kini memejamkan matanya. Ya Tuhan, tolong sadarkan Irene kalau sekarang Luhan sedang menciumnya sepihak dengan sangat tiba-tiba.

Brugh!

Ya! Apa yang kau lakukan Xi Luhan?” tanya Irene sambil mendorong badan Luhan dari dekatnya setelah akal sehatnya kembali. Bukannya tersinggung, Luhan malah tersenyum tipis penuh arti.

“Masalahnya kau mencuri hatiku Bae Irene. Sekarang semua hariku dipenuhi oleh paras cantikmu, dan itu selalu membuatku tidak fokus sama sekali,” Irene terdiam, masih terkaget sementara kini Luhan sudah bergerak menggengam kedua tangan gadis itu.

“Jadilah kekasihku Irene, kau harus bertanggung jawab karena sudah membuatku jatuh cinta padamu,”

15 Februari 2017

Irene mungkin merasa dirinya adalah orang yang paling berbahagia hari ini. 15 Februari 2017, Irene resmi dinyatakan lulus dari bangku SMA. Dengan semangat, Irene menghadiri upacara kelulusannya dengan senyum mengembang meski lagi-lagi appa-nya tidak bisa datang untuk sekedar memberikan ucapan selamat lulus padanya. Ya, semua karena Luhan, lelaki yang selama 2 tahun lebih ini menjadi kekasih Irene.

Pertemuan Luhan dan Irene bisa terbilang cukup aneh, karena berawal dari tabrakan dan rambut Irene yang tersangkut. Cukup klise, namun bisa membuat hati Irene berdesir saat pertama kali beradu pandang dengan Luhan yang ternyata siswa pindahan dari China itu. Tak butuh waktu lama bagi Irene untuk menaklukkan Luhan dengan segala kecantikan, kekuasaan serta harta yang dimilikinya. Hanya dalam waktu sebulan, Irene dan Luhan resmi menjabat sebagai sepasang kekasih, dan hal yang perlu menjadi sorotan adalah hubungan mereka bertahan hingga lulus SMA seperti sekarang ini.

Setidaknya, Luhan bisa menjadi pelipur lara yang setia bagi Irene, ya, setia. Jika—

“LUHAN! APA YANG KAU LAKUKAN?!” Irene tidak bisa menahan pekikannya lagi. Niatnya dia ingin mencari Luhan untuk foto bersama, namun gadis cantik nan berkuasa itu malah mendapati Luhan sedang berciuman panas dengan seorang gadis di sudut kelas.

—pria China itu memang mencintainya setulus hati.

“Irene?” tanya Luhan cukup kaget, namun hanya sedetik, karena sekon selanjutnya wajah pemuda iu sudah berubah datar.

“Ah, kau punya mata ‘kan? Tidak lihat kalau aku sedang berciuman dengan kekasihku?” lanjut Luhan santai, tanpa sedikitpun rasa gugup atau takut diantara kalimat yang terlontar dari bibir yang baru saja bercumbu panas itu.

Berbeda dengan Luhan, Irene kini sudah mengepalkan tangannya sembari menatap sepasang manusia yang terdiri dari Luhan, juga si wanita penggoda yang Irene tidak perlu repot untuk mengenal namanya itu dengan tatapan menusuk.

“Kekasih katamu? Lalu aku ini apa?” tanya Irene getir, sambil berjalan mendekati Luhan. Buket bunga yang gadis itu pegang sudah jatuh hancur ke lantai, namun si gadis tidak peduli dan tetap mendekati Luhan yang memandangnya dengan tatapan jijik?

“Kau? Ah…semacam dompet berjalan mungkin? Badanmu cukup sexy dan bibirmu lumayan menggoda, sekedar selingan boleh juga,”

PLAKKK!

Tangan Irene tanpa diperintah kini reflek bergerak naik, lalu menampar kasar pipi halus Luhan.

“DASAR BAJINGAN!” Irene mengumpat, dan Luhan hanya bisa memegangi pipinya yang kini berdenyut nyeri.

“Luhan-nie, kau tidak apa-apa?”

Irene muak, sangat. Gadis di depannya —yang Irene tau sangat jauh dibawah levelnya itu— kini mendekati Luhan, memegangi pipi Luhan yang baru saja ia tampar dengan sayang, dan itu membuat Irene semakin muak. Hei, sebenarnya siapa yang kekasih asli Luhan sekarang? Hampir 3 tahun, dan Luhan bilang Irene hanya selingan? Shit!

PLAKKK!

Kini, tangan Irene bergerak menampar pipi gadis yang Luhan akui sebagai kekasihnya itu, tanpa jeda, tanpa rasa bersalah, hingga si gadis kini memegangi pipinya yang berdenyut nyeri akibat ulah Irene. Baru kemarin ia dan Luhan menikmati kencan romantis di hari valentine terakhir semasa SMA, tapi sekarang Irene malah dihadapkan penampakan kekasihnya yang asyik bercumbu. Kekasih mana yang hatinya tidak remuk dan emosinya naik ke ubun-ubun?

“BAE IRENE, APA YANG KAU LAKUKAN?!” kini, suara bentakan Luhan yang terdengar nyaring, hingga membuat Irene terdiam seketika. Seumur-umur, selama 18 tahun ia hidup, belum pernah ada satu orang pun yang berani membentaknya. Namun Luhan kini membentaknya, memandangnya hina bagai semua ini adalah salahnya Irene. Dan jangan lupa, kalau mereka bertiga kini tengah menjadi tontonan gratis di hari kelulusan yang indah ini.

“Lihat, Irene benar-benar membuat malu, tsk.”

“Padahal ini hari kelulusan, tapi gadis berandal itu merusak semuanya.”

“Apa gunanya kaya kalau dia tidak punya teman? Lihat, dia nampak begitu menyedihkan di depan Luhan.”

“Dia piatu kan? Appa-nya bahkan tidak datang ke acara kelulusannya, keluarganya benar-benar tidak peduli.”

“Pantas saja Luhan selingkuh.”

“Dia naif, haha, benar-benar cocok untuknya dikhianati seperti itu.”

“Dasar gadis menyedihkan.”

Irene tidak tuli, dan juga gadis itu berpenglihatan baik. Telinganya jelas mendengar semua orang kini menggunjingkan dirinya yang berkelahi di acara kelulusan, juga tatapan menjijikkan yang orang-orang lontarkan padanya. Nyatanya Irene adalah korban, tapi mereka memperlakukan Irene tetap sebagai gadis keji yang tidak tau diuntung. Tak ada yang berniat menolong Irene, yang ada hanya mereka yang berlomba memberikan cemohan pada si gadis —berlomba mempermalukan seorang Bae Irene.

Mungkin Irene harusnya pernah memikirkan karma itu selalu ada, tapi yah, Irene juga tidak bisa disalahkan. Takdirlah yang mengatur semuanya.

SIALAN, SIALAN, SIALAN!” batin gadis bermarga Bae itu kesal setengah mati.

Entah berapa botol vodka, entah berapa lagu yang sudah terputar dan serta-merta membuatnya meliuk bagai gadis jalang, dan entah berapa ratus umpatan yang sudah Irene keluarkan, namun si gadis belum merasa lega. Irene hanya menangis, meringkuk di mobil Porsche-nya sambil melempar bingkai fotonya dan Luhan keluar jendela mobil yang kini ia lajukan secepat mungkin pulang ke rumah setelah bermabuk ria di bar.

Irene menambah kecepatan mobilnya seperti orang gila meski kini kepalanya berdenyut dan pandangannya membuyar. Dia tidak peduli, dia hanya ingin melakukan semua hal semaunya. Irene yang frustasi, Irene yang kehilangan arah.

BRUKKK!

Irene tersentak, kemudian tersadar ketika kini badannya menabrak stir mobil setelah kaki-nya menginjak rem mendadak. Dia sangat pusing, namun ia tetap melangkahkan kakinya keluar dari mobil, penasaran akan sesuatu aneh yang baru saja ia perbuat.

Oh shit!”

Gadis itu mulai mengumpat tak jelas. Netranya jelas kini memandang sesosok manusia yang sudah teronggok di depan mobilnya dengan berdarah-darah. Jantungnya seketika berdegup sangat kencang dan nafasnya memburu. Irene ketakutan.

Jangan-jangan dia sudah mati?” batinnya ngeri, kini tubuhnya refleks terdorong ke belakang sehingga dia terduduk di bumper mobilnya. Ketakutan, gadis itu akhirnya tanpa pikir panjang segera kembali ke dalam mobil. Lantas dilajukannya Porsche itu cepat tanpa peduli dengan sosok yang teronggok tak berdaya di tengah jalan itu.

Sebut saja Irene pengecut karena melarikan diri, karena memang Irene seorang gadis pengecut.

“Sebatang dandelion akan tumbuh cantik diantara rerumputan liar. Masalahnya, terlalu banyak rumput tak berguna, hingga si dandelion mati tanpa sempat menunjukkan betapa sempurnanya dia berdiri angkuh di tengah padang.”

Appa, hiks..hiks..aku..aku..” Irene berucap terbata, bahkan memegang ponselnya saja tangannya gemetaran.

Irene nampak meringkuk di sudut kamar, sementara Porsche berdarahnya kini sudah terparkir di garasi rumah. Terdengarlah suara berwibawa menyahut dari seberang telpon sana.

Ada apa, Irene-ah? Katakan pada appa,” suara disebrang sana membuat Irene menghentikan tangisnya sejenak.

“Aku menabrak seseorang, appa,” jawab Irene dengan suara pelan, namun masih bisa didengar oleh sang ayah melalui ponselnya.

“Tenanglah Irene, appa akan mengurus semuanya, tenanglah.”

Dia dandelion; yang memeluk padangjuga yang mencintai angin yang berhembus sepoi membunuh si dandelion.

[END]

Next :[02] The Boya boy who tried to life

Author’s Note

Well, kami authordeul cuma pengen kasih tau kalau ff ini bakal di up new chapter setiap tanggal 10 dan 23 per bulan, hoho, biar kalian gak bosen karena ini up mulu, wkwkwk :v

Eh, ada yang penasaran kenapa kami pilih tgl 10 dan 23?

With Luv

Shaekiran & Shiraayuki ❤

 

Iklan

53 pemikiran pada “Gotta be You – [01] The Girl – Shaekiran & Shiraayuki

  1. Irene cakep cakep ga boleh gitu atuh neng 😔 cantik diluar mesti cantik pula di dalem atuh 😘 biar tambah disayang Abang Chanyeol ❤😍😘😂

  2. Ping balik: Gotta Be You – [8] Kiss – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  3. ini kereen. meskipun baru chapter 1 tapi feelnya udah berasa banget. kasian irene yang harus hidup tanpa kasih sayang meskipun dia berkecukupan. tapi penasaran kenapa tiba2 luhan jadi selingkuh kek gitu

  4. Ping balik: Gotta Be You – [7] Revenge – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  5. Ping balik: Gotta be You – [6] Kill Her – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  6. Ping balik: Gotta Be You – [5] Let’s Play – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  7. Bcoz tgl 10 n 23 itu ultahnya Shaekiran n Shirayuuki XD #sotoy
    lah, itu appanya Irene peduli gtu ama dy, tp knpa jrang nemuin Irene sih, kn kasian :’
    btw knpa hrus mas mantan yg jdi cowok nya Irene sih :’D
    next next neexxtttt….

    • Kok tau? Hoho, bener kok, itu tgl ultah kami berdua.. 😂😂
      Appa-nya jahatd ya :’)
      Kan udah kepalang jadi mantan, yodah dikasih peran jadi mantan aja terus.. 😭😭😭
      Thanks for reading. 😍

  8. Ping balik: Gotta Be You – [4] Bad Behaviour – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  9. Ping balik: Gotta Be You – [3] First Impression – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  10. Kemari setelah baca part dua HOHO dan yeah aku suka banget karakter Irene disini yang jahat-jahat gitu tapi aslinya dia butuh perhatian. Entah kenapa setiap baca fiksi yang castnya baechu itu, dia selalu dapet peran antagonis, faktor wajah kali ya XD
    Trus kemunculan Luhan yang sudah kuduga, ada udang di balik batu. Kaya waktu pertama muncul itu perasaanku udah ngga enak sama mantan satu ini, yang kok serasa perfect sekali gitu. eh tau-taunya, playboys HUHU
    Anyway keep writing ya senpainim-deul~

    • Jahat” tapi aslinya kurang perhatian ya? Wkwkk. 😂
      Wajah cantik begitu jadi antagonis hmz, mungkin karena terlalu cantik kali ya mangkanya perannya bgitu semua. 😂😂
      Ada udang di balik Batu, luhan kamu tega sekali hmz :’)
      Thanks for reading. 😍

  11. Ping balik: Gotta be You – [02] The Boy – Shaekiran & Shiraayuki | EXO FanFiction Indonesia

  12. yampun kasian banget si irene 😦 berharapnya sehun sih yang selanjutnya keluar di next chapt wkwk. semoga aja bener WKWK. btw fighting ya unnii, ditunggu next chapt nyaa hehehehe 🙂

    • Huhu.. ditunggu tanggal 10 yaa, disitu maincast cowoknya bakal ketahuan hehe 😀
      thankyouu for your feedback;)) ❤

  13. Yeaaaaay tebakan cast cewenya bener irene eonni hehe 😆😆😆😆 cast cowonyaaa kim kai 😆😆😆 mereka cocok buangeut buat jdi main cast ff ini hehe
    Tapi kasian banget irene pas kecil mau bunuh diri, kesepian dan ga dipeduliin ma orang tuanya ahjummanya juga meninggal kasian bangeeet kejamnya dunia ma irene
    Semangatnya kak nulissnya penasaran banget ma next chapnya apalagi cast cowooonyaaa ^^^^ (berharap kai bgt #abaikan#mulainarsis plis maafkan) HWAITING kakk !!! 💪💪💪

    • Huehehe 😀 thankyouu for good apresiasinyaa ><
      namanya hidup ya pasti ada pedes-pedesnya yaa 😀
      Ditunggu yaa ❤ thankyou

  14. Yesssss…..! Cast ceweknya Irene….!!!! Pleaseeeee buatinnn Sehun dong uniiieee….😍😍😍 Aaaaaa bahagianya…. tapi kehidupannya Irene bener2 nyesek…apalagi masa kecilnya yg kehilangan ahjumanya itu😢
    Aku pikir tadi yg nabrak Irene itu Sehun…eh taunya si Luhen…brengsek amat si Luhan tuh…smoga aja dia dpat karmanya di crita selanjutnya…
    Aku pikir ini genre school life gitu kayak Stuck on You…
    hoahhh next chap bakalan tau siapa cast namjanya…
    The Boy…. I hope Sehun😙😙😙
    Fighting unnideulll….#saranghayeo eakkk~ kkk~

  15. wah jadinya irene ya pemeran utamanya,wah kalo kek gini harus sama sehun deh,harus pokoknya >_< hehe *maksa* 10 sama 23 ya? kenapa tuh kak? ada yg spesial kah ditanggal itu? atau chapter spesial? atau gimana? *kepo* ditunggu deh kelanjutannya ya kak,fighting author'sdeul ^^

    • Iya, kalo cowoknya masih disimpan disini *nunjuk dada*
      tanggal 10 sama 23 ada makna khususnya 😀 tanggal jadian gitu deh *lirik eki*
      ditunggu yaa, thankyouu ❤

  16. kak ekiii ka yukii aq ampee melotoo liat tulisa “[end]” mangaaapp ga jelassssss..ehhh per chapter trnyata,,hahaha
    perann cwe ny pas banget di peranin irene…cowo nyaa sehun kah?
    #pindahhh pdhal sblnya pilih chanyeol,,hahahaha

  17. Padahal aku idah dr semalam baca ini tapi ketiduran 😂😂😂
    Dan baru bisa lanjutin skrg. Udah dag dig dug kalo cast cowok Nya luhan. Untung bukan. Miris juga ya hidup irene. Karna g dapat perhatian dia jadi berantakan hidupnya. Penasaran sama cast cowoknya. Moga sehun…. 🙏🙏🙏

    • Sampe ketiduran sakin panjangnya, ya kan? :”)
      Tenang, cast cowoknya bukan mas mantan :”)
      Kita liat aja siapa cast cowoknya tanggal sepuluh nanti eaa :V
      thankyouu ❤

  18. Yeey akhirnya si cantik irene jadi pemeran utama ^^
    Sedih juga hidup irene dulu tapi appanya sepertinya sayang dengan irene ya kan?? gilak yaa luhan udah pacaran lama eh cuma dianggap dompet berjalan huff..
    aku berharap sehun sehun sehun jadi lawan mainnya irene…
    eh kok tgl 10 & 23?? lama amat ya kak. pengennya sih tiap minggu aja takut lupa dengan cerita” sebelumnya..

    • Papa mana sih yang gak sayang sama putrinya?? Tapi kalo papanya Irene kita gak tahu ya kan? 😀
      Semoga harapannya terkabul yaa :))
      ada alasan khusus dibalik tanggal itu, tenang aja, tiap chapter bakal ada spoiler dari chapter sebelumnya :))
      thankyou ya ❤

  19. KIIIIIIII!!!!!!!!

    WHY I HAVE A FEELING THAT THE MALE CAST IS KAI???? Seriusan ga bohong, ini bukan karena diriku suka mereka berdua. Tapi emang feelnya kerasa kalo yang dari EXO bakal Kai wkwk. Tapi entahlah. Ini kan random toh, well siapa yang tau? Wkwk. Btw maapkeun jika diri ini belum sempet bales komen, haha. Sepertinya waktu belum mengizinkan, ini aja bacanya ditengah-tengah mengerjakan pr kimia yang menumpuk dan lebih parahnya dikumpulin besok, kzl bat kan ya?😂😂 Back to topic, i hope the best for you two and i hope the story will be mind blowing. Goodluck, Eki dan Shirayuki😁

    • ALLL…..😂
      KAI?IYAKAH? HOHO, EMANG ITU SI KAI NGE FEEL PERAN APA NIH? WKWKWK. NANTI YAK NEXT CHAP, BIAR TAU SIAPA SI COWOKNYA.😂
      gpp al, wkwk, kapan sempat aja dibalas. Kimia? Aku remed masa, paling gagal paham kimia. Semangat yak, ini telat sih pr-nya pasti dah dikumpul yekan?😂
      Thankyouuu, amin, semoga yaaa…😆
      Makasih buat apresiasinya al, thanks for reading dan ditunggu yaw next chapnya.😆

  20. ahhh kalo ceweknya my baechu mah tambah semangat bacanya tapi kira kira cowoknya siapa ya ? berharapnya sih yg ga biasa sm irene berharapnya bukan sehun bukan suho juga ayolah hunrene itu banyak bgt ff nya . berharap juga si cowok chanyeol kalo ga baekhyun kalo ga lagi kai boleh deh hihii btw ckp lama juga ya postingnya dari tgl 10 ke 23 dari 23 ke 10 itu lumayan sih tapi emg bagus yg kegitu sih jd nunggunya pasti yg lama ga lamaaaa bgt hehe pokoknya kepo sapa cowoknya moga sih beneran yg diharepin

    • Baechuku sayang ❤ unch unch, yok ditebang mas gantengnya siapa?? Semoga harapannya terkabul ya dearr :))
      Buat tanggal updatenya maaf ya kalo kelamaan, tapi itu udah kami diskusikan satu malam dan kami memutuskan untuk update 2 kali sebulan:)

      Thankyouu yaaa ❤ mohon ditunggu ;))

  21. Ya ampun berantakan berserakan gitu ya hidup Irene? Ya paham lah kenapa dia jadi berandal gitu. Berasa inget ff 2nd grade/klo gk salah/ deh. Irene disana juga berandal bandel gitu kan?
    Berharap banget cowoknya Sehun. Please Sehun aja. Jujur aja disini keliatan kan klo nanti hidup cowoknya tuh penuh perjuangan dan kya menderita banget gitu/nebak sih/. Jadi aku pengen Sehun yg jadi cast Cowoknya. Alesannya ya pasti feelnya bakal dapet banget buat aku klo cast nya sehun. Actually I love the story that make me cry. Dan yang paling gampang bikin aku nangis ya Sehun.
    The last. WHY?? kenapa cuma tgl 10 sama 23 aja updatenya? Satu bulan cuma dua kali? Jujur aja kadang suka udh lupa sama cerita chapter sebelumnya jadi musti bolak balik baca lagi dan itu bikin males.

    • Hidup ‘kan gak bisa flat-flat aja, harus ada pedes manis asam asin pahitnya 😉
      Masalah maincast cowoknya, bakal dijawab tanggal 10 nanti, hehe 🙂 Sehun paling gampang bikin kamu nangis? Hoho, mas Hun mah jahat ya sekarang, udah bisa bikin anak orang nangis :”)

      Alasan kami cuma update dua bulan karena; kedua tanggal itu maknanya dalem banget di hidup kami dan kami gak mau kalian bosan tiap minggu update karena sechapter itu panjang banget gitu :(, kalo nanti update pasti ada kok spoiler chapter yang sebelumnya, ditunggu yaa, thankyouu ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s