[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 15)

poster-secret-wife5

 

Tittle             : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre           : Romance, Friendship, Marriage Life

Length          : Chaptered

Rating          : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer           : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note      : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

Chapter 15 (Jeju Island)

Mobil Audy hitam itu berhenti di area parkir bandara Incheon. Dari dalamanya turunlah seorang gadis dengan mengenakan kemeja bermotif bunga yang dipadukan dengan rok polos berwarna senada, serta mantel bulu yang menjadi pakaian luarnya. Kaki jenjangnya dibungkus dengan stoking berwarna hitam juga heels berwarna perak. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai. Jangan lupa tas keluaran terbaru yang dia tenteng di tangan kirinya.

Dari kursi kemudi keluarlah seorang namja dengan memakai kemeja sebagai pakaian yang paling dalam, dibungkus dengan sweter bulu serta mantel sebagai pakaian luarnya. Syal rajut juga melingkar indah di lehernya. Celana jeans juga membukus indah kaki panjangnya. Jangan lupakan sepatu bertali yang tak bisa dikatakan murah juga menjadi salah satu pelindung kakinya.  Dia membuka pintu bagasi untuk mengambil koper milik sang yeoja.

“Terima kasih sudah mengantarku oppa”, kata gadis itu setelah namja yang bersamanya berhasil mengeluarkan kopernya.

Namja itu tersenyum lalu mengangguk. Gadis itu berniat merebut kopernya, namun namja itu tak memberikannya. “Aku akan membawakannya untukmu. Ayo kita masuk”, kata namja itu. Mereka berdua melangkahkan kakinya memasuki area bandara.

Mereka berhenti di pintu masuk untuk pengecekkan barang. Gadis itu terlihat mencari sesuatu, terbukti dengan caranya melihat ke segala penjuru tempatnya berdiri.

“Kau mencari seseorang?”, tanya namja yang berdiri disampingnya.

Gadis itu mengangguk, “Kenapa mereka belum sampai?”, dia bermaksud berkata untuk dirinya sendiri, namun dapat didengar oleh namja disampingnya.

“Siapa? Ku pikir kau berangkat sendiri?”, namja itu kembali bertanya.

“Nona Kang dan Manajer Jeon. Aku akan berangkat bersama mereka”.

“Itu Manajer Jeon”, namja itu menunjuk salah satu orang yang berjalan kearah mereka. Gadis itu seketika menoleh mengikuti kemana jari sang namja menunjuk.

Manajer Jeon membungkuk hormat pada mereka. Dia mengenakan setelan jas berwarna abu-abu dengan mantel selutut sebagai pakaian luarnya. Tangan kirinya meneteng koper biru tua.

“Dimana nona Kang?”, gadis itu bertanya pada untuk menjawab rasa penasarannya.

“Nona Kang tidak bisa ikut. Ada hal mendesak yang harus dia kerjakan, pamitnya tadi”, jawab Manajer Jeon.

Gadis itu hanya membuang pasrah nafasnya. Setelahnya terdengar pemberitahuan jika pesawat yang membawa mereka ke Jeju akan berangkat dalam 15 menit.

Oppa, kami berangkat dulu”, pamit gadis itu pada namja yang mengantarnya.

Eoh. Hati-hati, sayang”, kata namja itu.

“Kami permisi, Kim Jongin-ssi”, Manajer Jeon juga berpamitan pada namja itu.

Namja itu masih berdiri ditempatnya, memastikan jika adiknya benar-benar menaiki pesawat. Namun, baru beberapa langkah adiknya berjalan, namja itu kembali memanggilnya.

“Junghae-ya”, teriaknya.

Gadis itu menoleh yang diikuti oleh Manajer Jeon. Dia melihat kakaknya berjalan tergesa menghampirinya. “Ada apa oppa?”, tanya gadis itu.

Namja itu melepas syalnya, memakaikannya ke leher adiknya. “Ini musim dingin Junghae, kenapa kau hanya memakai kemeja tipis”, kata namja itu yang masih sibuk melilitkan syalnya. “Cha. Ini akan membuatmu lebih hangat”, kata namja itu kembali setelah selesai memakaikan syal di leher adiknya.

Gadis itu begitu tertegun melihat kelakukan kakaknya. Kakaknya yang satu itu memang cukup perhatian dengannya. “Iya oppa, thank you so much”, gadis itu tersenyum setelahnya.

Eoh, pergilah”, namja itu juga tersenyum setelah mengatakannya.

Manajer Jeon juga ikut tersenyum melihatnya. Dia cukup iri melihatnya, pasalya dia tak bisa merasakan kasih sayang seorang saudara. Karena memang dia tak memiliki seorang kakak maupun seorang adik.

***

Suara ketukan pintu terdengar memenuhi ruangannya. Pintu kayu mahoni itu terus mengelurkan bunyi dari ketukan seseorang. Chanyeol yang sibuk deangan berkas-berkas kantornya segera mempersilahkan masuk. Seorang namja dengan wajah tegangnya memasuki ruangannya. Langkahnya bahkan terlihat tergesa saat mendekati meja kerja Chanyeol.

Sajangnim, kita dalam masalah”, kata namja tersebut.

Mendengar ada masalah, Chanyeol langsung menatap orang tersebut. Orang itu terlihat tengah mengatur nafasnya. Dia membawa berkas ditangan kirinya.

“Apa masalahnya sekretaris Kim? Duduk lah?”, jawab Chanyeol.

Namja itu mengikuti saran atasannya. Dia segera menarik kursi di depannya. “Ini”, namja itu menyerahkan berkas yang tadi dibawanya. “Ini adalah hasil laporan pembangunan cabang hotel kita di Jeju. Semuanya tidak sesuai dengan rencana. Dana yang keluar, melebihi apa yang ditargetkan. Kontraktor kita bahkan menghentikan proses pembangunannya”, namja itu menunjukan isi berkas yang mendukung ucapannya.

“Dihentikan? Bagaimana bisa?”, Chanyeol yang mendengarnya cukup kaget. Raut wajahnya terlihat cukup kecewa.

“Ada yang menggelapkan dana untuk pembangunan tersebut”, lanjut namja tersebut. “Ini, aku sudah menyeledikinya, siapa saja nama yang terlibat. Dan yang membuatku kaget adalah, mereka semua orang kepercayaan ayahmu dulu”, namja itu kembali menunjukan data yang ia maksud.

Alis Chanyeol terangkat saat membaca nama-nama tersebut. “Kau yakin, mereka yang melakukannya?”, Chanyeol terlihat ragu saat mengatakannya.

“Tentu”, jawab namja itu mantap.

“Diamana mereka sekarang?”.

“Mereka semua bekerja disana. Tentu mereka masih disana”.

“Baiklah, aku akan kesana? Kau bisa memesankan tiket untukku”.

“Perlua aku temani, sajangnim?”.

“Tidak perlu. Aku ada meeting dengan Baekhyun setelah jam makan siang nanti. Kau bisa menggantikanku”.

Ne. Semoga berhasil, sajangnim”.

***

Sehun mengetuk mejanya dengan jari telunjuknya. Dia sedang menunggu panggilannya diangkat. Setelah menyelesaikan urusannya, dia memutuskan menelfon Junghae untuk diajaknya makan siang, sekaligus membicarakan lebih jauh investor yang dimaksudkannya. Dia berjalan mondar-mandir untuk mengurangi rasa bosannya menunggu panggilannya diangkat. “Yeobseyo”, raut wajah Sehun berubah senang saat mendengar panggilannya diangkat.

Oppa, ada apa?”.

“Apa kau sibuk?”.

“Sedikit, au harus menyelesaikan negosiasi untuk proyek baru perusahaan setelah makan siang nanti. Kenapa memangnya?”.

“Sehun tersenyum mendengarnya, dia duduk disalah satu kursi tempatnya berdiri. “Aku ingin mengajakmu makan siang, sekaligus membahas lebih dalam investor yang kamu katakan kemarin. Kau tahukan kemarin kita tak sempat membahasnya”.

I’m sorry oppa. Aku tak bisa, aku di Jeju sekarang. Nanti setelah aku kembali, kita akan membahasnya lebih dalam”.

Sehun hanya membuang pasrah nafasnya. “Sejak kapan kau berangkat, semalam kau bahkan masih ikut pesta”.

“Tadi pagi oppa. Lagi pula jarak Seoul dan Jeju tak jauh bukan?”.

“Kau memang benar”, Sehun membuang kesal nafasnya.

“Apa kau sedang bosan?”.

“Bagaimana kau tahu?”, raut wajah Sehun terlihat heran. Bagaimana gadis itu tahu apa yang sedang dirasakannya. Dia memang sedang bosan, karena itu dia menghubungi Junghae untuk diajaknya jalan-jalan. Dan makan siang serta mebahas investor adalah alasannya.

“Tentu aku tahu oppa. Aku sudah lama mengenalmu. Hanya dengan mendengar nada bicaramu aku sudah tahu apa yang kau rasakan. Dan aku yakin makan siang itu hanya alasanmu”.

“Ya, kau benar lagi”, nada bicara Sehun terlihat pasrah. Memang yang dikatakan Junghae sepenuhnya benar.

“Kenapa kau tak mengajak Jungra eonni. Bukankan kalian sudah berbaikan! Aku yakin dia tak akan menolak ajakkanmu”.

Ada raut senang diwajah Sehun saat Junghae mengusulkan nama Jungra. Tapi dia juga terlihat ragu dengan pendapat Junghae. “Kau yakin! Bagaimana jika dia menolak?”.

“Kau belum mencobanya, bagaimana kau tahu. Aku harus pergi sekarang. Semoga berhasil. Fighthing!!!”, Junghae menutup sambungan telfonnya bahkan sebelum Sehun menanggapi ucapannya.

Yak, Junghae-ya. Aish, gadis ini benar-benar. Aku bahkan belum selesai bicara”, Sehun benar-benar kesal dibuatnya. Dia tersenyum kemudian. Kenapa dia tak mencobanya? Dia tak perlu menelfonnya. Dia beralih mengambil kunci mobilnya, menuju tempat dimana dia akan bertemu dengan Jungra.

***

Junghae tak henti-hentinya tersenyum setelah keluar dari ruangan tempat ia, Manajer Jeon dan kliennya bernegoisasi. Berkat presentasi hebat dari Manajer Jeon dan juga kemampuannya dalam menjawab setiap pertanyaan yang diajukan kliennya, mereka memenangkan negoisasi tersebut. Mulai bulan depan mereka akan memulai kerja sama membangun proyek baru.

Mereka kini mengendarai mobil menuju hotel tempat mereka meginap. Manajer Jeon duduk di kursi kemudi dan Junghae berada di bangku sampingnya. “Apa kita masih punya jadwal untuk besok?”, tanya Junghae membuka pembicaraan.

“Tidak ada. Karena tadi kita sudah menyelesaikan semuanya. Dan lagi, tuan Lee besok akan berangkat ke Jepang”, jelas Manajer Jeon. Dia tak menoleh ke arah Junghe, pandangannya fokus menatap jalan yang dilewatinya.

Junghae mengangguk paham sebagai respon. Mereka diam setelahnya, hanyut dalam pikiran masing-masing. Junghae sibuk menatap langit yang mulai berubah kemerahan. Dia membuka jendela mobil di samping tempat duduknya. Dia mengeluarkan kepalanya, membiarkan hembusan angin sore menerpa wajah cantiknya. Dia bahkan menutup matanya, menikmati semilir angin yang menerpa kulitnya.

Manajer Jeon tersenyum melihatnya. Teringat dengan masa dimana mereka masih terikat satu sama lain. Gadis itu memang suka sekali melakukan hal semacam itu saat mengendarai mobil bersama, seperti saat ini. Dan tempat yang menjadi favoritnya saat berkencan adalah pantai. Pantai, ya Manajer Jeon masih mengingatnya. Kenapa dia tak membawanya kesana. Gadis itu pasti akan menyukainya, pikirnya. Tanpa memberitahunya terlebih dulu, Manajer Jeon sudah membelokkan mobilnya menuju pantai.

“Kenapa kita berbelok? Bukankah jalan menuju hotel, lurus saja!”, tanya Junghae.

“Kita memang tak menuju hotel nona Kim”.

Ye~”, raut wajah Junghae terlihat kaget. “Lalu, kita akan kemana?”, Junghae kini beralih menatap manajer Jeon.

“Bagaimana jika kita jalan-jalan sebentar. Bukankah kau menyukai pantai?”, kata Manajer Jeon. Dia kini menatap Junghae.

“Kau masih mengingatnya!”, Junghae terdiam setelahnya.

Mereka saling menatap untuk beberapa detik. Senyum tulus tercetak diwajah Manajer Jeon. Junghae membuang muka karena malu. Manajer Jeon kembali fokus mengemudi. Setelah sekitar sepuluh menit mereka sampai ditempat tujuan. Setelah mematikan mesin mobil mereka turun.

Hembusan angin lautlah yang menyapa mereka pertama kali. Dengan langkah sedikit tergesa Junghae berjalan mendekati air laut yang silih berganti menyapu pasir pantai. Dia bahkan membuang asal heelsnya dan memilih bertelanjang kaki untuk menikmatinya. Suara deburan ombak terdengar saling bersautan. Burung-burung camar saling menari di udara menghiasi langit sore itu. Air lautpun tampak berkilau oleh sinar surya yang hampir tenggelam di ufuk barat.

Junghae berdiri dengan mata tertutup dan membiarkan tangannya membentang di tepi pantai. Dia membiarkan air laut menyapu kaki telanjangnya. Juga membiarkan angin sore menerbangkan rambut panjangnya. Ini sudah lama sejak dia datang ke pantai. Dia bahkan tak peduli dengan udara yang memang semakin dingin.

Manajer Jeon yang masih berjalan menuju kearahnya tersenyum. Dia tahu jika gadis itu menyukai suasana seperti sekarang ini. Gadis itu terlihat semakin anggun di matanya. Dengan rambut berantakan oleh angin serta senyum manis yang tercetak diwajah gadis itu. Itu adalah hal yang paling dia rindukan. Dia berhenti tepat di samping Junghae, dengan tangan yang dimasukan ke dalam saku celananya. Tatapannya lurus menatap air yang gergulung-gulung menuju kearahnya.

“Kau menyukainya?”, kata Manajer Jeon membuka suara.

Junghae membuka matanya perlahan, dia juga menurunkan tangannya. Dia menatap namja yang berdiri di sampingnya. “Ne. Ini sangat indah”, jawabnya. Senyum manis juga menghiasi wajahnya. “Terima kasih sudah membawaku kemari, Manajer Jeon”, lanjutnya.

Mereka memutuskan berjalan-jalan sebentar menikmati pemandangan sore hari itu. Mereka saling melempar candaan mengingat masa lalu mereka. Mereka terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah berkencan. Untuk sesaat mereka lupa dengan status yang mereka miliki. Mereka hanya menikmati kebersamaannya.

***

Chanyeol memasuki villanya dengan langkah lemas. Masalah hari ini cukup berat. Dia harus menghadapi beberapa pegawainya yang bermasalah. Tinggal satu orang yang ternyata sudah kembali ke Seoul. Wajahnya terlihat lelah. Setelah memasukan sandinya, dia menuju kamarnya. Melempar mantelnya ke ranjang dan memasuki kamar mandi.

Dia memang memilih tinggal di villa keluarganya, selama dia disana. Dia ingin mengingat kenangan indah bersama ayahnya di tempat itu. dia memang teramat merindukan ayahnya. Ayah yang suah mengajarinya banyak hal hingga dia sampai seperti ini.

Setelah sekitar limabelas menit, Chanyeol keluar dengan handuk kimono yang membalut tubuh kekarnya serta rambut basah yang ia keringkan dengan handuk. Dia terlihat lebih segar dari sebelumnya. Dia mendengar suara pnselnya berdering. Dia merogoh saku mantelnya yang tergeletak manis di atas ranjang. Menggeser tombol hijau di layar ponselnya, lalu mendekatkannya di telinganya. Tangan kirinya masih sibuk membasuh rambut basahnya.

Eoh, hyung. Ada apa?”, jawabnya.

“Bagaimana dengan masalahnya tadi?”.

“Aku sudah membereskannya. Tinggal satu orang yang ternyata sudah kembali ke Seoul. Kau bisa menemuinya untukku. Namanya Hyun Jaewoon, kau mengenalnya bukan?”, Chanyeol kini beralih duduk di ranjangnya.

“Syukurlah. Iya, aku akan mengurusanya untukmu”.

“Lusa nanti, kontraktor kita sudah mulai membangun kembali”, Chanyeol melempar handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambutnya kesembarang tempat.

“Itu melegakan. Semoga ke depannya akan berjalan dengan baik”.

“Iya, semoga saja. Aku juga berharap demikian, hyung”.

“Kau tidak lupa makan kan?”.

“Tentu tidak hyung. Kesehatan adalah hal yang paling utama. Bukankah begitu!”, Chanyeol tersenyum saat mengatakannya.

“Ya, iya”, terdengar nada pasrah diseberang sana.

Chanyeol justru tertawa mendengarnya. Baru kali ini namja yang menghubunginya terdengar pasrah dengan apa yang dia ucapkan. “Bagaimana hasil meeting tadi? Baekhyun tak marah bukan!”, kata Chanyeol setelah meredam tawanya.

“Meskipun dia ingin, apa dia akan melakukannya?”, bukannya menjawab namja itu justru balik bertanya.

Chanyeol terlihat sedang berfikir. “Kurasa tidak. Aku tak pernah melihatnya marah padaku”, Chanyeol berkata dengan cukup percaya diri. Pasalnya memang selama lebih dari limabelas tahun bersahabat, namja yang bernama Baekhyun itu tak pernah marah padanya.

“Kalau kau sudah tahu, kenapa kau masih bertanya apa dia akan marah atau tidak. Dasar!”.

Chanyeol kembali tertawa. “Aku hanya bertanya hyung. Siapa tahu dia akan marah padaku”.

“Kau tak kesepiankan disana?”.

“Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?”.

“Siapa tahu saja. Ah, seharusya kau mengajak nona Junghae”.

“Junghae”, Chanyeol kembali menyebutkan nama yang namja itu sebutkan, untuk memastikan jika dia tak salah dengar.

“Iya, nona Junghae. Istrimu”.

Chanyeol seketika teringat dengan gadis itu. Seharian ini dia memang tak mengingatnya, karena begitu banyak masalah yang harus ia selesaikan. Dia tersenyum mengingat gadis itu sebenarnya juga ada di pulau itu. dia hanya perlu menghubunginya untuk tahu dimana dia berada sekarang. “Aku atak perlu mengajaknya hyung. Dia memang sudah ada di pulau ini”, jawabnya.

“Jadi dia sudah bersamamu?”.

“Tidak, dia sedang ada perjalanan bisnis di pulau ini. Aku bahkan tak tahu sekarang dia ada dimana”.

“Kenapa kau tak menghubunginya?”.

“Bagaimana aku bisa menghubunginya jika kau masih terus mengoceh padaku”.

“Baiklah, baiklah! Aku akan menutup telfonnya. Selamat bersenang-senang sajangnim. Anggap saja itu sebagai bulan madu kalian”. Seperti perkataannya namja itu memutuskan sambungan terlfonnya.

Chanyeol kembali tersenyum mendengarnya. Dia melempar ponselnya ke ranjangnya. ‘Bulan madu. Aku bahkan belum memikirkannya’, fikirnya. Dia beralih mengacak-acak isi lemarinya mencari pakaian yang nyaman untuk ia kenakan. Pilihannya jatuh pada kemeja bermotif kotak-kotak hitam putih dan celana jeans hitam. Dia juga memakai kaos polos hitam  lengan pendek sebelum memakai kemejanya.

Dia merebahkan dirinya sebentar di ranjangnya. Dia merasa benar-benar lelah hari itu. dia berusaha memejamkan matanya. Namun nihil, rasa kantuk belum juga menghampirinya. Seketika dia teringat dengan istrinya. Dia penasaran dengan apa yang dilakukan istrinya sekarang. Dia segera meraba kasur tempatnya berbaring mencari keberadaan benda mungil berbentuk persegi empat tersebut.

Selelah menemukan nomor yang dia cari, dia mendekatkan ponsel itu ke telinganya. Cukup lama dia menunggu. Dan suara operatorlah yang akhirnya menjawabnya. Dia mematikan kembali panggilannya. “Apa dia sibuk?”, tanyanya entah pada siapa. Dia berusaha kembali menghubungi nomor tersebut, namun suara operator yang kembali menjawabnya dan mengatakan jika nomor tersebut tidak aktif.

“Pasti ponselnya mati”, fikirnya.

Dia hanya membuang pasrah nafasnya. Dia kembali melempar ponselnya ke samping tempatnya berbaring. Perutnya tiba-tiba saja berbunyi. Dia ingat dia belum makan malam. Dia kemudian berdiri. Mengambil mantelnya, tak lupa menyambar ponsel yang tadi tergeletak manis di sampingnya.

***

Junghae kini duduk manis menatap Manajer Jeon yang sibuk berkutat dengan alat memasak di dapur. Dia bahkan menyangga kepalanya dengan kedua tanggannya melihat betapa lihai namja itu bermain dengan pisau.

Mereka kini berada di rumah milik kakek Manajer Jeon, setelah lelah menikmati pemandangan pantai tadi. Itupun atas usulan Manajer Jeon tentunya. Dan lagi rumah itu tak terlalu jauh dari pantai tersebut. Jadi tak ada alasan untuk Junghae menolak.

“Perlu aku bantu?”, Junghae menawarkan dirinya karena dia lelah memperhatikan.

“Sudah ku bilang tak perlu Alice. Kau hanya perlu duduk manis disitu. Ini akan selesai dalan sepuluh menit”, kata Manajer Jeon yang kini sibuk menuangkan minyak ke tempat penggorengan. Dia secara tak sadar memanggil gadis itu dengan nama yang seharusnya tak ia ucapkan kembali.

Arraseo”, Junghae mengembungkan pipinya setelah mengatakannya. Dia terlihat bosan menunggu namja itu selesai berkutat dengan panci dan wajan. Dia kemudian bangkit dari tempat duduknya. Berjalan menuju kulkas untuk menyegarkan tenggorokannya. Dia merasakan jika ponselnya bergetar. Belum sempat dia mengangkatnya, ponselnya sudah mati kehabisan daya. “Aish, kenapa harus mati segala”, dia kembali mendekati Manajer Jeon.

“Apa kau punya carjer ponsel?”, tanya Junghae yang kini sudah sampai di dekat Manajer Jeon.

“Sepertinya tidak. Aku membawanya tadi, tapi tertinggal hotel”, jawab Manajer Jeon. Dia masih sibuk mengaduk sesuatu yang ada di atas kompor.

“Ya, sudahlah!”, Junghae duduk ditempatnya semula. Dia kembali menyaksikan segala kegiatan Manajer Jeon dengan panci dan wajan. Setelah menunggu sekitar lima menit, dihadapannya kini sudah tersaji beberapa makanan hasil kerja keras Manajer Jeon.

Setelah menuangkan air putih di gelas, Manajer Jeon ikut duduk di samping Junghae.

“Selamat makan”, kata Junghae setelah dia selesai berdoa. Dia mengambil sendok yang ada di samping piringnya. Menyuapkan sesendok kuah sup ke mulutnya sesaat setelah ia meniupnya. “Mashita”. Dia kembali memasukan beberapa masakan yang tersaji di depannya.

“Pelan-pelan saja makannya, nanti kau tersedak”, kata Manajer Jeon memperingatkan.

Junghae tak mengindahkannya. Tetap saja dia makan dengan tergesa, seperti orang yang sudah tak makan beberapa hari. Manajer Jeon hanya tersenyum melihatnya.

Setelah acara makan malamnya selesai mereka memilih menonton TV. Dengan ditemani beberapa bir kaleng serta cemilan.

“Akhirnya aku bisa minum berdia denganmu. Itu adalah hal yang paling aku inginkan sejak dulu. Dan dulu kita belum cukup umur untuk melakukannya”, celoteh Junghae yang terlihat sibuk membuka tutup kaleng bir.

Manajer Jeon hanya diam. Dia meraih satu kaleng bir, membuka tutupnya dengan cepat. Juga meminumnya dengan cepat. Dia merasa cukup menyesal untuk beberapa alasan. Salah satunya meninggalkan gadis manis yang kini duduk di hadapannya.

Yak, pelan-pelan Manajer Jeon”, protes Junghae. Dia melihat Manajer Jeon meminum minuman keras itu dengan cepat. Bahkan sepuluh kaleng kosong kini sudah berserakan di meja. Sementara dia, bahkan satu kalengpun belum ia habiskan.

Wae?”, Manajer Jeon kembali meminum bir yang ada ditangannya sampai habis.

Junghae hanya menggelengkan kepala melihatnya. Dia meletakkan kaleng bir yang kosong ke meja. Dia kembali membuka kaleng kedua untuknya. Meminum beberapa tegukan.

Manajer Jeon hanya terdiam menatap kearah Junghae. Gadis itu fokus menatap layar 52 in di hadapannya. Sesekali gadis itu tertawa melihat hal lucu dari layar tersebut. Manajer Jeon juga ikut tertawa melihat gadis itu tertawa. Dia sudah sangat mabuk. “Yepeo”, kata itulah yang tiba-tiba keluar dari mulutnya.

Junghae menoleh saat mendengar Manajer Jeon menggumankan sesuatu. Dia melihat Manajer Jeon tengah tersenyum padanya. Senyum yang terlihat begitu tulus. Senyum yang memang ia rindukan disaat-saat tertentu. Mereka terdiam, saling menatap untuk beberapa saat. Hingga tiba-tiba wajah Manajer Jeon mendekat. Menghapus jarak diantara mereka. “Saranghae”, bisik Manajer Jeon sebelum dia menarik tengkuk Junghae. Melumatnya pelan, menyalurkan segala perasaan tertahannya selama ini.

Untuk sesaat Junghae terhanyut dalam suasa itu. Dia bahkan membalas apa yang Manajer Jeon lakukan padanya, dengan posisi dimana Manajer Jeon  menindihnya di ujung sofa. Cukup lama sampai bayangan seseorang terlitas di kepalanya. Dia segera memalingkan wajahnya. Dia juga mendorong tubuh Manajer Jeon  dari atas tubuhnya.

Junghae segera berdiri, “Tidak, ini tidak benar. Apa yang sudah aku lakukan”, Junghae menutup mulutnya, dia juga menggelengkan kepalanya. Air matanya lolos begitu saja melewati pipinya. Dia segera berlari, kemanapun yang dia bisa. Dia tak boleh terus berada di tempat itu, atau sesuatu yang lebih parah dari apa yang ia lakukan tadi akan terjadi.

Sementara itu Manajer Jeon, hanya duduk terdiam di sofa dengan posisi yang masih sama saat Junghae meninggalkannya. Kepalanya begitu berat, dia tak begitu sadar dengan apa yang baru saja ia lakukan. Dia memilih menyandarkan kepalanya di sandaran sofa tempatnya duduk. “Apa yang sudah aku lakukan? Dasar bodoh!”, dia mengutuki dirinya sendiri.

***

Chanyeol berjalan pelan menyusuri trotoar yang terlihat sepi. Dia baru kembali dari makan malamnya. Dia merapatkan mantelnya, udara malam itu cukup dingin. ‘Pantas saja di luar sini sangat sepi’, pikirnya. Dia memang memilih berjalan kaki, karena memang jarak restoran dan villanya cukup dekat. Hanya memakan sekitar sepuh menit untuk sampai di tempat tersebut.

Saat melewati taman, dia dikagetkan oleh seorang gadis yang tengah duduk di bawah pohon dengan menekuk lututnya. Gadis itu menyembunyikan wajahnya diantara kakinya. Rambut panjangnya dibiarkan terurai. Awalnya dia pikir itu hantu. Namun saat melihat kakinya menginjakkan tanah, dia yakin jika itu bukan hantu.

Gadis itu terlihat menyedihkan, karena membiarkan kakinya telanjang. Dan lagi dia hanya memakai kemeja tipis dan juga rok yang bahkan tak menutupi betisnya. ‘Apa dia tak kedinginan?’, pikirnya lagi. Dia merasa sedikit iba melihatnya.

Chanyeol memberanikan diri mendekati gadis tersebut. Menepuk pelan pundak gadis itu, “Aghassi, kau baik-baik saja?”, tanyanya.

Tak ada respon dari gadis tersebut. Chanyeol kemudian mengoyangkan pelan tubuh gadis itu, “Aghassi, kau baik-baik saja”, tanyanya kembali.

Gadis itu akhirnya mendongakkaan kepalanya. Dia begitu kaget mengenali raut wajah gadis itu. “Junghae”, cukup keras dia menyebutkan nama itu.

“Chanyeol oppa”, kata gadis tersebut. Dia tak sadarkan diri setelahnya.

Chanyeol menangkap tubuh gadis itu sebelum jatuh ke tanah. “Junghae-ya. Junghae-ya. Bangun”, Chanyeol menepuk pelan pipinya. Dia bisa merasakan betapa dinginnya tubuh istrinya. Rasa khawatir tiba-tiba datang menghampirinya. Dengan segera dia mengangkat tubuh istrinya. Membawanya ke villa tempat ia akan menghabiskan beberapa malam di pulau itu.

***

“Bagaimana keadaan istri saya dokter”, tanya Chanyeol. Wajahnya terlihat begitu panik. Dia menggil dokter kenalannya ke villanya setelah sampai. Dia ingin membawanya ke rumah sakit, hanya saja jaraknya yang terlalu jauh. Dan juga keadaan yang tak memungkinkannya.

“Suhu tubuhnya begitu dingin. Bagaimana bisa ini terjadi?”, tanya dokter tersebut.

Chanyeol menceritakan semua kejadian yang ia tahu pada dokter tersebut. Dokter itu hanya mengangguk paham diakhir cerita Chanyeol.

“Sepertinya, dia sudah berada di luar sana cukup lama. Jangan khawatir tuan, kau hanya perlu memberinya selimut tebal. Jika itu tak berhasil, kau harus memanaskan darahnya. Anda tahukan apa yang saya maksudkan?”.

Ne. Terima kasih dokter”.

“Sama-sama. Saya permisi dulu”, dokter itu membungkuk hormat sebelum meninggalkan villa tersebut.

Chanyeol mengantar dokter tersebut sampai depan pintu kamarnya. Setelah memastikan dokter itu benar-benar pergi,  dia menemui kembali Junghae yang masih terbaring lemah di atas ranjang. Wajahnya begitu pucat, dia benar-benar tak tega melihatnya. Dia menaikkan selimut hingga sebatas leher, untuk menjaga agar istrinya tetap merasa hangat.

“Apa yang terjadi padamu sebenarnya Junghae?”, Chanyeol yang sudah duduk di samping Junghae kini mengusap lembut kepala istrinya. Dia juga menggengam erat tangan istrinya, yang masih terasa dingin. Dia bahkan bisa merasakan jika tubuh mungil yang tengah terbaring itu menggigil.

“Dingin”, gumam Junghae dengan mata yang masih tertutup. Cukup pelan namun masih bisa di dengar Chanyeol.

Chanyeol ikut naik ke ranjang. Memeluk istrinya, untuk mengurasi rasa dingin yang dialaminya. Dia merasa seperti tengah memeluk es, sangat dingin. “Junghae-ya, kau baik saja”. Raut khawatir tercetak jelas di wajah tampannya.

“Dingin”, hanya kata itu yang bisa Junghae gumamkan.

Chanyeol kembali merapatkan pelukannya. Namun nihil, suhu tubuh istrinya tetap saja masih sedingin es. “Bagaimana ini!”, dia teringat dengan nasehat dokter tadi. “Apa aku aku harus benar-benar melakukannya?”, Chanyeol memejamkan matanya sebentar. Menarik nafas panjang lalu mengeluarkan, melakukannya beberapa kali untuk meyakinkan dirinya. “Maafkan aku Junghae”. Dan malam itu Chanyeol melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan.

to be continue…

Hai, hai. Saya kembali lagi dengan chapter 15. Maaf agak lama. Dua minggu ini benar-benar kelewat sibuknya…..

Terima kasih buat yang sudah setia nunggu. Komen kalian sungguh berarti lho, buat aku jadi semakin semangat nulisnya.

Mungkin aku akan hiatus untuk satu bulan ke depan. Bahkan bisa lebih.

Jika kalian tanya mengapa, karena aku harus ikut program kampus yang bernama KKN.

Tempatnya di daerah terpencil. Aku sudah survei tempatnya, dan ternyata tak ada sinyal, yang ada hanya sinyal telkomsel, itupun kadang ada kadang tidak. WIFI, jangan tanya, tak ada disana.

Jika berminat baca ceritaku yang lain, silahkan lihat di id waatpadku yang baru aku buat tak lama ini. Id-nya: @dwi_lestari22

See you next time.

Do’akan semoga lancar ya…..

55 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife (Chapter 15)”

  1. kasihan junghae kedinginan…chanyeol enggak punya pilihan selain melakukannya? maksudnya apa? apakah bulan madunya di jeju akan terwujud?? di tunggu lanjutannya..
    fighting untuk KKN nya…

    1. jika memang sudah cukup umur pasti tahu, hahaha…

      terima kasih ya… 🙂
      selalu semangat buat KKN nya…

    1. seharusnya sudah tahu kenapa! dia kan lari setelah sadar apa yang dillakukannya dengan manajer jeon salah.

      jika memang sudah cukup umur pasti tahu,

      terima kasih ya… 🙂

  2. Kaka semangat ya buat KKN nya, ohiya ka btw ini chanyeol nya bikin greget gitu. Nge feel bacanya. Next chap nya ditunggu bangget ya kaka ^^ uhuhuhu

  3. tbc… aduhhhhh banget” gk tepatnya….
    hahhhh ya udh dehh..kkkk
    chanyeol mah gitu… jeon gk bisa nyosor, maka dialah yg nyosor… junghae kena hipotermia yaa… apasih bahasanya itu… yaa pokoknya itulah.. hahahahh
    gk jelas deh aku ini… gegara chanyeol sihhhh…kkk
    nextttttt

    1. iya, memang sengaja, biar pada penasaran….

      memangnya kamu diapaain bang Chanyeol, sampai gk jelas gitu, hahaha…

      ditunggu saja ya….
      terima kasih… 🙂

  4. ‘Chanyeol melakukan apa yang memang seharusnya ia lakukan.’ Maksudnya apa min? wkwk
    min di update terus ya secret wife nya aku nungguin terus lho ini

    1. jika memang sudah cukup umur pasti tahu…..
      bakalan di update, ditunggu saja…

      terima kasih…. 🙂

  5. yah~ udah deg-degan malah tbc ㅠㅠㅠ
    satu chapter lagi dong kak sebelum hiatus, meni bikin penasaran pisan..

    btw semangat kak KKN nya. tahun depan aku nyusul wkwk /ga ada yg nanya

    1. gak bisa say, lagi gk da inspirasi….
      ditunggu saja…..

      iya, pasti, sudah dipersiapkan jauh-jauh hari, jadi memang harus semangat….
      buatmu, semoga cepat nyusul ya…

      terima kasih…. 🙂

  6. wah aku ketingggalan beberapa chapter, bacanya langsung ngebut. maaf ga ninggalin koment di chapter sebelumnya. baru juga baca ini authornya mau hiatus 😦
    Semoga lancar KKNnya ya autornim, kalau udah selsai jangan lupa kembali lanjutin ceitanya oke?

  7. Duuh udah tbc aja. Smkin kesini smkin jjang. Yah mau hiatus dulu, tpi tak apalah. Smga lancar ya KKN nya, ditunggu chapter selanjutnya. Fighting 🙂

    1. maaf gak bisa…… benar-benar lagi gak da inspirasi…..
      ditunggu saja ya,

      terima kasih sudah suka…. 🙂

  8. yahh…. yahhhh…. mau hiatus. gpp lah. tp, jangan lama2 ya kak hiatusnya. 😦
    tetep kutungguin ff ini. hiatus boleh, tp harus balik ya!!! 🙂 ^_^
    itu manajer jeon gk sadar ya??? bukankah dia itu sudah tau hub. chanhae. wah bener2 kelepasan krn bir.
    chanyeol melakukan apa ya????

    semangat eonni untuk KKNnya ya…
    aku tidak akan lupa ff ini. tetap ku tunggu lanjutannya… fighting!!!

    1. tetep balik lagi kok, jangan khawatir…..
      selamat menunggu ya…

      pengaruh bir, jadi manajer jeon gk sadar dengan apa yang dilakukannya,
      Bang CY melakukan apa????? kalau sudah cukup umur pasti tahu…. hahaha…..

      terima kasih…
      fighthing!!!!!

  9. Uhh ceritanya sudah makin bagus tapi authornya malag mau hiatus? Huaaa aku gak sanggup. Kalo emang bisa update di sana tolong update yaa thor.

    1. iya, ini memang lebih pendek dari biasanya……
      karena memang dua minggu sebelumnya super sibuk, dan hanya free sekitar dua hari sebelum berangkat KKN, dalam dua hari itu aku membuatnya…
      awalnya tak berniat ngirim, karena saat itu benar-benar gak dapat inspirasi buat nulis.
      setelah saya paksakan, akhirnya bisa, tapi hanya segitu…

      ditunggu saja ya…..

      terima kasih…. 🙂

    1. iya nih, kebanyakan minum bir sich…
      jika kamu sudah cukup umur, pasti tahu apa yang dilakuakan bang CY
      jika memang belum, jangan coba cari tahu ya, bahaya lho… hahaha….

      terima kasih ya…. 🙂

    1. ditunggu saja ya, nanti pasti tahu
      jika saya beritahu sekarang nggak bakalan seru

      terima kasih ya… 🙂

    1. jika memang anda sudah cukup umur pasti tahu, hahaha….

      akan tetap saya lanjut, ditunggu saja ya..
      terima kasih…. 🙂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s