[EXOFFI FREELANCE] Believe – (Chapter 4)

BELIEVE COVERR.jpg

Tittle     : Believe Chapter 4

 

Author  : RichFams06

 

Cast      : Kim Junmyeon as Junmyeon as Suho

Kim Ra hee as (OC)

EtGenre :Romance, Hurt/Comfort, Canon, Brothership, Supranatural.

Rated     : T+

WARNING!! MANY TYPO’S! KESAMAAN TEMPAT,SITUASI DAN HAL – HAL LAIN ADALAH BUKAN DISENGAJA!

INI HANYA IMAJINASI! INI HANYA FANFICTION!

DON’T LIKE DON’T READ

DON’T PLAGIAT!

Hanya rekomendasi, baca ini sambil denger lagu Ailee Ost Goblin

Yuk cuss aja baca!

|Chapter 1| 2 | 3 | …

 

Previous chapter

“Keluarlah oppa.., lebih baik oppa keluar dari sini..” Rahee membalik tubuhnya hingga membelakangi Junmyeon, dan lelaki itu sungguh kehilangan akal sehat, dia benar-benar bingung, Rahee Sangat kecewa pasti Sangat kecewa pada sikapnya.

“Aku mohon, dengarkan aku dulu Rahee-ah..” tangan Junmyeon yang ingin memegang Rahee terhenti karena Rahee memunggunginya.

“Aku tidak mau mendengar apapun darimu oppa.., aku berterimakasih atas apa yang kamu lakukan hari ini, dan aku akan membayar kamar ini nanti, silahkan pergi, aku mau istirahat..” dengan suara tersendat dan menahan tangisannya, Rahee berbicara pada Junmyeon, kejadian ini, sama, seperti kilasan mimpinya, dan kepala Rahee mulai terasa pusing, Sangat pusing.

Rahee-ah..aku..” Pria itu menatap sendu punggung sempit wanitanya, dan dia pergi tanpa berkata lagi, sungguh dia ingin mengatakan bahwa hal itu sudah berakhir, tapi jika dipikirkan lagi, Junmyeon memang sudah salah tidak jujur pada kekasihnya selama berhubungan selama ini, ini salahnya, dan Junmyeon pergi dengan hati hancur dan takut, karena dia akhirnya menyadari jika ini adalah karmanya di masa lalu.

“Hahh..hahhh..sakit..akhhh!!” dalam diam, Rahee memegang kepalanya yang Sangat sakit, bahkan kepalanya seperti ingin pecah bersamaan dengan jantung Rahee berdetak dengan cepat, dan dengan sisa tenaganya, Rahee memencet tombol merah panggilan pada Dokter.

***

STORY BEGIN!

 

Junmyeon berjalan keluar dari kamar Rahee, dia menatap kosong lantai sembari berjalan pelan dan dengan berat hati keluar dari Rumah sakit tersebut. Semua hal sudah dia katakan, tetapi Rahee ternyata sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Sungguh, dia Sangat bingung dan bimbang, di sisi lain dia bahagia karena sudah jujur pada kekasihnya, tetapi dia juga sudah menyakiti perasaan wanita itu.

“Aku harus bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?”

Menatap pada langit yang sudah gelap, hari mulai terasa semakin dingin karena musim dingin memang akan segera tiba, sementara lelaki tampan itu hanya memakai dua lapis baju, yaitu, kaos yang di kenakan olehnya, di sertai jaket miliknya. Air mata jatuh begitu saja dari matanya, rasa sesak tentu saja menyertai dadanya, apa yang dia takutkan kini terjadi.

“Apa ini karmaku?”

Begitulah isi hatinya, karma, benar, itu memang karma yang harus di bayar olehnya, di kehidupannya yang dulu, dia membuat wanita itu menunggunya hingga mati, dan kini dia merasakan hal yang sama, dingin, Sangat dingin. Dengan pelan dia berjalan menuju sebuah taman di dekat Rumah sakit itu dan duduk di kursi yang kosong disana, menghela nafas panjang, dia kembali memikirkan apa yang harus di perbuat olehnya nanti, perasaannya sungguh tidak tenang saat keluar dari kamar Rahee.

“Apa aku kembali saja?” gumamnya sendiri.

“Benar, lebih baik aku kembali kedalam, dari pada aku merasa tidak tenang seperti ini”

Pada akhirnya, dia mengambil keputusan untuk kembali ke dalam Rumah sakit dan tetap mengawasi Rahee. Saat menuju kamar Rahee, anehnya Suster dan Dokter berlarian menuju kamar seseorang yang dia tidak yakin tetapi saat semakin dekat, benar, itu kamar Rahee, apa yang terjadi pada kekasihnya? Apa yang membuat Dokter tergesa masuk dalam kamar Rahee, dan tiba-tiba Dokter keluar dengan tubuh Rahee yang di beri oksigen dan di dorong kesuatu tempat.

“Dokter!!”

Sebelum mereka menjauh, Junmyeon berlari mengejar dan kebingungan dengan yang terjadi, sungguh, dia Sangat kaget melihat Rahee sesak nafas dan di bantu sebuah masker, bahkan nampaknya Rahee tidak sadar sepenuhnya.

“Saya harus memeriksa keadaan pasien, mohon anda menunggu kabar selanjutnya setelah kami masuk keruangan observasi..” tanpa ragu Dokter dan Suster pergi kembali berjalan menuju ruangan tersebut, Junmyeon sempat meraih tangan Rahee, namun Rahee yang tampaknya tidak sadar, hanya diam tanpa merespon.

“Rahee-ah.., Kim Rahee…”

Dengan tatapan putus asa Junmyeon melihat Rahee yang semakin menghilang dibalik sebuah pintu, kedua kaki Junmyeon terasa lemas, seperti kehilangan sebuah tulang, dia begitu saja jatuh berlutut, melihat Rahee tidak sadarkan diri. Sesak, Sangat sesak, memegang dadanya dengan tangan kanan dan meremas keras karena terasa Sangat sakit disana, melihat kekasihnya kesakitan, tentu saja dia lebih merasakan sakit dari pada kekasihnya sendiri yang sakit, Rahee sakit, dia lebih sakit, dan tanpa sadar sebuah gambaran ingatan muncul di kepala Junmyeon.

Flashback Joseon Last Era 1900th

“Jangan pernah menemui lelaki manapun selain diriku, apakah kau mengerti?!” Raja mendekatkan wajahnya pada Ratu dan mengeratkan genggamannya pada bahu Sang Ratu.

“Aaakh..b..baik Yang Mulia.., aku mengerti..” jawab Ratu pasrah.

Setelah mengatakan sebuah ancaman pada Sang Ratu, Sang Raja keluar dengan perasaan kacau dan wajah memerah menahan amarah yang Sangat besar, Raja berjalan menuju Istananya, namun dalam perjalanan Sang Raja tiba-tiba saja hampir jatuh berlutut sebelum di pegang oleh Kasim Istana.

“Yang Mulia? Anda tidak apa? Apa perlu saya memanggil tabib?”

“Tidak, tidak perlu, aku tidak apa, cepat bawa aku ke dalam Istana..” dengan wajah yang sudah berubah pucat tidak tampak seperti sebelumnya, Sang Raja berjalan dengan Kasim yang setia memegangi tubuhnya yang lemas.

“Jangan sampai istriku tau kalau aku sakit.., mengerti?”

“Baik Yang Mulia, saya mengerti..”

Dengan perlahan Raja sampai di dalam kamar pribadi miliknya, berbaring dengan perlahan. Wajahnya Sangat pucat, setelah membuka bajunya menjadi baju tidur, Sang Raja meminta Kasimnya untuk keluar dari kamar karena dia hanya ingin sendiri. Memejamkan matanya dengan erat, dia tidak menyesal telah membentak Ratunya, namun entah mengapa dia merasa Sangat sesak dan tidak bertenaga setelah memarahi Ratunya sedemikian rupa.

Di tempat lain, Sang Ratu juga tidak sadarkan diri karena kedinginan menunggu terlalu lama di luar kamarnya, keringat keluar begitu saja pada kening cantik miliknya, tidurnya tampak tidak tenang, dan setelah berteriak maaf dia terbangun dari mimpinya.

“Hhh..hhh..” dengan nafas tersengal Ratu membuka matanya, tentu saja tubuhnya masih panas dan pucat.

“Apa anda sudah merasa lebih baik Yang Mulia Ratu?” tanya Dayang Istana.

“Apa yang terjadi padaku?”

“Anda jatuh tidak sadarkan diri setelah Raja meninggalkan kamar anda Ratu..”

“Y..Yang Mulia Raja dimana?”

“Raja kembali ke Istananya.., saya rasa Yang Mulia Ratu lebih baik kembali istirahat..”

Tanpa menjawab apapun, Ratu kembali memejamkan matanya, tidak ada perubahan apapun pada suhu tubuhnya, di tambah Sang Ratu tidak ingin meminum obat dan makan sebelum dia bisa bertemu Raja, jadilah demamnya tetap tinggi dan para Dayang Istana Sangat kebingungan, kemudian mereka mendengar titah Raja yang mengatakan tidak mau diganggu siapapun hingga mereka tidak dapat sedikitpun mengabari Sang Raja.

1 hari..

2 hari..

Masih juga belum terdapat perubahan yang meningkat, Sang Ratu hanya ingin memakan 2 sendok bubur saja, sementara di tempat lain, Raja sudah bekerja kembali walau kondisi tubuhnya juga tidak dikatakan baik, karena Raja menyembunyikan rasa sakitnya dan menyimpan perasaan sakit itu sendiri, Kasimnya yang tidak tahan melihat keadaan Rajanya hanya bisa menghela nafas, namun dia mendapat panggilan dari Dayang utama Istana yang mengatakan jika Ratu tidak mau mengkonsumsi obat dan memakan semua yang disajikan para Dayang, kemudian keadaan Ratu juga tidak baik, bahkan Sangat buruk, munculah pikiran Kasim Raja untuk membuat Rajanya menemui Sang Ratu.

“Yang Mulia Raja..”

“Hmm? Ada apa?”

“Apakah anda tidak bosan disini? Biasanya anda akan menyamar menjadi rakyat biasa?” Sang Raja terdiam dan berhenti membaca kertas-kertas di hadapannya.

“Tidak, aku sedang sibuk mengurus kertas ini..”

“Bagaimana jika hari ini kita pergi keluar?? Sebentar saja Yang Mulia?”

“Sebentar? Tidak biasanya..”

“Apa anda tidak bosan?”

“Aku bosan.., baiklah, ayo kita keluar”

Setelah mengganti bajunya menjadi pakaian rakyat biasa, Kasim mengajaknya menuju sebuah tempat, Rumah biasa yang tidak mewah dan anehnya Raja seperti mengenal tempat ini, tempat dimana dia bisa bertemu istrinya dahulu sebelum menikah.

“Untuk apa kita kesini?”

“Ikuti saja saya Yang Mulia, ada hal penting disini..” mau tidak mau Sang Raja mengikuti Kasim masuk kedalam Rumah tersebut, dia melihat seorang wanita dengan Hanbok putihnya, semakin mendekat dan lelaki tersebut semakin yakin jika itu adalah Ratunya. Raja ingin berbalik pergi dari tempat itu dan meninggalkan Ratunya.

“Tunggu..” namun Ratu mencegahnya sebelum dia benar-benar melangkahkan kakinya keluar dari Rumah itu, Ratu melihat punggung lelaki tampan tersebut.

“Jangan pergi..” pintanya lembut dan lemah juga terbatuk.

“Untuk apa aku disini?” tanya Raja.

“Untuk mendengarkan permintaan terakhirku sebelum meninggalkanmu..”

 

DEG!

 

“Apa yang kau katakan?” wanita itu hanya tersenyum dengan paksa, melihat Rajanya mulai membalikkan tubuh untuk melihat kearahnya.

“Maafkan aku..” lirih Sang Ratu.

“Jangan berkata tidak masuk akal dan membuatku marah!” Raja melihat kearah Sang Ratu yang masih duduk di Rumah tersebut, Rumah yang terbuat dari kayu dan memiliki sebuah tempat duduk yang cukup tinggi untuk melihat pemandangan indah pada halaman Rumah tersebut.

“Maafkan aku..” tidak tahan lagi, Sang Ratu mengeluarkan air matanya, kemudian Raja berjalan mendekati Ratu.

“Untuk apa kau meminta maaf? Kau tidak akan pernah pergi kemanapun!”

“Bahkan disaat seperti ini..uhuk!, kau masih membentakku..” dengan sekuat tenaga, Ratu berdiri di hadapan Raja dan meraih pipi Sang Raja, namun yang di dapatkan adalah penolakan dari Sang Raja.

“Apa anda tidak ingin menyapanya terlebih dahulu?” Ratu memegang pelan perutnya, ya, Ratu sedang mengandung.

“Ka..kau?” Raja yang mengerti hanya kaget mendengar apa yang di katakan Sang istri, namun hanya mendapat senyuman dari Ratunya, dan tiba-tiba Sang Ratu memegang kepalanya dan terbatuk dengan nafas tersengal.

“A..apa yang terjadi? Aku harus memanggil Kasimku, Pelayan! Kasim!” teriak Raja panik, namun Sang Ratu hanya menggeleng pelan dan tersenyum.

“A..aku..hanya i..ingin mengatakan kata-kata ini sekali..uhukkk..hhhh…hhh”

Andwae..andwae..,pelayan!” dengan memeluk tubuh Sang Ratu dan merebahkannya pada pelukan Sang Raja, Raja menangis melihat Ratunya yang sakit dihadapannya.

“Saat mengenalmu..uhukkk..aku..hhhh…” Raja menatap mata Ratu yang menatapnya dengan lemah dan penuh keputusasaan.

“A..aku..bahagia..hhhh..hhh, ter…terimakasih…aku..mencintaimu.., ma..maaf membawanya bersamaku..uhuk” dengan batuk dan mengeluarkan darah dari mulutnya, Ratu memejamkan matanya, Raja memegang pelan perut Sang Ratu dan mengelusnya, dia.., dia sudah membuat dosa besar, dia sudah mengabaikan orang yang Sangat dia cintai dan membuat anaknya mati, dia adalah pendosa.

 

ANDWAEEEEE!!!!!”

 

Setelah kepergian Ratu, Joseon tampak semakin dingin dan salju semakin tebal mewarnai, tangisan keras yang terdengar dari seorang pria tampan yaitu Raja mereka sendiri, Raja yang menguasai Joseon, Raja yang menjadi panutan untuk mereka semua, kini menangis tersedu kehilangan dua makhluk hidup sekaligus, memeluk istrinya dengan erat, seolah tidak percaya dengan semua yang terjadi di hadapannya, Raja bahkan tidak mau bergerak sedikitpun dari tempat tersebut.

Menyesal, tentu saja, tidak ada lagi hal lain yang bisa dia sesali karena semua ini adalah perbuatannya, setelah lama dia tidak mau diganggu, akhirnya dengan sekuat tenaga Kasim yang membujuk Sang Raja berhasil untuk membawa Ratu agar bisa di kremasi dan di doakan dengan baik di Kuil Budha, rakyat Joseon menangis kala mendengar berita bahwa Ratu mereka telah meninggal karena sakit keras, untuk mendoakan Ratu mereka, semua warga Joseon menyiapkan lilin dan juga sebuah doa-doa yang akan di terbangkan ke langit yang menandakan duka mendalam untuk mereka.

Lelaki yang masih menjadi orang nomor satu di Joseon tersebut tentu saja menerbangkan lampion berwarna putih bertuliskan aksara Ratu dan nama anak yang masih ada dalam kandungan Sang Ratu, dengan sekuat tenaga dia berhasil menerbangkan lampion itu saat di Kuil. Sedih, merasa sangat menyesal, itu yang di rasakan olehnya.

“di kehidupan selanjutnya.., izinkan aku membayar semuanya.., aku ingin menjadi suami dan memiliki anak bersamamu lagi..” lirihnya sembari melihat lampion yang semakin menjauh dari kuil.

Setelah kepergian Ratu dan anaknya, tentu saja Raja belum bisa melupakan segala kesalahan yang telah diperbuat olehnya, dan belum lama Ratu pergi, sudah ada calon-calon yang menggantikan Ratunya tersebut menjadi pasangannya, namun Ratu meninggalkan sebuah surat, surat yang di tinggalkan sebelum meninggal dan telah diberikan melalui Dayang utama Istana.

 

Untuk Raja..

Aku..aku minta maaf karena telah membuat hatimu sakit..

Hari itu, hari dimana aku menunggumu..adalah karena aku ingin mengatakan jika aku sedang mengandung anak kita.., penerus kerajaan..

Namun, sepertinya Yang Mulia marah..dan membuatku tidak bisa mengatakannya..

Aku..Sangat mencintaimu Yang Mulia..

Dan surat ini menjadi surat wasiatku..

Menikahlah dengan adikku..

Dia adalah adik yang pernah tinggal di daratan tiongkok dan kini tinggal diRumahku..

Tolong jaga dia..

Dia sudah kuanggap adik kandungku sendiri..

Aku mencintaimu..

Dari Ratumu..

 

Menikah dengan adiknya, benar, dia menikah dengan adik dari mendiang Ratu, namun, tampaknya Raja tidak bahagia sama sekali, dan penyakit Raja semakin hari semakin memburuk, dan tidak lama setelah pernikahannya dengan adik dari Ratu, Raja menyusul dengan penyakit yang di milikki olehnya, di tambah serangan nuklir yang di lakukan oleh Negara matahari yang akhirnya mengakhiri Era Joseon dan ternyata dia adalah Raja terakhir meninggalkan dunia.

End Flashback Joseon Era

Seakan waktu berhenti, semua kilasan, semua gambaran ingatan masa lalu Junmyeon di kehidupan itu muncul dan tubuh Junmyeon semakin lemas. Dia menangis namun tidak bisa berteriak, tangisan tanpa suara yang memilukan, dia mengingat segalanya, segala perbuatan yang menghasilkan karma buruk untuknya.

“Aku.., sangat..jahat..” terus menerus dia menggumamkan kata-kata itu.

Melihat kearah pintu ruang observasi, dengan segenap tenaganya, Junmyeon bangun dan duduk di Kursi tunggu luar ruangan tersebut, dia hanya diam, kaget, tentu saja, dia tidak mengira jika dia yang membuat nyawa kekasihnya hilang adalah dirinya sendiri.

“Apa yang harus aku lakukan?” Junmyeon menatap kosong lantai dan mencoba mencari jalan keluar, dan dia mengingat perkataan Yesung, jika ada apa-apa Junmyeon harus menghubungi hyungnya yang satu itu.

Hyung bisakah kau keRumah sakit? Aku membutuhkanmu hyung..” tanpa berpikir, Junmyeon langsung menghubungi Yesung dan meminta Yesung untuk datang keRumah sakit jika jadwalnya sudah selesai, maklum, Yesung juga sibuk melakukan rekaman untuk albumnya.

“Baiklah Junmyeon, aku kesana, tunggu aku, aku baru selesai..”

Memejamkan matanya dengan erat, gelisah, dia takut terjadi sesuatu lagi pada Rahee, dia sudah susah-susah datang ke dunia ini dan lahir kembali, kalau dia gagal untuk membahagiakan wanita yang saat ini belum di ketahui keadaannya, dia akan memilih mati saat itu juga. Memegang rambutnya kesal dan meremasnya, sudah setengah jam dan Dokter belum juga keluar. Menghela nafas berat, pada akhirnya keluar juga satu Dokter yang berbeda dari sebelumnya.

“Apa anda keluarga Nona Kim Rahee?”

“Ya, saya keluarganya Dokter, apa yang terjadi padanya?”

“Anda siapanya?”

“Saya, suaminya, bagaimana keadaannya?”

“Dia mengalami shock parah dan ternyata Nona Rahee memiliki penyakit jantung, dan hasilnya baru tadi keluar saat Nona Rahee memanggil kami keruangannya dan kesakitan..”

“A..apa? kesakitan?”

“Ya, Nona Rahee memencet tombol merah pada kamarnya dan kesakitan.., jadi kami segera kesana, ah., karena anda suaminya.., saya akan mengatakan, setelah 1 jam observasi kami akan mengabarkan lagi, apakah istri anda akan di operasi atau tidak, kami khawatir ada syaraf yang terganggu dan butuh operasi, lalu istri anda akan kami tempatkan di ICU..”

“B..baik, saya mengerti.., tolong istri saya.., saya mohon..”

“Kami akan melakukan yang terbaik untuknya.., saya permisi..”

Tidak lama setelah Dokter kembali masuk ke ruangan tersebut, Yesung telah datang menemui Junmyeon, dan melihat keadaan Junmyeon yang tidak seperti biasa.

“Kenapa kau tidak melepas maskermu?”

Hyung? Kau datang? Ah , maaf aku tidak ingin ada yang mengenaliku hyung..” setelah melepas maskernya, Yesung yang duduk disampingnya menanyakan keadaan yang terjadi.

“Ada apa? Kenapa kau menemuiku disini? Siapa yang sakit?”

“Rahee..”

“Apa? Kenapa bisa?!”

“Aku juga tidak tau hyung, Dokter bilang Rahee kaget dan sebelum bertemu denganku dia banyak meminum obat tidur..” wajah Junmyeon lesu.

“Kau harus melakukan sesuatu Junmyeon..” Yesung menatap Junmyeon serius.

“Karena itu aku memanggilmu hyung, apa yang harus aku lakukan untuk Rahee?”

“Kita harus melakukan Ritual Junmyeon-ah..”

“Ritual apa hyung?”

“Ritual untuk menanyakan, apa yang leluhur dan Dewa inginkan untukmu dan Rahee.., ah kau mengenal seorang Biksu? Kita harus meminjam suatu Kuil.., aku tidak punya tempat Ritualku sendiri..”

“Aku tau suatu Kuil yang dekat dari Seoul hyung, daerah Gwangjingu dekat dorm..”

“Tapi aku harus melihat secara langsung Rahee dan juga untuk mengambil sesuatu..”

“Mengambil apa hyung?”

“Rambut Rahee, untuk Ritual Junmyeon-ah, dan kau, apa kau punya barang peninggalan milik leluhurmu?”

“Seingatku.., ada hyung, sebuah cincin..”

“Baiklah, kau juga harus mengambil cincin itu Junmyeon, Ritual akan besok aku lakukan, syukurlah besok jadwalku kosong.., dan setelah kita melihat keadaan Rahee, baru kau bisa pergi mengambilnya..”

“Lalu yang menjaga Rahee disini siapa?”

“Apa Rahee tidak mengenal seseorang di Seoul? Atau tidak ada keluarga disini?”

“Sepertinya ada, ada Minrin noona, aku akan mencoba memintanya kesini untuk menjaga Rahee besok, dan hari ini aku akan memanggil Sehun untuk menjaga Rahee, hanya dia yang bisa..”

“Berapa lama lagi Dokter akan mengabari..?”

“Ini sudah hampir setengah jam setelah mereka pergi untuk mengabariku lagi, dan masih tersisa 30 menit untuk menunggu hyung..”

“Baiklah, sembari menunggu, aku akan menyiapkan semuanya dan pergi ke Kuil sekarang, kau kabari aku jika sudah ada kabar darinya, mengerti?”

“Aku mengerti hyung.., terimakasih..hyung” Junmyeon tersenyum walau terlihat memaksakan namun dia tersenyum.

“Tidak apa, kita harus saling membantu bukan? Lagi pula itu pekerjaanku..”

“Ah.., aku akan membayar kinerjamu hyung, sebagai Cenayang Professional”

Heol, Cenayang Professional, hahaha ada-ada saja kau.., aku pergi dulu tidak ada waktu santai” setelah menepuk pundak Junmyeon, Yesung bergegas keluar dari Rumah sakit.

Dokter keluar dari ruangan tersebut, dan sedikit kaget melihat Junmyeon.

“Ada apa dok? Bagaimana keadaan istri saya?”

“B..bukankah kau EXO?”

“Ah.., EXO? Mungkin anda salah lihat, saya bukan member EXO, bagaimana keadaan istri saya?” walaupun Dokter itu terlihat tidak yakin, namun pada akhirnya Dokter itu mengatakan kondisi Rahee pada Junmyeon.

“Dia harus melakukan operasi, besok kami akan melakukan operasinya, sekitar pagi hari, karena syaraf otot jantungnya perlu untuk dibuka agar akses darah yang masuk bisa lancar, surat-surat sudah disiapkan, anda perlu menandatanganinya nanti pada Administrasi..”

“Apa harus dilakukan operasi?”

“Harus, jika tidak nyawa pasien bisa dalam bahaya.., karena jantungnya sudah sangat lemah, menurut hasil CT-SCAN dia sudah cukup lama mengalami sakit ini, hanya saja dia tidak tau tampaknya dan hanya mendiamkannya”

“Hhh, baiklah saya mengerti Dokter.., saya boleh melihat keadaannya?”

“Bisa, setelah kami memindahkannya ke ruang ICU

“Ya saya mengerti, terimakasih Dokter..” setelah Junmyeon membungkukan tubuhnya sedikit, Dokterpun pergi meninggalkan Junmyeon yang masih kaget mendengar Rahee yang harus di operasi.

***

Setelah mendapat kabar dari Dokter dan melakukan sebuah prosedur, yang sebenarnya Junmyeon mau tidak mau melakukannya, bersyukur dia membawa Rahee ke Rumah sakit yang di milikki oleh keluarganya, dan dia bisa menyembunyikan identitasnya untuk Rahee.

Kemudian Junmyeon menghubungi Yesung yang mengatakan bahwa dia sedang menyiapkan barang untuk Ritual di Kuil tempatnya berdoa, tentu saja, Biksu Yoo sudah di hubungi sehingga Yesung bisa meminjam tempat bahkan mengerjakan Ritual bersama Biksu Yoo.

“Cincin eomma, aku harus mengambilnya, tapi Yesung hyung bilang dia butuh rambut Rahee..” setelah setengah jam, Junmyeon di kabarkan jika Rahee sudah pindah ke ICU dan dia bisa menemui kekasihnya itu.

Perlahan dia memasuki ruangan steril tersebut, memakai pelindung baju juga untuk masuk kedalam kamar tersebut, sesak, Junmyeon sangat sesak melihat keadaan Rahee, mengapa harus sekarang, dan mengapa hal ini harus terjadi pada kekasihnya yang bahkan belum merasa bahagia karenanya.

Melihat wajah Rahee, Junmyeon sangat sedih melihat tubuh itu harus di berikan masker oksigen, bahkan alat-alat yang dia tidak mengerti fungsinya apa sebagai seorang awam. Aroma obat sangat kental di ruangan tersebut. Air mata turun begitu saja pada kedua bola mata indah milik Junmyeon, mencoba untuk kuat dan bernafas di hadapan Rahee, namun dia malah semakin lemah dan tidak dapat menahannya lagi, dia menangis lalu memegang tangan dingin Rahee yang sedang tidak sadarkan diri.

“Maafkan aku..”

Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir Junmyeon, kilasan gambaran ketika dia baru mengenal Rahee, berbagi rasa sedih dengan Rahee dan hari dimana dia berkencan pertama kalinya, bahkan ingatan pada kehidupannya dahulu muncul, kenangan bahagia, sedih dan menyakitkan. Terkesiap, dia mengingat perkataan Yesung untuk mengambil rambut Rahee dan dengan pelan Junmyeon mengambil rambut panjang Rahee, dengan tangan, tentu saja pergerakkan yang lembut agar Rahee tidak merasa sakit.

Junmyeon ingin sekali terus berada disana menemani Rahee, namun dia harus bergegas mengambil cincin leluhur milik keluarganya untuk Ritual. Lalu dengan berat hati dia mencium kening Rahee, lalu melepas semua baju steril kemudian keluar dari ruangan tersebut, dan munculah Sehun yang diminta untuk menjaga Rahee.

“Sehun-ah.., kau sudah datang? terimakasih mau datang lalu menjaga Rahee..”

Gwenchana hyung.., kau sudah makan kan hyung?”

“Ah..belum..”

“Aku membawa roti isi dari tempat favorite kita hyung.., tidak berlemak, jadi kau bisa memakannya..”

“Sehun-ah…” Junmyeon sangat merasa terharu dengan Sehun.

“Bukan saatnya terharu hyung, bukankah kau ada urusan? Aku sudah disini, jadi hyung harus mengurus hal tersebut bukan?”

“B..benar, terimakasih Sehun-ah, hyung harus pergi.., gomawo

Tanpa ragu Junmyeon bergegas pergi menuju lorong untuk keluar dari Rumah sakit, tidak lupa dia mengenakkan kembali maskernya agar tidak di kenali oleh orang-orang, dan Junmyeon memasuki halaman parkir dan menemukan mobilnya, bersyukur walau dia terburu-buru tetapi dia bisa memarkirkan dengan benar mobilnya saat mengantar Rahee yang kesakitan.

Dengan kecepatan penuh, Junmyeon menuju Apartement miliknya, atau bisa dibilang Rumah orangtuanya. Setelah dia memarkirkan mobilnya, dia memasuki Apartement mewah itu, Junmyeon selalu membawa card untuk memasuki Rumahnya. Rumah Junmyeon sangat mewah, Rumah tersebut dalam daerah Gangnam, tempat bernaungnya para Chaebol(orang kaya). Setelah berlari, Junmyeon sampai di Rumahnya dan membuka Rumah tersebut, untung saja password tempat tinggalnya masih sama.

Tampaknya tidak ada satu orangpun di Rumah, itu semakin baik. Dia bisa masuk kamar orangtuanya dan mengambil cincin tersebut. Junmyeon memasuki kamar orangtuanya, dan mencari sesuatu dilemari, itu barang berharga turun temurun, tidak mungkin eommanya menyimpan sembarangan, pasti ada di Brangkas.

“Aku tau.., pasti ada disana..”

Junmyeon kemudian memencet sebuah tombol di dekat lemari dan terbukalah sebuah ruangan, ruangan yang berisikan baju, tas, dan benda berharga lainnya yang sangat mahal, tau darimana jika itu mahal? Tentu saja, karena tidak satupun barang tersebut tidak memiliki merk.

Memasuki ruangan tersebut, melihat pada tempat perhiasan, dan akhirnya dia menemukannya, cincin tua yang sangat berharga untuk keluarganya. Cincin itu berwarna putih dan bercampur perak, orang menyebutnya emas putih, memiliki beberapa berlian di sekeliling cincin tersebut. Lelaki itu bergegas menutup ruangan dan pergi dari Rumah mewah miliknya, tidak lupa mengunci pintu kamar juga Rumahnya kembali.

“Untuk apa hyung membutuhkan benda ini?” gumam Junmyeon saat mengemudikan mobilnya menuju Kuil, entah perasaannya atau tidak, tetapi tampak ada yang mengikutinya sejak kemarin, hhh, dia sangat lelah, tampak sangat lelah, dan mau tidak mau dia membanting stir untuk mengambil jalan yang rumit agar menghindar dari orang tersebut, berhasil, dia berhasil melakukannya. Memencet sebuah nomor.

Hyung, aku butuh bantuanmu.., tolong ikuti aku dan selidiki semua sasaeng ku, aku akan menutut mereka semua dengan buktimu.., mulai hari ini hyung..”

“Baiklah, seperti biasa bukan? Ah iya, aku sudah dapat sesuatu.., apa tidak sebaiknya bertemu?”

“Nanti aku akan menulis e-mail, aku sedang di jalan, gomawo hyung..”

Kembali Junmyeon berkonsentrasi menyetir dan menuju Kuil, tidak lama dia telah sampai disana dan tentu keluar dengan masker dan baju yang berbeda, jangan tanya dia berganti baju dimana. Langkah kaki pria tampan itu cepat karena dia harus bergegas menuju kedalam tempat para dewa.

Hyung? Aku membawa cincin dan rambut dari Rahee, mau di apakan?”

“Perasaanku tidak enak pada kekasihmu.., aku sudah memakai baju Ritual dan kau gantilah bajumu dengan baju Hanbok yang aku siapkan, Biksu Yoo menunggumu di kamarnya, ada yang akan dia jelaskan, aku harus menyiapkan semuanya..”

“Baik hyung, aku kesana..” Junmyeon memasuki kamar Biksu Yoo, lalu melihat Biksu Yoo juga sudah rapih dengan baju Ritualnya.

“Junmyeon-ah..ganti bajumu dan duduklah” Biksu Yoo meletakkan bantal duduk untuknya dan Junmyeon, kemudian mereka duduk setelah Junmyeon mengganti bajunya menjadi sebuah Hanbok hitam khas Ritual.

“Apa yang terjadi Biksu?”

“Yesung melihat kalau malam ini Rahee akan dalam bahaya, tubuhnya akan memburuk jika kita tidak langsung mengadakan Ritual itu.., Yesung bilang jika dewa mengizinkan..”

“Biksu..”

“Ada apa Junmyeon-ah?”

“Saat tadi di Rumah sakit.., aku mengingat semua..”

“Maksudmu?”

“Aku mengingat diriku saat kehidupan dahulu Biksu.., dan aku sudah melakukan dosa besar”

“Dosa besar macam apa Junmyeon? Apa karena ini para leluhur Rahee murka padamu?”

“Aku sudah membunuh mereka..”

“Mereka? Siapa?”

“Rahee di kehidupan dahulu memiliki bayi dalam rahimnya, tetapi karena aku murka padanya, aku mengabaikannya sampai dia mati kedinginan dan sakit keras lalu meninggal dalam pelukanku..”

“Itu dosa besar Junmyeon-ah!”

“Aku tau..”

“Hhh, tidak ada waktu lagi, kita harus melakukan Ritual..” tiba-tiba saja ponsel Junmyeon berbunyi.

“Sebentar Biksu..aku harus mengangkat telfon ini..”

“Haishhh tidak ada waktu Junmyeon-ah!”

Yeoboseyo sehun-ah? Ada apa?” wajah Junmyeon berubah pucat, “MWO! T..tolong kabari aku lagi nanti sehun-ah, aku harus melakukan sesuatu”

“Apa yang terjadi?”

“Rahee kritis!”

Palli ! Kita harus keruang Ritual sekarang!” Junmyeon dan Biksu Yoo pergi keruang Ritual dimana Yesung bahkan sudah dalam posisi berdoa dan menyebutkan mantra-mantra yang tidak terdengar.

Saat itu Junmyeon bingung, dia sangat bingung, namun pada akhirnya dia duduk dalam posisi bersila dan melihat Yesung juga Biksu Yoo yang bahkan sudah memulai Ritual, Junmyeon hanya berdoa dalam hatinya jika dia akan bisa melakukannya memerhatikan Yesung. Tempat tersebut bahkan terasa sangat mistis, karena semakin lama terasa dingin, tetapi dinginnya terasa berbeda dengan aura yang cukup kelam.

Suara lonceng yang di gerakkan oleh Biksu Yoo semakin nyaring dan Yesung tiba-tiba membuka kedua matanya, dan loncengpun berhenti, Biksu Yoo melihat kearah Yesung. Tempat tersebut di penuhi patung Budha, lilin dan juga makanan yang biasa disajikan untuk sembahyang dan Ritual.

“Kim Junmyeon..” Yesung menatap kearah Junmyeon yang berada tepat duduk dihadapannya, suara Yesung terdengar berbeda.

“Y..ye?” dan Junmyeon menjawab dengan gugup, lalu melihat kearah Yesung.

“Kau.., dosamu sangat besar dikehidupan dahulu!” teriak Yesung dengan suara berbeda.

“A..apa yang harus saya lakukan untuk menebus karma saya pada kehidupan dahulu leluhur?” Junmyeon menatap sendu pada Yesung yang tampak sekali telah dirasuki oleh Roh leluhur darinya.

“Kau harus memberikan jiwamu.., jiwa yang ada dalam tubuhmu.., seperti jantung yang berdetak, walau hanya ada satu jantung dalam sebuah tubuh, akan berlainan jika satu jantung itu bisa menopang satu kehidupan lagi dengan membuatnya terbelah menjadi dua..”

“Jantung?” reflek Junmyeon memegang dada sebelah kirinya dengan tangan kanan.

“Benar..” tubuh Yesung mendekat pada Junmyeon, dan duduk tepat didepan Junmyeon, wajah Junmyeon pasi dan tampak sekali jika dia menahan rasa takutnya.

“A..apa yang akan saya lakukan untuk memberi jantung saya pada Rahee? Bagaimana cara saya melakukannya?” Yesung tersenyum kecil.

“Aku akan membantumu..” Yesung kemudian memegang dada kiri Junmyeon dan mengucapkan mantra sembari memejamkan matanya.

Deg..

Deg..

“ARGGGGHHHHHHH!!!” Junmyeon berteriak kesakitan, tubuhnya terasa panas, bahkan rasanya jantungnya seperti terkoyak, cahaya biru muncul dari dada kiri Junmyeon dan berada tepat pada genggaman Yesung.

“Aku akan membawanya..” setelah Yesung bergumam, Yesung yang kerasukan leluhurpun jatuh tidak sadarkan diri, begitupula dengan Junmyeon, dan sebuah Roh yang terlihat memakai baju sebuah kerajaan pergi membawa cahaya biru yang keluar dari dada kiri Junmyeon, yang tidak lain adalah setengah jiwa dari Junmyeon sendiri untuk seseorang yang sedang sekarat di Rumah sakit.

***

Sehun Pov

Junmyeon hyung memintaku untuk ke Rumah sakit, katanya Rahee sakit parah dan dia sedang ada urusan yang belum bisa dikatakan olehnya padaku. Baiklah, karena aku adalah adik yang baik, tentu saja aku akan membantunya, dan saat ini aku ada di Rumah sakit, hyung bilang dia sedang berada diruang ICU berarti aku harus menuju ruang ICU. Saat sampai aku melihat hyung keluar dari ruangan tersebut.

“Sehun-ah.., kau sudah datang? terimakasih mau datang lalu menjaga Rahee..”

Gwenchana hyung.., kau sudah makan kan hyung?”

“Ah..belum..”

“Aku membawa roti isi dari tempat favorite kita hyung.., tidak berlemak, jadi kau bisa memakannya..”

“Sehun-ah.”.

“Bukan saatnya terharu hyung, bukankah kau ada urusan? Aku sudah disini, jadi hyung harus mengurus hal tersebut bukan?”

“B..benar, terimakasih Sehun-ah, hyung harus pergi.., gomawo

Setelah dia pergi, aku masuk kedalam ruangan Rahee dan melihat keadaan Rahee, kenapa dia bisa begini, apa yang dia lakukan sehingga bisa sakit keras begini.

“Rahee-ah, cepatlah sembuh! Aku rindu ngobrol dan konsultasi denganmu..”

Tidak banyak aku bicara, karena memang waktu berkunjung di batasi, terlebih ini adalah ruang ICU. Aku keluar dari kamar dan menunggu diruang tunggu sampai aku ketiduran, ah, aku cukup lelah, karena baru saja selesai syuting. Sayup aku mendengar suara orang yang ribut dan reflek aku terbangun dari tidurku.

“Ada apa ini? Kenapa dengan Rahee?” aku menunggu sebentar, tidak lama ada seorang Dokter keluar.

“Dimana keluarga Nona Rahee?”

“Saya.., saya kakaknya, apa yang terjadi padanya?”

“Nona Rahee dalam kondisi kritis dan kami tidak mengira kondisi ini akan terjadi dan operasi harus segera dilakukan, kami butuh persetujuan..”

“Saya kakaknya, tapi saya harus menelfon seseorang..”

“Tidak! Tidak bisa menunggu lagi, anda harus mengambil keputusan sekarang!”

“Apa! Kenapa begitu!”

“Karena ini sangat darurat!”

“Baiklah! Baiklah.., lakukan, lakukan yang terbaik untuknya!” setelah aku mengatakan hal tersebut, Dokter langsung masuk dan membawa Rahee menuju ruang operasi, ya Tuhan!!, apa yang sudah aku lakukan!, aku harus menelfon hyung.

Hyung, Rahee, Rahee kritis!”

“Yeoboseyo sehun-ah? Ada apa?. MWO! T..tolong kabari aku lagi nanti sehun-ah, aku harus melakukan sesuatu” setelah itu Junmyeon hyung menutupnya sepihak, heol! Pacarnya begini dan dia memintaku menjaga, tapi malah diperlakukan begini! Mau dia apa sih.

Sehun Pov End

***

Gadis cantik tersebut berjuang dalam ruang operasi, hidup atau mati bahkan dia tidak tau. Baru kemarin Rahee bertemu Junmyeon, baru kemarin dia bahkan tersenyum didepan idola terkenal di Korea itu, namun kini, pahitnya dia harus merasakan pisau bedah dan jarum suntik untuk kelangsungan hidupnya.

“Bagaimana keadaan fital?”

“Terus menerus menurun” jawab seorang Dokter yang memeriksa tekanan darah.

“Berikan transfusi lagi.., aku hampir mencapai syarafnya”

“Baik..” darah terus menerus keluar dan Dokter memberikan transfusi pada Rahee.

“Pendarahan terus terjadi..”

“Tenanglah! Aku sedang berusaha!” Dokter berusaha untuk terus melakukan upaya dan keadaan Rahee terus menerus menurun.

Seseorang yang tampaknya berada di sebuah kuil sebelumnya, masuk kedalam ruang operasi dimana wanita itu berada, tidak ada satupun manusia yang ada dalam ruang itu melihatnya, pria dengan baju kerajaan, memegang sebuah cahaya biru yang berasal dari dada kiri Kim Junmyeon, dengan sebuah senyuman.

Lelaki itu mendekat pada tubuh Rahee yang sedang di operasi oleh para Dokter dan mendekatkan cahaya biru itu kedalam tubuh Rahee, cahaya itu masuk dengan perlahan kedalam tubuh Rahee dan Rahee yang mengalami banyak pendarahan mengalami tekanan darah stabil, mereka berhasil menyelamatkannya, mereka bukan hanya Dokter tetapi sang kekasih yang berada ditempat lain bersama Biksu dan seorang cenayang.

“Ini baru awal.., kau akan mendapatkan semuanya Kim Rahee..” gumam Roh tersebut dan menghilang bagaikan angin yang berhembus.

Dokter keluar dan mengabarkan pada sehun bahwa operasi berjalan lancar dan Rahee akan segera di pindahkan ke ruang rawat biasa jika keadaannya semakin membaik, tentu saja sehun bahagia mendengarnya, tidak lupa setelah Dokter pergi dia langsung menghubungi Junmyeon, namun tidak diangkat oleh Junmyeon, akhirnya sehun menyerah dan dia melanjutkan chatnya bersama seseorang.

***

Didalam kuil, Biksu Yoo memindahkan Junmyeon dan Yesung dikamarnya, namun sebelumnya menutup Ritual dengan doa dan membaringkan mereka pada sebuah kasur lipat. Biksu Yoo melihat keadaan Yesung yang tampak lebih baik dari Junmyeon yang sangat pucat, bibir Junmyeon sedikit putih, keringat muncul dalam kening Junmyeon, dan ketika Biksu Yoo memberi Junmyeon kompres yang terdapat es di dalamnya, saat itu Yesung juga Junmyeon belum sadar dan Biksu Yoo melihat Roh leluhur yang datang pada mereka tadi.

“Aku sudah melakukan tugasku sebagai leluhur Junmyeon untuk menolongnya.., kau seorang Biksu, kau tau jika karma tidak hanya dalam masa lampau, bimbinglah dia.., kau tau apa yang harus kau nergya padanya, aku harus pergi..” Roh itu hilang kembali dan Biksu Yoo berdoa dan menganggukan kepalanya mengerti dan berharap leluhur Junmyeon tenang setelah ini.

“Yesung-ssi? Kau sudah bangun?”

“B..Biksu Yoo..” Yesung duduk saat telah sadar.

“Kita sudah melakukan Ritual dan..”

“Aku tau, aku melihat semuanya walau leluhur Junmyeon masuk dalam tubuhku ini tadi..”

“Apa kita harus mengatakan konsekuensi yang terjadi?”

“Tentu saja Biksu, kita harus melakukannya..”

“Aku kasihan padanya..” Biksu Yoo memandang Junmyeon yang tampak gelisah dalam ketidak sadarannya.

“Ini adalah takdirnya.., dia harus melakukan semua ini..”

“Junmyeon memberikan kehidupan pada Rahee dengan jiwanya, tubuh Junmyeon akan lemah, namun Rahee tubuhnya melakukan penyembuhan, Junmyeon juga dapat merasakan apapun yang di rasakan Kim Rahee kekasihnya..”

“Kita harus terus membantunya Biksu.., dia tidak bisa bertahan hanya dengan nergy dalam tubuhnya sendiri, aku juga sudah menaruh nergy pada cincin leluhur Junmyeon..” Yesung memakaikan cincin emas perak dengan mata berlian disekelilingnya tersebut di jari Junmyeon.

“Junmyeon-ah.., kau pasti bisa melewati semua penebusan dosa ini..” Biksu Yoo mengganti handuk dingin tersebut dan membuka tali atasan Hanbok Junmyeon, terdengar gumaman igauan dari lelaki yang masih belum sadarkan diri tersebut.

“Rahee-ah..hhh…Rahee-ah..” Yesung dan Biksu Yoo hanya bisa menatap kasihan pada Junmyeon, entah apa yang akan terjadi, atau apa yang akan menjadi takdir Junmyeon, mereka akan terus berada disamping Junmyeon.

“Kuatlah Junmyeon-ah..” gumam Yesung sembari menatap junmyeon yang masih pingsan.

 

-KKEUT-

 

END atau Lanjut??

Just comment bellow

Komentar aja dibawah kkk~

Maaf ceritanya makin tidak dimengerti

Tapi ini genrenya emang supranatural hahaha

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s