[VIGNETTE] OBSESSIVE BYUN — IRISH’s Tale

irish-obsessive-byun

|   Obsessive Byun   |

|   EXO`s Baekhyun  x  Red Velvet`s Yeri   |

|  mentioned NCT`s Mark x SM Rookies`s Yiyang  |

|  Age Manipulation  Romance  x  Slice of Life  |   Vignette   |   PG-17   |

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2017 © Little Tale and Art Created by IRISH

apa salah jika Baekhyun mencintai gadis yang masih belia?

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Yeri’s Eyes…

Katanya, masa sekolah itu adalah masa paling menyenangkan. Tapi mengapa aku justru merasa takut? Kenapa? Tentu saja karena masa sekolah yang seharusnya dinikmati remaja berusia tujuh belas tahun sepertiku dengan kisah cinta monyet yang begitu menyenangkan—berubah menjadi mimpi buruk karena satu orang: Byun Baekhyun.

“Halo, sayang.” ugh, dia sekarang menyapaku, menatap dengan pandang menggoda dari balik setir bundar mobil gelap miliknya yang kuyakini berharga mahal—aku tidak ingin menduga-duga harganya karena kupikir harga diriku akan terluka jika aku tahu harganya.

Siapa yang menduga kalau pria seperti itu akan berstatus sebagai kekasihku? Atau haruskah dia kupanggil ‘ahjussi’ saja? Usianya akan menginjak tiga puluh empat tahun ini, tapi dua hari lalu dia melamarku.

Tolong, siapapun, tampar saja wajah pria seksi itu karena lamarannya yang begitu ingin kusetujui kalau saja aku tidak ingat tentang titik normal yang seharusnya aku jaga.

“Masuklah, aku sudah menunggumu sedari tadi.” dia tersenyum sembari mengedipkan sebelah mata ke arahku.

Ugh. Baiklah, Baekhyun memang seksi—terutama jika dia sudah melempar senyum khas miliknya yang kadang dipadukannya dengan husky menggoda itu. Tapi sekali lagi, usianya dua kali lipat usiaku!

“Kau tidak perlu menjemputku segala.” aku berkomentar, sementara kudapati diriku masuk ke dalam mobilnya—mengabaikan semua caci-maki yang mungkin akan kudapatkan karena seisi sekolah mengatakan bahwa aku adalah murid sekolah gampangan yang menjajakan tubuh pada pria tua.

Tapi, hey! Lihat siapa yang mereka sebut sebagai pria tua? Baekhyun? Haha. Ingin kutertawakan saja opini mereka. Baekhyun itu sangat tampan, tahu—oops, bukankah aku tidak seharusnya menyebut dia seperti itu sekarang?

Oke, dia memang tampan—sangat tampan—dan juga seksi. Tapi selain dua hal itu, dia juga punya masa depan yang menjanjikan. Diusianya yang masih muda—masih muda kepalamu, Yeri!—dia sudah mengembangkan dua buah perusahaan software terkemuka di Korea. Bahkan, kudengar dia punya sebuah hotel di Bangkok.

Bayangkan berapa banyak uang yang tiap menit mengalir ke dalam rekeningnya. Sudah bisa kupastikan kalau kekayaan Baekhyun tidak akan habis sampai tujuh turunan.

“Kenapa? Kau takut mereka meledekmu esok hari?” pertanyaan Baekhyun terdengar, senyum manisnya sudah dia simpan di balik topeng dingin yang seringkali mendominasi.

Heran sekali, apa dia punya kepribadian ganda atau semacamnya sampai bisa memamerkan senyum manis dan ekspresi dingin sekaligus? Atau dia memang seperti itu?

“Tidak. Mereka pikir aku wanita gampangan yang menjual tubuh ke pria tua.” aku berucap, untuk apa menutupi masalah yang ada? Toh, entah bagaimana caranya, Baekhyun pasti tahu.

Dan dia akan marah-marah padaku tanpa alasan jelas jika aku menyembunyikan masalah darinya. Bukan, dia bukannya marah tanpa alasan yang jelas, tapi aku yang terlampau menutup diri darinya.

Bagaimana tidak, dua pekan lalu aku sama sekali tidak mengenal Baekhyun.

Pertemuan kami secara tidak sengaja terjadi saat Baekhyun dan beberapa orang dari kantornya datang untuk menjalin komunikasi dengan pihak sekolah. Lalu hari berikutnya tiba-tiba saja Baekhyun mengajakku berkencan.

Tidakkah hubungan kami sekarang terlihat konyol?

“Mereka akan terbiasa. Semua anak-anak punya pikiran untuk meledek kawannya, bukankah begitu?” Baekhyun berkomentar, berkebalikan dengan diriku yang selalu meledak-ledakkan amarah, Baekhyun cenderung lebih tenang.

Apa karena dia memang jauh lebih dewasa daripada aku? Tapi yang dikatakannya juga tidak salah. Aku saja yang menganggap semuanya sebagai hal yang asing.

“Kenapa kau menyukaiku, Baekhyun? Aku tidak cantik, aku juga masih kecil, masa depanku tidak jelas, dan aku tidak punya kekayaan sebanyak dirimu. Ada banyak wanita di luar sana yang pasti rela mengantri demi menjadi kekasihmu. Tapi mengapa aku?”

Akhirnya aku sampai pada pertanyaan penting yang selama beberapa hari ini mengusik. Baekhyun sudah membuat kehidupanku kacau—secara mental. Karena dia membuatku tidak bisa tidur setiap malam—bukan karena dia mengganggu atau semacamnya, tapi karena aku selalu memikirkannya—dan kupikir, hubungan tidak jelas kami haruslah beralasan.

“Kau cantik, Yeri. Diusiamu saat ini saja kau sudah begitu cantik, bagaimana dengan beberapa tahun yang akan datang? Kuyakini kau akan bertambah cantik.” Baekhyun berkata setelah ia terdiam beberapa saat.

Aku terdiam mendengar ucapannya, tidak kudengar kebohongan terselip dalam tiap kalimat yang ia ucapkan. Tapi kudengar ketulusan. Bahwa dia tidak mengatakan hal itu untuk sekedar menyenangkan hatiku.

“Saat ini, kau memang masih muda. Tapi bagaimana dengan empat tahun yang akan datang?”

Empat tahun yang akan datang? Bukankah usia Baekhyun akan jadi dua kali lipatku juga? Lalu apa bedanya? Kami sama-sama menua, dan tidak pantas untuk cinta tidak masuk akal—ah, memangnya kau tahu apa itu cinta, Yeri?

“Selama kau bersama denganku, akan kupastikan kau jadi seorang yang berpendidikan.” Baekhyun mengimbuhkan. Apa dia berencana menggunakan uangnya untuk menyekolahkanku atau semacamnya asal aku tetap bersamanya?

Yang benar saja, mengetahui bagaimana sekarang Baekhyun tahu segalanya tentangku sudah cukup menjadi teror.

“Kekayaan? Aku tidak butuh itu, Yeri. Untuk apa aku menuntut kekayaan darimu jika yang aku butuhkan hanya dirimu saja?” untuk kedua kalinya, kalimat Baekhyun membekukanku.

Apa dia memang punya bakat untuk mengucapkan kalimat-kalimat mematikan seperti ini? Atau ini karena faktor usia?

“Kenapa kau? Pertanyaan apa itu? Apa menurutmu cinta itu bisa memilih?” Baekhyun justru balik bertanya.

“Mengapa kau bertanya padaku saat aku juga tidak tahu apa arti cinta itu sendiri? Aku masih tujuh belas tahun, Baekhyun. Aku bahkan tidak tahu bagaimana harus memanggilmu karena kau hampir seusiaan dengan ibuku. Dua minggu lalu aku masih menjalani kehidupanku dengan normal tapi tiba-tiba saja kau datang dan mengubah semuanya.

“Aku tidak bisa tidur dengan tenang selama beberapa hari, karenamu. Kenapa aku begitu saja menerimamu hari itu? Karena kau tampan? Mungkin, ya. Karena aku tahu kau orang kaya? Karena aku tahu kau lah yang menyukaiku? Ya, itu alasannya.

“Tapi setelah kupikir-pikir lagi, kau sudah membangun benteng di kehidupanku, Baekhyun. Kau membatasi pergerakanku. Mencekikku seolah aku adalah Rapunzel yang harus berdiam di atas menara tanpa boleh mengenal dunia luar. Kau, terlalu obsesif terhadapku, Baekhyun. Dan aku tidak bisa memahaminya.”

Kusadari nafasku terengah-engah saat selesai berucap. Tidak mengerti, mengapa saat kami tengah ada di tengah jalan raya aku justru mengatakan hal-hal konyol tidak masuk akal seperti ini.

Well, bukan sepenuhnya salahku. Aku hanya remaja, ingat? Emosiku masih tidak bisa kukontrol seperti Baekhyun yang sekarang bisa memasang ekspresi tenang meski aku tahu dia marah.

Bagaimana tidak, aku bisa dengan jelas melihat rahangnya terkatup, bahkan buku jarinya—yang menggenggam setir mobil—memucat karena dia menahan diri. Baekhyun marah. Aku tahu itu, tapi aku berpura-pura tidak tahu.

“Mengapa kau terus beralasan kalau ‘kau masih terlalu muda’ untukku?” satu kalimat akhirnya lolos dengan susah payah dari Baekhyun.

Tak ada kekesalan yang ikut terselip dalam kalimatnya, tidak ada juga ekspresi marah yang tadi sempat kulihat. Dia kelewat tenang menghadapi segalanya.

“Bagimu, bercanda dengan Mark Lee mungkin hal yang wajar. Saat kau merangkulnya atau memaksanya untuk menggendongmu di punggung, semua aktifitas itu terlihat wajar. Tapi apa kau tahu kalau aku cemburu?”

“Tidak. Mana bisa aku memahaminya?” aku berucap, lagi-lagi berpura-pura menjadi bodoh dan tidak memahami Baekhyun.

“Lalu bagaimana denganmu saat melihat Yiyang menggandengku dengan tawa ceria? Bukankah kau menangis di toilet seharian karena hal itu?” aku terkejut mendengar ucapan Baekhyun.

Bagaimana dia bisa tahu tentang aku yang menangis hari itu? Saat Yiyang—model cantik di kelas sebelah—menggandeng Baekhyun dengan memamerkan senyum genit yang membuatku yakin saat itu Baekhyun mungkin tergoda karenanya?

Bagaimanapun, Baekhyun adalah seorang pria dewasa. Dan banyak issue tentang Yiyang dan kelakarnya yang sering tidur dengan pria-pria kaya.

“Tidakkah kau penasaran? Apa malam itu aku menghabiskan malam dengan—”

“—Cukup.” aku segera memotong. Kupejamkan mata lantaran tidak tahan membayangkan kemungkinan terburuk apa yang mungkin terjadi antara Baekhyun dan Yiyang malam itu.

“Aku dan Mark tidak pernah berbuat apapun.” aku berusaha membela diri.

Kasusku dan kasusnya jelas berbeda. Mark dan aku adalah teman sejak kecil. Sedangkan Yiyang terkenal sebagai gadis gampangan—julukan yang sekarang mungkin sudah berpindah padaku.

“Apa bedanya? Mark selalu menatapmu seolah ingin memiliki. Apa bedanya sikap diam milik Mark dengan sikapku yang menurutmu obsesif? Apa aku salah jika aku ingin melindungi apa yang menjadi milikku?” lagi-lagi pertanyaan Baekhyun mencecar.

“Tapi bukan begitu caramu untuk melindungiku, Baekhyun.” aku berucap tidak terima.

Dia tidak harus mengerahkan orang-orang bertubuh besar untuk mengancam Mark sampai-sampai si bodoh Lee yang tinggal di rumah sebelah itu enggan bicara denganku. Tidakkah Baekhyun bisa membicarakannya saja?

“Kau sendiri yang bilang, kalau kau masih anak-anak. Dan jika ucapanmu benar, maka tidaklah sulit bagimu untuk jatuh cinta pada siapapun.”

“Aku tidak seperti itu.” bantahku.

“Bukankah semua anak-anak seperti itu?” Baekhyun menyudutkanku dengan perkataannya.

“Baekhyun, cukup!”

“Jangan panggil aku dengan nama, Yeri.”

Aku terdiam mendengar ketegasan dalam suara Baekhyun. Membantahnya hanya akan memancing peperangan tidak masuk akal lain yang mungkin berujung pada tangisanku juga ucapan maaf dari Baekhyun.

Dan aku tidak suka. Aku benci mendapati diriku yang luluh dengan mudahnya saat Baekhyun mengucapkan maaf dan menarikku ke dalam pelukan. Seolah ia benar-benar berhasil memilikiku seutuhnya tanpa ada perlawanan.

Baekhyun dan sikap obsesifnya memang selalu menang.

“Kau bukan anak-anak, Yeri.”

Baekhyun menghentikan mobilnya di tepi jalan. Dipandanginya aku yang masih berdiam sementara dalam benakku ada begitu banyak pertanyaan yang belum terucap pada Baekhyun tentang hubungan kami dan bagaimana kelanjutannya.

Ada kecurigaan yang kuberikan pada Baekhyun tentang kemungkinan bahwa dia mungkin seorang pedofil, atau penderita kelainan psikologis lainnya. Tapi aku ingat kalau Baekhyun pernah bercerita padaku tentang bagaimana dia menjalin kasih dengan beberapa wanita seusiaan dengannya dan selalu berujung pada kegagalan karena material adalah perihal utama yang wanita tersebut incar darinya.

“Seperti kekasihmu yang dulu, aku juga seorang yang memandang materi, Baekhyun. Aku suka padamu karena kau tampan, kau kaya, kau bisa memberiku segalanya yang aku inginkan. Bukankah hubungan kita juga tidak akan berakhir dengan baik?” aku akhirnya berucap.

Baekhyun bergerak melepas seatbelt miliknya, dan menyejajarkan tubuh denganku yang masih tertunduk.

“Tentu saja kau berbeda, Yeri. Kau pikir wanita-wanita itu bisa disamakan denganmu? Lagipula, jika kau memang menginginkan hartaku, mana mungkin kau bisa mengutarakannya dengan lantang seperti ini? Jika memang yang kau inginkan hanya ketampananku, kau juga tidak mungkin mengucapkannya dengan lantang. Bukankah begitu?”

Aku memberanikan diri menatap Baekhyun, menenggelamkan diri ke dalam sepasang manik kelamnya yang entah mengapa kupikir bisa menjadi perlindunganku.

“Seperti aku yang menginginkanmu, kau juga menginginkanku. Bukankah begitu, Yeri?” aku mengalihkan pandang saat mendengar ucapan Baekhyun.

Memang benar, separuh dariku sering kali menjerit karena ingin melihatnya, ingin memikirkannya, ingin mendengar amarahnya, bahkan tubuh ini ingin mendapatkan perlakuan kasarnya saat ia marah dan lantas menarikku di depan umum, mencengkramku dan memamerkan pada semua orang kalau aku adalah miliknya.

“Mereka katakan, kalau sifat obsesifku ini mengerikan. Tapi mengapa kau masih bertahan? Kau memarahiku tiap kali aku melewati batas, Yeri. Kau berani mengutarakan apa yang kaupikirkan sehingga aku bisa berkeinginan untuk berubah. Apa sekarang hubungan kita masih tidak masuk akal untukmu?”

Tidak, bagaimana bisa aku merasa tidak masuk akal pada perasaan yang Baekhyun ungkapkan padaku sementara aku tahu dia bersungguh-sungguh? Aku, mungkin memang merasakan cinta konyol saat ini, saat aku ingin menyukai beberapa orang dan berpindah-pindah hati.

Tapi bagaimana dengan Baekhyun? Dia bukan anak-anak, dan tak mungkin mengutarakan cinta jika dia memang tidak sungguh merasakannya.

“Apa kau masih menunggu jawaban atas lamaranmu?” kutemukan suaraku saat akhirnya aku kembali pada semua noktah masuk akal yang mungkin terjadi di kemudian hari.

“Apa kau berniat menjawabnya?” Baekhyun balik bertanya.

Aku menatap Baekhyun, sejenak, sebelum akhirnya kuputuskan untuk mengangguk. Daripada terus mengeluh tentang apa yang sekarang kuhadapi, bukankah lebih baik menjalaninya dan lihat bagaimana waktu akan berlalu menjawab semua pertanyaan yang ada di dalam benakku?

“Jika aku menjawab tidak, apa kau akan menunggu sampai usiaku dua puluh tahun?”

Seulas senyum Baekhyun tunjukkan di wajahnya.

“Apa itu artinya kau akan bersama denganku sampai kau berkata ‘ya’?”

Akhirnya, aku mengangguk. Lagi-lagi, kubiarkan Baekhyun menang. Dia memang selalu menang, bukan karena usia, kurasa. Tapi karena aku memang sudah menyerahkan diri kepadanya.

Perlahan, kurasakan Baekhyun mengelus pipiku. Lamarannya yang terkesan memaksa sekarang sudah terjawab dengan sebuah penantian dan secercah kepastian yang aku sendiri juga tidak bisa tahu dengan pasti.

“Kalau begitu katakan, selain tampan, kaya, dan seksi, apa lagi yang kau sukai dariku?” Baekhyun akhirnya membuka konversasi lain yang mencairkan situasi kaku yang tadi sempat mendominasi.

“Suaramu.” aku menjawab.

“Lalu? Apa lagi?”

Aku melirik Baekhyun sekilas, sebelum akhirnya memalingkan wajah.

“Bibirmu—” dengan malu-malu aku menjawab, “—Kau seorang pencium yang hebat.” kudengar Baekhyun terkekeh pelan saat mendengar perkataanku.

Lihat? Tawanya saja sekarang berhasil membuat jantungku bekerja dengan tidak normal. Sebenarnya, aku bersikap enggan menerimanya tapi tubuh ini justru bereaksi lain.

“Kalau begitu aku akan membuatmu lebih menyukaiku lagi, Yeri.” Baekhyun berucap, dengan lembut ditariknya wajahku untuk menghadap ke arahnya.

Kuyakini, dia sengaja membuatku berlama-lama terbius oleh parasnya sebelum ia mendaratkan sebuah kecupan ringan di bibirku. Mungkin, aku memang bodoh, karena sudah membiarkan Baekhyun mengubahku dari seorang ‘anak-anak’ menjadi sosok ‘wanita’ yang ia inginkan.

Tapi mau bagaimana lagi, kebiasaannya yang tidak hanya meninggalkan kecupan singkat telah membuatku tanpa sadar menginginkan ciumannya lebih dari apapun hingga sekarang sanggup membuatku menahannya untuk tidak sekedar meninggalkan kecupan ringan.

Paham dengan diriku yang sudah jatuh sepenuhnya dalam genggaman, Baekhyun akhirnya kembali menciumku, dengan cara yang begitu seksi seperti yang selalu ia lakukan. Aih, tidak perlulah aku menggambarkan bagaimana ia menciumku, karena mungkin seseorang yang akan cemburu padaku karena memiliki seorang seperti Baekhyun di sisiku.

Oops, apa sekarang aku sudah menyerah pada rentang usia yang menjadi alasanku menolak Baekhyun? Ah, masa bodoh. Bukankah aku hanya perlu menjalani kehidupanku tanpa peduli pada apa yang orang-orang katakan?

Tiap orang punya hak untuk hidup bebas sesuai dengan keinginan dan pilihan mereka, bukankah begitu? Sekarang sudah jelas, bersama dengan Baekhyun adalah keinginan dan pilihanku saat ini.

FIN

IRISH’s Fingernotes :

Awalnya cerita ini diketik buat jadi melodrama. Terus gegara ngetiknya mrepet tengah malem jadi belok sedikit plus plus, terus diri ini nyadar kalo Yeri masih terlalu unyu buat dinistain jadi kubelokin lagi ke jalan yang benar.

Niat awal cuma mau ngetik drabble tapi kemudian belok jadi ficlet dan nembus vignette, efek khilaf—efek lelah—efek terpesona sama cabe yang akhir-akhir ini kembali ngegodain iman.

DAN PLIS, INI ENGGAK BEGITU NYAMBUNG SAMA JUDUL YHA TOT, SEDIH.

Ya enggak apa-apa lah, kayaknya udah lama enggak munculin Cabe dengan imej macem ini :”) TAU CABE TAU, ENTE UDAH TAMBAH SEKSEH SEKARANG MESKI ENGGA PAMER ABS. ANE LUPAIN BOGUM GEGARA ENTE DAN SENYUM ENTE T.T

Keinget sama Jongin di cerita Lolita yang jadi om-om haus belaian remaja. YA LORD KENAPA GENREKU JADI BEGINI? KENAPA? KENAPA? /KEMUDIAN AMBIL WUDHU/ /BRB LEMPAR JUMROH/.

~

~

~

[    IRISH SHOW    ]

27 tanggapan untuk “[VIGNETTE] OBSESSIVE BYUN — IRISH’s Tale”

  1. Udah lah, tabrakin sekalian. Wkwk…. Duh yang unyus dicium sama baekie yg akhir ini menggona iman para perawan duh…senyum” sendiri jadinya wkwk

  2. Semakin naik umurmu semakin naik gaya ceritamu…
    Tp ….ya tetep aja horor bacanya. Lbh horor dari pada pocong joget-joget di tengah jalan akhirnya Baek Yeri tewas.
    Ketularan virus goblin kamu kali rish…kan lg hot2nya ama ahjussi2.
    Oh ya klo bicara baekyeri jd inget humanoid deh.. so kpn bisa ditagih ni rish? Kbrnya mungkin klo Jhonny udh debut lanjutannya bakal hadir, udh krg lebih sebulan loh dia debut, bisa ditagih gk janjinya? Janji itu hutang loh…

    1. XD BUAHAHAHAHAHAHA SEPERTINYA IYA, aduh Iriseu ayo kembali ke jalan yang benar dulu wkwkwkwkwkwk XD sesekali gitu ane buat si Baek jadi pedopilia wkwkwkkwwkkw XD ASTAGA IYA JYANI UDAH DEBUT PAKABAR ONE AND ONLY HUHU KURINDU T.T mungkin kalau dalem minggu2 ini sempet buat revisi2 ff ane publish XD semoga aja ada waktu wkwkwkwkwkwkwk

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s