2ND GRADE [Chapter 15] -by l18hee

2ndgradepstr

2ND GRADE [Chapter 15]

─by l18hee

.featuring

[OC] Runa | [EXO] Chanyeol | [BTS] Jungkook | [OC] Nami

[RV] Wendy | [EXO] Baekhyun | Other

.in

Chapter | AU | Age Manipulation | Friendship | Hurt | Romance | School-life

.for

Teen

.

Poster by NJXAEM

.

Previous Part:

Prologue | 01 | 02 | 03 | 04 | 05 | 06 | 07 | 08 | 09 | 10 | 11 | 12 | 13 | 14

.

Now Playing ► Chapter 15 [Heartbreak]

Antara sakit hati dan emosi, bercampur sekental jus jambu biji.

.

.

Hari Sabtu berakhir begitu saja. Rasanya Runa ingin lekas meninggalkan Sabtu terburuk sedunia dari kalender. Di Minggu pagi ia berhasil bangun tak sampai pukul 10. Semalam dia sempat terbangun beberapa jam dan menghabiskan waktu dengan menonton film. Dan, info saja, Runa juga sempat membaca pesan Baekhyun mengenai insiden Chanyeol-Nami. Masa bodoh juga, sih.

Sebenarnya sama sekali tidak asyik mendapati mata bengkak dan wajah kusam di pagi hari. Maka dari itu Runa memutuskan tak melakukan apa pun untuk beberapa saat, kecuali berguling-guling di atas ranjang.

“Seunghee kosong tidak ya?” Di gulingan terakhir, ia berpikir sejenak. Kali saja ada seseorang yang bisa diajak berbuat gila hari ini. “Ah, apa mungkin Baekhyun─” ucapannya terputus oleh nada dering ponselnya. Segera ia memperluas jangkauan tangannya di atas ranjang, menelusup ke dalam selimut untuk mencari benda yang tak sempat ia urusi. Dan ketika mata sayunya menangkap sebuah nama yang tertera, hanya sebuah umpatan yang ada.

Park Chanyeol Calling.

“Aku bersyukur tak pernah menamai kontakmu dengan ‘sayang’.” Akan sangat kesal mendapati sayang-yang-bukan-sayangmu-lagi menghubungimu seperti ini, bukan? Ia mencibir di depan layar ponsel, tepat sepersekian detik sebelum layar itu mati. “Baru kali ini aku sangat senang bateraiku habis.” Tak acuh, Runa begitu saja menyimpan ponsel di atas nakas.

Butuh waktu yang lumayan lama untuk membersihkan kamar, mandi, lalu memilih pakaian hingga jarum jam berjalan perlahan menjauhi angka 11.

Kini Runa tengah mengikat tali sepatunya sebagai penutup persiapan hari ini. Sebelum ia benar-benar menutup pintu, suara serak khas bangun tidur milik Sunyoung menginterupsi, “Tadi ada yang menelponmu, aku lupa tanya namanya.”

“Biarkan saja.” Runa menaruh curiga pada Chanyeol, walau tak menutup kemungkinan yang menghubunginya itu Seunghee atau siapalah. Tapi biar deh, dia sedang tidak begitu mood mengurusi hal memusingkan.

Sejujurnya Runa tidak tahu harus ke mana. Pikirnya, akan sangat aneh kalau tiba-tiba muncul lagi di depan Seunghee ketika kemarin ia baru saja menghilang dengan tidak tahu diri. Biar besok sewaktu di sekolah Runa menjelaskan alasannya.

“Sepertinya Baekhyun kosong.” Runa masih mengingat-ingat. Akhirnya ia mengangguk untuk dirinya sendiri, dan mengambil jalan untuk menaiki bus menuju halte dekat kompleks rumah Baekhyun. Baru saja ia duduk sekitar lima belas menit, Runa cepat-cepat menepuk keningnya.

“Dia pasti masih di gereja. Kenapa aku bisa lupa?”

Bagaimana bisa Runa lupa rutinitas Baekhyun sejak kecil? Biasanya memang setelah melaksanakan kebaktian, Baekhyun akan menghabiskan hari Minggu untuk membantu pamannya membagikan makanan ke lansia di taman dekat gereja. Sebenarnya bisa saja Runa ke sana, toh juga ia dulu sering melakukannya. Tapi masalahnya, sekarang ia sedang tidak ingin tersenyum. Rasanya aneh, menyuguh senyum tapi hatimu sedang resah, walau internet bilang efeknya baik, sih.

“Oh! Minimarket!” Seakan menemukan ide paling cemerlang, Runa bertepuk tangan sekali. Dia mulai mengira-ira ekspresi terkejut mana yang akan kawan kerjanya suguh nanti.

Nyatanya, ekspresi heran dan bingung yang Runa bayangkan tadi tidak terealisasikan sama sekali. Wajar, hanya ada Jungkook di minimarket. Bah, Runa kira sekarang jatah Seulgi. Dan, sekadar info, saat ini suasananya benar-benar aneh. Runa dan Jungkook saling menatap tanpa satu pun yang mengucap kata. Bukan hal yang manis seperti dalam drama, oke? Sudah Runa bilang sensasinya aneh.

“Tidak tanya kenapa aku di sini?” Yang menyerah dengan hening adalah Runa─jelas. Sedang Jungkook masih memasang tampang andalannya, “Minimarket tempat umum. Apa yang harus kutanyakan?”

“Kau benar,” ujar Runa yang tak ingin terlihat makin bodoh. Usahanya untuk mengejutkan kawan kerja tidak akan pernah berhasil jika sasarannya itu tipikal Jeon Jungkook. Daripada menanggung malu lebih lama, Runa memilih berjalan ke lemari pendingin. Siapa tahu ada cairan warna-warni dengan kadar manis tinggi yang dapat menimbulkan efek senang di hatinya.

“Sialan, kenapa malah air mineral yang paling bersinar sekarang?” Sebuah decihan terdengar dan Runa lebih memilih mengambil air mineral biasa dari rak, dia tidak ingin yang dingin rupanya. Berimbuh satu mangkuk ramen instan, ia sudah berdiri di depan Jungkook, meletakkan banyak koin di depan si lelaki.

“Ibumu tidak memasak?”

“Hm?” Runa mengangkat kepalanya, mendapati Jungkook sedang memindai kode batang air mineral. Sedikit tak menyangka ditanyai seperti tadi.

“Lupakan.” Jungkook beralih memasukkan koin yang ia terima dalam mesin kasir. Sementara Runa yang memang mendengar petanyaan tadi hanya mengedik bahu, “Ibuku di Nowon.” Jawaban tersebut memancing Jungkook melirik sekilias, “Oh.” Dan tanpa sepatah kata pun ia meraih mangkuk ramen Runa. Tidak lama kemudian, Runa sudah duduk di kursi di depan meja panjang minimarket, dia sedang tidak ingin duduk di luar.

Sementara Runa menikmati ramennya, Jungkook sibuk dengan beberapa pembeli.  Hari Minggu memang ramai. Tak ada yang Runa lakukan selain mengunyah dan menelan ramen, serta sesekali memandang Jungkook dari tempatnya.

Runa penasaran juga kenapa Jungkook harus menghabiskan waktunya untuk kerja sampingan dan mengabaikan sekolah? Bukankah lebih baik berhenti saja sekalian ketimbang menambah biaya?

“Jeon Jungkook,” panggilan ini terlontar begitu saja. Menarik Jungkook melempar lirikan. Lalu, Runa menyangga pelipisnya, “Jika kuceritakan alasanku mengambil kerja sampingan, apa kau akan melakukan hal yang sama?”

Tak sampai sedetik, Jungkook sudah menjawab dengan yakin, “Aku tidak tertarik mendengar ceritamu.” Dia bermaksud memasok beberapa makanan dari keranjang yang tadi sempat disiapkan, untuk ia taruh di rak tinggi belakang meja kasir.

“Apa kau cenayang? Setelah kau bilang aku perlu tisu, malamnya aku menangis habis-habisan, lho.” Pernyataan Runa belum mampu membuat Jungkook peduli. Gadis itu terus melanjutkan dengan nada santai, “Chanyeol selingkuh dan aku memutuskannya kemarin.”

Nah, kali ini Jungkook mau berhenti.

“Menurutmu apa tindakanku yang tidak memberikan kesempatan kedua itu benar?” Pertanyaan yang dilontar tanpa beban kini malah menarik Jungkook untuk memerhatikan. Runa mengaduk kuah sisa ramen seraya mengembus napas panjang, “Menurutmu apa aku terlalu norak? Bukankah selingkuh sedang tren baru-baru ini?” Ia terkekeh kecil, sebelum akhirnya menggigit bibir diam-diam. Sialan, kenapa jadi ia yang terbawa suasana?

“Tren yang tidak keren.” Jungkook menyedekapkan tangan di depan dada, sebuah pencapaian yang perlu diberi apresiasi karena ia mau menanggapi dengan serius. “Tapi kurasa Chanyeol menyesal meninggalkanmu.”

“Bagaimana kau tahu?” Tak ingin kembali menangis, Runa mengangkat kepalanya dan mengerjapkan mata. Dan sebagai jawaban atas pertanyaan tadi, Jungkook mengedik bahu dan meloloskan sebuah entah.

“Apa kau tidak mendengarkan alasannya?” tanya Jungkook. Siapa pun akan yakin lelaki ini sudah mengikhlaskan diri untuk masuk dalam topik. Melihat Runa diam saja, ia kembali bicara, “Aku tidak memaksa, tapi menurutku kesempatan kedua memang pantas dipertimbangkan.”

“Tapi jika nanti dia main belakang lagi….” Runa diam, memilih menghabiskan sisa kuah ramen yang tak terlalu banyak.

“Itu salah satu guna kesempatan kedua. Melihat apa dia akan melakukan kesalahan lagi atau tidak.”

Dan kali ini, seiring dengan embus napas cepatnya, Runa bisa merasakan air matanya keluar. “Aku terlalu…” dia menarik napas, “kau tahu, kurasa aku belum bisa mencobanya sekarang.” Tahu bahwa jika semakin diceramahi malah akan semakin keras tangis si gadis, Jungkook memilih memutar topik, “Mau tahu kenapa aku mengambil kerja sampingan terlalu padat?”

Tak menunggu jawaban, Jungkook kembali membuka mulutnya, “Orangtuaku di Daegu, mereka tidak bisa menghidupiku. Makanya sejak SMP aku dititipkan pada pamanku yang sudah bercerai. Ironisnya, paman meninggal setelah aku dinyatakan lolos masuk SMA.” Lelaki itu bisa tahu bahwa Runa mulai memasang wajah simpati di sana. Ia melanjutkan, “Aku tidak bisa meminta uang pada orangtuaku. Jadi dulu aku bertekad akan mengumpulkan uang untuk kebutuhan harianku. Lulus dengan nilai pas-pasan bukan hal buruk. Mungkin setelahnya aku bisa melamar di pabrik, atau ikut suatu kursus kilat untuk bekal kerja.” Ia masih memasang tampang tanpa ekspresinya dan menatap Runa, “Aku tidak perlu tanggapan. Jadi tidak perlu susah-susah mengatakan sesuatu.”

Tidak menyangka sama sekali jika Jungkook akan bercerita tentang hidupnya, Runa justru menganga. Antara terharu dan bingung mau menanggapi apa. Beberapa saat kemudian hening dipecah oleh pembeli yang datang. Hanya seorang pria yang kira-kira sudah kepala tiga, membeli sebungkus rokok. Transaksi terjadi dengan cepat, pria itu langsung keluar minimarket dengan lagak terburu-buru.

“Hei, Jungkook.” Runa perlu keberanian juga untuk memanggil sampai si lelaki mau menoleh lagi dengan tampang datar. “Entah bagaimana denganmu, tapi kurasa kita ini teman.”

“Hanya perasaanmu saja.” Tidak diam saja, Jungkook mengambil kesibukan menata barang yang sempat ia abaikan. “Bereskan sampahmu sendiri dan pulanglah.”

Tak mengindahkan ucapan ketus Jungkook, Runa justru bergegas melangkahkan kakinya menuju ke depan meja kasir, “Aku baru ingat. Hari ini aku gajian. Dan mungkin aku harus membantu beberapa hal di sini sambil menunggu uangku.”

“Sebenarnya kau mengganggu.”

“Aku tidak butuh tanggapanmu karena sudah kuputuskan sendiri bagaimana aku akan menghabiskan hari ini.” Kekehan terdengar dari arah Runa. Dia sama sekali tak peduli pada helaan napas panjang yang Jungkook lakukan. “Bagaimana jika Seunghee kusuruh kemari?” Dipikirnya mungkin lebih─

“Tidak perlu.”

Lagak santai Runa terlihat saat ia dengan sengaja menepuk lengan Jungkook beberapa kali, “Ayolah, jangan terlalu dingin. Yang santai sedikit.” Begitu sang lelaki memasang tampang kau-berani-menyentuhku-? Runa langsung terkekeh, seperti menemukan mainan baru. “Oh, kau terlalu kaku untuk ukuran orang yang baru melakukan sesi curhat, Jungkook.”

Awalnya Runa akan menebar tawa lagi, namun ketika mendapati tatap tajam Jungkook akhirnya ia hanya berdehem dan menahan senyum, “Oke, oke, aku bercanda.” Dia lalu berbalik untuk membereskan sampahnya serta diam-diam tertawa tanpa suara.

Yang jelas, menghabiskan hari di tempat kerja memang tidak buruk, seperti dugaannya.

.

.

.

-0-

.

.

.

Kala Minggu berakhir, Runa pikir ia harus menyiapkan hatinya untuk menghadapi Senin. Setelah Sunyoung memberitahunya bahwa Chanyeol menelpon beberapa kali ke telpon rumah kemarin, Runa makin malas mengisi baterai ponselnya. Jadilah benda kotak canggih itu tergeletak di nakas, semoga tidak sampai berdebu.

“Setidaknya kau harus mengawali pagi dengan cengiran bahagia, Kwon Runa.” Gadis itu menyugesti dirinya sendiri dan melangkah mantap melewati gerbang sekolah. Di sudut hati, sedikit was-was terhadap kemunculan sosok Chanyeol. Dengan cepat Runa menepis kekhawatirannya, memlih berlagak masa bodoh dan mencoba bahagia.

Akan tetapi, senyum yang ia persiapkan akhirnya tak tersuguh. Jangan salahkan Runa jika emosinya muncul dan langsung naik ke ubun-ubun, begitu wajah Nami masuk dalam retinanya. Padahal ia baru saja akan serius menjalankan niat mengawali pagi dengan bahagia. Nyatanya sosok Nami justru memperkeruh hatinya. Maunya, sih, langsung melontar makian paling dahsyat sedunia. Namun, jika dipikir-pikir justru akan meninggalkan kesan kampungan dan tidak dewasa. Jadi yang Runa lakukan hanya mengalih pandang dan dengan damai duduk di kursinya.

Tadinya, Runa berpikir akan memainkan ponsel. Ia langsung mengumpat kecil saat ingat ponselnya masih terbaring cantik di nakas kamar. Berhubung Seunghee sedang tidak ada di bangku, sedang Baekhyun jelas belum berangkat, ditambah bangku Wendy rasanya begitu jauh untuk dihampiri, akhirnya Runa memutuskan menusuk-nusuk lengan Jungkook dengan telunjuknya.

“Eh, pinjam ponselmu, dong.”

Lelaki penghuni bangku di seberangnya itu hanya membuka mata sedikit, lalu menutupnya lagi. tak menyerah, Runa berucap lebih keras, “Untuk main game saja, kok.” Mungkin si lelaki jengan, sampai mau mengulungkan ponselnya Runa sendiri tidak mau ambil pusing dengan wajah Jungkook yang sudah memilih terpenjam kembali. Yang gadis ini lakukan adalah berfokus pada permainan yang ada di ponsel Jungkook.

Belum juga ia menyelesaikan level pertama, sebuah suara sudah menyambah telinganya dengan nada yang sangat memuakkan.

“Sepertinya ada yang baru putus.”

Tidak ada orang selain Han Nami yang bisa menguarkan nada super remeh begini.

Demi Tuhan, jika Runa sudah tidak waras dia akan langsung menerjang dan memberi cekik mematikan. Tapi mengatasi orang tak punya otak butuh strategi, bukan?

“Sepertinya penggoda pacar orang mulai berani bicara.” Dengan sengaja Runa lebih mengeraskan suara. Tak tersirat emosi berkat ia yang terlihat sibuk menamatkan level game di ponsel. Beberapa siswa yang tak sengaja mendengar mulai memberi lirik penasaran. Terlebih ketika melihat muka Nami memerah. “Jaga ucapanmu!”

Tingkah Runa yang hanya mengedik bahu malah makin menarik emosi Nami. Gadis marga Han itu lantas bangkit dari bangkunya, menyedekapkan tangan sok kuasa, “Oh, kurasa kau menangis terlalu banyak.” Beberapa siswa mulai dapat membaca permasalahan yang ada. Runa memilih masa bodoh, “Ah, kau memergokiku,” dia tidak terlihat terkejut, “Yak! Akhirnya level tiga. Serius, Jungkook, aku akan mengalahkan skormu.”

Diperlakukan seolah tak penting, Nami semakin ingin berseru marah, “Kau memang seharusnya putus sejak lama! Chanyeol tidak bahagia bersamamu!” Sesungguhnya cengkraman tangan Runa langsung meguat, untunglah dia masih bisa mengendalikan diri, “Jika lelaki itu tidak bahagia, katakan padanya untuk berhenti menolak ajakan putusku. Aku butuh ponsel dan telpon rumahku tenang.”

Di sisi lain, Wendy sudah sepenuhnya memerhatikan, dia sedikit mendekat untuk berjaga-jaga jika ada sesuatu yang tak terduga. Tak ada yang berani menyela, mungkin sebagian penasaran dengan akhir pertengkaran. Ayo taruhan, pasti ada yang mengharapkan sesi jambak-jambakan.

Nami meniup udara cepat sebelum memutar mata seakan menggampangkan, “Blokir dia. Apa kau masih berharap? Sadarlah, kalian sudah putus.” Begitu mendengar ini, Runa mengabaikan game-nya dan menatap lurus ke arah Nami.

“Dan aku yang memutuskannya.” Runa punya cara khusus untuk menekan pernyataan yang memberi efek ngeri, rupanya. “Kurasa kau yang masih berharap, Han Nami. Kenapa? Karena kemarin kalian bertengkar dan Chanyeol akan meninggalkanmu demi aku?” Ini analisa yang Runa susun berdasar penjelasan Baekhyun tentang cuplikan kejadian tempo hari. Kenyataan beruntung, tebakannya benar. Lihat saja bagaimana wajah Nami makin berkerut tidak santai, “Hei─” seruannya terhenti ketika Runa kembali menginterupsi.

“Kau selalu berusaha mencari cara untuk membuat hariku buruk. Dan itu karena kau menyukai Chanyeol, kan? Jadi saat aku sudah memutuskan si berengsek itu, kenapa tidak menjauh saja dariku?” Seraya menyangga pipi dengan tangan, Runa memasang wajah paling tidak mengenakkan sekaligus memberi kesan remeh di dalamnya, “Risi tau melihat kelakuanmu. Seperti tidak punya otak. Seharusnya kau berterima kasih tidak kukatai jalang.”

“KWON RUNA, KAU─”

Mendadak Nami memejamkan matanya sebagai reflek tercepat yang ia bisa. Sebuah buku yang Runa lempar berhasil mengenai bahu atas sang gadis dengan tepat.

“Lebih baik cari nasihat untuk dirimu sendiri. Berhenti membuat mulutmu berbusa dengan ucapan berbau kotoran, Han Nami.”

Kali ini Nami langsung mengambil langkah, namun lengannya lekas ditahan oleh Yulbi dan Yura. “Aku harus merontokkan rambutnya! Lepaskan aku!”

“Permisi,” suara seorang lelaki terdengar. Tak ada yang menyangka si pemilik suara adalah Jeon Jungkook. Dengan satu alis terangkat seolah tak mengerti, Jungkook melanjutkan, “Bukankah seharusnya kau yang malu? Kau baru saja membuat sebuah pasangan putus.” Lalu Nami berhenti memberontak, menghempaskan lengannya yang ditahan dengan kasar. Dia sadar hampir seisi kelas memandangnya risi.

“Benar. Kenapa kau yang mengamuk? Kekanakan sekali.” Kali ini Wendy yang sudah menyedekapkan tangan, angkat bicara. Disusul suara Minah, “Kau yang menggoda Chanyeol dan menjadi selingkuhan, jangan berlagak sudah menjadi pacar resminya.” Oh, ucapan yang kejam.

“Menggelikan. Ternyata lelaki yang selama ini kau bicarakan itu hasil menikung orang?” Beberapa tanggapan tak enak lainnya kemudian bermunculan. Karena tak tahan dan tidak menemukan untai kata yang pas untuk mengelak, Nami memutuskan bergegas keluar kelas, membawa wajah super kesalnya.

Di tengah bisik-bisik tak enak, Wendy memutuskan menghampiri Runa. Ia menjatuhkan pantat di bangku Seunghee. Ada sunyi selama tiga detik penuh sebelum Wendy mulai bicara, “Sudah gajian? Katanya ingin beli sesuatu.” Dia tak mengharapkan jawaban secepatnya, paham jika diamnya Runa itu berarti si gadis tengah berusaha menenangkan diri. “Akan kubawakan katalognya besok.”

“Wendy,” Runa memanggil lirih tanpa menoleh. Jelas saja Wendy langsung menaruh perhatian, “Hm?”

Kali ini Runa mau menolehkan kepala, memasang wajah sedikit herannya, “Apa bekas wajah menangisku terlihat jelas sekali?” Tadinya Wendy menyuguh ekspresi bingung, berkat pertanyaan tadi yang jauh dari ekspektasi. Namun setelahnya ia terkekeh kecil seraya menepuk pundak gadis di sampingnya, “Jangan dipikirkan. Yang penting kau keren barusan.”

“Astaga, aku seperti habis kerasukan─oh, semoga buku Seunghee tidak rusak.” Bergegas Runa bangkit untuk mengambil buku yang sempat ia lemparkan beberapa saat yang lalu. Wendy hanya menahan tawa, tidak begitu paham kenapa suasana yang semula tegang bisa berubah sekejap mata.

.

.

.

.to be continue

Jungkook emang cenayang kayaknya. Inget part dia bilang semacam ‘semoga kau cepat meledak’ ke Runa? Nha, meledak juga kan tuh cewe :’vvvv /paan sih nid/

Kalok aku mungkin udah balang Nami pake kursi :’)

Btw makasih ya buat kalian semuaa yang udah ngikutin 2nd Grade ini, maaf  baru bisa balesin beberapa komen :’) Tapi serius aku bacain semua kooook… Bikin seneng sama semangat hahai ntaps lah. Makasih banyak buat kalian, sayang banget deh serius ({}) ❤ ❤ ❤ :*

.nida

39 tanggapan untuk “2ND GRADE [Chapter 15] -by l18hee”

  1. runa setroooong abizzzzz…. suka bca adrgan runa ngskakmat si nami n skrg udh bnyk tmn2ny yg ngdukung runa… fighting runa… 💪💪💪

  2. ANTARA SAKIT HATI DAN EMOSI, BERCAMPUR SEKENTAL JUS JAMBU BIJI WKWK.
    Uuuuuu aku terharu denger cerita Jungkook.
    Wihhh Runa keren deh serius. Pedes banget kata-katanya.
    JUNGKOOK JUGA KEREN NGEBELAIN RUNA😍😍

  3. OMAYGAT… Sumpah si Ru Na keren banget… 😱😱😱 Btw itu si Jung Kook tumben ngeluarin suara di kelas yee… 😄😄😄 Dan juga si Jung Kook boleh tolong ramalin masa depan aku sekalian ga??? ㅋㅋㅋ 😁😁😁

  4. “Aarrgh..!!” Pngn jambak2 si nami jalang tkng nikung!! 😤
    Cool & classy bgt gaya meledak’ny runa 😄 d’way dy mutusin si brengsek 찬열! d’way dy mngalihkan energi berlebih pas lg esmosi, & sesi prang kata2 ma si jalang tkng nikung ga pny malu tu! Whoah~ so proud of u 루나 씨 😁
    Ah, ga da 백현 & 세훈 di chptr ni 😢
    pngn bgt liat 찬열 ng-gap moment 세훈-루나 scpt’ny 😈
    Junkook pny strong intuition ☺ & trnyt pny fam background yg sdih jg 😢 kshn.. 힘내요~
    Si beagle 백 trnyt rjn ibadah n sk bantu2 pmn’ny ya 😃 ga nyangka. Kris mn ya? 😅

  5. Wow keren banget runa . Jungkook mengejutkan. Hahaha.. rasain tuh nami yg mancing siapa yg kena malu siapa hehehe…
    Lanjut kak keren banget ni ff

  6. Ih ternyata Jungkook itu orangnya bikin penasaran, kadang dingin nyebelin kadang juga bikin orang kagum. Apalagi dengan ucapannya pas belain Runa. Dan disini Runa daebaak .. keren banget. Kenapa gak tampar aja mulut si Han Nami, gak tau diri puas banget pas dia jadi sasaran cibiran satu kelas. Hahahahahahah 😀

  7. woah… jungkook kerennnn… hahaahaha
    dia sekalinya ngomong langsung tepat nyelekitny lho.. hahahha
    runa jg keren… nami nya aja yg gk punya otak… bodo bngt diaaa.. makan tuh malu
    nexttttt

  8. Jungkook….kamu ngikutin les kerja singkat ama Mama loreng ya? Kok pinter bgt nebak kejadian? Atau les sama conan jd bisa menarik kesimpulan dari hal2 sepele?
    Ngeliatin runa yg meledak jadi ingat Hong di Cheese in The trap. Dia kan gayanya adem2 ayem gitu awalnya tapi pas meledak…wow luar biasa, musuh pun ditekuk dengan mudah.
    Tp kamu boleh request gk? Baekhyun part dong….wkwkwkkw(Fangirl ini kebangetan ya maunya biasnya mulu yg tampil..abaikan lanjutkan perjalanan Runa di tahun kedua.!!!)

  9. Ff yg plg kutunggu akhirnya update jg yeayyy…..
    Jungkook wew suka bgt karakternya. Dingin2 lembut misterius gmn gtu. Cenayang? Wkwk jangan2 jungkook taunya karena pernah mergokin chanyeol sama nami dan dia narik kesimpulan. Secara dia di ff ini aslinya pinter kan…
    Sedih sih gak ada sehun runa moment. Tp jungkook runa moment gak kalah lucu, keren, menarik.
    Runa whoooaaaaa ini cara debat paling keren ya cara kek runa. Tanpa emosi, stay cool, dan sesuai fakta.
    Ihh ga sabar baca next chapnya. Ditunggu ya thor, semangat! Keep writing! ^^

  10. Si jungkook tipe jutek jutek emsh ya wkwk.
    Keren banget tuh aksi runa. Btw ga ada moment sehun-runa ya di sini, kan kangen sehuunn😂

Tinggalkan Balasan ke ARRYLEA Batalkan balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s