Love that Miserable [Shin Tama production]

ltm

Oh Sehun/ Yoshie

Romance. Angst/ PG-15

Oneshoot

***

Saat kau datang padaku, lalu memelukku searaya membisikan ‘aku mencintaimu’. Saat itu juga aku tidak menginginkan apapun lagi. Saat jemari tanganmu menutup celah jemariku, menyatu dengan erat. Saat itu juga aku tidak takut akan jatuh dan terluka. Dan disaat aku goyah, ada bahumu yang bisa ku andalkan. Semuanya sempurna saat kau ada disampingku.

 

***

eomma aku baik-baik saja, kita tidak perlu kemari.” Aku menahan lengan ibu ketika ia hendak mengajakku masuk ke tempat praktek psikolog.

 

“Yoshie…turuti kata-kata eomma untuk kali ini saja.” Suara memelas ibu membuatku menghela napas berat.

 

Apa separah itu kah kondisiku dimata ibu? Apakah orang itu akan tahu dimana letak kesalahanku? Sedangkan aku sendiri tidak dapat menemukannya. Selama ini aku berusaha sebaik mungkin dalam menghadapi apapun itu.

 

“Belakangan ini, dia menutup diri terhadap pergaulan dengan teman-temannya. Lebih banyak melamun dan tampak murung.” Jawab ibu ketika Pria yang disebut dokter itu menanyakan keluhan kepada kami.

 

“Baik saya mengerti. Kalau begitu saya akan memberikan konseling kepada Yoshie untuk tahap awal.”

 

Aku merebahkan tubuhku dikursi relaksasi. Menempatkan diriku senyaman mungkin.

 

“tidak usah canggung. Anggap saja kau sedang mengobrol dengan teman sebayamu. Dan kita tampak seumuran.”

Dokter itu mengakhiri kalimatnya dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.

“Kurasa begitu.” Jawabku tanpa membalas senyuman darinya. Pria itu tersenyum lagi setelah menerima responku. Lihatlah Betapa mudahnya dia tersenyum.

“Ok, diawal pertemuan tadi kita sudah berkenalan. Dengan kata lain, kita berteman bukan? Jadi, tolong jawab semua pertanyaan yang temanmu ini ajukan.” Pria itu berargumen dengan begitu percaya diri.

“Lakukan saja tugasmu dokter Park Chanyeol.”

“tutup matamu.”

“buat dirimu senyaman mungkin.”

“lalu bayangkan hal-hal indah dan menyenangkan yang pernah terjadi dalam hidupmu.”

“mulai…bayangkanlah.”

 

***

 

Dibawah pohon rindang aku melihat pria itu. Pria bertubuh jangkung, bahu yang lebar, dada yang bidang dan kulit pucat pasi. Dia yang aku kagumi diam-diam, Oh Sehun. Degh…dia melihat ke arahku. Aku lekas membuang pandanganku ke arah lain. Apakah dia menyadari bahwa dia sedang diperhatikan? Aku mencuri pandang lagi ke arahnya. Masihkah dia melihatku? Degh…degh… Sekarang dia malah berjalan ke arahku. Mau apa dia? Ya ampun…aku jadi salah tingkah begini.

 

“Hai…” Sapa nya dengan senyum khasnya yang membuat aku gemas.

“Hai juga…” Balasku lalu mengalihkan pandanganku dari matanya. Tidak beda jauh rasanya ketika guru seni budaya menyuruhku bernyanyi didepan kelas.

“Mau pulang bersamaku? Bukankah rumah kita searah.”

 

Aku mengangguk sambil mengulum senyum. Rumah kami memang searah dan kami juga teman sekelas. Tapi menurutku kami tak cukup dekat untuk pulang bersama. Aku terlalu pemalu untuk menyapanya duluan. Rasanya agak canggung berada disituasi seperti ini.

 

“bolehkah aku main kerumahmu?” Sehun mengawali obrolan.

“Jika untuk main-main kurasa tidak usah, aku lebih suka sesuatu yang serius…”

 

Ups. Apa yang kukatakan tadi? Kedengarannya seperti wanita yang sedang jual mahal. Aduh, bagaimana ini? Bagaimana jika Sehun berubah pikiran, membatalkan niatnya datang kerumahku. Hah, Yoshie kau benar-benar kacau. Kau terlalu terbawa perasaan.

 

Kuberanikan diri melirik ke arahnya. Nampak ulasan senyum dibibir tipis pria itu. Jika aku memiliki satu harapan disekian banyak kegagalan. Aku berharap Sehun menganggap ucapanku tadi adalah sebuah lelucon.

 

***

 

 

Musim dingin yang hangat. Mungkin hanya aku yang berasumsi demikian. Kau datang tanpa di undang. Menyumpalku dengan kejutan sederhana yang mampu membuatku kehilangan  kata-kata.

 

“Maukah kau menerima cincin ini dan menjalani hubungan yang serius denganku?” Oh Sehun yang mengatakannya.

 

Aku terdiam. Tak langsung menjawab. Ekspresi wajahku? Aku terkejut luar biasa. Di sore hari yang dingin, pria itu datang kerumah ku membawa sebuah cincin yang unik dan istimewa bagiku. Bukan emas ataupun berlian. Cincin sederhana terbuat dari kabel optik yang dianyam sedemikian rupa.

 

”aku adalah seorang siswa SMA jurusan teknik komputer yang setiap hari kerjaannya merangkai kabel dan semacamnya. Tentunya aku belum bisa membeli cincin sungguhan. Aku harap kau menyukai cincin sederhana ini.” Sambung Sehun berusaha mendapat jawaban lagi.”

 

“aku suka kepada orang yang mau berusaha dan dengan tulus memberi sesuatu padaku.”

 

Saat kau datang padaku, lalu memelukku searaya membisikan ‘aku mencintaimu’. Saat itu juga aku tidak menginginkan apapun lagi.

 

***

 

Aku membuka mata. Merasakan kedua belah pipiku sudah basah. Napasku sesak. “kau menangis?” kata dokter Park. Pria itu menatapku heran. Aku tahu pertanyaan apa yang kini melintas dipikirannya ‘’aku memerintahmu untuk menggambarkan hal-hal yang membuatmu senang. Tapi kenapa kau malah menangis?’ kurang lebih mungkin seperti itu bunyinya.

 

Ya, awalnya aku membayangkan kenangan yang membuatku bahagia. Namun apa daya, itu hanya awalnya. Pada akhirnya hal buruk itu menghantui pikiran ku lagi. Sangat menyakitkan hati.

“Terapinya tidak berhasil kepadaku. Aku akan membayar biaya atas jasamu, lalu pulang. Terimakasih.” Aku bangkit dari kursi relaksasi.

“tu-tunggu dulu…aku sempat melihatmu tersenyum saat terapi tadi. Kau masih punya peluang.” Ucapan dokter Park menahan langkahku.

“apa gunanya peluang itu jika pada akhirnya hal buruk itu terus menyerang pikiranku tanpa jeda.”

“kau hanya belum bisa melupakan hal buruk itu. Jika kau berhasil, kau akan menyadari bahwa hidup tak sampai disini.”

Aku masih bisa mendengar kalimat terakhirnya sebelum memutar knop pintu lalu keluar ruangan. Omong kosong.

 

***

 

Aku termenung didepan layar laptop. Bak tersambar petir di siang bolong. Layar 14 inc itu tiba-tiba gelap. Blank, ketika aku menyambungkan flashdisk milik teman sebayaku. Apa lagi masalahnya jika bukan karena virus sialan itu. Semua tugas kampusku lenyap begitu saja dalam hitungan detik. Seketika tubuhku lemas, lalu punggungku jatuh ke sandaran sofa.

 

Wae geurae?” suara yang sangat familiar tertangkap indera pendengaranku. Saking kagetnya karena masalah laptopku, aku sampai tak mendengar derap langkah pria itu masuk ke ruangan keluarga. Jelas dalam nada bicaranya, pria itu mengkhawatirkanku yang kini tampak seperti mayat hidup.

 

“semua data di laptopku hilang. Padahal besok tugasku harus dikumpulkan…”  tanpa sadar air mata ku meleuncur sangat deras. Dada ini teramat sesak untuk terus menahan kekesalan yang semakin menggumpal ini. “ “Eotteokhae…Sehun-ah…”” lanjutku masih sesegukan.

 

“berhenti menangis, aku akan membantumu menyelesaikan tugas kampusmu.” Ucapnya seraya menghapus air mataku.

“”tugasnya sangat banyak, sudah tidak ada waktu lagi.”” Balasku sangat putus asa. Tugas selama sebulan mana mungkin aku menyelesaikannya dalam waktu sehari.

“aku akan mengerjakannya. Aku akan selalu berusaha membantumu saat kau dalam kesulitan apapun.”

 

Dia tersenyum. Sangat menenangkan. Lebih tenang daripada permukaan air danau. Mungkin aku sudah benar-benar tenggelam tanpa protes. Saat jemari tanganmu menutup celah jemariku, menyatu dengan erat. Saat itu juga aku tidak takut akan jatuh dan terluka.

 

***

 

Aku memandang kosong ke arah permukaan danau yang berkilau karena pantulan cahaya matahari senja. Aku tak pernah membayangkan akan datang ke tempat ini tanpa pria itu. Dia orang pertama yang membawaku ketempat sebegini indahnya. Sekarang aku berdiri sendirian di tepi danau ini, rasanya sangat janggal.

 

Kenangan indah itu terwujud dalam mimpi ku tadi malam. Sungguh disayangkan itu hanya mimpi. Saat aku membuka mataku, aku tidak menemukannya lagi dalam hidupku. Oh Sehun aku merindukanmu. Kau dimana? Bagaimana kabarmu? Kenapa kau pergi tanpa mengucap sepatah katapun? 6 tahun lalu tepat ketika kita lulus perguruan tinggi. Sejak saat itu aku tidak melihatmu lagi sampai detik ini.

 

Aku baru merasakan ada luka yang lebih sakit dibandingkan luka sayatan yang menganga di tubuh. Aku tetap hidup walaupun sesak untuk bernapas. Setiap tetesan air mata ini akan menghitung seberapa banyak nya aku merindukanmu dan berharap kau kembali kepadaku.

 

Uljima...” Suara seorang pria yang sangat akrab ditelingaku. Aku lekas menyeka air mata dengan punggung tanganku. Lalu berbalik ke arah datangnya suara itu. “Oh Sehun…” Lirihku saat menemukan sosok pria yang selalu aku dambakan. “Benarkah ini kau…Oh Sehun?” Aku menangkup pipinya. Halus dan hangat. Masih sama seperti 6 tahun lalu. Dia menarikku dalam pelukannya. Aku menemukan jawabannya. Ini benar-benar kau, Oh Sehun. Bukan mimpi ataupun ilusi belaka.

 

Aku tidak akan bertanya apa alasanmu pergi begitu lama. Karena kau sudah kembali. Terimakasih Oh Sehun. Kau masih memiliki perasaan yang sama dengan ku. disaat aku goyah, ada bahumu yang bisa ku andalkan.

 

***

 

Ruang hampa itu telah terisi. Dia pulang. Aku dapat bernapas dengan normal. Setelah sekian lama merasa ada lilitan tali yang menjerat rongga paru-paru ku. Aku pun mendapatkan senyum ku. Jadi ibu tidak perlu mengkhawatirkanku lagi dan membawaku ke psikiater.

 

“Cha…makan ini…aaa…” Sehun menyendok makanan dari piringnya, lalu menyodorkannya ke depan mulutku. Selalu seperti itu disetiap kami makan bersama. Suapan pertamanya diberikan padaku. Pernah kutanya apa alasannya. Dia menjawab ‘apa yang aku makan, kau juga memakannya. Dari situ aku merasa bahwa kau sudah menjadi bagian dari diriku.’ aku mengulum senyum ketika mendengarnya. Dia sebegitu perhatiannya sampai ia lupa memperhatikan dirinya sendiri.

 

Jarum jam terasa berputar lebih cepat dari biasanya. Ketika ku menengadah, langit berubah gelap. Waktunya untuk pulang ke rumah. Berat hati ini melepaskan genggaman tangan Sehun. Khawatir jika aku tidak dapat menggegamnya lagi di kemudian hari. “Good night and nice dream...” Sehun berbisik desela pelukannya. Tulang rahangku terangkat saat mengiringi kepergiannya. Semuanya sempurna saat kau ada disampingku.

 

***

 

 

Chagiya, tolong ambilkan koran ayahmu  pagi ini dikotak surat.” ibu berteriak dari dapur.

Ye, eomma.” Jawabku, lalu mengubah tujuan ke halaman rumah yang sebelumnya berniat ke meja makan untuk sarapan.

 

Nampak dari kejauhan seorang wanita berdiri di depan gerbang rumahku. Ia memperhatikanku yang baru saja keluar dari rumah. Sepertinya ada yang dia cari. Akupun memutuskan untuk menghampirinya.

 

“Permisi, ada perlu apa ya? Atau kau ingin mencari seseorang disini?” Tanya ku kepada wanita berambut sebahu itu, dan tampaknya seumuran denganku.

“Namaku Oh Raaya, Yoshie-ssi, aku ingin bicara denganmu.”

“Tunggu dulu, siapa kau dan darimana kau tahu namaku?”

“Hampir setiap hari pria itu bicara tentangmu.”

“Siapa pria yang kau maksud?”

“Oh Sehun…”

 

Aku terdiam sejenak. Siapa sebenarnya wanita ini? Apa hubungannya dengan Oh Sehun? Dan ada perlu apa dia kesini untuk mencariku? Sanak saudaranya kah? Akh, ini membuatku bingung.

 

“Yoshie-ssi bisakah kau ikut denganku? Ada yang ingin ku tunjukkan padamu.”

 

***

 

Aku mengikuti langkah wanita itu di koridor sebuah rumah sakit. Kenapa aku mengikutinya? Aku sendiri belum menemukan jawabannya. Satu perasaan yang membuatku melakukannya, yaitu ‘penasaran’. Aku sangat penasaran ketika wanita yang mengaku bernama Oh Raaya itu menyebut nama Sehun, Pria yang sangat aku cintai.

 

Kami berhenti di bangsal khusus anak. Lalu masuk keruangan itu. Wajah wanita itu seketika berubah sendu saat melihat seorang anak laki-laki berusia 4 tahun tengah terbaring tak sadarkan diri diranjang.

 

“Dia anakku dan Oh Sehun…” Lirih wanita itu, sangat pelan. Tapi aku dapat mendengarnya sangat jelas. Sekencang pecahan kaca yang memekik telinga. “Omong kosong apa ini?” Balasku, tubuhku bergetar dan perlahan lemas. Mungkin sebentar lagi aku akan jatuh.

 

“Dia selalu mengigau, memanggil-manggil nama ayahnya, Oh Sehun. Aku tidak peduli tentang perasaan pria itu padaku yang tidak pernah mencintaiku. Tapi hatiku sangat hancur dan nyeri ketika pria itu tidak peduli pada anak kita.” Papar wanita itu sambil bersimpuh dihadapanku dan menangis sesegukkan. “Yoshie-ssi kumohon tolong aku, hanya kau yang bisa membuat Sehun untuk menemui anaknya.” Lanjutnya masih dengan air mata yang bercucuran.

 

***

 

Pepatah mengatakan ‘kebenaran selalu terungkap.’ Seberapa inginnya aku berpura-pura tidak tahu, hanya sia-sia. Baik buruknya kebenaran itu aku harus menerimanya.   Namun ada rasa egois muncul ketika aku melihat wajah pria itu. Dia tersenyum manis dan menghampiriku. Relakah aku membiarkannya pergi untuk yang ke 2 kalinya?

 

“hai…sudah lama menunggu?” Sehun datang dengan membawa 2 cup kopi hangat di tangannya, lalu memberiku sebuah kecupan singkat dipipi.

“tidak juga, baru beberapa menit yang lalu.” Balasku sambil menerima segelas kopi cup darinya.

“apa yang ingin kau bicarakan? Tiba-tiba memintaku datang ke tepi danau ini.”

 

Aku merogoh tas tanganku. Mengeluarkan selembar foto dari sana. “bisa kau jelaskan padaku tentang foto ini?” dengan keberanian yang kumpulkan, aku menyerahkan foto pernikahan Raaya dan Sehun yang kudapat dari Raaya kemarin. Karena aku yakin ini satu-satunya cara untuk membuat Sehun mengakuinya.

 

Kopi cup itu terlepas dari genggaman Sehun.terpampang jelas rasa kaget menyelimuti wajahnya. “aku bertemu Raaya dan anakkmu kemarin.” Aku yakin jawaban itu yang ingin Sehun dengar walaupun ia tidak menyuarakannya.

 

“sejak awal aku tidak pernah menginginkan pernikahan ini.” Sehun mulai menemukan suaranya.

“ya…aku tahu. Sebenarnya Raaya sudah menceritakan Semuanya, bahwa kalian dijodohkan karena alasan perusahaan. Hanya saja aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu.”

“meskipun begitu, mau kah kau kembali padaku?” kata Sehun seraya menggenggam tanganku erat.

 

Ya, aku sangat ingin. Tapi… kalimat itu terbelenggu dalam hatiku. Dan pada akhirnya aku melepaskan tangannya. Itu yang bisa kulakukan sekarang.

 

“aku sangat mencintaimu. Itu sebabnya aku kembali padamu. Tolong maafkan aku…” suaranya bergetar. Air matanya jatuh. Ini pertama kalinya aku melihat dia berlutut sambil memohon di hadapanku. “semenjak aku tidak bisa melihatmu, aku menjalani hari yang sangat berat dan melelahkan hati. Apakah kau pernah membayangkan betapa tersiksanya hidup dengan seseorang yang tidak kita cintai?”

 

Bukan hanya kau yang seperti itu, tapi aku juga…

 

“anaknya sakit, bocah malang itu terus saja memanggil-mangil ayahnya. Lalu Raaya datang menemuiku, berlutut dan memohon demi anaknya. Aku tidak bisa hanya diam saja melihatnya seperti itu, karena aku tahu perasaannya. Aku juga wanita. Dan aku yakin pria tidak tau hal itu.” Emosiku sudah tak terkontrol lagi. Aku bahkan tidak sadar, baru saja aku membentak Sehun. “Pergilah…anak itu lebih membutuhkanmu daripada aku. Sungguh aku tidak menyesal melepaskanmu dengan alasan itu.”

 

***

 

“silakan masuk nona Yoshie, giliran anda berkonsultasi dengan dokter Park.” Kata seorang perawat yang baru saja keluar dari ruang praktek. Sebelumnya aku pernah ketempat ini. Saat itu aku masih sangat keras kepala. Tidak percaya hal-hal semacam ini. Tapi saat ini aku mulai mengubah cara berikir ku. Yang tidak mungkin bisa saja terjadi. Dan sebaliknya. Aku perlu menata hidup dan hatiku.

 

“Selamat Siang nona Yoshie, silakan duduk.” Sapanya sambil bangkit dari kursinya, lalu duduk kembali setelah aku duduk di kursi tepat di depannya. “jadi, alasan apa yang membawamu kembali kesini?” lanjutnya.

“apakah kau bisa membantuku menghilangkan kenangan buruk dalam pikiranku?”

“Tentu saja, itu adalah keahlianku. Dan jika  itu berhasil, kau akan berikir bahwa hidup tidak sampai disini.”

“ya… aku pernah mendengar kalimat itu darimu. Terimakasih. Itu bisa menjadi salah satu motivasiku.”

 

~The End~

Iklan

4 thoughts on “Love that Miserable [Shin Tama production]

  1. aku suka ffnya tapi kasihan sama kisah sehun sma yoshie,tapi juga sma istri dan anak sehun juga akhh~ pokoknya ini emosional bngt

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s