[EXOFFI FREELANCE] Under the Moonlight (Chapter 1: The Game Begins)

under-the-moonlight

Tittle: Under the Moonlight (Chapter 1: The Game Begins)

Author: Miya

Lenght: 6775 Words, Series

Genre: Romance, Action, Psychology, AU

Rating: PG-15

Cast: Jo Yun Hee (OC), Jo He Ra (OC), Kim Jun Myeon, Park Chanyeol, Oh Sehun

Summary: Secuil kisah ketika Korea Selatan memiliki pemerintahan konstitusional monarki di abad 21. Dua Bulan hendak terbit di langit tatkala Matahari mulai terbenam. Namun yang perlu mereka sadari adalah… hanya akan ada satu Bulan yang terbit di langit.

 

Also posted on: Wattpad || Author’s Blog

Previous chapter: Chapter 0 (Must Read!)

Kalian mungkin membutuhkan bantal, kopi, atau apapun untuk menghibur kebosanan karena chapter ini super panjaaang J

 

Recommended Song: Jang Jae In feat NaShow-Auditory Hallucination

 

 “Permainan ini dimulai ketika matahari mulai tenggelam, ketika bulan masih tertutupi awan. Saat itu, bersiaplah, karena permainan baru saja dimulai…”

 

 

 

“Ya Tuhan, mana ada Ratu makan es krim seperti itu,” Sehun meledek Yun Hee untuk kesekian kalinya hari ini.

Setelah pulang dari taman bermain, Sehun menepati janjinya kepada Yun Hee untuk membelikan es krim. Tidak jadi dengan pabriknya, karena gadis itu hanya meminta dua cone es krim saja, rasa coklat dan stroberi. Yun Hee percaya-percaya saja jika Sehun dapat membelikan pabrik es krim saat itu juga, tapi permintaannya tadi hanyalah sebuah lelucon belaka.

Yun Hee juga tahu jika Sehun yang berjalan agak di belakangnya sedang sangat kerepotan. Tangan kanannya mengapit tali tas ransel Yun Hee serta membawa segelas plastik bubble tea dan tangan kirinya merangkul boneka unicorn besar yang mereka peroleh dari salah satu permainan di taman bermain tadi. Ia hanya membiarkannya, tak berniat membantu. Ia berpendapat bahwa memang sudah jadi kewajiban laki-laki untuk membawakan barang-barang si perempuan ketika mereka berkencan. Berkencan? Yah, anggap saja begitu.

“Bukankah kau sengaja mengajakku lewat jalan sepi ini? Berarti aku tidak perlu khawatir dengan image-ku.” Ujar Yun Hee sembari masih sibuk menikmati kedua es krimnya.

Siswa perempuan tersebut tiba-tiba mendapati anak anjing yang terluka kakinya tepat di tengah badan jalan, “Ya Tuhan, anjing yang malang…”

Ia menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada kendaraan yang lewat lalu berbalik ke arah Sehun, “Bisakah kau pegangkan es krim ini sebentar?”

Sehun dengan kerepotannya -lagi- menerima kedua es krim tersebut. Yun Hee lalu melangkah ke tengah badan jalan, berniat mengambil anak anjing itu.

Yun Hee mengamati luka anak anjing tersebut ketika ia telah berhasil memeluknya. Luka itu terlihat baru dan tidak terlalu parah, sehingga mungkin dapat sembuh dengan cepat. Ia berpikir jika akan membawanya ke dokter istana setelah ini. Yun Hee sedikit menimang-nimang anak anjing itu untuk menenangkannya karena sepertinya ia terlihat ketakutan. Gadis tersebut tiba-tiba menyadari jika ada bunyi deruman yang keras, tetapi sebelum ia sempat menoleh, teriakan Sehun lebih dulu mengalihkan perhatiannya.

“Awas!”

“Kena-…” Yun Hee baru akan menoleh ke arah Sehun, tetapi tubuhnya telah terdorong lebih dulu.

Brak!

Yun Hee terlempar dengan bunyi benturan keras yang terdengar selanjutnya. Ia mencium bau anyir dari cairan pekat yang meleleh di pelipisnya. Ia mencoba membuka matanya yang terasa berat ditambah kepalanya yang berdenyut hebat. Gadis itu bergerak sedikit. Tidak bisa. Dirinya menyadari lengan kirinya tak bisa digerakkan dan anjing kecil yang menggonggong di dekapannya.

Ia kemudian mencoba bangkit dengan bertumpu pada tangan kanannya. Matanya yang buram masih dapat membantu mengenali posisinya yang kini berada di pinggir jalan. Anjing di sampingnya makin menggonggong seperti kesetanan tapi tak ia pedulikan, kepalanya sudah cukup pusing mengenali boneka unicorn, dua cone es krim, bubble tea serta tasnya yang berserakan. Yun Hee kemudian menoleh ke sisi lain dan mendapati pemandangan yang tak ingin ia lihat sama sekali. Seumur hidupnya. Jangan lagi.

“S-Sehun… Oh Sehun!”

***

April 11th 2017

Jaseondang[1], Donggung[2], New Gyeongbokgung Palace[3], Seoul

Jo Yun Hee terduduk seketika, matanya kemudian menilik ke sekitar untuk menyadari jika mimpi buruk itu datang lagi. Ia mengatur napasnya yang terengah-engah sementara memori itu terus terputar seperti film. Gadis itu meringis kemudian memegangi kepalanya yang pening.

Ketakutan itu muncul lagi. Rasa bersalah itu muncul lagi. Ia gemetaran dan ingin menangis, tapi ia sudah lelah akan hal itu. Kepalanya jadi makin sakit dan serasa mau pecah. Badannya juga makin gemetaran dan Yun Hee bergidik karena keringat dinginnya makin banyak.

Tangannya kemudian menyibak selimut dan meraih pegangan laci di nakas samping tempat tidurnya. Ia merogoh cukup dalam lalu menarik botol putih berukuran sedang. Gadis itu dengan tergesa-gesa menumpahkan sebagian isinya­­­ -pil-pil benzodiazepine– ke tangan kanannya dan menelan salah satu dari mereka.

Ia kemudian mengatur napas kembali setelah pil itu berhasil tertelan dengan seteguk air. Beberapa menit kemudian sakit kepalanya sedikit mereda dan gadis itu memutuskan untuk duduk di pinggir ranjang.

Ia menoleh ke meja berisi pigura-pigura dengan aksen kuning emas. Terlihat kumpulan foto Yun Hee dari kecil sampai saat ini, kemudian fotonya bersama kakaknya, Jo Eun –pengawal khususnya-, serta fotonya dengan anak laki-laki yang tersenyum cerah merangkul pundak Yun Hee. Di sebelah atas meja itu terdapat pigura dinding seukuran setengah badan manusia dewasa yang pinggirannya dihiasi motif bunga teratai dengan aksen kuning emas juga. Di sana tampak dua orang figur, laki-laki dan perempuan -ayah dan ibunya-. Matanya menatap pilu benda-benda tersebut.

Diliriknya jam dinding berpendulum -yang menambah kesan klasik kamarnya dengan kotak yang berwarna coklat tua- menunjukkan pukul delapan. Tangannya kemudian meraih sebuah remote di nakas dan menekan sebuah tombol. Seketika tirai jendelanya terbuka, membuat cahaya matahari pagi menembus kamarnya.

Yun Hee menyesap aroma sinar matahari yang menghangatkan partikel udara di kamarnya. Hangat, menyegarkan walau ada secuil bau apek. Kegiatannya itu terinterupsi oleh sebuah bunyi dari interkom di samping pintu kamarnya. Ia mendesah, yakin kalau akan diomeli kembali karena bangun terlalu siang.

Gadis belia tersebut terlalu malas untuk melihat itu siapa karena jarak ranjang dan pintu kamarnya -yang lebih terlihat seperti apartemen mewah- cukup jauh. Akhirnya dirinya hanya bergerak mengambil ponselnya di nakas, lalu menyambungkannya dengan interkom.

“Yang Mulia, Apakah Yang Mulia sudah bangun? Kepala Pelayan Yang akan menyampaikan jadwal Yang Mulia hari ini.”

“Ya, masuklah…”

Tanpa pikir panjang, Yun Hee kembali ke pinggir ranjang lagi. Merapikan ceceran pil tadi dan menyembunyikan botol tadi ke tempat semula. Kemudian dengan cepat ia merapikan ranjang sambil melirik ke sekitar untuk mengecek apakah masih ada pil-pil yang tercecer. Tangannya berhenti merapikan selimut ketika perempuan setengah baya sudah ada di depannya. Perempuan itu menunduk kepadanya kemudian tersenyum.

“Yang Mulia, ranjang anda bisa dirapikan oleh pelayan istana, anda tidak perlu melakukannya.”

Badan Yun Hee menegak, menata wajahnya dengan tersenyum cerah, “Ah, tidak Yang Ajumma, aku ingin melakukannya sendiri kali ini.”

“Umm, maaf aku bangun terlalu siang lagi…” kata Yun Hee kemudian karena ia yakin perempuan paruh baya itu pasti tahu kalau ia baru bangun tidur hanya dengan melihat penampilannya saat ini -yang masih mengenakan slipper dan piyama bermotif unicorn-nya-.

Orang yang dipanggil Yang ajumma oleh Yun Hee itu tersenyum kembali dan membuka sedikit map hijau yang dari tadi ia bawa, “Kelihatannya tidak apa-apa Yang Mulia. Jam belajar anda di Bihyeongak dimulai pukul 10.”

Yang ajumma menghentikan perkataannya sejenak, menutup map hijaunya dan berganti menatap Yun Hee dengan serius, “Persiapan sudah selesai Yang Mulia. Anda bisa berangkat kesana pukul 12 dan akan dikawal oleh Wakil Kepala SKRSS[4] dan timnya.”

Yun Hee juga ikut memasang wajah serius, menanggapi kepala pelayan tersebut, “Kau sudah pastikan tidak akan ada yang tahu soal ini, kan?”

“Selain saya, anda, Yang Mulia He Ra, Tuan Muda Chanyeol, Pengawal Jo Eun, Wakil Kepala Kim, dan timnya, tidak ada yang mengetahui tentang hal ini.”

Yun Hee mengangguk, “Bagus.”

“Anda harus sangat berhati-hati Yang Mulia.”

“Tenang saja. Lagipula wakil kepala yang baru itu dikatakan sangat berbakat sekali dan juga mantan tentara. Walaupun aku sendiri belum pernah melihatnya, aku yakin dia orang yang bisa dipercaya dalam hal ini,” ujar Yun Hee sambil tersenyum sekilas melihat raut khawatir wanita paruh baya tersebut.

Ia beralih merangkul pundak wanita yang telah merawatnya sejak dirinya berumur tujuh tahun tersebut, “Sekarang Yang Ajumma temani aku sarapan, ya?”

Yun Hee tersenyum bahagia ketika mendapatkan anggukan setuju dari wanita tersebut. Figur manisnya kini sangat bertolak belakang dengan keadaannya beberapa menit yang lalu.

Yang ajumma berganti membalas senyum dari Yun Hee. Ia hanya bisa pasrah menuruti kemauan yang mulianya itu, karena ketika ia menolak pun, gadis penuh senyum tersebut akan terus memaksanya.

Keduanya bergerak ke ruang makan Jaseondang. Yun Hee menepuk-nepuk pelan pundak wanita itu sementara ia mengeratkan rangkulannya, “ Aku sangat suka merangkulmu dan memelukmu Ajumma. Bau tubuhmu seperti Eomma-ku.”

Yang Ajumma beralih menatap Yun Hee yang sekarang sedang menatap lurus ke jalan. Ada semburat kesepian disana, dibalik rona senyum yang selalu Yun Hee perlihatkan. Yang Ajumma tentu tahu betul seluk beluk gadis ini. Wanita itu telah mengasuh Yun Hee sejak gadis itu berumur tujuh tahun, tepat setelah kematian ibu Yun Hee yang merupakan Ratu Korea Selatan.

Yun Hee memang terlihat seperti gadis kuat di luar, memang karena dia didik seperti itu. Yun Hee juga selalu muncul dengan karakter ceria dan atraktif-nya. Tapi wanita yang berpangkat Kepala Pelayan Istana tersebut tahu jika gadis ini tidak sepenuhnya seperti itu. Yun Hee kecil yang setiap hari menangis karena kehilangan ibunya, Yun Hee yang harus hidup dengan peraturan ketat kerajaan dan kurangnya perhatian dari ayahnya, Yun Hee yang sama sekali tidak ingin menjadi pewaris tahta, dan Yun Hee yang selalu merasa bersalah atas apa yang terjadi dengan Oh Sehun. Gadis yang akan menginjak umur sembilan belas tahun tersebut telah mengalami berbagai masa-masa sulit di balik senyumnya itu.

“Ah, iya,” Yun Hee tiba-tiba beralih menatap Yang Ajumma dengan tatapan menyelidik, “Apakah Ajummatahu ada dimana Eonni-ku?”

***

Somewhere on Cheongdam-dong, Seoul

“Jo Eun Jung. Jo Yun Ho. Jo He Ra. Park Chanyeol….”

Seorang pria paruh baya dengan semburat putih di rambutnya mengetuk-ngetuk tiap lembar dokumen di tangannya dengan ujung jari telunjuk dan tengah. Ia duduk bersandar di kursi coklat yang empuk dengan ujung kaki yang ditumpukkan ke meja. Sementara bau rokok mengepul di sana karena nyatanya cerutu di asbak samping kakinya belum sepenuhnya padam.

Di ruangan yang mirip dengan ruang kerja tersebut, ia ditemani oleh seorang pria berambut klimis yang terlihat lebih muda darinya. Pria itu tampaknya merupakan orang kepercayaan atau pengawalnya, karena badannya yang tegap dan posisinya yang berdiri di samping kursi pria paruh baya tersebut.

Mata pria itu terlihat asik mengamati gambar seorang laki-laki muda-sekitar umur 20-an-yang berada di lembaran dokumen. Ia menghentikan bacaannya di lembar itu, terlihat tertarik walaupun sisa lembaran di belakangnya masih banyak.

“Eung, kurasa mereka pasangan yang cocok sekali, bukan begitu, Sam?” ia melirik ke atas, melirik pria berambut klimis tersebut yang sedikit-sedikit juga melirik dokumen yang dibawanya. Sementara untuk menanggapinya, orang yang dipanggil Sam itu hanya mengangguk.

“Kurasa sekarang seluruh Korea Selatan mengidam-idamkan mereka, kerja yang bagus…” pria paruh baya itu tersenyum miring.

Ia melanjutkan membuka lembar selanjutnya. Kemudian berhenti di sana ketika melihat isi lembaran itu.

“Jo Yun Hee… Lihat, dia semakin manis saja…”

Tangannya kemudian membuka lembar berikutnya. Dahinya mengerut, “Oh… Sehun?”

“12 April 1995. Calon pendamping Putri Mahkota. Mengalami kecelakaan pada 12 April 2013. Sejak itu mengalami koma sampai saat ini.”

Ia tersenyum lalu terkekeh kecil. Iris hitamnya menoleh pada Sam dan lagi-lagi tersenyum miring dengan cara yang sama, “Baiklah, kurasa aku harus menghubungi anak itu.”

Ia kemudian meraih ponsel pintarnya di meja, menggeser-geser kontak yang dimilikinya dan membuat panggilan ke sebuah nomor. Pria paruh baya itu meletakkan dokumennya ke meja lalu bersandar kembali ke kursi empuknya. Ia menempelkan ponselnya di telinga, tapi setelah ia tunggu beberapa lama tak ada jawaban dari panggilan yang ia buat. Alisnya bertaut dan terkekeh kembali, “Apa dia berlagak sok sibuk?”

***

Physical Training Center, Donggung, New Gyeongbokgung Palace, Seoul

“Satu! Dua! tiga!”

Physical Training Center bagian barat pagi itu diisi oleh dua orang berseragam kendo, satu perempuan dan satu laki-laki, sementara di pinggir arena yang mereka pakai terdapat 2 orang berseragam pelayan istana. Si perempuan, Jo He Ra, matanya mengawasi si laki-laki sambil tetap mendengarkan instruksinya. Ia mengerucutkan bibir sesekali, tapi si laki-laki tersebut seperti tidak melihat tingkah yang sengaja ia buat itu.

“Sekali lagi. Satu! Dua! Akh!” He Ra terkikik karena baru saja ia mengerjai laki-laki itu dengan menghadiahkan pukulan tongkat kayu ke kepalanya, tentu ketika laki-laki tersebut tidak sedang menghadap He Ra. Ia kemudian berusaha menghentikan kikikannya ketika laki-laki bernama Park Chanyeol tersebut berbalik menghadapnya sambil meringis kesakitan dan mengusap-usap kepala.

Ya! Kau ingin dapat hukuman?” Park Chanyeol terlihat mengancam gadis itu dengan memasang wajah marah, tetapi He Ra tahu kalau laki-laki itu tak akan bisa marah padanya.

Tanpa diduga, laki-laki itu mendekatkan tubuhnya ke He Ra, mencondongkan badannya hingga jarak wajah mereka hanya satu inchi. He Ra melotot, berusaha menjauhkan dirinya dan melirik para pelayannya yang otomatis mengalihkan pandangannya karena adegan mereka.

O-oppa…” He Ra melihat Chanyeol tersenyum dari jarak sedekat itu. Mukanya sudah merah padam dan ia melirik lagi ke pelayannya.

“Bisakah kalian tinggalkan kami sebentar?” Ujar He Ra kepada pelayannya.

Kedua pelayan itu bergegas meninggalkan mereka pada posisi seperti itu. He Ra kemudian bisa merasakan kalau napas Chanyeol makin menerpa pipinya.

“Bagus, baby…”

He Ra kemudian memukul dada Chanyeol dan menjauhkan badannya dari badan laki-laki itu, “Ya, mesum! Bagaimana kalau mereka menganggap kita pasangan yang tidak-tidak?”

“Yang tidak-tidak itu seperti apa, hmm?” Chanyeol bersedekap sambil tersenyum jahil.

He Ra meninggalkan laki-laki tersebut dan bergerak menuju tasnya yang berada di pinggir arena. Ia mengambil dua botol air mineral dan salah satunya ia berikan pada Chanyeol yang menghampirinya. Sementara itu Chanyeol mengambil handuk dari tas yang sama lalu menyeka dahi He Ra.

He Ra mengerucutkan bibirnya lagi. Chanyeol yang melihatnya sebenarnya gemas sekali jika gadis itu mulai bertingkah seperti itu. Tapi kali ini ia diam saja, hanya terus melanjutkan pekerjaannya menyeka keringat gadis tersebut, “Kau marah?”

He Ra kemudian beralih duduk di lantai ruangan pelatihan itu dengan Chanyeol yang mengekori disebelahnya. Ia meminum air mineralnya dan sama sekali tak memandang laki-laki yang duduk bersila di sampingnya itu.

“Sepertinya. Mentang-mentang kau seorang pelatih, kau membentak-bentakku tadi.”

“Itu kulakukan juga untukmu,” Chanyeol berkata dengan nada cassanova-nya, dagunya kemudian bertumpu pada tangan kirinya yang mengepal. Chanyeol menatapi He Ra tapi gadis itu tak juga menoleh.

“Baiklah, itu bisa diterima.” He Ra akhirnya menoleh pada Chanyeol, “Dan berhentilah bergaya cassanovaseperti itu, Oppa!”

“Kenapa? Tenang saja, hal ini kulakukan hanya padamu,” Chanyeol tersenyum, menyadari ada semburat merah di rona gadis itu. Chanyeol benar-benar suka melihat wajah gadisnya yang seperti itu.

“Aku lelah…” Chanyeol lalu menyandarkan kepalanya pada pundak kecil He Ra. Sementara itu He Ra hanya tersenyum kecil meresponnya sambil mengelus pelan rambut Chanyeol.

“Bagaimana persiapannya?”

Chanyeol terdiam, terlihat berpikir sejenak ketika gadis itu menanyai hal tersebut. Ia menghembuskan napas perlahan, “Sejauh ini baik.”

Chanyeol tiba-tiba bangkit dari pundak He Ra dan menempelkan ujung telunjuk pada in-ear walkie talkie-nya. Laki-laki itu mengisyaratkan agar He Ra memberi waktu untuknya sebentar dan gadis itu langsung mengangguk menyanggupi.

Agen Y11, 1200 [5] telah selesai dan tidak ditemukan 16[6].

Laki-laki itu kemudian terdiam sejenak sebelum membalas orang di seberang sana, “Baiklah, laporan diterima.”

He Ra menatapinya dan sadar ada yang tidak beres dari Chanyeol, “Kenapa? Ada masalah?”

Chanyeol menggeleng, “Hanya laporan pemeriksaan area.”

He Ra hanya meng-oh-kan saja, berniat percaya pada Chanyeol kalau memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang acara lusa. Chanyeol adalah seorang agen, ia tahu jika para agen memang tidak bisa menceritakan semua fakta yang mereka ketahui dengan sembarangan orang, termasuk keluarga kerajaan sekalipun. Jadi ia memilih percaya saja dan menghargai profesi kekasihnya tersebut.

“Ngomong-ngomong, lusa aku bisa bertemu dengan Wakil Kepala Kim lagi,” He Ra berniat mengganti topik pembicaraan-sekaligus menggoda Chanyeol.

“Hah, aku tak menyangka kalau atasanku sendiri akan menjadi sainganku,”  Chanyeol melirik He Ra yang tengah tersenyum-senyum sendiri dengan sebal. Ia akhirnya mendengus dan mengalihkan pandangannya dari gadis tersebut.

He Ra jadi tersenyum geli dan semakin meneruskan godaannya, “ Aku jadi teringat saat acara kenaikan pangkatnya dua bulan yang lalu. Wakil Kepala Kim memang laki-laki yang sangat tampan dan berkharisma.”

“Aku jauh lebih tinggi daripada dia.”

He Ra akhirnya tergelak setelah melihat wajah chanyeol yang makin tertekuk. Pipi Chanyeol kemudian ia tarik-tarik dengan pelan, “Cemburu ya?”

Chanyeol hanya bergerak menghindari tangan He Ra. Gadis itu akhirnya menghentikan tawanya, “Sebenarnya apa yang kau khawatirkan Oppa? Kita bahkan sudah bertunangan. Kau harus belajar mengurangi sifat gampang cemburuanmu itu.”

Chanyeol segera menghadap wajah He Ra, “ Karena kau begitu sempurna He Ra. Laki-laki di luar sana sebagian besar menjadikanmu sebagai tipe idealnya. Apalagi kau adalah seorang putri.”

He Ra tersenyum tipis sambil tangannya tergerak mengelus pipi Chanyeol, “Terimakasih atas pujiannya. Tapi asal kau tahu, aku tak mempedulikan mereka. Aku hanya mempedulikanmu dan hanya memilih kau sebagai pendamping hidupku.”

Senyum Chanyeol mengembang diiringi oleh senyum He Ra. “Tunggu, tapi kau harus diberi hukuman karena telah menggodaku tadi,” ujar laki-laki itu tiba-tiba.

“Lakukan saja.”

Senyum miring kemudian tercetak di wajah Chanyeol. Laki-laki itu makin mengikis jarak diantara mereka hingga ia bisa merasakan napas He Ra menerpa wajahnya. Ia melihat He Ra yang otomatis menutup mata dan laki-laki itu pun membisikkan ucapan terimakasih sebelum memangkas jarak di antara mereka lagi.

Chanyeol menjauhkan wajahnya setelah mengecup bibir ranum He Ra sebanyak dua kali, “Kurasa ini saja tidak cukup, kan?”

He Ra yang telah membuka matanya hanya mengangguk. Chanyeol lagi-lagi tersenyum miring melihat muka kekasihnya yang bisa sebegitu polos di saat seperti ini. Laki-laki tersebut kembali mendekatkan wajahnya ke wajah He Ra. Selanjutnya ia melumat bibir He Ra dengan lembut. Gadis itu menyambut dengan baik atas tindakannya dan hal tersebut membuat tautan mereka semakin dalam. Tangan kiri Chanyeol tergerak memeluk pinggang He Ra sementara tangan kanannya mengelus kepala belakang  kekasihnya.

Tanpa diduga, ponsel He Ra berdering begitu saja, disusul oleh ponsel Chanyeol. Ponsel mereka berdering di saat waktu yang sama sekali tidak tepat. Chanyeol melepaskan tautan bibirnya dari bibir He Ra lalu mengumpat pelan. Keduanya kemudian menjauhkan badan mereka dan beranjak ke tas masing-masing.

Oppa, kau dapat pesan dari He Ra juga?” ujar He Ra setelah berhasil menemukan ponselnya dan membaca pesan yang telah berhasil mengganggu acara mereka tadi.

Chanyeol mengangguk, “Iya. Dia mengatakan masih akan kuliah di Bihyeongak.”

“Aku masih ragu apakah aku harus melarangnya atau tidak. Bagaimanapun juga pergi diam-diam seperti ini sangat membahayakannya,” ujar He Ra sambil wajahnya berubah muram.

“Tapi ia sudah memohon-mohon seperti itu,” tangan Chanyeol tergerak memegang lembut lengan gadisnya, “ Tenang saja. Wakil Kepala Kim telah mengatur alibinya sehingga kontrol sementara akan berada di tanganku. Mereka juga akan memberi laporan pergerakan mereka selama mereka di luar.”

“Baiklah,” He Ra hanya mendesah dan mengangguk pelan, “Sekarang lebih baik Oppa mulai bersiap-siap dan juga menemui Wakil Kepala Kim, aku akan kembali ke ruanganku.”

Chanyeol masih terdiam sementara He Ra beralih menata barang-barangnya di dalam tas. Suatu hal lagi-lagi membuat ia berpikir keras.

***

North Pavilion, Bihyeongak[7], Donggung, New Gyeongbokgung Palace, Seoul

“Baiklah, kalau begitu tugas untuk minggu depan adalah review jurnal tentang bab ini.”

Yun Hee menata buku-bukunya ketika dosennya mengakhiri kuliah hari ini. Jo Eun yang disampingnya juga melakukan hal sama. Pelayan-pelayan istana yang dari tadi berjajar dipinggir ruangan mulai bergerak menghampiri meja Yun Hee, bermaksud untuk membawakan buku-buku serta alat tulis gadis tersebut lalu mengucapkan salam undur diri untuk menuju Jaseondang.

Yun Hee kemudian bergerak mendekati dosennya yang akan beranjak dari meja, “ Maaf Jung Gyosunim, anda jadi repot-repot ke sini karena aku.”

Laki-laki yang berprofesi dosen tersebut tersenyum, putri yang termasuk mahasiswanya tersebut selalu meminta maaf tiap kali ia harus bertandang ke sini, “Tidak apa-apa Yang Mulia, memang seharusnya seperti itu mengingat penjagaan yang harus diperketat menjelang acara pewarisan tahta. Lagipula mengajar di paviliun ini cukup menyenangkan.”

Dosen yang sebagian rambutnya telah memutih tersebut kemudian pamit undur diri. Yun Hee serta Jo Eun yang mengekorinya mengantarkan dosen tersebut sampai ke depan paviliun dan memberi salam padanya.

Yun Hee mendesah pelan melihat punggung dosennya yang perlahan menjauh, dirinya kemudian beralih masuk ke paviliun lagi. Ia bergerak ke pinggir paviliun disertai Jo Eun yang dari tadi setia mengikuti pergerakannya.

Sekarang hanya ada dua gadis tersebut di paviliun yang terletak di tengah-tengah kolam –yang sebenarnya lebih mirip dengan danau karena saking luasnya-. Paviliun tersebut memiliki arsitektur khas bangunan tradisional negerinya. Bangunan itu bertiangkan kayu dan langit-langitnya terbuat dari kayu yang dilengkapi dengan ukir-ukiran burung maupun naga. Jembatan batu dengan balustrade sebagai pinggirannya menghubungkan paviliun itu dengan pinggir kolam.

Putri mahkota tersebut memandang jauh ke pinggir kolam yang dihiasi oleh pohon-pohon sakura yang bunganya bermekaran. Aroma khas kayu pinus penyusun paviliun kembali menyambangi indera penciumannya, membuat Yun Hee merasa nyaman.

Gadis itu harus menjalani kuliahnya di sini selama sebulan belakangan ini akibat pewarisan tahta yang akan dilakukan sebentar lagi. Padahal Yun Hee masih mahasiswa semester awal, ia merasa bersalah pada dosen-dosennya yang harus repot-repot datang ke sini hanya untuk mengajarnya.

Yun Hee kemudian menoleh pada Jo Eun yang dari tadi terdiam di sampingnya, “Eonni, kau tak berangkat ke rumah sakit?”

Jo Eun terkesiap karena sebenarnya ia juga ikut-ikutan melamun seperti majikannya, “Sebentar lagi, aku akan menemanimu sampai Wakil Kepala Kim datang.”

Jo Eun tidak bisa menemani Yun Hee dalam ‘misi khusus’ yang akan ia jalankan. Yun Hee telah memberikannya izin untuk tidak ikut sejak seminggu yang lalu karena ia tahu kalau Jo Eun harus menemani ibunya yang akan operasi usus buntu siang ini.

“Sudahlah tidak apa-apa. Sebentar lagi pasti mereka akan datang, aku tidak apa-apa jika menunggu sebentar di sini.”

“Tidak apa-apa, lagipula operasinya masih satu jam lagi,” Jo Eun memberi alasan kembali. “Seandainya operasinya tidak hari ini…”

“Ibumu lebih penting Eonni…

“Tapi aku tetap merasa bersalah, seharusnya aku tetap melaksanakan tugas, tapi kau malah menyuruhku untuk pergi menemani Ibuku saja.”

Yun Hee tersenyum tipis melihat pengawalnya yang terlihat masih tak terima dengan keputusannya itu, “Hitung-hitung rasa terima kasihku karena sudah menemaniku kuliah di Bihyeongak selama sebulan ini.”

“Kalau itu juga memang sudah kewajibanku. Kau juga yang membuatku bisa menikmati semua fasilitas yang sebenarnya tak bisa didapatkan oleh agen biasa.” Jo Eun membenarkan ucapannya dalam hati. Gadis itu bisa menempuh sekolah menengah atas di Amerika, mengenyam pendidikan di perguruan tinggi, serta mencukupi kebutuhan keluarganya berkat kemurahan hati Yun Hee. Jo Eun sebenarnya sudah putus sekolah selama dua tahun saat ia dipilih menjadi pengawal khusus untuk putri mahkota. Keluarganya dulu tidak sanggup membiayai sekolah Jo Eun sehingga gadis itu memutuskan untuk masuk ke akademi SKRSS saja dengan beasiswa yang dimilikinya akibat kepandaiannya dalam bela diri.  Pada akhirnya Jo Eun dapat menimba ilmu kembali berkat posisi yang ia peroleh.

“Itu juga hitung-hitung karena kau selalu menemaniku. Sudahlah aku tak mau berdebat lagi denganmu Eonni,” ujar Yun Hee sambil menarik kedua pipi Jo Eun.

Jo Eun mengaduh serta mengelus pipinya setelah berhasil terlepas dari tangan Yun Hee, “Sebenarnya aku juga sangat menyayangkannya karena kesempatanku bertemu Wakil Kepala Kim kandas.”

Obrolan keduanya tentang Wakil Kepala Kim yang dikatakan Jo Eun memiliki wajah rupawan dimulai dengan lontaran kalimat tersebut. Keduanya tak lagi berdebat seperti tadi. Kini mereka lebih terlihat sebagai sepasang sahabat yang sedang mengobrol dengan seru ketimbang sebagai putri mahkota  dan pengawalnya. Obrolan mereka yang bergerak dari topik satu ke topik lainnya harus terhenti akibat ponsel Jo Eun yang tiba-tiba berdering. Ayah Jo Eun ternyata menelfon gadis tersebut untuk memberitahukan kalau operasinya akan dimulai kurang dari satu jam lagi. Yun Hee lagi-lagi mengusir Jo Eun dengan paksa agar pengawalnya itu segera berangkat ke rumah sakit. Jo Eun akhirnya menurut pada Yun Hee setelah dipaksa berkali-kali.

Yun Hee sekarang hanya seorang diri di paviliun. Netranya tertuju pada ikan-ikan di kolam, tapi pikirannya tidak fokus di situ.

Terbersit sedikit rasa senang hingga ia tersenyum tipis. Akhirnya ia bisa menjenguk Sehun nanti. Sebenarnya ia hanya ingin menjenguk Sehun dan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya berhubung besok adalah ulang tahun Sehun. Namun peraturan istana yang tidak memperbolehkannya untuk keluar istana selama sebulan ini begitu ketat, hingga ia akhirnya harus menyusun ‘misi khusus’. Pada dasarnya peraturan itu bersumber dari ayahnya yang tak dapat ia tentang –atau memang karena Yun Hee tak mau repot-repot menemui ayahnya-.

Yun Hee sibuk berpikir hingga ia tak sadar kalau sekelompok pria yang memakai setelan jas hitam telah berkumpul di depan paviliun. Di samping sekelompok pria tersebut berdiri Kepala Pelayan Yang yang menyadari gadis tersebut tengah melamun.

“Selamat siang Yang Mulia. Tim yang akan mengawal anda telah siap.”

Ucapan salam dari Pelayan Yang memecah lamunan Yun Hee. Gadis itu melihat Pelayan Yang yang telah berdiri di depan paviliun disertai dengan sekelompok pria berpakaian rapi. Pandangannya terhenti ketika mendapati rupa salah satu pria yang menggelitik pikirannya. Yun Hee sama sekali tak yakin dengan penglihatannya kini.

Cepat-cepat Yun Hee menuju ke depan mereka. Ia mendapat tundukan salam dari Pelayan Yang maupun sekelompok pria tersebut, tapi pandangannya tertuju pada satu pria guna memastikan penglihatannya.

Yun Hee mendengar Pelayan Yang memperkenalkan pria tersebut sebagai Wakil Kepala SKRSS yang baru, Kim Jun Myeon. Tangan Yun Hee gemetaran dan ia agak terperanggah karena kemungkinan besar penglihatannya benar. Pria tersebut adalah pria yang pernah ditemuinya sekitar tiga tahun yang lalu. Gadis itu masih ingat memori itu, karena akibat peristiwa tersebut ia harus dilarikan ke rumah sakit oleh Jo Eun.

“Perkenalkan saya Kim Jun Myeon, Wakil Kepala SKRSS yang baru dilantik dua bulan yang lalu. Senang bisa bertemu dengan anda Yang Mulia.”

“Kim… Jun Myeon?” Yun Hee mendadak merasakan lidahnya kelu, “K-kau… apakah kau… tentara yang waktu itu? Apakah kita pernah bertemu?”

Yun Hee berharap jika pria di depannya akan mengiyakan pertanyaannya. Bagaimanapun juga insiden kecelakaan yang dialami seorang tentara –yang ia yakini adalah pria di depannya- di jalanan New York telah menimbulkan bekas di ingatannya. Hingga kini ia masih berharap jika tentara tersebut tidak terluka parah dan baik-baik saja.

“Benar Yang Mulia, saya tentara itu.”

Dengan itu, Yun Hee kontan memeluk Jun Myeon. Yun Hee tak berpikir panjang dan malah menangis sesenggukan di dada pria itu.

“A-aku khawatir sekali padamu… aku kira… aku kira terjadi sesuatu yang buruk padamu akibat kecelakaan waktu itu.”

Para bawahan Jun Myeon mendadak memalingkan wajahnya sebab ulah Yun Hee. Pelayan Yang sempat terperanggah dan akhirnya memalingkan pandangannya juga. Sementara itu Jun Myeon terpaku, tidak tahu harus merespon bagaimana atas pelukan yang tiba-tiba dilakukan oleh putri mahkota tersebut.

***

Seoul National University Hospital, Seoul

Mobil yang membawa Jo Yun Hee dan Kim Jun Myeon telah sampai di pelataran Seoul National University Hospital. Yun Hee senang sekali karena ia akhirnya bisa menjenguk Sehun, sebersit rasa senang yang lain juga muncul karena mengetahui keadaan tentara yang pernah ia temui tiga tahun yang lalu ternyata baik-baik saja. Namun di sisi lain ia tidak senang karena orang yang mengantarnya ini diam saja dari tadi, seperti tidak mau diajak bicara.

Yun Hee menduga mungkin karena gerakan refleksnya tadi. Ia kembali mengumpat pada dirinya sendiri mengingat kejadian tersebut. Entah kenapa dirinya bisa melakukan refleks tak terduga seperti itu.

Kim Jun Myeon bergegas membukakan pintu mobil untuk Yun Hee, mempersilahkannya dengan hormat dan berjalan agak dibelakangnya. Sementara anggota tim Jun Myeon tetap berada di dalam mobil mereka.

Seperti yang diduga, tidak ada pembicaraan lagi diantara mereka ketika melewati pelataran. Yun Hee bingung harus meminta maaf atau bagaimana kepada pria yang mengekorinya itu.

Gadis tersebut kemudian berjalan agak mundur, menyamakan langkah dengan Jun Myeon. “Akan lebih baik untuk menyamar jika berjalan sejajar seperti ini, kan?” ia terhenti sejenak, “Maafkan atas refleksku tadi…”

Jun Myeon menatap Yun Hee dan mengangguk singkat. Setelah itu pria tersebut kembali memandang ke depan. Yun Hee terkejut pada dirinya sendiri karena tidak biasanya ia seperti ini. Biasanya ia akan cepat akrab dengan para pengawalnya maupun orang-orang yang baru ia temui, tetapi kini ia malah kikuk seperti ini.

“Aku benar-benar berterima kasih karena Wakil Kepala Kim mau mengantarku ke sini. Maka dari itu… mari kita saling akrab,” Ucap Yun Hee yang menengok ke arah Jun Myeon dengan senyum lebar.

Dan Jun Myeon… hanya mengangguk. Yah… setidaknya ia mendapatkan respon, pertanda kalau mungkin Jun Myeon tidak marah padanya atas kejadian tadi.

Jun Myeon masih lebih banyak terdiam seperti yang ia temui dulu. Bedanya dulu saat ia bertemu dengan Jun Myeon, pria tersebut memiliki air muka yang muram sekali, sedangkan sekarang air muka pria tersebut tak berekspresi. Rambutnya juga tertata rapi dan lebih panjang daripada rambut ala tentara yang ia lihat pada Jun Myeon tiga tahun yang lalu.

Di sepanjang koridor rumah sakit yang mereka lalui, Yun Hee mengamati  orang yang berlalu lalang serta para pasien dan paramedis yang mereka temui di sepanjang jalan. Yun Hee menduga kalau di antara mereka merupakan para agen SKRSS.

“Kau menyebar tim-mu dengan baik,” seloroh Yun Hee.

Gadis itu juga tak lupa mengamati Jun Myeon. Laki-laki itu sibuk melirik ke kiri-ke kanan, mengamati keadaan sekitar mereka. Kadang juga Jun Myeon seperti bergumam sendiri, terlihat seperti menghapal sesuatu.

“Oh, daebak. Lihat, matamu seperti elang, dari tadi kau meneliti ke sekitar terus,” ujar Yun Hee.

“Itu adalah hal paling dasar yang harus dilakukan ketika para agen di lapangan, VIP. Kita harus mengecek secara teliti semua benda, ruang, dan orang-orang di sekitar VIP untuk menghindari ancaman bahaya. Selain itu kita juga harus mengetahui letak-letak pintu darurat dan sebagainya yang berhubungan dengan penyelamatan,” jawab Jun Myeon panjang.

Yun Hee menganga karena ternyata Jun Myeon menjawabnya dengan panjang sekali -kalimat terpanjang yang ia temui sejak ia bertemu laki-laki ini tadi atau bahkan sejak tiga tahun yang lalu- dan lebih mirip narasi dokumenter. Datar, panjang, serta kadang membuat kita mengantuk.

“Ah, begitu… tapi, memakai ini membuat aku merasa seperti agen sungguhan,” Yun Hee agak menyingkap mantelnya, memperlihatkan rompi pelindung peluru yang ia pakai dan tersenyum tiga jari seperti anak kecil yang mendapatkan mainan baru.

Yun Hee kini memakai baju kasual biasa yang tertutupi oleh mantel panjang berwarna merah maroon, kaca mata hitam, dan juga topi hitam yang dapat menutupi sebagian besar bagian wajahnya. Yun Hee memang sengaja memakai perlengkapan itu karena Jun Myeon yang menyuruhnya dan juga sebagai syarat agar ia boleh keluar istana kali ini. Sebelum-sebelumnya Yun Hee memang pernah keluar dari istana dengan memakai perlengkapan penyamaran ataupun tidak -tentunya dengan Jo Eun-, tapi karena kali ini menyangkut peningkatan penjagaan menjelang pewarisan tahta, ia harus menurut saja untuk disuruh memakai perlengkapan tersebut.

Dan respon Jun Myeon atas ucapan Yun Hee masih seperti biasa, hanya mengangguk. Yun Hee menelan ludah melihat hal itu, “Arraseo.”

Sret!

Jun Myeon kontan memeluknya, dan Yun Hee nyaris tertabrak rombongan pasien serta tenaga kesehatan ketika melalui tikungan koridor rumah sakit. Untung saja Jun Myeon menariknya. Untung saja sampai Yun Hee menyadari jika ia bisa melihat wajah Jun Myeon dengan jelas, terlalu jelas, sangat terlalu jelas malah. Dan itu membuat Yun Hee… gugup. Sekali.

Jun Myeon yang ditatapi Yun Hee kontan menjauhkan kontak mereka. Menoleh ke kanan kiri untuk memastikan tidak ada lagi yang akan membahayakan putri mahkota itu. “VIP harus lebih berhati-hati lagi.”

“Ah ya… baiklah…” Jawab Yun Hee sekenanya karena masih gugup. Ia menggosok-gosok permukaan lubang hidungnya dengan punggung telunjuk kiri. Hidungnya menangkap aroma-aroma kayu dari wangi tubuh Jun Myeon. Mungkin parfum laki-laki ini sejenis Brit for Men dari Burberry atau kalau tidak B*Mendari Thierry Mugler. Yun Hee menggelengkan kepalanya, tak yakin dengan apa yang ada di isi otaknya.

Setelah itu, tidak ada percakapan antara mereka sepanjang koridor rumah sakit. Yun Hee yang selama ini menjadi pencetus ide percakapan, memilih diam untuk meredakan rasa gugupnya tadi. Sementara Jun Myeon masih diam dan sibuk mengawasi sekitar seperti tadi.

Langkah keduanya terhenti ketika mereka sampai di kamar 68. Itu adalah kamar Sehun. Terlihat dua orang bertubuh tegap -pengawal kelihatannya- di samping kanan kiri pintu kamar tersebut. Kedua orang itu memandang Yun Hee dan Jun Myeon, lalu Jun Myeon memberi sinyal berupa anggukan dan kontan kedua orang tersebut mempersilahkan Yun Hee untuk masuk.

Kegugupan Yun Hee akibat Jun Myeon telah mereda tetapi kegugupan yang lain muncul.  Ia meraih kenop pintu dengan tangan bergetar. Gadis tersebut menghembuskan napasnya untuk memenangkan dirinya. Perasaannya campur aduk sekarang.

“Kau bisa tunggu di sini, aku usahakan tidak akan lama,” ujar Yun Hee tanpa menoleh pada Jun Myeon. Gadis itu akhirnya melenggang masuk ke kamar bernomor 68 tersebut.

“Akan saya laksanakan, VIP.”

***

Menurutmu ini berbahaya?

Kim Jun Myeon makin menempelkan ponselnya ketelinganya,“Aku pikir tidak.”

Ia mengetuk-ngetuk ujung sepatunya ke lantai, berdiri di depan kamar nomor 68 sejak 15 menit lalu. Ia telah mengusir secara halus dua pengawal yang berjaga di depan pintu kamar Sehun, beralasan kalau harus mengangkat telefon penting. Matanya mengamati sekitar, lalu menemui celah kecil di jendela kaca kamar tersebut yang tidak tertutupi kelambu.

Matanya menyipit, menemukan Yun Hee tengah duduk di samping ranjang seorang laki-laki yang kabarnya telah koma sejak empat tahun lalu. Gadis tersebut juga telah melepas kacamata dan maskernya, sehingga rona mukanya yang pucat semakin kentara. Karena pandangannya yang terbatas, dia tak bisa melihat dengan jelas wajah laki-laki itu, tapi ia bisa cukup jelas melihat wajah Yun Hee yang duduk menghadap ke arahnya.

Aku juga berpikiran seperti itu. Yang terpenting adalah apa yang telah kita persiapkan harus berjalan dengan baik.

Jun Myeon tak cepat menjawab lawan bicaranya di seberang sana karena tengah melihat pemandangan yang cukup menyita matanya. Ia melihat di dalam kamar itu, gadis itu, Jo Yun Hee, menangis. Entah, ia tak bisa menjelaskan kenapa pemandangan itu bisa membuat ia berkonsentrasi seperti ini. Tapi yang jelas ada perasaan yang sulit dicerna ketika gadis itu menangis dalam jangkauan matanya.

“Tentu.”

Dan dengan kata itu, Jun Myeon menutup sambungannya. Ya… semua rencana yang telah ia siapkan harus berjalan dengan baik, termasuk… rencana membunuh orang itu.

***

“Kau mengintipku?” todong Yun Hee pada Jun Myeon yang menyodorinya sapu tangan ketika ia keluar dari kamar Sehun. Walau begitu Yun Hee tetap menyembunyikan mukanya dari Jun Myeon dan mengambil juga sapu tangan yang disodorkannya.

“Tidak, VIP.”

Yun Hee mengelap sisa-sisa air matanya. Setelah ia merasa sudah cukup baik, ia menoleh pada Jun Myeon, “Jujur saja, kau mengintipku, kan?”

“Sekali lagi saya katakan tidak, VIP. Hal itu dilarang, dalam pasal 46 tentang Hak dan Kewajiban SKRSS mengatakan bahwa para agen dilarang untuk mencampuri kepentingan dan urusan pribadi anggota keluarga kerajaan.”

Jun Myeon lagi-lagi menjawab Yun Hee dengan cara yang sama. Aksen narasi dokumenter yang membosankan. Yun Hee kemudian berjalan mendahului Jun Myeon, “Arraseo, aku juga tahu tentang pasal-pasal itu.”

Langkah mereka berdua terhenti ketika telah menemui mobil mereka. Tidak ada percakapan sepanjang jalan tadi, mereka memilih diam di pikiran masing-masing.

Yun Hee kontan menahan pergelangan tangan Jun Myeon yang akan membukakan pintu mobil untuknya, ia terlihat berpikir sejenak, “Aku dengar hari ini ada Spring Parade di jalanan sekitar sini, bisakah kita melihatnya sebelum pulang?”

Yun Hee ingat kalau ada Spring Parade hari ini di jalanan sekitar sini. Jujur, ini hanya karena ia ingin sedikit melupakan sesuatu dan menghibur dirinya. Kalau tidak begini, mungkin Yun Hee akan berakhir dengan minum pil-pil benzodiazepine lagi ketika ia kembali ke istana.

Jun Myeon terdiam, memandangi Yun Hee yang tersenyum cerah. Mimik gadis itu sangat berbeda dengan apa yang ia lihat beberapa menit lalu. Bagaimana bisa gadis ini merubah mood-nya secepat ini? Bukankah tadi di kamar Oh Sehun ia menangis, menunjukkan sisi lemahnya, tapi mengapa sekarang ia bisa tersenyum cerah dan dengan mudahnya berkata seperti itu?

“Tidak boleh VIP. Anda harus segera pulang.” Jun Myeon melepaskan tangan Yun Hee dari tangannya dengan pelan. Tangannya bergerak lagi membukakan pintu untuk Yun Hee.

Yun Hee juga tidak mau kalah, ia malah menahan tangan Jun Myeon dengan kedua tangannya, “Oh, ayolah. Aku ingin melihatnya dan kupastikan kita aman karena aku sudah memakai perlengkapan yang sama denganmu.”

Jun Myeon menyipit, menegakkan badannya, “Tidak bisa VIP. Asal VIP tahu, parade adalah acara umum dimana siapa saja dapat melihatnya, dengan skala besar tentunya. Itu artinya agen tidak bisa dan tidak mempunyai waktu untuk mengecek mereka, mengecek kondisi serta barang-barang yang kemungkinan berbahaya di sekitar VIP. Sebaiknya VIP segera pulang dan melaksanakan jadwal Anda.”

Yun Hee memutar matanya. Ternyata pemikirannya salah, Jun Myeon bukannya pendiam, ia lebih mirip bibi-bibi yang cerewet sekarang, “Jadwalku telah diundur 2 jam oleh Kepala Pelayan Yang.”

“Anda bisa memanfaatkan waktu anda untuk persiapan acara lusa.”

“Persiapan sudah selesai semuanya. Aku hanya tinggal duduk tenang dan menerima gelar pewaris tahta besok. Tidak akan ada yang berubah soal itu walau aku sendiri ingin merubahnya.”

Jun Myeon membeku. Laki-laki itu memilih untuk menunggu gadis itu selesai bicara. Matanya menangkap mata Yun Hee dengan serius.

“Oh, ayolah. Kalian selalu mematuhi Ayahku tapi tidak pernah mematuhiku yang jelas-jelas adalah pemegang tahta berikutnya…”

Jun Myeon menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya, “Baiklah VIP, tapi sebentar saja.”

***

13.15 KST

Yulgok-ro, Jongno-gu, Seoul

Mereka telah sampai di jalanan tempat parade itu digelar. Mobil mereka sengaja ditinggal di Hongik University Daehangno Campus, anggota tim Jun Myeon juga standby di sana, sementara Jun Myeon dan Yun Hee meneruskan perjalanan ke Yulgok-ro dengan jalan kaki karena jaraknya hanya sekitar 200 m.

Yun Hee mempercepat langkahnya dan terlihat antusias. Pinggiran jalanan itu telah dipenuhi oleh umat manusia hingga Yun Hee dan Jun Myeon harus berada di barisan paling belakang. Karena situasi ini, Yun Hee yang hanya bertinggi sekitar 5.4 kaki itu harus melompat-lompat kecil untuk melihat iring-iringan parade dengan jelas.

Jun Myeon yang tertinggal langkahnya menyusul Yun Hee dengan mimik khawatir, “VIP, sebaiknya kita segera pulang.”

Ya, aku baru melihat lima menit dan sekarang kau mengajakku pulang? Ah, jinjja…”

Jun Myeon memicingkan matanya. Konsentrasinya terbagi antara mengawasi keadaan sekitar dan tingkah putri mahkota-nya yang antusias sekali. Benar katanya, terlalu banyak orang dan akan sulit mencapai titik penyelamatan.

Jun Myeon menoleh kembali pada Yun Hee dan menemukan gadis itu menerobos ke barisan depan dengan paksa. Ia dengan tergesa-gesa menyusul gadis itu, “VIP!”

“VIP, jangan melepas kacamata anda!” perintah Jun Myeon ketika Yun Hee dengan santainya melepas kacamata hitamnya.

“Apa kau pikir aku bisa melihat dengan jelas jika memakai ini?” Sindir Yun Hee.

Jun Myeon tak memikirkan sindiran itu, ia lebih sibuk untuk menghalangi Yun Hee yang hampir tertabrak orang dari belakang. Tangannya agak direntangkan ke belakang dan samping Yun Hee agar gadis itu tidak berbenturan dengan tubuh orang lain. Ia juga masih sibuk melirik ke kanan dan ke kiri.

Tanpa bisa diduga Jun Myeon, pundaknya bersenggolan dengan seseorang yang menerobos di samping mereka. Jun Myeon masih bisa menahan keseimbangannya, tapi yang lebih menarik bagi laki-laki itu adalah tas besar yang dibawa orang tersebut.

Orang bertas besar tersebut berdiri agak depan dari mereka. Jun Myeon kembali mengamati tas besar itu karena ia merasa ada yang tidak beres. Sesuatu yang tidak masuk di akal menggoda pikirannya, untuk apa orang yang melihat festival membawa tas jinjing sebesar itu?

Tas jinjing berbahan kulit, berwarna kecoklatan dan bermerek Prada yang kelihatannya keluaran tahun 2010-an. Jun Myeon juga bisa mengamati kalau resleting tas itu tidak tertutup dengan sempurna, sehingga laki-laki itu memutuskan untuk melongok dan mengintip isinya.

Tidak Mungkin.

Jun Myeon menyapukan pandangannya pada orang itu, mengamatinya dari ujung kepala hingga ujung kaki. Wanita berambut sebahu dengan umur sekitar empat puluh tahunan. Wanita itu berpakaian sederhana, hanya coat abu-abu LAP yang mencolok matanya.

Tidak mungkin orang seperti ini.

Pandangannya beralih pada Yun Hee yang masih antusias pada festival. Ia lalu menoleh ke sekitar, memastikan tidak ada yang melihatnya mengeluarkan sebuah detector segenggaman tangan dari balik saku mantelnya.

Jun Myeon dengan waspada menempelkan alat itu ke dekat tas orang tersebut. Laki-laki itu menggerakkannya sedikit, mengikuti permukaan tas tersebut yang dapat ia jangkau. Seketika itu juga indikator lampu merah kecil menyala dan Jun Myeon kontan menarik alat itu ke samping perutnya.

Ia menilik ke sekitar lalu ke belakang. Memastikan lagi kalau tidak ada yang melihat perbuatannya. Kemudian ia membaca layar monochrome pada alat deteksi tersebut dengan hati-hati.

Jun Myeon menahan napas.

“Jasmine-ssi…”

Yun Hee tercekat. Bisikan halus seperti tiupan itu membuatnya merinding. Bukan karena apa-apa, lebih karena kata-kata yang diucapkannya. Jasmine. Nama itu adalah nama panggilan yang diberikan oleh pasukan SKRSS untuk dirinya. Hingga yang perlu digaris bawahi adalah nama itu hanya digunakan saat keadaan mendesak.

“Alat pendeteksiku menemukan benda berbahaya di dalam tas wanita itu, kemungkinan adalah bom.”

Yun Hee menahan napas. Ia melirik ke atas, mendapati Jun Myeon yang menatapnya dengan pandangan serius. Jun Myeon memberi isyarat agar ia menoleh ke depan dan yang Yun Hee dapati adalah sosok wanita itu.

“Kita harus segera pergi dari sini,”

Yun Hee hanya bisa mengangguk.

Tangan kanan Jun Myeon telah merangkul pundak Yun Hee, sementara tangan kirinya bergerak menggenggam tangan kiri Yun Hee. Jun Myeon memberi isyarat berupa anggukan, tapi Yun Hee malah menggeleng, “Tapi bagaimana dengan orang-orang ini?”

“Keselamatanmu penting VIP, kau adalah Bulan negeri ini. Kita akan meminta bantuan setelah kita sampai di mobil.”

Yun Hee tidak percaya kata-kata itu akan ia dengarkan lagi. Kata-kata kutukan itu.

Anakku, kau adalah bulan negeri ini…

Kau adalah Bulan bagi negeri ini, keselamatanmu tentu sangat penting bagiku…

Tenang saja, aku pasti akan melindungimu…

Suara-suara itu muncul dilengkapi kilas-kilas memori. Yun Hee larut akan ketegangannya sendiri. Ia larut akan kenangan-kenangannya itu sampai ia tidak menyadari jika Jun Myeon telah menyeretnya keluar dari keramaian festival. Mereka terus belari menerobos keramaian itu, menuju belokan yang akan mengantarkannya pada mobil mereka.

Tidak. Itu tidak boleh terjadi lagi.

Yun Hee menggenggam erat tangan Jun Myeon. Kakinya yang ia buat berlari sudah mati rasa. Ia tak bisa merasakan apa-apa selain ketakutannya. Badannya juga mulai gemetaran.

Blam!

Detik-detik itu. Detik-detik ketika badan Yun Hee tergoncang hebat seperti tiga belas tahun yang lalu. Detik-detik ketika badan Yun Hee terlempar seperti empat tahun yang lalu. Detik-detik dimana Yun Hee merasakan permukaan aspal yang menggores lapisan kulitnya.

Kejadian mengerikan itu tidak mungkin terjadi lagi. Tidak mungkin.

Gadis itu berusaha membuka matanya dan memperoleh pandangannya sudah berkunang-kunang. Ia tahu jika ia tengah terkapar di aspal sekarang. Bau terbakar langsung menusuk indera penciumannya dan itu membuat ia mual. Yun Hee meraba-raba ke sekitar, menyadari ada yang memeluknya dari belakang.

Kim Jun Myeon.

Eomma!

S-Sehun… Oh Sehun!

“ Wakil Kepala Kim!”

Ia menepuk-nepuk pipi laki-laki yang tak sadarkan diri tersebut. Gadis itu memanggilnya dengan nada hampir menangis.

“Wakil Kepala Kim, sadarlah!”

Eomma, jangan tutup matamu!

Eomma, aku takut…

Oh Sehun, sadarlah!

Yun Hee memegang kepalanya, suara-suara itu membuat kepalanya sakit. Pandangannya mulai berputar dan tangannya pun makin gemetaran. Ia menghirup udara dalam-dalam, merasakan kalau ia mulai kesulitan bernapas. Gadis itu memejamkan matanya, tapi yang ada kepalanya malah berdenyut dan dadanya mulai nyeri dengan keringat yang makin banyak.

Yun Hee butuh pil-pil sialan itu. Ia menjambak rambutnya, berpikir jika itu akan sedikit mengurangi kesakitannya. Yun Hee kemudian membuka matanya, mendapati jika Jun Myeon tak bergerak sedikit pun atau sekedar membuka mata, sedangkan kepalanya makin berdenyut hebat.

“Wakil Kepala Kim, kumohon!”

TBC

Note:

[1]Jaseondang: Bagian dari Istana Donggung yang digunakan sebagai ruang pribadi putri maupun pangeran.

[2]Donggung: Istana yang merupakan bagian dari New Gyeongbokgung Palace, diperuntukkan bagi putri dan pangeran.

[3]New Gyeongbokgung Palace: Istana Kerajaan Korea Selatan (fiktif). Istana ini terdiri dari istana-istana kecil serta gedung-gedung lain. Gyeongbokgung Palace adalah nyata dan pada kisah ini dilakukan perubahan nama serta hal-hal lain. Bagian-bagian dari New Gyeongbokgung Palace diambil dari beberapa bagian dari Gyeongbokgung Palace disertai perubahan dan penyesuaian.

[4]SKRSS: South Korea’s Royalty Security Service (fiktif). Agensi independen yang bertugas menjaga keamanan Keluarga Kerajaan Korea Selatan. Kantor pusat serta unit pendukungnya (kecuali Akademi SKRSS) berada di New Gyeongbokgung Palace.

[5]1200: Pemeriksaan (kode rahasia SKRSS)

[6]16: Hal mencurigakan (kode rahasia SKRSS)

[7]Bihyeongak: Bagian dari Istana Donggung yang digunakan sebagai tempat belajar putri serta pangeran.

Author’s note:

Hai, akhirnya dapat menyelesaikan chapter 1 yang super puuanjaaang ini (duh!). Semoga bacanya tetap fokus ya karena banyak ‘keywords’ di sini. Chapter ini memang tidak berbeda jauh dengan chapter 1 yang dulu pernah aku tulis, cuma ada beberapa perubahan dan penambahan yang menambah panjangnya chapter ini. Tenang, chapter-chapter selanjutnya engga akan sepanjang ini kok. Karena di sini udah ngulik sebagian dari kehidupan Yun Hee, chapter mendatang akan ngulik sebagian dari kehidupan He Ra, ya walaupun mungkin Yun Hee masih lebih dominan. Chapter selanjutnya mungkin akan diposting 2-3 minggu mendatang, jadi tunggu ya ^^

Oh ya, kalau ada yang punya wattpad, follow akun aku ya @Miya95, thanks^^ (shameless promotion again, keke

The so-called Author,

Miya

 

Iklan

5 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Under the Moonlight (Chapter 1: The Game Begins)

  1. Ping balik: Under The Moonlight [Chapter 1: The Game Begins] | Dream Forest

  2. Akhirnya di update lagi, sdah lama nunggu nya.
    Sehun masih koma dan sudah 4 tahun pasti yun hee merasah bersalah makanya dia membutuhkan pil-pil itu. Apa disini junmyeon jadi tokoh jahat atau junmyron punya dendam dengan kelurga kerajaan ? Makin kepo sama selanjutnya.
    Next nya janagn lama dan ff ini jangan digantungin yah kak atau kalo kakak vakum tapi jangan lama-lama

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s