[EXOFFI FREELANCE] Hyung, Let’s Change! – Chapter 1

page

Tittle                           : Hyung, Let’s Change! – Chapter 1

 

Author                       : Dancinglee_710117

 

Main Cast                 :

  • Kim Joonmyeon / Suho (EXO) as Yoon Suho
  • Oh Sehun (EXO) as Yoon Sehun
  • Jung Yoo Geun (Ulzzang baby) as Yoon Yoo Geun

 

Other Cast                :

  • Ryu Jung In / Ryusuke Yukari (OC)
  • Lee Young Nae / Lee Young (OC)
  • Im Dae Hee (OC)
  • Lee Dong Wook (Actor) as Yoon Dong Wook
  • Yoo In Na (Actress) as Yoon In Na
  • And other you can find in the story

 

Genre                        : Fantasy, Family, Romance, School life, comedy and other

 

Rating                        : T

 

Length                       : Chapter

Apa jadinya kalau tiga orang bersaudara saling iri dan menginginkan hidup sebagai saudaranya yang lain?. Jika itu terjadi, bagaimana mereka menyikapinya?. Akankah mereka bersyukur lantas menjalani kehidupan sebagai orang lain, atau malah mati-matian mencari cara kembali ke tubuh masing-masing?

 

Temukan cara mereka melindungi cinta mereka serta bagaimana mereka mempererat hubungan persaudaraan yang berharga!

 

 

~Happy Reading~

*Author POV*

 

Tujuh keajaiban…

Tujuh keberuntungan…

Tujuh batu permata…

Sesuatu bernilai sepuluh itu sempurna, tapi tujuh juga berguna…

Pertikaian membawa duka, kebahagian pecut nirwana…

Ingin kembali ke bentuk semula, atau bertahan sesuai harapan?

Tujuh detik… tujuh menit… tujuh jam… tujuh hari… dan seterusnya

Waktu terus berjalan

Siap atau tidak, keabadian akan menghilang…

Tujuh keajaiban…

Tujuh keberuntungan…

Tujuh batu permata…

 

“Jung In, apa yang kau lakukan?, cepat kemari!”

 

Gadis itu menutup bukunya, buku berjudul ‘Puisi Surga’ yang menarik perhatiannya sejak seseorang membuang buku itu ke tempat sampah depan rumahnya. Ia mengemas barang-barangnya, bergegas menghampiri ketua jurusan untuk mendiskusikan masalah beasiswa miliknya, berpikir untuk mengartikan puisinya besok saja. Seperti petikan kalimat yang ada di halaman depan buku itu.

 

Esok pastilah berharga…

Esok pastilah berbeda…

Keajaiban itu akan memberimu rasa

Fantasi itu membuatmu muak

Jadi, tunggulah hari esok untuk sesuatu yang baru

 

***

 

EOMMA!”

 

Wanita paruh baya yang sedang mencuci piring sekaligus menyiapkan sarapan itu menghela nafas, memijit kepalanya sebentar lantas menghampiri anak bungsunya yang terus merengek di depan pintu kamar. Wanita itu berkacak pinggang, bertanya atas dasar apa anaknya bersikap seperti itu dan mengapa dia melempar benda apapun di dekatnya pada sang kakak yang sibuk terpingkal-pingkal di atas kasur.

 

“Lihat!” tunjuk si anak bungsu pada kakaknya, “Kenapa dia selalu menggangguku sih?!”

 

Sehun, nama kakaknya, langsung menghentikan tawanya begitu mendengar sang adik bicara menggunakan kata ‘dia’ bukannya ‘hyung’ untuk menyebutnya.

 

“Yak! memangnya aku ini temanmu huh?!. Bicara yang sopan padaku!” seru Sehun tak terima.

 

Yoo Geun, nama si bungsu, menjulurkan lidahnya sebagai tanda bahwa ia tak mengacuhkan peringatan Sehun, membuat pria yang punya selisih usia tujuh tahun darinya itu mendelik emosi.

 

“Yak! Yoon Yoo Geun!”

 

Wanita paruh baya yang berperan sebagai ibu pun hanya bisa menggelengkan kepala sambil menekan pelipisnya yang sakit. Teriakan demi teriakan, seruan demi seruan, bahkan umpatan demi umpatan kembali memenuhi rumah sederhana dari keluarga Yoon, dimana sang kepala keluarga sedang pergi bekerja sejak subuh tadi demi menafkahi anak dan istrinya.

 

Eomma, eomma baik-baik saja?”

 

Wanita itu menoleh saat mendengar suara lembut penuh kekhawatiran dari putra sulungnya. Pria yang sudah menginjak usia dua puluh empat tahun itu berdiri di depannya sambil menyodorkan segelas teh hangat dimana bau harumnya dapat menenangkan hati wanita tersebut, membuatnya membalas senyuman manis itu, sejenak.

 

Eomma!, sarapannya bagaimana?” anak bungsunya sudah berada di meja makan yang kosong, merengek karena tak belum ada apapun yang bisa dia makan.

 

“Yak!, kau berhutang permintaan maaf padaku!” Sehun mengikuti adiknya, duduk agak menjauh dari anak SD berusia sepuluh tahun itu. “Eomma!, aku mau teh hangat!”

 

“Biar aku yang buatkan.” Ujar Suho, nama anak sulungnya, setelah memberikan teh buatannya pada sang ibu. Ia lalu pergi ke dapur untuk membantu menyiapkan makanan di meja makan serta mendidihkan air.

 

Ibu tiga anak itu menghempaskan dirinya ke sofa, mengumpat pelan saat air teh sedikit tumpah di celemeknya, kemudian kembali menghela nafas lelah.

 

“Tahu begini lebih baik aku tidak nikah muda.” Lirihnya.

 

Ia meraih remote televisi yang berada di atas meja, menekan tombol untuk menyalakan benda persegi yang menjadi media hiburannya semenjak sibuk mengurus empat pria di dalam rumahnya, salah satu benda yang mampu mengingatkannya akan masa lalunya sebagai seorang entertainer sebelum berakhir menjadi wanita paruh baya yang memiliki tiga putra.

 

“Aishh!, hyung!. Tehnya terlalu panas!”

 

“Maaf, maaf, akan aku tambahkan air dingin kalau begitu.”

 

“Nanti rasanya jadi tak enak!”

 

“Yak! kenapa tidak kau lakukan sendiri sih?. Memangnya Suho hyung pembantumu?!”

 

“Bocah menyebalkan ini bicara tak sopan lagi eoh!”

 

“Sehun, jangan jadikan mengumpat sebagai kebiasaan!”

 

“Rasakan!”

 

“Yak! Yoon Yoo Geun!”

 

***

 

“Suho! Cepat!, dosen Kim sudah ada di kelas!”

 

Langkah santai Suho berubah menjadi lomba lari bersama teman-teman sesama jurusan manajemen bisnis yang buru-buru menuju kelas yang dimaksud sebelum mereka benar-benar terlambat dan mendapat hukuman atau malah pengurangan nilai dari dosen yang terkenal kejam tersebut.

 

Sayang, dewi keberuntungan sedang tak memihak Suho. Pria beruban dengan kumis tebal, mengaku mirip Einstein padahal lebih serupa dengan pemimpin nazi, sudah berada di kelas dan mulai mengajar. Beberapa mahasiswa yang juga terlambat bersama Suho mulai masuk satu per satu lewat pintu belakang, dan berhasil tanpa membuat dosen Kim curiga.

 

Lalu tinggal Suho yang menjadi mahasiswa terakhir yang belum masuk ke kelas. Salah satu temannya yang duduk paling dekat dengan pintu belakang melambaikan tangan dua kali, tanda bahwa keadaan aman untuk Suho beraksi sekarang. Pria itu pun memasuki kelas dengan langkah super pelan dan berusaha sebisa mungkin agar tak menimbulkan suara mencurigakan.

 

Jantungnya sempat berhenti ketika dosen Kim hampir berbalik, padahal dirinya belum sampai di tempat duduk yang kosong. Untunglah Suho tak tertangkap basah sehingga dia bisa mengelus dada lega karena bisa memasuki kelas tanpa mendapat hukuman karena terlambat.

 

“Lima orang yang baru masuk tolong menghadap saya seusai jam kuliah.”

 

Suho terdiam dan tubuhnya menegang, antara percaya dan tak percaya kalau dosen tersebut sadar akan apa yang barusan terjadi. Karena memang agak mustahil kalau dosen itu tahu soal mereka yang mengendap-endap masuk ke kelas sebab ia tak pernah menoleh sekali pun, suara langkah pun tidak terdengar dan mahasiswa lainnya ikut membantu mengawasi keadaan.

 

Tidak mungkin dosen Kim tahu kalau Suho dan empat mahasiswa lainnya terlambat kecuali…

 

“Mata-mata Ryu beraksi lagi.”

 

Suho mengikuti arah pandang kawannya, menatap seorang gadis yang duduk di pojok kiri depan, gadis berambut hitam nan panjang berponi depan yang balik menatap Suho dan temannya dengan tajam seraya menyeringai sekilas. Dia mengangkat kertas catatan yang menurut pria di samping Suho merupakan catatan tentang siapa saja yang masuk secara ‘illegal’ pada saat jam kuliah berlangsung, seolah menjawab rasa penasaran Suho atas pertanyaannya tentang ‘bagaimana dosen Kim tahu’.

 

“Gadis itu benar-benar…” kawannya menggeram, mengepalkan tangan kuat-kuat di atas meja. “Sekali-kali dia harus diberi pelajaran.”

 

“Benar, aku punya ide bagus untuk itu.”

 

Suho tak ikut bergabung atau bahkan menyimak obrolan teman-temannya tentang balas dendam pada Ryu Jung In, mahasiswi yang satu tingkat dengannya dan menjadi rangking pertama di jurusan. Suho lebih suka mengamati teori-teori yang dosen Kim sampaikan di depan kelas sambil memperhatikan gadis bermarga Ryu yang sudah membuat Suho berada dalam masalah. Bukan untuk menyampaikan rasa kesalnya, Suho justru menyalahkan diri sendiri karena sudah melanggar peraturan dari sang dosen.

 

Dia penasaran dengan gadis itu, atau orang-orang lain menyebutnya ‘tertarik’.

 

***

 

Beberapa orang pria sedang bergerkerumun di depan kelas setelah mata kuliah dosen Kim usai. Mereka membicarakan sesuatu, dengan semangat menggebu serta emosi yang bercampur jadi satu. Kemudian dua orang pria pergi mengikuti dosen Kim yang sudah meminta mereka untuk datang ke kantornya, bersama tiga pria lain termasuk Suho yang lagi-lagi berada di baris paling belakang, menatap pria-pria yang masih berada di depan kelas itu serta Jung In yang baru keluar.

 

Selama perjalanan menuju ruangan dosen Kim, Suho bisa melihat pria-pria itu -yang juga satu jurusan dengannya- memaksa Jung In pergi bersama mereka, bahkan tak segan menarik kerah bajunya agar gadis itu mau mengikuti kemauan mereka.

 

“Suho-ya!”

 

Tapi Suho tak ada pilihan lain selain mengikuti empat mahasiswa lain pergi meninggalkan koridor dan mengabaikan keadaan Jung In yang cukup mengkhawatirkan.

 

***

 

“Yak, kau tak masalah membolos dua mata pelajaran sekaligus?”

 

Sehun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan teman satu geng-nya itu sementara dia terus meneguk minuman kaleng sampai tandas, kemudian membuat suara mendesah sebagai tanda bahwa rasa hausnya telah terpuaskan.

 

“Berhenti menciptakan suara seperti itu!” keluh teman lainnya yang sedang merokok, berada dalam jarak lima meter dari Sehun karena pria itu benci asap rokok.

 

“Yak!, kalau kau merasa puas akan sesuatu harusnya mengekspresikannya! Diekspresikan bukan ditahan!, dasar bocah!” ledek Sehun. Ia mengeluarkan ponsel dan lollipop dari saku blazernya, memainkan benda persegi tersebut sambil menggulum permen rasa strawberry sebagai pengganti rokok yang ia benci.

 

“Minggu depan Junsung sunbae mengajakmu berduel. Sepertinya dia masih tak terima atas kekalahannya tahun lalu.”

 

Sehun terkekeh, merespon sambil memainkan salah satu game dari ponselnya. “Tak usah dihiraukan!, pria obesitas yang suka menginjak sepatu orang itu tak perlu dipedulikan.”

 

Teman Sehun yang sedang merokok pun menanggapi, “Aku masih tak percaya kau menghajar Junsung sunbae hanya karena kakinya yang kotor mengenai sepatu barumu. Padahal semua orang tahu bahwa dia adalah preman paling ditakuti.”

 

“Omong kosong macam apa itu!” seru Sehun tak terima yang langsung mendapat pukulan keras di kepalanya karena terlalu berisik.

 

“Yak!, kau ini nekat atau mau bunuh diri sih?!. Tidak ingat kalau guru olahraga yang baru itu terus mengincarmu dan berusaha mendapat bukti kenakalanmu agar kau bisa dikeluarkan huh?!”

 

“Yah, semenjak Sehun melempar balik penghapus papan tulis pada kepala guru itu!”

 

Sehun tak mengacuhkan, ia masih fokus memainkan game balapan yang sudah ia mainkan sejak masuk SMA hingga sekarang berada di level terakhir. Dia bahkan tak sadar kalau kedua temannya sudah pergi meninggalkan Sehun sejak mereka mendengar suara-suara mencurigakan dari luar gudang, tempat mereka berkumpul untuk membolos bersama.

 

“Apa-apaan bau rokok ini?”

 

Sehun hampir saja menjerit tak karuan ketika sosok seorang wanita yang memakai seragam sekolahnya tiba-tiba berdiri di depan pintu gudang. Apalagi rambut panjang  yang dibiarkan terurai itu sudah mampu membuat Sehun merinding ketakutan.

 

“Yak! sedang apa kau disini?!” bentak Sehun melampiaskan kekesalannya terhadap siswi tersebut. Dia sudah memastikan bahwa wanita berseragam itu merupakan manusia dan bukannya hantu seperti bayangannya sebelum ini, jadi Sehun tak perlu membaca doa-doa secara acak.

 

Siswi yang sebelumnya masuk dengan percaya diri mulai ragu apakah dia harus melakukan tugas yang diberikan kepadanya atau malah kabur karena tak ingin berurusan dengan Sehun yang terkenal akan kegilaan serta sikap kasarnya. Tapi mengingat kembali betapa menyeramkan sang guru jika murka, maka gadis tersebut memutuskan untuk mengabaikan Sehun dan mengerjakan perintah untuk menata peralatan olahraga yang sudah lama tak terpakai.

 

“Hoi!, telingamu tuli? Tidak dengar pertanyaanku tadi?”

 

“Menurutmu orang tuli bisa mendengar?” gumam gadis itu setengah kesal.

 

“Kau bilang apa tadi?!” entah mendengarnya atau tidak, yang jelas Sehun menjadi marah setelah dia menyelesaikan ucapannya. Tapi ia masih bersikukuh untuk tak menghiraukan gertakan Sehun yang mengancam untuk memukulnya jika tak segera pergi dari gudang. Tentu saja Sehun tak akan pernah melakukannya, Sehun sangat menghargai wanita meski dia benci seluruh siswi di sekolahnya.

 

“Oi! Lee Young!”

 

“Apa sih?!”

 

Gadis itu terdiam, tak jadi meneruskan kekesalannya begitu ia berbalik dan mendapati Sehun sudah berada tepat didepannya, menatapnya intens sambil tersenyum miring yang digilai penggemarnya. Lee Young mencoba mundur, tapi bagian belakang tubuhnya malah menabrak dinding. Saat sehun semakin mendekat padanya, ia meraih apapun yang bisa dia gunakan sebagai senjata, atau sebut saja alat pertahanan diri karena dia tak mau dianggap pembunuh jika Sehun berani macam-macam terhadapnya.

 

Dan ketika Sehun mengangkat tas kecil berwarna hitam, Lee Young justru heran serta mengerutkan dahinya.

 

“Terima kasih atas segalanya!” ucap Sehun sebelum berlari meninggalkan Lee Young sendirian.

 

Setelah lima menit berlalu barulah Lee Young sadar kalau tas yang Sehun bawa kabur adalah bekal miliknya yang sengaja ia bawa ke gudang agar bisa makan dengan santai setelah membersihkan gudang.

 

“YAK OH SEHUN!”

 

***

 

Yoo Geun menghentikan langkahnya begitu sampai di SMA Paran tempat kakak keduanya menimba ilmu. Tapi kedatangannya kesana saat jam pulang sekolah bukan untuk menemui sang kakak yang ia anggap manusia paling menyebalkan sedunia, melainkan menunggu orang lain yang akhir-akhir ini mencuri perhatiannya.

 

Sambil menunggu, dia tersenyum-senyum sendiri seraya menatap coklat valentine yang Yoo Geun beli setelah menabung susah payah. Bahkan rela memecah celengan babinya demi memesan coklat edisi spesial yang harganya cukup mahal untuk anak seumuran dirinya.

 

“Yoon Yoo Geun!, kau kesini lagi?!”

 

Senyuman Yoo Geun luntur saat suara khas anak perempuan mengusik khayalannya. Ia mendongak, “Memangnya apa urusanmu kalau aku kemari?” ketusnya, tak peduli kalau anak perempuan itu menangis karenanya.

 

“Yoo Geun…hiks…aku kan sudah bilang akan memanggilmu oppa…hiks…tapi jangan menemui eonni itu lagi…hiks.”

 

Yoo Geun berdecak sebal, dia paling tidak suka melihat maupun mendengar seorang gadis menangis, apalagi itu adalah Im Dae Hee yang selalu saja menempel serta menyusahkannya.

 

“Memangnya kenapa? Aku suka padanya!. Jadi meskipun kau bilang akan memanggilku oppa bahkan mengerjakan seluruh PR-ku, Yoo Geun tetap tidak akan menyukai gadis kekanakan sepertimu!”

 

“Woah!. Bocah ini benar-benar menyebalkan pada siapapun ya?”

 

Yoo Geun menoleh saat suara kakaknya terdengar. Saking sibuknya mengomeli Dae Hee, Yoo Geun sampai tak sadar bahwa jam pelajaran SMA Paran sudah usai dan beberapa murid sudah keluar dari sekolah. Anak berusia sepuluh tahun itu pun celingukan, mencari keberadaa orang yang dia tunggu. Senyumannya mengembang begitu sosok Lee Young muncul setelah menerobos gerombolan siswa lain dan berlari menghampirinya.

 

“Sehun!” serunya seraya berhenti berlari, Lee Young mengatur nafasnya sejenak sebelum meneruskan bicara. “Setidaknya kembalikan tempat makanku!”

 

Sehun menepis tangan gadis itu yang menyentuh bahunya. Lee Young yang kelelahan tak mampu menyeimbangkan tubuhnya dan malah jatuh terduduk, membuat dirinya menjadi bahan tertawaan siswa yang lewat termasuk Sehun yang tergelak melihat posisinya yang lucu.

 

“Apa-apaan kau? Melawak ya? Hahahaha!”

 

Yoo Geun menendang kaki kakaknya itu lantas membantu Lee Young berdiri. Gadis itu mengucapkan terima kasih lalu kembali menghadap Sehun tanpa menyadari siapa yang telah membantunya. Yoo Geun kecewa, sedih juga jengkel pada kakaknya yang sudah mengacaukan rencananya.

 

“Yoon Sehun!, aku tak masalah kau menghabiskan bekal makan siangku sampai aku harus menahan lapar… KARENA ITU KEMBALIKAN TEMPAT MAKANNYA!”

 

“Besok saja kenapa sih?, biar aku cuci wadahnya sekalian. Kurang baik apalagi huh?!”

 

“Omong kosong!, berikan saja apa susahnya sih?!”

 

“A-anu…” Yoo Geun berusaha mencari celah agar bisa menarik perhatian Lee Young, tapi gadis itu malah sibuk meraih ransel Sehun untuk mendapatkan kembali barang miliknya. Dan Sehun terus menghindar meskipun Lee Young sudah menggenggam ujung blazernya dengan kuat sementara tangan yang lain menggapai-gapai tas Sehun.

 

“Sehun!…eugh…kumohon berikan -akh!”

 

Diluar dugaan, Lee Young terpleset dan jatuh menimpa Sehun. Seperti drama romansa, gadis itu berada diatas Sehun dan wajah mereka berada dalam jarak yang begitu dekat. Sehun terdiam memperhatikan wajah Lee Young dari dekat, jantungnya berdegub lebih cepat dari biasanya dan tiba-tiba saja mukanya terasa panas.

 

“Kembalikan tempat makanku atau kupatahkan lehermu?”

 

Sayangnya Lee Young tak terpengaruh pada ketampanan Sehun. Pria itu membalik posisi, membuat tubuh Lee Young sedikit terbanting lantas kabur dari gadis yang posesif pada tempat makannya tersebut.

 

“Yak!” seru Lee Young, “YAK YOON SEHUN!”

 

Sementara Lee Young meluapkan kekesalannya, Yoo Geun terdiam di belakangnya sambil meremas sekotak coklat yang hendak ia berikan pada gadis yang duduk tersungkur di depannya. Matanya menatap arah kepergian sang kakak dengan tajam, seolah jika dia punya kekuatan laser, Yoo Geun bisa menembus punggung Sehun lewat matanya.

 

“Yoo Geun oppa…hiks.” Dae Hee juga masih disana, menanti Yoo Geun agar berhenti mengharapkan Lee Young, teman kakaknya sekaligus tutornya dan mau mempertimbangkan perasaan Dae Hee padanya.

 

“Jangan kekanakan Im Dae Hee! Kau masih terlalu kecil untuk memikirkan soal cinta-cintaan!”

 

Oh ya ampun Yoon Yoo Geun, dia bahkan mengatakannya dengan cara orang dewasa padahal dirinya pun berusia sama dengan Dae Hee. Bocah berusia sepuluh tahun bermarga Yoon dan bernama Yoo Geun itu pun masih terlalu kecil untuk mengurusi masalah cinta apalagi malah merasa cemburu pada kakaknya, Sehun.

 

***

 

“Aku pulang!” seru Sehun begitu memasuki rumah. Ia bersiul senang seolah baru saja menang undian, raut mukanya ceria dan membuat Suho yang sedang bersantai di tuang tamu menjadi heran dengan perubahan sikapnya.

 

“Biasanya kau masuk dengan wajah merengut dan tidak mengucapkan salam. Apa ada hal bagus yang terjadi di sekolah?”

 

“Tentu saja -YAK!”

 

Ucapan Sehun terpotong begitu Yoo Geun menginjak sepatunya lantas pergi ke kamar tanpa membalas sapaan Suho.

 

“Kenapa anak itu?” tanya Suho, berharap Sehun tahu jawabannya, sayangnya tidak.

 

“Anak itu kan memang sudah aneh sejak lahir!” gerutu Sehun yang kini tengah membersihkan sepatunya.

 

“Hei, jangan bicara sembarangan seperti itu!” Suho mengingatkan.

 

‘BRAK!’

 

Pintu kamar Yoo Geun terbuka dengan keras, menampakan sosok anak bungsu dari keluarga Yoon yang memasang muka masam sambil membawa sekotak coklat yang tadinya akan ia berikan pada Lee Young namun gagal. Yoo Geun membanting kotak tersebut saat air matanya mulai jatuh.

 

“Kau ini kenapa huh?!” bentak Sehun, tapi Yoo Geun bergeming. Dengan pipi yang basah oleh air mata Yoo Geun beralih membuang semua batu keluarga yang tertata rapi diatas rak dekat ruang tamu. Sehun semakin tak mengerti dengan kelakuan adiknya sementara Suho berusaha menghentikan Yoo Geun sebelum orangtua mereka pulang.

 

“Lepaskan aku!” teriak Yoo Geun sambil melepaskan diri dari pelukan Suho yang mencoba menenangkannya, “Ini Semua salah Sehun hyung!. Jika saja kau bukan kakakku, maka orang-orang tidak akan membanding-bandingkan aku dengan dirimu!”

 

“Apa?!”

 

“Tak masuk akal!, kenapa mereka menganggap preman gila sepertimu sebagai idola?!. Pria brengsek sepertimu tak pantas menjadi kakakku!”

 

“Apa kau bilang?!” Sehun mendekati Yoo Geun dan berusaha menghajarnya. Suho gelagapan, di satu sisi dia harus menenangkan emosi Sehun sekaligus melindungi Yoo Geun yang terus meronta. Ketika kesabarannya mulai habis, tak tahu cara apa yang harus dia lakukan untuk melerai pertikaian saudara ini, Suho malah menampar Sehun sampai dia jatuh ke lantai.

 

“Cukup, hentikan. Kau adalah seorang kakak jadi kau harus bersikap bijak dan mengalah Sehun-ah!”

 

“Kau…” Sehun kehilangan kata-kata karena terkejut. Belum pernah ia ditampar bahkan oleh orangtuanya sendiri. “Hyung, inikah wujudmu yang sebenarnya?” tanya Sehun seraya senyum sinis.

 

“Jujur saja, kau juga membenci kami kan?. Kau yang selalu mengalah dan bersikap bijaksana seolah kaulah satu-satunya malaikat ibu. Padahal kau selalu ingin mendapat apa yang kami dapatkan sebagai adik, karena itu kau membalas kami dengan menjadi mahasiswa cerdas yang membiayai kuliahnya sendiri kan? Supaya kami bisa dibandingkan dengan dirimu yang sempurna kan?!”

 

“Yoon Sehun! Hentikan!”

 

“Benar.” Yoo Geun kembali bicara, “Suho hyung memang pantas menjadi kebanggan keluarga. Dia bukannya seorang pembuat onar sepertimu Yoon Sehun!”

 

“Yoon Yoo Geun! Jangan memperbesar masalah!”

 

“Kau hanya iri dengan Suho hyung!” seru Yoo Geun tak mempedulikan peringatan Suho.

 

“Kau sendiri iri padaku yang bisa cepat akrab dengan orang lain! Makanya kau terus ditindas oleh teman-temanmu!” balas Sehun.

 

“Mereka bukan temanku! Dan omong kosong kalau aku iri pada pembuat onar sepertimu!”

 

“Yoon Sehun! Yoon Yoo Geun!”

 

Pertengkaran itu semakin membesar, bahkan Suho kehilangan akal sehatnya dan terus berkelahi dengan Sehun. Yoo Geun pun tak berniat melerai, ia justru terlibat dengan membantu Suho menghajar Sehun yang semakin bringas. Setelah satu jam, mereka berhenti sejenak karena kelelahan, mengatur nafas yang tak beraturan sambil memeriksa luka yang ada pada tubuh mereka.

 

Sehun meringis sembari mengusap darah di ujung bibirnya, “Aku membenci kalian.” Ujarnya.

 

“Apalagi aku!” sahut Yoo Geun seraya memijat sekitar lututnya yang kesakitan.

 

Suho mendecih, “Jika kalian jadi aku, kalian akan tahu betapa beratnya menjadi anak pertama.” Ia ikut mengeluh.

 

Sehun memalingkan wajah, “Seandainya saja kau jadi aku. Kau akan tahu betapa tak adilnya kehidupan menjadi anak tengah!”

 

“Aku berharap itu terjadi!”

 

Baik Sehun maupun Suho menatap Yoo Geun acuh tak acuh.

 

“Aku akan bersedia menukar jiwaku kepada setan untuk perubahan itu!”

 

Sehun henda menertawai ide konyol adiknya, tapi urung ketika bumi tiba-tiba bergetar kemudian disusul bunyi petir yang menggema. Ia panik, tak menyangka kalau di tempat tinggalnya bisa terjadi bencana gempa bumi. Suho memekik, memerintahkan mereka berlindung dibawah meja atau menggunakan sesuatu sebagai tameng sementara dirinya merangkak menuju meja ruang tamu yang paling dekat.

 

Sehun mencoba berdiri, tapi gagal. Ia pun merangkak menuju meja makan yang dia rasa cukup kuat untuk melindunginya jika reruntuhan rumah berjatuhan. Sehun berteriak pada Yoo Geun, menyadarkan anak itu supaya segera mencari tempat perlindungan, bukannya berdiam diri seperti orang tolol yang membiarkan dirinya mati karena gempa. Yoo Geun terlalu syok sampai tidak bisa berfikir jernih, yang bisa dia lakukan hanya menutup mata dan berteriak dalam hati. Pada siapapun itu… agar sudi menolongnya.

 

“Be-berhenti…” lirih Sehun setengah tak percaya bahwa tak ada getaran hebat lagi.

 

Yoo Geun membuka matanya, keluar dari meja makan dengan wajah pucat. “Ti-tidak mungkin…” ujanya saat melihat dirinya sendiri berada dibawah rak, duduk kaku sambil menutup mata erat-erat.

 

“Su-suho hyung…”

 

Suho membuka matanya, terkejut begitu mendengar suaranya sendiri memanggil namanya. Ia pun hampir pingsan ketika melihat sosok dirinya berdiri di samping meja ruang tamu, menatap dirinya dengan ketakutan. Ia berdiri, merasakan tubuhnya jadi lebih ringan dari biasanya, dan saat itu pula sosok Sehun datang membawa cermin besar dari kamarnya.

 

“A-aku…” Suho tercekat melihat dirinya telah berubah menjadi kecil lagi. Ah tidak! sebenarnya dia berubah menjadi sosok Yoon Yoo Geun, adik bungsunya. “…bagaimana ini bisa…” dia tak bisa meneruskan ucapannya.

 

“Ke-kenapa aku berubah menjadi Sehun hyung?”

 

Suho menoleh dengan kepala milik Yoo Geun, menatap pria tinggi yang terkenal paling tampan diantara ketiga anak keluarga Yoon. Sosok Sehun tapi cara bicaranya seperti Yoo Geun. Lalu tubuhnya, Suho berasumsi, jika dalam tubuh Sehun terdapat jiwa Yoo Geun, kemudian tubuh Yoo Geun menjadi wadah untuk jiwanya sendiri, berarti yang tengah berlutut seraya memeluk dirinya sendiri ketakutan itu adalah Sehun, adik pertamanya.

 

“Bagaimana ini bisa terjadi?… kenapa?” ujar Sehun menggunakan suara Suho, ia malah makin ketakutan saat mendengarnya. “Ini semua salah Yoo Geun! Ya ini salahmu karena bicara sembarangan soal penyerahan jiwa pada setan!”

 

“A-aku tidak sengaja… aku cuma asal bicara waktu itu…” Yoo Geun membela diri, memasang raut ketakutan pada wajah Sehun.

 

“Sudahlah, tidak seharusnya kita kembali bertengkar…” ucap Suho dengan mulut Yoo Geun, membuatnya terlihat seperti anak kecil yang bijaksana, “…kita pikirkan cara untuk kembali ke tubuh masing-masing sebelum-”

 

“Anak-anak! Kami pulang!”

 

Yoo Geun, Sehun dan Suho menoleh serentak ke arah pintu masuk, kemudian menatap satu sama lain dengan cemas. Mereka bertukar jiwa dan rumah berantakan karena perkelahian mereka, belum lagi wajah penuh memar itu. Jika orangtua mereka tahu, masalah bisa semakin runyam. Ketiganya masih terdiam, tak tahu harus berbuat apa sementara suara obrolan ayah serta ibunya terdengar semakin dekat. Mereka harus melakukan sesuatu, antara menceritakan dengan gamblang kejadian aneh hari ini -yang jelas-jelas tak masuk akal dan tak akan dipercaya- atau malah menyembunyikannya sampai mereka menemukan cara untuk kembali ke tubuh masing-masing.

 

“Anak-anak?”

 

“Ya ampun… bagaimana ini?”

 

 

~To Be Continue~

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s